Taisirul 'Allam - Hadits ke-36

الۡحَدِيثُ السَّادِسُ وَالثَّلَاثُونَ

٣٦ – عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ رَأَى رَجُلًا مُعۡتَزِلًا لَمۡ يُصَلِّ فِي الۡقَوۡمِ فَقَالَ: (يَا فُلَانُ مَا مَنَعَكَ أَنۡ تُصَلِّيَ فِي الۡقَوۡمِ؟) فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَصَابَتۡنِي جَنَابَةٌ وَلَا مَاءَ فَقَالَ ﷺ: (عَلَيۡكَ بِالصَّعِيدِ فَإِنَّهُ يَكۡفِيكَ)[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ[2].
36. Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki menyendiri tidak shalat bersama orang-orang, lantas beliau bertanya, “Wahai Fulan, apa yang menghalangimu untuk shalat bersama orang-orang?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, saya sedang junub sedangkan air tidak ada.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atasmu untuk bersuci menggunakan tanah, karena tanah itu cukup untukmu bersuci.” (HR. Al-Bukhari).
غَرِيبُ الۡحَدِيثِ:
مُعۡتَزِلًا: مُنۡفَرِدًا عَنِ الۡقَوۡمِ، مُتَنَحِّيًا عَنۡهُمۡ،وَهُوَ خَلَّادُ بۡنُ رَافِعٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَكَانَ مِمَّنۡ شَهِدَ بَدۡرًا.
الصَّعِيدُ: وَجۡهُ الۡاَرۡضِ وَمَا عَلَا مِنۡهَا.
Kosa-kata asing di dalam hadits:
  1. مُعۡتَزِلًا: menyendiri dari orang-orang, menjauhi mereka. Beliau adalah Khallad bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhu. Beliau termasuk orang yang mengikuti perang Badr.
  2. الصَّعِيد: permukaan tanah dan permukaan yang lebih tinggi dari tanah.
الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِيُّ:
صَلَّى النَّبِيُّ ﷺ بِالصَّحَابَةِ صَلَاةَ الصُّبۡحِ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنۡ صَلَاتِهِ رَأَى رَجُلًا لَمۡ يُصَلِّ مَعَهُمۡ.
فَكَانَ مِنۡ كَمَالِ لُطۡفِ النَّبِيِّ ﷺ، وَحُسۡنِ دَعۡوَتِهِ إِلَى اللهِ، أَنَّهُ لَمۡ يُعَنِّفۡهُ عَلَى تَخَلُّفِهِ عَنِ الۡجَمَاعَةِ، حَتَّى يَعۡلَمَ السَّبَبَ فِي ذٰلِكَ.
فَقَالَ: يَا فُلَانُ، مَا مَنَعَكَ أَنۡ تُصَلِّيَ مَعَ الۡقَوۡمِ؟
فَشَرَحَ عُذۡرَهُ –فِي ظَنِّهِ- لِلنَّبِيِّ ﷺ بِأَنَّهُ قَدۡ أَصَابَتۡهُ جَنَابَةٌ وَلَا مَاءَ عِنۡدَهُ، فَأَخَّرَ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِدَ الۡمَاءَ وَيَتَطَهَّرَ.
فَقَالَ ﷺ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدۡ جَعَلَ لَكَ –مِنۡ لُطۡفِهِ- مَا يَقُومُ مَقَامَ الۡمَاءِ فِي التَّطَهُّرِ، وَهُوَ الصَّعِيدُ، فَعَلَيۡكَ بِهِ، فَإِنَّهُ يَكۡفِيكَ عَنِ الۡمَاءِ.
