At-Tuhfatul Wushabiyyah - Kata-kata yang Dapat Dii'rab

الۡمُعۡرَبَاتُ

قَالَ: (فَصۡلٌ): الۡمُعۡرَبَاتُ قِسۡمَانِ: قِسۡمٌ يُعۡرَبُ بِالۡحَرَكَاتِ، وَقِسۡمٌ يُعۡرَبُ بِالۡحُرُوفِ.
Pasal. Kata-kata yang dapat dii'rab ada dua bagian: 
  1. Dii'rab dengan harakat 
  2. Dii'rab dengan huruf. 
أَقُولُ: لَمَّا انۡتَهَى الۡمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ مِنۡ ذِكۡرِ عَلَامَاتِ أَقۡسَامِ الۡإِعۡرَابِ عَلَى سَبِيلِ التَّفۡصِيلِ أَخَذَيَتَكَلَّمُ عَلَيۡهَا -فِي هَٰذَا الۡفَصۡلِ- عَلَى سَبِيلِ الۡإِجۡمَالِ؛ تَمۡرِينًا لِلۡمُبۡتَدِئِ عَلَى عَادَةِ الۡمُتَقَدِّمِينَ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى.
Setelah penyusun rahimahullah selesai menyebutkan tanda-tanda masing-masing i'rab secara terperinci, beliau mulai membicarakannya dalam pasal ini secara global. Untuk melatih pemula kepada kebiasaan ulama ahli nahwu terdahulu rahimahumullah ta'ala.
وَالۡمُعۡرَبَاتُ الَّتِي تَقَدَّمَ ذِكۡرُهَا عَلَى سَبِيلِ التَّفۡصِيلِ ثَمَانِيَةٌ، وَهِيَ:
الۡاسۡمُ الۡمُفۡرَدُ، وَجَمۡعُ التَّكۡسِيرِ، وَجَمۡعُ الۡمُؤَنَّثِ السَّالِمُ، وَالۡفِعۡلُ الۡمُضَارِعُ الَّذِي لَمۡ يَتَّصِلۡ بِآخِرِهِ شَيۡءٌ، وَالۡمُثَنَّى، وَجَمۡعُ الۡمُذَكَّرِ السَّالِمُ، وَالۡأَسۡمَاءُ الۡخَمۡسَةُ، وَالۡأَفۡعَالُ الۡخَمۡسَةُ، وَهَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعُ الثَّمَانِيَةُ تَنۡقَسِمُ إِلَى قِسۡمَيۡنِ:
Kata-kata yang dii'rab yang telah disebutkan secara terperinci ada delapan, yaitu: 
  1. isim mufrad, 
  2. jamak taksir, 
  3. jamak muannats salim, 
  4. fi'il mudhari' yang tidak ada apapun yang bersambung di akhir kata, 
  5. mutsanna, 
  6. jamak mudzakkar salim, 
  7. asma`ul khamsah, 
  8. af'alul khamsah. 
Kedelapan jenis ini terbagi menjadi dua bagian:
أَحَدُهُمَا: مَا يُعۡرَبُ بِالۡحَرَكَاتِ الثَّلَاثِ، الَّتِي هِيَ: الضَّمَّةُ، وَالۡفَتۡحَةُ، وَالۡكَسۡرَةُ.
وَيَلۡحَقُ بِهَا السُّكُونُ، وَهَٰذَا الۡقِسۡمُ هُوَ الۡأَصۡلُ؛ وَلِهَٰذَا قَدَّمَهُ.
1. Kata yang dii'rab menggunakan harakat yang tiga, yaitu: dhammah, fathah, dan kasrah. Sukun diikutkan di sini. Dan bagian ini adalah yang pokok. Oleh karena itu, beliau mendahulukannya.
وَالثَّانِي: مَا يُعۡرَبُ بِالۡحُرُوفِ الۡأَرۡبَعَةِ، الَّتِي هِيَ: الۡوَاوُ، وَالۡأَلِفُ، وَالۡيَاءُ، وَالنُّونُ، وَيَلۡحَقُ بِهَا الۡحَذۡفُ، وَسَيَأۡتِي ذِكۡرُ كُلِّ نَوۡعٍ مِنۡهُمَا، إِنۡ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
2. Kata yang dii'rab menggunakan huruf yang empat, yaitu: wawu, alif, ya`, dan nun. Al-Hadzf diikutkan di bagian ini.
Setiap jenis dari dua bagian ini akan disebutkan, insya Allah ta'ala.

Lihat pula:

Shahih Muslim hadits nomor 874

٥٣ – (٨٧٤) – وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ إِدۡرِيسَ، عَنۡ حُصَيۡنٍ، عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ رُؤَيۡبَةَ. قَالَ: رَأَىٰ بِشۡرَ بۡنَ مَرۡوَانَ عَلَى الۡمِنۡبَرِ رَافِعًا يَدَيۡهِ. فَقَالَ: قَبَّحَ اللهُ هَاتَيۡنِ الۡيَدَيۡنِ، لَقَدۡ رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا يَزِيدُ عَلَىٰ أَنۡ يَقُولَ بِيَدِهِ هٰكَذَا. وَأَشَارَ بِإِصۡبَعِهِ الۡمُسَبِّحَةِ.
53. (874). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: 'Abdullah bin Idris menceritakan kepada kami, dari Hushain, dari 'Umarah bin Ruaibah. Beliau berkata: Beliau melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar sedang mengangkat kedua tangannya.'Umarah berkata: Semoga Allah menjelekkan kedua tangan itu. Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak lebih dari mengisyaratkan dengan tangannya seperti ini. Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk beliau.
(…) - وَحَدَّثَنَاهُ قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ حُصَيۡنِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، قَالَ: رَأَيۡتُ بِشۡرَ بۡنَ مَرۡوَانَ، يَوۡمَ جُمُعَةٍ، يَرۡفَعُ يَدَيۡهِ. فَقَالَ عُمَارَةُ بۡنُ رُؤَيۡبَةَ. فَذَكَرَ نَحۡوَهُ.
Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan hadits ini kepada kami: Abu 'Awanah menceritakan kepada kami, dari Hushain bin 'Abdurrahman, beliau berkata: Aku melihat Bisyr bin Marwan pada hari Jum'at mengangkat kedua tangannya. 'Umarah bin Ruaibah berkata menyebutkan seperti hadits tersebut.

Shahih Muslim hadits nomor 810

٢٥٨ – (٨١٠) – حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَى بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَىٰ، عَنِ الۡجُرَيۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي السَّلِيلِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ رَبَاحٍ الۡأَنۡصَارِيِّ، عَنۡ أُبَيِّ بۡنِ كَعۡبٍ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَا أَبَا الۡمُنۡذِرِ، أَتَدۡرِي أَيُّ آيَةٍ مِنۡ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعۡظَمُ؟) قَالَ: قُلۡتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعۡلَمُ. قَالَ: (يَا أَبَا الۡمُنۡذِرِ، أَتَدۡرِي أَيُّ آيَةٍ مِنۡ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعۡظَمُ؟) قَالَ: قُلۡتُ: ﴿اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الۡحَيُّ الۡقَيُّومُ﴾. قَالَ: فَضَرَبَ فِي صَدۡرِي وَقَالَ: (وَاللهِ، لَيَهۡنِكَ الۡعِلۡمُ أَبَا الۡمُنۡذِرِ).
258. (810). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: 'Abdul A'la bin 'Abdul A'la menceritakan kepada kami, dari Al-Jurairi, dari Abus Salil, dari 'Abdullah bin Rabah Al-Anshari, dari Ubay bin Ka'b; Beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abul Mundzir, apakah engkau tahu ayat mana yang paling agung dari Kitab Allah yang engkau hafal?” Ubay berkata: Aku berkata: Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda, “Wahai Abul Mundzir, apakah engkau tahu ayat mana yang paling agung dari Kitab Allah yang engkau hafal?” Ubay berkata: Aku berkata: Allahu laa ilaaha illa huwal hayuul qayyum. Ubay berkata: Beliau menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, ilmu akan membahagiakanmu, Abul Mundzir.”

Memendekkan Khutbah dan Mengisyaratkan Telunjuk ketika Berdo'a

Tidak diragukan lagi bahwa khutbah Jum'at tidaklah sama dengan khutbah-khutbah lainnya, di mana khutbah Jum'at tidak boleh lepas dari stipulasinya, baik itu syarat sahnya ataukah sunnah-sunnahnya. Satu contoh yang paling mudah dan diketahui secara umum misalnya, khutbah pada sholat Jum'at ada dua kali khutbah dan didahulukan sebelum sholat. Jika khutbahnya diakhirkan atau khutbahnya hanya satu kali atau bahkan tidak ada khutbah sama sekali, maka menjadi tidak sah. Nah, berkenaan dengan panjang pendeknya, lama dan sebentarnya khutbah, ini juga adalah perkara yang disinggung dalam khutbah Jum'at meskipun tidak termasuk syarat sahnya. Di dalam Shohih Muslim dari sahabat Ammaar bin Yasir, Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطۡبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنۡ فِقۡهِهِ
"Sesungguhnya panjang / lama sholatnya seseorang dan pendek khutbahnya adalah tanda kefaqihannya."
Oleh karena itu, lebih utama bagi seorang khotib memendekkan khutbahnya, dan tentu saja hal ini memberikan beberapa manfaat. Di antara manfaat itu adalah pertama: tidak mendatangkan kejenuhan bagi mustami'in, sebab bila khutbah panjang, apalagi dengan penyampaian yang tidak menyentuh hati dan lain sebagainya, akan menimbulkan kelelahan dan kejenuhan. Kedua: dengan khutbah yang pendek, pendengar lebih mampu menyerap apa yang disampaikan, berbeda jika khutbahnya panjang bisa menyebabkan ingat awalnya lupa akhirnya, ingat akhirnya lupa awalnya. Dengan demikian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya panjang sholat seseorang dan pendek khutbahnya adalah tanda kefaqihannya." Sebab sang khotib senantiasa memperhatikan keadaan mustami'in, namun kadang-kadang juga keadaan menuntut sang khotib untuk memanjangkan khutbah. Jadi apabila memanjangkannya karena tuntutan keadaan, tidaklah hal ini mengeluarkannya dari kefaqihan, karena toh perkara panjang dan pendek khutbah adalah perkara nisbi, dan telah ada dari Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkhutbah kadang-kadang dengan surat "Qaaf", sedangkan surat "Qaaf" jika dibaca dengan tartil dan berhenti pada tiap ayat, maka menjadi panjang. Berkata Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma'aad, "Beliau -Rosulullah, pent.- kadang-kadang memendekkan khutbah dan kadang memanjangkannya sesuai kebutuhan manusia, dan khutbahnya beliau yang sifatnya insidental lebih panjang daripada khutbahnya yang bersifat rutin."

