Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4102

٤١٠٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيۡدَةَ بۡنُ أَبِي السَّفَرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا شِهَابُ بۡنُ عَبَّادٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ عَمۡرٍو الۡقُرَشِيُّ، عَنۡ سُفۡيَانَ الثَّوۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ ﷺ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلۡتُهُ أَحَبَّنِي اللهُ، وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (ازۡهَدۡ فِي الدُّنۡيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازۡهَدۡ فِيمَا فِي أَيۡدِي النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ). [(الصحيحة)(٩٤٤)، (تحقيق رياض الصالحين)(٤٧٥)].
4102. Abu ‘Ubaidah bin Abus Safar telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Syihab bin ‘Abbad menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Khalid bin ‘Amr Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi, beliau mengatakan: Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, Allah akan mencintaiku dan orang-orang pun juga mencintaiku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1937

٣١ – بَابُ الۡمُجَامِعِ فِي رَمَضَانَ، هَلۡ يُطۡعِمُ أَهۡلَهُ مِنَ الۡكَفَّارَةِ إِذَا كَانُوا مَحَاوِيجَ؟

31. Bab orang yang berjimak di siang hari Ramadan, apakah ia boleh memberi makan keluarganya dari kafarat apabila mereka sendiri membutuhkan

١٩٣٧ – حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ حُمَيۡدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: إِنَّ الۡأَخِرَ وَقَعَ عَلَى امۡرَأَتِهِ فِي رَمَضَانَ. فَقَالَ: (أَتَجِدُ مَا تُحَرِّرُ رَقَبَةً؟) قَالَ: لَا. قَالَ: (فَتَسۡتَطِيعُ أَنۡ تَصُومَ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ؟) قَالَ: لَا. قَالَ: (أَفَتَجِدُ مَا تُطۡعِمُ بِهِ سِتِّينَ مِسۡكِينًا؟) قَالَ: لَا. قَالَ: فَأُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمۡرٌ، وَهُوَ الزَّبِيلُ، قَالَ: (أَطۡعِمۡ هَٰذَا عَنۡكَ). قَالَ: عَلَى أَحۡوَجَ مِنَّا؟ مَا بَيۡنَ لَابَتَيۡهَا أَهۡلُ بَيۡتٍ أَحۡوَجُ مِنَّا، قَالَ: (فَأَطۡعِمۡهُ أَهۡلَكَ). [طرفه في: ١٩٣٦].
1937. ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Az-Zuhri, dari Humaid bin ‘Abdurrahman, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan: Sungguh tercela orang yang menggauli istrinya di siang hari Ramadan. Nabi bertanya, “Apakah engkau memiliki sesuatu untuk membebaskan seorang budak?” Orang itu menjawab: Tidak. Nabi bertanya lagi, “Lalu apakah engkau mampu untuk berpuasa dua bulan berturut-turut?” Orang itu menjawab: Tidak. Nabi kembali bertanya, “Apakah engkau mendapatkan sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?” Orang itu kembali menjawab: Tidak. Abu Hurairah mengatakan: Lalu didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam satu keranjang berisi kurma. Beliau bersabda, “Berilah makan dengan ini.” Orang itu bertanya: Apakah kepada yang lebih membutuhkan daripada kami? Tidak ada di antara dua tanah berbatu ini keluarga yang lebih membutuhkan daripada kami. Nabi bersabda, “Kalau begitu, berilah makan keluargamu dengan ini.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1935

٢٨ – بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (إِذَا تَوَضَّأَ فَلۡيَسۡتَنۡشِقۡ بِمَنۡخِرِهِ الۡمَاءَ) وَلَمۡ يُمَيِّزۡ بَيۡنَ الصَّائِمِ وَغَيۡرِهِ

28. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila berwudu, hendaknya ia masukkan air ke hidungnya” dan beliau tidak membedakan antara orang yang berpuasa dan tidak

وَقَالَ الۡحَسَنُ: لَا بَأۡسَ بِالسَّعُوطِ لِلصَّائِمِ إِنۡ لَمۡ يَصِلۡ إِلَى حَلۡقِهِ، وَيَكۡتَحِلُ. وَقَالَ عَطَاءٌ: إِنۡ تَمَضۡمَضَ ثُمَّ أَفۡرَغَ مَا فِي فِيهِ مِنَ الۡمَاءِ لَا يَضِيرُهُ إِنۡ لَمۡ يَزۡدَرِدۡ رِيقَهُ وَمَاذَا بَقِيَ فِي فِيهِ، وَلَا يَمۡضَغُ الۡعِلۡكَ، فَإِنِ ازۡدَرَدَ رِيقَ الۡعِلۡكِ لَا أَقُولُ إِنَّهُ يُفۡطِرُ، وَلَكِنۡ يُنۡهَى عَنۡهُ، فَإِنِ اسۡتَنۡثَرَ فَدَخَلَ الۡمَاءُ حَلَقَهُ لَا بَأۡسَ، لِأَنَّهُ لَمۡ يَمۡلِكۡ.
Al-Hasan mengatakan: Tidak mengapa obat tetes hitung untuk orang yang berpuasa apabila obatnya tidak sampai ke kerongkongan dan tidak mengapa memakai celak. ‘Atha` mengatakan: Apabila berkumur-kumur kemudian ia mengeluarkan air yang di mulutnya, maka tidak mengapa apabila ia tidak menelan air liur dan apa yang sisa di dalam mulutnya. Tidak boleh mengunyah permen karet, namun apabila ia menelan air liur permen karet itu, aku tidak mengatakan ia batal puasanya. Akan tetapi ia dilarang dari perbuatan itu. Apabila ia sudah mengeluarkan air dari hidung, lalu air masuk ke kerongkongannya, maka tidak mengapa karena ia tidak kuasa.

٢٩ – بَابٌ إِذَا جَامَعَ فِي رَمَضَانَ

29. Bab apabila ada yang berjimak di siang hari bulan Ramadan

وَيُذۡكَرُ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَفَعَهُ: (مَنۡ أَفۡطَرَ يَوۡمًا مِنۡ رَمَضَانَ، مِنۡ غَيۡرِ عُذۡرٍ وَلَا مَرَضٍ، لَمۡ يَقۡضِهِ صِيَامُ الدَّهۡرِ وَإِنۡ صَامَهُ). وَبِهِ قَالَ ابۡنُ مَسۡعُودٍ. وَقَالَ سَعِيدُ بۡنُ الۡمُسَيَّبِ وَالشَّعۡبِيُّ وَابۡنُ جُبَيۡرٍ وَإِبۡرَاهِيمُ وَقَتَادَةُ وَحَمَّادٌ: يَقۡضِي يَوۡمًا مَكَانَهُ.
Disebutkan dari Abu Hurairah, beliau memarfu’kannya, “Siapa saja yang membatalkan puasa satu hari di bulan Ramadan tanpa uzur dan sakit, maka meski ia puasa setahun tidak dapat menggantikannya.” Ibnu Mas’ud juga berpendapat demikian. Sa’id bin Al-Musayyab, Asy-Sya’bi, Ibnu Jubair, Ibrahim, Qatadah, dan Hammad mengatakan: Dia harus mengganti satu hari.
١٩٣٥ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُنِيرٍ: سَمِعَ يَزِيدَ بۡنَ هَارُونَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، هُوَ ابۡنُ سَعِيدٍ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ الۡقَاسِمِ أَخۡبَرَهُ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ جَعۡفَرِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ بۡنِ الۡعَوَّامِ بۡنِ خُوَيۡلِدٍ، عَنۡ عَبَّادِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا تَقُولُ: إِنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: إِنَّهُ احۡتَرَقَ. قَالَ: (مَا لَكَ؟) قَالَ: أَصَبۡتُ أَهۡلِي فِي رَمَضَانَ. فَأُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِمِكۡتَلٍ يُدۡعَى الۡعَرَقَ، فَقَالَ: (أَيۡنَ الۡمُحۡتَرِقُ؟). قَالَ: أَنَا، قَالَ: (تَصَدَّقۡ بِهَٰذَا). [الحديث ١٩٣٥ – طرفه في: ٦٨٢٢].
1935. ‘Abdullah bin Munir telah menceritakan kepada kami: Beliau mendengar Yazid bin Harun: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami: Bahwa ‘Abdurrahman bin Al-Qasim mengabarkan kepadanya, dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair bin Al-‘Awwam bin Khuwailid, dari ‘Abbad bin ‘Abdullah bin Az-Zubair mengabarkan kepadanya: Bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: Sesungguhnya seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan bahwa ia terbakar. Beliau bertanya, “Kenapa engkau?” Orang itu mengatakan: Aku menggauli istriku di siang hari bulan Ramadan. Lalu didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekeranjang besar kurma, lalu beliau bertanya, “Di mana orang yang terbakar tadi?” Orang itu menjawab, “Saya.” Beliau bersabda, “Bersedekahlah dengan ini.”

Al Adab Al Mufrad

Akhlak dan adab pada diri seseorang adalah perkara yang sangat penting dan sangat diperhatikan dalam agama Islam. Kelurusan beribadah dan bermanhaj harus disertai dengan lurusnya akhlak dan adab. Baiknya akhlak dan adab seseorang merupakan cerminan dari baiknya apa yang ada di dalam kalbunya, dan jeleknya akhlak dan adab seseorang merupakan cerminan atas jeleknya apa yang ada di dalam kalbunya. Bila kita memerhatikan sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita dapati beliau adalah seorang manusia yang memiliki budi pekerti sangat luhur, memiliki akhlak dan adab yang sangat terpuji, dan telah digambarkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bagaimana indahnya akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
كَانَ خُلُقُهُ الۡقُرۡآنَ.
“Akhlak beliau adalah Al Quran.”
Maknanya; bahwa akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah aplikasi dari bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Al Quran.

Perlu diketahui bahwa akhlak dan adab yang baik pada diri seseorang ada yang sifatnya bawaan sejak lahir atau tabi’at, dan ada yang terbentuk disebabkan adanya usaha dari seorang hamba untuk memiliki akhlak dan adab yang baik tersebut. Tentu merupakan nikmat yang sangat besar bagi seseorang di antara kita yang Allah subhanahu wa ta’ala telah menanamkan akhlak dan adab yang baik sejak dia lahir. Namun bagaimanapun juga syari`at Islam adalah syari`at yang sangat luas mencakup segala perkara, tidak cukup untuk kita mengandalkan akhlak dan adab yang sifatnya bawaan saja, namun kita semua harus berusaha untuk berakhlak dan beradab sesuai dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala aspek kehidupan.

