Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-25, ke-26, dan ke-27

الۡحَدِيثُ الۡخَامِسُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَيۡضًا: أَنَّ نَاسًا مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالُوا لِلنَّبِيِّ ﷺ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهۡلُ الدُّثُورِ بِالۡأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمۡوَالِهِمۡ. قَالَ: (أَوَ لَيۡسَ قَدۡ جَعَلَ اللهُ لَكُمۡ مَا تَصَدَّقُونَ؟ إِنَّ لَكُمۡ بِكُلِّ تَسۡبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكۡبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحۡمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهۡلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمۡرٍ بِالۡمَعۡرُوفِ صَدَقَةً، وَنَهۡيٍ عَنۡ مُنۡكَرٍ صَدَقَةً، وَفِي بُضۡعِ أَحَدِكُمۡ صَدَقَةً). قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأۡتِي أَحَدُنَا شَهۡوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجۡرٌ؟ قَالَ: (أَرَأَيۡتُمۡ لَوۡ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيۡهِ وِزۡرٌ؟ فَكَذٰلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الۡحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجۡرٌ). [رواه مسلم].
Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu pula: Bahwa orang-orang dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, para hartawan telah pergi membawa pahala. Mereka salat sebagaimana kami salat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun, mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka. Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya bagi kalian dengan setiap bacaan tasbih adalah sedekah. Setiap bacaan takbir adalah sedekah. Setiap bacaan tahmid adalah sedekah. Setiap bacaan tahlil adalah sedekah. Memerintahkan kepada kebaikan adalah sedekah. Melarang dari kemungkaran adalah sedekah. Dan pada istri kalian adalah sedekah.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah seseorang dari kami menunaikan syahwatnya bisa ada pahalanya? Beliau bersabda, “Apa pendapat kalian kalau ia melampiaskannya kepada yang haram, apakah ada dosa atasnya? Demikian pula, apabila ia menyalurkannya kepada yang halal, dia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim nomor 1006).

الۡحَدِيثُ السَّادِسُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيۡهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوۡمٍ تَطۡلُعُ فِيهِ الشَّمۡسُ: تَعۡدِلُ بَيۡنَ اثۡنَيۡنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحۡمِلُهُ عَلَيۡهَا أَوۡ تَرۡفَعُ لَهُ عَلَيۡهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالۡكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خَطۡوَةٍ تَمۡشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الۡأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap persendian manusia ada sedekah padanya, pada setiap hari yang matahari terbit padanya: Berbuat adil antara dua pihak adalah sedekah. Menolong seseorang pada kendaraannya sehingga ia bisa menaikinya atau mengangkatkan barang bawaannya ke atasnya adalah sedekah. Perkataan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang ia ayunkan menuju salat adalah sedekah. Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari nomor 2989 dan Muslim nomor 1009).

الۡحَدِيثُ السَّابِعُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنِ النَّوَّاسِ بۡنِ سَمۡعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡبِرُّ حُسۡنُ الۡخُلُقِ، وَالۡإِثۡمُ مَا حَاكَ فِي نَفۡسِكَ وَكَرِهۡتَ أَنۡ يَطَّلِعَ عَلَيۡهِ النَّاسُ). [رواه مسلم].
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Kebajikan adalah baiknya perangai. Dosa adalah apa saja yang menyesakkan dadamu dan engkau tidak suka hal itu terlihat manusia.” (HR. Muslim nomor 2553).
وَعَنۡ وَابِصَةَ بۡنِ مَعۡبَدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أَتَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (جِئۡتَ تَسۡأَلُ عَنِ الۡبِرِّ؟). قُلۡتُ: نَعَمۡ. قَالَ: (اسۡتَفۡتِ قَلۡبَكَ، الۡبِرُّ مَا اطۡمَأَنَّتۡ إِلَيۡهِ النَّفۡسُ وَاطۡمَأَنَّ إِلَيۡهِ الۡقَلۡبُ، وَالۡإِثۡمُ مَا حَاكَ فِي النَّفۡسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدۡرِ، وَإِنۡ أَفۡتَاكَ النَّاسُ وَأَفۡتَوۡكَ). [حديث حسن رويناه في مسندي الإمامين: أحمد بن حنبل والدارمي، بإسناد حسن].
Dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?” Aku jawab: Iya. Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan adalah apa saja yang jiwa tenang kepadanya, begitu pula hati tenang kepadanya. Adapun dosa adalah apa saja yang menyesakkan jiwa dan meragukan di dada, meskipun orang-orang berfatwa kepadamu dan membenarkannya.” (Hadis hasan yang diriwayatkan di dalam dua kitab Musnad dua Imam: Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi dengan sanad yang hasan).