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- lain halnya dengan keadaan khotib ketika berdo'a saat khutbah, mayoritas para khotib amat sangat jarang memperhatikan masalah ini, terbukti dengan banyaknya para khotib yang mengangkat kedua tangan ketika berdo'a, bahkan sebagiannya menganggap ini amalan sunnah hingga mempertahankannya karena keukeuh. Tidak dipungkiri bahwa asal dalam berdo'a adalah dengan mengangkat kedua tangan, tetapi masalahnya sekarang dalam khutbah Jum'at yang keadaannya sebagaimana yang telah disinggung di atas, dan tentunya dominan kaitannya dengan masalah ibadah, bukankah ibadah itu tidak disyariatkan kecuali dengan apa yang telah dibawa dan dicontohkan oleh Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?!!, oleh karena itu tidak heran jika para sahabat mengingkari seseorang yang berkhutbah dan mengangkat kedua tangannya saat berdoa, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya "Kitabul Jum'ah." Dari Husein bin AbdurRohman dari Ammaaroh bin Ruaibah berkata: Ia telah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar dan mengangkat kedua tangannya, maka berkata Ammaaroh,
قَبَّحَ اللهُ هَاتَيۡنِ الۡيَدَيۡنِ، لَقَدۡ رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا يَزِيدُ عَلَىٰ أَنۡ يَقُولَ بِيَدِهِ هٰكَذَا وَأَشَارَ بِإِصۡبَعِهِ الۡمُسَبِّحَةِ
"Semoga Allah menjelekkan kedua tangan ini! Sungguh aku telah melihat Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ia tidak menambah kecuali berdo'a dengan tangan begini, lalu ia mengisyaratkan jari telunjuknya."
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah seperti dalam Al Ikhtiyaarot halaman 80, "Dan makruh atas imam / khotib mengangkat kedua tangan saat berdoa dalam khutbah, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau hanya mengisyaratkan jarinya bila berdo'a, adapun saat istisqo beliau mengangkat kedua tangannya, di atas mimbar."

Wal akhir semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada kita dan tambahan ilmu, kemudian di hari yang paling baik ini mari kita warnai dengan amalan-amalan yang baik pula, wal ilmu indallah.

Ditulis oleh Al Ustadz Yusuf Al Atsary

Sumber: Buletin Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-25 Tahun ke-1 / 06 Juni 2003 M / 05 Rabi'uts Tsani 1424 H.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Tempat-tempat Al-Hadzf

مَوَاضِعُ الۡحَذۡفِ

قَالَ: وَأَمَّا الۡحَذۡفُ فَيَكُونُ عَلَامَةً لِلۡجَزۡمِ فِي الۡفِعۡلِ الۡمُضَارِعِ الۡمُعۡتَلِّ الۡآخِرِ، وَفِي الۡأَفۡعَالِ الۡخَمۡسَةِ الَّتِي رَفۡعُهَا بِثَبَاتِ النُّونِ.
Adapun al-hadzf merupakan tanda jazm pada fi'il mudhari' mu'tal akhir dan af'alul khamsah yang rafa'nya dengan tetap adanya huruf nun.
أَقُولُ: يَكُونُ الۡحَذۡفُ عَلَامَةً عَلَى جَزۡمِ الۡكَلِمَةِ -نِيَابَةً عَنِ السُّكُونِ- فِي مَوۡضِعَيۡنِ: أَحَدُهُمَا: فِي الۡفِعۡلِ الۡمُضَارِعِ الۡمُعۡتَلِّ الۡآخِرِ.
وَمَعۡنَى كَوۡنِهِ (مُعۡتَلِّ الۡآخِرِ): أَنَّ آخِرَهُ حَرۡفٌ مِنۡ حُرُوفِ الۡعِلَّةِ الثَّلَاثَةِ، الَّتِي هِيَ: الۡأَلِفُ، وَالۡوَاوُ، وَالۡيَاءُ.
Al-Hadzf adalah tanda jazm suatu kata -sebagai ganti dari sukun- di dua tempat:
1. Fi'il mudhari' mu'tal akhir. Makna mu'tal akhir adalah fi'il mudhari' tersebut diakhiri salah satu huruf dari tiga huruf 'illah, yaitu: alif, wawu, dan ya`.
فَمِثَالُ مَا آخِرُهُ أَلِفٌ: (يَسۡعَى)، تَقُولُ فِي جَزۡمِهِ: (لَمۡ يَسۡعَ زَيۡدٌ إِلَى الۡمَجۡدِ) وَمِثۡلُهُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا اللهَ﴾ [التوبة: ١٨] فَكُلٌّ مِنۡ (يَسۡعَ وَيَخۡشَ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِـ(لَمۡ)، وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ حَذۡفُ حَرۡفِ الۡعِلَّةِ وَهُوَ الۡأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ السُّكُونِ، وَالۡفَتۡحَةُ قَبۡلَهَا دَلِيلٌ عَلَيۡهَا.
Contoh fi'il mudhari' mu'tal yang huruf akhirnya alif adalah يَسۡعَى. Engkau katakan ketika jazm: لَمۡ يَسۡعَ زَيۡدٌ إِلَى الۡمَجۡدِ dan contohnya firman Allah ta'ala: وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا اللهَ (QS. At-Taubah: 18). Jadi setiap dari kata يَسۡعَ dan يَخۡشَ adalah fi'il mudhari' dijazm dengan لَمۡ. Tanda jazmnya adalah dihilangkannya huruf 'illah alif sebagai ganti dari sukun. Harakat fathah pada huruf sebelumnya adalah indikasi atas hal itu.
وَمِثَالُ مَا آخِرُهُ وَاوٌ: (تَدۡعُو)، تَقُولُ فِي جَزۡمِهِ: (لَا تَدۡعُ إِلَى الشَّرِّ) وَمِثۡلُهُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِ عِلۡمٌ﴾ [الإسراء: ٣٦] فَكُلٌّ مِنۡ (تَدۡعُ وَتَقۡفُ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِـ(لَا) النَّاهِيَةِ، وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ حَذۡفُ حَرۡفِ الۡعِلَّةِ وَهُوَ الۡوَاوُ نِيَابَةً عَنِ السُّكُونِ، وَالضَّمَّةُ قَبۡلَهَا دَلِيلٌ عَلَيۡهَا.
Contoh fi'il mudhari' mu'tal yang huruf akhirnya wawu adalah تَدۡعُو. Engkau katakan ketika jazm: لَا تَدۡعُ إِلَى الشَّرِّ dan contohnya adalah firman Allah ta'ala: وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِ عِلۡمٌ (QS. Al-Isra`: 36). Jadi setiap dari kata تَدۡعُ dan تَقۡفُ adalah fi'il mudhari' dijazm dengan لَا nahi (larangan). Tanda jazmnya adalah dihilangkannya huruf 'illah wawu sebagai ganti dari sukun. Harakat dhammah pada huruf sebelumnya adalah indikasi atas hal itu.
وَمِثَالُ مَا آخِرُهُ يَاءٌ (يَقۡضِي) تَقُولُ فِي جَزۡمِهِ (لَا تَقۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَقِّ) وَمِثۡلُهُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَمۡشِ فِي الۡأَرۡضِ مَرَحًا﴾ [الإسراء: ٣٧] فَكُلٌّ مِنۡ (تَقۡضِ وَتَمۡشِ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِـ(لَا) النَّاهِيَةِ وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ حَذۡفُ حَرۡفِ الۡعِلَّةِ وَهُوَ الۡيَاءُ -نِيَابَةً عَنِ السُّكُونِ- وَالۡكَسۡرَةُ قَبۡلَهَا دَلِيلٌ عَلَيۡهَا.
Contoh fi'il mudhari' mu'tal yang huruf akhirnya ya` adalah يَقۡضِي. Engkau katakan ketika jazm: لَا تَقۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَقِّ dan contohnya adalah firman Allah ta'ala: وَلَا تَمۡشِ فِي الۡأَرۡضِ مَرَحًا (QS. Al-Isra`: 37). Jadi setiap dari kata تَقۡضِ dan تَمۡشِ adalah fi'il mudhari' dijazm dengan لَا nahi (larangan). Tanda jazmnya adalah dihilangkannya huruf 'illah ya` sebagai ganti dari sukun. Harakat kasrah pada huruf sebelumnya adalah indikasi atas hal itu.
الۡمَوۡضِعُ الثَّانِي: فِي الۡأَفۡعَالِ الۡخَمۡسَةِ الَّتِي تُرۡفَعُ بِثُبُوتِ النُّونِ، وَتَقَدَّمَ أَنَّهَا (كُلُّ فِعۡلٍ مُضَارِعٍ اتَّصَلَ بِهِ أَلِفُ الۡاثۡنَيۡنِ أَوۡ وَاوُ الۡجَمَاعَةِ أَوۡ يَاءُ الۡمُؤَنَّثَةِ الۡمُخَاطَبَةُ).
2. Af'alul khamsah yang dirafa' dengan tetap adanya huruf nun. Telah lewat definisinya bahwa af'alul khamsah adalah setiap fi'il mudhari' yang bersambung dengan alif itsnain, wawu jama'ah, atau ya` muannats mukhathabah.
فَمِثَالُ مَا اتَّصَلَ بِهِ أَلِفُ الۡاثۡنَيۡنِ قَوۡلُكَ: (لَمۡ يَكۡتُبَا) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿لَا تَخَافَآ﴾ [طه: ٤٦].
وَمِثَالُ مَا اتَّصَلَ بِهِ وَاوُ الۡجَمَاعَةِ قَوۡلُكَ: (لَمۡ يَكۡتُبُوا) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تُسۡرِفُوا﴾ [الأعراف: ٣١].
وَمِثَالُ مَا اتَّصَلَ بِهِ يَاءُ الۡمُؤَنَّثَةِ الۡمُخَاطَبَةُ قَوۡلُكَ: (لَمۡ تَكۡتُبِي) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَخَافِى﴾ [القصص: ٧] فَكُلُّ فِعۡلٍ مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَفۡعَالِ مَجۡزُومٌ بِـ(لَمۡ) أَوۡ(لَا) النَّاهِيَةِ. وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ حَذۡفُ النُّونِ نِيَابَةً عَنِ السُّكُونِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَفۡعَالِ الۡخَمۡسَةِ.
وَالۡأَلِفُ أَوِ الۡوَاوُ أَوِ الۡيَاءُ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ مَبۡنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ فِي مَحَلِّ رَفۡعٍ فَاعِلٌ.
Contoh af'alul khamsah yang bersambung dengan alif itsnain adalah ucapanmu: لَمۡ يَكۡتُبَا dan firman Allah ta'ala: لَا تَخَافَآ (QS. Thaha: 46).
Contoh af'alul khamsah yang bersambung dengan wawu jama'ah adalah ucapanmu: لَمۡ يَكۡتُبُوا dan firman Allah ta'ala: وَلَا تُسۡرِفُوا (QS. Al-A'raf: 31).
Contoh af'alul khamsah yang bersambung dengan ya` muannats mukhathabah adalah ucapanmu: لَمۡ تَكۡتُبِي dan firman Allah ta'ala: وَلَا تَخَافِى (QS. Al-Qashash: 7). Jadi setiap fi'il dari fi'il-fi'il ini adalah dijazm dengan لَمۡ atau لَا nahi (larangan). Tanda jazmnya adalah dihilangkannya huruf nun sebagai ganti dari sukun, karena ia termasuk af'alul khamsah.
Adapun huruf alif, wawu, atau ya` adalah dhamir muttashil mabni atas harakat sukun pada kedudukan rafa' sebagai fa'il.

Lihat pula:

Taisirul 'Allam - Hadits ke-8

الۡحَدِيثُ الثَّامِنُ

٨ – عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى الۡمَازِنِيِّ عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: شَهِدۡتُ عَمۡرَو بۡنَ أَبِي الۡحَسَنِ سَأَلَ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ زَيۡدٍ عَنۡ وُضُوءِ النَّبِيِّ ﷺ، فَدَعَا بِتَوۡرٍ[1] مِنۡ مَاءٍ فَتَوَضَّأَ لَهُمۡ وُضُوءَ النَّبِيِّ ﷺ، فَأَكۡفَأَ عَلَى يَدَيۡهِ مِنَ التَّوۡرِ فَغَسَلَ يَدَيۡهِ ثَلَاثًا، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فِي التَّوۡرِ فَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ وَاسۡتَنۡثَرَ ثَلَاثًا بِثَلَاثِ غُرۡفَاتٍ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فِي التَّوۡرِ فَغَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَيۡهِ فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَيۡهِ فَمَسَحَ بِهِمَا رَأۡسَهُ فَأَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ[2].
وَفِي رِوَايَةٍ (بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأۡسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الۡمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنۡهُ).
وَفِي رِوَايَةٍ (أَتَانَا[3] رَسُولُ اللهِ ﷺ فَأَخۡرَجۡنَا لَهُ مَاءً فِي تَوۡرٍ مِنۡ صُفۡرٍ). مُتَّفَقٌ عَلَيۡهِ. (التَّوۡر) شِبۡهُ الطَّسۡتِ.
8. Dari ‘Amr bin Yahya Al-Mazini dari ayahnya, beliau berkata: Aku menyaksikan ‘Amr bin Abul Hasan bertanya kepada ‘Abdullah bin Zaid tentang wudhu` Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, beliau minta didatangkan satu bejana air, lalu memperagakan kepada mereka wudhu` Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menuangkan air dari bejana ke dua telapak tangannya lalu beliau cuci kedua tangannya sebanyak tiga kali. Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana, kemudian berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung, dan mengeluarkannya sebanyak tiga kali dengan tiga kali cidukan. Kemudian beliau masukkan tangan ke dalam bejana, lalu membasuh wajah sebanyak tiga kali. Kemudian beliau masukkan tangan ke bejana lalu beliau basuh keduanya sebanyak dua kali sampai kedua siku. Kemudian beliau masukkan kedua tangan ke bejana, lalu mengusap kepala dengan cara beliau maju mundurkan kedua telapak tangan sebanyak satu kali. Kemudian beliau membasuh kedua kaki.
Dalam riwayat lain, “Beliau mulai dari depan kepala, beliau usap sampai tengkuk. Kemudian beliau kembalikan sampai kembali ke tempat awal.”
Dalam riwayat lain, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi kami, lalu kami keluarkan air untuk beliau di dalam sebuah bejana dari tembaga.” (Muttafaq ‘alaih). Taur mirip baskom.

غَرِيبُ الۡحَدِيثِ:

١- بِتَوۡرٍ مِنۡ مَاءٍ- بِالۡمثناة الطَّسۡتِ، وَهُوَ الۡإِنَاءُ الصَّغِيرُ. قَالَ الزَّمَخۡشَرِيُّ: وَهُوَ مُذَكَّرٌ عِنۡدَ أَهۡلِ اللُّغَةِ.
٢- فَأَكۡفَأَ عَلَى يَدَيۡهِ- أَمَالَ، وَصَبَّ عَلَى يَدَيۡهِ. وَفِي بَعۡضِ الرِّوَايَاتِ (عَلَى يَدِهِ) قَالَ ابۡنُ حَجَرٍ: تُحۡمَلُ رِوَايَةُ الۡإِفۡرَادِ عَلَى إِرَادَةِ الۡجِنۡسِ.
٣- مِنۡ صُفۡرٍ –بِضَمِّ الصَّادِ وَسُكُونِ الۡفَاءِ، نَوۡعٌ مِنَ النُّحَاسِ.
٤- إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ: قَالَ الصَّنۡعَانِيُّ: كَذَا فِي نُسۡخَةِ الۡعُمۡدَةِ لَفۡظُ (مَرَّتَيۡنِ) وَلَفۡظُ الۡبُخَارِيِّ فِي هَٰذَا الۡحَدِيثِ (مَرَّتَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ) وَكَذَا فِي مُسۡلِمٍ مُكَرَّرًا وَلَمۡ يُنَبِّهۡ الزَّرۡكَشِيُّ إِلَى هَٰذَا.

Kosa kata asing dalam hadits:

  1. Bitaurin min maa` yaitu bejana kecil. Az-Zamakhsyari berkata: Ia mudzakkar menurut ahli bahasa.
  2. فَأَكۡفَأَ عَلَى يَدَيۡهِ – memiringkan dan menuangkan air ke kedua tangannya. Di dalam sebagian riwayat “ke tangannya”. Ibnu Hajar berkata: Riwayat yang menyebutkan tangan dengan bentuk tunggal maksudnya adalah penyebutan jenis.
  3. Min shufr satu jenis tembaga.
  4. “Sampai kedua siku sebanyak dua kali”. Ash-Shan’ani berkata: Demikianlah dalam naskah Al-‘Umdah, lafazhnya marratain (sebanyak dua kali). Dan lafazh Al-Bukhari pada hadits ini adalah marratain marratain (sebanyak dua kali dua kali). Demikian pula lafazh Imam Muslim juga diulang. Dan Az-Zarkasyi tidak memperhatikan hal ini.

الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِيُّ:

هَٰذَا الۡحَدِيثُ يُعَرَّفُ مَعۡنَاهُ مِمَّا تَقَدَّمَ فِي شَرۡحِ حَدِيثِ عُثۡمَانَ، لِأَنَّ كِلَا الۡحَدِيثَيۡنِ يَصِفُ الۡوُضُوءَ الۡكَامِلَ لِلنَّبِيِّ ﷺ إِلَّا أَنَّهُ يُوجَدُ فِي هَٰذَا الۡحَدِيثِ زِيَادَةَ فَوَائِدَ عَلَى الۡحَدِيثِ السَّابِقِ نَجۡملُهَا فِيمَا يَلِي:
١- صَرَحَ هُنَا بِأَنَّ الۡمَضۡمَضَةَ وَالۡاسۡتِنۡشَاقَ كَانَتَا ثَلَاثًا ثَلَاثًا مِنۡ ثَلَاثِ غُرۡفَاتٍ.
٢- فِي الۡحَدِيثِ السَّابِقِ ذُكِرَ أَنَّ غَسۡلَ الۡيَدَيۡنِ كَانَ ثَلَاثًا، وَفِي هَٰذَا الۡحَدِيثِ ذَكَرَهُ مَرَّتَيۡنِ فَقَطۡ.
٣- قَوۡلُهُ: (ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا) إِفۡرَادُ الۡيَدِ رِوَايَةُ مُسۡلِمٍ وَأَكۡثَرُ رِوَايَاتِ الۡبُخَارِيِّ. قَالَ النَّوَوِيُّ بَعۡدَ ذِكۡرِهِ أَحَادِيثَ الرِّوَايَتَيۡنِ. هِيَ دَالَّةٌ عَلَى أَنَّ ذٰلِكَ سُنَّةٌ، وَلَكِنۡ الۡمَشۡهُورُ الَّذِي قَطَعَ بِهِ الۡجُمۡهُورُ أَنَّ الۡمُسۡتَحَبَّ أَخۡذُ الۡمَاءِ لِلۡوَجۡهِ بِالۡيَدَيۡنِ جَمِيعًا لِكَوۡنِهِ أَسۡهَلَ وَأَقۡرَبَ إِلَى الۡإِسۡبَاغِ.
٤- وَقَالَ فِي الۡحَدِيثِ السَّابِقِ: (ثُمَّ مَسَحَ بِرَأۡسِهِ) وَهَٰذَا التَّعۡبِيرُ يُمۡكِنُ تَأۡوِيلَهُ بِبَعۡضِ الرَّأۡسِ كَمَا أُوِّلَتۡ الۡآيَةُ: ﴿وَامۡسَحُوا بِرُءُوسِكُمۡ﴾ [المائدة: ٦].
وَفِي هَٰذَا الۡحَدِيثِ صَرَحَ بِمَسۡحِهِ كُلِّهِ، وَفَصَلَ كَيۡفِيَةَ الۡمَسۡحِ، وَالشَّرۡعُ يُبَيِّنُ بَعۡضَهُ بَعۡضًا، فَدَلَّ عَلَى وُجُوبِ مَسۡحِهِ كُلِّهِ كَمَا تَقَدَّمَ.
٥- فِي الۡحَدِيثَيۡنِ يُذۡكَرُ عِنۡدَ الۡمَضۡمَضَةِ وَالۡاسۡتِنۡشَاقِ أَنَّهُ يُدۡخِلُ يَدًا وَاحِدَةً.
وَفِي هَٰذَا الۡحَدِيثِ، ذُكِرَ أَنَّهُ أَدۡخَلَ يَدَيۡهِ عِنۡدَ غَسۡلِهِمَا وَمَسۡحِ الرَّأۡسِ بِيَدَيۡهِ، أَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً. قَالَ أَبُو دَاوُدَ: أَحَادِيثُ الصِّحَاحِ كُلُّهَا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ مَسۡحَ الرَّأۡسِ مَرَّةً وَاحِدَةً. قَالَ ابۡنُ الۡمُنۡذِرِ: إِنَّ الثَّابِتَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي الۡمَسۡحِ مَرَّةً وَاحِدَةً.
٦- الۡحَدِيثُ صَرَّحَ بِغُسۡلِ الرِّجۡلَيۡنِ وَهُنَا لَمۡ يَذۡكُرۡهُ، وَغَسۡلِهِمَا مِنَ الۡفُرُوضِ الۡمُتَّفَقِ عَلَيۡهَا، فَلَا يَكُونُ فِي تَرۡكِ ذِكۡرِهِمَا هُنَا، مَا يَدُلُّ عَلَى عَدَمِ وُجُوبِ غَسۡلِهِمَا.
٧- يُؤۡخَذُ مِنۡ هَٰذَا، جَوَازُ مُخَالِفَةِ أَعۡضَاءِ الۡوُضُوءِ بِتَفۡضِيلِ بَعۡضِهَا عَلَى بَعۡضٍ، وَأَنَّ التَّثۡلِيثَ هُوَ الصِّفَةُ الۡكَامِلَةُ وَمَا دُونَهَا يُجۡزِئُ، كَمَا صَحَّتۡ بِذٰلِكَ الۡأَحَادِيثُ.
٨- اخۡتَلَفَ الۡعُلَمَاءُ فِي الۡبَدَاءَةِ بِالۡمَسۡحِ فَهِيَ مِنَ الۡمُقَدَّمِ إِلَى الۡمُؤَخَّرِ عِنۡدَ ابۡنِ دَقِيقِ الۡعِيدِ وَالصَّنۡعَانِيِّ. وَفَهِمَ بَعۡضُهُمۡ مِنۡ قَوۡلِهِ: (فَأَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ) أَنَّ الۡمَسۡحَ مِنۡ مُؤَخَّرِ الرَّأۡسِ إِلَى مُقَدَّمِهِ. ثُمَّ يُعَادُ بِالۡيَدَيۡنِ إِلَى قَفَا الرَّأۡسِ.

Faidah hadits:

Hadits ini diketahui maknanya dari penjelasan hadits ‘Utsman sebelumnya. Karena masing-masing dua hadits ini menjelaskan tata cara wudhu` sempurna Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja, di dalam hadits ini terdapat tambahan faidah dibandingkan hadits sebelumnya sebagaimana berikut ini:
  1. Dalam hadits ini dijelaskan bahwa berkumur-kumur dan istinsyaq itu sebanyak tiga kali dari tiga kali cidukan.
  2. Dalam hadits yang lalu disebutkan bahwa membasuh tangan itu sebanyak tiga kali sedang dalam hadits ini disebutkan membasuh tangan hanya dua kali.
  3. Ucapan beliau: “Kemudian beliau masukkan satu tangannya, lalu membasuh wajah sebanyak tiga kali.” Penyebutan satu tangan terdapat dalam satu riwayat Imam Muslim dan sebagian besar riwayat Imam Al-Bukhari. An-Nawawi berkata setelah menyebutkan hadits-hadits kedua riwayat, ini menunjukkan bahwa hal tersebut sunnah. Akan tetapi yang masyhur adalah yang mayoritas ulama tetapkan bahwa disukai mengambil air untuk wajah menggunakan kedua telapak tangan bersamaan, karena cara ini lebih mudah dan lebih dekat kepada penyempurnaan wudhu`.
  4. Beliau mengatakan dalam hadits yang lalu: “Kemudian mengusap kepala.” Ungkapan ini bisa saja ditafsirkan dengan sebagian kepala, sebagaimana dalam menafsirkan ayat yang artinya, “Dan usaplah kepala-kepala kalian.” (QS. Al-Maidah: 6). Sedangkan dalam hadits ini dijelaskan yang dimaksud adalah mengusap seluruh kepala dan dirinci tata cara mengusap. Dan dalil syariat itu sebagiannya menjelaskan sebagian yang lain, sehingga hadits ini menunjukkan wajibnya mengusap kepala seluruhnya, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
  5. Pada dua hadits ini disebutkan bahwa ketika kumur-kumur dan memasukkan air ke hidung menggunakan satu tangan. Dan dalam hadits ini disebutkan bahwa beliau memasukkan kedua tangan ketika membasuh kedua tangan dan mengusap kepala menggunakan kedua tangan, beliau maju dan mundurkan kedua tangannya satu kali. Abu Dawud berkata: Hadits-hadits yang shahih, seluruhnya menunjukkan bahwa mengusap kepala itu satu kali. Ibnul Mundzir berkata: Sesungguhnya yang telah pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mengusap itu satu kali.

  6. Diambil faidah dari hadits ini, bolehnya membeda-bedakan anggota-anggota wudhu` dengan melebihkan jumlah basuhan pada sebagian di atas sebagian lainnya. Dan bahwa jumlah tiga adalah sifat yang sempurna, adapun di bawah tiga juga mencukupi, sebagaimana telah sahih terdapat dalam beberapa hadits.
  7. Ulama berbeda pendapat mengenai tempat awal mengusap kepala. Ada yang berpendapat dari depan ke belakang, seperti Ibnu Daqiqil ‘Id dan Ash-Shan’ani. Sebagian ulama memahami dari sabda beliau, “Beliau majukan kedua telapak tangan lalu mundurkan”, bahwa mengusap diawali dari belakang kepala ke depan kemudian kedua telapak tangan dikembalikan ke tengkuk.

[1] قَالَ الزَّرۡكَشِيُّ: لَفۡظة (التَّوۡر) لَيۡسَتۡ فِي شَيۡئٍ مِنۡ مَرۡوِيَاتِ الۡبُخَارِيِّ، وَإِنَّمَا هِيَ مۡنِ مُفۡرَدَاتِ (مُسۡلِمٍ). وَهَٰذَا وَهۡمٌ مِنۡهُ، فَقَدۡ جَاءَتۡ فِي صَحِيحِ الۡبُخَارِيِّ، فِي حَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ، فِي بَابِ غُسۡلِ الرِّجۡلَيۡنِ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ. وَقَالَ الصَّنۡعَانِيُّ: إِنِّي تَتَبَّعۡتُ رِوَايَةَ مُسۡلِمٍ لِهَٰذَا الۡحَدِيثِ فَلَمۡ أَجِدۡ (التَّوۡر). 
[2] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (١٨٥) فِي الۡوُضُوءِ، وَمُسۡلِمٌ (٢٣٥) فِي الطَّهَارَةِ وَمَالِكٌ فِي الۡمُوَطَّأِ (١/١٨) فِي الطَّهَارَةِ، وَأَبُو دَاوُدَ (١١٨)، (١١٩)، (١٢٠) فِي الطَّهَارَةِ، وَالتِّرۡمِذِيُّ (٣٥) فِي الطَّهَارَةِ، (٤٧) فِي الطَّهَارَةِ أَيۡضًا، وَالنَّسَائِيُّ (١/ ٧١، ٧٢) فِي الطَّهَارَةِ. وَانۡظُرۡ فَتۡحَ الۡبَارِي لِلۡحَافِظِ ابۡنِ حَجَرٍ (١/٢٨٩-٢٩٤). 
[3] مِنۡ قَوۡلِهِ أَتَانَا ... إلخ، مِنۡ أَفۡرَادِ (مُسۡلِمٍ).

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 98

٨١ – بَابُ صِفَةِ مَسۡحِ الرَّأۡسِ

81. Bab cara mengusap kepala

٩٨ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عُتۡبَةُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ مَالِكٍ - هُوَ ابۡنُ أَنَسٍ -، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّهُ قَالَ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ عَاصِمٍ - وَهُوَ جَدُّ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى -: هَلۡ تَسۡتَطِيعُ أَنۡ تُرِيَنِي كَيۡفَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَتَوَضَّأُ؟ قَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَيۡدٍ: نَعَمۡ، فَدَعَا بِوَضُوءٍ، فَأَفۡرَغَ عَلَى يَدِهِ الۡيُمۡنَى، فَغَسَلَ يَدَيۡهِ مَرَّتَيۡنِ، ثُمَّ مَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيۡهِ مَرَّتَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، ثُمَّ مَسَحَ رَأۡسَهُ بِيَدَيۡهِ، فَأَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ؛ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأۡسِهِ، ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا، حَتَّى رَجَعَ إِلَى الۡمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنۡهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ. [انظر ما قبله].
98. 'Utbah bin 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami, dari Malik bin Anas, dari 'Amr bin Yahya, dari ayahnya. Bahwa beliau berkata kepada 'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim, kakek 'Amr bin Yahya: Apakah engkau bisa memperlihatkan kepadaku bagaimana dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berwudhu`? 'Abdullah bin Zaid berkata: Iya bisa. Beliau meminta didatangkan air. Lalu beliau menuangkan ke telapak tangan kanan dan membasuh kedua tangannya dua kali. Kemudian beliau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membasuh wajah tiga kali. Kemudian beliau membasuh kedua tangannya dua kali-dua kali sampai kedua siku. Kemudian beliau mengusap kepala dengan kedua tangan. Beliau menggerakkan kedua tangannya ke depan dan ke belakang. Beliau mulai dari depan kepala kemudian beliau gerakkan kedua tangannya sampai tengkuk. Lalu beliau kembalikan ke tempat semula. Kemudian beliau membasuh kedua kaki.

Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu

Di awal munculnya dakwah tauhid, Abu Sufyan Shakhr bin Harb adalah salah seorang pemimpin utama Bani Quraisy di Makkah yang sangat menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah pemimpin Bani Abdus Syams. Ia dilahirkan sepuluh tahun sebelum terjadinya penyerbuan tentara gajah ke Makkah. Ia sering memimpin kafilah perdagangan kaum Quraisy ke negeri Syam dan ke negeri ‘ajam (selain Arab) lainnya. Ia gemar keluar dengan membawa panji para pemimpin yang dikenal dengan “Al-‘Uqab”. Panji itu tidak dipegang melainkan oleh pemimpin Quraisy. Kalau terjadi peperangan, panji itu pun hanya dipegang olehnya.

Abu Sufyan sebelum Islam


Dia seorang saudagar terkenal, banyak mengenal keinginan pasar. Sebagai tokoh masyarakat Quraisy, ia banyak mengetahui gaya hidup masyarakatnya. Ia juga seperti yang dikatakan banyak orang, antara lain al-‘Abbas bin Abdul Muththalib sebagai seorang yang senang dipuji dan dibanggakan orang.

Tatkala Abu Sufyan mendengar dakwah yang dikumandangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia termasuk orang yang paling gigih melawan dan memeranginya. Saat kaum musyrikin menginginkan supaya Abu Thalib menyerahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum musyrikin untuk dibunuh, dia ikut menyertai delegasi kaum Quraisy tersebut.

Abu Sufyan juga pernah mengadakan persekutuan jahat dengan pemimpin Quraisy lainnya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin, dengan mendatangkan surat pernyataan memblokade Bani Hasyim, yaitu tidak mengadakan hubungan perkawinan dan jual beli dengan mereka. Demikian sepak terjang Abu Sufyan di masa sebelum keislamannya.

Kekerasan-kekerasan yang terjadi oleh tokoh Quraisy dan pengikut mereka dari kalangan musyrikin, membuat sekelompok muslim Makkah hijrah ke Habasyah demi memperoleh perlindungan. Tak ketinggalan putri Abu Sufyan yang bernama Ramlah binti Abu Sufyan termasuk salah seorang di antara mereka. Ramlah bintu Abu Sufyan radhiyallahu ‘anha sendiri telah mendahului ayahnya dalam memeluk Islam saat itu.

Abu Sufyan jugalah orang Arab yang pernah diajak berbicara oleh Heraklius, Raja Romawi kala itu. Terjadilah perbincangan antara mereka tentang sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam perbincangan ini Abu Sufyan berlaku jujur, sebab kaum Arab memandang bahwa sikap dusta tercela di sisi mereka. Di akhir pembicaraan tersebut Abu Sufyan berkata, “Aku keluar dari hadapan Kaisar Heraklius dengan rasa takjub.” Lalu berkata, “Sungguh menakjubkan keadaan Ibnu Abi Kabsyah ini (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kaisar Romawi merasa takut kekuasaannya akan terancam.”

Akan tetapi, mengapa Abu Sufyan tidak cepat masuk Islam? Apakah ia ragu-ragu akan kejujuran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Raja Romawi tidak mengingkari kenabian Muhammad. Malah, kalau ia ada di hadapannya, tentu ia akan mencuci kedua kakinya. Sesungguhnya, rintangan utama yang menghalang-halangi Abu Sufyan masuk Islam saat itu adalah soal kekuasaan dan kewibawaan, yaitu kepemimpinan Quraisy. Dia khawatir semuanya itu akan jatuh ke tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada saat kaum muslimin telah berhijrah ke negeri Madinah, mulailah jelas kekuatan kaum muslimin. Di bawah pengaturan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung kaum muslimin telah siap untuk membela agama dan diri mereka dari kaum musyrikin.

Suatu ketika Abu Sufyan memimpin sebuah kafilah dagang. Sebuah pasukan muslim di bawah pimpinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu berusaha untuk mencegatnya, tujuan awalnya adalah mengambil harta yang dibawa kafilah dagang tersebut sebagai ganti harta mereka yang dahulu mereka tinggalkan di Makkah dan kemudian dirampas oleh kaum musyrikin. Namun, Abu Sufyan berhasil meminta bantuan dari Quraisy di Makkah dengan mengirim utusan yang bernama Dhamdham bin Amru al-Ghifari. Ini adalah penyebab terjadinya perang Badar, yang kemudian berakhir dengan kemenangan kaum muslim. Di lain pihak, Abu Sufyan berhasil membawa kafilahnya pulang dengan selamat ke Makkah. Kematian beberapa pemimpin Quraisy dalam pertempuran tersebut menyebabkan Abu Sufyan menjadi pemimpin utama Makkah.

Abu Sufyan selanjutnya berperan sebagai pemimpin militer Makkah dalam peperangan melawan Madinah, antara lain dalam perang Uhud dan Khandaq, tetapi tidak berhasil mencapai kemenangan secara gemilang. Akhirnya kedua pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata dengan Perjanjian Hudaibiyyah, yang memungkinkan umat Islam untuk melakukan umrah ke Ka’bah.

Penaklukan Makkah


Ketika gencatan senjata tersebut dilanggar oleh Bani Bakar yang menjadi sekutu Quraisy, maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menggerakkan pasukan Muslim untuk menaklukkan Makkah. Abu Sufyan kini merasa bahwa Quraisy sudah tidak cukup kuat untuk dapat menghalangi kaum muslim, sebab telah banyak kabilah arab yang masuk Islam atau menjadi sekutu kaum Muslimin. Kabilah Aslam, Juhainah, barisan Muhajirin dan Anshar, dan seterusnya.

Ia pun melakukan perjalanan ke Madinah dan berusaha untuk mengembalikan perjanjian tersebut. Tidak ada kesepakatan yang berhasil dicapai antara kedua belah pihak, dan Abu Sufyan kembali ke Makkah dengan tangan kosong.

Abu Sufyan dalam Rengkuhan Islam


Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan Abu Sufyan masuk Islam dan menjadi penyeru Islam. Orang yang selama bertahun-tahun menjadi panglima kaum musyrikin, kini sudah menjadi seorang tentara Allah. Ayah dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, sang penulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kini sudah masuk Islam. Kini, Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu ikut serta menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru bumi yang jauh. Ayah Ummu Habibah Ramlah bintu Abi Sufyan, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah masuk Islam. Ayah Yazid bin Abi Sufyan, kini sudah masuk Islam. Isterinya Hindun bintu Utbah pun, yang dinyatakan sebagai salah seorang penjahat perang, telah masuk Islam juga, malah ia telah menghancurluluhkan berhala yang ada di rumahnya, seraya berkata, “Selama ini, kami tertipu oleh kamu!”

Kehidupan Abu Sufyan berjalan mulus dalam pangkuan Islam. Setelah penaklukan Makkah, Abu Sufyan menjadi salah seorang panglima perang kaum muslim dalam peperangan selanjutnya. Dalam pengepungan Tha’if, ia kehilangan sebelah matanya. Abu Sufyan sedang bertugas di Najran ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal. Abu Sufyan juga berperang dalam Pertempuran Yarmuk. Dalam pertempuran itu, ia kehilangan matanya yang kedua. Semoga Allah memberikan pahala yang setimpal kepada Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu.

Meninggalnya


Ia meninggal dunia pada tahun 30 H, atau 31 H, dan dalam riwayat lain 34 H, di usia 88 tahun pada zaman Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Jenazahnya dishalati oleh putranya, Mu’awiyah, dan dikuburkan di Baqi’. [Hammam]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 39 volume 04 1435 H / 2014 M, rubrik Figur.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 97

٨٠ – بَابُ حَدِّ الۡغَسۡلِ

80. Bab batasan membasuh

٩٧ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سَلَمَةَ وَالۡحَارِثُ بۡنُ مِسۡكِينٍ قِرَاءَةً عَلَيۡهِ وَأَنَا أَسۡمَعُ وَاللَّفۡظُ لَهُ، عَنۡ ابۡنِ الۡقَاسِمِ، قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى الۡمَازِنِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّهُ قَالَ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ عَاصِمٍ - وَكَانَ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، وَهُوَ جَدُّ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى -: هَلۡ تَسۡتَطِيعُ أَنۡ تُرِيَنِي كَيۡفَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَتَوَضَّأُ؟ قَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَيۡدٍ: نَعَمۡ، فَدَعَا بِوَضُوءٍ، فَأَفۡرَغَ عَلَى يَدَيۡهِ، فَغَسَلَ يَدَيۡهِ مَرَّتَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ، ثُمَّ تَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيۡهِ مَرَّتَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، ثُمَّ مَسَحَ رَأۡسَهُ بِيَدَيۡهِ، فَأَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ؛ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأۡسِهِ، ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الۡمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنۡهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ. [(صحيح أبي داود) (١٠٩)، ق].
97. Muhammad bin Salamah dan Al-Harits bin Miskin telah menceritakan kepada kami dengan membacakan riwayat dan aku mendengar, dan lafazh ini milik beliau. Dari Ibnul Qasim, beliau berkata: Malik menceritakan kepadaku, dari 'Amr bin Yahya Al-Mazini, dari ayahnya, bahwa beliau berkata kepada 'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim -beliau ini shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan kakek 'Amr bin Yahya-: Apakah engkau mampu memperlihatkan kepadaku, bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dulu biasa berwudhu`? 'Abdullah bin Zaid berkata: Ya. Beliau minta didatangkan air, lalu beliau tuang ke kedua tangannya, lalu mencuci kedua telapak tangannya dua kali-dua kali. Kemudian beliau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membasuh tiga kali. Kemudian beliau membasuh kedua tangannya dua kali-dua kali sampai siku. Kemudian beliau mengusap kepala dengan kedua tangannya. Beliau gerakkan kedua tangannya ke depan dan ke belakang. Beliau mulai dari bagian depan kepala kemudian beliau gerakkan kedua telapak tangannya sampai tengkuk, kemudian beliau kembalikan sampai kembali ke tempat semula. Kemudian beliau mencuci kedua kaki.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 47

٣٦ – بَابُ مَا جَاءَ فِيمَنۡ يَتَوَضَّأُ بَعۡضَ وُضُوئِهِ مَرَّتَيۡنِ وَبَعۡضَهُ ثَلَاثًا

36. Bab mengenai orang yang berwudhu` sebagian dua kali dan sebagiannya tiga kali

٤٧ – (صحيح الإسناد، وَقَوۡلُهُ فِي الرِّجۡلَيۡنِ: (مَرَّتَيۡنِ) شَاذٌّ) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي عُمَرَ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَىٰ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَوَضَّأَ فَغَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، وَغَسَلَ يَدَيۡهِ مَرَّتَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ، وَمَسَحَ بِرَأۡسِهِ، وَغَسَلَ رِجۡلَيۡهِ. هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَقَدۡ ذُكِرَ فِي غَيۡرِ حَدِيثٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَوَضَّأَ بَعۡضَ وُضُوئِهِ مَرَّةً وَبَعۡضَهُ ثَلَاثًا. وَقَدۡ رَخَّصَ بَعۡضُ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ فِي ذٰلِكَ؛ لَمۡ يَرَوۡا بَأۡسًا أَنۡ يَتَوَضَّأَ الرَّجُلُ بَعۡضَ وُضُوئِهِ ثَلَاثًا، وَبَعۡضَهُ مَرَّتَيۡنِ أَوۡ مَرَّةً. [(صحيح أبي داود)(١٠٩)].
47. Muhammad bin Abu 'Umar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Sufyan bin 'Uyainah menceritakan kepada kami, dari 'Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari 'Abdullah bin Zaid; Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu`, beliau membasuh wajahnya tiga kali, membasuh kedua tangannya dua kali dua kali, mengusap kepalanya, dan membasuh kedua kakinya. Ini adalah hadits hasan shahih. Dan telah disebutkan pada lebih dari satu hadits; Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu` pada sebagian wudhu`nya satu kali dan sebagian lainnya tiga kali. Sebagian ulama memberi keringanan pada hal tersebut; Mereka berpendapat tidak mengapa seseorang berwudhu` sebagian wudhu`nya tiga kali dan sebagian lainnya dua kali atau satu kali.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 35

٢٧ – بَابُ مَا جَاءَ أَنَّهُ يَأۡخُذُ لِرَأۡسِهِ مَاءً جَدِيدًا

27. Bab bahwa beliau mengambil air yang baru untuk mengusap kepala

٣٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ خَشۡرَمٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ الۡحَارِثِ، عَنۡ حَبَّانَ بۡنِ وَاسِعٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ؛ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ تَوَضَّأَ، وَأَنَّهُ مَسَحَ رَأۡسَهُ بِمَاءٍ غَيۡرِ فَضۡلِ يَدَيۡهِ. هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَرَوَى ابۡنُ لَهِيعَةَ هَٰذَا الۡحَدِيثَ، عَنۡ حَبَّانَ بۡنِ وَاسِعٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَوَضَّأَ، وَأَنَّهُ مَسَحَ رَأۡسَهُ بِمَاءٍ غُبۡرِ فَضۡلِ يَدَيۡهِ. وَرِوَايَةُ عَمۡرِو بۡنِ الۡحَارِثِ، عَنۡ حَبَّانَ أَصَحُّ لِأَنَّهُ قَدۡ رُوِيَ مِنۡ غَيۡرِ وَجۡهٍ هَٰذَا الۡحَدِيثُ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ وَغَيۡرِهِ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَخَذَ لِرَأۡسِهِ مَاءً جَدِيدًا. وَالۡعَمَلُ عَلَى هَٰذَا عِنۡدَ أَكۡثَرِ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ؛ رَأَوۡ أَنۡ يَأۡخُذَ لِرَأۡسِهِ مَاءً جَدِيدًا. [(صحيح أبي داود)(١١١): م].
35. 'Ali bin Khasyram telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: 'Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami, beliau berkata: 'Amr bin Al-Harits menceritakan kepada kami, dari Habban bin Wasi', dari ayahnya, dari 'Abdullah bin Zaid; Bahwa beliau melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu` dan Nabi mengusap kepala dengan air baru, bukan dengan air sisa untuk membasuh kedua tangannya. Ini adalah hadits hasan shahih. Ibnu Lahi'ah meriwayatkan hadits ini, dari Habban bin Wasi', dari ayahnya, dari 'Abdullah bin Zaid; Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu` dan beliau mengusap kepala beliau dengan air sisa basuhan kedua tangannya. Namun, riwayat 'Amr bin Al-Harits, dari Habban lebih shahih karena ia hadits ini juga diriwayatkan lebih dari satu jalan dari 'Abdullah bin Zaid dan selain beliau; Yaitu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil air yang baru untuk mengusap kepala. Kebanyakan ulama mengamalkan hal ini; mereka berpendapat mengambil air yang baru untuk mengusap kepala.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Tempat Sukun

مَوۡضِعُ السُّكُونِ

قَالَ: فَأَمَّا السُّكُونُ فَيَكُونُ عَلَامَةً لِلۡجَزۡمِ فِي الۡفِعۡلِ الۡمُضَارِعِ الصَّحِيحِ الۡآخِرِ.
Adapun sukun merupakan tanda jazm pada fi'il mudhari' shahih akhir.
أَقُولُ: السُّكُونُ هُوَ الۡعَلَامَةُ الۡأَصۡلِيَّةُ لِلۡجَزۡمِ كَمَا تَقَدَّمَ؛ وَلِهَٰذَا بَدَأَ بِهِ الۡمُصَنِّفُ، وَهُوَ يَكُونُ عَلَامَةً عَلَى جَزۡمِ الۡكَلِمَةِ فِي مَوۡضِعٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ: الۡفِعۡلُ الۡمُضَارِعُ الصَّحِيحُ الۡآخِرُ.
وَمَعۡنَى كَوۡنِهِ صَحِيحَ الۡآخِرِ: أَنَّ آخِرَهُ لَيۡسَ مُنۡتَهِيًا بِحَرۡفٍ مِنۡ حُرُوفِ الۡعِلَّةِ الثَّلَاثَةِ، وَهِيَ: الۡأَلِفُ، وَالۡوَاوُ، وَالۡيَاءُ.
Sukun adalah tanda asli untuk jazm sebagaimana telah berlalu. Oleh karena itulah, penyusun memulai dengannya. Sukun adalah tanda jazm suatu kata di satu tempat, yaitu: fi'il mudhari' shahih akhir.
Makna shahih akhir adalah bahwa akhir fi'il mudhari' tersebut tidak diakhiri dengan salah satu huruf dari huruf 'illah yang tiga, yaitu: alif, wawu, dan ya`.
فَمِثَالُ الۡفِعۡلِ الۡمُضَارِعِ الصَّحِيحِ الۡآخِرِ الۡمَجۡزُومِ قَوۡلُكَ: (لَمۡ يُهۡمِلۡ زَيۡدٌ أَوۡلَادَهُ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ﴾ [الإخلاص: ٣] فَكُلٌّ مِنۡ (يُهۡمِلۡ وَيَلِدۡ وَيُولَدۡ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِـ(لَمۡ) وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ السُّكُونُ الظَّاهِرُ عَلَى آخِرِهِ؛ لِأَنَّهُ صَحِيحُ الۡآخِرُ.
Contoh fi'il mudhari' shahih akhir yang dijazm adalah ucapanmu: لَمۡ يُهۡمِلۡ زَيۡدٌ أَوۡلَادَهُ dan firman Allah ta'ala: لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ (QS. Al-Ikhlash: 3). Jadi setiap dari يُهۡمِلۡ, يَلِدۡ, dan يُولَدۡ adalah fi'il mudhari' yang dijazm dengan لَمۡ. Tanda jazmnya adalah sukun yang tampak di akhir kata, karena kata tersebut shahih akhir.

Kiat Memperkokoh Tauhid

Tanya: Saya mau memperkokoh tauhid. Ada solusi: buku atau pengajian yang bisa saya ikuti? Wassalam. (081...@satelindogsm.com)

Jawab: Banyak yang bisa Anda lakukan, Anda bisa membaca buku misalnya Penjelasan Tiga Landasan Utama karya Syaikh Ibnu Utsaimin, Kitab Tauhid karya Syaikh Sholeh bin Fauzan, Al Qoulul Mufid fi Adilati Tauhid, Fathul Majid, dan lain sebagainya. Atau jika Anda banyak waktu, Anda dapat hadir di pengajian-pengajian kami, jika tidak, kami juga menyediakan kaset-kaset yang membahas masalah tauhid. Jazakallahu khoir.

Sumber: Buletin Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-24 Tahun ke-1 / 30 Mei 2003 M / 28 Rabi'ul Awwal 1424 H.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 120

١٢٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ السَّرۡحِ، قَالَ: ثَنا ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ الۡحَارِثِ، أَنَّ حَبَّانَ بۡنَ وَاسِعٍ حَدَّثَهُ، أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ زَيۡدِ بۡنِ عَاصِمٍ الۡمَازِنِيَّ يَذۡكُرُ أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللهِ ﷺ فَذَكَرَ وُضُوءَهُ وَقَالَ: وَمَسَحَ رَأۡسَهُ بِمَاءٍ غَيۡرِ فَضۡلِ يَدَيۡهِ، وَغَسَلَ رِجۡلَيۡهِ حَتَّى أَنۡقَاهُمَا. [م].
120. Ahmad bin 'Amr bin As-Sarh telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, dari 'Amr bin Al-Harits, bahwa Habban bin Wasi' menceritakan kepadanya, bahwa ayahnya menceritakan kepadanya, bahwa beliau mendengar 'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim Al-Mazini menyebutkan bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beliau menyebutkan wudhu` beliau. Beliau berkata: Beliau mengusap kepalanya dengan air yang bukan sisa digunakan untuk membasuh kedua tangannya. Dan beliau membasuh kedua kakinya sampai membersihkannya.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 119

١١٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ: نا خَالِدٌ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى الۡمَازِنِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ عَاصِمٍ، بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ قَالَ: فَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ مِنۡ كَفٍّ وَاحِدَةٍ، يَفۡعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثًا، ثُمَّ ذَكَرَ نَحۡوَهُ. [ق].
119. Musaddad telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Khalid menceritakan kepada kami, dari 'Amr bin Yahya Al-Mazini, dari ayahnya, dari 'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim, dengan hadits ini, beliau berkata: Beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dari satu telapak tangan, beliau melakukannya tiga kali. Kemudian beliau menyebutkan semisal hadits tersebut.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 118

١١٨ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى الۡمَازِنِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ: أَنَّهُ قَالَ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ عَاصِمٍ - وَهُوَ جَدُّ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى [الۡمَازِنِيِّ] - هَلۡ تَسۡتَطِيعُ أَنۡ تُرِيَنِي كَيۡفَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَيۡدٍ: نَعَمۡ، فَدَعَا بِوَضُوءٍ، فَأَفۡرَغَ عَلَى يَدَيۡهِ فَغَسَلَ يَدَيۡهِ، ثُمَّ تَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡثَرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيۡهِ مَرَّتَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، ثُمَّ مَسَحَ رَأۡسَهُ بِيَدَيۡهِ فَأَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ: بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأۡسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الۡمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنۡهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ. [ق].
118. 'Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari 'Amr bin Yahya Al-Mazini, dari ayahnya: Bahwa beliau berkata kepada 'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim, kakek 'Amr bin Yahya Al-Mazini: Apakah engkau bisa memperlihatkan kepada saya bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu berwudhu`? 'Abdullah bin Zaid berkata: Iya. Lalu beliau meminta didatangkan air. Beliau menuangkan ke kedua tangannya lalu mencuci kedua tangannya. Kemudian berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali. Kemudian membasuh wajah tiga kali. Kemudian membasuh kedua tangan dua kali dua kali sampai siku. Kemudian mengusap kepala dengan kedua tangannya. Beliau gerakkan kedua tangannya ke depan dan ke belakang. Beliau mulai dari depan kepala lalu beliau gerakkan kedua tangannya sampai ke tengkuk. Kemudian beliau kembalikan kedua tangannya sampai kembali ke tempat semula. Kemudian beliau membasuh kedua kaki.