Makna secara umum:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Subuh bersama para shahabat. Selesai shalat beliau melihat seseorang tidak ikut shalat bersama mereka. Termasuk kelembutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan indahnya dakwah beliau yaitu beliau tidak serta merta mengkritik shahabat itu atas perbuatan meninggalkan shalat jama’ah, sampai beliau tahu sebabnya. Maka beliau pun bertanya, “Wahai Fulan, apa yang menghalangimu shalat bersama orang-orang?” Maka, shahabat tersebut menjelaskan udzur –menurut persangkaannya- kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia sedang mengalami junub dalam keadaan tidak ada air. Lalu ia pun menunda shalat sampai ia mendapatkan air lalu bersuci. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa sungguh Allah ta’ala dengan kasih sayangNya telah menjadikan sesuatu yang dapat menggantikan air, yaitu tanah. Maka wajib atasmu untuk bersuci menggunakannya, karena itu mencukupimu dari air.
مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:
١ – التَّيَمُّمُ يَنُوبُ مَنَابَ الۡغُسۡلِ فِي التَّطَهُّرِ مِنَ الۡجَنَابَةِ.
٢ – أَنَّ التَّيَمُّمَ لَا يَكُونُ إِلَّا لِعَدَمِ الۡمَاءِ أَوۡ الۡمُتَضَرِّرُ بِاسۡتِعۡمَالِهِ وَقَدۡ بَسَطَ الرَّجُلُ عُذۡرَهُ وَهُوَ عَدَمُ الۡمَاءِ، فَأَقَرَّهُ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى ذٰلِكَ.
٣ – لَا يَنۡبَغِي لِمَنۡ رَأَى مُقَصِّرًا فِي عَمَلٍ، أَنۡ يُبَادِرَهُ بِالتَّعۡنِيفِ أَوِ اللَّوۡمِ، حَتَّى يَسۡتَوۡضِحَ عَنِ السَّبَبِ فِي ذٰلِكَ، فَلَعَلَّ لَهُ عُذۡرًا، وَأَنۡتَ تَلُومُ.
٤ – جَوَازُ الۡاجۡتِهَادِ فِي مَسَائِلِ الۡعِلۡمِ بِحَضۡرَةِ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَدۡ ظَنَّ الصَّحَابِيُّ أَنۡ مَنۡ أَصَابَتۡهُ الۡجَنَابَةُ لَا يُصَلِّي حَتَّى يَجِدَ الۡمَاءَ، وَانۡصَرَفَ ذِهۡنُهُ إِلَى أَنَّ آيَةَ التَّيَمُّمِ خَاصَّةٌ بِالۡحَدَثِ الۡأَصۡغَرِ.
Faidah hadits:
  1. Tayammum bisa menggantikan mandi dalam bersuci dari junub.
  2. Tayammum hanya boleh dilakukan apabila tidak ada air atau ketika menggunakan air akan bermudharat. Shahabat tersebut telah menjelaskan udzurnya, yaitu tidak air, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan tayammum berdasar udzur tersebut.
  3. Tidak sepantasnya bagi orang yang melihat orang lain meninggalkan suatu amalan, untuk tergesa-gesa mengkritiknya atau mencelanya, sampai ia terlebih dulu meminta penjelasan penyebab ia melakukan hal itu. Barangkali ia memiliki udzur, namun engkau malah mencelanya.
  4. Boleh berijtihad di dalam perkara ilmu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup dan hadir. Shahabat tersebut mengira bahwa siapa yang mengalami junub, maka ia tidak shalat sampai ia mendapatkan air. Ia berpendapat bahwa ayat tayammum itu khusus untuk hadats kecil saja. 

[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٣٤٨) فِي التَّيَمُّمِ: بَابٌ (٩)، وَرَوَاهُ أَحۡمَدُ فِي (الۡمُسۡنَدِ) (٤/٤٣٤). 
[2] قَالَ الصَّنۡعَانِيُّ: لَمۡ أَرَهُ فِي مُسۡلِمٍ، وَلَا نَبَّهَ عَلَيۡهِ الزَّرۡكَشِيُّ، وَلَا ابۡنُ حَجَرٍ. اهـ.