Meraih Mardhatillah

Menjadi keinginan dan tujuan bersama mendapatkan keridhoan Allah subhanahu wa ta'ala dalam segala ucapan, perbuatan, bahkan keyakinan. Bagaimana tidak, sebab barulah sesuatu itu akan bernilai ibadah jika dicintai dan diridhoi olehNya -Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, Dzat yang memiliki sifat ridho sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya, tanpa harus menyerupakanNya dengan makhluk, tanpa bertanya bentuknya, tanpa merubah maknanya atau bahkan menolaknya. Banyak ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa ridho adalah salah satu sifat-sifatNya, di antaranya firman Allah,
 رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَ‌ٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
"Allah ridho terhadap mereka dan merekapun ridho terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar." (QS Al Maidah: 119).
Dan firmanNya,
لَّقَدْ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ
"Sesungguhnya Allah ridho terhadap orang-orang mu'min..." (QS Al Fath: 18).
Juga dalam firmanNya,
رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ
"Allah ridho terhadap mereka dan merekapun ridho kepadaNya." (QS Al Bayyinah: 8),
dan ayat-ayat lainnya. Adapun dalam hadits di antaranya dari sahabat Anas bin Malik, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ لَيَرۡضَى عَنِ الۡعَبۡدِ أَنۡ يَأۡكُلَ الۡأَكۡلَةَ فَيَحۡمَدَهُ عَلَيۡهَا أَوۡ يَشۡرَبَ الشُّرۡبَةَ فَيَحۡمَدَهُ عَلَيۡهَا
"Sesungguhnya Allah pasti akan meridhoi seorang hamba, bila ia selesai makan kemudian memujiNya atas makanan itu, atau bila ia selesai minum lalu memujiNya atas minuman itu." (HR Muslim, bab Istihbaabu hamdillah ta'ala ba'dal akli wasy syurbi).
Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairoh, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah meridhoi untuk kalian tiga perkara dan membenci dari kalian tiga perkara...".

Pembaca -rahimakumullah- keridhoan Allah Jalla Sya'nuhu terbagi menjadi dua, pertama keridhoanNya atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh hamba seperti firman Allah,
إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ
"Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhoi kekafiran bagimu, dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhoi bagimu kesyukuranmu itu." (QS Az Zumar: 7).
Juga seperti dalam hadits, sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya Allah meridhoi kalian tiga perkara: meridhoi kalian agar beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, meridhoi kalian agar berpegang teguh dengan tali Allah semuanya dan tidak bercerai-berai, serta meridhoi kalian agar menasehati orang yang Allah jadikan pemimpin atas urusan-urusan kalian." (HR Muslim no. 1715 dari sahabat Abu Hurairoh). Dalam hadits ini mencakup tiga hal yang mendatangkan keridhoan Allah.

Pertama: tauhid, sebagai hak Allah yang paling agung dan kewajiban Islam yang paling tinggi, untuk tujuan itulah diciptakannya jin dan manusia.
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (QS Adz Dzaariyaat: 56),
serta menjauhi syirik, berserikat dengan yang lainnya dalam hal ibadah, yang sebenarnya menjadi hak yang khusus diperuntukkan bagi Allah.

Kedua: berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-berai, tali Allah ialah apa yang telah dibawa oleh Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari Al Kitab maupun Sunnah dan apa yang telah tercakup dalam pendidikan Rosul dari aqidah, ibadah, akhlaq, dan muamalah. Tidak ada dispensasi bagi individu tertentu, kelompok tertentu, ataupun bagi komunitas spesial untuk keluar dari dasar-dasar Islam, tetapi wajib bagi seluruhnya beriman, komitmen yang penuh akan apa yang telah dibawa oleh penutup para nabi, tuannya seluruh para rosul. Dengan landasan inilah Allah akan meridhoi kesatuan kaum muslimin yang diharapkan, bukan kesatuan yang out of order -kesatuan politik tetapi mengabaikan kesatuan aqidah, sumber, serta sudut pandang-. Sekalipun bisa, tentu seperti apa yang difirmankan Allah,
 تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ
"Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah." (QS Al Hasyr: 14).

Ketiga: memberikan nasehat kepada waliyyul amri, dalam rangka tolong-menolong bersama mereka dalam al haq, mendoakan mereka dengan kebaikan, bersabar atas kejahatan dan kedzolimannya, meninggalkan dari memberontak kepadanya guna mencegah timbulnya kerusakan yang besar dan tertumpahnya darah kaum muslimin. Dengan demikian keridhoan Allah pun akan turun kepada rakyatnya, kepada waliyyul amri-nya, bahkan ke seluruh pelosok negerinya.

Pembaca -rahimakumullah-, keridhoan Allah yang kedua, di samping pada perbuatan-perbuatan hamba, ialah keridhoanNya atas hamba-hambaNya itu sendiri, seperti firman Allah,
 لَّقَدْ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِى قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَـٰبَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
"Sesungguhnya Allah telah ridho terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)." (QS Al Fath: 18).

Begitulah meraih keridhoan Allah dengan amalan yang memang diridhoinya dan mendatangkan keridhoannya, seperti halnya pertolongan Allah tidak akan didapat kecuali oleh ahlinya. Demikian pula keridhoanNya tidak akan diraih melainkan oleh ahlinya pula, jangan sampai seperti sebuah ungkapan: Semua menyatakan cinta pada Laila, sedang Laila tidak mengabulkan semua cintanya.

Wal 'ilmu indallah.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-19 Tahun ke-1 / 25 April 2003 M / 22 Shafar 1424 H.

Menjenguk Non Muslim

Tanya: Assalamu 'alaikum wa rohmatullah wa barokatuh. Ustadz, saya mau bertanya, saya punya tetangga yang sakit tetapi non muslim, apa ada kewajiban untuk menjenguknya? Syukron. (Hamba Allah, Bandung).

Jawab: Wa' alaikum salam wa rohmatullah wa barokatuh. Sebelum menjawab pertanyaan saudara, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal 'iyadatul maridh / menjenguk orang sakit.

Pertama: menjenguk orang sakit adalah perkara yang dianjurkan dan disunnahkan, bukan dari perkara-perkara yang wajib.

Kedua: tidak semua orang yang sakit harus dijenguk, maksudnya adalah jika sakitnya mencegah dia dari keluar rumah dan bertemu dengan orang-orang, maka disunnahkan untuk menjenguknya. Adapun kalau dengan sakitnya masih dapat keluar rumah dan dapat bertemu dengan orang-orang maka tidak harus untuk menjenguknya. Kami perjelas dengan satu contoh: orang yang menderita flu misalnya, jika flunya ringan sehingga ia masih dapat jalan-jalan keluar rumah dan lain sebagainya, maka tidak dijenguk, tapi kalau flunya berat, menahannya dari keluar rumah dan aktivitas lainnya, maka harus dijenguk, dan demikian seterusnya.

Mengenai menjenguk orang sakit yang non muslim, maka tidak boleh untuk menjenguknya, kecuali kalau mendatangkan maslahat, menjenguknya dalam rangka mengajak kepada Islam, telah ada dari Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau menjenguk seorang yahudi di penghujung kematiannya kemudian beliau mengajaknya masuk Islam, lalu dia (yahudi) melirik ke bapaknya seperti ingin minta pendapatnya, kemudian bapaknya berkata, "Taatilah Muhammad.", lalu dia (yahudi) mengucapkan syahadat, dan masuk Islam. (HR Bukhori). Wallahul Musta'an.

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-18 Tahun ke-1 / 18 April 2003 M / 15 Shafar 1424 H.

Sunnah Ba'da Jum'at

Terdapat beberapa hadits yang berkaitan dengan sunnah setelah sholat Jum'at yang menunjukkan akan masyru'iyahnya / disyariatkannya amalan ini, di antara hadits-hadits itu adalah:

Pertama: diriwayatkan dalam Shohih Bukhori dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar radliyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sholat setelah Jum'at dua roka'at di rumahnya.

Kedua: diriwayatkan dalam Shohih Muslim dari sahabat Abu Hurairoh bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian sholat Jum'at maka hendaklah sholat setelahnya empat roka'at."

Ketiga: dari Ibnu Umar, diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sholat setelah Jum'at enam roka'at.

