At-Tuhfatul Wushabiyyah - Maf'ul Ma'ah

الۡمَفۡعُولُ مَعَهُ

قَالَ: (بَابُ: الۡمَفۡعُولِ مَعَهُ) وَهُوَ: الۡاسۡمُ، الۡمَنۡصُوبُ، الَّذِي يُذۡكَرُ لِبَيَانِ مَنۡ فُعِلَ مَعَهُ الۡفِعۡلُ، نَحۡوُ قَوۡلِكَ: (جَاءَ الۡأَمِيرُ وَالۡجَيۡشَ)، وَ(اسۡتَوَى الۡمَاءُ وَالۡخَشَبَةَ).
Bab Maf’ul Ma’ah. Maf’ul Ma’ahu adalah isim yang dinashab yang disebutkan untuk menjelaskan siapa yang suatu perbuatan dilakukan bersamanya. Contohnya adalah ucapanmu: جَاءَ الۡأَمِيرُ وَالۡجَيۡشَ (Pemimpin itu telah datang bersama pasukan) dan اسۡتَوَى الۡمَاءُ وَالۡخَشَبَةَ (Air itu naik bersama kayu).
أَقُولُ: العَاشِرُ مِنَ الۡمَنۡصُوبَاتِ: الۡمَفۡعُولُ مَعَهُ، أَيۡ: الَّذِي وَجَدَ فِعۡلُ الۡفَاعِلِ بِمُصَاحَبَتِهِ، وَهُوَ: (الۡاسۡمُ، الصَّرِيحُ، الۡفَضۡلَةُ، الۡمَنۡصُوبُ بِالۡفِعۡلِ، أَوۡ مَا فِيهِ مَعۡنَاهُ وَحُرُوفُهُ، الَّذِي يُذۡكَرُ لِبَيَانِ الذَّاتِ الَّتِي فَعَلَ الۡفِعۡلَ بِمُصَاحَبَتِهَا، الۡوَاقِعُ بَعۡدَ وَاوٍ تُفِيدُ الۡمَعِيَّةَ نَصًّا).
Isim-isim yang dinashab kesepuluh adalah maf’ul ma’ah. Yaitu: yang mendapati perbuatan pelaku dengan menyertainya. Maf’ul ma’ah adalah isim sharih tambahan yang dinashab karena fi’il atau karena yang mengandung makna fi’il dan huruf-hurufnya; yang disebutkan untuk menjelaskan zat yang melakukan perbuatan dengan keikutsertaannya; yang terletak setelah wawu yang memberi faedah kebersamaan secara nash.
فَقَوۡلُنَا: (الۡاسۡمُ) خَرَجَ بِهِ الۡفِعۡلُ وَالۡحَرۡفُ وَالۡجُمۡلَةُ؛ فَلَا يَكُونُ وَاحِدٌ مِنۡهَا مَفۡعُولًا مَعَهُ.
وَقَوۡلُنَا: (الصَّرِيحُ) خَرَجَ بِهِ الۡمُؤَوَّلُ بِالصَّرِيحِ؛ فَلَا يَكُونُ مَفۡعُولًا مَعَهُ.
وَقَوۡلُنَا: (الۡفَضۡلَةُ) خَرَجَ بِهِ الۡعُمۡدَةُ بَعۡدَ الۡوَاوِ نَحۡوُ: (اشۡتَرَكَ زَيۡدٌ وَعَمۡرٌو) فَـ(عَمۡرٌو) عُمۡدَةٌ لَا يُسۡتَغۡنَى عَنۡهُ؛ إِذۡ لَا يُقَالُ: (اشۡتَرَكَ زَيۡدٌ)؛ لِأَنَّ الۡاشۡتِرَاكَ لَا يَكُونُ إِلَّا بَيۡنَ اثۡنَيۡنِ فَأَكۡثَرَ.
وَقَوۡلُنَا: (الۡمَنۡصُوبُ) خَرَجَ بِهِ الۡمَرۡفُوعُ وَالۡمَجۡرُورُ؛ فَلَا يَكُونُ وَاحِدٌ مِنۡهُمَا مَفۡعُولًا مَعَهُ.
Ucapan kami “isim” berarti fi’il, huruf, dan jumlah tidak termasuk. Sehingga salah satu darinya tidak bisa menjadi maf’ul ma’ah.
Ucapan kami “sharih” berarti mengeluarkan yang ditakwil dengan isim sharih. Sehingga ia tidak bisa menjadi maf’ul ma’ah.
Ucapan kami “tambahan” berarti mengeluarkan inti kalimat setelah huruf wawu, contoh: اشۡتَرَكَ زَيۡدٌ وَعَمۡرٌو (Zaid dan ‘Amr bekerja sama). ‘Amr adalah inti kalimat yang tidak bisa dibuang dari kalimat tersebut, karena tidak bisa dikatakan: اشۡتَرَكَ زَيۡدٌ (Zaid bekerja sama), karena kerja sama tidak bisa terwujud kecuali antara dua pihak atau lebih.
