Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4924

٣ – بَابٌ ﴿وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ﴾ ۝٣
3. Bab “Dan agungkanlah Tuhanmu”

٤٩٢٤ – حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الصَّمَدِ: حَدَّثَنَا حَرۡبٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى قَالَ: سَأَلۡتُ أَبَا سَلَمَةَ: أَيُّ القُرۡآنِ أُنۡزِلَ أَوَّلُ؟ فَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ﴾ فَقُلۡتُ: أُنۡبِئۡتُ أَنَّهُ: ﴿اقۡرَأۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾ [العلق: ١]. فَقَالَ أَبُو سَلَمَةَ: سَأَلۡتُ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ: أَيُّ القُرۡآنِ أُنۡزِلَ أَوَّلُ؟ فَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ﴾. فَقُلۡتُ: أُنۡبِئۡتُ أَنَّهُ: ﴿اقۡرَأۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ﴾. فَقَالَ: لَا أُخۡبِرُكَ إِلَّا بِمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (جَاوَرۡتُ فِي حِرَاءٍ، فَلَمَّا قَضَيۡتُ جِوَارِي هَبَطۡتُ، فَاسۡتَبۡطَنۡتُ الۡوَادِيَ، فَنُودِيتُ فَنَظَرۡتُ أَمَامِي وَخَلۡفِي، وَعَنۡ يَمِينِي وَعَنۡ شِمَالِي، فَإِذَا هُوَ جَالِسٌ عَلَى عَرۡشٍ بَيۡنَ السَّمَاءِ وَالۡأَرۡضِ، فَأَتَيۡتُ خَدِيجَةَ فَقُلۡتُ: دَثِّرُونِي، وَصُبُّوا عَلَيَّ مَاءً بَارِدًا، وَأُنۡزِلَ عَلَيَّ: ﴿يَا أَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ ۞ قُمۡ فَأَنۡذِرۡ ۞ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ﴾. [طرفه في: ٤].
4924. Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami: ‘Abdush Shamad menceritakan kepada kami: Harb menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku bertanya kepada Abu Salamah: Ayat Alquran yang mana yang pertama kali diturunkan? Beliau menjawab, “(Ayat yang artinya) Wahai orang yang berselimut.” Aku berkata: Aku diberitahu bahwa ayat yang pertama turun adalah (yang artinya), “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1). Abu Salamah berkata: Aku bertanya kepada Jabir bin ‘Abdullah: Ayat Alquran yang mana yang pertama kali diturunkan? Beliau menjawab, “(Ayat yang artinya) Wahai orang yang berselimut.” Aku berkata: Aku diberitahu bahwa ayat yang pertama turun adalah (yang artinya), “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu.” Lantas beliau berkata: Aku tidak mengabarkan kepadamu kecuali dengan yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tinggal di dalam gua Hira`, ketika aku selesai, aku turun. Ketika aku berada di dasar lembah, aku dipanggil. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, sebelah kanan, sebelah kiri, (tidak ada siapa-siapa) ternyata dia duduk di atas suatu singgasana di antara langit dan bumi. Lalu aku datang menemui Khadijah dan berkata: Selimuti aku dan tuangkan air dingin kepadaku. Turunlah ayat (yang artinya), “Wahai orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan; dan agungkanlah Tuhanmu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4923

٢ – بَابٌ قَوۡلُهُ: ﴿قُمۡ فَأَنۡذِرۡ﴾ ۝٢
2. Bab firman Allah (yang artinya), “Bangkitlah lalu berilah peringatan”

٤٩٢٣ – حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ وَغَيۡرُهُ قَالَا: حَدَّثَنَا حَرۡبُ بۡنُ شَدَّادٍ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبي كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (جَاوَرۡتُ بِحِرَاءٍ) مِثۡلَ حَدِيثِ عُثۡمَانَ بۡنِ عُمَرَ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ الۡمُبَارَكِ. [طرفه في: ٤].
4923. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrahman bin Mahdi dan selain beliau menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Harb bin Syaddad menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan, “Aku tinggal di gua Hira`.” Semisal hadis ‘Utsman bin ‘Umar dari ‘Ali bin Al-Mubarak.