Maka sunnah ba'da sholat Jum'at adalah dua roka'at atau empat roka'at atau enam roka'at, akan tetapi, apakah sunnah ini menunjukkan atas bentuk yang bermacam-macam ataukah pada keadaan yang berbeda-beda? Terdapat perselisihan di dalamnya. Pendapat pertama beranggapan bahwa ini menunjukkan pada keadaan yang berbeda-beda, yakni jika engkau sholat ba'da Jum'at di masjid, maka sholatlah empat roka'at, dan jika sholatnya di rumah, maka sholatlah dua roka'at. Ini pendapatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Lihat Zaadul Ma'aad 1/ 440). Pendapat kedua menganggap bahwa sunnah ini menunjukkan atas bentuk / praktek yang bermacam-macam, yakni kadang-kadang sholat dengan empat roka'at atau sesekali dengan dua roka'at. Adapun pendapat yang ketiga menegaskan bahwa sunnah ba'da sholat Jum'at itu empat roka'at, karena apabila perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertentangan dengan perbuatannya maka didahulukan perkataannya.

Yang lebih utama bagi seseorang, yang tentunya kami lihat lebih rojih / kuat ialah kadang-kadang sholat dengan empat roka'at dan sesekali sholat dengan dua roka'at, dan adapun yang enam roka'at, maka dhohir hadits Ibnu Umar ialah bahwa Rosulullah pernah melakukannya. Wal ilmu indallah.

(Lihat Syarhul Mumti': 5 / 102-103).

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-18 Tahun ke-1 / 18 April 2003 M / 15 Shafar 1424 H.

Mendidik Diri dengan Wasiat Nabi

Tidak diragukan lagi, masing-masing kita mendambakan terciptanya suasana kebahagiaan, kebersamaan, dan ketentraman baik dalam urusan dunia maupun agama bahkan negara. Banyak usaha yang dilakukan tetapi nyatanya tidak menghasilkan apa yang diharapkan, sementara kita meyakini bahwa tidak ada satu kesulitan pun kecuali pasti ada jalan keluarnya. Allah berfirman,
إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS Asy Syarhu / Alam Nasyrah: 6). 
Allah juga berfirman,
 وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مِنْ أَمْرِهِۦ يُسْرًا
"Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS Ath Thalaq: 4).
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Ibnu Abbas,
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرَبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Ketahuilah, bahwasanya kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Sudah saatnya untuk kita bercermin kepada segala upaya yang dikerahkan dalam membina kehidupan di keluarga, lingkungan, masyarakat, dan lebih luasnya lagi negara. Sudahkah kita jujur kepada Allah dan KitabNya, kepada Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Sunnahnya, dalam hal aqidah, akhlaq, ibadah, dan muamalah? Dimana hal ini adalah pintu masuk ruang kebahagiaan dan kebersamaan.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rosul yang terakhir, tidaklah meninggalkan umatnya kecuali telah menerangkan apa yang dibutuhkan mereka dalam membangun kehidupan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, inilah kesempurnaan dien. Allah berfirman,
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَـٰمَ دِينًا
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatku dan telah kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al Maaidah: 3).
Allah juga berfirman,
 وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ تِبْيَـٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ
"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS An Nahl: 89).
Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah, serta Ad Darimy dari sahabat Abu Najih Al Irbadh bin Sariyah berkata,
وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
"Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata. Maka kami bertanya, 'Wahai Rosulullah! Seakan-akan nasehat ini adalah nasehat yang terakhir maka berilah kami wasiat.' Nabi bersabda, 'Aku wasiatkan padamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, serta tetap mendengar perintah dan taat, walaupun yang memerintah kamu itu seorang budak, maka sesungguhnya orang yang masih hidup di antaramu nanti akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atasmu memegang teguh akan Sunnahku dan perjalanan para khulafa ar rosyidin yang diberi petunjuk, peganglah olehmu sunnah-sunnah itu dengan kuat dan jauhilah olehmu bid'ah, sesungguhnya segala bid'ah itu sesat.'"
Sungguh Rosulullah telah memberikan nasehat yang agung dan wasiat yang sempurna ini kepada umat Islam dimana beliau beliau menunjukkan mereka kepada perkara-perkara yang besar, tidak akan tegak urusan dien dan dunia kecuali dengan komitmen terhadapnya dan mengikutinya. Tidak ada jalan keluar dari problematika kehidupan kecuali dengan mengamalkannya dengan seksama di zaman yang dipenuhi dengan tipu daya, dibenarkannya para pendusta dan didustakannya orang-orang yang jujur, serta dipercayanya para pengkhianat dan dikhianatinya orang-orang terpercaya.

Sungguh sangat disesalkan tatkala terlihat mayoritas umat Islam sudah tidak bersandar lagi kepada Al Qur'an tidak pula kepada Sunnah dalam aqidahnya, di saat semaraknya orang-orang yang berhati setan dan bertubuh manusia serta memuncaknya kebid'ahan-kebid'ahan, wallahul musta'an. Adapun wasiat-wasiat yang disampaikan Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itu ialah:

Pertama: tidak ada dien kecuali dengan taqwa yaitu taat kepada Allah, melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya. Taqwa adalah sebab dipermudahnya segala urusan dien dan dunia serta dibukanya berkah dari langit dan bumi. Allah berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS Al A'raaf: 96).

Kedua: tidak akan tegak urusan-urusan umat baik dunia maupun dien kecuali dengan pemimpin yang sholeh, adil, menuntun mereka kepada Kitab dan Sunnah Rosulullah, menerapkan di tengah-tengah mereka syariat Allah, mengatur barisannya dan menyatukan kalimatnya serta mengangkat bagi mereka bendera jihad untuk meninggikan kalimat Allah. Sedangkan atas umat agar menerima dengan penuh taat baik dalam hal yang disukai maupun dibenci, selama pemimpin itu istiqomah di atas perintah Allah dan menjalankan hukum-hukumNya.

Demi merealisir kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, menjaga kesatuannya dan melindungi darah-darahnya. Islam mewajibkan taat dalam hal yang ma'ruf (baik) atas umat terhadap waliyul amri / pemerintah sekalipun mereka bermaksiat, selama kemaksiatannya tidak sampai pada kekafiran.

Ketiga: Wasiat Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mencakup sikap yang harus dilakukan umat dari perselisihan dan terhadap orang yang menyelisihi Al Haq, beliau menunjuk agar berpegang teguh dengan Al Haq dan kembali kepada manhaj yang benar, manhaj Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para khulafa ar rosyidin radhiyallahu 'anhum. Tidaklah Sunnah dan manhaj mereka kecuali Kitabullah -yang tidak pernah didatangi kebatilan dari arah depan maupun belakang- serta Sunnah Rosulullah yang suci. Allah berfirman,
وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَـٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّـٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَ‌ٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS At Taubah: 100).
Inilah solusi yang benar yang dapat menghentikan perselisihan dengan cara yang diridhoi Allah.

Keempat: Wasiat Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga meliputi peringatan terhadap bid'ah, sangat sering beliau memperingatkan umatnya dari bahaya dan kerusakan yang ditimbulkannya dengan penjelasan yang gamblang bahwa bid'ah adalah kesesatan.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- demikianlah kita mesti memulai untuk menyadarkan dan mendidik setiap diri-diri kita agar kembali kepada wasiat Allah dan RosulNya, kembali kepada konsep hidup nabawi, bersungguh-sungguh untuk menegakkan ibadah kepada Allah dan membuktikannya, sehingga akan terciptalah kebaikan dalam diri kita, dalam diri istri-istri kita, dan dalam keluarga kita. Ketahuilah bahwa:
baiknya diri adalah baiknya keluarga
baiknya keluarga adalah baiknya masyarakat
baiknya masyarakat adalah baiknya lingkungan
baiknya lingkungan adalah baiknya negara
baiknya negara adalah baiknya umat
baiknya umat adalah baiknya alam secara keseluruhan bi idznillah.

Wal ilmu indalllah.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-18 Tahun ke-1 / 18 April 2003 M / 15 Shafar 1424 H.

