Al-Qawa'idul Arba' (Matan & Terjemahan)

اَلۡقَوَاعِدُ الۡأَرۡبَعُ

لِلۡإِمَامِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ ١١١٥-١٢٠٦ھ

Empat Kaidah

(Terjemahan Al-Qawa’idul Arba’)
karya Al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (1115 - 1206 H)


أَسۡأَلُ اللهَ الۡكَرِيمَ رَبَّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِيمِ أَنۡ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَأَنۡ يَجۡعَلَكَ مُبَارَكًا أَيۡنَمَا كُنۡتَ، وَأَنۡ يَجۡعَلَكَ إِذَا أُعۡطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابۡتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أَذۡنَبَ اسۡتَغۡفَرَ، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَ عُنۡوَانُ السَّعَادَةِ.
Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb ‘arsy yang agung, agar Dia melindungi engkau di dunia dan akhirat. Dan agar Dia menjadikan engkau diberkahi di manapun engkau berada, dan agar menjadikan engkau menjadi seseorang yang jika diberi lalu dia bersyukur, jika diberi cobaan lalu dia bersabar, dan jika dia berbuat dosa maka dia memohon ampun. Karena ketiga hal ini adalah tanda kebahagiaan seorang hamba.
إِعۡلَمۡ - أَرۡشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِهِ -:
أَنَّ الۡحَنِيفِيَّةَ مِلَّةُ إِبۡرَاهِيمَ أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ وَحۡدَهُ مُخۡلِصًا لَهُ الدِّينَ.
كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ﴾ [الذاريات: ٥٦].
Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk mentaatiNya, bahwa agama yang lurus -agama Ibrahim- adalah bahwa engkau menyembah Allah saja dengan mengikhlaskan agama ini untukNya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ فَاعۡلَمۡ أَنَّ الۡعِبَادَةَ لَا تُسَمَّى عِبَادَةً إِلَّا مَعَ التَّوۡحِيدِ.
كَمَا أَنَّ الصَّلَاةَ لَا تُسَمَّى صَلَاةً إِلَّا مَعَ الطَّهَارَةِ.
فَإِذَا دَخَلَ الشِّرۡكُ فِي الۡعِبَادَةِ فَسَدَتۡ، كَالۡحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَارَةِ.
Sehingga, jika engkau telah mengetahui bahwa Allah menciptakan engkau untuk beribadah kepadaNya, maka ketahuilah, bahwa ibadah itu tidak dinamakan ibadah kecuali bersama tauhid. Sebagaimana bahwa shalat tidak dinamakan shalat kecuali bersama thaharah. Jika syirik masuk ke dalam ibadah, ia akan merusaknya. Seperti halnya hadats apabila masuk ke dalam thaharah.
فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ الشِّرۡكَ إِذَا خَالَطَ الۡعِبَادَةَ أَفۡسَدَهَا وَأَحۡبَطَ الۡعَمَلَ وَصَارَ صَاحِبُهُ مِنَ الۡخَالِدِينَ فِي النَّارِ عَرَفۡتَ أَنَّ أَهَمَّ مَا عَلَيۡكَ مَعۡرِفَةُ ذَلِكَ، لَعَلَّ اللهَ أَنۡ يُخۡلِصَكَ مِنۡ هَذِهِ الشَّبَكَةِ وَهِيَ الشِّرۡكُ بِاللهِ.
الَّذِي قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذ‌ٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ﴾ [النساء: ٤٨]. وَذَلِكَ بِمَعۡرِفَةِ أَرۡبَعِ قَوَاعِدَ ذَكَرَهَا اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ:
Jika engkau telah mengetahui bahwa syirik apabila mencampuri ibadah akan merusaknya dan menghapus amal ibadah serta pelakunya akan menjadi orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka engkau mengetahui bahwa perkara terpenting yang wajib atasmu adalah mengenali hal itu. Semoga Allah menyelamatkanmu dari jerat ini, yaitu menyekutukan Allah. Yaitu, yang Allah ta’ala berfirman tentangnya, yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan Allah dan Dia mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). Dan perkara tauhid dan syirik itu dikenali dengan cara mengenali empat kaidah yang telah Allah ta’ala sebutkan di dalam KitabNya:
الۡقَاعِدَةُ الأُولَى: أَنۡ تَعۡلَمَ أَنَّ الۡكُفَّارَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ مُقِرُّونَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الۡخَالِقُ الۡمُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذٰلِكَ لَمۡ يُدۡخِلۡهُمۡ فِي الۡإِسۡلاَمِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ السَّمۡعَ وَالۡأَبۡصَارَ وَمَن يُخۡرِجُ الۡحَيَّ مِنَ الۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ الۡمَيِّتَ مِنَ الۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الۡأَمۡرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللهُ ۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾ [يونس: ٣١].
Kaidah pertama: hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang dahulu diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa Allah ta’ala adalah yang menciptakan dan mengatur. Namun hal itu tidak membuat mereka masuk ke dalam Islam. Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Katakanlah, siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan mengatakan, Allah. Lalu katakanlah, mengapa kalian tidak bertakwa?” (QS. Yunus: 31).
الۡقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمۡ يَقُولُونَ: مَا دَعَوۡنَاهُمۡ وَتَوَجَّهۡنَا إِلَيۡهِمۡ إِلاَّ لِطَلَبِ الۡقُرۡبَةِ وَالشَّفَاعَةِ.
فَدَلِيلُ الۡقُرۡبَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوۡلِيَاءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلۡفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾ [الزمر: ٣].
Kaidah kedua: bahwa mereka mengatakan: Tidaklah kami berdoa kepada mereka dan menghadapkan wajah kepada mereka kecuali untuk mendapatkan kedekatan dan syafa’at.
Dalil bahwa tujuan mereka untuk mendekatkan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan orang-orang yang menjadikan selain Dia sebagai wali-wali (mengatakan): Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3).
وَدَلِيلُ الشَّفَاعَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ﴾ [يونس: ١٨].
وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌ مَنۡفِيَّةٌ وَشَفَاعَةٌ مُثۡبَتَةٌ.
فَالشَّفَاعَةُ الۡمَنۡفِيَّةُ: مَا كَانَتۡ تُطۡلَبُ مِنۡ غَيۡرِ اللهِ فِيمَا لاَ يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلاَّ اللهُ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقۡنَاكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٌ لَّا بَيۡعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالۡكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾ [البقرة: ٢٥٤].
Dalil bahwa tujuan mereka untuk mendapatkan syafaat adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan mereka menyembah dari selain Allah sesembahan yang tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak dapat memberi manfaat. Dan mereka mengatakan bahwa sesembahan itu pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).
Syafaat itu ada dua macam: syafaat yang ditiadakan dan syafaat yang ditetapkan syariat.
Adapun syafaat yang ditiadakan adalah syafaat yang diminta dari selain Allah pada perkara yang hanya Allah yang bisa melakukannya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, berinfaqlah kalian dari sebagian apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang saat itu tidak ada jual beli, tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 254).
وَالشَّفَاعَةُ الۡمُثۡبَتَةُ هِيَ الَّتِي تُطۡلَبُ مِنَ اللهِ.
وَالشَّافِعُ مُكۡرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالۡمَشۡفُوعُ لَهُ هُوَ مَنۡ رَضِيَ اللهُ قَوۡلَهُ وَعَمَلَهُ بَعۡدَ الۡإِذۡنِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَن ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾ [البقرة: ٢٥٥].
Syafaat yang ditetapkan adalah syafaat yang diminta dari Allah.
Yang memberi syafaat adalah orang yang dimuliakan dengan syafaat. Sedangkan orang yang disyafaati adalah orang yang Allah ridhai ucapan dan amalannya setelah izin Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izinNya.” (QS. Al-Baqarah: 255).
وَالۡقَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِينَ فِي عِبَادَاتِهِمۡ: مِنۡهُمۡ مَنۡ يَعۡبُدُ الۡمَلاَئِكَةَ وَمِنۡهُمۡ مَنۡ يَعۡبُدُ الأَنۡبِيَاءَ وَالصَّالِحِينَ وَمِنۡهُمۡ مَنۡ يَعۡبُدُ الأَحۡجَارَ وَالأَشۡجَارَ وَمِنۡهُمۡ مَنۡ يَعۡبُدُ الشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ، وَقَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ جَمِيعًا وَلَمۡ يُفَرِّقۡ بَيۡنَهُمۡ.
Kaidah ketiga: bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang berbeda-beda peribadahannya. Sebagian mereka ada yang beribadah kepada malaikat, ada yang beribadah kepada para nabi dan orang-orang shalih, ada yang beribadah kepada bebatuan dan pepohonan, dan ada pula yang beribadah kepada matahari dan bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan mereka.
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلهِ﴾ [البقرة: ١٩٤].
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sedikit pun dan sampai agama ini hanya untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 194).
وَدَلِيلُ الشَّمۡسِ وَالۡقَمَرِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنۡ آيَاتِهِ اللَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ ۚ لَا تَسۡجُدُوا لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ﴾ [فصلت: ٣٧].
