Sunan Abu Dawud hadits nomor 822

٨٢٢ – (صحيح دون قوله: (فَصَاعِدًا) إلخ) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ وَابۡنُ السَّرۡحِ، قَالَا: نا سُفۡيَانُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ مَحۡمُودِ بۡنِ الرَّبِيعِ، عَنۡ عُبَادَةَ بۡنِ الصَّامِتِ، يَبۡلُغُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا صَلَاةَ لِمَنۡ لَمۡ يَقۡرَأۡ بِفَاتِحَةِ الۡكِتَابِ فَصَاعِدًا). قَالَ سُفۡيَانُ: (لِمَنۡ يُصَلِّي وَحۡدَهُ) [وَعِنۡدَ (م): (فَصَاعِدًا)].
822. Qutaibah bin Sa’id dan Ibnus Sarh telah menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Mahmud bin Ar-Rabi’, dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit, sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak sah salat bagi siapa saja yang tidak membaca surah Al-Fatihah dan kelanjutannya.” Sufyan berkata: Bagi siapa saja yang salat sendirian.

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-16, ke-17, dan ke-18

الۡحَدِيثُ السَّادِسَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: أَوۡصِنِي. قَالَ: (لَا تَغۡضَبۡ). فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: (لَا تَغۡضَبۡ). [رواه البخاري].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda, “Janganlah engkau marah.” Orang itu mengulang berkali-kali dan Nabi tetap bersabda, “Janganlah engkau marah.” (HR. Al-Bukhari nomor 6116).

الۡحَدِيثُ السَّابِعَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي يَعۡلَى شَدَّادِ بۡنِ أَوۡسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ كَتَبَ الۡإِحۡسَانَ عَلَى كُلِّ شَيۡءٍ، فَإِذَا قَتَلۡتُمۡ فَأَحۡسِنُوا الۡقِتۡلَةَ، وَإِذَا ذَبَحۡتُمۡ فَأَحۡسِنُوا الذِّبۡحَةَ، وَلۡيُحِدَّ أَحَدُكُمۡ شَفۡرَتَهُ، وَلۡيُرِحۡ ذَبِيحَتَهُ). [رواه مسلم].
Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik pada segala hal. Apabila kalian membunuh, hendaklah membunuh dengan cara yang baik. Apabila kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian menajamkan pisaunya dan menyamankan sembelihannya.” (HR. Muslim nomor 1955).

الۡحَدِيثُ الثَّامِنَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي ذَرٍّ جُنۡدُبِ بۡنِ جُنَادَةَ، وَأَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ مُعَاذِ بۡنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (اتَّقِ اللهَ حَيۡثُمَا كُنۡتَ، وَأَتۡبِعِ السَّيِّئَةَ الۡحَسَنَةَ تَمۡحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بۡخُلُقٍ حَسَنٍ) [رواه الترمذي وقال: حديث حسن. وفي بعض النسخ: حسن صحيح].
Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya kebaikan akan menghapus kejelekan, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi nomor 1987 dan beliau berkata: Hadis hasan. Dalam sebagian naskah: Hasan sahih).

Shifat Shalat Nabi

Shalatlah kalian sebagaimana melihatku shalat!” [H.R. Al-Bukhari] Demikianlah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat memberikan contoh kepada para sahabat. Berdasarkan hadis yang mulia ini, sebagian ulama menegaskan bahwa mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh gerakan shalat adalah wajib. Inilah yang menjadi latar belakang Syaikh Allamah Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menulis kitab ini. Tak heran, hadis ini pun terpampang pada sampul kitab yang fenomenal ini.

Memang, pengetahuan tentang tata cara shalat sangat penting. Betapa tidak, rukun kedua Islam ini tentu tidak bisa sembarangan ditunaikan. Seperti halnya ibadah lain, dipersyaratkan mutaba’ah, meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mutaba’ah inilah, yang dewasa ini susah didapati. Baik dalam ibadah secara umum, maupun ibadah shalat secara khusus. Itulah pentingnya kita mempelajari kitab ini: untuk kita sendiri amalkan, lalu kita dakwahkan di sekitar kita.

Shifatu Shalatin Nabiy minat Takbir ila Taslim ka-annaka Taraha demikianlah judul asli dari kitab tersebut. Kira-kira maknanya, “Deskripsi Mengenai Tata Cara Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Mulai dari Takbir Hingga Salam, Seolah-olah Engkau Melihatnya”.

Dari judulnya, tergambar sudah isi dari kitab ini. Kitab yang menjadi referensi para ulama ini memang berisikan tentang fikih shalat. Mulai dari takbir sampai salam, seluruhnya. Tak hanya sebatas posisi shalatnya, bahkan gerakannya dan bacaannya beliau ulas secara mendetail.

Dan tak berlebihan sang penulis membubuhkan judul “Seolah-olah Engkau Melihatnya”. Karena, seluruh isi dari kitab ini didasarkan pada hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis tersebut, baik berupa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung, atau berupa penuturan para sahabat yang melihat langsung tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, seolah-olah dengan membaca dan meresapi kitab ini, kita telah melihat sendiri tata cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat. Demikianlah istimewanya kitab yang satu ini.

Tak hanya kandungan fikih saja yang terdapat di dalam kitab istimewa ini. Seperti halnya karya Sang Muhaddits lainnya, kitab ini sarat dengan faidah haditsiyah, pelajaran-pelajaran tentang ilmu hadis secara riwayah. Baik di dalam ilmu musthalah-nya, maupun ilmu rijal. Dan memang begitulah karakter seluruh karya Al Albani rahimahullah. Semuanya, tanpa kecuali, berdasar kepada telaah beliau yang mendalam terhadap hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di dalam cetakan baru, beliau menyebutkan banyak pelajaran-pelajaran ilmiah. Tidak hanya itu, terselip pula sedikit pelurusan dan konfirmasi mengenai kekeliruan cetakan terdahulu dikarenakan ketidakamanahan pihak percetakan. Ini semua, memberi kita pelajaran bahwa Sang Syaikh mengawal dan meneliti proses cetak buku ini. Agar keilmiahan kitab ini tetap terjaga, demikian pula supaya tidak disisipi hal-hal yang tidak diinginkan. Itu semua beliau tuangkan di dalam bab Muqaddimah. Muqaddimah terbaru kitab ini tercetak menjadi 24 halaman. Dimulai halaman 3 hingga halaman 26.

Syaikh Muhaddits Al Albani rahimahullah menyusun kitab Shifatu Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini tidak hanya satu versi. Untuk memenuhi setiap kalangan, beliau menulis kitab ini dengan tiga versi. Versi pertama adalah versi ringkas. Beliau beri judul Talkhis Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ringkasan Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Di dalam versi ini, Syaikh Al Albani rahimahullah hanya menyebutkan secara ringkas tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak menyebutkan hadis di dalam versi ini.

Versi yang kedua, adalah kitab yang sedang kita bahas. Yang kedua ini sering dikenal dengan kitab Matan Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Versi yang ketiga, versi meluas. Beliau beri judul versi kitab ini dengan nama “Ashlu Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Kitab ini bisa kita sebut sebagai penjelasan dari kitab versi kedua, walaupun sebetulnya justru ini asalnya. Di dalam kitab ini, beliau menguak takhrij hadis di dalam kitab ini secara lengkap. Beliau sebutkan jalan hadis, perawi hadis, dan tak ketinggalan, pelurusan hal-hal yang keliru dari hadis-hadis tersebut. Tak tanggung-tanggung, tiga jilid tebal pun tercetak untuk menyelesaikan penjelasan kitab ini.

Nah pembaca, demikianlah keistimewaan kitab ini. Seorang ulama sekaliber Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pun pernah memberikan sanjungan kepada kitab ini secara khusus, “Ini adalah kitab yang bagus dan berfaedah. Syaikh Al Albani rahimahullah yang menyusunnya. Beliau adalah seorang yang berilmu tinggi dan mulia. Kitabnya bagus sekali di dalam menghidupkan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelaskan yang shahih dan dha’if. Beliau pantas untuk diberi ucapan terima kasih atas jasanya. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan melipatgandakan pahalanya.” Begitulah sanjungan dari Syaikh Ibnu Baz terhadap kitab ini secara khusus, dan kepada karya Syaikh Al Albani rahimahullah secara umum. Jadi, masih tersisa ragu tentang kualitas kitab ini? Kami yakin tidak.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 27 vol. 3 1436 H/ 2015 M rubrik Maktabah. Pemateri: Ustadz Abu Yusuf Abdirrahman.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 103

٤٩ – بَابٌ فِي الرَّجُلِ يُدۡخِلُ يَدَهُ فِي الۡإِنَاءِ قَبۡلَ أَنۡ يَغۡسِلَهَا

49. Bab tentang seseorang yang memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum membasuhnya

١٠٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي رَزِينٍ، وَأَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا قَامَ أَحَدُكُمۡ مِنَ اللَّيۡلِ؛ فَلَا يَغۡمِسۡ يَدَهُ فِي الۡإِنَاءِ حَتَّى يَغۡسِلَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّهُ لَا يَدۡرِي أَيۡنَ بَاتَتۡ يَدُهُ). [م، خ، دون الثلاث].
103. Musaddad telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami, dari Al-A'masy, dari Abu Razin dan Abu Shalih, dari Abu Hurairah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang kalian bangun malam, janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam bejana sampai ia membasuh tangannya tiga kali. Karena ia tidak tahu di mana tangannya bermalam.”