Prioritas Pembenahan Aqidah

Sungguh kita tengah berada dalam arena fitnah yang berkepanjangan. Negeri yang aman kini telah berubah bentuk menjadi negeri yang mencekam dan menakutkan. Kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi bagian penting dalam tubuh para penegak dan penduduknya. Krisis politik, sosial, dan perekonomian terus menggoyang keutuhan negeri ini, diwarnai dengan kerusuhan, keributan, dan demonstrasi yang tak henti-hentinya. Bersamaan dengan itu, semua dekadensi moral, akhlaq, dan aqidah anak-anak bangsa telah mencapai klimaksnya, kewibawaan bangsa dan umat Islam pun yang mayoritas penduduknya lenyap, kehilangan keseimbangannya di tengah-tengah gempuran tekanan kaum kuffar. Quo Vadis bangsa Indonesia??

Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, amat disayangkan fenomena yang seperti ini disikapi oleh sebagian kaum dengan penuh emosi, hawa nafsu, dan arogansi sehingga bukan menghentikan krisis dan memadamkan api fitnah tetapi justru membuka pintu krisis baru dan menyalakan api fitnah yang kian membara. Mulai dari orasi-orasi di atas mimbar dalam rangka agitasi politik dengan memakai label penjagaan Islam, memompa semangat nasionalisme dengan memakai cap proteksi akan degradasi bangsa dan umat Islam, melawan dan memberontak penguasa / pemerintah dengan judul amar ma'ruf nahi mungkar, bahkan mengkafirkan kaum muslimin dengan alasan al wala' wal bara', hingga aksi pengeboman di berbagai tempat secara serempak dengan mengatasnamakan jihad. Wa ilallahil musytaka.

Hendaknya para pemimpin negara mengetahui kadar pemerintahan dan mengetahui akan tinggi kedudukannya, sesungguhnya pemerintahan itu adalah nikmat di antara nikmat-nikmat Allah ta'ala, barangsiapa yang menegakkannya dengan baik sesuai tuntutan-tuntutannya akan mendapatkan kebahagiaan yang tiada taranya, sebaliknya jika tidak mengerti ukuran nikmat ini kemudian menyibukkan diri dengan kezholiman dan hawa nafsunya, dikhawatirkan akan tergolong pada sebagian musuh-musuh Allah. Pemimpin negara semestinya untuk tidak mengharap keridhoan seorang manusia di atas kebencian Allah disebabkan karena penyelisihan terhadap syari'at, harus dimengerti bahwa baiknya rakyat tergantung pada baiknya perjalanan penguasa. Satu hal lagi yang mesti diingatkan di sini bahwa sudah seyogyanya bagi para pemimpin negara untuk menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar sesuai tuntunan syari'at, menutup pintu-pintu kejahatan dan kerusakan, serta melindungi negara dan rakyat dari kejahatan kaum kuffar dan orang-orang yang berniat jahat. Apabila ini semua telah terpenuhi maka kantong amalannya pemerintah sebanding dengan pahala seluruh ibadah rakyat negerinya. Ketika itu negeripun akan makmur dipenuhi dengan ketentraman dan keselamatan serta berkah dalam rizki dan kebutuhan-kebutuhan hidup.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, adapun rakyat, maka hendaknya menunaikan hak-haknya terhadap pemerintah di antaranya berupa taat dan mendengar pada setiap apa yang diperintah dan dilarangnya kecuali yang bersifat maksiat, ini adalah hak dan kewajiban yang paling besar terhadap pemerintah. Sebab ketaatan merupakan landasan yang kokoh dalam me-manage urusan-urusan negara dan rakyat. Pemerintah dan para pejabat adalah manusia biasa dimana mereka masih membutuhkan nasehat orang-orang yang ikhlas dan bimbingan orang-orang yang bertaqwa. Tugas yang mulia ini dipikul di atas pundak para ulama, merekalah yang melaksanakannya, kepada para ulama Islam serta da'i-da'inya yang ikhlas agar menegakkan apa yang Allah telah wajibkan atas mereka dari menerangkan yang haq, mengingatkannya dan mengarahkan waliyul amri / pemerintah kepada yang ma'ruf serta membantu mereka akan hal itu, mencegah mereka dari yang munkar, memperingatkannya, serta menjelaskan akan keburukan akibatnya dan bahayanya pada umat cepat maupun lambat, bukan malah menjadi pemicu terjadinya fitnah dan kekacauan atau malah berpangku tangan pura-pura tidak tahu dan tidak ada kepedulian akan perbaikan umat, bangsa, dan negara. Kemungkaran yang merajalela dan kerusakan yang tak dapat dibendung serta carut-marutnya wajah bangsa adalah sebab-sebab datangnya musibah dan turunnya adzab. Allah berfirman,
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar." (QS Ar Rum: 41).

Sesungguhnya kehinaan dan malapetaka yang menimpa bangsa ini adalah ketika bangsa ini menghendaki kemuliaan bukan dari Islam, ketika para penguasa dan rakyatnya meninggalkan agama dan cinta yang berlebihan terhadap dunia, hingga akhirnya Allah menimpakan kehinaan yang tidak ada jalan keluarnya kecuali dengan kembali kepada agama. Sebagaimana hal itu telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud dalam Sunannya dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu. Jika masyarakat dilanda krisis aqidah, akhlaq, dan moral, dilanda krisis ekonomi dan krisis politik yang dilematis, maka pembenahan pertama yang mesti dilakukan ialah pembenahan aqidah dan moral dengan segala kemampuan, sebab memperbaiki masalah yang paling berbahaya adalah hal yang disepakati oleh setiap insan berakal. Ketahuilah bahwa kerusakan yang diakibatkan keyakinan / aqidah manusia dari kesyirikan, khurofat, kebid'ahan, dan kesesatan seribu kali jauh lebih berbahaya daripada kerusakan yang ditimbulkan dari rusaknya hukum / undang-undang dan yang lainnya. Terbukti, ketika Allah mengutus para rosul ke tengah-tengah kaum yang dipenuhi dengan penyimpangan-penyimpangan, aqidah yang rusak, moral yang bejat, pola pikir yang salah, dan sistem hukum yang tak beraturan dan menyalahi syari'at, Allah tidak membebani mereka (para rosul) -pada permulaannya- untuk segera mengadakan pembaharuan sistem dalam keadaan umat dikelilingi dengan penyimpangan moral dan aqidah, tetapi justru langkah awal yang ditempuh oleh para rosul adalah pembenahan aqidah dan moral. Para Nabi dan Rosul tidaklah datang dalam rangka menggulingkan negara dan menegakkan negara yang baru, tidak menginginkan kekuasaan, dan tidak pula membentuk organisasi untuk itu, tetapi mereka datang memberi hidayah kepada manusia dan menyelamatkannya dari kesesatan dan kesyirikan, serta mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya. Inilah jalan lurus yang Allah telah syari'atkan seluruh para nabi dari yang paling awalnya hingga yang paling akhirnya, dan Dialah Allah Maha Pencipta, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui akan tabiat manusia dan apa yang bermaslahat untuk mereka. Allah berfirman,
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan) dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (QS Al Mulk: 14).

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendidik para sahabatnya di atas kitab dan hikmah / sunnah, di atas keimanan, kejujuran, serta tauhid, keikhlasan karena Allah dalam setiap amalan, jauh dari uslub-uslub politik dan dari larut dalam hal jabatan yang tinggi.

Dengan demikian jalan yang harus ditempuh dalam mengembalikan kemuliaan Islam, kaum muslimin, bangsa, dan negara ialah:

Pertama: pembenahan dan pembentukan aqidah dan pemurniannya dari kesalahan-kesalahannya.

Kedua: mentarbiyah setiap individu-individu masyarakat dan membangun kepribadiannya di atas landasan hukum-hukum Islam dan adab-adabnya sesuai dengan apa yang telah diwariskan kepada kita dari tiga generasi pertama. Inilah jalan penyelamat dan dari sinilah permulaannya yakni mentarbiyah dengan Islam yang bersih dari khurofat dan bid'ah, dari kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya dan dari pola pikir yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah serta metodologi salaful ummah. Wal ilmu indallah.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah.

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-17 Tahun ke-1 / 11 April 2003 M / 08 Shafar 1424 H.