Shahih Muslim hadits nomor 1472

٢ - بَابُ طَلَاقِ الثَّلَاثِ
2. Bab talak tiga sekaligus

١٥ - (١٤٧٢) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ - وَاللَّفۡظُ لِابۡنِ رَافِعٍ - .- قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ ابۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ -: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ ابۡنِ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ الطَّلَاقُ عَلَىٰ عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَأَبِي بَكۡرٍ وَسَنَتَيۡنِ مِنۡ خِلَافَةِ عُمَرَ، طَلَاقُ الثَّلَاثِ وَاحِدَةً. فَقَالَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ: إِنَّ النَّاسَ قَدِ اسۡتَعۡجَلُوا فِي أَمۡرٍ قَدۡ كَانَتۡ لَهُمۡ فِيهِ أَنَاةٌ، فَلَوۡ أَمۡضَيۡنَاهُ عَلَيۡهِمۡ، فَأَمۡضَاهُ عَلَيۡهِمۡ.
15. (1472). Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami. Lafal hadis ini milik Ibnu Rafi’. Ishaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami. Ibnu Rafi’ berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: Dahulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan dua tahun di awal kekhilafahan ‘Umar, talak tiga sekaligus dihitung satu talak. ‘Umar bin Al-Khaththab berkata: Sesungguhnya orang-orang telah meminta disegerakan pada suatu perkara yang sebenarnya mereka memiliki tempo padanya. Andai kita berlakukan hal itu (talak tiga sekaligus dihitung tiga) bagi mereka. Lalu beliau pun memberlakukannya kepada mereka.
١٦ - (...) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا رَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ رَافِعٍ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّ أَبَا الصَّهۡبَاءِ قَالَ لِابۡنِ عَبَّاسٍ: أَتَعۡلَمُ أَنَّمَا كَانَتِ الثَّلَاثُ تُجۡعَلُ وَاحِدَةً عَلَىٰ عَهۡدِ النَّبِيِّ ﷺ وَأَبِي بَكۡرٍ، وَثَلَاثًا مِنۡ إِمَارَةِ عُمَرَ؟ فَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: نَعَمۡ.
16. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Rauh bin ‘Ubadah mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Rafi’ telah menceritakan kepada kami—lafal hadis ini milik beliau—: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami: Ibnu Thawus mengabarkan kepadaku dari ayahnya, bahwa Abu Ash-Shahba` bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: Apakah engkau mengetahui bahwa dahulu talak tiga sekaligus hanya dihitung satu talak di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, sedangkan pada kepemimpinan ‘Umar dihitung tiga? Ibnu ‘Abbas menjawab: Iya.
١٧ - (...) - وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ، عَنۡ حَمَّادِ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنۡ أَيُّوبَ السَّخۡتِيَانِيِّ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ مَيۡسَرَةَ، عَنۡ طَاوُسٍ، أَنَّ أَبَا الصَّهۡبَاءِ قَالَ لِابۡنِ عَبَّاسٍ: هَاتِ مِنۡ هَنَاتِكَ، أَلَمۡ يَكُنِ الطَّلَاقُ الثَّلَاثُ عَلَىٰ عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَأَبِي بَكۡرٍ وَاحِدَةً؟ فَقَالَ: قَدۡ كَانَ ذٰلِكَ، فَلَمَّا كَانَ فِي عَهۡدِ عُمَرَ تَتَايَعَ النَّاسُ فِي الطَّلَاقِ، فَأَجَازَهُ عَلَيۡهِمۡ.
17. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Harb mengabarkan kepada kami dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub As-Sakhtiyani, dari Ibrahim bin Maisarah, dari Thawus, bahwa Abu Ash-Shahba` bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: Bawakanlah riwayat garibmu! Bukankah talak tiga sekaligus di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr dihitung satu talak? Beliau menjawab: Memang dahulu demikian, lalu ketika di masa ‘Umar, orang-orang sering dan terburu-buru mengucapkan cerai, maka beliau memberlakukannya (talak tiga sekaligus dihitung tiga) terhadap mereka.

Figur Keberanian Sang Kesatria

Berani berkata benar, berani mempertahankannya, dan berani menghadapi segala risiko yang menghadang, adalah sifat kesatria. Para pejuang yang gagah adalah pemberani dalam memeluk kebenaran. Lantang mengikrarkannya, tidak gentar terhadap musuh sekuat apapun. Mereka pun tidak akan goyah dengan tawaran dunia, ataupun rayuan cinta semu. Apalagi sekadar celaan atau gunjingan yang tidak langsung didengar.

Berani adalah sifat mulia lagi terpuji. Tentu maksudnya adalah berani yang terukur dengan barometer syariat. Berani yang terikat dengan kebenaran, bukan yang lainnya. Bukanlah berani, mereka yang lancang melanggar hukum Allah. Tidaklah disebut berani, mereka yang nekad menerjang batasan Allah. Karena hakikat keberanian mereka itu akan memgakibatkan kehancuran dan penyesalan yang tiada berakhir. Kalaupun hal itu disebut berani, maka berani yang tidak terpuji.

Berapa banyak manusia pemberani, namun pada perkara yang menyebabkan murka Allah. Salah kaprah dalam memaknai arti berani, latah dalam upaya membuktikan jati diri. Hanya untuk dikatakan berani oleh komunitasnya yang terbatas, akhirnya rela mengambil risiko kematian yang naas. Ngebut di jalan, menenggak narkoba, dan semacamnya. Ya, berani tanpa bimbingan syar’i hanya akan menjerumuskan pada kebinasaan diri.

Beranipun tidak identik dengan selalu garang. Berani pada tempatnya, santun dalam waktunya adalah sebuah hikmah bijak nan indah. Kenyataannya, tidak jarang orang yang sok berani atau tepatnya memaksakan diri untuk berani, kemudian kehilangan sifat lembutnya sama sekali. Mereka menerjemahkan berani sebagai sikap kaku tanpa kompromi. Sehingga keadaan seperti ini membentuk tabiat dan watak yang keras. Akhirnya, keluarga yang berhak mendapatkan kelembutan justru merasakan sikap arogan. Orang-orang lemah yang seharusnya mendapatkan pengayoman, justru seolah merasakan penindasan. Sekali lagi, berani harus terbingkai dalam tuntunan ilmu syar’i.

Keteladanan salaf dalam hal keberanian sangat melimpah. Bahkan seluruh kehidupan mereka penuh dengan nilai-nilai keberanian. Bisa jadi fisik mungkin lemah, namun jiwa mereka kuat. Kemampuan bisa jadi terbatas, namun mereka selalu bersandar kepada Dzat yang maha mampu atas segalanya. Itulah ilmu yang membuahkan iman. Keyakinan kokoh yang membuat tegap dan teguh dalam menghadang berbagai rintangan yang ingin menggeser keimanan. Inilah berani yang sesungguhnya.

Karena iman inilah, keberanian bukan hanya pada sebagian mereka. Bahkan hampir merata pada semua kalangan. Muda tua, laki-laki maupun wanita. Dalam lipatan kitab para ulama, termaktub biografi sosok wanita pemberani. Namanya begitu harum, terabadikan dalam berbagai karya fenomenal para ulama. Dalam kitab-kitab yang tersusun rapi, terjaga, dan tersimpan di perpustakaan kaum muslimin. Beliau adalah Fathimah bintu Al Khaththab radhiyallahu ‘anha, saudari manusia kedua dalam Islam ini setelah nabinya, Amirul Mukminin Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Fathimah bintu Al Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza Al Quraisyiah Al Adawiyah adalah nama lengkap beliau. Sebagian mengatakan bahwa nama beliau adalah Umayyah. Ada yang mengatakan bernama Ramlah. Namun, yang paling masyhur adalah Fathimah. Adapun kuniyah beliau adalah Ummu Jamil. Beliau dipersunting oleh seorang shahabat yang mulia, yaitu Said bin Zaid Al Qurasyi radhiyallahu ‘anhu. Dari pernikahan ini, terlahirlah seorang putra bernama Abdurrahman.