Shahih Muslim hadits nomor 278

٢٦ – بَابُ كَرَاهَةِ غَمۡسِ الۡمُتَوَضِّىءِ وَغَيۡرِهِ يَدَهُ الۡمَشۡكُوكَ فِي نَجَاسَتِهَا فِي الۡإِنَاءِ قَبۡلَ غَسۡلِهَا ثَلَاثًا

26. Bab dibencinya orang yang akan wudu dan selainnya mencelupkan tangan yang kemungkinan najis ke dalam bejana sebelum membasuhnya tiga kali

٨٧ – (٢٧٨) – وَحَدَّثَنَا نَصۡرُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡجَهۡضَمِيُّ وَحَامِدُ بۡنُ عُمَرَ الۡبَكۡرَاوِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ الۡمُفَضَّلِ، عَنۡ خَالِدٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ شَقِيقٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (إِذَا اسۡتَيۡقَظَ أَحَدُكُمۡ مِنۡ نَوۡمِهِ، فَلَا يَغۡمِسۡ يَدَهُ فِي الۡإِنَاءِ حَتَّى يَغۡسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدۡرِي أَيۡنَ بَاتَتۡ يَدُهُ).
87. (278). Nashr bin 'Ali Al-Jahdhami dan Hamid bin 'Umar Al-Bakrawi telah menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Bisyr bin Al-Mufadhdhal menceritakan kepada kami, dari Khalid, dari 'Abdullah bin Syaqiq, dari Abu Hurairah: Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang kalian bangun tidur, janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam bejana sampai ia membasuhnya tiga kali. Karena ia tidak tahu di mana tangannya telah bermalam.”
(…) - حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ وَأَبُو سَعِيدٍ الۡأَشَجُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، كِلَاهُمَا عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي رَزِينٍ وَأَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ.
فِي حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ: قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ.
وَفِي حَدِيثِ وَكِيعٍ: قَالَ يَرۡفَعُهُ بِمِثۡلِهِ.
Abu Kuraib dan Abu Sa'id Al-Asyajj telah menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Waki' menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami. Keduanya dari Al-A'masy, dari Abu Razin dan Abu Shalih, dari Abu Hurairah.
Di dalam hadis Abu Mu'awiyah: Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Di dalam hadis Waki': Beliau mengatakan dengan memarfu'kan dengan yang semisalnya.
(…) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَعَمۡرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ. قَالُوا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ.
(ح) وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنِ ابۡنِ الۡمُسَيَّبِ، كِلَاهُمَا عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، بِمِثۡلِهِ.
Abu Bakr bin Abu Syaibah, 'Amr An-Naqid, dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Mereka mengatakan: Sufyan bin 'Uyainah menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Rafi' telah menceritakan hadis tersebut kepadaku: 'Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma'mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Ibnul Musayyab. Keduanya dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, semisal hadis tersebut.
٨٨ - (…) - وَحَدَّثَنِي سَلَمَةُ بۡنُ شَبِيبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ أَعۡيَنَ، حَدَّثَنَا مَعۡقِلٌ، عَنۡ أَبِي الزُّبَيۡرِ، عَنۡ جَابِرٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (إِذَا اسۡتَيۡقَظَ أَحَدُكُمۡ فَلۡيُفۡرِغۡ عَلَى يَدِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، قَبۡلَ أَنۡ يُدۡخِلَ يَدَهُ فِي إِنَائِهِ، فَإِنَّهُ لَا يَدۡرِي فِيمَ بَاتَتۡ يَدُهُ).
88. Salamah bin Syabib telah menceritakan kepadaku, beliau mengatakan: Al-Hasan bin A'yan menceritakan kepada kami, Ma'qil menceritakan kepada kami, dari Abuz Zubair, dari Jabir, dari Abu Hurairah: Bahwa beliau mengabarkan kepadanya: Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang kalian bangun, tuangkanlah air ke tangannya sebanyak tiga kali sebelum dia memasukkan tangan ke dalam bejananya. Karena ia tidak tahu pada apa tangannya bermalam.”
(…) - وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا الۡمُغِيرَةُ - يَعۡنِي الۡحِزَامِيَّ - عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ.
(ح) وَحَدَّثَنَا نَصۡرُ بۡنُ عَلِيٍّ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَىٰ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ مُحَمَّدٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ.
وَحَدَّثَنِي أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ - يَعۡنِي ابۡنُ مَخۡلَدٍ - عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ جَعۡفَرٍ، عَنِ الۡعَلَاءِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ.
وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: حَدَّثَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ.
(ح) وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَكۡرٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا الۡحُلۡوَانِيُّ وَابۡنُ رَافِعٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، قَالَا جَمِيعًا: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي زِيَادٌ: أَنَّ ثَابِتًا مَوۡلَىٰ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ زَيۡدٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ فِي رِوَايَتِهِمۡ جَمِيعًا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ. كُلُّهُمۡ يَقُولُ: حَتَّى يَغۡسِلَهَا. وَلَمۡ يَقُلۡ وَاحِدٌ مِنۡهُمۡ: ثَلَاثًا، إِلَّا مَا قَدَّمۡنَا مِنۡ رِوَايَةِ جَابِرٍ، وَابۡنِ الۡمُسَيَّبِ، وَأَبِي سَلَمَةَ، وَعَبۡدِ اللهِ بۡنِ شَقِيقٍ، وَأَبِي صَالِحٍ، وَأَبِي رَزِينٍ، فَإِنَّ فِي حَدِيثِهِمۡ ذِكۡرَ الثَّلَاثِ.
Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami: Al-Mughirah Al-Hizami, dari Abuz Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah. (Dalam riwayat lain) Nashr bin 'Ali telah menceritakan kepada kami: 'Abdul A'la menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dari Muhammad, dari Abu Hurairah.
Abu Kuraib telah menceritakan kepadaku: Khalid bin Makhlad menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ja'far, dari Al-'Ala`, dari ayahnya, dari Abu Hurairah.
Muhammad bin Rafi' telah menceritakan kepada kami: 'Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma'mar menceritakan kepada kami, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepadaku: Muhammad bin Bakr menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Al-Hulwani dan Ibnu Rafi' telah menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: 'Abdurrazzaq menceritakan kepada kami. Kedua-duanya mengatakan: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami: Ziyad mengabarkan kepadaku: Bahwa Tsabit maula 'Abdurrahman bin Zaid mengabarkan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah dalam riwayat mereka seluruhnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan hadis ini. Mereka semuanya mengatakan: Sampai ia membasuh tangannya. Dan tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan: tiga kali, kecuali apa yang telah kami sebutkan dari riwayat Jabir, Ibnul Musayyab, Abu Salamah, 'Abdullah bin Syaqiq, Abu Shalih, Abu Razin. Dalam hadis mereka ada penyebutan tiga kali.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 1987

٥٥ – بَابُ مَا جَاءَ فِي مُعَاشَرَةِ النَّاسِ

55. Bab tentang bergaul dengan manusia

١٩٨٧ – (حسن) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ حَبِيبِ بۡنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنۡ مَيۡمُونِ بۡنِ أَبِي شَبِيبٍ، عَنۡ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (اتَّقِ اللهَ حَيۡثُمَا كُنۡتَ، وَأَتۡبِعِ السَّيِّئَةَ الۡحَسَنَةَ تَمۡحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ). وَفِي الۡبَابِ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. [(المشكاة)(٥٠٨٣)، (الروض النضير)(٨٥٥)].
١٩٨٧ (م١) – حَدَّثَنَا مَحۡمُودُ بۡنُ غَيۡلَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو أَحۡمَدَ وَأَبُو نُعَيۡمٍ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ حَبِيبٍ بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ نَحۡوَهُ.
١٩٨٧ (م٢) – قَالَ مَحۡمُودٌ: وَحَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ حَبِيبِ بۡنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنۡ مَيۡمُونِ بۡنِ أَبِي شَبِيبٍ، عَنۡ مُعَاذِ بۡنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَهُ. قَالَ مَحۡمُودٌ: وَالصَّحِيحُ حَدِيثُ أَبِي ذَرٍّ.
1987. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: 'Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Habib bin Abu Tsabit, dari Maimun bin Abu Syabib, dari Abu Dzarr, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan perangai yang baik.” Dalam bab ini ada hadis dari Abu Hurairah. Ini adalah hadis hasan sahih.
Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Abu Ahmad dan Abu Nu'aim menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Habib dengan sanad ini semisal hadis tersebut.
Mahmud mengatakan: Waki' menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Habib bin Abu Tsabit, dari Maimun bin Abu Syabib, dari Mu'adz bin Jabal, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam semisal hadis tersebut. Mahmud berkata: Yang sahih adalah hadis Abu Dzarr.

Taisirul 'Allam - Hadits ke-3

الۡحَدِيثُ الثَّالِثُ

٣ – عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡعَاصِ، وَأَبِي هُرَيۡرَةَ، وَعَائِشَةَ[1] رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنۡهُمۡ قَالُوا: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (وَيۡلٌ لِلۡأَعۡقَابِ مِنَ النَّارِ)[2].
3. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Abu Hurairah, dan ‘Aisyah radhiyallahu ta’ala anhum, mereka mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celaka tumit-tumit itu dari api neraka.”

غَرِيبُ الۡحَدِيثِ:

(الۡوَيۡلُ) الۡعَذَابُ وَالۡهَلَاكُ. وَالۡوَيۡلُ: مَصۡدَرٌ لَا فِعۡلَ لَهُ مِنۡ لَفۡظِهِ.
(وَالۡأَعۡقَاب) جَمۡعُ (عَقِبٍ) وَهُوَ مُؤَخَّرُ الۡقَدَمِ، وَالۡمُرَادُ أَصۡحَابُهَا.
وَ(ألـ) فِي (الۡأَعۡقَابِ) لِلۡعَهۡدِ أَيۡ الۡأَعۡقَابُ الَّتِي لَا يَنَالُهَا الۡمَاءُ، وَبِهَٰذَا يَسۡتَقِيمُ الۡوَعِيدُ.

Kosakata asing dalam hadits:

  1. Al-Wail” adalah siksa dan kebinasaan. Al-Wail adalah mashdar yang tidak memiliki fi’il dari lafazhnya.
  2. Al-A’qab” bentuk jamak dari ‘aqib adalah bagian belakang telapak kaki. Yang dimaksud adalah orangnya.
  3. Huruf alif lam pada “al-a’qab” adalah untuk menentukan, yakni tumit-tumit yang tidak terkena air. Sehingga dalam hal inilah ancaman hadis tersebut ditujukan.

الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِي:

يُحَذِّرُ النَّبِيُّ ﷺ مِنَ التَّهَاوُنِ بِأَمۡرِ الۡوُضُوءِ وَالتَّقۡصِيرِ فِيهِ، وَيَحُثُّ عَلَى الۡاعۡتِنَاءِ بِإِتۡمَامِهِ.
وَلَمَّا كَانَ مُؤَخَّرُ الرِّجۡلِ –غَالِبًا- لَا يَصِلُ إِلَيۡهِ مَاءُ الۡوُضُوءِ، فَيَكُونُ الۡخَلَلُ فِي الطَّهَارَةِ وَالصَّلَاةِ مِنۡهُ، أَخۡبَرَ أَنَّ الۡعَذَابَ مُنۡصَبٌّ عَلَيۡهِ وَعَلَى صَاحِبِهِ الۡمُتَهَاوِنِ فِي طَهَارَتِهِ الشَّرۡعِيَّةِ.