Fatwa para Ulama tentang Agresi Amerika ke Iraq

Dalam situasi fitnah dan cobaan ini adalah sangat penting untuk merujuk kepada nasihat dan keputusan dari "perwaris para Nabi" ulama Islam yang mulia di tengah-tengah gencarnya racun kebohongan yang dikemudikan oleh media massa kuffar. Amat sayang, kita menemukan banyak dari kaum muslimin berkumpul di sekitar TV dan radio untuk mencari berita dan klarifikasi berkaitan dengan agresi ke Iraq, sementara klarifikasi yang terlihat adalah dari propaganda paparazzi kaum musyrikin. Mengenai posisi Islam, kaum muslimin yang benar dalam menghadapi fitnah ini, kami menasehatkan dengan nasehatnya para ulama, pelita zaman ini.

Nasehat dari Syaikh Al 'Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi


Pertanyaan: Ya Syaikh, apa posisi kaum muslimin dari apa yang terjadi di Iraq? Dan apakah Anda mempunyai nasehat untuk kaum muslimin secara umum dan khususnya mereka yang tinggal di Barat?

Jawab: Kenyataannya adalah bahwa persoalan ini cukup menyedihkan. Tiada kekuatan kecuali milik Allah. Adapun kaum muslimin tidak memiliki kekuatan sedikitpun dan mereka tidak mempunyai sesuatu apapun di tangannya. Sehingga tidaklah ada bagi mereka kecuali mendoakan mereka yang lemah yang telah dibantai. Adapun Saddam Husein, dia adalah seorang Sosialis Ba'tsi -na'udzu billahi min dzalik- dan keyakinannya adalah sesat. Bagaimanapun dia telah membuat kerusakan terhadap kaum muslimin, kaum yang telah dibantai tanpa sebab. Sehingga, tiada bagi mereka kecuali mendoakan (kaum muslimin Iraq) dan tiada keraguan bahwa doa tersebut akan memberi peranan dan pengaruh, dan Allah 'azza wa jalla mengetahui segala perkara dusta.

Nasehat dari Al 'Allamah Zaid bin Hadi Al Madkhali


Pertanyaan: Ya Syaikh, bagaimana posisi kita atau posisi kaum muslimin secara umum berkenaan dengan fitnah yang telah terjadi akhir-akhir ini di Iraq?

Jawab: Hendaknya kaum muslimin memohon kepada Allah 'azza wa jalla agar Dia memuliakan Islam dan kaum muslimin, agar Dia memuliakan agama ini, agar Dia memuliakan Al Qur'anul Karim, memuliakan Sunnah, agar Dia memuliakan ilmu dan para ulama. Dan agar Dia memberikan keringanan serta jalan keluar dari setiap fitnah.

Nasehat dari Al 'Allamah Sulaiman Ar Ruhaili


Pertanyaan: Dengan menyebut nama Allah, semoga kedamaian, kasih sayang, dan keridhoan Allah menyertaimu. Sungguh apa yang terjadi sekarang yakni agresi sejumlah besar pasukan koalisi terhadap Iraq telah diketahui oleh setiap orang. Jadi jalan apakah yang wajib untuk ditempuh dalam menghadapi masalah yang sedang terjadi, terutama sejak perang hampir pecah?

Jawab: Dengan nama Allah yang Maha Pemurah, Pelimpah kasih sayang. Kewajiban kaum muslimin adalah mencari perlindungan kepada Allah 'azza wa jalla dan berdoa kepadaNya agar membimbing kaum muslimin, menghindarkan kejahatan dari mereka, dan agar menghentikan kejahatan musuh-musuh mereka. 

Demikian juga merupakan kewajiban atas kaum muslimin untuk kembali kepada Rabbnya dan becermin pada kondisi yang dihadapinya dan apa yang menyebabkan mereka berada dalam fitnah sekarang ini.

Dan adalah wajib bagi setiap orang untuk kembali berpegang teguh pada agama mereka. Wajib bagi setiap orang untuk memenangkan Allah 'azza wa jalla, sehingga dengan demikian Allah akan memenangkannya atas musuhnya. Tidak ada keraguan dalam hal ini.

Tidak pantas bagi seorang muslim untuk mengalihkan perhatiannya dari kebutuhan yang agung ini, yaitu agar setiap orang merujuk kepada Islam dan memenangkan Allah Yang Maha Kuat dan Agung. Dengan demikian kemenangan dari Allah menjadi kenyataan.

Demikian pula hendaklah setiap orang kembali kepada para ulama, agar mempersatukan mereka dan agar mengambil apa saja yang para ulama tuntunkan ummat kepadanya. Hal ini karena mereka (para ulama) adalah orang yang paling berilmu, paling bijaksana, dan mereka memiliki sebaik-baik pengetahuan tentang apa yang Allah 'azza wa jalla akan memperbaiki ummat dengannya. Tuntunan mereka adalah tuntunan terbaik dan jalan yang paling aman.

Fatwa Syaikhul Islam 'Abdul 'Aziz bin Baaz dan Al 'Allamah Al Muhaddits Muqbil bin Haadi Al Wadi'i (rahimahumallah) tentang Tragedi Besar "Saddam Husein"


Dia adalah seorang yang telah banyak membawa kerusakan dan penyimpangan pada kaum muslimin. Sungguh, sebagaimana telah diketahui oleh masyarakat, Islam tidak punya tempat bagi ideologi bid'ah Ba'tsiyyah, demikian pula Islam tidak menerima usaha seorang munafiq seperti Saddam untuk menentramkan kaum muslimin.

Diterjemahkan oleh tim redaksi dari naskah fatwa-fatwa berbahasa Inggris, diedit dan dikoreksi oleh Abu Hamzah Al Atsary.

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-16 Tahun ke-1 / 04 April 2003 M / 01 Shafar 1424 H.