Sungguh rumah tangga penuh berkah. Betapa tidak, sang nakhoda adalah seorang shahabat agung yang termasuk sepuluh pemetik janji surga dari lisan mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak masih hidup. Seiya sekata dalam iman, merajut bahagia dalam kedamaian. Terbukti, beliau dan suami tercinta termasuk yang awal masuk Islam. Saat Islam dan pemeluknya mendapat berbagai tekanan dan siksaan dari kaum musyrikin. Namun, lihatlah keberanian yang berbalut iman! Semuanya terasa manis dan indah dalam keyakinan janji ilahi. Ya, inilah keimanan. Saudara! Cerminkanlah pada diri kita! Seberapa kesabaran kita saat didera ujian?! Kurang lebih seperti itulah kadar keimanan kita.

Pergi meninggalkan tanah kelahiran, menuju tempat asing jauh dari sanak keluarga, pekerjaan pun belum pasti, apalagi penghidupan yang layak. Itulah gambaran hijrah waktu itu. Beranikah Anda menerima tantangan ini? Bagi kita mungkin akan berfikir seribu kali untuk melakukannya. Bagaimana anak istri? Mau makan apa, nanti tinggal di mana? Dan berbagai pertimbangan dunia. Pertimbangan yang sejatinya menunjukkan kelemahan iman terhadap janji Allah dan Rasul-Nya. Namun lihat para shahabat! Mereka adalah orang yang bersegera mengamalkannya. Termasuk yang awal berhijrah adalah Fathimah dan suaminya. Padahal mereka juga punya sanak keluarga, mereka juga butuh makan dan tempat tinggal. Ya, keimananlah yang membuat mereka berani mempertaruhkan berbagai kemungkinan. Keimanan membuat mereka berani melawan berbagai risiko yang menghadang.

Anda pasti kenal Umar. Siapakah yang tidak mengenal sosok pemberani ini?! Dalam cuplikan kisah menakjubkan berikut, kita akan melihat bahwa Fathimah pun mampu melawan keberanian Umar. Karena keberanian Fathimah adalah keberanian dalam iman. Kisah itu dituturkan sendiri oleh Umar. Beliau mengatakan, “Tiga hari setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib, aku keluar rumah. Di jalan aku bertemu dengan seorang dari kabilah Makhzumi yang telah masuk Islam.” Orang itu satu kabilah dengan Umar. Umar melanjutkan, “Aku pun menegur orang tersebut. ‘Engkau telah keluar dari agama nenek moyang, dan mengikuti agama Muhammad?!’ Ia menjawab, ‘Apa yang telah aku lakukan ini, dilakukan pula oleh orang yang lebih besar haknya atasmu dari padaku.’ ‘Siapa dia?’ ‘Saudarimu dan suaminya.’ Demi mendengar hal itu, aku segera menuju rumah Fathimah. Sesampai di sana, ternyata pintu rumah dalam keadaan terkunci. Dari luar, aku mendengar sesuatu. Setelah pintu dibuka, aku masuk dan langsung bertanya, ‘Apa yang aku dengar tadi?’ Fathimah menjawab, ‘Engkau tidak mendengar sesuatupun.’ Aku memaksa bertanya lagi, namun Fathimah masih menutupi. Maka suara semakin meninggi. Maka aku pegang kepala Fathimah, kemudian aku pukul hingga berdarah.”

Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa Umar memegang dan memukul kepala iparnya, yaitu Said bin Zaid. Kemudian Fathimah bangkit dari belakang dan memegang Umar. Fathimah mengatakan, “Awas! Hal ini akan menjadi sebab kehinaanmu!” Umar kembali berkisah, “Aku pun merasa malu melihat darah itu.” Umar menyesal telah melukai saudara sendiri. Umar meminta lembaran yang sebelumnya dibaca Fathimah dan suaminya. Tertulis di sana surat Al Haqqah ayat 30 sampai 52. Maka itulah saat keimanan muncul dalam hati Umar.

Subhanallah, keberanian Fathimah adalah di antara sebab masuk Islamnya Umar. Dengan gagah, Fathimah tetap kokoh mempertahankan imannya. Bahkan dengan keberaniannya Fathimah mengingatkan Umar. Suaranya keras dan lantang, tangannya pun tidak tinggal diam. Tidak peduli dengan Umar yang sejak lama terkenal dengan sikap kerasnya. Memang dengan iman, yang lemah akan menjadi kuat. Yang sedih akan berbahagia. Yang tertindas pun menjadi mulia.

Diriwayatkan bahwa Fathimah bintu Al Khaththab radhiyallahu ‘anha pernah menyampaikan sebuah hadis yang beliau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Senantiasa umatku akan berada dalam kebaikan selama tidak tampak pada mereka cinta dunia pada ulama yang fasik, para pembaca Al Quran yang hakikatnya jahil, serta para penguasa yang lalim. Apabila hal ini muncul, aku khawatir Allah akan meratakan azab-Nya.”

Keberanian Fathimah bintu Al Khaththab radhiyallahu ‘anha adalah keteladanan dalam membela dan mewujudkan kebenaran. Tidak surut mundur walau berbagai halang rintang menghadang. Terbukti bahwa sifat lemah pada wanita bukanlah bermakna rela terhina. Keberadaan wanita di dalam rumah bukanlah maksudnya terkungkung dalam kebatilan. Namun, mereka harus memiliki jiwa pemberani dalam meraih kebenaran. Ya, berani yang terbimbing dengan ilmu dan iman. Allahu A’lam.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 52 vol.05 1439 H rubrik Niswah. Pemateri: Ustadz Abu Muhammad Farhan.

Shahih Muslim hadits nomor 1471

١ - بَابُ تَحۡرِيمِ طَلَاقِ الۡحَائِضِ بِغَيۡرِ رِضَاهَا وَأَنَّهُ لَوۡ خَالَفَ وَقَعَ الطَّلَاقُ وَيُؤۡمَرُ بِرَجۡعَتِهَا
1. Bab pengharaman menalak wanita haid tanpa ridanya dan bahwa andai ada yang menyelisihi, maka tetap jatuh talak dan ia diperintah untuk merujuknya

١ - (١٤٧١) - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ التَّمِيمِيُّ قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكِ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ فِي عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَسَأَلَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، ثُمَّ لۡيَتۡرُكۡهَا حَتَّى تَطۡهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطۡهُرَ، ثُمَّ إِنۡ شَاءَ أَمۡسَكَ بَعۡدُ، وَإِنۡ شَاءَ طَلَّقَ قَبۡلَ أَنۡ يَمَسَّ، فَتِلۡكَ الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنۡ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ).
[البخاري: كتاب الطلاق، باب قول الله تعالى: ﴿يا أيها النبي إذا طلقتم النساء...﴾، رقم: ٥٢٥١].
1. (1471). Yahya bin Yahya At-Tamimi telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku membaca di hadapan Malik bin Anas dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau menalak istrinya yang sedang haid di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ‘Umar bin Al-Khaththab bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkan dia agar merujuk istrinya. Kemudian dia biarkan istrinya sampai suci kemudian haid kemudian suci. Kemudian jika dia mau, dia pertahankan istrinya setelah itu, atau jika dia mau, dia cerai sebelum dia gauli. Itulah (waktu agar mereka bisa menghadapi) idah (yang wajar) yang Allah azza wajalla perintahkan jika istri hendak dicerai.”
(...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ وَقُتَيۡبَةُ وَابۡنُ رُمۡحٍ - وَاللَّفۡظُ لِيَحۡيَىٰ - .- قَالَ قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ بۡنُ سَعۡدٍ - عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَةً لَهُ وَهِيَ حَائِضٌ تَطۡلِيقَةً وَاحِدَةً، فَأَمَرَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يُرَاجِعَهَا ثُمَّ يُمۡسِكَهَا حَتَّىٰ تَطۡهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ عِنۡدَهُ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ، ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّى تَطۡهُرَ مِنۡ حَيۡضَتِهَا، فَإِنۡ أَرَادَ أَنۡ يُطَلِّقَهَا فَلۡيُطَلِّقۡهَا حِينَ تَطۡهُرُ مِنۡ قَبۡلِ أَنۡ يُجَامِعَهَا، فَتِلۡكَ الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ أَنۡ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ.
وَزَادَ ابۡنُ رُمۡحٍ فِي رِوَايَتِهِ: وَكَانَ عَبۡدُ اللهِ إِذَا سُئِلَ عَنۡ ذٰلِكَ، قَالَ لِأَحَدِهِمۡ: أَمَّا أَنۡتَ طَلَّقۡتَ امۡرَأَتَكَ مَرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَمَرَنِي بِهٰذَا، وَإِنۡ كُنۡتَ طَلَّقۡتَهَا ثَلَاثًا فَقَدۡ حَرُمَتۡ عَلَيۡكَ حَتَّىٰ تَنۡكِحَ زَوۡجًا غَيۡرَكَ، وَعَصَيۡتَ اللهَ فِيمَا أَمَرَكَ مِنۡ طَلَاقِ امۡرَأَتِكَ.
قَالَ مُسۡلِمٌ: جَوَّدَ اللَّيۡثُ فِي قَوۡلِهِ تَطۡلِيقَةً وَاحِدَةً.
[البخاري: كتاب الطلاق، باب: ﴿وبعولتهن أحق بردهن﴾، في العدة، رقم: ٥٣٣٢].
Yahya bin Yahya, Qutaibah, dan Ibnu Rumh telah menceritakan kepada kami—dan lafal hadis ini milik Yahya—. Qutaibah berkata: Laits menceritakan kepada kami. Dua orang lainnya berkata: Al-Laits bin Sa’d mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari ‘Abdullah, bahwa beliau menalak istrinya dalam keadaan sedang haid dengan satu talak. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya agar merujuk istrinya kemudian dia mempertahankannya sampai suci lalu haid sekali lagi di sisinya. Kemudian dia memberi tempo istrinya sampai suci dari haidnya. Lalu, jika dia ingin menalaknya, maka silakan ia menalaknya ketika suci sebelum ia menggaulinya. Itulah masa (wanita dapat menghadapi) idah (secara wajar) yang Allah perintahkan jika istri ingin ditalak.
Ibnu Rumh menambahkan di dalam riwayatnya: ‘Abdullah ketika ia ditanya tentang itu, beliau berkata kepada salah seorang mereka: Jika engkau menalak istrimu satu atau dua kali, maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku merujuknya. Namun, jika engkau telah menalaknya tiga kali, maka wanita itu haram bagimu sampai ia menikah dengan suami selainmu dan engkau bermaksiat kepada Allah dalam perkara perintah menalak istrimu.
Muslim berkata: Al-Laits memastikan ucapannya “satu talak”.
٢ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ قَالَ: طَلَّقۡتُ امۡرَأَتِي عَلَىٰ عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَهِيَ حَائِضٌ، فَذَكَرَ ذٰلِكَ عُمَرُ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، ثُمَّ لۡيَدَعۡهَا حَتَّىٰ تَطۡهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ، فَإِذَا طَهُرَتۡ فَلۡيُطَلِّقۡهَا قَبۡلَ أَنۡ يُجَامِعَهَا أَوۡ يُمۡسِكۡهَا، فَإِنَّهَا الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ أَنۡ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ).
قَالَ عُبَيۡدُ اللهِ: قُلۡتُ لِنَافِعٍ: مَا صَنَعَتِ التَّطۡلِيقَةُ؟ قَالَ: وَاحِدَةٌ اعۡتَدَّ بِهَا.
2. Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar. Beliau mengatakan: Aku menceraikan istriku di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang haid, lalu ‘Umar menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya kemudian membiarkannya sampai suci kemudian haid sekali lagi. Lalu jika wanita itu sudah suci, silakan dia menceraikannya sebelum menggaulinya atau mempertahankannya. Sesungguhnya itu adalah (waktu yang wajar menghadapi) idah yang diperintahkan Allah jika ingin menceraikan istri.”
‘Ubaidullah bertanya kepada Nafi’: Apa yang terjadi dengan ucapan talak dalam keadaan demikian? Beliau menjawab: Dihitung satu talak.
(...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَابۡنُ الۡمُثَنَّى قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ إِدۡرِيسَ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، نَحۡوَهُ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ قَوۡلَ عُبَيۡدِ اللهِ لِنَافِعٍ.
قَالَ ابۡنُ الۡمُثَنَّى فِي رِوَايَتِهِ: فَلۡيَرۡجِعۡهَا. وقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: فَلۡيُرَاجِعۡهَا.
Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Al-Mutsanna telah menceritakannya kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdullah bin Idris menceritakan kepada kami dari ‘Ubaidullah melalui sanad ini semisal hadis tersebut. Namun beliau tidak menyebutkan pertanyaan ‘Ubaidullah kepada Nafi’.
Ibnu Al-Mutsanna berkata di dalam riwayatnya: falyarji’ha. Abu Bakr berkata: falyuraji’ha.
٣ - (...) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ نَافِعٍ، أَنَّ ابۡنَ عُمَرَ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَسَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ، فَأَمَرَهُ أَنۡ يَرۡجِعَهَا ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّىٰ تَحِيضَ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ، ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّىٰ تَطۡهُرَ، ثُمَّ يُطَلِّقَهَا قَبۡلَ أَنۡ يَمَسَّهَا، فَتِلۡكَ الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ أَنۡ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ.
قَالَ: فَكَانَ ابۡنُ عُمَرَ إِذَا سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يُطَلِّقُ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ يَقُولُ: أَمَّا أَنۡتَ طَلَّقۡتَهَا وَاحِدَةً أَوِ اثۡنَتَيۡنِ، إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَمَرَهُ أَنۡ يَرۡجِعَهَا، ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّىٰ تَحِيضَ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ، ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّى تَطۡهُرَ، ثُمَّ يُطَلِّقَهَا قَبۡلَ أَنۡ يَمَسَّهَا، وَأَمَّا أَنۡتَ طَلَّقۡتَهَا ثَلَاثًا فَقَدۡ عَصَيۡتَ رَبَّكَ فِيمَا أَمَرَكَ بِهِ مِنۡ طَلَاقِ امۡرَأَتِكَ، وَبَانَتۡ مِنۡكَ.
3. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Isma’il menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Nafi’, bahwa Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya ketika sedang haid. ‘Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memerintahkan agar merujuknya kemudian menangguhkannya sampai wanita itu haid sekali lagi, kemudian menangguhkannya sampai suci. Kemudian dia bisa menceraikannya sebelum menggaulinya. Itulah (waktu wanita dapat menghadapi) idah (secara wajar) yang diperintahkan oleh Allah apabila istri ingin dicerai.
Beliau berkata: Ibnu ‘Umar apabila ditanya tentang seseorang yang menceraikan istrinya ketika sedang haid, maka beliau mengatakan: Jika engkau menalaknya satu atau dua, maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar ia merujuknya, kemudian menangguhkannya sampai wanita itu haid sekali lagi, kemudian menangguhkannya sampai suci, kemudian dia bisa menceraikannya sebelum menggaulinya. Adapun jika engkau menalaknya yang ketiga, maka sungguh engkau bermaksiat kepada Tuhanmu dalam aturan menceraikan istrimu yang telah diperintahkan kepadamu, namun wanita itu tetap telah terpisah darimu.
٤ - (...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: أَخۡبَرَنِي يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ - وَهُوَ ابۡنُ أَخِي الزُّهۡرِيِّ - عَنۡ عَمِّهِ: أَخۡبَرَنَا سَالِمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ قَالَ: طَلَّقۡتُ امۡرَأَتِي وَهِيَ حَائِضٌ. فَذَكَرَ ذٰلِكَ عُمَرُ لِلنَّبِيِّ ﷺ. فَتَغَيَّظَ رَسُولُ اللهِ ﷺ ثُمَّ قَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا حَتَّىٰ تَحِيضَ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ مُسۡتَقۡبَلَةً، سِوَى حَيۡضَتِهَا الَّتِي طَلَّقَهَا فِيهَا، فَإِنۡ بَدَا لَهُ أَنۡ يُطَلِّقَهَا فَلۡيُطَلِّقۡهَا طَاهِرًا مِنۡ حَيۡضَتِهَا قَبۡلَ أَنۡ يَمَسَّهَا، فَذٰلِكَ الطَّلَاقُ لِلۡعِدَّةِ كَمَا أَمَرَ اللهُ).
وَكَانَ عَبۡدُ اللهِ طَلَّقَهَا تَطۡلِيقَةً وَاحِدَةً، فَحُسِبَتۡ مِنۡ طَلَاقِهَا، وَرَاجَعَهَا عَبۡدُ اللهِ كَمَا أَمَرَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ.
4. ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepadaku: Ya’qub bin Ibrahim mengabarkan kepadaku: Muhammad putra saudara Az-Zuhri menceritakan kepada kami dari pamannya: Salim bin ‘Abdullah mengabarkan kepada kami bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar mengatakan: Aku menceraikan istriku ketika sedang haid. Lalu ‘Umar menyebutkan kejadian itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam geram kemudian bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya sampai wanita itu haid sekali lagi berikutnya, bukan haid ketika dia menalaknya. Jika dia masih ingin menalaknya, maka dia bisa menalaknya ketika suci dari haidnya sebelum menggaulinya. Itu adalah talak pada (waktu wanita bisa menghadapi) idah (secara wajar) sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.”
‘Abdullah ketika itu baru menalak satu dan itu dihitung termasuk dari talaknya, lalu ‘Abdullah merujuknya sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
(...) - وَحَدَّثَنِيهِ إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: أَخۡبَرَنَا يَزِيدُ بۡنُ عَبۡدِ رَبِّهِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنِي الزُّبَيۡدِيُّ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ. غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ ابۡنُ عُمَرَ: فَرَاجَعۡتُهَا. وَحَسَبۡتُ لَهَا التَّطۡلِيقَةَ الَّتِي طَلَّقۡتُهَا.
Ishaq bin Manshur telah menceritakannya kepadaku: Yazid bin ‘Abdu Rabbih mengabarkan kepada kami: Muhammad bin Harb menceritakan kepada kami: Az-Zubaidi menceritakan kepadaku dari Az-Zuhri melalui sanad ini. Hanya saja beliau berkata: Ibnu ‘Umar mengatakan: Aku merujuknya dan aku menghitung satu talak yang aku ucapkan terhadapnya.
٥ - (...) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَابۡنُ نُمَيۡرٍ.- وَاللَّفۡظُ لِأَبِي بَكۡرٍ - قَالُوا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ - مَوۡلَىٰ آلِ طَلۡحَةَ - عَنۡ سَالِمٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ. فَذَكَرَ ذٰلِكَ عُمَرُ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، ثُمَّ لۡيُطَلِّقۡهَا طَاهِرًا أَوۡ حَامِلًا).
5. Abu Bakr bin Abu Syaibah, Zuhair bin Harb, dan Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami. Lafal hadis ini milik Abu Bakr. Mereka berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Muhammad bin ‘Abdurrahman—maula (bekas budak yang dimerdekakan) keluarga Thalhah—dari Salim, dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau menceraikan istrinya ketika sedang haid. Lalu ‘Umar menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya kemudian silakan ia menceraikannya ketika suci atau hamil.”
٦ - (...) - وَحَدَّثَنِي أَحۡمَدُ بۡنُ عُثۡمَانَ بۡنِ حَكِيمٍ الۡأَوۡدِيُّ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ مَخۡلَدٍ: حَدَّثَنِي سُلَيۡمَانُ - وَهُوَ ابۡنُ بِلَالٍ -: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ دِينَارٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَسَأَلَ عُمَرُ عَنۡ ذٰلِكَ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا حَتَّىٰ تَطۡهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ ثُمَّ تَطۡهُرَ، ثُمَّ يُطَلِّقُ بَعۡدُ، أَوۡ يُمۡسِكُ).
6. Ahmad bin ‘Utsman bin Hakim Al-Adawi telah menceritakan kepadaku: Khalid bin Makhlad menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Bilal menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin Dinar menceritakan kepadaku dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau menceraikan istrinya ketika sedang haid lalu ‘Umar menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya sampai wanita itu suci, kemudian haid sekali lagi, kemudian suci. Setelah itu dia bisa menalaknya atau mempertahankannya.”
٧ - (...) - وَحَدَّثَنِي عَلِيُّ بۡنُ حُجۡرٍ السَّعۡدِيُّ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنِ ابۡنِ سِيرِينَ قَالَ: مَكَثۡتُ عِشۡرِينَ سَنَةً يُحَدِّثُنِي مَنۡ لَا أَتَّهِمُ، أَنَّ ابۡنَ عُمَرَ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ ثَلَاثًا وَهِيَ حَائِضٌ، فَأُمِرَ أَنۡ يُرَاجِعَهَا، فَجَعَلۡتُ لَا أَتَّهِمُهُمۡ، وَلَا أَعۡرِفُ الۡحَدِيثَ، حَتَّىٰ لَقِيتُ أَبَا غَلَّابٍ، يُونُسَ بۡنَ جُبَيۡرٍ الۡبَاهِلِيَّ، وَكَانَ ذَا ثَبَتٍ، فَحَدَّثَنِي: أَنَّهُ سَأَلَ ابۡنَ عُمَرَ، فَحَدَّثَهُ: أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ تَطۡلِيقَةً وَهِيَ حَائِضٌ، فَأُمِرَ أَنۡ يَرۡجِعَهَا.
قَالَ: قُلۡتُ: أَفَحُسِبَتۡ عَلَيۡهِ؟ قَالَ: فَمَهۡ، أَوَ إِنۡ عَجَزَ وَاسۡتَحۡمَقَ؟
[البخاري: كتاب الطلاق، باب إذا طلقت الحائض تعتد بذلك الطلاق، رقم: ٥٢٥٢].
7. ‘Ali bin Hujr As-Sa’di telah menceritakan kepadaku: Isma’il bin Ibrahim menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Ibnu Sirin. Beliau berkata: Seseorang yang tidak aku ragukan (periwayatannya) selama dua puluh tahun menceritakan kepadaku bahwa Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya tiga kali, lalu beliau diperintahkan agar merujuknya. Aku tidak meragukannya, namun aku tidak mengenali hadis itu sampai aku berjumpa dengan Abu Ghallan Yunus bin Jubair Al-Bahili—beliau orang yang memiliki kekuatan hafalan—lalu beliau menceritakan kepadaku: Bahwa beliau bertanya Ibnu ‘Umar, lalu beliau menceritakan kepadanya: Bahwa beliau menceraikan istrinya satu kali talak ketika sedang haid, lalu beliau diperintahkan untuk merujuknya.
Beliau berkata: Aku bertanya: Apakah talak itu dihitung? Beliau menjawab: Mengapa tidak? Walaupun si penalak itu tidak mampu (merujuk) dan bodoh.
(...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو الرَّبِيعِ وَقُتَيۡبَةُ قَالَا: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنۡ أَيُّوبَ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، نَحۡوَهُ، غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: فَسَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ، فَأَمَرَهُ.
Abu Ar-Rabi’ dan Qutaibah telah menceritakannya kepada kami. Keduanya berkata: Hammad menceritakan kepada kami dari Ayyub melalui sanad ini semisal hadis tersebut. Hanya saja beliau berkata: ‘Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memerintahkannya.
٨ - (...) - وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ بۡنُ عَبۡدِ الصَّمَدِ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ جَدِّي، عَنۡ أَيُّوبَ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، وَقَالَ فِي الۡحَدِيثِ: فَسَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ؟ فَأَمَرَهُ أَنۡ يُرَاجِعَهَا حَتَّىٰ يُطَلِّقَهَا طَاهِرًا مِنۡ غَيۡرِ جِمَاعٍ، وَقَالَ: (يُطَلِّقُهَا فِي قُبُلِ عِدَّتِهَا).
8. ‘Abdul Warits bin ‘Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku, dari Ayyub melalui sanad ini. Beliau berkata di dalam hadis ini: ‘Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Lalu Nabi memerintahkannya agar merujuknya sampai dia menceraikannya dalam keadaan suci sebelum digauli. Dan beliau bersabda, “Dia menceraikannya di awal waktu idahnya.”
٩ - (...) - وَحَدَّثَنِي يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ الدَّوۡرَقِيُّ، عَنِ ابۡنِ عُلَيَّةَ، عَنۡ يُونُسَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ سِيرِينَ، عَنۡ يُونُسَ بۡنِ جُبَيۡرٍ قَالَ: قُلۡتُ لِابۡنِ عُمَرَ: رَجُلٌ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ. فَقَالَ: أَتَعۡرِفُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ؟ فَإِنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَأَتَىٰ عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ فَسَأَلَهُ؟ فَأَمَرَهُ أَنۡ يَرۡجِعَهَا، ثُمَّ تَسۡتَقۡبِلَ عِدَّتَهَا.
قَالَ: فَقُلۡتُ لَهُ: إِذَا طَلَّقَ الرَّجُلُ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، أَتَعۡتَدُّ بِتِلۡكَ التَّطۡلِيقَةِ؟ فَقَالَ: فَمَهۡ، أَوَ إِنۡ عَجَزَ وَاسۡتَحۡمَقَ؟.
9. Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi telah menceritakan kepadaku dari Ibnu ‘Ulayyah, dari Yunus, dari Muhammad bin Sirin, dari Yunus bin Jubair. Beliau berkata: Aku berkata kepada Ibnu ‘Umar: Ada seorang lelaki yang menceraikan istrinya ketika sedang haid. Beliau berkata: Apakah engkau mengenal ‘Abdullah bin ‘Umar? Sesungguhnya dia menceraikan istrinya ketika sedang haid, lalu ‘Umar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya kepada beliau. Lalu Nabi memerintahkan Ibnu ‘Umar agar merujuknya kemudian dia jika dia ingin menceraikannya, maka dia ceraikan di waktu dia dapat menghadapi idahnya (secara wajar).
Beliau berkata: Lalu aku bertanya kepadanya: Jika seseorang menceraikan istrinya ketika sedang haid, apakah talak itu dihitung? Beliau menjawab: Mengapa tidak? Meskipun si pelaku tidak mampu (merujuk) dan berbuat bodoh.
١٠ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ. قَالَ ابۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ يُونُسَ بۡنَ جُبَيۡرٍ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ يَقُولُ: طَلَّقۡتُ امۡرَأَتِي وَهِيَ حَائِضٌ، فَأَتَىٰ عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ، فَذَكَرَ ذٰلِكَ لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لِيُرَاجِعۡهَا، فَإِذَا طَهَرَتۡ، فَإِنۡ شَاءَ فَلۡيُطَلِّقۡهَا).
قَالَ: فَقُلۡتُ لِابۡنِ عُمَرَ: أَفَاحۡتَسَبۡتَ بِهَا؟ قَالَ: مَا يَمۡنَعُهُ، أَرَأَيۡتَ إِنۡ عَجَزَ وَاسۡتَحۡمَقَ؟
10. Muhammad bin Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Ibnu Al-Mutsanna berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah. Beliau berkata: Aku mendengar Yunus bin Jubair berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Umar mengatakan: Aku menceraikan istriku ketika sedang haid. Lalu ‘Umar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebutkan kejadian itu kepada beliau. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia rujuk wanita itu, lalu jika telah suci, maka jika ia mau, silakan menceraikannya.”
Beliau berkata: Aku bertanya kepada Ibnu ‘Umar: Apakah engkau menghitung talak itu? Beliau menjawab: Apa yang menghalanginya? Apa pendapatmu jika dia tidak mampu atau berbuat bodoh? (Talak tetap jatuh).
١١ - (...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا خَالِدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ سِيرِينَ قَالَ: سَأَلۡتُ ابۡنَ عُمَرَ عَنِ امۡرَأَتِهِ الَّتِي طَلَّقَ؟ فَقَالَ: طَلَّقۡتُهَا وَهِيَ حَائِضٌ، فَذُكِرَ ذٰلِكَ لِعُمَرَ، فَذَكَرَهُ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، فَإِذَا طَهَرَتۡ فَلۡيُطَلِّقۡهَا لِطُهۡرِهَا) قَالَ: فَرَاجَعۡتُهَا ثُمَّ طَلَّقۡتُهَا لِطُهۡرِهَا.
قُلۡتُ: فَاعۡتَدَدۡتَ بِتِلۡكَ التَّطۡلِيقَةِ الَّتِي طَلَّقۡتَ وَهِيَ حَائِضٌ؟ قَالَ: مَا لِيَ لَا أَعۡتَدُّ بِهَا؟ وَإِنۡ كُنۡتُ عَجَزۡتُ وَاسۡتَحۡمَقۡتُ؟
[البخاري: كتاب الطلاق، باب إذا طلقت الحائض تعتد بذلك الطلاق، رقم: ٥٢٥٣].
11. Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Khalid bin ‘Abdullah mengabarkan kepada kami dari ‘Abdul Malik, dari Anas bin Sirin. Beliau berkata: Aku bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang istrinya yang telah dia cerai. Beliau mengatakan: Aku menceraikannya ketika sedang haid. Lalu kejadian itu disebutkan kepada ‘Umar, kemudian ‘Umar menyebutkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya. Jika dia sudah suci, maka dia boleh menceraikannya dalam masa sucinya.”
Aku berkata: Apakah engkau menghitung talak yang engkau ucapkan ketika dia sedang haid itu? Beliau menjawab: Kenapa aku tidak menghitungnya? Walaupun aku tidak mampu dan berbuat bodoh.
١٢ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ. قَالَ ابۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ سِيرِينَ، أَنَّهُ سَمِعَ ابۡنَ عُمَرَ قَالَ: طَلَّقۡتُ امۡرَأَتِي وَهِيَ حَائِضٌ، فَأَتَى عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ فَأَخۡبَرَهُ، فَقَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، ثُمَّ إِذَا طَهَرَتۡ فَلۡيُطَلِّقۡهَا).
قُلۡتُ لِابۡنِ عُمَرَ: أَفَاحۡتَسَبۡتَ بِتِلۡكَ التَّطۡلِيقَةِ؟ قَالَ: فَمَهۡ.
12. Muhammad bin Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Ibnu Al-Mutsanna berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Anas bin Sirin, bahwa beliau mendengar Ibnu ‘Umar mengatakan: Aku menceraikan istriku ketika sedang haid. Lalu ‘Umar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabari beliau. Lalu beliau bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya kemudian jika dia sudah suci, dia boleh menceraikannya.”
Aku bertanya kepada Ibnu ‘Umar: Apakah engkau menghitung talak itu? Beliau menjawab: Mengapa tidak?
(...) - وَحَدَّثَنِيهِ يَحۡيَى بۡنُ حَبِيبٍ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ الۡحَارِثِ. (ح) وَحَدَّثَنِيهِ عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ بِشۡرٍ: حَدَّثَنَا بَهۡزٌ. قَالَا: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. غَيۡرَ أَنَّ فِي حَدِيثِهِمَا (لِيَرۡجِعۡهَا). وَفِي حَدِيثِهِمَا: قَالَ: قُلۡتُ لَهُ: أَتَحۡتَسِبُ بِهَا؟ قَالَ: فَمَهۡ.
Yahya bin Habib telah menceritakannya kepadaku: Khalid bin Al-Harits menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) ‘Abdurrahman bin Bisyr telah menceritakanya kepadaku: Bahz menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami melalui sanad ini. Hanya saja di dalam hadis keduanya “liyarji’ha”. Dan di dalam hadis keduanya: Beliau berkata: Aku bertanya kepadanya: Apakah engkau menghitungnya? Beliau menjawab: Mengapa tidak?
١٣ - (...) - وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّهُ سَمِعَ ابۡنَ عُمَرَ يُسۡأَلُ عَنۡ رَجُلٍ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ حَائِضًا؟ فَقَالَ: أَتَعۡرِفُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: فَإِنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ حَائِضًا، فَذَهَبَ عُمَرُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَأَخۡبَرَهُ الۡخَبَرَ، فَأَمَرَهُ أَنۡ يُرَاجِعَهَا.
قَالَ: لَمۡ أَسۡمَعۡهُ يَزِيدُ عَلَىٰ ذٰلِكَ (لِأَبِيهِ).
13. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami: Ibnu Thawus mengabarkan kepadaku dari ayahnya, bahwa beliau mendengar Ibnu ‘Umar ditanya tentang seorang pria yang menceraikan istrinya ketika sedang haid. Beliau berkata: Apakah engkau mengenal ‘Abdullah bin ‘Umar? Si penanya berkata: Iya. Beliau mengatakan: Sesungguhnya dia pernah menceraikan istrinya yang sedang haid, lalu ‘Umar pergi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengabari beliau hal itu. Maka Nabi memerintahkan Ibnu ‘Umar agar merujuknya.
Ibnu Thawus berkata: Aku tidak mendengar beliau menambah lebih daripada riwayat itu. Yakni ayahnya.
١٤ - (...) - وَحَدَّثَنِي هَارُونُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بۡنُ مُحَمَّدٍ. قَالَ: قَالَ ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي أَبُو الزُّبَيۡرِ؛ أَنَّهُ سَمِعَ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ أَيۡمَنَ - مَوۡلَىٰ عَزَّةَ - يَسۡأَلُ ابۡنَ عُمَرَ، وَأَبُو الزُّبَيۡرِ يَسۡمَعُ ذٰلِكَ: كَيۡفَ تَرَىٰ فِي رَجُلٍ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ حَائِضًا؟ فَقَالَ: طَلَّقَ ابۡنُ عُمَرَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ عَلَىٰ عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَسَأَلَ عُمَرُ رَسُولَ اللهِ ﷺ؟ فَقَالَ: إِنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (لِيُرَاجِعۡهَا) فَرَدَّهَا. وَقَالَ: (إِذَا طَهَرَتۡ فَلۡيُطَلِّقۡ أَوۡ لِيُمۡسِكۡ).
قَالَ ابۡنُ عُمَرَ: وَقَرَأَ النَّبِيُّ ﷺ: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقۡتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ فِي قُبُلِ عِدَّتِهِنَّ.
14. Harun bin ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku: Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibnu Juraij berkata: Abu Az-Zubair mengabarkan kepadaku; Bahwa beliau mendengar ‘Abdurrahman bin Aiman—maula ‘Azzah—bertanya kepada Ibnu ‘Umar sementara Abu Az-Zubair mendengarnya: Bagaimana pendapatmu tentang seorang pria yang menceraikan istrinya yang sedang haid? Beliau menjawab: Ibnu ‘Umar pernah menceraikan istrinya yang sedang haid di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ‘Umar bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Sesungguhnya ‘Abdullah bin ‘Umar telah menceraikan istrinya yang sedang haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia harus merujuknya kembali.” Lalu beliau mengembalikannya. Dan beliau bersabda, “Jika wanita itu sudah suci, silakan dia cerai atau dia pertahankan.”
Ibnu ‘Umar mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (yang artinya), “Wahai sekalian nabi, jika kalian hendak menceraikan istri, maka ceraikanlah mereka di permulaan (waktu mereka dapat menghadapi) idah mereka (secara wajar).” 
(...) - وَحَدَّثَنِي هَارُونُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنۡ أَبِي الزُّبَيۡرِ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ. نَحۡوَ هٰذِهِ الۡقِصَّةِ.
Harun bin ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku: Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Abu Az-Zubaid, dari Ibnu ‘Umar. Seperti kisah ini.
(...) - وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي أَبُو الزُّبَيۡرِ، أَنَّهُ سَمِعَ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ أَيۡمَنَ - مَوۡلَىٰ عُرۡوَةَ - يَسۡأَلُ ابۡنَ عُمَرَ، وَأَبُو الزُّبَيۡرِ يَسۡمَعُ. بِمِثۡلِ حَدِيثِ حَجَّاجٍ، وَفِيهِ بَعۡضُ الزِّيَادَةِ.
قَالَ مُسۡلِمٌ: أَخۡطَأَ حَيۡثُ قَالَ: عُرۡوَةَ: إِنَّمَا هُوَ مَوۡلَىٰ عَزَّةَ.
Muhammad bin Rafi’ telah menceritakannya kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami: Abu Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa beliau mendengar ‘Abdurrahman bin Aiman—maula ‘Urwah—bertanya kepada Ibnu ‘Umar, sementara Abu Az-Zubair mendengar, semisal hadis Hajjaj. Di dalamnya ada sebagian tambahan.
Muslim berkata: Beliau keliru ketika berkata: ‘Urwah; sesungguhnya dia adalah maula ‘Azzah.