Makna secara umum:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dari bermudah-mudahan dalam perkara wudu dan meremehkannya. Bahkan beliau menganjurkan agar diperhatikan kesempurnaannya. Karena bagian belakang kaki sering tidak terkena air wudu, sehingga dapat menyebabkan cacat dalam taharah dan salatnya; beliau mengabarkan bahwa azab ditujukan pada hal itu dan pada pelakunya yang bermudah-mudahan dalam bersuci yang syar’i.

مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:

١ – وُجُوبُ الۡاعۡتِنَاءِ بِأَعۡضَاءِ الۡوُضُوءِ، وَعَدَمُ الۡإِخۡلَالِ بِشَيۡءٍ مِنۡهَا. وَقَدۡ نَصَّ الۡحَدِيثُ عَلَى الۡقَدَمَيۡنِ وَبَقِيَّةِ الۡأَعۡضَاءِ مَقِيسَةً عَلَيۡهِمَا. مَعَ وُجُودِ نُصُوصٍ لَهَا.
٢ – الۡوَعِيدُ الشَّدِيدُ لِلۡمُخِلِّ فِي وُضُوئِهِ.
٣ – أَنَّ الۡوَاجِبَ فِي الرِّجۡلَيۡنِ الۡغُسۡلُ فِي الۡوُضُوءِ، وَهُوَ مَا تَضَافَرَتۡ عَلَيۡهِ الۡأَدِلَّةُ الصَّحِيحَةُ، وَإِجۡمَاعُ الۡأُمَّةِ، خِلَافًا لِشُذُوذِ الشِّيعَةِ الَّذِينَ خَالَفُوا بِهِ جَمَاهِيرُ الۡأُمَّةِ، وَخَالَفُوا بِهِ الۡأَحَادِيثَ الثَّابِتَةَ فِي فِعۡلهِ وَتَعۡلِيمِهِ ﷺ لِلصَّحَابَةِ إِيَّاهُ، كَمَا خَالَفُوا الۡقِيَاسَ الۡمُسۡتَقِيمَ مِنۡ أَنَّ الۡغُسۡلَ لِلرِّجۡلَيۡنِ أَوۡلَى وَأَنۡقَى مِنَ الۡمَسۡحِ، فَهُوَ أَشَدُّ مُنَاسَبَةً وَأَقۡرَبُ إِلَى الۡمَعۡنَى.

Kesimpulan hadits ini:

  1. Wajibnya memperhatikan anggota-anggota tubuh dan tidak boleh ada yang terlewat sedikit pun darinya. Hadis ini telah menjelaskan dua telapak kaki secara khusus, adapun anggota tubuh wudu lainnya dikiaskan kepadanya. Namun, sebenarnya telah ada nas-nas yang menjelaskan anggota tubuh wudu lainnya.
  2. Ancaman yang keras untuk orang yang tidak menyempurnakan wudunya.
  3. Bahwa yang wajib untuk dua kaki adalah dicuci ketika wudu. Dan kewajiban ini didukung oleh dalil-dalil yang sahih dan kesepakatan umat. Berbeda dengan keganjilan kelompok Syi’ah yang mana mereka menyelisihi mayoritas umat. Mereka juga menyelisihi hadis-hadis yang telah pasti mengenai dilakukannya hal ini dan diajarkannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Sebagaimana pula mereka telah menyelisihi kias yang lurus dan benar bahwasanya mencuci dua kaki lebih utama dan lebih bersih daripada sekedar mengusapnya. Dan bahwa mencuci itu lebih sesuai dan lebih dekat kepada makna hadis.

[1] حَدِيثُ عَائِشَةَ، تَفَرَّدَ بِهِ مُسۡلِمٌ. 
[2] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٦٠) فِي الۡعِلۡمِ، (٩٦) بَابِ مَنۡ أَعَادَ الۡحَدِيثَ ثَلَاثًا لِيُفۡهَمَ مِنۡهُ، (١٦٣) فِي الۡوُضُوءِ. وَمُسۡلِمٌ (٢٤١) فِي الطَّهَارَةِ، وَرَوَاهُ أَيۡضًا أَبُو دَاوُدَ (٩٧) فِي الطَّهَارَةِ، وَالنَّسَائِيُّ (١/ ٧٧، ٧٨) فِي الطَّهَارَةِ.

Wahai Abu Bakar, Kami Sudah Penuhi Janji itu

Profil ulama kita kali ini mengetengahkan biografi seorang penghulu ilmu hadis dan fikih di masanya. Beliau adalah Muhammad bin Al-Husain bin Abdillah Abu Bakar Al-Ajurri Al-Baghdadi Al-Makki rahimahullah. Beliau adalah Syaikhnya Al-Haram Al-Makki, Imam, suri teladan yang baik, seorang yang zuhud, imam di masanya dalam hadis dan ilmu fikih. Sangat banyak predikat dan gelar kehormatan yang disandangkan kepada beliau. Semua itu mencerminkan keistimewaan yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada beliau. Al-Ajurri dilahirkan pada tahun 280 H di kota Baghdad, tepatnya berasal dari sebuah tempat di kota itu yang bernama Darbal Ajur.

PERTUMBUHAN ILMIAH AL-HAFIZH AL-AJURRI RAHIMAHULLAH


Pada awalnya, beliau tumbuh di Baghdad dan menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut. Namun semangat beliau yang tinggi untuk menuntut ilmu agama mendorongnya untuk berpindah ke Mekah pada tahun 299 H. Waktu itu usia beliau masih sembilan belas tahun. Namun, beliau telah mendengar hadis di Masjidil Haram dari Al-Mufadhdhal bin Muhammad Al-Jundi dan yang lainnya. Selanjutnya beliau mengajarkan hadis di Baghdad dalam berbagai forum dan kesempatan. Namun akhirnya kembali berpindah ke Mekah pada tahun 330 H dan memutuskan untuk tinggal di sana.

Di kota kelahiran Nabi ini, beliau bertemu dengan sekelompok ulama besar di masanya. Beliau tinggal di kota suci itu selama 30 tahun. Al-Ajurri sendiri berkisah bahwa faktor pendorong kepindahannya ke Mekah adalah karena tersebarnya berbagai bid’ah di Baghdad. Beliau menuturkan bahwa bid’ah telah merajalela di Baghdad, bahkan bid’ah pun dilakukan dalam bacaan Al-Quran dan azan.

GURU-GURU BELIAU


Beliau pernah menimba ilmu dari sekian banyak ulama besar dan ternama. Bahkan guru beliau mencapai seratus orang atau lebih. Di antara guru beliau adalah sebagai berikut:
Ibrahim bin Abdillah bin Muslim Al-Bashri Al-Kajji. Beliau adalah seorang imam dan guru besar di masanya.
  1. Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin Al-Faizuran. Beliau adalah Syaikhul Qurra (guru besar pembaca Al-Qur’an) di Baghdad.
  2. Abu Abdillah Ahmad bin Al-Hasan Al-Baghdadi. Seorang pakar hadis dari Baghdad.
  3. Abu Bakr Ja’far bin Muhammad Al-Firyani.
  4. Abul Abbas Ahmad bin Zanjuwaih Al-Qathan. Seorang ahli hadis yang mutqin (kokoh hafalannya) lagi tsiqah (terpercaya keagamaannya).
  5. Abu Bakr As-Sijistani, dan masih banyak yang lainnya.

MURID-MURID BELIAU


Sebagai ulama besar, Al-Ajurri rahimahullah memiliki murid-murid yang sangat banyak. Para ulama sering mengunjungi beliau terutama ketika tinggal di kota Mekah. Disebutkan dalam sebuah referensi bahwa jumlah murid beliau mencapai sembilan puluh tiga orang atau lebih. Di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Ibrahim bin Ismail Abu Ja’far Al-Alawi Al-Makki Qadhi Haramain (hakim Mekah dan Madinah).
  2. Ahmad bin Abdilah Abu Nuaim Al-Ashfahani penulis kitab Hilyatul Auliya.
  3. Ahmad bin Muhammad Abu Bakr Al-Bazzar. Beliau meriwayatkan kitab Asy-Syari’ah dari Al-Ajurri.
  4. Hamzah bin Musa Abu Muhammad Al-Isybili.
  5. Abdul Hamid bin Muhammad Abu Bakr Az-Zuhairi. Beliau termasuk keturunan Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
  6. Abdurrahman bin Umar Abu Muhammad At-Tuwaijibi Al-Mishri. Beliau adalah seorang imam, ahli fikih dan pakar hadis yang terkenal dengan sebutan Ibnu Nuhas.
  7. Muhammad bin Ali bin Athiyah Abu Thalib Al-Haritsi penulis kitab ‘Qutul Qulub’.

MAZHAB FIKIH AL-AJURRI.


Beliau tidak mengilzamkan diri (mengharuskan) untuk memeluk salah satu mazhab tertentu. Namun beliau adalah seorang ahli fikih dan ijtihad, sebagaimana ahli hadis yang lainnya. Para ulama pun berbeda pendapat tentang mazhab fikih yang beliau ikuti. Namun, secara global beliau selalu berusaha mengikuti pendapat yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Beliau jauh dari sikap fanatik dan taklid buta (mengikuti tanpa dalil) terhadap suatu mazhab.

AKIDAH AL-AJURRI.


Imam Al-Ajurri rahimahullah adalah seorang ulama yang berakidah ahlus sunnah wal jama’ah. Berbagai karya beliau menjadi bukti yang mendukung hal tersebut. Terutama kitabnya yang berjudul Asy-Syariah. Hal ini juga dipersaksikan oleh para ulama, di antaranya adalah Adz-Dzahabi dan yang lainnya.

KARYA TULIS AL-AJURRI.