Shahih Muslim hadits nomor 1876

٢٨ – بَابُ فَضۡلِ الۡجِهَادِ وَالۡخُرُوجِ فِي سَبِيلِ اللهِ

28. Bab keutamaan jihad dan berperang di jalan Allah

١٠٣ – (١٨٧٦) – وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ عُمَارَةَ - وَهُوَ ابۡنُ الۡقَعۡقَاعِ - عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (تَضَمَّنَ اللهُ لِمَنۡ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ، لَا يُخۡرِجُهُ إِلَّا جِهَادًا فِي سَبِيلِي، وَإِيمَانًا بِي، وَتَصۡدِيقًا بِرُسُلِي، فَهُوَ عَلَيَّ ضَامِنٌ أَنۡ أُدۡخِلَهُ الۡجَنَّةَ. أَوۡ أَرۡجِعَهُ إِلَىٰ مَسۡكَنِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنۡهُ. نَائِلًا مَا نَالَ مَنۡ أَجۡرٍ أَوۡ غَنِيمَةٍ. وَالَّذِي نَفۡسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، مَا مِنۡ كَلۡمٍ يُكۡلَمُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلَّا جَاءَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ كَهَيۡئَتِهِ حِينَ كُلِمَ، لَوۡنُهُ لَوۡنُ دَمٍ وَرِيحُهُ مِسۡكٌ. وَالَّذِي نَفۡسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوۡلَا أَنۡ يَشُقَّ عَلَى الۡمُسۡلِمِينَ، مَا قَعَدۡتُ خِلَافَ سَرِيَّةٍ تَغۡزُو فِي سَبِيلِ اللهِ أَبَدًا. وَلٰكِنۡ لَا أَجِدُ سَعَةً فَأَحۡمِلَهُمۡ. وَلَا يَجِدُونَ سَعَةً. وَيَشُقُّ عَلَيۡهِمۡ أَنۡ يَتَخَلَّفُوا عَنِّي. وَالَّذِي نَفۡسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوَدِدۡتُ أَنِّي أَغۡزُو فِي سَبِيلِ اللهِ فَأُقۡتَلُ. ثُمَّ أَغۡزُو فَأُقۡتَلُ. ثُمَّ أَغۡزُو فَأُقۡتَلُ).
[البخاري: كتاب الإيمان، باب الجهاد من الإيمان، رقم: ٣٦].
103. (1876). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Jarir menceritakan kepada kami, dari 'Umarah bin Al-Qa'qa', dari Abu Zur'ah, dari Abu Hurairah. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah memberi jaminan bagi siapa saja yang keluar di jalanNya dimana tidak ada yang mengeluarkannya kecuali karena jihad di jalanKu, beriman denganKu, dan membenarkan rasul-rasulKu. Orang tersebut, Aku jamin untuk Aku masukkan dia ke surga atau Aku kembalikan ia pulang ke rumah asalnya dengan mendapatkan pahala atau ghanimah. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, tidaklah satu pun luka yang terluka di jalan Allah kecuali pada hari kiamat keadaannya seperti saat ia terluka, warnanya merah darah dan baunya wangi misik. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, seandainya tidak memberatkan kaum muslimin, tentu aku tidak akan duduk tinggal di belakang rombongan pasukan yang berperang di jalan Allah selama-lamanya. Akan tetapi aku tidak mendapatkan kelapangan untuk menanggung biaya mereka dan mereka juga tidak mendapatkan kelapangan. Serta mereka pun merasa berat jika tidak ikut berperang bersamaku. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh aku ingin berperang di jalan Allah lalu aku terbunuh. Kemudian aku berperang lalu aku terbunuh lagi. Kemudian aku berperang lalu aku terbunuh lagi.”
(…) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا ابۡنُ فُضَيۡلٍ، عَنۡ عُمَارَةَ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ.
Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan hadits ini kepada kami. Mereka berdua mengatakan: Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, dari 'Umarah, dengan sanad ini.
١٠٤ - (…) - وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ : أَخۡبَرَنَا الۡمُغِيرَةُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ الۡحِزَامِيُّ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. قَالَ: (تَكَفَّلَ اللهُ لِمَنۡ جَاهَدَ فِي سَبِيلِهِ. لَا يُخۡرِجُهُ مِنۡ بَيۡتِهِ إِلَّا جِهَادٌ فِي سَبِيلِهِ وَتَصۡدِيقُ كَلِمَتِهِ. بِأَنۡ يُدۡخِلَهُ الۡجَنَّةَ، أَوۡ يَرۡجِعَهُ إِلَىٰ مَسۡكَنِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنۡهُ، مَعَ مَا نَالَ مِنۡ أَجۡرٍ أَوۡ غَنِيمَةٍ).
104. Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Al-Mughirah bin 'Abdurrahman Al-Hizami mengabarkan kepada kami, dari Abuz Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Allah menjanjikan bagi siapa saja yang berjihad di jalanNya, yang tidak ada yang menyebabkan ia keluar dari rumahnya kecuali hanya jihad di jalanNya dan membenarkan kalimat Allah; dengan Allah memasukkannya ke surga atau mengembalikan ia ke rumah asalnya bersama dengan apa yang ia dapatkan berupa pahala atau ghanimah.”
١٠٥ - (…) - حَدَّثَنَا عَمۡرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يُكۡلَمُ أَحَدٌ فِي سَبِيلِ اللهِ - وَاللهُ أَعۡلَمُ بِمَنۡ يُكۡلَمُ فِي سَبِيلِهِ - إِلَّا جَاءَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَجُرۡحُهُ يَثۡعَبُ، اللَّوۡنُ لَوۡنُ دَمٍ وَالرِّيحُ رِيحُ مِسۡكٍ).
105. 'Amr An-Naqid dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Mereka berdua mengatakan: Sufyan bin 'Uyainah menceritakan kepada kami, dari Abuz Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidaklah seorang pun yang terluka di jalan Allah – dan Allah yang lebih tahu siapa yang terluka di jalanNya – kecuali ia datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya mengeluarkan darah. Warnanya merah darah dan baunya wangi misik.”
١٠٦ - (…) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: حَدَّثَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ. قَالَ: هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيۡرَةَ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنۡهَا: وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ كَلۡمٍ يُكۡلَمُهُ الۡمُسۡلِمُ فِي سَبِيلِ اللهِ. ثُمَّ تَكُونُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ كَهَيۡئَتِهَا إِذَا طُعِنَتۡ تَفَجَّرُ دَمًا. اللَّوۡنُ لَوۡنُ دَمٍ وَالۡعَرۡفُ عَرۡفُ الۡمِسۡكِ).
وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (وَالَّذِي نَفۡسُ مُحَمَّدٍ فِي يَدِهِ، لَوۡ لَا أَنۡ أَشُقَّ عَلَى الۡمُؤۡمِنِينَ مَا قَعَدۡتُ خَلۡفَ سَرِيَّةٍ تَغۡزُو فِي سَبِيلِ اللهِ. وَلٰكِنۡ لَا أَجِدُ سَعَةً فَأَحۡمِلَهُمۡ. وَلَا يَجِدُونَ سَعَةً فَيَتَّبِعُونِي وَلَا تَطِيبُ أَنۡفُسُهُمۡ أَنۡ يَقۡعُدُوا بَعۡدِي).
106. Muhammad bin Rafi' telah menceritakan kepada kami: 'Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma'mar menceritakan kepada kami, dari Hammam bin Munabbih. Beliau berkata: Ini adalah yang Abu Hurairah ceritakan kepada kami dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu beliau menyebutkan hadits-hadits, di antaranya: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Setiap luka yang seorang muslim mendapat luka tersebut di jalan Allah, kemudian pada hari kiamat luka tersebut memancarkan darah seperti keadaannya sewaktu ditusuk. Warnanya merah darah dan aromanya aroma misik.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, “Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, seandainya aku tidak memberatkan kaum mu`minin, tentu aku tidak tinggal duduk di belakang rombongan pasukan yang berperang di jalan Allah. Akan tetapi aku tidak memiliki kelapangan sehingga bisa menanggung biaya mereka. Dan mereka juga tidak memiliki kelapangan sehingga mereka dapat ikut perang bersamaku. Serta jiwa-jiwa mereka tidak tenang untuk tertinggal tidak ikut perang bersamaku.”
(…) - وَحَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عُمَرَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (لَوۡ لَا أَنۡ أَشُقَّ عَلَى الۡمُؤۡمِنِينَ مَا قَعَدۡتُ خِلَافَ سَرِيَّةٍ) بِمِثۡلِ حَدِيثِهِمۡ.
وَبِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَوَدِدۡتُ أَنِّي أُقۡتَلُ فِي سَبِيلِ اللهِ، ثُمَّ أُحۡيَىٰ) بِمِثۡلِ حَدِيثِ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ.
Ibnu Abu 'Umar telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abuz Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah. Beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya aku tidak memberatkan kaum mu`minin, tentu aku tidak tinggal di belakang rombongan pasukan...” semisal hadits mereka.
Dengan sanad ini pula, “Demi Zat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh aku ingin terbunuh di jalan Allah kemudian aku dihidupkan...” semisal hadits Abu Zur'ah dari Abu Hurairah.
(…) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ - يَعۡنِي الثَّقَفِيَّ -. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ. حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عُمَرَ: حَدَّثَنَا مَرۡوَانُ بۡنُ مُعَاوِيَةَ. كُلُّهُمۡ عَنۡ يَحۡيَىٰ بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَوۡ لَا أَنۡ أَشُقَّ عَلَىٰ أُمَّتِي لَأَحۡبَبۡتُ أَنۡ لَا أَتَخَلَّفَ خَلۡفَ سَرِيَّةٍ...) نَحۡوَ حَدِيثِهِمۡ.
[البخاري: كتاب الجهاد والسير، باب الجعائل والحمائل في السبيل، رقم: ٢٩٧٢].
Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepada kami: 'Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami. Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Abu 'Umar telah menceritakan kepada kami: Marwan bin Mu'awiyah menceritakan kepada kami. Mereka seluruhnya dari Yahya bin Sa'id, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya aku tidak memberatkan umatku, sungguh aku sangat ingin untuk tidak tertinggal di belakang rombongan pasukan...” seperti hadits mereka.
١٠٧ - (…) - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ سُهَيۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (تَضَمَّنَ اللهُ لِمَنۡ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ) إِلَىٰ قَوۡلِهِ: (مَا تَخَلَّفۡتُ خِلَافَ سَرِيَّةٍ تَغۡزُو فِي سَبِيلِ اللهِ تَعَالَىٰ).
107. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Jarir menceritakan kepada kami, dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menjamin siapa saja yang keluar di jalanNya...” sampai ucapan beliau, “... tentu aku tidak tinggal di belakang rombongan pasukan yang berperang di jalan Allah ta'ala.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5533

٣١ – بَابُ الۡمِسۡكِ

31. Bab misik

٥٥٣٣ – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، عَنۡ عَبۡدِ الۡوَاحِدِ: حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بۡنُ الۡقَعۡقَاعِ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ جَرِيرٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا مِنۡ مَكۡلُومٍ يُكۡلَمُ فِي اللهِ إِلَّا جَاءَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَكَلۡمُهُ يَدۡمَى، اللَّوۡنُ لَوۡنُ دَمٍ، وَالرِّيحُ رِيحُ مِسۡكٍ). [ظرفه في: ٢٣٧].
5533. Musaddad telah menceritakan kepada kami, dari 'Abdul Wahid: 'Umarah bin Al-Qa'qa' menceritakan kepada kami, dari Abu Zur'ah bin 'Amr bin Jarir, dari Abu Hurairah, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, “Tidaklah seorang pun yang terluka di jalan Allah kecuali ia datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya mengeluarkan darah yang berwarna merah darah dan berbau misik.”

