Taisirul 'Allam - Hadits ke-91

الۡحَدِيثُ الۡحَادِي وَالتِّسۡعُونَ

٩١ – عَنۡ أَبِي قَتَادَةَ الۡأَنۡصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنۡتَ زَيۡنَبَ بِنۡتِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَلِأَبِي الۡعَاصِ بۡنِ الرَّبِيعِ بۡنِ عَبۡدِ شَمۡسٍ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا[1].
91. Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah salat dalam keadaan memanggul Umamah putri pasangan Zainab bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdu Syams. Apabila beliau sujud, beliau meletakkannya. Apabila beliau berdiri, beliau kembali memanggulnya.

الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِي:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى جَانِبٍ كَبِيرٍ مِنَ الۡعَطۡفِ وَاللُّطۡفِ وَالرَّحۡمَةِ وَالرَّأۡفَةِ فَكَانَ يَتَوَدَّدُ إِلَى الصِّغَارِ وَالۡكِبَارِ، وَالۡأَغۡنِيَاءِ وَالۡفُقَرَاءِ. وَلَا أَدَلُّ عَلَى أَخۡلَاقِهِ الۡكَرِيمَةِ مِنۡ حَمۡلِهِ إِحۡدَى حَفِيدَاتِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ، حَيۡثُ يَجۡعَلُهَا عَلَى عَاتِقِهِ إِذَا قَامَ، فَإِذَا رَكَعَ أَوۡ سَجَدَ وَضَعَهَا فِي الۡأَرۡضِ، فَفِي هَٰذَا السَّمَاحِ الۡكَرِيمِ، تَشۡرِيعٌ وَتَسۡهِيلٌ لِلۡأُمَّةِ الۡمُحَمَّدِيَّةِ.

Makna secara umum:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memiliki sikap kasih sayang, kelembutan, rahmat, dan santun. Beliau sangat mencintai anak kecil, orang tua, orang kaya, dan orang fakir. Tidak ada yang lebih menunjukkan pada akhlak beliau yang mulia daripada perbuatan beliau memanggul salah satu cucunya ketika sedang salat. Beliau meletakkan cucunya di atas pundak beliau ketika berdiri. Apabila rukuk atau sujud, beliau meletakkannya di tanah. Sehingga di dalam kebolehan yang mulia ini, ada penetapan syariat dan kemudahan bagi umat Muhammad.

اخۡتِلَافُ الۡعُلَمَاءِ:

أَوۡرَدَ (ابۡنُ دَقِيقِ الۡعِيدِ) تَأۡوِيلَاتٍ كَثِيرَةً بَعِيدَةً لِهَٰذَا الۡحَدِيثِ فِي شَرۡحِ هَٰذَا الۡكِتَابِ: مِنۡهَا دَعۡوَى النَّسۡخِ، وَدَعۡوَى الۡخُصُوصِيَّةِ، وَدَعۡوَى الضَّرُورَةِ، وَغَيۡرَ ذٰلِكَ مِمَّا هُوَ أَسۡقَطُ تَأۡوِيلًا وَأَصۡعَفُ قِيلًا.
وَقَالَ الۡقُرۡطُبِيُّ: وَقَدۡ اخۡتَلَفَ الۡعُلَمَاءُ فِي تَأۡوِيلِ هَٰذَا الۡحَدِيثِ، وَالَّذِي أَحۡوَجَهُمۡ إِلَى ذٰلِكَ أَنَّهُ عَمَلٌ كَثِيرٌ.
وَقَالَ النَّوَوِيُّ –بَعۡدَ أَنۡ سَاقَ هَٰذِهِ التَّأۡوِيلَاتِ-: فَكُلُّ ذٰلِكَ دَعَاوَى بَاطِلَةٌ مَرۡدُودَةٌ، لَا دَلِيلَ عَلَيۡهَا. تَبَيَّنَ لَنَا حِينَئِذٍ أَنَّ الصَّحِيحَ الَّذِي عَلَيۡهِ الۡمُحَقِّقُونَ أَنَّ مِثۡلَ هَٰذِهِ الۡحَرَكَةِ جَائِزَةٌ فِي كُلِّ صَلَاةٍ، مِنَ الۡإِمَامِ، وَالۡمَأۡمُومِ، وَالۡمُنۡفَرِدِ وَأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ فَعَلَ ذٰلِكَ لِبَيَانِ الۡجَوَازِ.
كَمَا كَانَ يَصۡعَدُ وَيَنۡزِلُ عَلَى دَرَجِ الۡمِنۡبَرِ، لِيُرِيهِمۡ صَلَاتَهُ.
وَكَمَا كَانَ يَفۡتَحُ الۡبَابَ لِعَائِشَةَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ، إِلَى غَيۡرِ ذٰلِكَ مِنَ الۡأَعۡمَالِ الَّتِي لَا تَخُلُّ فِي الصَّلَاةِ، وَيُسۡتَفَادُ مِنۡهَا جَوَازُ هَٰذِهِ الۡحَرَكَةِ الۡيَسِيرَةِ لِلۡحَاجَةِ.

Perselisihan ulama:

Ibnu Daqiqil ‘Id memberikan takwil-takwil yang banyak namun jauh pada hadis ini dalam penjelasan kitab ini. Di antaranya anggapan bahwa hadis ini sudah dihapus, hadis ini khusus untuk Nabi, hadis ini hanya ketika darurat, dan takwil-takwil lain yang merupakan takwil yang gugur dan ucapan yang lemah. Al-Qurthubi berkata: Ulama berselisih dalam menjelaskan hadis ini. Dan yang menyebabkan mereka berselisih karena di dalam hadits tersebut ada gerakan yang banyak.
An-Nawawi berkata –setelah membawakan penafsiran-penafsiran tersebut-: Setiap anggapan itu adalah batil dan tertolak karena tidak ada dalil yang mendasarinya. Sehingga, menjadi jelas bagi kita bahwa yang sahih adalah pendapat yang dipegangi ulama ahli tahkik bahwa gerakan seperti dalam hadis ini adalah boleh dalam seluruh salat. Baik ia menjadi imam, makmum, atau salat sendiri. Dan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut untuk menjelaskan kebolehannya. Sebagaimana beliau pernah naik dan turun di anak tangga mimbar dalam rangka memperlihatkan salat beliau kepada makmum. Dan sebagaimana beliau pernah membuka pintu untuk ‘Aisyah ketika sedang salat. Dan gerakan-gerakan beliau yang lain yang tidak mencacati salat. Sehingga diambil faedah dari situ tentang bolehnya gerakan yang sedikit ini bila dibutuhkan.

مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:

١ – جَوَازُ مِثۡلِ هَٰذِهِ الۡحَرَكَةِ فِي صَلَاةِ الۡفَرِيضَةِ وَالنَّافِلَةِ، مِنَ الۡإِمَامِ وَالۡمَأۡمُومِ وَالۡمُنۡفَرِدِ وَلَوۡ بِلَا ضَرُورَةٍ إِلَيۡهَا. وَهَٰذَا قَوۡلُ مُحَقِّقِي الۡعُلَمَاءِ.
٢ – جَوَازُ مُلَامَسَةِ وَحَمۡلِ مَنۡ تُظَنُّ نَجَاسَتُهُ، تَغۡلِيبًا لِلۡأَصۡلِ –وَهُوَ الطَّهَارَةُ- عَلَى غَلَبَةِ الظَّنِّ. وَهُوَ –هُنَا- نَجَاسَةُ ثِيَابِ الۡأَطۡفَالِ وَأَبۡدَانِهِمۡ.
٣ – تَوَاضُعُ النَّبِيِّ ﷺ، وَلُطۡفِ خَلۡقِهِ وَرَحۡمَتِهِ.

Kesimpulan hadis ini:

  1. Bolehnya gerakan semisal ini di dalam salat wajib atau sunah. Baik oleh imam, makmum, atau salat sendirian meskipun tidak darurat. Dan ini adalah pendapat ulama ahli tahkik.
  2. Bolehnya bersentuhan dan menggendong anak yang bisa jadi ada najisnya karena lebih mengedepankan asalnya, yakni kesuciannya- di atas persangkaan kuat semata, yang dalam kasus ini adalah najisnya pakaian dan badan bayi.
  3. Tawaduknya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kelembutan perasaan, dan kasih sayangnya.

فَائِدَةٌ:

قَسَّمَ بَعۡضُ الۡعُلَمَاءِ الۡحَرَكَةَ فِي الصَّلَاةِ إِلَى أَرۡبَعَةِ أَقۡسَامٍ حَسب الۡاسۡتِقۡرَاءِ وَالتَّتَبُّعِ مِنۡ نُصُوصِ الشَّارِعِ.
الۡقِسۡمُ الۡأَوَّلُ: يُحۡرِمُ وَيُبۡطِلُ الصَّلَاةَ وَهُوَ الۡكَثِيرُ الۡمُتَوَالِي لِغَيۡرِ ضَرُورَةٍ وَلِغَيۡرِ مَصۡلَحَةِ الصَّلَاةِ.
الۡقِسۡمُ الثَّانِي: يُكۡرَهُ فِي الصَّلَاةِ وَلَا يُبۡطِلُهَا وَهُوَ الۡيَسِيرُ لِغَيۡرِ حَاجَةٍ، مِمَّا لَيۡسَ لِمَصۡلَحَةِ الصَّلَاةِ كَالۡعَبَثِ الۡيَسِيرِ بِالثِّيَابِ أَوِ الۡبَدَنِ، وَنَحۡوِ ذٰلِكَ، لِأَنَّهُ مُنَافٍ لِلۡخُشُوعِ الۡمَطۡلُوبِ، وَلَا حَاجَةٌ تَدۡعُو إِلَيۡهِ.
الۡقِسۡمُ الثَّالِثُ: الۡحَرَكَةُ الۡمُبَاحَةُ وَهِيَ الۡيَسِيرَةُ لِلۡحَاجَةِ وَلَعَلَّ هَٰذَا الۡقِسۡمَ، هُوَ مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَفۡعَلُهُ مِنۡ حَمۡلِ هَٰذِهِ الطِّفۡلَةِ، وَطُلُوعِهِ عَلَى الۡمِنۡبَرِ، وَنُزُولِهِ مِنۡهُ حَالَ الصَّلَاةِ، وَفَتۡحِهِ الۡبَابَ لِعَائِشَةَ، وَنَحۡوِ ذٰلِكَ مَا يَفۡعَلُهُ لِلۡحَاجَةِ وَلِبَيَانِ الۡجَوَازِ.
الۡقِسۡمُ الرَّابِعُ: الۡحَرَكَةُ الۡمَشۡرُوعَةُ وَهِيَ الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِهَا مَصۡلَحَةَ الصَّلَاةِ، كَالتَّقَدُّمِ لِلۡمَكَانِ الۡفَاضِلِ، وَالدُّنُو لِسَدِّ خَلَلِ الصُّفُوفِ.
أَوۡ تَكُونُ الۡحَرَكَةُ لِفِعۡلٍ مَحۡمُودٍ مَأۡمُورٍ بِهِ، كَتَقَدُّمِ الۡمُصَلِّينَ وَتَأَخُّرِهِمۡ، فِي صَلَاةِ الۡخَوۡفِ أَوِ الضَّرُورَةِ كَإِنۡقَاذٍ مِنۡ هَلَكَةٍ.

Faedah:

Sebagian ulama membagi gerakan ketika salat menjadi empat bagian berdasarkan penelitian dan pengamatan dari nas-nas syariat.
  1. Gerakan yang haram dan membatalkan salat. Yaitu gerakan yang banyak lagi terus-menerus tanpa darurat dan tanpa ada kemaslahatan salat.
  2. Gerakan yang dibenci dalam salat namun tidak membatalkannya. Yaitu sedikit gerakan tanpa ada kebutuhan dan tidak termasuk kemaslahatan salat, seperti sedikit bermain-main dengan pakaian atau badan dan gerakan lainnya. Karena hal tersebut menghilangkan kekhusyukan yang dituntut padahal tidak ada kebutuhan padanya.
  3. Gerakan yang boleh, yaitu sedikit gerakan karena kebutuhan. Dan barangkali termasuk bagian inilah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah lakukan berupa menggendong bayi, naik dan turun mimbar ketika sedang salat, membuka pintu untuk ‘Aisyah, dan gerakan lainnya yang beliau lakukan karena ada kebutuhan dan untuk menjelaskan kebolehannya.
  4. Gerakan yang disyariatkan, yaitu gerakan yang terkait dengan maslahat salat. Seperti maju ke tempat yang lebih utama atau mendekat untuk menutup celah saf-saf. Atau gerakan itu untuk melakukan sesuatu yang terpuji dan diperintahkan, seperti maju mundurnya orang yang salat dalam salat khauf atau karena darurat seperti untuk menyelamatkan diri dari kecelakaan.

[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٥١٦) فِي الصَّلَاةِ، (٥٩٩٦) فِي الۡأَدَبِ، وَمُسۡلِمٌ رَقۡم (٥٤٣) فِي الۡمَسَاجِدِ، وَرَوَاهُ أَيۡضًا أَبُو دَاوُدَ (٩١٧) فِي الصَّلَاةِ، وَالنَّسَائِيُّ (٣/١٠) فِي السَّهۡوِ، وَمَالِكٌ فِي (الۡمُوَطَّأ) (١/ ١٧٠) فِي قَصۡرِ الصَّلَاةِ فِي السَّفَرِ، وَأَحۡمَدُ فِي (الۡمُسۡنَدِ) (٥/ ٢٩٥، ٣١١).