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membimbing umat manusia untuk berakhlak dengan akhlak yang mulia, dan memang itu adalah tugas yang beliau emban dari Allah subhanahu wa ta’ala, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثۡتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الۡأَخۡلَاقِ
“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Maknanya adalah; bahwa sebelum Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akhlak dan adab yang baik sudah ada. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menyempurnakan perkara-perkara tersebut. Akhlak dan adab yang baik telah dibawa dan diajarkan oleh para Nabi dan para Rasul yang terdahulu, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyempurnakan apa yang telah mereka bawa. Secara umum akhlak dan adab yang baik mencakup perkara yang batin dan perkara yang zhahir. Adapun perkara batin, kaitannya adalah dengan permasalahan ikhlas dan akhlak batin. Sedangkan perkara yang zhahir, kaitannya adalah permasalahan hubungan sesama hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala.

Akhlak dan adab yang baik adalah pondasi yang paling pokok untuk menjaga hak hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala, dan menghindari perbuatan zhalim, serta terselamatkannya sebuah masyarakat dari berbagai macam kerusakan.

Manakala baiknya akhlak dan adab seorang hamba disertai dengan akidah yang lurus, maka dia adalah orang yang lebih dekat kepada jalan para salafush shalih. Bila kita memerhatikan perjalanan hidup para ulama bersama manusia seperti Imam Ahmad, Sufyan ats-Tsauri, Waki`, Malik dan asy-Syafi`i rahimahumullah, niscaya kita akan mendapatkan perkara yang sangat menakjubkan. Mereka adalah orang-orang pilihan. Dan bila kita membaca biografi mereka, kita akan mendapatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bagus dalam ibadah dan bagus dalam bermu`amalah bersama manusia. Sungguh para ulama tersebut telah maksimal dalam menunaikan hak-hak yang terkait dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan hamba-hamba-Nya.

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pembahasan dan praktik akhlak dan adab yang baik bukan permasalahan yang sepele, namun ini merupakan permasalahan yang sangat besar, dan kita harus memberikan porsi waktu dan kesempatan yang banyak untuk mendapatkan dan mengamalkan seluruh bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara tersebut.

Begitulah hakikat dan indahnya agama Islam, tidak ada satu perkarapun yang baik kecuali Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan hal tersebut. Dan tidak ada satu perkarapun yang jelek melainkan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah memberikan peringatan kepada manusia untuk meninggalkan dan menjauhkan diri darinya. Maka Islam adalah agama yang lurus, agama yang lengkap, agama yang penuh dengan kemudahan. Tidak ada yang luput sedikitpun.

Ketika permasalahan akhlak dan adab adalah permasalahan yang sangat penting, maka para ulama terdahulu sampai para ulama pada zaman sekarang ini banyak meluangkan waktu untuk mengarang kitab dan mengajarkan kitab yang berisikan tentang akhlak dan adab.

Di antara deretan kitab yang sangat berharga adalah kitab yang dikarang oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dengan judul “al-Adab al-Mufrad”, yang artinya secara harfiyah adalah “Kitab Adab yang Disendirikan”.

Al-Adab al-Mufrad adalah kitab yang pertama kali disusun yang berisi hadis-hadis dan atsar dalam permasalahan akhlak dan adab. Kitab ini dikarang oleh Abu Abdillah Muhammad bin Isma`il al-Bukhari rahimahullah. Beliau lahir pada tahun 194 H, dan meninggal di tahun 256 H.

SEKILAS BIOGRAFI PENULIS


Beliau adalah Abu `Abdillah Muhammad bin Isma`il bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Bukhari al-Ju`fi. Lahir di negerinya yang pertama yaitu Bukhara, pada hari Jum`at setelah salat Jum’at. Ayah beliau adalah seorang yang berilmu dan bertakwa dan memiliki keluasan dalam harta.

Karya Imam al-Bukhari yang paling besar adalah kitab “al-Jami` ash-Shahih” atau dikenal dengan Shahih al-Bukhari. Beliau memulai menulis hadis dan membuat babnya ketika beliau di Mekah, beliau memilih dari 600 ribu hadis selama 16 tahun, dan beliau berkata, “Aku tidak memasukkan satu hadispun ke dalam kitab “al-Jami` ash-Shahih” sampai aku istikharah dan salat dua raka`at, dan sampai aku yakin akan keshahihan haditsnya, dan aku jadikan hadis tersebut sebagai hujjah antara aku dengan Allah subhanahu wa ta’ala.” Umat Islam telah sepakat bahwa kitab Shahih al-Bukhari yang dikenal dengan kitab al-Jami` ash-Shahih merupakan kitab yang paling shahih setelah kitabullah Al Quran, kitab tersebut berisi tentang sunnah-sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau memiliki banyak karya tulis, di antaranya: al-Jami` ash-Shahih, al-Adab al-Mufrad, Birrul Walidain, Kitab al-Hibah, al-Qira’ah Khalfa al-Imam, Raf’ul Yadain Fish Shalah, Khalqu Af`alil `Ibad, at-Tarikh al-Kabir, at-Tarikh al-Ausath, at-Tarikh ash-Shaghir, al-Jami` al-Kabir, al-Musnad al-Kabir, at-Tafsir al-Kabir, Kitab al-Asyribah, Kitab al-`Ilal, Asami ash-Shahabah, Kitab al-Wihdan, Kitab al-Mabsuth, Kitab al-Kuna, Kitab al-Fawa’id.

KITAB AL-ADAB AL-MUFRAD


Kitab al-Adab al-Mufrad adalah di antara sebaik-baik kitab yang membahas akhlak dan adab Islami yang tinggi. Seorang muslim wajib untuk bersifat dengannya. Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan hadis-hadis shahih dan atsar dari para sahabat dan tabi’in yang terkait dengan bab tersebut. Kitab al-Adab al-Mufrad memiliki sekian banyak keistimewaan yang telah disebutkan oleh para ulama, demikian pula telah disebutkan oleh Ibnu Hajar al-`Asqalani rahimahullah bahwa kitab tersebut memiliki sekian banyak faedah.

Asal usul kitab al-Adab al-Mufrad adalah, bahwa Imam al-Bukhari rahimahullah telah menyebutkan dalam kitabnya al-Jami` ash-Shahih sebuah tema yang membahas tentang adab dan diberikan judul “Kitabul Adab”, yaitu kitab urutan ke-78. Namun karena ketatnya persyaratan dari Imam al-Bukhari rahimahullah dalam mencantumkan dan memasukkan sebuah hadis ke dalam kitab al-Jami` ash-Shahih, sehingga beliau tidak mengeluarkan banyak hadits dan atsar yang terkait dalam permasalahan adab dan akhlak. Ketika hadis-hadis yang lain begitu pula atsar-atsar yang ada dalam permasalahan adab dan akhlak sangat banyak dan sangat penting untuk diketahui oleh kaum muslimin dalam penerapan sehari-hari, maka beliau rahimahullah memandang untuk menjadikan tema tersebut menjadi sebuah kitab tersendiri. Penyebutan hadis dan atsar dijadikan secara meluas. Dan beliau tidak mempersyaratkan shahihnya sebuah hadis dalam kitab tersebut. Bahkan beliau rahimahullah mengeluarkan hadis yang shahih dan hasan dengan berbagai jenisnya, demikian pula beliau rahimahullah menyebutkan hadis yang dha`if (lemah). Sebagai pembeda dari “Kitabul Adab” dalam kitab al-Jami` ash-Shahih maka beliau rahimahullah memberikan tambahan judul untuk kitab tersebut dengan tambahan al-Mufrad (yang tersendiri atau disendirikan), yang artinya; kitab yang membahas tentang adab yang disendirikan dari kitab al-Jami` ash-Shahih.

Pembahasan kitab al-Adab al-Mufrad di antaranya adalah; pembahasan seputar kedua orang tua, pembahasan menyambung tali silaturahmi, pembahasan seputar anak, pembahasan tetangga, pembahasan anak yatim, dan masih banyak lagi yang dibahas di dalam kitab tersebut.

Nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala yang seyogyanya untuk kita syukuri, Allah subhanahu wa ta’ala telah memilih di antara deretan para ulama yang telah mensyarah kitab al-Adab al-Mufrad dan juga ada yang mentahqiq hadis-hadisnya, menjelaskan derajat hadis-hadisnya; apakah shahih, hasan, dha’if atau yang lainnya. Sehingga kita bisa dengan mudah berpegang dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang itu benar-benar sabda beliau, disertai dengan pemahaman yang benar terhadap hadis-hadis tersebut.

Di antara ulama yang mentahqiq hadis-hadis al-Adab al-Mufrad adalah Imam al-Albani rahimahullah. Dengan judul Shahih al-Adab al-Mufrad, yang berisikan kumpulan hadis-hadis shahih dari kitab al-Adab al-Mufrad. Dan Dha`if al-Adab al-Mufrad, yang berisikan kumpulan hadis-hadis dha`if dari kitab al-Adab al-Mufrad.

Karena di antara target Imam al-Albani rahimahullah adalah berupaya mendekatkan umat kepada sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudahan demi kemudahan di hadapan kita terkait dengan permasalahan media ilmu. Tentunya kita tidak berlambat-lambat untuk membaca dan mengkaji kitab-kitab para ulama tersebut, sebagai bekal ilmu yang akan memperbaiki amalan-amalan kita. Wallahu a`lam

Sumber: Majalah Qudwah, edisi 29 volume 03 1436 H/ 2015 M, rubrik Maktabah. Pemateri: Ustadz Abu Sabiq Ali.

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-28, ke-29, dan ke-30

الۡحَدِيثُ الثَّامِنُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي نَجِيحٍ الۡعِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مَوۡعِظَةً وَجِلَتۡ مِنۡهَا الۡقُلُوبُ، وَذَرَفَتۡ مِنۡهَا الۡعُيُونُ. فَقُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوۡعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوۡصِنَا. قَالَ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ، وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ، فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا. فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيۡهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمۡ وَمُحۡدَثَاتِ الۡأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ) [رواه أبو داود والترمذي وقال: حديث حسن صحيح].
Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami suatu nasihat yang membuat hati-hati bergetar dan air mata berlinang. Kami mengatakan: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Beliau bersabda, “Aku mewasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun seorang budak memimpin kalian. Karena siapa saja di antara kalian yang hidup nanti, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka dari itu, wajib atas kalian berpegang dengan sunahku dan sunah para khalifah yang lurus dan terbimbing. Gigitlah sunah itu dengan gigi-gigi geraham. Hati-hatilah kalian dari perkara agama yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud nomor 4607 dan At-Tirmidzi nomor 2676, beliau mengatakan: hadis hasan sahih).