Beliau termasuk ulama yang sangat aktif membuat karya tulis dalam berbagai cabang ilmu. Sebagaimana hal tersebut ditegaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah. Di antara karya tulis beliau adalah sebagai berikut:
  1. Akhlaqu Hamalatil Qur’an.
  2. Akhlaqul Ulama.
  3. Al-Amru biluzumil jama’ah wa tarkil ibtida’.
  4. Tahrimu ityanin nisa fi adbarihinna.
  5. Tahrimun Nard wa Syathranji wal Malahi.
  6. At-Tashdiq bin Nadzar ilallahi Ta’ala fil Akhirah.
  7. Asy-Syariah.
  8. Al-Ghuraba.
Dan masih banyak karya tulis beliau lainnya yang sudah tercetak, berupa manuskrip, atau yang tidak diketahui keberadaannya.

PUJIAN PARA ULAMA TERHADAP AL-AJURRI.


Al-Khatib Al-Baghdadi mengatakan, “Al-Ajurri adalah seorang yang tsiqah (terpercaya), jujur, dan taat beragama.” Al-Ajurri adalah seorang imam, penasihat, wara’, saleh, dan ucapannya adalah pelita.” Al-Hafizh Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi menyatakan, “Al-Ajurri adalah seorang imam, suri teladan yang baik, berilmu, mengamalkan ilmunya, dan komitmen terhadap sunnah.” Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Abu Bakr Al-Ajurri adalah seorang imam di zamannya dalam hadis dan ilmu fikih.” Dan masih banyak sanjungan para ulama kepada beliau. Apakah yang sezaman dengan beliau atau ulama setelahnya.

WAFATNYA AL-AJURRI.


Dikisahkan oleh Abu Suhail Mahmud bin Umar Al-Akbari bahwa Al-Ajurri rahimahullah sangat senang setibanya di kota Mekah. Kemudian beliau berdoa, “Ya Allah, berilah kehidupan kepadaku di negeri ini meskipun hanya setahun.” Tiba-tiba beliau mendengar sebuah bisikan yang mengatakan, “Wahai Abu Bakar, kenapa hanya setahun? Tiga puluh tahun!” Tatkala memasuki tahun ketiga puluh keberadaannya di kota Mekah, beliau pun mendengar bisikan lagi yang mengatakan, “Wahai Abu Bakar, kami sudah menunaikan janji itu.” Sungguh beliau pun meninggal pada tahun itu juga, pada hari Jum’at bulan Muharram tahun 360 H di Mekah. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 28 vol. 03 1436 H/ 2015 M, rubrik Biografi. Pemateri: Ustadz Abu Hafiy Abdullah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6116

٦١١٦ – حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا أَبُو بَكۡرٍ، هُوَ ابۡنُ عَيَّاشٍ، عَنۡ أَبِي حَصِينٍ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: أَوۡصِنِي، قَالَ: (لَا تَغۡضَبۡ). فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: (لَا تَغۡضَبۡ). [طرفه في: ٣٢٨٢].
6116. Yahya bin Yusuf telah menceritakan kepadaku: Abu Bakr bin 'Ayyasy mengabarkan kepada kami, dari Abu Hashin, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: Bahwa seseorang berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: Berilah aku wasiat. Beliau bersabda, “Janganlah engkau marah.” Orang itu mengulang beberapa kali, namun Nabi tetap bersabda, “Janganlah engkau marah.”

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-13, ke-14, dan ke-15

الۡحَدِيثُ الثَّالِثَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي حَمۡزَةَ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ خَادِمِ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يُؤۡمِنُ أَحَدُكُمۡ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفۡسِهِ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu pelayan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Salah seorang kalian tidak beriman sampai ia mencintai untuk saudaranya apa saja yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Al-Bukhari nomor 13 dan Muslim nomor 45).

الۡحَدِيثُ الرَّابِعَ عَشَرَ

عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَحِلُّ دَمُ امۡرِئٍ مُسۡلِمٍ إِلَّا بِإِحۡدَى ثَلَاثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفۡسُ بِالنَّفۡسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الۡمُفَارِقُ لِلۡجَمَاعَةِ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Darah seorang muslim tidak halal kecuali karena salah satu dari tiga sebab: orang yang sudah menikah lalu berzina, jiwa dengan jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya berpisah dari jemaah kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhari nomor 6878 dan Muslim nomor 1676).

الۡحَدِيثُ الۡخَامِسَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيَقُلۡ خَيۡرًا أَوۡ لِيَصۡمُتۡ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُكۡرِمۡ جَارَهُ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُكۡرِمۡ ضَيۡفَهُ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah perkataan yang baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tetangganya. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya.” (HR. Al-Bukhari nomor 6018 dan Muslim nomor 47).

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6018

٣١ – بَابٌ (مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلَا يُؤۡذِ جَارَهُ)

31. Bab “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya”

٦٠١٨ – حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ، عَنۡ أَبِي حَصِينٍ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلَا يُؤۡذِ جَارَهُ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُكۡرِمۡ ضَيۡفَهُ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيَقُلۡ خَيۡرًا أَوۡ لِيَصۡمُتۡ). [طرفه في: ٥١٨٥].
6018. Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami: Abul Ahwash menceritakan kepada kami, dari Abu Hashin, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah perkataan yang baik atau diam.”

Shahih Muslim hadits nomor 1676

٦ – بَابُ مَا يُبَاحُ بِهِ دَمُ الۡمُسۡلِمِ

6. Bab tentang darah seorang muslim yang boleh ditumpahkan

٢٥ – (١٦٧٦) – حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ غِيَاثٍ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَحِلُّ دَمُ امۡرِىءٍ مُسۡلِمٍ، يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، إِلَّا بِإِحۡدَىٰ ثَلَاثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفۡسُ بِالنَّفۡسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الۡمُفَارِقُ لِلۡجَمَاعَةِ).
25. (1676). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Hafsh bin Ghiyats, Abu Mu'awiyah, dan Waki' menceritakan kepada kami, dari Al-A'masy, dari 'Abdullah bin Murrah, dari Masruq, dari 'Abdullah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa aku adalah rasul Allah; darahnya tidak halal kecuali karena salah satu dari tiga sebab: orang yang sudah menikah lalu berzina, nyawa dengan nyawa, dan orang yang meninggalkan agamanya berpisah dari jemaah kaum muslimin.”
(…) - حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عُمَرَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ. (ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ وَعَلِيُّ بۡنُ خَشۡرَمٍ. قَالَا: أَخۡبَرَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ. كُلُّهُمۡ عَنِ الۡأَعۡمَشِ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ.
Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Abu 'Umar telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ishaq bin Ibrahim dan 'Ali bin Khasyram telah menceritakan kepada kami. Keduanya mengatakan: 'Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami. Mereka seluruhnya dari Al-A'masy, dengan sanad ini... semisal hadis tersebut.
٢٦ - (…) - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى – وَاللَّفۡظُ لِأَحۡمَدَ - قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ. قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقَالَ: (وَالَّذِي لَا إِلٰهَ غَيۡرُهُ، لَا يَحِلُّ دَمُ رَجُلٍ مُسۡلِمٍ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، إِلَّا ثَلَاثَةُ نَفَرٍ: التَّارِكُ الۡإِسۡلَامَ، الۡمُفَارِقُ لِلۡجَمَاعَةِ أَوِ الۡجَمَاعَةَ - شَكَّ فِيهِ أَحۡمَدُ -. وَالثَّيِّبُ الزَّانِي. وَالنَّفۡسُ بِالنَّفۡسِ).
26. Ahmad bin Hanbal dan Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepada kami -dan lafazh ini milik Ahmad-, keduanya mengatakan: 'Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Al-A'masy, dari 'Abdullah bin Murrah, dari Masruq, dari 'Abdullah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdiri di antara kami dan bersabda, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selainNya, tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa aku adalah rasul Allah, kecuali tiga golongan: orang yang meninggalkan Islam berpisah dari jemaah kaum muslimin, orang yang telah menikah lalu berzina, dan nyawa dengan nyawa.”
(…) - قَالَ الۡأَعۡمَشُ: فَحَدَّثۡتُ بِهِ إِبۡرَاهِيمَ. فَحَدَّثَنِي، عَنِ الۡأَسۡوَدِ، عَنۡ عَائِشَةَ... بِمِثۡلِهِ.
Al-A'masy berkata: Aku menceritakan hadis tersebut kepada Ibrahim. Lalu, beliau menceritakan kepadaku, dari Al-Aswad, dari 'Aisyah... semisal hadis tersebut.
(…) - وَحَدَّثَنِي حَجَّاجُ بۡنُ الشَّاعِرِ وَالۡقَاسِمُ بۡنُ زَكَرِيَّاءَ. قَالَا: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُوسَىٰ، عَنۡ شَيۡبَانَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، بِالۡإِسۡنَادَيۡنِ جَمِيعًا... نَحۡوَ حَدِيثِ سُفۡيَانَ. وَلَمۡ يَذۡكُرَا فِي الۡحَدِيثِ قَوۡلَهُ: (وَالَّذِي لَا إِلٰهَ غَيۡرُهُ).
Hajjaj bin Asy-Sya'ir dan Al-Qasim bin Zakariyya` telah menceritakan kepadaku. Keduanya mengatakan: 'Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami, dari Syaiban, dari Al-A'masy, dengan dua sanad sekaligus... semisal hadis Sufyan. Namun keduanya tidak menyebutkan di dalam hadis ini, sabda beliau, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selainNya”.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6878

٦ – بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَيۡنَ بِٱلۡعَيۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُۥ ۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ﴾ [المائدة: ٤٥]

6. Bab firman Allah ta'ala, “Bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 45)

٦٨٧٨ – حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَفۡصٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَحِلُّ دَمُ امۡرِىءٍ مُسۡلِمٍ، يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، إِلَّا بِإِحۡدَى ثَلَاثٍ: النَّفۡسِ بِالنَّفۡسِ، وَالثَّيِّبِ الزَّانِي، وَالۡمَارِقِ مِنَ الدِّينِ التَّارِكِ الۡجَمَاعَةَ).
6878. 'Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Al-A'masy menceritakan kepada kami, dari 'Abdullah bin Murrah, dari Masruq, dari 'Abdullah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali karena salah satu dari tiga sebab: Nyawa dengan nyawa, orang yang sudah menikah lalu berzina, dan keluar dari agama meninggalkan jemaah kaum muslimin.”