Dalil bahwa ada yang menyembah matahari dan bulan dan itu adalah kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan termasuk tanda-tandaNya adanya malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian sujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan.” (QS. Fushshilat: 37).
وَدَلِيلُ الۡمَلاَئِكَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُوا الۡمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرۡبَابًا﴾ [آل عمران: ٨٠].
Dalil bahwa ada yang menyembah malaikat dan hal tersebut merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan Dia tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan nabi sebagai rabb-rabb.” (QS. Ali ‘Imran: 80).
وَدَلِيلُ الأَنۡبِيَاءِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذۡ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ أَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـٰهَيۡنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبۡحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُ ۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَا أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الۡغُيُوبِ﴾ [المائدة: ١١٦].
Dalil bahwa ada orang yang menyembah para nabi dan itu merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan ingatlah, ketika Allah mengatakan, Wahai ‘Isa bin Maryam apakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua sesembahan selain Allah? ‘Isa menjawab: Maha suci Engkau, tidak pantas bagiku untuk mengatakan perkataan yang tidak benar. Jika aku telah mengatakannya, maka sungguh Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau adalah maha mengetahui hal-hal yang ghaib.” (QS. Al-Maidah: 13).
وَدَلِيلُ الصَّالِحِينَ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾ الآية [الإسراء: ٥٧].
Dalil bahwa ada orang yang menyembah orang-orang shalih dan perbuatan itu merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan azabNya.” (QS. Al-Isra`: 57).
وَدَلِيلُ الأَحۡجَارِ وَالأَشۡجَارِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿أَفَرَأَيۡتُمُ اللَّاتَ وَالۡعُزَّىٰ ۝١٩ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الۡأُخۡرَىٰ﴾ [النجم: ١٩-٢٠].
Dalil bahwa ada orang yang menyembah bebatuan dan pepohonan dan itu merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Lata dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (QS. An-Najm: 19-20).
وَحَدِيثُ أَبِي وَاقِدِ اللَّيۡثِي رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: (خَرَجۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى حُنَيۡنٍ وَنَحۡنُ حُدَثَاءُ عَهۡدٍ بِكُفۡرٍ، وَلِلۡمُشۡرِكِينَ سِدۡرَةٌ يَعۡكُفُونَ عِنۡدَهَا وَيَنُوطُونَ بِهَا أَسۡلِحَتَهُمۡ يُقَالُ لَهَا ذَاتَ أَنۡوَاطٍ، فَمَرَرۡنَا بِسِدۡرَةٍ فَقُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللهِ اجۡعَلۡ لَنَا ذَاتَ أَنۡوَاطٍ كَمَا لَهُمۡ ذَاتُ أَنۡوَاطٍ...) الۡحَدِيث.
Dan hadits Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Waktu itu kami masih baru masuk Islam. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka i’tikaf di situ dan mereka gantungkan senjata-senjata mereka di situ. Pohon itu dinamakan Dzatu Anwath. Ketika kami melewati pohon itu, kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, jadikan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath…” Al-Hadits.
الۡقَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشۡرِكِي زَمَانِنَا أَغۡلَظُ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِينَ لِأَنَّ الۡأَوَّلِينَ يُشۡرِكُونَ فِي الرَّخَاءِ وَيُخۡلِصُونَ فِي الشَّدَّةِ، وَمُشۡرِكُو زَمَانِنَا شِرۡكُهُمۡ دَائِمٌ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الۡفُلۡكِ دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ﴾ [العنكبوت: ٦٥].
Kaidah keempat: Bahwa orang-orang musyrik pada zaman kita ini kesyirikannya lebih parah daripada orang-orang musyrik zaman dahulu. Karena orang-orang musyrik pada zaman dahulu mereka melakukan perbuatan kesyirikan hanya pada saat lapang. Adapun ketika saat kesulitan mereka mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah. Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita ini, mereka kesyirikannya senantiasa dilakukan baik di saat lapang maupun susah. Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Ketika mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya untukNya. Namun apabila Allah telah menyelamatkan mereka ke daratan, setelah itu mereka kembali melakukan kesyirikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 65).