الۡحَدِيثُ التَّاسِعُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ مُعَاذِ بۡنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَخۡبِرۡنِي بِعَمَلٍ يُدۡخِلُنِي الۡجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ. قَالَ: (لَقَدۡ سَأَلۡتَ عَنۡ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنۡ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيۡهِ: تَعۡبُدُ اللهَ لَا تُشۡرِكُ بِهِ شَيۡئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤۡتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الۡبَيۡتَ).. ثُمَّ قَالَ: (أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبۡوَابِ الۡخَيۡرِ؟ الصَّوۡمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطۡفِئُ الۡخَطِيئَةَ كَمَا يُطۡفِئُ الۡمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَوۡفِ اللَّيۡلِ).. ثُمَّ تَلَا: ﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ الۡمَضَاجِعِ...﴾ حَتَّى بَلَغَ: ﴿يَعۡمَلُونَ﴾. ثُمَّ قَالَ: (أَلَا أُخۡبِرُكَ بِرَأۡسِ الۡأَمۡرِ وَعُمُودِهِ وَذِرۡوَةِ سَنَامِهِ؟). قُلۡتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (رَأۡسُ الۡأَمۡرِ: الۡإِسۡلَامُ، وَعُمُودُهُ: الصَّلَاةُ، وَذِرۡوَةُ سَنَامِهِ: الۡجِهَادُ).. ثُمَّ قَالَ: (أَلَا أُخۡبِرُكَ بِمَلَاك ذٰلِكَ كُلِّهِ؟). قُلۡتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: (كُفَّ عَلَيۡكَ هَٰذَا). قُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ قَالَ: (ثَكِلَتۡكَ أُمُّكَ، وَهَلۡ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمۡ) – أَوۡ قَالَ: (عَلَى مَنَاخِرِهِمۡ – إِلَّا حَصَائِدُ أَلۡسِنَتِهِمۡ). [رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح].
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku berkata: Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka. Beliau menjawab, “Sungguh engkau telah menanyakan sesuatu yang agung dan hal itu sungguh mudah bagi siapa saja yang Allah mudahkan, yaitu: engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, menegakkan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah dapat memadamkan kesalahan seperti air memadamkan api, dan salatnya seseorang di tengah malam.” Kemudian beliau membaca ayat yang artinya, “Lambung mereka jauh dari tempat tidur…” sampai “…mereka kerjakan” (QS. As-Sajdah: 16-17). Kemudian beliau bersabda, “Maukah aku beritahu engkau dengan pokok urusan agama, tiang-tiangnya, dan puncak tertingginya?” Aku katakan: Tentu mau, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, “Pokok urusan agama adalah Islam, tiang-tiangnya adalah salat, dan puncak tertinginya adalah jihad.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah aku beritahu engkau inti dari semua itu?” Aku katakan: Tentu mau, wahai Rasulullah. Beliau pun memegang lisannya seraya bersabda, “Tahanlah ini olehmu.” Aku katakan: Wahai Nabi Allah, apakah kita diazab dengan sebab apa yang kita ucapkan? Beliau bersabda, “Ibumu kehilanganmu. Tidaklah yang menyebabkan manusia diseret di atas wajah-wajah mereka di neraka.” Atau beliau bersabda, “Di atas hidung-hidung mereka kecuali akibat ucapan lisan-lisan mereka.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2616, beliau mengatakan: hadis hasan sahih).

الۡحَدِيثُ الثَّلَاثُونَ

عَنۡ أَبِي ثَعۡلَبَةَ الۡخُشَنِيُّ جُرۡثُومِ بۡنِ نَاشِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلَا تَعۡتَدُوهَا، وَحَرَّمَ أَشۡيَاءَ فَلَا تَنۡتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنۡ أَشۡيَاءَ رَحۡمَةً لَكُمۡ غَيۡرَ نِسۡيَانٍ فَلَا تَبۡحَثُوا عَنۡهَا). [حديث حسن رواه الدارقطني وغيره].
Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani Jurtsum bin Nasyir radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbagai kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dan Dia telah menetapkan batasan-batasan, maka janganlah kalian melampauinya. Dan Dia telah mengharamkan berbagai hal, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia mendiamkan dari berbagai perkara sebagai rahmat untuk kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian bertanya-tanya tentangnya.” (Hadis hasan diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan selain beliau).

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu

Sang Syahid Yang Hidup


Tersebutlah seorang sahabat Nabi yang memiliki berbagai keutamaan. Ia adalah sahabat yang memiliki segudang julukan mulia yang memang pantas disandangnya. Al-Qarinain, Asy Syahidul Hayy, Al-Juud wal Fayyadh, Al Khair, demikian julukan-julukan yang disandangnya.

Beliaulah seorang sahabat yang agung bernama Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib Al Qurasy At Taimy. Berkuniah Abu Muhammad dan merupakan orang kedelapan pertama yang beriman. Beliau berkulit putih kemerahan, berwajah rupawan, rambut kepala beliau lebat dan ikal, berdada lebar. Telapak kakinya besar dan bila beliau berjalan, beliau berjalan dengan cepat. Ketika menengok, beliau menengok beserta badannya.

Selain keindahan jasmani, beliau juga seorang yang terkenal mulia akhlak dan adabnya. Beliau adalah seorang yang lapang dada dan tidak pernah mengingkari janji. Janjinya selalu tepat. Juga dikenal sebagai orang jujur, tidak pernah menipu apalagi berkhianat. Seorang yang kaya raya, tapi pemurah dan dermawan.

Ibunya bernama Ash-Sha’bah bintu Abdillah bin Ammad Al Khazraji Al Hadrami, seorang wanita keturunan Yaman dan merupakan saudara permpuan Al Ala’ bin Al Hadrami. Thalhah memiliki beberapa istri yang masih bersaudara dengan sebagian istri-istri Nabi. Ummu Kultsum saudari Aisyah bintu Abi Bakar, Hamnah saudari Zainab bintu Jahsy, Al Fari’ah saudari Ummu Habibah binti Abi Sufyan, dan Ruqayyah saudari Ummu Salamah bintu Abi Umayyah. Ini menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan antara keluarga beliau dengan keluarga Nabi tergolong dekat. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai beberapa orang anak di antaranya Yahya, Isa, dan Musa.

Awal Mula Hidayah


Thalhah adalah seorang pemuda Quraisy yang memilih profesi sebagai saudagar. Meski masih muda, Thalhah punya kelebihan dalam strategi berdagang. Ia cerdik dan pintar, hingga dapat mengalahkan pedagang-pedagang lain yang lebih tua. Kisah keislaman beliau cukup menarik. Saat beliau berdagang ke Syam, tepatnya di daerah Bushra, tiba-tiba seorang pendeta Yahudi menyeru dari dalam tempat ibadahnya, “Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari Al Haram (Makkah)?” “Ya, aku penduduk Makkah,” sahut Thalhah. “Sudah munculkah orang bernama Ahmad?” tanyanya. “Ahmad siapa?”

“Anak Abdullah bin Abdul Muthalib. Ini adalah bulan kemunculannya. Ia sebagai Nabi penutup para Nabi. Kelak ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya.” Kata pendeta itu.

Ucapan pendeta itu begitu membekas di hati Thalhah bin Ubaidillah, akhirnya beliau pulang dan membuktikan khabar sang pendeta. Ternyata apa yang diucapkan oleh si pendeta tersebut benar adanya. Beliau pun bersegera untuk menyambut hidayah dan dengan perantaraan Abu Bakarlah, beliau mengikrarkan keislamannya di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan


Berbicara seputar keutamaan beliau, dapat kita lihat dengan julukan yang diberikan kepada beliau. Al Qarinain, -sepasang sahabat- demikian beliau disandingkan dengan Abu Bakar dalam persahabatan. Di awal munculnya Islam, muslimin bagaikan kelompok yang sangat lemah dan asing yang dianggap mencela agama mayoritas penduduk Makkah. Hal ini mengakibatkan mereka menjadi sasaran kemarahan dan kebencian masyarakat Arab kala itu, tak terkecuali kepada Thalhah dan Abu Bakar. Suatu ketika seorang lelaki Quraisy, Naufal bin Khuwailid yang berjuluk singa Quraisy menyeret Abu Bakar Ash Shiddiq dan Thalhah bin Ubaidillah lalu mengikat keduanya menjadi satu dan mendorong ke algojo untk disiksa. Darah pun mengalir dari kedua tubuh sahabat yang mulia ini. Peristiwa ini mengakibatkan Abu Bakar Ash Shiddiq dan Thalhah bin Ubaidillah digelari Al-Qarinain atau sepasang sahabat.

Adapun gelar beliau Asy Syahidul Hayyi – seorang syahid yang hidup -. Julukan ini diperolehnya dalam perang Uhud. Saat itu barisan kaum muslimin terpecah belah dan kocar-kacir karena pasukan musyrikin berhasil melakukan manuver serangan dari arah atas bukit Uhud yang ditinggal oleh mayoritas pasukan pemanah muslimin. Pasukan yang tersisa di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya sebelas orang Anshar dan Thalhah bin Ubaidillah dari Muhajirin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang melindungi beliau naik ke bukit tapi dihadang oleh kaum musyrikin. Satu per satu dari kaum Anshar gugur membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hanya menyisakan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu yang masih hidup dan terus melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sabetan dan tusukan senjata musyrikin. Saat ditemukan, beliau dalam kondisi pingsan berlumuran darah. Terhitung ada sekitar 79 luka bekas tebasan pedang, tusukan tombak dan lemparan panah memenuhi tubuhnya. Jemari tangan beliau pun putus. Saat melihat pembelaan dan kesabaran Thalhah dalam melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya, “Aujaba Thalhah” keharusan bagi Thalhah (untuk masuk surga, red). Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggelarinya syahid yang hidup “Siapa yang ingin melihat syahid yang masih berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah,” Abu Bakar Ash Shiddiq juga mengatakan tentang keutamaan beliau saat perang Uhud, “Perang hari itu adalah peperangan Thalhah seluruhnya sampai akhir hayatnya.”

Adapun julukan beliau Al-Juud wal Fayyadh- yang dermawan-, As-Said bin Zaid berkata tentang Thalhah bin Ubaidillah, katanya, “Aku berkawan dengan Thalhah baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorang pun yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang, dan pangannya.”

Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berbicara, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan dari Thalhah walaupun tanpa diminta.” Oleh karena itu, patutlah jika dia dijuluki “Thalhah si dermawan,” “Thalhah yang baik” (Thalhah Al Khair).

Selain berbagai julukan yang mulia ini, Thalhah juga memiliki keutamaan lain. Beliau termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, termasuk As Sabiqunal Awwalun, termasuk golongan yang berhijrah di awal waktu, dan keutamaan lainnya. Di negeri Madinah beliau dipersaudarakan oleh Nabi dengan Kaab bin Malik Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana para muhajirin lainnya yang dipersaudarakan oleh Nabi dengan Al Anshar.

Saat terjadi perang Badar beliau tidak mengikutinya karena sedang diutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke negeri Syam untuk memata-matai dan mencari khabar musuh bersama dengan Said bin Zaid. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memberikan bagian rampasan perang untuknya. Adapun dalam kesempatan peperangan selanjutnya, beliau tidak pernah absen mengikuti seluruh perang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah secuil perjuangan Thalhah.