Taisirul 'Allam - Hadits ke-2

الۡحَدِيثُ الثَّانِي

٢ – عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَقۡبَلُ اللهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمۡ إِذَا أَحۡدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ)[1].
2. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak menerima salat salah seorang kalian apabila ia telah berhadas sampai ia berwudu terlebih dulu.”

غَرِيبُ الۡحَدِيثِ:

١ – (لَا يَقۡبَلُ اللهُ) بَصِيغَةِ النَّفۡيِ، وَهُوَ أَبۡلَغُ مِنَ النَّهۡيِ، لِأَنَّهُ يَتَضَمَّنُ النَّهۡيَ، وَزِيَادَةَ نَفۡيِ حَقِيقَةِ الشَّيۡءِ.
٢ – (أَحۡدَثَ) أَيۡ حَصَلَ مِنۡهُ الۡحَدَثُ، وَهُوَ الۡخَارِجُ مِنۡ أَحَدِ السَّبِيلَيۡنِ أَوۡ غَيۡرِهِ مِنۡ نَوَاقِضِ الۡوُضُوءِ. وَفِي الۡأَصۡلِ: الۡحَدَثُ، الۡإِيذَاءُ.
٣ – (الۡحَدَثُ) وَصۡفٌ حُكۡمِيٌّ مُقَدَّرٌ قِيَامُهُ بِالۡأَعۡضَاءِ، يَمۡنَعُ وُجُودَهُ مِنۡ صِحَّةِ الۡعِبَادَةِ الۡمَشۡرُوطِ لَهَا الطَّهَارَةُ.

Kosakata asing dalam hadis ini:

  1. Laa yaqbalullah dengan bentuk nafi. Bentuk nafi ini lebih gamblang daripada bentuk larangan karena nafi mengandung makna larangan dan ditambah makna peniadaan hakikat sesuatu.
  2. Ahdatsa yakni terjadi hadas padanya. Hadas adalah yang keluar dari salah satu dari dua jalan atau selainnya dari pembatal-pembatal wudu. Hadas asalnya adalah kotoran.
  3. Al-hadatsu adalah sifat hukum yang tersembunyi pada anggota badan. Keberadaannya menghalangi dari sahnya suatu ibadah yang disyaratkan adanya kesucian.
الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِي: الشَّارِعُ الۡحَكِيمُ أَرۡشَدَ مَنۡ أَرَادَ الصَّلَاةَ، أَنۡ لَا يَدۡخُلَ فِيهَا إِلَّا عَلَى حَالٍ حَسَنَةٍ وَهَيۡئَةٍ جَمِيلَةٍ، لِأَنَّهَا الصِّلَةُ الۡوَثِيقَةُ بَيۡنَ الرَّبِّ وَعَبۡدِهِ، وَهِيَ الطَّرِيقُ إِلَى مُنَاجَاتِهِ؛ لِذَا أَمَرَهُ بِالۡوُضُوءِ وَالطَّهَارَةِ فِيهَا، وَأَخۡبَرَهُ أَنَّهَا مَرۡدُودَةٌ غَيۡرُ مَقۡبُولَةٍ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ.

Makna secara umum:

Allah Pembuat syariat yang Maha Bijaksana membimbing siapa saja yang hendak salat untuk tidak memulainya kecuali dalam keadaan yang baik dan kondisi yang indah. Karena salat merupakan ikatan erat antara Rabb dengan hambaNya dan ia merupakan jalan untuk bermunajat kepadaNya. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan hambaNya untuk berwudu dan bersuci ketika hendak salat. Dan Dia mengabarkan bahwa salat itu tertolak tidak diterima tanpa wudu.

مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:

١ – أَنَّ صَلَاةَ الۡمُحۡدِثِ لَا تُقۡبَلُ حَتَّى يَتَطَهَّرَ مِنَ الۡحَدِيثَيۡنِ الۡأَكۡبَرِ وَالۡأَصۡغَرِ.
٢ – أَنَّ الۡحَدَثَ نَاقِضٌ لِلۡوُضُوءِ وَمُبۡطِلٌ لِلصَّلَاةِ إِنۡ كَانَ فِيهَا.
٣ – الۡمُرَادُ بِعَدَمِ الۡقَبُولِ هُنَا: عَدَمُ صِحَّةِ الصَّلَاةِ وَعَدَمُ إِجۡزَاءِهَا.
٤ – الۡحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الطَّهَارَةِ شَرۡطٌ لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ.

Kesimpulan hadis ini:

  1. Bahwa salat orang yang berhadas tidak diterima sampai ia bersuci dari dua hadas yang besar dan yang kecil.
  2. Bahwa hadas merupakan pembatal wudu dan pembatal salat apabila hadas muncul ketika salat.
  3. Yang dimaksud tidak diterima di sini adalah tidak sah dan tidak cukup salatnya.
  4. Hadis ini menunjukkan bahwa bersuci merupakan syarat sahnya salat.

[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (١٣٥) فِي الۡوُضُوءِ، (٦٩٥٤) فِي الۡحِيَلِ بَابٍ فِي الصَّلَاةِ، وَرَوَاهُ التِّرۡمِذِيُّ (٧٦) فِي الطَّهَارَةِ، وَأَحۡمَدُ فِي الۡمُسۡنَدِ (٢/٣١٨).

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 76

٧٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا مَحۡمُودُ بۡنُ غَيۡلَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: (إِنَّ اللهَ لَا يَقۡبَلُ صَلَاةَ أَحَدِكُمۡ إِذَا أَحۡدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ). هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. [(صحيح أبي داود) (٥٤): ق].
76. Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: 'Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Ma'mar mengabarkan kepada kami, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima salat seseorang apabila ia telah berhadas hingga ia berwudu terlebih dulu.” Ini hadis hasan sahih.

Arsy Allah Bergetar dengan Wafatnya Sa’ad bin Mu’adz

Hidayah Allah subhanahu wa ta’ala sungguh di luar sangka manusia. Allah berikan kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Boleh jadi yang semula membenci iman, kini begitu mencintainya. Hidayah itu tak melulu bagi golongan miskin papa, tak pula khusus bagi para dermawan yang berharta. Bila hidayah telah menetap kuat dalam dada, seribu rintangan tak berarti dalam derap langkahnya.

Tersebutlah kisah yang masyhur tentang seorang sahabat yang begitu mulia, Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Beliau merupakan tokoh dari Bani Asyhal dan memiliki pengaruh yang sangat besar untuk kaumnya. Saat Islam mulai terbit di Negeri Yatsrib (Madinah), agama ini begitu mengganggunya. Tampak jelas ketidaksukaan Sa’ad kepada ajaran baru nan asing, yang dibawa oleh seorang yang asing pula di negerinya.

Pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”. Begitulah gambaran Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu terhadap ajaran Islam yang begitu indah di awal kemunculannya. Walau begitu, Sa’ad terkenal sebagai seorang pemimpin yang bijak, dalam menentukan setiap langkah yang akan diambil. Dia tak sembarangan dalam memutuskan sikap.

“Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika Anda suka dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya Anda membencinya, maka aku akan pergi.”

Sebuah tawaran yang bijak dari sang juru dakwah. Sebab, setiap keputusan bisa tepat bila telah mengetahui hakikat masalahnya.

“Ya, yang demikian itu lebih bijak.” Ucap Sa’ad.

Sang juru dakwah ini pun mulai menjelaskan kepada Sa’ad apa itu Islam. Dia membacakannya ayat-ayat Al Quran kepada beliau. Betapa indahnya ayat-ayat tersebut, tak mungkin merupakan kebohongan yang dibuat-buat manusia. Sungguh ini bersumber dari Zat Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana. Sungguh, fitrah yang masih suci dan lurus tiada akan menolak indahnya Islam yang ditawarkan. Memang Islam senantiasa sesuai dengan fitrah yang lurus. Tanpa bersikap ragu, Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu begitu cepat dalam menerima ajaran Islam. Inilah ajaran yang begitu mulia, yang sesuai dengan hati dan fitrah beliau. Tanpa ragu, sahabat yang jago menunggang kuda dan pemberani ini pun memutuskan untuk hijrah dari agama kekufuran kepada Islam yang mengajarkan arti peribadahan yang sebenarnya. Tak hanya itu, beliau pun bersegera memerintahkan kaumnya, Bani Asyhal untuk tunduk, dan turut serta bersama beliau memeluk indahnya Islam.

“Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!” Tegas beliau mengucapkannya.

Sungguh bukan ridha manusia yang menjadi tujuannya, bukan pula takut hilangnya kedudukan membuatnya bersikap lemah. Bahkan dengan lantang beliau ucapkan kata-kata ini. Siapakah sekarang pemimpin yang begitu berani dan teguh memegang prinsip kebenaran? Ah, pasti sulit untuk menemukannya. Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali seorang yang bernama Ushairim, ia menunda keimanan sampai saat tiba Perang Uhud, ia masuk Islam dan syahid di jalan Allah subhanahu wa ta’ala dalam perang tersebut. Ya, Sa’ad radhiyallahu ‘anhu memang seorang pemimpin yang memberi berkah bagi kaumnya walau saat itu usia beliau baru menginjak 31 tahun, umur yang begitu muda untuk seorang pemimpin yang bijak.

Nama lengkap beliau adalah Abu Amr Sa’ad bin Mu’adz bin An Nu’man bin Imriil Qais bin Zaid Abdil Asyhal bin Jasym bin Al Harits bin Al Khazraj bin An Nabit bin Malik bin Aus Al Anshari. Seorang tokoh muda dalam kabilah Aus. Ibunya bernama Kabsyah binti Rafi’. Beliau masuk Islam setahun sebelum Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah. Maka saat itu dimulailah lembaran baru perjalanan Islam.

Sebagaimana para pembela Islam lainnya, beliau pun mengikuti Perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Seluruh jiwa raga dipertaruhkan demi membela kemuliaan Islam. Pada perang yang terakhir, tepatnya di perang Khandaq, beliau radhiyallahu ‘anhu terkena lemparan panah. Terlukalah beliau di bagian urat nadi, tempat jalan darah yang begitu vital dalam menyokong kehidupan. Dengan sebab luka ini, beliau hanya mampu bertahan hidup sebulan lamanya kemudian meninggal dunia. Sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu mengisahkan tentang beliau, “Sa’ad bin Mu’adz terkena lemparan anak panah yang menyebabkan urat nadinya terputus.”

Pembaca, tahukah Anda bahwa Sa’ad radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat yang begitu setia terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Simaklah ucapan beliau saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat beliau, “Demi Zat yang telah memuliakan dan menurunkan kitab kepada Anda, jika Anda menempuh suatu tempat yang belum kami ketahui, hingga menuju Barku al-Ghumad di arah Yaman, pasti akan kami tempuh bersama Anda. Kami tidak akan menjadi sebagian dari orang-orang Bani Israil yang berkata kepada Nabi Musa,
فَٱذۡهَبۡ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَـٰتِلَآ إِنَّا هَـٰهُنَا قَـٰعِدُونَ
“Pergilah engkau bersama Rabbmu, berperanglah, sesungguhnya kami di sini duduk-duduk saja.” [Q.S. Al-Maidah: 24] Kami akan mengatakan, ‘Pergilah Anda bersama Rabb Anda, dan berperanglah, sesungguhnya kami mengikuti.’”

Tahukah Anda bahwa beliau adalah seorang sahabat yang mendapat jaminan surga? Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi sebuah jubah dari sutra yang halus, beliau menolaknya dengan berkata:
وَالَّذِي نَفۡسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَمَنَادِيلُ سَعۡدِ بۡنِ مُعَاذٍ فِي الۡجَنَّةِ أَحۡسَنُ مِنۡ هَٰذَا
“Demi Zat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh saputangan Sa’ad bin Mu’adz di surga lebih baik dari ini.”

Subhanallah, siapakah di antara kita yang tak ingin mendapakan janji mulia itu? Siapa tidak mau jaminan utusan Allah? Inilah Sa’ad, seorang pemuda yang berpostur tinggi-besar dan tampan, berkulit putih dan berjanggut rapi, telah mendapat jaminan surga dari lisan Ar Rasul Al Amin.

Inilah Sa’ad, seorang pemimpin Aus yang memutuskan hukum atas pengkhianatan Yahudi Quraizhah pada perang Khandaq. Beliau memutuskan sesuai dengan keputusan Allah, demikian yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan. Yakni, hukum mati bagi kaum lelaki dan ditawan untuk para wanita dan anak-anak. Padahal, Aus dahulu adalah sekutu bagi Yahudi Quraizhah. Tidak ada lagi sikap loyalitas, tiada lagi tolong menolong bagi kaum yang berkhianat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan muslimin. Keputusan yang sungguh tepat, menepati apa yang diputuskan oleh Ar Rahman subhanahu wa ta’ala.

Wafatnya


Di saat-saat terakhir kehidupan Sa’ad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya, lalu beliau meletakkan kepala Sa’ad di pangkuan beliau sambil bersabda, “Ya Allah, Sa’ad telah berjihad di jalan-Mu, membenarkan Rasul-Mu, dan telah memenuhi kewajibannya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baiknya cara Engkau menerima ruh.”

Doa yang dipanjatkan Nabi pun mendatangkan kesejukan kepada ruh Sa’ad yang hendak pergi. Saat itu Sa’ad mencoba dengan susah payah mengangkat kelopak matanya dan mengarahkan pandangannya ke wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat ia cintai. Kiranya, inilah perjumpaan terakhirnya dengan beliau di dunia ini. Sa’ad mengatakan, “Salam atasmu wahai Rasulullah, ketahuilah bahwa aku beriman bahwa Anda adalah utusan Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kebahagiaan atasmu wahai Abu Amr.”

Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu pun mengembuskan nafas terakhirnya, ia wafat di pangkuan orang yang paling ia cintai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika memakamkan jenazahnya,
اهۡتَزَّ عَرۡشُ الرَّحۡمٰنِ لِمَوۡتِ سَعۡدِ بۡنِ مُعَاذٍ
“Arsy Ar-Rahman bergetar dengan berpulangnya Sa’ad bin Mu’adz.” [H.R. Bukhari dan Muslim]. Lihatlah, betapa mulianya Sa’ad radhiyallahu ‘anhu hingga Arsy Allah pun bergetar saat kepergiannya.

Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku adalah salah seorang yang menggali makam untuk Sa’ad, dan setiap kami menggali satu lapisan tanah, tercium oleh kami wangi kesturi.”

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Saat kami membawa jenazah Sa’ad bin Mu’adz, kaum munafikin mengatakan betapa ringannya jenazahnya, (padahal Sa’ad adalah) seorang yang tinggi besar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sungguh para malaikatlah yang menggotongnya.’”

Disebutkan dalam hadis Sa’ad bin Abi Waqqash bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada 70.000 malaikat yang turun saat kematian Sa’ad bin Mu’adz. Mereka belum pernah turun ke bumi sebelum ini.”

Sungguh para penduduk bumi dan penduduk langit telah mengakui akan keutamaan Sa’ad. Beliau wafat pada tahun ke-5 H, ketika itu usia beliau 37 tahun, dan dimakamkan di pemakaman Baqi’ di Madinah.

Sa’ad, semoga Allah meridhaimu. [Hammam]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 47 vol. 04 1436H-2015M, rubrik Figur.

Shahih Muslim hadits nomor 47

١٩ – بَابُ الۡحَثِّ عَلَى إِكۡرَامِ الۡجَارِ وَالضَّيۡفِ، وَلُزُومِ الصَّمۡتِ إِلَّا عَنِ الۡخَيۡرِ، وَكَوۡنِ ذٰلِكَ كُلِّهِ مِنَ الۡإِيمَانِ

19. Bab anjuran untuk memuliakan tetangga dan tamu, membiasakan untuk diam kecuali dari berbicara kebaikan, dan bahwa itu semua termasuk keimanan

٧٤ – (٤٧) – حَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَنۡبَأَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، قَالَ: (مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيَقُلۡ خَيۡرًا أَوۡ لِيَصۡمُتۡ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُكۡرِمۡ جَارَهُ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُكۡرِمۡ ضَيۡفَهُ).
74. (47). Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb memberitakan kepada kami, beliau mengatakan: Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkan ucapan yang baik atau diam. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya.”
٧٥ - (…) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ، عَنۡ أَبِي حَصِينٍ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلَا يُؤۡذِي جَارَهُ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُكۡرِمۡ ضَيۡفَهُ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيَقُلۡ خَيۡرًا أَوۡ لِيَسۡكُتۡ).
[البخاري: كتاب الأدب، باب من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره، رقم: ٦٠١٨].
75. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abul Ahwash menceritakan kepada kami, dari Abu Hashin, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia mengganggu tetangganya. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah perkataan yang baik atau diam.”
٧٦ - (…) - وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، أَخۡبَرَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ... بِمِثۡلِ حَدِيثِ أَبِي حَصِينٍ، غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: (فَلۡيُحۡسِنۡ إِلَى جَارِهِ).
76. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, 'Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami dari Al-A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda... semisal hadis Abu Hashin, hanya saja beliau mengatakan: “maka berbuat baiklah kepada tetangganya”.

Shahih Muslim hadits nomor 45

١٧ – بَابُ الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ مِنۡ خِصَالِ الۡإِيمَانِ أَنۡ يُحِبَّ لِأَخِيهِ الۡمُسۡلِمِ مَا يُحِبُّ لِنَفۡسِهِ مِنَ الۡخَيۡرِ

17. Bab dalil bahwa termasuk dari perkara keimanan adalah mencintai untuk saudaranya yang muslim apa saja ia cintai untuk dirinya berupa perkara kebaikan

٧١ – (٤٥) – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ. حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، قَالَ: سَمِعۡتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. قَالَ: (لَا يُؤۡمِنُ أَحَدُكُمۡ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ - أَوۡ قَالَ لِجَارِهِ - مَا يُحِبُّ لِنَفۡسِهِ).
71. (45). Muhammad bin Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Aku mendengar Qatadah menceritakan dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Salah seorang kalian tidak beriman (dengan sempurna) hingga ia mencintai untuk saudaranya – atau beliau berkata: untuk tetangganya – apa saja yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
٧٢ - (…) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ سَعِيدٍ عَنۡ حُسَيۡنٍ الۡمُعَلِّمِ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. قَالَ: (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَا يُؤۡمِنُ عَبۡدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ - أَوۡ قَالَ: لِأَخِيهِ - مَا يُحِبُّ لِنَفۡسِهِ).
72. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Yahya bin Sa'id menceritakan kepada kami dari Husain Al-Mu'allimi, dari Qatadah, dari Anas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, seorang hamba tidak beriman (dengan sempurna) hingga ia mencintai untuk tetangganya – atau beliau mengatakan: untuk saudaranya – apa saja yang ia cintai untuk dirinya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 13

٧ – بَابٌ مِنَ الۡإِيمَانِ أَنۡ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفۡسِهِ

7. Bab mencintai untuk saudaranya apa saja yang ia cintai untuk dirinya adalah termasuk keimanan

١٣ – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَعَنۡ حُسَيۡنٍ الۡمُعَلِّمِ قَالَ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يُؤۡمِنُ أَحَدُكُمۡ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفۡسِهِ).
13. Musaddad telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Yahya menceritakan kepada kami, dari Syu'bah, dari Qatadah, dari Anas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan dari Husain Al-Mu'allim, beliau mengatakan: Qatadah menceritakan kepada kami, dari Anas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Salah seorang kalian tidak beriman (dengan sempurna) hingga ia mencintai bagi saudaranya apa saja yang ia cintai bagi dirinya.”

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-10, ke-11, dan ke-12

الۡحَدِيثُ الۡعَاشِرُ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لَا يَقۡبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الۡمُؤۡمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الۡمُرۡسَلِينَ، فَقَالَ تَعَالَى: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُوا۟ مِنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَٱعۡمَلُوا۟ صَـٰلِحًا ۖ﴾ [المؤمنون: ٥١]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَـٰتِ مَا رَزَقۡنَـٰكُمۡ﴾ [البقرة: ١٧٢]. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشۡعَثَ أَغۡبَرَ، يَمُدُّ يَدَيۡهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبُّ، يَا رَبُّ، وَمَطۡعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشۡرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلۡبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالۡحَرَامِ، فَأَنَّى يُسۡتَجَابُ لَهُ؟!). [رواه مسلم].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta'ala baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukmin dengan apa yang diperintahkan kepada para rasul. Allah ta'ala berfirman: Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik dan kerjakanlah amal saleh. (QS. Al-Mu`minun: 51). Dan Allah ta'ala berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari makanan yang baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepada kalian. (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang dalam perjalanan yang panjang, kusut lagi berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: Wahai Rabbku, wahai Rabbku. Akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi asupan gizi yang haram. Lalu bagaimana doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim nomor 1015).