Shahih Muslim hadits nomor 235

٧ – بَابٌ فِي وَضُوءِ النَّبِيِّ ﷺ

7. Bab mengenai wudhu` Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

١٨ – (٢٣٥) – حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ الصَّبَّاحِ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَىٰ بۡنِ عُمَارَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ عَاصِمٍ الۡأَنۡصَارِيِّ - وَكَانَتۡ لَهُ صُحۡبَةٌ - قَالَ: قِيلَ لَهُ: تَوَضَّأۡ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَدَعَا بِإِنَاءٍ، فَأَكۡفَأَ مِنۡهَا عَلَى يَدَيۡهِ، فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثًا، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فَاسۡتَخۡرَجَهَا، فَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ مِنۡ كَفٍّ وَاحِدَةٍ، فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فَاسۡتَخۡرَجَهَا فَغَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فَاسۡتَخۡرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيۡهِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، مَرَّتَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فَاسۡتَخۡرَجَهَا فَمَسَحَ بِرَأۡسِهِ، فَأَقۡبَلَ بِيَدَيۡهِ وَأَدۡبَرَ، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ، ثُمَّ قَالَ: هَٰكَذَا كَانَ وُضُوءُ رَسُولِ اللهِ ﷺ.
18. (235). Muhammad bin Ash-Shabbah telah menceritakan kepadaku: Khalid bin 'Abdullah menceritakan kepada kami, dari 'Amr bin Yahya bin 'Umarah, dari ayahnya, dari 'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim Al-Anshari -beliau termasuk shahabat-, beliau berkata: Dikatakan kepada beliau: Berwudhu`lah untuk kami seperti wudhu` Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka beliau minta didatangkan bejana, lalu beliau tuangkan air darinya ke kedua telapak tangan, kemudian beliau basuh tiga kali. Setelah itu, beliau masukkan tangannya lalu mengeluarkannya, kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dari satu cidukan telapak tangan. Beliau melakukannya tiga kali. Setelah itu, beliau masukkan tangannya lalu mengeluarkannya, kemudian membasuh wajah sebanyak tiga kali. Setelah itu, beliau masukkan tangannya lalu mengeluarkannya, kemudian membasuh kedua tangan sampai siku, dua kali dua kali. Setelah itu, beliau masukkan tangannya lalu mengeluarkannya, kemudian mengusap kepala. Beliau gerakkan kedua tangannya ke depan dan ke belakang. Setelah itu, beliau membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki. Kemudian beliau berkata: Seperti inilah wudhu` Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
(…) - وَحَدَّثَنِي الۡقَاسِمُ بۡنُ زَكَرِيَّاءَ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ مَخۡلَدٍ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ - هُوَ ابۡنُ بِلَالٍ -، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَىٰ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ،... نَحۡوَهُ، وَلَمۡ يَذۡكُرِ الۡكَعۡبَيۡنِ.
Al-Qasim bin Zakariyya` telah menceritakan kepadaku: Khalid bin Makhlad menceritakan kepada kami, dari Sulaiman bin Bilal, dari 'Amr bin Yahya, dengan sanad ini, semisal hadits tersebut. Namun beliau tidak menyebutkan kedua mata kaki.
(…) - وَحَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ مُوسَىٰ الۡأَنۡصَارِيُّ: حَدَّثَنَا مَعۡنٌ: حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ أَنَسٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَىٰ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، وَقَالَ: مَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡثَرَ ثَلَاثًا. وَلَمۡ يَقُلۡ: مِنۡ كَفِّ وَاحِدَةٍ. وَزَادَ بَعۡدَ قَوۡلِهِ: فَأَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ: بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأۡسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ. ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الۡمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنۡهُ، وَغَسَلَ رِجۡلَيۡهِ.
Ishaq bin Musa Al-Anshari telah menceritakan kepadaku: Ma'n menceritakan kepada kami: Malik bin Anas menceritakan kepada kami, dari 'Amr bin Yahya, dengan sanad ini. Beliau berkata: Beliau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali. Dan beliau tidak mengatakan: Dari satu cidukan telapak tangan. Beliau menambahkan setelah ucapan: Beliau gerakkan kedua tangannya ke depan dan ke belakang: Beliau mulai dari depan kepala kemudian kedua tangannya digerakkan sampai tengkuk. Kemudian beliau kembalikan kedua tangan sampai kembali ke tempat semula. Kemudian beliau membasuh kedua kaki.
(…) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ بِشۡرٍ الۡعَبۡدِيُّ: حَدَّثَنَا بَهۡزٌ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ يَحۡيَىٰ، بِمِثۡلِ إِسۡنَادِهِمۡ، وَاقۡتَصَّ الۡحَدِيثَ. وَقَالَ فِيهِ: فَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ وَاسۡتَنۡثَرَ مِنۡ ثَلَاثِ غَرَفَاتٍ. وَقَالَ أَيۡضًا: فَمَسَحَ بِرَأۡسِهِ فَأَقۡبَلَ بِهِ وَأَدۡبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً.
قَالَ بَهۡزٌ: أَمۡلَىٰ عَلَيَّ وُهَيۡبٌ هَٰذَا الۡحَدِيثَ. وَقَالَ وُهَيۡبٌ: أَمۡلَىٰ عَلَيَّ عَمۡرُو بۡنُ يَحۡيَىٰ هَٰذَا الۡحَدِيثَ مَرَّتَيۡنِ.
'Abdurrahman bin Bisyr Al-'Abdi telah menceritakan kepada kami: Bahz menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami: 'Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, semisal sanad-sanad mereka. Beliau mengisahkan hadits tersebut. Beliau berkata: Beliau berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung, dan mengeluarkannya dari tiga cidukan. Beliau juga mengatakan: Beliau mengusap kepala. Beliau gerakkan ke depan dan ke belakang sebanyak satu kali.
Bahz berkata: Wuhaib mengimlakan hadits ini kepadaku. Wuhaib berkata: 'Amr bin Yahya mengimlakan hadits ini kepadaku sebanyak dua kali.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Dua Tanda Jazm

عَلَامَتَا الۡجَزۡمِ

قَالَ: وَلِلۡجَزۡمِ عَلَامَتَانِ: السُّكُونُ، وَالۡحَذۡفُ.
Jazm memiliki dua tanda: sukun dan al-hadzf.
أَقُولُ: لَمَّا انۡتَهَى مِنَ الۡكَلَامِ عَلَى عَلَامَاتِ الۡخَفۡضِ أَخَذَ يَتَكَلَّمُ عَلَى عَلَامَاتِ الۡجَزۡمِ فَذَكَرَ أَنَّهَا عَلَامَتَانِ إِحۡدَاهُمَا أَصۡلِيَّةٌ: وَهِيَ السُّكُونُ. وَالثَّانِيَةُ نَائِبَةٌ عَنۡهَا عِنۡدَ عَدَمِهَا: وَهِيَ الۡحَذۡفُ.
فَمَتَى وَجَدۡتَ فِي الۡكَلِمَةِ وَاحِدَةً مِنۡ هَاتَيۡنِ الۡعَلَامَتَيۡنِ، عَرَفۡتَ أَنَّهَا مَجۡزُومَةٌ.
Setelah selesai membicarakan tanda khafdh, beliau mulai membahas tanda-tanda jazm. Beliau menyebutkan bahwa tanda jazm ada dua tanda. Salah satunya tanda asli yaitu sukun. Dan yang kedua adalah pengganti sukun ketika tidak ada, yaitu al-hadzf.
Jadi, kapan saja engkau mendapati di sebuah kata ada satu dari dua tanda ini, engkau mengenali kata tersebut dijazm.

Lihat pula:

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 186

٤٠ – بَابُ غَسۡلِ الرِّجۡلَيۡنِ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ

40. Bab membasuh kedua kaki sampai mata kaki

١٨٦ – حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِيهِ: شَهِدۡتُ عَمۡرَو بۡنَ أَبِي حَسَنٍ سَأَلَ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ زَيۡدٍ عَنۡ وُضُوءِ النَّبِيِّ ﷺ، فَدَعَا بِتَوۡرٍ مِنۡ مَاءٍ، فَتَوَضَّأَ لَهُمۡ وُضُوءَ النَّبِيِّ ﷺ، فَأَكۡفَأَ عَلَى يَدِهِ مِنَ التَّوۡرِ، فَغَسَلَ يَدَيۡهِ ثَلَاثًا، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فِي التَّوۡرِ، فَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ، وَاسۡتَنۡثَرَ ثَلَاثَ غَرَفَاتٍ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ، فَغَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيۡهِ مَرَّتَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ رَأۡسَهُ، فَأَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ. [طرفه في: ١٨٥].
186. Musa telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Wuhaib menceritakan kepada kami, dari 'Amr, dari ayahnya: Aku menyaksikan 'Amr bin Abu Hasan bertanya kepada 'Abdullah bin Zaid tentang wudhu` Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka, beliau minta didatangkan satu bejana air lalu beliau berwudhu` untuk mereka sebagaimana wudhu` Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau menuangkan air dari bejana ke telapak tangannya dan mencuci kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian beliau masukkan tangannya ke bejana, lalu beliau berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya dengan tiga kali cidukan. Kemudian beliau masukkan tangannya dan membasuh wajahnya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membasuh kedua tangannya sebanyak dua kali sampai siku. Kemudian beliau masukkan tangan dan mengusap kepalanya. Beliau usapkan ke depan dan ke belakang dengan kedua telapak tangan sebanyak satu kali. Setelah itu, beliau membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Penggantian Fathah dari Kasrah

نِيَابَةُ الۡفَتۡحَةِ عَنِ الۡكَسۡرَةِ

قَالَ: وَأَمَّا الۡفَتۡحَةُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلۡخَفۡضِ فِي الۡاسۡمِ الَّذِي لَا يَنۡصَرِفُ.
Adapun fathah merupakan tanda khafdh pada isim ghairu munsharif
أَقُولُ: تَكُونُ الۡفَتۡحَةُ عَلَامَةً عَلَى خَفۡضِ الۡكَلِمَةِ -نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ- فِي مَوۡضِعٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ: الۡاسۡمُ الَّذِي لَا يَنۡصَرِفُ.
وَمَعۡنَى كَوۡنِهِ لَا يَنۡصَرِفُ: أَنَّهُ لَا يَقۡبَلُ الصَّرۡفَ وَهُوَ التَّنۡوِينُ، سَوَاءً كَانَ لِمُذَكَّرٍ نَحۡوُ: (رَضِيَ اللهُ عَنۡ عُمَرَ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُ مِن سُلَيۡمَٰنَ﴾ [النمل: ٣٠] أَوۡ لِمُؤَنَّثٍ نَحۡوُ: (رَضِيَ اللهُ عَنۡ عَائِشَةَ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَقَوۡلِهِمۡ عَلَىٰ مَرۡيَمَ بُهۡتَٰنًا عَظِيمًا﴾ [النساء: ١٥٦] فَكُلٌّ مِنۡ (عُمَرَ وَسُلَيۡمَانَ وَعَائِشَةَ وَمَرۡيَمَ) اسۡمٌ مَخۡفُوضٌ؛ لِدُخُولِ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ عَلَيۡهِ وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، أَيۡ: لَا يُنَوَّنُ.
Fathah merupakan tanda khafdh suatu kata -sebagai ganti dari kasrah- di satu tempat, yaitu: isim ghairu munsharif. Makna isim ghairu munsharif adalah isim yang tidak bisa menerima sharf, yaitu tanwin. Sama saja baik untuk mudzakkar, seperti: رَضِيَ اللهُ عَنۡ عُمَرَ dan firman Allah ta'ala: إِنَّهُ مِن سُلَيۡمَٰنَ (QS. An-Naml: 30). Atau untuk muannats, seperti: رَضِيَ اللهُ عَنۡ عَائِشَةَ dan firman Allah ta'ala: وَقَوۡلِهِمۡ عَلَىٰ مَرۡيَمَ بُهۡتَٰنًا عَظِيمًا (QS. An-Nisa`: 156). Jadi setiap dari عُمَرَ, سُلَيۡمَانَ, عَائِشَةَ, dan مَرۡيَمَ adalah isim yang dikhafdh karena diawali oleh huruf khafdh. Tanda khafdhnya adalah fathah yang tampak di akhir kata sebagai ganti dari kasrah, karena ia adalah isim ghairu munsharif, yakni: tidak ditanwin.
وَقَدۡ يَكُونُ خَفۡضُهُ بِفَتۡحَةٍ مُقَدَّرَةٍ نَحۡوُ: (مَرَرۡتُ بِجَرۡحَى) وَ(تَزَوَّجَ زَيۡدٌ لَيۡلَى) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ﴾ [الأعراف: ١١٧] فَكُلٌّ مِنۡ (جَرۡحَى وَلَيۡلَى وَمُوسَى) اسۡمٌ مَخۡفُوضٌ؛ لِدُخُولِ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ عَلَيۡهِ، وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡفَتۡحَةُ الۡمُقَدَّرَةُ عَلَى الۡأَلِفِ، مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ، نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، أَيۡ: لَا يُنَوَّنُ.
Kadang-kadang khafdhnya menggunakan fathah muqaddarah, seperti: مَرَرۡتُ بِجُرۡحَى, تَزَوَّجَ زَيۡدٌ لَيۡلَى, dan firman Allah ta'ala: وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ (QS. Al-A'raf: 117). Jadi, setiap dari جَرۡحَى, لَيۡلَى, dan مُوسَى adalah isim yang dikhafdh karena diawali oleh huruf khafdh. Tanda khafdhnya adalah fathah muqaddarah pada huruf alif -yang menghalangi dari munculnya adalah ta'adzdzur-, sebagai ganti dari kasrah. Karena ia adalah isim ghairu munsharif, yakni: tidak ditanwin.
وَالۡاسۡمُ الَّذِي لَا يَنۡصَرِفُ أَنۡوَاعُهُ كَثِيرَةٌ وَلَهَا شُرُوطٌ تَطۡلَبُ مِنَ الۡمُطَوَّلَاتِ؛ فَإِنَّ الۡمُبۡتَدِئَ يَكۡفِيهِ فِي أَوَّلِ الۡأَمۡرِ أَنۡ يَتَصَوَّرَهُ إِجۡمَالًا. وَسَنَتَكَلَّمُ عَلَى شَيۡءٍ مِنۡ ذٰلِكَ فِي بَابِ الۡمَخۡفُوضَاتِ إِنۡ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Dan isim ghairu munsharif jenisnya ada banyak. Ia juga memiliki syarat-syarat yang menuntut untuk penjelasan yang panjang. Namun, untuk pemula cukup di awal-awal pelajaran untuk mendapat gambarannya secara umum dahulu. Dan insya Allah akan kita bicarakan hal tersebut di bab isim-isim yang dikhafdh.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 185