Kehidupan Setelah Kematian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


Beliau adalah salah seorang dari enam orang sahabat yang ditunjuk oleh Umar bin Al Khattab untuk mencari pengganti beliau dalam menjabat kekhalifahan. Al Faruq telah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah Al Majusi dengan sebilah pisau yang telah direndam racun.

Tidak seperti khalifah sebelumnya (Abu Bakar) yang langsung menunjuk pengganti, Umar lebih memilih untuk mengambil beberapa sahabat pilihan dalam menentukan pengganti beliau. Enam orang utama tersebut adalah Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al Awwam dan Saad bin Abu Waqqash. Mereka adalah enam orang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah enam orang sahabat terkemuka yang menjadi pilihan Umar dalam memutuskan pengganti kekhalifahan setelah beliau.

Perang Jamal dan Akhir Kehidupan “Asy Syahidul Hayy”


Sewaktu kaum muslimin diuji dengan terjadinya Perang Jamal, Thalhah berada dalam barisan Aisyah dan Az Zubair. Perang ini berawal dari keinginan Aisyah, Thalhah, dan Az Zubair untuk menuntut hukum qishash bagi para pembunuh Utsman. Sebenarnya Ali bin Abi Thalib pun menghendaki adanya hukum ini, namun beliau menundanya sampai keluarga Utsman sendirilah yang meminta hukum qishash. Tentu saja kedua belah pihak masing-masing berniat tulus dan baik dalam hal ini. Hampir terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak untuk meng-qishash para pembunuh Utsman. Namun, para pembunuh Utsman merasa takut dengan kesepakatan tersebut sehingga mereka mengobarkan api peperangan antara kedua kubu tersebut. Terjadilah peperangan besar tanpa bisa dicegah oleh para sahabat yang utama ini. Thalhah sendiri sebelumnya sempat bertemu dengan Ali bin Abu Thalib, dan Ali bin Abi Thalib telah mengingatkan beliau akan keutamaan-keutamaan beliau. Maka beliau pun memilih mundur ke barisan paling belakang dan menyesali terjadinya hal ini sebagaimana dilakukan oleh Az Zubair. Namun, sebuah panah mengenai lututnya, darah pun mengalir deras dari lukanya. Beliau segera dipindahkan ke Basrah dan tak berapa lama kemudian karena luka tersebut beliau wafat. Thalhah bin Ubaidillah wafat pada usia enam puluh atau 62 tahun, di hari kamis, bulan Jumadil Akhir tahun 36 H dan dimakamkan di suatu tempat dekat padang rumput di Basrah. Diriwayatkan bahwa Ali mengatakan, “Demi Allah sungguh aku berharap agar aku, Utsman, Thalhah, dan Zubair termasuk dalam firman Allah ta’ala (yang artinya), ‘Dan Kami hilangkan rasa dengki dari dada-dada mereka, di atas kasur-kasur mereka saling berhadapan.’ [QS. Al Hijr: 47].” [Ustadz Hammam]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 48, volume 04 1436 H / 2015 M, rubrik Figur.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2891

٧٢ – بَابُ فَضۡلِ مَنۡ حَمَلَ مَتَاعَ صَاحِبِهِ فِي السَّفَرِ

72. Bab keutamaan siapa saja yang membawakan barang bawaan ketika safar

٢٨٩١ – حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ نَصۡرٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنۡ هَمَّامٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (كُلُّ سُلَامَى عَلَيۡهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوۡمٍ، يُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ، يُحَامِلُهُ عَلَيۡهَا، أَوۡ يَرۡفَعُ عَلَيۡهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالۡكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ، وَكُلُّ خُطۡوَةٍ يَمۡشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَدَلُّ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ). [طرفه في: ٢٧٠٧].
2891. Ishaq bin Nashr telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Setiap persendian wajib disedekahi pada setiap hari. Membantu seseorang pada tunggangannya, menaikkannya ke atasnya, atau menaikkan barang bawaan ke atasnya adalah sedekah. Perkataan yang baik dan setiap langkah yang ia ayunkan menuju salat adalah sedekah. Dan menunjukkan jalan adalah sedekah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2989

١٢٨ – بَابُ مَنۡ أَخَذَ بِالرِّكَابِ وَنَحۡوِهِ

128. Bab siapa saja yang membantu pada tunggangan dan semisalnya

٢٩٨٩ – حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيۡهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوۡمٍ تَطۡلُعُ فِيهِ الشَّمۡسُ: يَعۡدِلُ بَيۡنَ الۡاثۡنَيۡنِ صَدَقَةٌ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحۡمِلُ عَلَيۡهَا أَوۡ يَرۡفَعُ عَلَيۡهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالۡكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خَطۡوَةٍ يَخۡطُوهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَيُمِيطُ الۡأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ). [طرفه في: ٢٧٠٧].
2989. Ishaq telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Hammam, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap persendian manusia wajib disedekahi pada setiap hari yang matahari terbit padanya: berbuat adil antara dua pihak adalah sedekah, menolong seseorang pada tunggangannya sehingga bisa menaikinya atau menaikkan barang bawaannya ke atasnya adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang ia langkahkan menuju salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2707

١١ – بَابُ فَضۡلِ الۡإِصۡلَاحِ بَيۡنَ النَّاسِ وَالۡعَدۡلِ بَيۡنَهُمۡ

11. Bab keutamaan mendamaikan antara manusia dan bersikap adil di antara mereka

٢٧٠٧ – حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيۡهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوۡمٍ تَطۡلُعُ فِيهِ الشَّمۡسُ يَعۡدِلُ بَيۡنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ). [الحديث ٢٧٠٧ – طرفاه في: ٢٨٩١، ٢٩٨٩].
2707. Ishaq telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Hammam, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap persendian manusia wajib disedekahi pada setiap hari yang matahari terbit padanya. Berbuat adil di antara manusia adalah sedekah.”

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-25, ke-26, dan ke-27

الۡحَدِيثُ الۡخَامِسُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَيۡضًا: أَنَّ نَاسًا مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالُوا لِلنَّبِيِّ ﷺ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهۡلُ الدُّثُورِ بِالۡأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمۡوَالِهِمۡ. قَالَ: (أَوَ لَيۡسَ قَدۡ جَعَلَ اللهُ لَكُمۡ مَا تَصَدَّقُونَ؟ إِنَّ لَكُمۡ بِكُلِّ تَسۡبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكۡبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحۡمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهۡلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمۡرٍ بِالۡمَعۡرُوفِ صَدَقَةً، وَنَهۡيٍ عَنۡ مُنۡكَرٍ صَدَقَةً، وَفِي بُضۡعِ أَحَدِكُمۡ صَدَقَةً). قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأۡتِي أَحَدُنَا شَهۡوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجۡرٌ؟ قَالَ: (أَرَأَيۡتُمۡ لَوۡ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيۡهِ وِزۡرٌ؟ فَكَذٰلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الۡحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجۡرٌ). [رواه مسلم].
Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu pula: Bahwa orang-orang dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, para hartawan telah pergi membawa pahala. Mereka salat sebagaimana kami salat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun, mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka. Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya bagi kalian dengan setiap bacaan tasbih adalah sedekah. Setiap bacaan takbir adalah sedekah. Setiap bacaan tahmid adalah sedekah. Setiap bacaan tahlil adalah sedekah. Memerintahkan kepada kebaikan adalah sedekah. Melarang dari kemungkaran adalah sedekah. Dan pada istri kalian adalah sedekah.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah seseorang dari kami menunaikan syahwatnya bisa ada pahalanya? Beliau bersabda, “Apa pendapat kalian kalau ia melampiaskannya kepada yang haram, apakah ada dosa atasnya? Demikian pula, apabila ia menyalurkannya kepada yang halal, dia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim nomor 1006).

الۡحَدِيثُ السَّادِسُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيۡهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوۡمٍ تَطۡلُعُ فِيهِ الشَّمۡسُ: تَعۡدِلُ بَيۡنَ اثۡنَيۡنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحۡمِلُهُ عَلَيۡهَا أَوۡ تَرۡفَعُ لَهُ عَلَيۡهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالۡكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خَطۡوَةٍ تَمۡشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الۡأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap persendian manusia ada sedekah padanya, pada setiap hari yang matahari terbit padanya: Berbuat adil antara dua pihak adalah sedekah. Menolong seseorang pada kendaraannya sehingga ia bisa menaikinya atau mengangkatkan barang bawaannya ke atasnya adalah sedekah. Perkataan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang ia ayunkan menuju salat adalah sedekah. Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari nomor 2989 dan Muslim nomor 1009).

الۡحَدِيثُ السَّابِعُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنِ النَّوَّاسِ بۡنِ سَمۡعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡبِرُّ حُسۡنُ الۡخُلُقِ، وَالۡإِثۡمُ مَا حَاكَ فِي نَفۡسِكَ وَكَرِهۡتَ أَنۡ يَطَّلِعَ عَلَيۡهِ النَّاسُ). [رواه مسلم].
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Kebajikan adalah baiknya perangai. Dosa adalah apa saja yang menyesakkan dadamu dan engkau tidak suka hal itu terlihat manusia.” (HR. Muslim nomor 2553).
وَعَنۡ وَابِصَةَ بۡنِ مَعۡبَدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أَتَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (جِئۡتَ تَسۡأَلُ عَنِ الۡبِرِّ؟). قُلۡتُ: نَعَمۡ. قَالَ: (اسۡتَفۡتِ قَلۡبَكَ، الۡبِرُّ مَا اطۡمَأَنَّتۡ إِلَيۡهِ النَّفۡسُ وَاطۡمَأَنَّ إِلَيۡهِ الۡقَلۡبُ، وَالۡإِثۡمُ مَا حَاكَ فِي النَّفۡسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدۡرِ، وَإِنۡ أَفۡتَاكَ النَّاسُ وَأَفۡتَوۡكَ). [حديث حسن رويناه في مسندي الإمامين: أحمد بن حنبل والدارمي، بإسناد حسن].
Dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?” Aku jawab: Iya. Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan adalah apa saja yang jiwa tenang kepadanya, begitu pula hati tenang kepadanya. Adapun dosa adalah apa saja yang menyesakkan jiwa dan meragukan di dada, meskipun orang-orang berfatwa kepadamu dan membenarkannya.” (Hadis hasan yang diriwayatkan di dalam dua kitab Musnad dua Imam: Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi dengan sanad yang hasan).