Ucapan kami “dinashab” berarti mengeluarkan yang dirafa’ dan dijar, sehingga salah satu dari keduanya tidak bisa menjadi maf’ul ma’ah.
وَقَوۡلُنَا: (الۡمَنۡصُوبُ بِالۡفِعۡلِ أَوۡ مَا ِيهِ مَعۡنَاهُ وَحُرُوفُهُ) أَيۡ: أَنَّ الۡعَامِلَ فِي الۡمَفۡعُولِ مَعَهُ النَّصۡبَ شَيۡئَانِ:
أَحَدُهُمَا: الۡفِعۡلُ –وَهُوَ الۡأَصۡلُ- نَحۡوُ: (سِرۡتُ وَزَيۡدًا) فَـ(زَيۡدًا) مَفۡعُولٌ مَعَهُ مَنۡصُوبٌ بِـ(سِرۡتُ).
الثَّانِي: الۡاسۡمُ الدَّالُّ عَلَى مَعۡنَى الۡفِعۡلِ الۡمُشۡتَمِلِ عَلَى حُرُوفِهِ نَحۡوُ: (أَنَا سَائِرٌ وَالنِّيلَ) فَـ(النِّيلَ) مَفۡعُولٌ مَعَهُ مَنۡصُوبٌ بـِ(سَائِرٌ)؛ لِأَنَّهُ اسۡمُ فَاعِلٍ، فِيهِ مَعۡنَى الۡفِعۡلِ وَهُوَ (أَسِيرُ)، وَفِيهِ حُرُوفُهُ أَيۡضًا وَهِيَ: السِّينُ وَالۡيَاءُ وَالرَّاءُ.
وَزَعَمَ بَعۡضُهُمۡ أَنَّ النَّاصِبَ لَهُ الۡوَاوُ.
Ucapan kami “dinashab karena fi’il atau karena yang mengandung makna fi’il dan huruf-hurufnya” artinya bahwa yang beramal pada maf’ul ma’ah ada dua macam:
  1. Fi’ilnya –dan ini asalnya-, contoh: سِرۡتُ وَزَيۡدًا (Aku berjalan bersama Zaid). Zaid adalah maf’ul ma’ah dinashab karena سِرۡتُ.
  2. Isim yang menunjukkan makna fi’il yang mencakup huruf-hurufnya. Contoh: أَنَا سَائِرٌ وَالنِّيلَ (Aku berjalan bersama sungai Nil). Sungai Nil adalah maf’ul ma’ah yang dinashab karena سَائِرٌ, karena ia merupakan isim fa’il yang mempunyai makna fi’il yaitu أَسِيرُ (Aku berjalan). Dan padanya juga terdapat huruf-hurufnya, yaitu: huruf sin, ya`, dan ra`.
Sebagian mereka menyangka bahwa yang menashabkannya adalah huruf wawu.
وَقَوۡلُنَا: (الَّذِي يُذۡكَرُ...) إلخ، خَرَجَ بِهِ بَقِيَّةُ الۡمَنۡصُوبَاتِ.
وَقَوۡلُنَا: (بَعۡدَ وَاوٍ... إلخ) خَرَجَ بِهِ الۡاسۡمُ الۡوَاقِعُ بَعۡدَ وَاوٍ لَيۡسَتۡ نَصًّا فِي الدَّلَالَةِ عَلَى الۡمَعِيَّةِ نَحۡوُ: (خَرَجَ زَيۡدٌ وَعَمۡرٌو).
Ucapan kami “yang disebutkan…” dst, berarti mengeluarkan isim-isim yang dinashab sisanya.
Ucapan kami “setelah wawu…” dst, berarti mengeluarkan isim yang terletak setelah wawu namun tidak secara nash menunjukkan pada makna kebersamaan, contoh: خَرَجَ زَيۡدٌ وَعَمۡرٌو (Zaid dan ‘Amr telah keluar).
وَمِثَالُ الۡمَفۡعُولِ مَعَهُ الَّذِي يَنۡطَبِقُ عَلَيۡهِ التَّعۡرِيفُ –مَعَ مَا تَقَدَّمَ- قَوۡلُ الۡمُصَنِّفُ: (جَاءَ الۡأَمِيرُ وَالۡجَيۡشَ) وَ(اسۡتَوَى الۡمَاءُ وَالۡخَشَبَةَ) فَـ(الۡجَيۡشَ) مَفۡعُولٌ مَعَهُ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ، صَرِيحٌ، فَضۡلَةٌ أَيۡ: -يَتِمُّ الۡكَلَامُ بِدُونِهِ-، مَنۡصُوبٌ بِالۡفِعۡلِ، وَذُكِرَ لِبَيَانِ مَنۡ صَاحَبَ الۡأَمِيرَ فِي الۡمَجِيءِ، وَاقِعٌ بَعۡدَ الۡوَاوِ الَّتِي بِمَعۡنَى (مَعَ). وَمَثِّلۡهُ مَا بَعۡدَهُ.
وَالۡمُرَادُ بِـ(الۡخَشَبَةَ) هُنَا: مِقۡيَاسٌ يُعۡرَفُ بِهِ قَدۡرُ ارۡتِفَاعِ الۡمَاءِ وَقۡتَ الزِّيَادَةِ.