٣٩ – بَابُ مَسۡحِ الرَّأۡسِ كُلِّهِ لِقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَامۡسَحُوا بِرُؤُوسِكُمۡ﴾ المائدة: ٦

39. Bab mengusap kepala seluruhnya berdasarkan firman Allah ta'ala: “Dan usaplah kepala-kepala kalian.” (QS. Al-Maidah: 6)

وَقَالَ ابۡنُ الۡمُسَيَّبِ: الۡمَرۡأَةُ بِمَنۡزِلَةِ الرَّجُلِ، تَمۡسَحُ عَلَى رَأۡسِهَا، وَسُئِلَ مَالِكٌ: أَيُجۡزِىءُ أَنۡ يَمۡسَحَ بَعۡضَ الرَّأۡسِ؟ فَاحۡتَجَّ بِحَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ.
Ibnul Musayyab berkata: Seorang wanita seperti kedudukan lelaki, dia mengusap seluruh kepalanya. Malik pernah ditanya: Apakah cukup untuk membasuh sebagian kepala? Maka beliau berhujjah dengan hadits 'Abdullah bin Zaid.
١٨٥ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ قَالَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى الۡمَازِنِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ وَهُوَ جَدُّ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى: أَتَسۡتَطِيعُ أَنۡ تُرِيَنِي كَيۡفَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَيۡدٍ: نَعَمۡ، فَدَعَا بِمَاءٍ، فَأَفۡرَغَ عَلَى يَدَيۡهِ فَغَسَلَ مَرَّتَيۡنِ، ثُمَّ مَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡثَرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيۡهِ مَرَّتَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، ثُمَّ مَسَحَ رَأۡسَهُ بِيَدَيۡهِ، فَأَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأۡسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الۡمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنۡهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ. [الحديث ١٨٥ – أطرافه في: ١٨٦، ١٩١، ١٩٢، ١٩٧، ١٩٩].
185. 'Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Malik mengabarkan kepada kami, dari 'Amr bin Yahya Al-Mazini, dari ayahnya: Bahwa seseorang berkata kepada 'Abdullah bin Zaid, kakek 'Amr bin Yahya: Apakah engkau bisa memperlihatkan kepada saya, bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berwudhu`? 'Abdullah bin Zaid menjawab: Bisa. Lalu beliau meminta didatangkan air. Kemudian beliau menuangkan ke kedua telapak tangan dan mencuci dua kali. Kemudian beliau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali. Lalu beliau membasuh wajah sebanyak tiga kali. Setelah itu, membasuh kedua tangan dua kali dua kali sampai kedua siku. Kemudian beliau mengusap kepala dengan kedua tangan. Beliau menggerakkan kedua tangannya ke depan dan ke belakang. Beliau mulai dari depan kepala sampai beliau gerakkan kedua telapak tangannya ke tengkuk, lalu beliau kembalikan ke tempat semula. Setelah itu beliau membasuh kedua kaki.

Celana Sebatas Mata Kaki

Tanya : Assalamu'alaikum Wr.Wb. saya adalah mahasiswa dari sekolah kedinasan, di kampus saya itu sekarang sedang semarak penggunaan celana yang gantung (maksudnya sebatas mata kaki), nah yang saya ingin tanyakan adalah, apa dalil aqli dan naqli dari hal tersebut, apa hukumnya ?

Jawab : Wa'alaikum salam warohmatullohi wa barokaatuh, saudara Deni -semoga Alloh menjagamu- mayoritas kita memang menganggap celana adalah satu hal yang biasa dan lumrah, sehingga tidak ada perhatian kepadanya, seolah-olah Islam juga tidak pernah memperhatikannya, begitulah kenyataan yang ada di masyarakat kita. Sebelum menjawab pertanyaan saudara, kami ingatkan kembali kepada diri-diri kami dan kaum muslimin secara umum, bahwa sebagai seorang muslim tentunya kita dituntut untuk tunduk dan patuh atas apa yang telah ditetapkan Alloh dan Rasul-Nya, melaksanakan perintahNya dengan mengharapkan keridloan dan pahalaNya serta menjauhi larangan agar terhindar dari murkaNya dan siksaNya. Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman :
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡ ۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلًا مُّبِينًا
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin apabila Alloh dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan RasulNya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (Q.S. Al-Ahzab : 36).
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ يُدۡخِلۡهُ جَنَّـٰتٍ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ ۖ وَمَن يَتَوَلَّ يُعَذِّبۡهُ عَذَابًا أَلِيمًا
"Dan barangsiapa yang taat kepada Alloh dan RasulNya, niscaya Alloh akan memasukannya kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling niscaya akan diazabnya dengan azab yang pedih." (Q.S. Al-Fath : 17).
Alloh subhanahu wa ta'ala juga berfirman,
 وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat keras hukumannya." (Q.S. Al-Hasyr : 7).

Berkenaan dengan celana gantung -menurut istilah saudara- , ketahuilah bahwa Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkannya dalam banyak hadits, akan kami uraikan beberapa di antaranya.
Pertama :
(ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَلَا يَنۡظُرُ إِلَيۡهِمۡ، وَلَا يُزَكِّيهِمۡ، وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ). قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ ثَلَاثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا، مَنۡ هُمۡ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (الۡمُسۡبِلُ، وَالۡمَنَّانُ، وَالۡمُنَفِّقُ سِلۡعَتَهُ بِالۡحَلِفِ الۡكَاذِبِ).
"Tiga orang yang tidak bakal diajak bicara oleh Alloh pada hari kiamat, dan tidak akan dilihat serta tidak akan dibersihkan dan untuk mereka itu siksa yang pedih (Rasululloh mengulang kata-katanya ini selama tiga kali), Abu Dzar berkata : 'Mereka benar-benar kecewa dan sangat rugi, siapakah mereka wahai Rasulloh?'. Rasulluloh menjawab : Yang menurunkan kain di bawah mata kaki, yang menyebut-nyebut pemberian, dan yang menjual barang dengan sumpah palsu" (H.R. Muslim no. 106 dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu).
Kedua :
لَا يَنۡظُرُ اللهُ إِلَى مَنۡ جَرَّ ثَوۡبَهُ خُيَلَاءَ
"Alloh tidak akan melihat kepada orang yang memanjangkan pakaiannya (celananya) karena sombong." (H.R. Bukhori no. 5783 & Muslim no. 2085 dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu).
Hadits ini adalah ancaman atas orang-orang yang memanjangkannya karena sombong, sedangkan yang pertama sifatnya umum, karena sombong ataupun tidak.
Ketiga :
مَا أَسۡفَلَ مِنَ الۡكَعۡبَيۡنِ مِنَ الۡإِزَارِ فَفِي النَّارِ
"Yang di bawah mata kaki dari kain, maka itu bagian api neraka" (H.R. Bukhori no. 5787 dari sahabat Abu Hurairoh radhiyallahu 'anhu),
adapun hadits ini adalah ancaman bagi orang-orang yang memanjangkannya hingga melebihi mata kaki yang tidak disertai dengan maksud-maksud sombong.

Dengan demikian memanjangkan kain atau celana dengan niatan sombong ataupun tidak adalah haram, terkena ancaman keras, tidak dibedakan antara yang bermaksud sombong atau tidak, karena dua alasan;
Pertama : Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِزۡرَةُ الۡمُسۡلِمِ إِلَى أَنۡصَافِ السَّاقِ، وَلَا حَرَجَ - أَوۡ: لَا جُنَاحَ - فِيمَا بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ الۡكَعۡبَيۡنِ، [وَ]مَا كَانَ أَسۡفَلَ مِنَ الۡكَعۡبَيۡنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، [وَ]مَنۡ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمۡ يَنۡظُرِ اللهُ إِلَيۡهِ
"Kain sarung seorang muslim sampai ke tengah-tengah betis, dan tidak mengapa yang di antara itu dengan mata kaki, dan yang di bawah mata kaki, maka itu bagian neraka. Dan siapa yang menurunkan sarung di bawah mata kaki karena sombong, Alloh tidak akan melihat kepadanya." (H.R. Abu Daud no. 4093, Malik, An-Nasaai, Ibnu Majah no. 3573, dan Ibnu Hiban dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudry radhiyallahu 'anhu).
Kedua : karena kedua perbuatan itu (memanjangkan karena sombong dan tidak sombong) perbuatan yang berbeda dan kedua ancamannya pun berbeda. Maka tidak benar jika ada yang memahami bahwa yang kena ancaman itu hanya bagi yang ada niatan sombong, dikarenakan hukum dan sebabnya berbeda, jadi selama hukum dan sebabnya berbeda, maka tidak sah memberlakukan kaidah ushuliyah "Hamlul mutlak 'alal muqoyad" (membawa nash yang datang secara mutlak kepada nash yang terikat), seperti yang sudah dikenal di kalangan ulama ushul. Demikianlah saudara Deni, semoga Alloh subhanahu wa ta'ala memberikan kepada kita taufik kepada apa yang dicintaiNya dan dirildoiNya. Wal ilmu indalloh.

Sumber: Buletin Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-23 Tahun ke-1 / 23 Mei 2003 M / 21 Rabi'ul Awwal 1424 H.