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 42

٦ – بَابُ اتِّبَاعِ سُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ

6. Bab mengikuti sunah para khalifah yang lurus dan terbimbing

٤٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أَحۡمَدَ بۡنِ بَشِيرِ بۡنِ ذَكۡوَانَ الدِّمَشۡقِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡوَلِيدُ بۡنُ مُسۡلِمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡعَلَاءِ – يَعۡنِي ابۡنَ زَبۡرٍ – قَالَ: حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ أَبِي الۡمُطَاعِ، قَالَ: سَمِعۡتُ الۡعِرۡبَاضَ بۡنَ سَارِيَةَ قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوۡمٍ، فَوَعَظَنَا مَوۡعِظَةً بَلِيغَةً وَجِلَتۡ مِنۡهَا الۡقُلُوبُ وَذَرَفَتۡ مِنۡهَا الۡعُيُونُ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ! وَعَظۡتَنَا مَوۡعِظَةَ مُوَدِّعٍ، فَاعۡهَدۡ إِلَيۡنَا بِعَهۡدٍ، فَقَالَ: (عَلَيۡكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ، وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنۡ عَبۡدًا حَبَشِيًّا، وَسَتَرَوۡنَ مِنۡ بَعۡدِي اخۡتِلَافًا شَدِيدًا، فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيۡهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمۡ وَالۡأُمُورَ الۡمُحۡدَثَاتِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ). [(الإرواء)(٢٤٥٥)، (المشكاة)(١٦٥)، (الظلال)(٢٦-٣٤)، (صلاة التراويح)(٨٨-٨٩)].
42. ‘Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Dzakwan Ad-Dimasyqi telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: ‘Abdullah bin Al-‘Ala` bin Zabr, beliau mengatakan: Yahya bin Abul Mutha’, beliau mengatakan: Aku mendengar Al-‘Irbadh bin Sariyah mengatakan: Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lalu beliau memberi nasihat dengan suatu nasihat yang berkesan, membuat hati-hati ini bergetar dan air mata berlinang. Lalu ada yang mengatakan: Wahai Rasulullah, engkau telah memberi nasihat kami suatu nasihat perpisahan. Berwasiatlah kepada kami. Beliau bersabda, “Wajib atas kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun dipimpin oleh seorang hamba sahaya dari Habasyah (Etiopia). Kalian akan melihat sepeninggalku perselisihan yang parah. Oleh karena itu, wajib kalian berpegang dengan sunahku dan sunah para khalifah yang lurus dan terbimbing. Gigitlah sunah itu dengan gigi-gigi geraham dan hati-hatilah kalian dari perkara agama yang diada-adakan karena setiap bidah adalah kesesatan.”

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2676

١٦ – بَابُ مَا جَاءَ فِي الۡأَخۡذِ بِالسُّنَّةِ وَاجۡتِنَابِ الۡبِدَعِ

16. Bab tentang berpegang teguh dengan sunah dan menjauhi bidah

٢٦٧٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ حُجۡرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بۡنُ الۡوَلِيدِ، عَنۡ بَحِيرِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ خَالِدِ بۡنِ مَعۡدَانَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ عَمۡرٍو السُّلَمِيِّ، عَنِ الۡعِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ، قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمًا بَعۡدَ صَلَاةِ الۡغَدَاةِ مَوۡعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتۡ مِنۡهَا الۡعُيُونُ وَوَجِلَتۡ مِنۡهَا الۡقُلُوبُ، فَقَالَ رَجُلٌ: إِنَّ هَٰذِهِ مَوۡعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعۡهَدُ إِلَيۡنَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنۡ عَبۡدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ يَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا، وَإِيَّاكُمۡ وَمُحۡدَثَاتِ الۡأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنۡ أَدۡرَكَ ذٰلِكَ مِنۡكُمۡ فَعَلَيۡهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيۡهَا بِالنَّوَاجِذِ). هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَقَدۡ رَوَى ثَوۡرُ بۡنُ يَزِيدَ، عَنۡ خَالِدِ بۡنِ مَعۡدَانَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ عَمۡرٍو السُّلَمِيِّ، عَنِ الۡعِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَ هَٰذَا. [(ابن ماجه)(٤٢)].
2676. ‘Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Baqiyyah bin Al-Walid menceritakan kepada kami, dari Bahir bin Sa’d, dari Khalid bin Ma’dan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulami, dari Al-‘Irbadh bin Sariyah, beliau mengatakan: Pada suatu hari setelah salat subuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami suatu nasihat yang mengena, membuat air mata berlinang dan hati pun bergetar. Seseorang berkata: Sungguh ini adalah nasihat perpisahan. Lalu, apa yang engkau wasiatkan kepada kami, wahai Rasulullah? Beliau bersabda, “Aku mewasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat meski dipimpin oleh seorang budak Habasyah (Etiopia), karena siapa saja di antara kalian yang masih hidup, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena itu adalah kesesatan. Maka, siapa saja di antara kalian yang menjumpai hal itu, hendaknya ia berpegang dengan sunahku dan sunah para khalifah yang lurus dan terbimbing. Gigitlah sunah itu dengan gigi-gigi geraham.” Ini adalah hadis hasan sahih. Diriwayatkan pula oleh Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’dan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulami, dari Al-‘Irbadh bin Sariyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis ini.
٢٦٧٦ (م) – حَدَّثَنَا بِذٰلِكَ الۡحَسَنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡخَلَّالُ وَغَيۡرُ وَاحِدٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنۡ ثَوۡرِ بۡنِ يَزِيدَ، عَنۡ خَالِدِ بۡنِ مَعۡدَانَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ عَمۡرٍو السُّلَمِيِّ، عَنِ الۡعِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَهُ. وَالۡعِرۡبَاضُ بۡنُ سَارِيَةَ يُكۡنَى أَبَا نَجِيحٍ. وَقَدۡ رُوِيَ هَٰذَا الۡحَدِيثُ عَنۡ حُجۡرِ بۡنِ حُجۡرٍ، عَنۡ عِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَهُ.
2676. Al-Hasan bin ‘Ali Al-Khallal dan lebih dari satu orang telah menceritakan kepada kami, mereka mengatakan: Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’dan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulami, dari Al-‘Irbadh bin Sariyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis itu. Al-‘Irbadh bin Sariyah berkunyah Abu Najih. Hadis ini juga diriwayatkan dari Hujr bin Hujr, dari ‘Irbadh bin Sariyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1934

٢٧ – بَابُ السِّوَاكِ الرَّطۡبِ وَالۡيَابِسِ لِلصَّائِمِ

27. Bab siwak yang basah dan yang kering bagi orang yang berpuasa

وَيُذۡكَرُ عَنۡ عَامِرِ بۡنِ رَبِيعَةَ قَالَ: رَأَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَسۡتَاكُ وَهُوَ صَائِمٌ، مَا لَا أُحۡصِي أَوۡ أَعدُّ. وَقَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَوۡ لَا أَنۡ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرۡتُهُمۡ بِالسِّوَاكِ عِنۡدَ كُلِّ وُضُوءٍ). وَيُرۡوَى نَحۡوُهُ عَنۡ جَابِرٍ وَزَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَمۡ يَخُصَّ الصَّائِمَ مِنۡ غَيۡرِهِ. وَقَالَتۡ عَائِشَةُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (مَطۡهَرَةٌ لِلۡفَمِ مَرۡضَاةٌ لِلرَّبِّ). وَقَالَ عَطَاءٌ وَقَتَادَةُ: يَبۡتَلِعُ رِيقَهُ.
Disebutkan dari ‘Amir bin Rabi’ah, beliau mengatakan: Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak dalam keadaan beliau berpuasa. Kejadian itu sering sehingga tidak bisa aku hitung. Abu Hurairah mengatakan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kalaulah tidak akan menyulitkan umatku, tentu aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali wudu.” Diriwayatkan yang semisalnya dari Jabir dan Zaid bin Khalid, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak mengkhususkan orang yang berwudu dari yang lainnya. ‘Aisyah mengatakan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siwak itu alat yang membersihkan mulut dan diridai oleh Rabb.” ‘Atha` dan Qatadah mengatakan: Beliau menelan air liurnya.
١٩٣٤ – حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ قَالَ: حَدَّثَنِي الزُّهۡرِيُّ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَزِيدَ، عَنۡ حُمۡرَانَ: رَأَيۡتُ عُثۡمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ تَوَضَّأَ، فَأَفۡرَغَ عَلَى يَدَيۡهِ ثَلَاثًا، ثُمَّ تَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الۡيُمۡنَى إِلَى الۡمَرۡفِقِ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الۡيُسۡرَى إِلَى الۡمَرۡفِقِ ثَلَاثًا، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأۡسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَهُ الۡيُمۡنَى ثَلَاثًا، ثُمَّ الۡيُسۡرَى ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ تَوَضَّأَ نَحۡوَ وُضُوئِي هَٰذَا، ثُمَّ قَالَ: (مَنۡ تَوَضَّأَ وُضُوئِي هَٰذَا، ثُمَّ يُصَلِّي رَكۡعَتَيۡنِ لَا يُحَدِّثُ نَفۡسَهُ فِيهِمَا بِشَيۡءٍ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ). [طرفه في: ١٥٩].
1934. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami, beliau mengatakan: Az-Zuhri menceritakan kepadaku, dari ‘Atha` bin Yazid, dari Humran: Aku melihat ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu berwudu. Beliau menuangkan air ke tangannya tiga kali, kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Lalu beliau membasuh wajahnya tiga kali. Lalu beliau membasuh tangan kanan sampai siku tiga kali, lalu membasuh tangan kiri sampai siku tiga kali. Kemudian beliau mengusap kepala. Kemudian beliau membasuh kaki kanan tiga kali, lalu kaki kiri tiga kali. Kemudian ‘Utsman mengatakan: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudu seperti wuduku ini, lalu beliau bersabda, “Siapa saja berwudu dengan wuduku ini, lalu salat dua rakaat yang tidak terbetik di dalam hatinya selain perkara salatnya, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1931 dan 1932

١٩٣١ – حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ سُمَيٍّ مَوۡلَى أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ هِشَامِ بۡنِ الۡمُغِيرَةِ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ: كُنۡتُ أَنَا وَأَبِي، فَذَهَبۡتُ مَعَهُ حَتَّى دَخَلَنَا عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، قَالَتۡ أَشۡهَدُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ إِنۡ كَانَ لَيُصۡبِحُ جُنُبًا، مِنۡ جِمَاعٍ غَيۡرِ احۡتِلَامٍ، ثُمَّ يَصُومُهُ.
1931. Isma’il telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Malik menceritakan kepadaku, dari Sumai maula Abu Bakr bin ‘Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam bin Al-Mughirah: Bahwa ia mendengar Abu Bakr bin ‘Abdurrahman: Aku pernah bersama ayahku. Aku pergi bersama beliau sampai kami masuk menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan: Aku menjadi saksi atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah masuk waktu subuh dalam keadaan junub karena hubungan suami istri, bukan karena mimpi, kemudian beliau tetap berpuasa hari itu.
١٩٣٢ – ثُمَّ دَخَلَنَا عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ فَقَالَتۡ مِثۡلَ ذٰلِكَ. [طرفاه في: ١٩٢٥، ١٩٢٦].
1932. Kemudian kami menemui Ummu Salamah, lalu beliau juga mengatakan semisal itu.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1930

٢٥ – بَابُ اغۡتِسَالِ الصَّائِمِ

25. Bab mandi orang yang berpuasa

وَبَلَّ ابۡنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا ثَوۡبًا فَأَلۡقَاهُ عَلَيۡهِ وَهُوَ صَائِمٌ. وَدَخَلَ الشَّعۡبِيُّ الۡحَمَّامَ وَهُوَ صَائِمٌ. وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: لَا بَأۡسَ أَنۡ يَتَطَعَّمَ الۡقِدۡرَ أَوۡ الشَّيۡءَ. وَقَالَ الۡحَسَنُ: لَا بَأۡسَ بِالۡمَضۡمَضَةِ وَالتَّبَرُّدِ لِلصَّائِمِ. وَقَالَ ابۡنُ مَسۡعُودٍ: إِذَا كَانَ صَوۡمُ أَحَدِكُمۡ فَلۡيُصۡبِحۡ دَهِينًا مُتَرَجِّلًا. وَقَالَ أَنَسٌ: إِنَّ لِي أَبۡزَنَ أَتَقَحَّمُ فِيهِ وَأَنَا صَائِمٌ. وَيُذۡكَرُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ اسۡتَاكَ وَهُوَ صَائِمٌ. وَقَالَ ابۡنُ عُمَرَ: يَسۡتَاكُ أَوَّلَ النَّهَارِ وَآخِرَهُ، وَلَا يَبۡلَعُ رِيقَهُ. وَقَالَ عَطَاءٌ: إِنِ ازۡدَرَدَ رِيقَهُ لَا أَقُولُ يُفۡطِرُ. وَقَالَ ابۡنُ سِيرِينَ: لَا بَأۡسَ بِالسِّوَاكِ الرَّطۡبِ، قِيلَ: لَهُ طَعۡمٌ، قَالَ: وَالۡمَاءُ لَهُ طَعۡمٌ، وَأَنۡتَ تُمَضۡمِضُ بِهِ. وَلَمۡ يَرَ أَنَسٌ وَالۡحَسَنُ وَإِبۡرَاهِيمُ بِالۡكُحۡلِ لِلصَّائِمِ بَأۡسًا.
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah membasahi baju lalu mengenakannya dalam keadaan beliau berpuasa.
Asy-Sya’bi pernah masuk ke kamar mandi dalam keadaan beliau berpuasa.
Ibnu ‘Abbas mengatakan: Tidak mengapa mencicipi makanan di periuk atau selainnya.
Al-Hasan mengatakan: Tidak mengapa berkumur-kumur dan mendinginkan tubuh bagi orang yang berpuasa.
Ibnu Mas’ud mengatakan: Apabila salah seorang kalian berpuasa, hendaklah di pagi harinya ia meminyaki dan menyisir rambutnya.
Anas mengatakan: Sesungguhnya aku memiliki bak air yang aku gunakan untuk berendam dalam keadaan aku berpuasa.
Disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersiwak ketika sedang berpuasa. Ibnu ‘Umar mengatakan: Beliau bersiwak pada awal siang dan akhirnya dan beliau tidak menelan liurnya. ‘Atha` mengatakan: Apabila ia menelan liurnya, aku tidak mengatakan batal puasanya.
Ibnu Sirin mengatakan: Tidak mengapa menggunakan siwak yang basah. Ada yang mengatakan: Siwak basah memiliki rasa. Maka beliau mengatakan: Air pun punya rasa padahal engkau berkumur-kumur memakainya.
Anas, Al-Hasan, dan Ibrahim berpendapat tidak mengapa memakai celak bagi orang yang berpuasa.
١٩٣٠ – حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ صَالِحٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: حَدَّثَنَا يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ وَأَبِي بَكۡرٍ: قَالَتۡ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُدۡرِكُهُ الۡفَجۡرُ فِي رَمَضَانَ مِنۡ غَيۡرِ حُلۡمٍ، فَيَغۡتَسِلُ وَيَصُومُ. [طرفه في: ١٩٢٥].
1930. Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami: Yunus menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah dan Abu Bakr: ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasuki waktu subuh di bulan Ramadan dalam keadaan junub bukan karena mimpi, lalu beliau mandi dan berpuasa.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1929

١٩٢٩ – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ أَبِي عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ زَيۡنَبَ ابۡنَةِ أُمِّ سَلَمَةَ، عَنۡ أُمِّهَا رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: بَيۡنَمَا أَنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي الۡخَمِيلَةِ، إِذۡ حِضۡتُ، فَانۡسَلَلۡتُ، فَأَخَذۡتُ ثِيَابَ حَيۡضَتِي، فَقَالَ: (مَا لَكِ أَنُفِسۡتِ؟) قُلۡتُ: نَعَمۡ، فَدَخَلۡتُ مَعَهُ فِي الۡخَمِيلَةِ، وَكَانَتۡ هِيَ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ يَغۡتَسِلَانِ مِنۡ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، وَكَانَ يُقَبِّلُهَا وَهُوَ صَائِمٌ. [طرفه في: ٢٩٨].
1929. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Abu ‘Abdullah: Yahya bin Abu Katsir menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Zainab putri Ummu Salamah, dari ibunya radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan: Ketika aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam selimut, tiba-tiba aku haid. Lalu aku pelan-pelan keluar dan aku mengenakan pakaian haidku. Rasulullah bertanya, “Kenapa engkau? Apa engkau haid?” Aku menjawab, “Iya.” Lalu aku masuk lagi bersama beliau ke dalam selimut. Beliau dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana. Dan Rasulullah pernah menciumnya dalam keadaan berpuasa.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1927

٢٣ – بَابُ الۡمُبَاشَرَةِ لِلصَّائِمِ

23. Bab mempergauli istri bagi orang yang berpuasa

وَقَالَتۡ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: يَحۡرُمُ عَلَيۡهِ فَرۡجُهَا.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: Haram baginya (menggauli) pada farjinya.
١٩٢٧ – حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ قَالَ: عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنِ الۡحَكَمِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنِ الۡأَسۡوَدِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَكَانَ أَمۡلَكَكُمۡ لِإِرۡبِهِ. وَقَالَ: قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿مَآرِبُ﴾ [طه: ١٨]: حَاجَةٌ. وَقَالَ طَاوُسٌ: ﴿أُولِي الۡإِرۡبَةِ﴾ [النور: ٣١]: الۡأَحۡمَقُ لَا حَاجَةَ لَهُ فِي النِّسَاءِ. [الحديث ١٩٢٧ – طرفه في: ١٩٢٨].
1927. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Dari Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencium dan menggauli istri (pada selain farji) dalam keadaan beliau berpuasa, namun beliau adalah orang yang paling dapat menguasai nafsunya. Beliau mengatakan: Ibnu ‘Abbas mengatakan: Ma`aaribu (QS. Thaha: 18) artinya keperluan. Thawus mengatakan: Ulil irbah (QS. An-Nur: 31) artinya orang yang idiot tidak memiliki hasrat kepada perempuan.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1928

٢٤ – بَابُ الۡقُبۡلَةِ لِلصَّائِمِ

24. Bab mencium bagi orang yang berpuasa

وَقَالَ جَابِرُ بۡنُ زَيۡدٍ: إِنۡ نَظَرَ فَأَمۡنَى يُتِمُّ صَوۡمَهُ.
Jabir bin Zaid mengatakan: Apabila seseorang memandang (wanita) lalu keluar maninya, maka ia terus sempurnakan puasanya.
١٩٢٨ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ هِشَامٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي، عَنۡ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ (ح). وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: إِنۡ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَيُقَبِّلُ بَعۡضَ أَزۡوَاجِهِ وَهُوَ صَائِمٌ، ثُمَّ ضَحِكَتۡ. [طرفه في: ١٩٢٧].
1928. Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami, dari Hisyam, beliau mengatakan: Ayahku mengabarkan kepadaku, dari ‘Aisyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dalam riwayat lain) ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan: Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istri beliau ketika beliau sedang berpuasa. Kemudian ‘Aisyah tertawa.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1925 dan 1926

٢٢ – بَابُ الصَّائِمِ يُصۡبِحُ جُنُبًا

22. Bab orang yang puasa ketika masuk waktu subuh masih junub

١٩٢٥ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ سُمَيٍّ مَوۡلَى أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ هِشَامِ بۡنِ الۡمُغِيرَةِ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا بَكۡرِ بۡنَ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ قَالَ: كُنۡتُ أَنَا وَأَبِي حِينَ دَخَلَنَا عَلَى عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ (ح).
١٩٢٦ – حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو بَكۡرِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ هِشَامٍ: أَنَّ أَبَاهُ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ أَخۡبَرَ مَرۡوَانَ: أَنَّ عَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ أَخۡبَرَتَاهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يُدۡرِكُهُ الۡفَجۡرُ، وَهُوَ جُنُبٌ مِنۡ أَهۡلِهِ، ثُمَّ يَغۡتَسِلُ وَيَصُومُ. وَقَالَ مَرۡوَانُ لِعَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ الۡحَارِثِ: أُقۡسِمُ بِاللهِ لَتُقَرِّعَنَّ بِهَا أَبَا هُرَيۡرَةَ، وَمَرۡوَانُ يَوۡمَئِذٍ عَلَى الۡمَدِينَةِ، فَقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: فَكَرِهَ ذٰلِكَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ، ثُمَّ قُدِّرَ لَنَا أَنۡ نَجۡتَمِعَ بِذِي الۡحُلَيۡفَةِ، وَكَانَتۡ لِأَبِي هُرَيۡرَةَ هُنَالِكَ أَرۡضٌ، فَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ لِأَبِي هُرَيۡرَةَ: إِنِّي ذَاكِرٌ لَكَ أَمۡرًا، وَلَوۡلَا مَرۡوَانُ أَقۡسَمَ عَلَيَّ فِيهِ لَمۡ أَذۡكُرۡهُ لَكَ، فَذَكَرَ قَوۡلَ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ، فَقَالَ: كَذٰلِكَ حَدَّثَنِي الۡفَضۡلُ بۡنُ عَبَّاسٍ، وَهُوَ أَعۡلَمُ. وَقَالَ هَمَّامٌ وَابۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَأۡمُرُ بِالۡفِطۡرِ، وَالۡأَوَّلُ أَسۡنَدُ. [الحديثان ١٩٢٥، ١٩٢٦ – أطرافهما في: ١٩٣٠، ١٩٣١، ١٩٣٢].
1925. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Sumai maula Abu Bakr bin ‘Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam bin Al-Mughirah: Bahwa beliau mendengar Abu Bakr bin ‘Abdurrahman, beliau mengatakan: Aku dan ayahku pernah suatu ketika masuk bertemu ‘Aisyah dan Ummu Salamah. (Dalam riwayat lain).
1926. Abul Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, beliau mengatakan: Abu Bakr bin ‘Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam mengabarkan kepadaku: Bahwa bapaknya, yaitu ‘Abdurrahman mengabari Marwan: Bahwa ‘Aisyah dan Ummu Salamah telah mengabarkan kepadanya: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati waktu subuh dalam keadaan beliau masih junub dari istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. Marwan mengatakan kepada ‘Abdurrahman bin Al-Harits: Aku bersumpah kepada Allah agar engkau kejutkan Abu Hurairah dengan riwayat ini (karena Abu Hurairah ketika itu berpendapat sebaliknya). Marwan ketika itu berada di Madinah. Abu Bakr mengatakan: ‘Abdurrahman sebenarnya tidak suka melakukannya. Setelah itu, kami ditakdirkan berkumpul di Dzul Hulaifah. Sedangkan Abu Hurairah pernah memiliki tanah di situ. ‘Abdurrahman pun mengatakan kepada Abu Hurairah: Sesungguhnya aku akan menyebutkan satu perkara kepadamu yang seandainya Marwan tidak menyumpahiku, tentu aku tidak sebutkan kepadamu. Beliau pun menyebutkan riwayat ‘Aisyah dan Ummu Salamah. Abu Hurairah mengatakan: Namun, demikianlah (yakni kebalikan dari riwayat ‘Aisyah dan Ummu Salamah) yang diceritakan kepadaku oleh Al-Fadhl bin ‘Abbas dan beliau lebih tahu. Hammam dan Ibnu ‘Abdullah bin ‘Umar mengatakan, dari Abu Hurairah: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk tidak berpuasa dalam kasus tersebut. Akan tetapi riwayat yang pertama lebih kuat sanadnya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1924

٢١ – بَابٌ إِذَا نَوَى بِالنَّهَارِ صَوۡمًا

21. Bab apabila berniat puasa pada siang hari

وَقَالَتۡ أُمُّ الدَّرۡدَاءِ: كَانَ أَبُو الدَّرۡدَاءِ يَقُولُ: عِنۡدَكُمۡ طَعَامٌ؟ فَإِنۡ قُلۡنَا: لَا، قَالَ: فَإِنِّي صَائِمٌ يَوۡمِي هَٰذَا. وَفَعَلَهُ أَبُو طَلۡحَةَ، وَأَبُو هُرَيۡرَةَ، وَابۡنُ عَبَّاسٍ وَحُذَيۡفَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ.
Ummud Darda` mengatakan: Dahulu, Abud Darda`biasa menanyakan: Apakah kalian memiliki makanan? Apabila kami katakan: Tidak ada, maka beliau mengatakan: Kalau begitu, aku berpuasa pada hari ini. Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas, dan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhum.
١٩٢٤ – حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي عُبَيۡدٍ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَاعِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَ رَجُلًا يُنَادِي فِي النَّاسِ يَوۡمَ عَاشُورَاءَ: (إِنَّ مَنۡ أَكَلَ فَلۡيُتِمَّ، أَوۡ فَلۡيَصُمۡ، وَمَنۡ لَمۡ يَأۡكُلۡ فَلَا يَأۡكُلۡ). [الحديث ١٩٢٤ – طرفاه في: ٢٠٠٧، ٧٢٦٥].
1924. Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abu ‘Ubaid, dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang yang mengumumkan kepada manusia pada hari Asyura, “Sesungguhnya siapa saja yang telah makan, maka hendaknya ia sempurnakan atau ia berpuasa. Dan siapa saja yang belum makan, maka janganlah makan.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1922

٢٠ – بَابُ بَرَكَةِ السُّحُورِ مِنۡ غَيۡرِ إِيجَابٍ

20. Bab berkah makan sahur tetapi tidak diwajibkan

لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَأَصۡحَابَهُ وَاصَلُوا وَلَمۡ يُذۡكَرِ السُّحُورُ.
Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah menyambung puasa dan tidak disebutkan melakukan makan sahur.
١٩٢٢ – حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا جُوَيۡرِيَةُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَاصَلَ فَوَاصَلَ النَّاسُ، فَشَقَّ عَلَيۡهِمۡ، فَنَهَاهُمۡ، قَالُوا: إِنَّكَ تُوَاصِلُ! قَالَ: (لَسۡتُ كَهَيۡئَتِكُمۡ، إِنِّي أَظَلُّ أُطۡعَمُ وَأُسۡقَى). [الحديث ١٩٢٢ – طرفه في: ١٩٦٢].
1922. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Juwairiyah menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambung puasa (tidak berbuka) sehingga para sahabat pun menyambung puasa. Namun hal itu memberatkan mereka sehingga Nabi melarang mereka. Para sahabat berkata: Akan tetapi engkau menyambung puasa. Beliau bersabda, “Keadaanku tidak seperti kalian. Sesungguhnya aku senantiasa diberi makan dan diberi minum.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1921

١٩ – بَابُ قَدۡرِ كَمۡ بَيۡنَ السُّحُورِ وَصَلَاةِ الۡفَجۡرِ

19. Bab ukuran berapa jarak waktu antara makan sahur dengan salat subuh

١٩٢١ – حَدَّثَنَا مُسۡلِمُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: تَسَحَّرۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ، قُلۡتُ: كَمۡ كَانَ بَيۡنَ الۡأَذَانِ وَالسُّحُورِ؟ قَالَ: قَدۡرُ خَمۡسِينَ آيَةً. [طرفه في: ٥٧٥].
1921. Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami: Qatadah menceritakan kepada kami, dari Anas, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bangkit untuk melakukan salat. Aku (Anas) bertanya: Berapa jarak waktu antara azan dengan makan sahur? Beliau (Zaid) menjawab: Sekitar bacaan lima puluh ayat.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 4607

٤٦٠٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا الۡوَلِيدُ بۡنُ مُسۡلِمٍ، نا ثَوۡرُ بۡنُ يَزِيدَ، حَدَّثَنِي خَالِدُ بۡنُ مَعۡدَان، حَدَّثَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَمۡرٍو السُّلَمِيُّ وَحُجۡرُ بۡنُ حُجۡرٍ، قَالَا: أَتَيۡنَا الۡعِرۡبَاضُ بنُ سَارِيَةَ، وَهُوَ مِمَّنۡ نَزَلَ فِيهِ: ﴿وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوۡكَ لِتَحۡمِلَهُمۡ قُلۡتَ لَا أَجِدُ مَا أَحۡمِلُكُمۡ عَلَيۡهِ﴾ فَسَلَّمۡنَا، وَقُلۡنَا: أَتَيۡنَاكَ زَائِرِينَ وَعَائِدِينَ وَمُقۡتَبِسِينَ. فَقَالَ الۡعِرۡبَاضُ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوۡمٍ، ثُمَّ أَقۡبَلَ عَلَيۡنَا، فَوَعَظَنَا مَوۡعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتۡ مِنۡهَا الۡعُيُونُ وَوَجِلَتۡ مِنۡهَا الۡقُلُوبُ، قَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ كَأَنَّ هَٰذِهِ مَوۡعِظَةٌ مُوَدِّعٌ، فَمَاذَا تَعۡهَدُ إِلَيۡنَا؟ فَقَالَ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنۡ [عَبۡدًا حَبَشِيًّا]، فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ بَعۡدِي فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ [الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ] تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيۡهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمۡ وَمُحۡدَثَاتِ الۡأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحۡدَثَةٍ بِدۡعَةٌ، وَكُلَّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ). [(ابن ماجه)(٤٢)].
4607. Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami, Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, Tsaur bin Yazid menceritakan kepada kami, Khalid bin Ma’dan menceritakan kepadaku, ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulami dan Hujr bin Hujr menceritakan kepadaku, keduanya mengatakan: Al-‘Irbadh bin Sariyah datang kepada kami, beliau adalah yang termasuk dalam ayat, “dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu". (QS. At-Taubah: 92). Kami memberi salam kepada beliau. Kami mengatakan: Kami mendatangi engkau untuk berkunjung, merujuk kepadamu, dan mengambil faidah darimu. Al-‘Irbadh mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat mengimami kami pada suatu hari, lalu beliau berbalik menghadap kami. Beliau memberi nasihat kepada kami dengan nasihat yang menyebabkan air mata bercucuran dan hati-hati bergetar. Seseorang mengatakan: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan. Apa yang engkau wasiatkan kepada kami? Beliau bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun budak Habasyah yang memimpin. Karena siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, tentu ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunahku dan sunah para khalifah yang lurus dan terbimbing. Pegang erat-erat itu dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah dan setiap bidah adalah sesat.”

Shahih Muslim hadits nomor 2553

٥ – بَابُ تَفۡسِيرِ الۡبِرِّ وَالۡإِثۡمِ

5. Bab tafsir kebajikan dan dosa

١٤ – (٢٥٥٣) – حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمِ بۡنِ مَيۡمُونٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ مَهۡدِيٍّ، عَنۡ مُعَاوِيَةَ بۡنِ صَالِحٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ جُبَيۡرِ بۡنِ نُفَيۡرٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّوَّاسِ بۡنِ سَمۡعَانَ الۡأَنۡصَارِيِّ. قَالَ: سَأَلۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الۡبِرِّ وَالۡإِثۡمِ؟ فَقَالَ: (الۡبِرُّ حُسۡنُ الۡخُلُقِ، وَالۡإِثۡمُ مَا حَاكَ فِي صَدۡرِكَ وَكَرِهۡتَ أَنۡ يَطَّلِعَ عَلَيۡهِ النَّاسُ).
14. (2553). Muhammad bin Hatim bin Maimun telah menceritakan kepadaku: Ibnu Mahdi menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, dari An-Nawwas bin Sam’an Al-Anshari. Beliau mengatakan: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebajikan dan dosa. Beliau bersabda, “Kebajikan adalah perangai yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang menyesakkan dadamu dan engkau tidak suka hal itu terlihat oleh manusia.”
١٥ – (...) – حَدَّثَنِي هَارُونُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَيۡلِيُّ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ: حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ، يَعۡنِي ابۡنَ صَالِحٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ جُبَيۡرِ بۡنِ نُفَيۡرٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ نَوَّاسِ بۡنِ سَمۡعَانَ. قَالَ: أَقَمۡتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ بِالۡمَدِينَةِ سَنَةً. مَا يَمۡنَعُنِي مِنَ الۡهِجۡرَةِ إِلَّا الۡمَسۡأَلَةُ. كَانَ أَحَدُنَا إِذَا هَاجَرَ لَمۡ يَسۡأَلۡ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنۡ شَيۡءٍ. قَالَ: فَسَأَلۡتُهُ عَنِ الۡبِرِّ وَالۡإِثۡمِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡبِرُّ حُسۡنُ الۡخُلُقِ، وَالۡإِثۡمُ مَا حَاكَ فِي نَفۡسِكَ، وَكَرِهۡتَ أَنۡ يَطَّلِعَ عَلَيۡهِ النَّاسُ).
15. Harun bin Sa’id Al-Aili telah menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami: Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepadaku, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, dari Nawwas bin Sam’an. Beliau mengatakan: Aku sempat tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah selama setahun. Tidak ada yang menghalangi dari hijrah kecuali ada suatu masalah. Salah seorang dari kami apabila berhijrah tidak bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang satu hal pun. Beliau mengatakan: Maka, aku bertanya kepada beliau tentang kebajikan dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kebajikan adalan perangai yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang membuat bimbang dalam dirimu dan engkau benci hal itu diketahui oleh manusia.”

Shahih Muslim hadits nomor 1009

٥٦ – (١٠٠٩) – وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ بۡنُ هَمَّامٍ: حَدَّثَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ، قَالَ: هٰذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيۡرَةَ، عَنۡ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنۡهَا: وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ سُلَامَىٰ مِنَ النَّاسِ عَلَيۡهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوۡمٍ تَطۡلُعُ فِيهِ الشَّمۡسُ). قَالَ: (تَعۡدِلُ بَيۡنَ الۡاثۡنَيۡنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحۡمِلُهُ عَلَيۡهَا، أَوۡ تَرۡفَعُ لَهُ عَلَيۡهَا مَتَاعَهُ، صَدَقَةٌ) قَالَ: (وَالۡكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خَطۡوَةٍ إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الۡأَذَىٰ عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ).
[البخاري: كتاب الصلح، باب فضل الإصلاح بين الناس والعدل بينهم، رقم: ٢٧٠٧].
56. (1009). Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepad kami: ‘Abdurrazzaq bin Hammam menceritakan kepada kami: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Hammam bin Munabbih, beliau mengatakan: Ini hadis yang diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami, dari Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyebutkan beberapa hadis, di antaranya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap persendian manusia wajib disedekahi pada setiap hari yang matahari terbit saat itu.” Beliau melanjutkan, “Berbuat adil antara dua pihak adalah sedekah, menolong seseorang pada tunggangannya sehingga bisa naik ke atasnya dan menaikkan barang bawaannya ke atas tunggangannya adalah sedekah.” Beliau melanjutkan, “Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.”

Shahih Muslim hadits nomor 1006

٥٣ – (١٠٠٦) – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ أَسۡمَاءَ الضُّبَعِيُّ: حَدَّثَنَا مَهۡدِيُّ بۡنُ مَيۡمُونٍ: حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوۡلَىٰ أَبِي عُيَيۡنَةَ، عَنۡ يَحۡيَىٰ بۡنِ عُقَيۡلٍ، عَنۡ يَحۡيَىٰ بۡنِ يَعۡمَرَ، عَنۡ أَبِي الۡأَسۡوَدِ الدِّيلِيِّ، عَنۡ أَبِي ذَرٍّ؛ أَنَّ نَاسًا مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ قَالُوا لِلنَّبِيِّ ﷺ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهۡلُ الدُّثُورِ بِالۡأُجُورِ: يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمۡوَالِهِمۡ. قَالَ: (أَوَ لَيۡسَ قَدۡ جَعَلَ اللهُ لَكُمۡ مَا تَصَدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسۡبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلُّ تَكۡبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحۡمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهۡلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمۡرٌ بِالۡمَعۡرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهۡيٌ عَنۡ مُنۡكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضۡعِ أَحَدِكُمۡ صَدَقَةٌ). قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأۡتِي أَحَدُنَا شَهۡوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجۡرٌ؟ قَالَ: (أَرَأَيۡتُمۡ لَوۡ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيۡهِ فِيهَا وِزۡرٌ؟ فَكَذٰلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الۡحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجۡرًا).
53. (1006). ‘Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adh-Dhuba’i telah menceritakan kepada kami: Mahdi bin Maimun menceritakan kepada kami: Washil maula Abu ‘Uyainah menceritakan kepada kami, dari Yahya bin ‘Uqail, dari Yahya bin Ya’mar, dari Abul Aswad Ad-Dili, dari Abu Dzarr; Bahwa sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, para hartawan pergi membawa pahala-pahala. Mereka salat seperti kami salat, mereka puasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka. Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan takbir adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah. Amar makruf (memerintahkan kebaikan) adalah sedekah, nahi mungkar (melarang kemungkaran) adalah sedekah. Bahkan pada istri kalian ada sedekah.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah salah seorang kami menunaikan syahwat kepada istrinya bisa ada pahalanya? Beliau menjawab, “Apa pendapat kalian apabila ia melampiaskannya kepada yang haram, bukankah padanya ada dosa? Demikian pula, apabila ia menunaikannya kepada yang halal, tentu itu berpahala.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1920

١٨ – بَابُ تَأۡخِيرِ السُّحُورِ

18. Bab mengakhirkan makan sahur

١٩٢٠ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنۡتُ أَتَسَحَّرُ فِي أَهۡلِي، ثُمَّ تَكُونُ سُرۡعَتِي أَنۡ أَدۡرِكَ السُّجُودَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ.
1920. Muhammad bin ‘Ubaidullah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Hazim menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Saya pernah makan sahur bersama keluargaku, kemudian aku bergegas agar mendapatkan sujud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1918 dan 1919

١٧ – بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَا يَمۡنَعَنَّكُمۡ مِنۡ سَحُورِكُمۡ أَذَانُ بِلَالٍ)

17. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan sampai azan Bilal menghentikan kalian dari sahur kalian”

١٩١٨، ١٩١٩ – حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ، عَنۡ أَبِي أُسَامَةَ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ وَالۡقَاسِمِ بۡنِ مُحَمَّدٍ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيۡلٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُوا وَاشۡرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطۡلُعَ الۡفَجۡرُ). قَالَ الۡقَاسِمُ: وَلَمۡ يَكُنۡ بَيۡنَ أَذَانِهِمَا إِلَّا أَنۡ يَرۡقَى ذَا وَيَنۡزِلَ ذَا. [طرفه في: ٦١٧، ٦٢٢].
1918, 1919. ‘Ubaid bin Isma’il telah menceritakan kepada kami, dari Abu Usamah, dari ‘Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar; dan Al-Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Bahwa Bilal dahulu mengumandangkan azan di waktu masih malam, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makanlah dan minumlah sampai Ibnu Ummu Maktum mengumandangkan azan, karena beliau tidak azan hingga fajar terbit.” Al-Qasim mengatakan: Rentang waktu antara kedua azan tersebut hanyalah sejarak yang ini naik dan yang itu turun.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1917

١٩١٧ – حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ. ح. وَحَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ مُحَمَّدُ بۡنُ مُطَرِّفٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ قَالَ: أُنۡزِلَتۡ: ﴿وَكُلُوا وَاشۡرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الۡخَيۡطُ الۡأَبۡيَضُ مِنَ الۡخَيۡطِ الۡأَسۡوَدِ﴾ وَلَمۡ يَنۡزِلۡ ﴿مِنَ الۡفَجۡرِ﴾. فَكَانَ رِجَالٌ إِذَا أَرَادُوا الصَّوۡمَ رَبَطَ أَحَدُهُمۡ فِي رِجۡلِهِ الۡخَيۡطَ الۡأَبۡيَضَ وَالۡخَيۡطَ الۡأَسۡوَدَ، وَلَمۡ يَزَلۡ يَأۡكُلُ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُؤۡيَتُهُمَا، فَأَنۡزَلَ اللهُ بَعۡدُ: ﴿مِنَ الۡفَجۡرِ﴾ فَعَلِمُوا أَنَّهُ إِنَّمَا يَعۡنِي اللَّيۡلَ وَالنَّهَارَ. [الحديث ١٩١٧ – طرفه في: ٤٥١١].
1917. Sa’id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Hazim menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Sahl bin Sa’d. (Dalam riwayat lain) Sa’id bin Abu Maryam telah menceritakan kepadaku: Abu Ghassan Muhammad bin Mutharrif menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Abu Hazim menceritakan kepadaku, dari Sahl bin Sa’d, beliau mengatakan: Diturunkan ayat: “Makanlah dan minumlah hingga telah jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam” dan belum turun “yaitu fajar”. Maka, ketika itu orang-orang apabila hendak berpuasa, salah satu di antara mereka mengikat benang putih dan benang hitam di kakinya. Ia terus makan sampai telah jelas baginya dapat melihat kedua benang tersebut. Maka, Allah turunkan kelanjutan ayat tadi “yaitu fajar”. Mereka pun mengerti bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah malam dan siang.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1916

١٦ – بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى:

16. Bab firman Allah ta’ala:

﴿وَكُلُوا وَاشۡرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الۡخَيۡطُ الۡأَبۡيَضُ مِنَ الۡخَيۡطِ الۡأَسۡوَدِ مِنَ الۡفَجۡرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيۡلِ﴾ [البقرة: ١٨٧].
فِيهِ الۡبَرَاءُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.
“Makanlah dan minumlah sampai telah jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam hari.” (QS. Al-Baqarah: 187).
Dalam masalah ini ada hadis Al-Bara` dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
١٩١٦ – حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بۡنُ مِنۡهَالٍ: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ قَالَ: أَخۡبَرَنِي حُصَيۡنُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ عَدِيِّ بۡنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الۡخَيۡطُ الۡأَبۡيَضُ مِنَ الۡخَيۡطِ الۡأَسۡوَدِ﴾ [البقرة: ١٨٧] عَمَدۡتُ إِلَى عِقَالٍ أَسۡوَدَ وَإِلَى عِقَالٍ أَبۡيَضَ، فَجَعَلۡتُهُمَا تَحۡتَ وَسَادَتِي، فَجَعَلۡتُ أَنۡظُرُ فِي اللَّيۡلِ فَلَا يَسۡتَبِينُ لِي، فَغَدَوۡتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَذَكَرۡتُ لَهُ ذَلِكَ، فَقَالَ: (إِنَّمَا ذٰلِكَ سَوَدُ اللَّيۡلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ). [الحديث ١٩١٦ – طرفاه في: ٤٥٠٩، ٤٥١٠].
1916. Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami: Husyaim menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Hushain bin ‘Abdurrahman mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Ketika turun ayat: “Sampai telah jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Kemudian aku mengambil tali hitam dan tali putih, lalu aku letakkan di bawah bantalku. Aku pun mengamatinya di malam hari, namun tidak terlihat jelas olehku. Pagi harinya, aku pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku sebutkan hal itu. Beliau bersabda, “Itu maksudnya adalah hitamnya malam dan putihnya siang.”