الۡحَدِيثُ الۡحَادِيَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي مُحَمَّدٍ الۡحَسَنِ بۡنِ عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ سِبۡطِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَرَيۡحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: حَفِظۡتُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: (دَعۡ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ). [رواه الترمذي والنسائي، وقال الترمذي: حديث حسن صحيح].
Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin 'Ali bin Abu Thalib keponakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kesayangan beliau radhiyallahu 'anhuma, beliau mengatakan: Aku hafal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Tinggalkan apa saja yang meragukanmu kepada apa saja yang tidak meragukanmu.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2518, An-Nasa`i nomor 5711. At-Tirmidzi mengatakan: hadis hasan sahih).

الۡحَدِيثُ الثَّانِيَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مِنۡ حُسۡنِ إِسۡلَامِ الۡمَرۡءِ تَرۡكُهُ مَا لَا يَعۡنِيهِ). [حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk bagusnya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (Hadis hasan riwayat At-Tirmidzi nomor 2317 dan selain beliau).

Taisirul 'Allam - Hadits ke-1

الۡحَدِيثُ الۡأَوَّلُ

١ – عَنۡ أَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ أَبِي حَفۡصٍ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّمَا الۡأَعۡمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امۡرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنۡ كَانَتۡ هِجۡرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجۡرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنۡ كَانَتۡ هِجۡرَتُهُ لِدُنۡيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امۡرَأَةٍ يَنۡكِحُهَا فَهِجۡرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيۡهِ)[1].
1. Dari Amirul Mu`minin Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal-amal itu hanyalah sesuai dengan niat-niatnya. Setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Sehingga, siapa saja yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Dan siapa saja yang hijrahnya untuk dunia ingin dia gapai atau seorang wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia hijrah padanya.”

غَرِيبُ الۡحَدِيثِ

١ – (إِنَّمَا الۡأَعۡمَالُ بِالنِّيَّاتِ) كَلِمَةُ (إِنَّمَا) تُفِيدُ الۡحَصۡرَ، فَهُوَ هُنَا قَصۡرُ مَوۡصُوفٍ عَلَى صِفَةٍ، وَهُوَ إِثۡبَاتُ حُكۡمِ الۡأَعۡمَالِ بِالنِّيَّاتِ، فَهُوَ فِي قُوَّةِ (مَا الۡأَعۡمَالُ إِلَّا بِالنِّيَّاتِ) وَيَنۡفِي الۡحُكۡمَ عَمَّا عَدَاهُ.
٢ – (النِّيَّةُ) لُغَةً: الۡقَصۡدُ. وَوَقَعَ بِالۡإِفۡرَادِ فِي أَكۡثَرِ الرِّوَايَاتِ. قَالَ الۡبَيۡضَاوِيُّ: النِّيَّةُ عِبَارَةٌ عَنِ انۡبِعَاثِ الۡقَلۡبِ نَحۡوُ مَا يَرَاهُ مُوَافِقًا لِغَرَضٍ مِنۡ جَلۡبِ نَفۡعٍ أَوۡ دَفۡعِ ضُرٍّ. اهـ. وَشَرۡعًا: الۡعَزۡمُ عَلَى فِعۡلِ الۡعِبَادَةِ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ تَعَالَى.
٣ – (فَمَنۡ كَانَتۡ هِجۡرَتُهُ... إلخ) مِثَالٌ يُقَرِّرُ وَيُوَضِّحُ الۡقَاعِدَةَ السَّابِقَةَ.
٤ – (فَمَنۡ كَانَتۡ هِجۡرَتُهُ) جُمۡلَةٌ شَرۡطِيَّةٌ.
٥ – (فَهِجۡرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ) جَوَابُ الشَّرۡطِ، وَاتَّحَدَ الشَّرۡطُ وَالۡجَوَابُ لِأَنَّهُمَا عَلَى تَقۡدِيرِ (مَنۡ كَانَتۡ هِجۡرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ –نِيَّةً وَقَصۡدًا- فَهِجۡرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ- ثَوَابًا وَأَجۡرًا).

Kosakata asing dalam hadits

  1. Innamal a’malu bin niyyat, kata innama memberi faedah pembatasan. Di sini ia mempersempit makna yang disifati kepada suatu sifat. Yaitu penetapan hukum amalan-amalan yang disertai niat-niat. Jadi ia menguatkan makna “tidaklah amalan itu kecuali dengan niat” dan menafikan hukum dari selain itu.
  2. Niat secara bahasa adalah maksud. Dalam kebanyakan riwayat, seringnya dalam bentuk mufrad. Al-Baidhawi mengatakan: Niat adalah ungkapan dari tergeraknya hati yang dianggap sesuai dengan suatu tujuan berupa mencapai manfaat atau menolak mudarat. Selesai ucapan Al-Baidhawi. Adapun secara syariat, niat adalah tekad untuk mengerjakan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.
  3. Faman kaanat hijratuhu… dst” adalah sebuah permisalan untuk menetapkan dan memperjelas kaidah yang lalu.
  4. Faman kaanat hijratuhu” adalah kalimat syarat.
  5. Fa hijratuhu ilallahi wa rasuulih” adalah jawab syarat. Di sini syarat dan jawabnya sama karena keduanya ada yang tidak disebutkan, yaitu “Siapa saja yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya –secara niat dan tujuan-, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya –dalam hal pahala dan ganjarannya-.”

الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِي:

هَٰذَا حَدِيثٌ عَظِيمٌ وَقَاعِدَةٌ جَلِيلَةٌ مِنۡ قَوَاعِدِ الۡإِسۡلَامِ هِيَ الۡقِيَاسُ الصَّحِيحُ لِوَزۡنِ الۡأَعۡمَالِ، مِنۡ حَيۡثُ الۡقَبُولِ وَعَدَمِهِ، وَمِنۡ حَيۡثُ كَثۡرَةِ الثَّوَابِ وَقِلَّتِهِ.
فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ يُخۡبِرُ أَنَّ مَدَارَ الۡأَعۡمَالِ عَلَى النِّيَّاتِ: فَإِنۡ كَانَتِ النِّيَّةُ صَالِحَةً، وَالۡعَمَلُ خَالِصًا لِوَجۡهِ اللهِ تَعَالَى، فَالۡعَمَلُ مَقۡبُولٌ. وَإِنۡ كَانَتۡ غَيۡرَ ذٰلِكَ، فَالۡعَمَلُ مَرۡدُودٌ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى أَغۡنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرۡكِ. ثُمَّ ضَرَبَ ﷺ مَثَلًا يُوَضِّحُ هَٰذِهِ الۡقَاعِدَةَ الۡجَلِيلَةَ بِالۡهِجۡرَةِ. فَمَنۡ هَاجَرَ مِنۡ بِلَادِ الشِّرۡكِ، ابۡتِغَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَطَلَبًا لِلۡقُرۡبِ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ، وَتعلم الشَّرِيعَة، فَهِجۡرَتُهُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَاللهُ يُثِيبُهُ عَلَيۡهَا. وَمَنۡ كَانَتۡ هِجۡرَتُهُ لِغَرَضٍ مِنۡ أَغۡرَاضِ الدُّنۡيَا، فَلَيۡسَ لَهُ عَلَيۡهَا ثَوَابٌ. وَإِنۡ كَانَتۡ إِلَى مَعۡصِيَةٍ فَعَلَيۡهِ الۡعِقَابُ.
وَالنِّيَّةُ تُمَيِّزُ الۡعِبَادَةَ عَنِ الۡعَادَةِ، فَالۡغُسۡلُ –مَثَلًا- يُقۡصَدُ عَنِ الۡجَنَابَةِ، فَيَكُونُ عِبَادَةً، وَيُرَادُ لِلنَّظَافَةِ أَوِ التَّبَرُّدِ، فَيَكُونُ عَادَةً.

Makna secara umum:

Ini adalah hadis yang agung dan kaidah yang mulia yang termasuk kaidah-kaidah Islam. Yaitu kias yang sahih untuk timbangan amal. Dari sisi diterima atau tidaknya amal tersebut dan dari sisi banyak atau sedikitnya pahalanya.
Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa poros amalan terdapat pada niat-niat. Apabila niatnya saleh dan amalnya murni mengharap wajah Allah ta’ala, maka amalnya diterima. Apabila niatnya selain itu, maka amalnya tertolak, karena Allah ta’ala adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu-sekutu. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat permisalan yang memperjelas kaidah yang mulia ini dengan hijrah. Yaitu, siapa saja yang berhijrah dari negeri syirik dalam rangka mencari pahala Allah dan berusaha untuk mendekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mempelajari ilmu syariat, maka hijrahnya di jalan Allah dan Allah akan membalasnya karena niat itu. Dan siapa saja yang berhijrah untuk suatu tujuan dari tujuan duniawi, maka ia tidak mendapat pahala. Bahkan apabila ia hijrah untuk tujuan maksiat, maka ia berhak disiksa.
Niat itu juga membedakan ibadah dari adat. Contohnya mandi. Apabila diniatkan untuk mandi junub, maka menjadi sebuah ibadah. Apabila dimaukan untuk kebersihan atau kesegaran, maka menjadi suatu adat.

وَلِلنِّيَّةِ فِي الشَّرۡعِ بَحۡثَانِ:

أَحَدُهُمَا: الۡإِخۡلَاصُ فِي الۡعَمَلِ لِلهِ وَحۡدَهُ، وَهُوَ الۡمَعۡنَى الۡأَسۡمَى، وَهَٰذَا يَتَحَدَّثُ عَنۡهُ عُلَمَاءُ التَّوۡحِيدِ، وَالسَّيۡرِ، وَالسُّلُوكِ.
وَالثَّانِي: تَمَيُّزِ الۡعِبَادَاتِ بَعۡضِهَا عَنۡ بَعۡضٍ، وَهَٰذَا يَتَحَدَّثُ عَنۡهُ الۡفُقَهَاءُ.
وَهَٰذَا مِنَ الۡأَحَادِيثِ الۡجَوَامِعِ، الَّتِي يَجِبُ الۡاعۡتِنَاءُ بِهَا وَتَفَهُّمِهَا، فَالۡكِتَابَةُ الۡقَلِيلَةُ لَا تُؤۡتِيهِ حَقَّهُ. وَقَدۡ افۡتَتَحَ بِهِ الۡإِمَامُ الۡبُخَارِيُّ –رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى- صَحِيحَهُ لِدُخُولِهِ فِي كُلِّ مَسۡأَلَةٍ مِنۡ مَسَائِلِ الۡعِلۡمِ وَكُلِّ بَابٍ مِنۡ أَبۡوَابِهِ.

Niat di dalam syariat ada dua pembahasan:

  1. Ikhlas dalam beramal untuk Allah semata. Dan ini makna yang luhur. Makna dalam konteks inilah yang diucapkan oleh ulama ahli tauhid dan akhlak.
  2. Membedakan ibadah antara satu dengan yang lainnya. Dan ini adalah makna yang dimaksud oleh ahli fikih.
Hadis ini termasuk hadis-hadis yang singkat namun mempunyai makna luas, yang wajib diperhatikan dan dipahami. Tulisan yang sedikit tidak cukup untuk memenuhi hak pembahasan hadis ini. Imam Al-Bukhari rahimahullah telah memulai kitab Shahihnya dengan hadis ini karena ia masuk ke dalam seluruh masalah-masalah ilmiah dan ke dalam seluruh bab.

مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:

١ – أَنَّ مَدَارَ الۡأَعۡمَالِ عَلَى النِّيَاتِ، صِحَّةً، وَفَسَادًا، وَكَمَالًا، وَنَقۡصًا، وَطَاعَةً وَمَعۡصِيَةً فَمَنۡ قَصَدَ بِعَمَلِهِ الرِّيَاءَ أَثَمَ، وَمَنۡ قَصَدَ بِالۡجِهَادِ مَثَلًا إِعۡلَاءَ كَلِمَةِ اللهِ فَقَطۡ كَمُلَ ثَوَابُهُ. وَمَنۡ قَصَدَ ذٰلِكَ وَالۡغَنِيمَةَ مَعَهُ نَقَصَ ثَوَابُهُ. وَمَنۡ قَصَدَ الۡغَنِيمَةَ وَحۡدَهَا لَمۡ يَأۡثَمۡ وَلَكِنَّهُ لَا يُعۡطَى أَجۡرُ الۡمُجَاهِدِ. فَالۡحَدِيثُ مَسُوقٌ لِبَيَانِ أَنَّ كُلِّ عَمَلٍ، طَاعَةً كَانَ فِي الصُّورَةِ أَوۡ مَعۡصِيَةً يَخۡتَلِفُ بِاخۡتِلَافِ النِّيَاتِ.
٢ – أَنَّ النِّيَّةَ شَرۡطٌ أَسَاسِيٌّ فِي الۡعَمَلِ، وَلَكِنۡ بِلَا غُلُوٍّ فِي اسۡتِحۡضَارِهَا يُفۡسِدُ عَلَى الۡمُتَعَبِّدِ عِبَادَتَهُ. فَإِنَّ مُجَرَّدَ قَصۡدِ الۡعَمَلِ يَكُونُ نِيَّةً لَهُ بِدُونِ تَكَلُّفِ اسۡتِحۡضَارِهَا وَتَحۡقِيقِهَا.
٣ – أَنَّ النِّيَّةَ مَحَلُّهَا الۡقَلۡبُ، وَاللَّفۡظُ بِهَا بِدۡعَةٌ.
٤ – وُجُوبُ الۡحَذَرِ مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمۡعَةِ وَالۡعَمَلِ لِأَجۡلِ الدُّنۡيَا، مَا دَامَ أَنَّ شَيۡئًا مِنۡ ذٰلِكَ يُفۡسِدُ الۡعِبَادَةَ.
٥ – وُجُوبُ الۡاعۡتِنَاءِ بِأَعۡمَالِ الۡقُلُوبِ وَمُرَاقَبَتِهَا.
٦ – أَنَّ الۡهِجۡرَةَ مِنۡ بِلَادِ الشِّرۡكِ إِلَى بِلَادِ الۡإِسۡلَامِ، مِنۡ أَفۡضَلِ الۡعِبَادَاتِ إِذَا قُصِدَ بِهَا وَجۡهُ اللهِ تَعَالَى.

Kesimpulan hadis:

  1. Bahwa poros amalan adalah pada niat-niat. Sahihnya, rusaknya, sempurnanya, kurangnya, taatnya, maksiatnya. Sehingga siapa saja yang memaksudkan amalnya untuk ria (melakukan sesuatu agar dilihat orang lain), ia berdosa. Siapa saja yang memaksudkan jihadnya, contoh, untuk meninggikan kalimat Allah saja, maka akan sempurna pahalanya. Siapa saja yang memaksudkan itu dan juga ghanimah, maka pahalanya berkurang. Siapa saja yang memaksudkan jihad untuk ghanimahnya saja, maka ia tidak berdosa, hanya saja tidak diberi pahala seorang mujahid. Hadis ini dibawakan untuk menjelaskan bahwa setiap amal, baik bentuknya ketaatan atau kemaksiatan, berbeda-beda disebabkan perbedaan niat-niat.
  2. Niat adalah syarat asasi dalam amal. Hanya saja tidak disertai berlebih-lebihan dalam menghadirkan niat karena dapat merusak ibadah seorang hamba. Karena sekadar memaksudkan amal saja sudah merupakan niat tanpa perlu menyusahkan diri untuk menghadirkan niat dan mewujudkannya.
  3. Sesungguhnya niat itu tempatnya di hati dan mengucapkannya adalah bidah.
  4. Wajibnya berhati-hati dari ria, sumah (ingin didengar), dan beramal untuk tujuan duniawi. Karena salah satu dari ketiga hal tersebut merusak ibadah.
  5. Wajibnya memperhatikan dan mengawasi amalan hati.
  6. Bahwa hijrah dari negeri syirik ke negeri Islam termasuk seutama-utama ibadah apabila dimaksudkan untuk wajah Allah ta’ala.

فَائِدَةٌ:

ذَكَرَ ابۡنُ رَجَبَ أَنَّ الۡعَمَلَ لِغَيۡرِ اللهِ عَلَى أَقۡسَامٍ:
فَتَارَةً يَكُونُ رِيَاءً مَحۡضًا لَا يُقۡصَدُ بِهِ سِوَى مُرَاءَاةِ الۡمَخۡلُوقِينَ لِتَحۡصِيلِ غَرَضٍ دُنۡيَوِيٍّ، وَهَٰذَا لَا يَكَادُ يَصۡدُرُ عَنۡ مُؤۡمِنٍ وَلَا شَكَّ فِي أَنَّهُ يُحۡبِطُ الۡعَمَلَ وَأَنَّ صَاحِبَهُ يَسۡتَحِقُّ الۡمَقۡتَ مِنَ اللهِ وَالۡعُقُوبَةَ. وَتَارَةً يَكُونُ الۡعَمَلَ لِلهِ وَيُشَارِكُهُ الرِّيَاءُ، فَإِنۡ شَارَكَهُ مِنۡ أَصۡلِهِ فَإِنَّ النُّصُوصَ الصَّحِيحَةَ تَدُلُّ عَلَى بُطۡلَانِهِ وَإِنۡ كَانَ أَصۡلُ الۡعَمَلِ لِلهِ ثُمَّ طَرَأَ عَلَيۡهِ نِيَّةُ الرِّيَاءِ، وَدَفَعَهُ صَاحِبُهُ؛ فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا يَضُرُّهُ بِغَيۡرِ خِلَافٍ، وَقَدۡ اخۡتَلَفَ الۡعُلَمَاءُ مِنَ السَّلَفِ فِي الۡاسۡتِرۡسَالِ فِي الرِّيَاءِ الطَّارِئِ: هَلۡ يُحۡبِطُ الۡعَمَلَ أَوۡ لَا يَضُرُّ فَاعِلُهُ وَيُجَازَى عَلَى أَصۡلِ نِيَّتِهِ؟ اهـ. بتصرف.

Faedah:

Ibnu Rajab menyebutkan bahwa amalan untuk selain Allah ada bagian-bagiannya:
Kadang bisa menjadi ria murni yang hanya dimaksudkan untuk ingin dilihat oleh orang-orang agar mendapatkan suatu tujuan duniawi. Hal ini hampir-hampir tidak bisa muncul dari diri seorang mukmin. Tidak diragukan bahwa ini dapat menghapus amalan tersebut dan pelakunya berhak mendapatkan kemurkaan dan siksa dari Allah.
Kadang bisa berupa amalan untuk Allah namun disertai ria. Apabila ria itu menyertainya dari asalnya, maka nas-nas yang sahih menunjukkan atas batalnya amalan tersebut.
Namun, apabila asal amalan itu untuk Allah, lalu tiba-tiba muncul niat ria kemudian si pelaku berusaha menolaknya, maka hal itu tidak memudaratkannya. Hal ini tidak diperselisihkan.
Para ulama dari kalangan salaf telah berselisih dalam hal membiarkan ria yang muncul di tengah amalan. Apakah ia menghapus amalan tersebut ataukah hal itu tidak memudaratkan pelakunya dan ia dibalas berdasarkan niat awalnya? Selesai disertai perubahan.

[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ رَقۡم (١) فِي بَدۡءِ الۡوَحۡيِ، وَمُسۡلِمٌ (١٩٠٧) فِي الۡإِمَارَةِ، وَأَبُو دَاوُدَ (٢٢٠١) فِي الطَّلَاقِ، وَالنَّسَائِيُّ (١/٥٨ – ٦٠) فِي الطَّهَارَةِ، وَالتِّرۡمِذِيُّ (١٦٤٧) فِي فَضَائِلِ الۡجِهَادِ، وَابۡنُ مَاجَهۡ (٤٢٢٧) فِي الزُّهۡدِ.