Abu Dawud

Nama lengkap ulama kita kali ini adalah Sulaiman bin Al-Asy’ats bin Syaddad yang lebih populer dengan sebutan Abu Dawud. Adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa Abu Dawud Al-Azdi As-Sijistani adalah seorang pemuka, pimpinannya para hafizh dan ahli hadits Bashrah. Ia dilahirkan pada tahun 202 H di sebuah daerah yang bernama Sijistan.

Abu Dawud mempunyai kesungguhan yang besar dalam menuntut ilmu. Semenjak usia muda, beliau telah melakukan rihlah (perjalanan) ke berbagai penjuru negeri untuk menuntut ilmu. Suatu hal yang bisa dimaklumi karena ia tumbuh di lingkungan keluarga yang mencintai hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayahanda yang bernama Al-Asy’ats bin Syaddad adalah seorang perawi hadits. Selain itu, saudara laki-lakinya yang bernama Muhammad bin Al-Asy’ats juga seorang perawi hadits. Bahkan sempat menjadi teman berkelana dan melanglang buana untuk mencari ilmu hadits. Sehingga, keadaan ini sangat mendukung Abu Dawud untuk menekuni ilmu hadits sejak usia muda. Belum lagi ditunjang semangat besarnya untuk mendalami ilmu hadits dan meriwayatkannya kepada kaum muslimin di zamannya.

Abu Dawud banyak menghasilkan karya tulis dalam berbagai cabang ilmu. Sunan Abu Dawud menjadi salah satu karya monumentalnya dan masih eksis hingga saat ini. Bahkan kitab susunan beliau ini menjadi salah satu kitab induk penting dalam masalah hadits. Di antara karya tulisnya adalah Kitab Al-Qadar, An-Nasikh wal Mansukh, Kitab Az-Zuhd, Dala`ilun Nubuwwah, Akhbarul Khawarij dan yang lainnya.

Salah satu bukti yang menunjukkan begitu seriusnya Abu Dawud melakukan rihlah menuntut ilmu adalah tersebarnya guru beliau di berbagai penjuru negeri. Di Makkah, ia meriwayatkan hadits dari Al-Qa’naby dan Sulaiman bin Harb. Adapun di Bashrah meriwayatkan hadits dari Muslim bin Ibrahim, Abdullah bin Raja’, Abul Walid Ath-Thayalisi, Musa bin Ismail, dan yang lainnya. Sementara di Kufah nama-nama seperti Al-Hasan bin Ar-Rabi’ Al-Burani dan Ahmad bin Yunus Al-Bura’i. Adapun di Harran ia meriwayatkan hadits dari Abu Ja’far An-Nufaili, Ahmad bin Syuaib dan yang lainnya. Adapun di Halab meriwayatkan dari Abu Taubah Ar-Rabi’ bin Nafi’. Ia juga bertemu dan belajar kepada Haiwah bin Syuraih di Hims. Di Damaskus ia menimba ilmu dari Shafwan bin Shalih dan Hisyam bin Ammar. Kemudian di Khurasan meriwayatkan dari Ishaq bin Rahuyah dan yang lainnya. Tidak terlewatkan di Baghdad ia belajar kepada Imam Ahmad bin Hanbal dan di Mesir meriwayatkan dari Ahmad bin Shalih dan selainnya. Demikianlah, Abu Dawud melanglang buana demi untuk menimba ilmu dari para ulama. Masih banyak guru-gurunya yang tersebar di berbagai penjuru negeri yang tidak tercatat dalam biografinya. Dengan perantauan ke berbagai negeri itu membuat Abu Dawud mampu mengoleksi hadits-hadits yang sangat banyak. Dari situlah kemudian ia menyusun kitab Sunan yang sampai sekarang menjadi bagian dari Kutubus Sittah[1].

MURID-MURIDNYA


Para ulama yang pernah menimba ilmu dan meriwayatkan hadits dari Abu Dawud cukup banyak. Di antaranya adalah Abu Isa At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, An-Nasai, Ahmad bin Muhammad Al-Khallal, Abu Ahmad Ja’far Al-Ashbahani, Harb bin Ismail Al-Kirmani, Ishaq bin Musa Ar-Ramli, Ahmad bin Ali bin Al-Hasan Al-Bashri dan masih banyak yang lainnya.

PUJIAN PARA ULAMA


Pembaca yang budiman, kepakaran Abu Dawud dalam bidang hadits telah diakui oleh sekian banyak ulama besar di masanya maupun setelahnya. Ia menguasai kurang lebih lima ratus ribu hadits, Subhanallah! Ini menggambarkan hafalannya yang sangat kuat.

Secara karakter, ia disebut-sebut sebagai ulama sangat mirip dengan Imam Ahmad yang merupakan salah satu gurunya. Sebagian ulama yang menyatakan bahwa Abu Dawud mempunyai kemiripan dengan Imam Ahmad. Suatu hal yang wajar karena Imam Ahmad adalah salah satu guru besarnya di Baghdad. Adz-Dzahabi menyatakan dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala, “Abu Dawud adalah seorang imam dalam ilmu hadits dan cabang ilmu yang lainnya. Bahkan ia termasuk ulama besar dalam bidang ilmu fikih. Ia adalah salah satu murid Imam Ahmad yang cerdas. Ia telah menetapi majelis Imam Ahmad selama beberapa tahun dan bertanya kepadanya tentang berbagai permasalahan rumit terkait furu’ (cabang ilmu, seperti fikih dan lainnya, red.) dan ushul (pokok ajaran agama, yakni akidah, red.).”

Simaklah pujian dan sanjungan dari para ulama besar berikut ini. Abu Bakar Al-Khallal rahimahullah berkata, “Abu Dawud adalah seorang imam yang menonjol di zamannya.”

Ahmad bin Muhammad bin Yasin berkata, “Abu Dawud adalah salah seorang penghafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kandungannya, penyakit dalam riwayatnya, dan sanadnya. Beliau memiliki ibadah, kehormatan diri, kebaikan, dan sikap wara’[2] yang tinggi.”

Ibrahim Al-Harabi rahimahullah berkata, “Tatkala Abu Dawud menulis kitab Sunan, hadits telah dilunakkan (yakni dimudahkan, red.) bagi Abu Dawud sebagaimana besi dilunakkan untuk Nabi Dawud.” Sungguh ungkapan yang tidak berlebihan, Allah telah memudahkan Abu Dawud untuk menyusun kitab Sunannya hingga manfaatnya bisa dirasakan oleh kaum muslimin sampai detik ini.

Muhammad bin Makhlad berkata, “Tatkala Abu Dawud selesai menulis kitab Sunan kemudian dibacakan kepada kaum muslimin, sejak saat itulah kitabnya seolah-olah menjadi mushaf bagi para ahli hadits. Mereka menyetujui keberadaan kitab tersebut dan tidak menyelisihinya. Mereka juga mengikrarkan pengakuan terhadap hafalan dan keunggulannya.”

Al Hafizh Musa bin Harun berkata, “Abu Dawud tercipta di dunia untuk hadits dan di akhirat untuk surga[3]. Aku belum pernah melihat ulama yang semisal dengannya.”

Ibnu Hibban berkata, “Abu Dawud adalah salah seorang ulama [yang menguasai ilmu seluruh] dunia secara kefakihan, keilmuan, hafalan, ibadah, dan sikap wara’nya. Ia mengumpulkan hadits, membuat karya tulis dan membela sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Abu Abdillah Al-Hakim berkata, “Abu Dawud adalah imamnya ahli hadits pilih tanding di zamannya.”

KEPRIBADIAN DAN AKHLAKNYA


Dalam hal berpakaian, Abu Dawud mempunyai kebiasaan yang cukup unik. Ia mempunyai baju yang salah satu lengannya lebar dan yang satunya sempit. Apabila ada yang bertanya mengenai hal itu, ia pun menjawab, “Lengan yang lebar ini untuk membawa kitab. Adapun yang satunya tidak diperlukan untuk itu.”

Abu Dawud adalah seorang figur ulama yang sangat memuliakan ilmu dan para penuntut ilmu. Adalah Abu Bakar bin Jabir, pembantu Abu Dawud yang setia ini pernah menjadi saksi sifat terpuji yang dimiliki Abu Dawud tersebut. Abu Bakar berkisah, “Aku pernah menemani Abu Dawud di kota Baghdad. Tatkala kami usai mengerjakan shalat Maghrib, datanglah amir (penguasa) Abu Ahmad Al-Muwaffaq ke rumahnya. Setelah masuk rumah, Abu Dawud pun datang menemuinya. Abu Dawud bertanya, ‘Apa gerangan yang mendorong amir datang malam-malam begini?’ Amir pun menjawab, ‘Ada tiga urusan yang mendorongku datang ke sini.’ ‘Urusan apa?’ tukas Abu Dawud. Ia pun berkata, ‘Hendaknya anda pindah ke Bashrah lalu menjadikannya sebagai tempat tinggal supaya para penuntut ilmu berdatangan kepada anda. Dengan demikian, Bashrah akan menjadi makmur lagi karena sesungguhnya kota tersebut telah hancur dan ditinggalkan penduduknya karena peristiwa Zanji. Ini yang pertama.’ Katanya. ‘Kemudian yang kedua anda meriwayatkan kitab sunan kepada anak-anakku.’ ‘Baik, coba sebutkan yang ketiga.’ Pinta Abu Dawud. Amir pun berkata, ‘Anda membuat majelis tersendiri untuk mereka. Karena anak-anak penguasa tidak pantas duduk-duduk bersama rakyat jelata.’ Mendengar permintaan itu, Abu Dawud dengan tegas menyatakan, ‘Adapun permintaan yang ketiga ini tidak bisa aku penuhi. Karena seluruh manusia itu sama statusnya dalam menuntut ilmu.’” Ibnu Jabir menuturkan, “Sejak saat itu, anak-anak penguasa itu hadir di majelis kerumunan orang-orang awam dengan tirai pemisah dan mendengarkan hadits bersama mereka.” Beliau pun tinggal di Bashrah setelah tewasnya Az-Zanji dan menyebarkan ilmu agama di tempat tersebut.

Namun demikian, ia sering mengunjungi Baghdad untuk bersua dengan Imam Ahmad. Abu Dawud pernah memaparkan kitabnya kepada Imam Ahmad dan dinilai baik olehnya.

Abu Dawud adalah seorang ahli hadits dan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mengenai hal ini Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Abu Dawud di atas manhaj (jalan) salaf terutama dalam hal mengikuti sunnah.” Hal ini juga terbukti dengan bantahannya terhadap beberapa kelompok sesat yang telah muncul saat itu. Seperti Qadariyah dan Khawarij yang bantahannya termaktub dalam Sunan Abu Dawud. Selain itu juga terdapat bantahan terhadap kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Murji’ah. Abu Dawud juga pernah menyatakan, “Umair bin Hani’ adalah seorang Qadary (pengikut paham Qodariyah).” Abu Dawud meninggal dunia di kota Bashrah pada tanggal 16 Syawal 275 H. Hal ini diungkapkan oleh muridnya yang bernama Abu Ubaid Al-Ajurri. Beliau meninggalkan seorang putra yang bernama Abu Bakar Abdullah bin Sulaiman bin Al-Asy’ats. Ia juga merupakan seorang pakar hadits dan imam di kota Baghdad. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada Imam Abu Dawud. Allahu a’lam.

[1] Enam induk kitab hadits: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah. 
[2] Wara’: Bersikap hati-hati dalam memilih sesuatu 
[3] Di antara pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kita tidak boleh memastikan seseorang masuk surga atau neraka tanpa ada dalil yang benar dari Al-Quran maupun hadits. Meskipun orang tersebut adalah orang yang paling taat beribadah, atau orang yang paling fajir. Karena kita tidak tahu akhir hayat dari orang tersebut.

Sumber: Majalah Qudwah, edisi 17 vol. 2 1435 H/ 2014 M, rubrik Biografi.

Perang Membela Negara, Jihadkah?

Sebuah aksioma bahwa jihad adalah ibadah dan amal shalih yang paling afdhol dimana hal ini tentunya tidak lepas dari stipulasi rukun-rukunnya serta kewajiban-kewajibannya. Seperti halnya tidak boleh bagi seorang muslim untuk pergi sholat sedang ia tidak mengetahui hukum-hukumnya, demikian pula tidak boleh untuk masuk ke dalam bab ini (jihad) dan mengaku dirinya sebagai seorang mujahid sedang ia bodoh akan hukum-hukum jihad. Maka, wajib bagi seorang muslim sebelum terjun dalam perkara ini agar mengerti apa itu jihad, atas landasan apa ditegakkan, dengan siapa menegakkannya, dan apa pula syarat serta rukun-rukunnya, apakah telah terpenuhi ataukah tidak?

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- sebelum kita menentukan jihad atau bukan perang membela negara, ada beberapa kondisi yang menyebabkan jihad menjadi fardlu 'ain.

Kondisi pertama: jika waliyyul amri memerintahkan untuk berjihad fi sabilillah, maka tidak boleh seorangpun menyelisihinya untuk tetap tinggal kecuali yang memiliki udzur. Allah berfirman,
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلْتُمْ إِلَى ٱلْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِٱلْحَيَو‌ٰةِ ٱلدُّنْيَا مِنَ ٱلْءَاخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَـٰعُ ٱلْحَيَو‌ٰةِ ٱلدُّنْيَا فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ ۝٣٨ إِلَّا تَنفِرُوا۟ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْـًٔا ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
"Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, 'Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah', kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibanding dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksaan yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain dan kamu tidak akan memberikan kemudharatan padaNya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At Taubah: 38-39).

Kondisi kedua: jika musuh mengepung suatu negeri, yakni musuh datang lalu masuk ke suatu negeri dan mengepungnya, ketika itu jihad menjadi fardlu 'ain bagi setiap orang penduduk negeri itu sekalipun para wanita atau orang tua yang mampu untuk membela negaranya. Karena ini adalah perang pembelaan bukan perang dalam artian penyerangan (untuk perluasan Islam).

Kondisi ketiga: apabila telah memasuki barisan perang dan bertemu kedua pasukan (kafir dan muslim), maka jihad ketika itu menjadi fardlu 'ain, tidak boleh bagi seorangpun untuk berpaling. Allah berfirman,
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ ٱلْأَدْبَارَ ۝١٥ وَمَن يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُۥٓ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِّقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَآءَ بِغَضَبٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأْوَىٰهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ
"Hai orang-orang yang beriman apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur), barangsiapa yang mundur di waktu itu kecuali berbelok (untuk siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya ialah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya." (QS Al Anfaal: 15-16).
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjadikan berpaling pada saat bertemunya dua pasukan termasuk salah satu dari tujuh dosa-dosa besar yang membinasakan.

Kondisi keempat: jika manusia membutuhkan kepada orang yang mampu menggunakan senjata, dalam posisi tak ada seorangpun yang mengetahui cara penggunaan senjata baru tersebut kecuali seorang saja, maka menjadi fardlu 'ain bagi dia untuk berjihad meskipun tidak diperintahkan oleh pemimpin negara karena ia dibutuhkan.

Dalam empat kondisi inilah jihad menjadi fardlu 'ain, adapun selainnya adalah fardlu kifayah.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- oleh karena itu, dalam kondisi yang kita jalani sekarang ini wajib bagi kita untuk mengingatkan kepada segenap orang bahwa ajakan untuk pembebasan negara dan yang semisalnya adalah ajakan yang tidak relevan, dan wajib untuk membekali setiap orang dengan persiapan agama yang matang, katakanlah, "Bahwa kami membela agama kami sebelum segala sesuatu." Karena negeri kami adalah negeri agama dan negeri Islam yang butuh akan proteksi dan pembelaan, maka harus membela negara dengan niat seperti ini.

Para ahli ilmu berkata, "Wajib bagi setiap muslim untuk berjihad memerangi musuh Allah, agar kalimat Allah menjadi tinggi, bukan karena tujuan membela negaranya, sebab berperang semata-mata membela negara bisa dilakukan semua orang baik muslim maupun kafir. Maka seorang muslim ketika membela negaranya jangan semata-mata karena itu negerinya, tetapi karena negeri itu adalah negeri Islam, membelanya dengan tujuan untuk penjagaan terhadap Islam."

Adapun membela negara dengan dorongan nasionalisme atau fanatisme kaum, ini juga dapat dilakukan semua pihak baik muslim ataupun kafir. Yang demikian itu tidak akan membawa manfaat sedikitpun bagi pelakunya pada hari kiamat, de facto tidak dinamakan mati syahid, bila terbunuh dalam keadaan membela negara dengan niatan seperti itu. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena fanatisme kaum, berperang supaya dikatakan pemberani, dan berperang agar mendapat predikat kaum grand-monde, manakah yang termasuk fi sabilillah? Beliau menjawab, 
مَنۡ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الۡعُلۡيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ
"Barangsiapa berperang supaya kalimat Allah menjadi tinggi maka itulah fi sabilillah." (HR. Bukhori, Muslim dari sahabat Abu Musa).

Jika berperang karena negara, maka keadaannya sama dengan orang-orang kafir. Berperanglah agar kalimat Allah menjadi tinggi, telah ada dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
مَا مِنۡ مَكۡلُومٍ يُكۡلَمُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَاللهُ أَعۡلَمُ بِمَنۡ يُكۡلَمُ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَّا جَاءَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَجُرۡحُهُ يَثۡعَبُ دَمًا اللَّوۡنُ لَوۡنُ دَمٍ وَالرِّيحُ رِيحُ مِسۡكٍ
"Tidaklah yang terluka di jalan Allah -dan Allah lebih mengetahui siapa yang terluka di jalanNya- kecuali datang pada hari kiamat dan lukanya akan mengalirkan darah yang berwarna merah dan berbau misk." (HR. Bukhori no 5533, dan Muslim no 1876 dari sahabat Abu Hurairoh).

Disadur secara bebas dari pernyataannya Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin tentang "Berperang untuk Negara" pada saat hari-hari pertama invasi Iraq atas Kuwait dengan sedikit tambahan dari penulis.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari.

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-16 Tahun ke-1 / 04 April 2003 M / 01 Shafar 1424 H.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7458

٧٤٥٨ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ كَثِيرٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ أَبِي مُوسَى قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، فَأَيُّ ذٰلِكَ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: (مَنۡ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الۡعُلۡيَا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ). [طرفه في: ١٢٣].
7458. Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Al-A'masy, dari Abu Wa`il, dari Abu Musa, beliau berkata: Seseorang datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seraya bertanya: Ada orang yang berperang untuk kelompoknya, ada yang berperang agar dikenal berani, dan ada yang berperang karena riya`. Manakah di antara itu yang berada di jalan Allah? Beliau menjawab, “Siapa saja yang berperang supaya kalimat Allah yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah.”

Shahih Muslim hadits nomor 2759

٣١ – (٢٧٥٩) – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ. قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا عُبَيۡدَةَ يُحَدِّثُ عَنۡ أَبِي مُوسَىٰ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبۡسُطُ يَدَهُ بِاللَّيۡلِ، لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ. وَيَبۡسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ، لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيۡلِ، حَتَّىٰ تَطۡلُعَ الشَّمۡسُ مِنۡ مَغۡرِبِهَا).
31. (2759). Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami: Syu'bah menceritakan kepada kami, dari 'Amr bin Murrah. Beliau berkata: Aku mendengar Abu 'Ubaidah menceritakan dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah 'azza wa jalla membentangkan tanganNya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat kejelekan di siang hari. Dan Allah membentangkan tanganNya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat kejelekan di malam hari. Sampai matahari terbit dari arah barat.”
(…) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، بِهَذَا الۡإِسۡنَادِ، نَحۡوَهُ.
Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Abu Dawud menceritakan kepada kami: Syu'bah menceritakan kepada kami, dengan sanad ini, semisal hadits ini.

Dosa dan Maksiat, Cermin Hilangnya Kewibawaan Umat Islam

Tidak diragukan lagi bahwa kehinaan dan malapetaka yang ditimpakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala itu disebabkan karena banyak manusia lalai, merasa tidak bersalah jika melaksanakan dosa dan kemaksiatan. Mereka pun pura-pura tidak tahu bahwa yang demikian itu akan menyebabkan turunnya ancaman dari Allah subhanahu wa ta'ala. Allah ta'ala berfirman:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar." (Ar-Rum : 41)

Kemuliaan kaum musliminpun terpuruk dikarenakan penganutnya acuh tak acuh terhadap agamanya, yang halal menjadi haram dan sebaliknya, yang haram menjadi halal. Akibat dari semua itu dosa dan kemaksiatan menjadi sarapan pagi, siang dan malam harinya … Wallahu Musta'an.

Umar Ibnul Khaththab berkata, "Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah ta'ala dengan Islam, walau bagaimanapun kita pasti menginginkan kemuliaan tersebut, tapi jika tanpa Islam, maka Allah akan menghinakan kita." (dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi) 

Dari perkataan seorang khalifah ini, jelaslah kehancuran dan kehinaan kaum muslimin akan didapat jika lalai dan meninggalkan agamanya. Maka hendaklah seluruh kaum muslimin sadar akan hal ini dan mengetahui akibat-akibat yang ditimbulkan dari dosa dan kemaksiatannya serta hal-hal yang akan menyebabkan ia berbuat dosa. 

Adapun dampak yang ditimbulkan dari dosa dan maksiat adalah sebagai berikut:
  • Sesungguhnya dengan dosa dan maksiat akan melemahkan hati dari keinginannya. Sedikit demi sedikit keinginan untuk melakukan kemaksiatan akan menguat, dan keinginan untuk bertobat akan melemah hingga akhirnya akan hilang keinginan hati untuk bertaubat secara keseluruhan.
  • Seseorang akan terus melakukan perbuatan dosa dan maksiat, sehingga ia akan menganggap remeh dosa tersebut. Kalau sudah demikian maka akan datang kehancuran, sebab dosa yang dianggap remeh adalah besar di sisi Allah ta'ala. Ibnu Mas'ud radliyallahu anhu berkata, "Sesungguhnya seorang mukmin tatkala melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung yang ia takut gunung itu akan menimpa dirinya. Dan sesungguhnya seorang yang fajir tatkala melihat dosanya, seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya lalu membiarkannya terbang." (HR. Bukhari)
  • Sesungguhnya dosa dan maksiat akan menghilangkan rasa malu, yang merupakan tonggak kehidupan hati, pokok dari segala kebaikan, apabila hilang rasa malu maka lenyaplah kebaikan. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
    الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ
    "Malu adalah kebaikan seluruhnya." (HR. Bukhari Muslim)
  • Disebabkan dosa dan maksiat, Allah ta'ala akan melupakan hamba-Nya dan meninggalkannya, maka terjadilah kehancuran yang tidak diharapkan.

Masih banyak dampak dan akibat yang ditimbulkan dari dosa dan kemaksiatan yang harus dijauhi oleh setiap kaum muslimin…. Dengan kembali kepada agamanya, kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah, berpegang teguh kepada keduanya untuk mengembalikan 'izzul Islam wal muslimin (Kemuliaan Islam dan Muslimin).

Wallahu A'lam bishawab

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-15 Tahun ke-1 / 28 Maret 2003 M / 25 Muharrom 1424 H.