Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-28, ke-29, dan ke-30

الۡحَدِيثُ الثَّامِنُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي نَجِيحٍ الۡعِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مَوۡعِظَةً وَجِلَتۡ مِنۡهَا الۡقُلُوبُ، وَذَرَفَتۡ مِنۡهَا الۡعُيُونُ. فَقُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوۡعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوۡصِنَا. قَالَ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ، وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ، فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا. فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيۡهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمۡ وَمُحۡدَثَاتِ الۡأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ) [رواه أبو داود والترمذي وقال: حديث حسن صحيح].
Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami suatu nasihat yang membuat hati-hati bergetar dan air mata berlinang. Kami mengatakan: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Beliau bersabda, “Aku mewasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun seorang budak memimpin kalian. Karena siapa saja di antara kalian yang hidup nanti, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka dari itu, wajib atas kalian berpegang dengan sunahku dan sunah para khalifah yang lurus dan terbimbing. Gigitlah sunah itu dengan gigi-gigi geraham. Hati-hatilah kalian dari perkara agama yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud nomor 4607 dan At-Tirmidzi nomor 2676, beliau mengatakan: hadis hasan sahih).

الۡحَدِيثُ التَّاسِعُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ مُعَاذِ بۡنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَخۡبِرۡنِي بِعَمَلٍ يُدۡخِلُنِي الۡجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ. قَالَ: (لَقَدۡ سَأَلۡتَ عَنۡ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنۡ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيۡهِ: تَعۡبُدُ اللهَ لَا تُشۡرِكُ بِهِ شَيۡئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤۡتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الۡبَيۡتَ).. ثُمَّ قَالَ: (أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبