Ilmu dan Akhlaq Ulama (6)

وَالۡعُلَمَاءُ هُمُ الۡعَارِفُونَ بِاللهِ وَبِأَسۡمَائِهِ وَبِصِفَاتِهِ وَبِشَرِيعَتِهِ الَّتِي بُعِثَ بِهَا رُسُلُهُ، وَلِهٰذَا قَالَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَالَ لَهُ بَعۡضُ النَّاسِ مُسۡتَقِلاًّ الۡعِلۡمَ الَّذِي أَرۡشَدَهُ إِلَيۡهِ: (لَسۡنَا مِثۡلَكَ يَا رَسُولَ اللهِ! قَدۡ غَفَّرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ: أَمَّا وَاللهِ إِنِّي لأَخۡشَاكُمۡ للهِ وَأَتۡقَاكُمۡ لَهُ).
فَالۡعُلَمَاءُ بِاللهِ وَبِدِينِهِ وَبِأَسۡمَائِهِ وَصِفَاتِهِ هُمۡ أَخۡشَى النَّاسِ للهِ وَأَقۡوَى النَّاسِ فِي الۡحَقِّ عَلَى حَسَبِ عِلۡمِهِمۡ بِهِ وَعَلَى حَسَبِ دَرَجَاتِهِمۡ فِي ذٰلِكَ، وَأَعۡلاَهُمۡ فِي هٰذَا وَأَكۡمَلُهُمۡ فِيهِ هُمُ الرُّسُلُ عَلَيۡهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ فَهُمۡ أَخۡشَى النَّاسِ للهِ وَأَتۡقَاهُمۡ لَهُ. وَأَكۡمَلُهُمۡ فِي ذٰلِكَ عِلۡمًا وَخَشۡيَةً وَتَقۡوَى هُوَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ وَقَدۡ جَاءَتِ الأَحَادِيثُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ فِي بَيَانِ فَضۡلِ الۡعِلۡمِ وَتَكَاثَرَتۡ فِي ذٰلِكَ.
فَمِنۡ ذٰلِكَ قَوۡلُهُ صلى الله عليه وسلم: (مَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَلۡتَمِسُ فِيهِ عِلۡمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الۡجَنَّةِ) أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ فِي صَحِيحِهِ.
فَهٰذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ طُلاَّبَ الۡعِلۡمِ عَلَى خَيۡرٍ عَظِيمٍ وَأَنَّهُمۡ عَلَى طَرِيقِ نَجَاةٍ وَسَعَادَةٍ لِمَنۡ أَصۡلَحَ نِيَّتَهُ فِي طَلَبِ الۡعِلۡمِ وَابۡتَغَى بِهِ وَجۡهَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَصَدَ الۡعِلۡمَ لِنَفۡسِ الۡعِلۡمِ وَلِلۡعَمَلِ لاَ لأَجۡلِ الرِّيَاءِ وَالسُّمۡعَةِ أَوۡ لأَجۡلِ مَقَاصِدِ أُخۡرَى مِنَ الۡمَقَاصِدِ الۡعَاجِلَةِ، وَإِنَّمَا يَتَعَلَّمُهُ لِمَعۡرِفَةِ دِينِهِ وَالۡبَصِيرَةِ بِمَا أَوۡجَبَ اللهُ عَلَيۡهِ وَلِيَسۡعَى فِي إِخۡرَاجِ النَّاسِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ فَيَعۡلَمُ وَيَعۡمَلُ وَيُعَلِّمُ غَيۡرَهُ مِنَ الۡمَقَاصِدِ الۡحَسَنَةِ الَّتِي أُمِرَ الۡمُسۡلِمُ بِهَا، فَكُلُّ طَرِيقٍ يَسۡلُكُهُ فِي طَلَبِ الۡعِلۡمِ فَهُوَ طَرِيقٌ إِلَى الۡجَنَّةِ. وَيَعُمُّ ذٰلِكَ جَمِيعُ الطُّرُقِ الۡحِسِّيَّةِ وَالۡمَعۡنَوِيَّةِ: فَسَفَرُهُ مِنۡ بِلاَدٍ إِلَى بِلاَدٍ أُخۡرَى وَانۡتِقَالُهُ مِنۡ حَلَقَةٍ إِلَى حَلَقَةٍ وَمِنۡ مَسۡجِدٍ إِلَى مَسۡجِدٍ بِقَصۡدِ طَلَبِ الۡعِلۡمِ فَهٰذَا كُلُّهُ مِنَ الطُّرُقِ لِتَحۡصِيلِ الۡعِلۡمِ. وَهٰكَذَا الۡمُذَاكَرَةُ فِي كُتُبِ الۡعِلۡمِ وَالۡمُطَالَعَةُ وَالۡكِتَابَةِ كُلُّهَا مِنَ الطُّرُقِ أَيۡضًا.
Ulama adalah orang-orang yang mengenal Allah, nama-namaNya, sifat-sifatNya, dan mengenal syariatNya yang Allah utus para rasul dengannya. Oleh karena itulah, ketika sebagian manusia merasa sedikit ilmu yang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bimbingkan, mereka mengatakan, “Kami tidak seperti engkau, wahai Rasulullah. Sungguh Allah telah mengampuni engkau dosa-dosa yang telah lewat dan yang akan datang.” Beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepadaNya di antara kalian.”

Maka orang-orang yang berilmu tentang Allah, agamaNya, nama-namaNya, dan sifat-sifatNya, mereka adalah manusia yang paling takut kepada Allah, dan manusia yang paling kuat di dalam kebenaran sesuai ilmu mereka dan sesuai tingkat keilmuan mereka. Orang-orang yang paling tinggi keilmuan dan paling sempurna ilmunya adalah para rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Mereka adalah orang yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Allah. Dan yang paling sempurna ilmunya, takutnya, dan takwanya di antara para rasul tersebut adalah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh telah datang hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai penjelasan tentang keutamaan ilmu. Hadits-hadits tentang hal tersebut ada banyak.

Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim di dalam Shahihnya). 

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya penuntut ilmu itu berada di atas kebaikan yang agung. Mereka berada di atas jalan keselamatan dan kebahagiaan, bagi yang baik niatnya dalam menuntut ilmu, dan dia mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla. Dia memaksudkan mencari ilmu itu untuk mendapatkan ilmu dan mengamalkannya, bukan untuk riya` dan sum’ah, bukan pula untuk tujuan-tujuan lain dari tujuan dunia. Dia hanya mempelajarinya untuk mengenal agamanya dan berilmu dengan apa yang Allah wajibkan baginya, dan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Maka dia berilmu dan beramal, lalu mengajar yang lain. Ini merupakan tujuan yang baik yang seorang muslim diperintah untuk itu. Maka, setiap jalan yang dia tempuh untuk mencari ilmu adalah jalan menuju surga. Hal ini umum meliputi seluruh jalan dalam bentuk fisik ataupun jalan dalam arti maknanya. Maka perjalanannya dari satu negeri ke negeri lain, dan berpindahnya seseorang dari satu majlis ke majlis lain, dari satu masjid ke masjid lain dengan tujuan mencari ilmu, ini semua termasuk jalan untuk mendapatkan ilmu. Demikian pula mempelajari kitab-kitab ilmu, menelaah, dan menulis ilmu, semuanya juga termasuk jalan-jalan menuntut ilmu.

Manhajus Salikin - Kitab Ath-Thaharah (2), Bab Sifat Wudhu`

Seseorang berwudhu berniat untuk mengangkat hadats atau wudhu` untuk sholat dan semisalnya. Niat adalah syarat untuk seluruh amal, baik thaharah (bersuci) dan ibadah-ibadah lainnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, 
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaih[1]). Kemudian hendaknya dia ucapkan, Bismillah.” Lalu mencuci kedua telapak tangannya tiga kali. Lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung tiga kali menggunakan tiga kali cidukan. Kemudian mencuci wajah tiga kali, mencuci tangan sampai siku tiga kali. Lalu mengusap kepala dari depan sampai tengkuk dengan kedua tangannya, kemudian mengembalikannya ke tempat dia memulai usapannya dengan satu kali usapan; kemudian memasukkan jari telunjuknya ke telinga dan mengusap punggung telinga menggunakan dua ibu jari. Kemudian mencuci dua kaki sampai mata kaki tiga kali-tiga kali.
Ini adalah wudhu` yang paling sempurna yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yang wajib dari tata cara wudhu` tersebut: seseorang mencucinya satu kali dan melakukannya sesuai urutan yang Allah sebutkan dalam firmanNya,
يَـٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ...
“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menegakkan shalat, maka cucilah wajah-wajah kalian...” (QS. Al Maa`idah: 6). Jangan memisah di antaranya dengan pemisah yang dianggap keumuman sebagai pemisah yang banyak / lama, di mana wudhu` itu sebagiannya dibangun atas sebagian yang lain. Hal ini berlaku pada setiap ibadah yang disyaratkan untuk dilakukan secara berurutan.
Jika seseorang mengenakan khuf atau sejenisnya, maka dia mengusap di atasnya jika dia kehendaki, satu hari satu malam untuk orang yang mukim, tiga hari tiga malam untuk musafir. Syaratnya dia harus mengenakan keduanya pada keadaan suci, dan dia tidak mengusapnya kecuali pada hadats kecil. Dari Anas secara marfu’,
إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ وَلَبِسَ خُفَّيْهِ فَلْيَمْسَحْ عَلَيْهِمَ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا وَلَا يَخْلَعْهُمَا إِنْ شَاءَ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ
“Jika salah seorang kalian berwudhu` dan memakai dua khufnya, maka hendaknya dia mengusapnya dan sholat dengan memakainya. Dan jika ingin, dia tidak perlu melepasnya kecuali karena junub.” (HR. Al Hakim dan beliau menshahihkannya).
Jika di anggota tubuh wudhu`nya terdapat bilah papan untuk patah tulang dan obat untuk luka - yang apabila dicuci akan bermudharat -, maka dia mengusapnya dengan air ketika hadats besar dan kecil sampai dia sembuh.
Sifat mengusap khuf: diusap sebagian besar dari bagian atasnya.
Adapun mengusap bilah papan untuk patah tulang: diusap seluruhnya.

[1] HR. Al-Bukhari (1) dan Muslim (1907) dari hadits ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Manhajus Salikin - Kitabush Shiyam (3 / selesai)

Karya: Asy Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'diy
Nabi ditanya tentang puasa hari 'Arafah, beliau berkata,
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيةَ وَالْبَاقِيَةَ
"Puasa 'Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." Beliau ditanya tentang puasa 'Asyura, beliau berkata,
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
"Puasa 'Asyura menghapus dosa setahun yang lalu." Beliau juga ditanya tentang puasa hari Senin, beliau bersabda,
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَبُعِثْتُ فِيهِ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
"Hari Senin itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus, dan hari diturunkan wahyu." (HR. Muslim[1]).
Beliau bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian mengikutkan puasa enam hari di bulan Syawwal, seakan-akan seperti puasa satu tahun." (HR. Muslim[2]).
Abu Dzar berkata,
أَمَرَناَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُومَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami agar kami berpuasa tiga hari di dalam satu bulan, pada tanggal 13, 14, dan 15." (HR. An Nasa`i dan At Tirmidzi[3]).
Nabi melarang berpuasa pada dua hari: hari 'Idul Fithr dan hari An-Nahr (penyembelihan). (Muttafaqun 'alaih[4]).
Nabi bersabda,
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ للهِ عَزَّ وَجَلَّ
"Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah 'azza wa jalla." (HR. Muslim[5]). Beliau bersabda,
لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمْعَةِ إِلَّا أَنْ يَصُومَ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ
"Janganlah sekali-kali salah seorang kalian berpuasa pada hari Jum'at kecuali dia juga berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya." (Muttafaqun 'alaih[6]).
Nabi bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa berpuasa bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni untuknya dosa-dosa yang telah lewat, dan barangsiapa shalat malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni untuknya dosa-dosa yang telah lewat, dan barangsiapa shalat pada malam Lailatul Qadr karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni untuknya dosa-dosa yang telah lewat." (Muttafaqun 'alaih[7]).
كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ وَاعْتَكَفَ مِنْ بَعْدِهِ أَزْوَاجُهُ
Nabi biasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya, dan istri-istrinya beri'tikaf sepeninggal beliau. (Muttafaqun 'alaih[8]).
Nabi bersabda,
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ مَسْجِدِي هٰذَا وَ الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
"Tidak boleh dilakukan perjalanan (untuk ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabi), dan Masjid Al Aqsha." (Muttafaqun 'alaih[9]).

[1] Nomor 1162 dari hadits Abu Qatadah Al-Anshari, di dalam nukilan ini ada lafazh yang diawalkan dan diakhirkan dan ada pula penambahan.
[2] Nomor 1164 dari hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.
[3] HR. At-Tirmidzi (760) dan An-Nasai (4/422). Al-Albani menghasankannya di Shahih Sunan An-Nasai dan selain beliau juga.
[4] HR. Al-Bukhari (1991) dan Muslim (827/141) di dalam Kitab Ash-Shiyam dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
[5] Nomor 1141 dari hadits Nubaisyah Al-Hudzali radhiyallahu ‘anhu.
[6] HR. Al-Bukhari (1985) dan Muslim (1144) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[7] HR. Al-Bukhari (2014) dan Muslim (759) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[8] HR. Al-Bukhari (2026) dan Muslim (1172) dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
[9] HR. Al-Bukhari (1189) dan Muslim (1397) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Manhajus Salikin - Kitabush Shiyam (2)

Karya: Asy Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'diy 

Orang sakit yang mendapat kesulitan dengan puasa dan orang musafir boleh berbuka atau tetap berpuasa. Wanita yang haidh dan nifas haram untuk berpuasa dan wajib menqadha`. Adapun wanita hamil dan menyusui, jika mereka khawatir terhadap bayi mereka, maka berbuka, menqadha`, dan memberi makan setiap satu hari satu orang miskin.

Orang yang tidak mampu berpuasa karena usia lanjut atau penyakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, maka mereka memberi makan setiap satu hari satu orang miskin.

Barangsiapa yang berbuka (batal puasa) maka wajib untuk menqadha` saja. Hal ini jika batalnya karena makan, minum, muntah dengan sengaja, berbekam, atau keluar mani dengan sebab bermesraan. Kecuali orang yang batal karena jima’, dia harus menqadha` dan membebaskan budak. Jika tidak mendapatinya, maka dia puasa dua bulan berturut-turut. Jika dia tidak mampu, maka memberi makan 60 orang miskin.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ
“Barangsiapa yang lupa dalam keadaan berpuasa, lalu dia makan dan minum, maka hendaknya dia menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (Muttafaqun ‘alaih[1]). Dan beliau bersabda,
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia senantiasa dalam keadaan kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih[2]). Beliau bersabda,
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةٌ
“Makan sahurlah, sesungguhnya di dalam sahur ada berkah.” (Muttafaqun ‘alaih[3]). Beliau bersabda,
إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَإِنَّهُ طَهُورٌ
“Jika salah seorang kalian berbuka, maka berbukalah dengan kurma (tamr). Jika dia tidak mendapatkannya, berbukalah dengan air, karena air itu suci / bersih.” (HR. Al Khamsah[4]). Beliau bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya serta kejahilan, maka Allah tidak butuh dengan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al Bukhari[5]). Beliau juga bersabda,
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
“Barangsiapa meninggal dalam keadaan masih punya kewajiban puasa, maka walinya berpuasa menggantikannya.” (Muttafaqun ‘alaih[6]).


[1] HR. Al-Bukhari (1933) dan Muslim (1155) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[2] HR. Al-Bukhari (1957) dan Muslim (1098) dari hadits Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu.
[3] HR. Al-Bukhari (1923) dan Muslim (1095) dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu.
[4] HR. Ahmad (4/17), Abu Dawud (2355), At-Tirmidzi (694), An-Nasa`i di dalam Al-Kubra (2/253), dan Ibnu Majah (1699) dari hadits Salman bin ‘Amir Adh-Dhabbi radhiyallahu ‘anhu. Al-Albani mendha’ifkannya di dalam Dha’if Sunan Ibnu Majah, beliau berkata, “Yang shahih, ini adalah perbuatan beliau (Salman) radhiyallahu ‘anhu.”
[5] Nomor 6057 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[6] HR. Al-Bukhari (1952) dan Muslim (1147) dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Kosakata Bahasa Arab (1)

شغّل: menjalankan (alat)
المسجِّل: tape recorder
سجّل: mempersenjatai
الوطء: الجماع: bersetubuh
الضخم: besar
رحّب: menyambut

Manhajus Salikin - Kitabush Shiyam (1)

Karya: Asy Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'diy
Kitab Puasa
Dalil asal tentang puasa adalah firman Allah Ta’ala:

يَـٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ …
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa...” (QS. Al Baqarah: 183-187).

Wajib berpuasa Ramadhan atas setiap muslim yang baligh, berakal, mampu berpuasa dengan sebab melihat hilal bulan Ramadhan atau menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban 30 hari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
“Jika kalian melihat hilal bulan Ramadhan, maka berpuasalah. Dan jika kalian melihat hilal bulan Syawwal, maka berbukalah. Dan jika hilal tertutup awan, maka tentukanlah untuknya.” (Muttafaqun 'alaih[1]). Di lafazh lain,
فَاقْدُرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ
“Tentukanlah untuknya 30 hari.”[2] Di lafazh yang lain lagi, 
فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ
“Sempurnakan bilangan bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari[3]).

Puasa Ramadhan dimulai dengan sebab satu orang ‘adil melihat hilal. Sedangkan untuk bulan-bulan selainnya tidak diterima kecuali penglihatan dua orang ‘adil. Dan wajib untuk berniat puasa fardhu pada malam harinya, adapun untuk puasa nafilah boleh untuk berniat pada siang harinya.


[1] HR. Al-Bukhari (1900), Muslim (1080) dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
[2] Ini adalah lafazh Muslim (4/1080).
[3] Nomer 1909 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.