Contoh maf’ul ma’ah yang sesuai dengan definisi ini adalah ucapan penyusun: جَاءَ الۡأَمِيرُ وَالۡجَيۡشَ (Pemimpin itu telah datang bersama pasukan) dan اسۡتَوَى الۡمَاءُ وَالۡخَشَبَةَ (Air itu telah naik bersama kayu). الۡجَيۡشَ adalah maf’ul ma’ah karena ia adalah isim sharih tambahan –artinya: ucapan ini telah sempurna meski tanpanya-, dinashab karena fi’il, disebutkan untuk menjelaskan siapa yang menyertai pemimpin itu dalam kedatangannya, terletak setelah wawu yang bermakna “bersama”. Dan permisalkan padanya contoh setelahnya.
Yang dimaksud dengan “kayu” di sini adalah ukuran untuk mengetahui ukuran naiknya air ketika air itu bertambah.
وَأَشَارَ الۡمُصَنِّفُ بِهَٰذَيۡنِ الۡمِثَالَيۡنِ إِلَى أَنَّ نَصۡبَ الۡمَفۡعُولِ مَعَهُ عَلَى قِسۡمَيۡنِ: جَائِزٌ وَوَاجِبٌ.
فَأَمَّا الۡجَائِزُ فَضَابِطُهُ: أَنۡ يَصِحَّ تَشۡرِيكُ مَا بَعۡدَ الۡوَاوِ لِمَا قَبۡلَهَا فِي الۡحُكۡمِ كَـ(الۡجَيۡشِ) فَإِنَّهُ يَصِحُّ تَشۡرِيكُهُ لِلۡأَمِيرِ فِي حُكۡمِ الۡمَجِيءِ فَتَقُولُ: (جَاءَ الۡأَمِيرُ وَالۡجَيۡشُ) بِرَفۡعِ (الۡجَيۡشُ).
وَأَمَّا الۡوَاجِبُ فَضَابِطُهُ: أَلَّا يَصِحَّ تَشۡرِيكُ مَا بَعۡدَ الۡوَاوِ لِمَا قَبۡلَهَا فِي الۡحُكۡمِ كَـ(الۡخَشَبَةَ) فَإِنَّهَا لَا يَصۡلُحُ تَشۡرِيكُهَا لِلۡمَاءِ فِي حُكۡمِ الۡاسۡتِوَاءِ؛ لِأَنَّ (اسۡتَوَى) هُنَا بِمَعۡنَى (ارۡتَفَعَ)، وَالۡارۡتِفَاعُ إِنَّمَا حَصَلَ مِنَ الۡمَارِّ عَلَى الشَّيۡءِ الَّذِي هُوَ (الۡمَاءُ) دُونَ الثَّابِتِ الَّذِي هُوَ (الۡخَشَبَةُ).
وَمِثۡلُهُ قَوۡلُكَ: (ذَاكَرۡتُ وَالۡمِصۡبَاحَ). فَـ(الۡمِصۡبَاحَ) لَا يَصِحُّ تَشۡرِيكُهُ لِلۡمُتَكَلِّمِ فِي الۡمُذَاكَرَةِ، وَإِنَّمَا الۡمَعۡنَى (ذَاكَرۡتُ مُصَاحِبًا الۡمِصۡبَاحَ).
Penyusun mengisyaratkan dengan dua contoh ini bahwa nashab maf’ul ma’ah terbagi menjadi dua bagian: boleh dan wajib.
  • Adapun nashab yang boleh, ketentuannya adalah sahnya menyertakan apa yang setelah wawu kepada yang sebelum wawu dalam hal hukumnya. Seperti الۡجَيۡش (pasukan), ia boleh untuk menyertakannya kepada pemimpin dalam hal hukum kedatangan. Sehingga engkau bisa katakan: جَاءَ الۡأَمِيرُ وَالۡجَيۡشُ (Pemimpin dan pasukan itu telah datang) dengan merafa’ الۡجَيۡشُ.
  • Adapun nashab yang wajib, ketentuannya adalah tidak sah menyertakan apa yang setelah wawu kepada yang sebelumnya dalam hal hukumnya. Seperti الۡخَشَبَة (kayu), karena tidak bisa menyertakannya kepada air dalam hukum naiknya. Karena istawa di sini maknanya adalah irtafa’a (naik). Dan kenaikan hanya terjadi dari sesuatu yang berjalan atau mengalir di atas sesuatu, yaitu air, bukan sesuatu yang diam tak bergerak seperti kayu.
Contoh lain adalah ucapanmu: ذَاكَرۡتُ وَالۡمِصۡبَاحَ (Aku mengulang-ulang pelajaran bersama lampu itu). الۡمِصۡبَاحَ tidak bisa disertakan bersama si pembicara dalam hal mengulang-ulang pelajaran. Namun maknanya adalah ذَاكَرۡتُ مُصَاحِبًا الۡمِصۡبَاحَ (Aku mengulang-ulang pelajaran ditemani lampu itu).

Lihat pula: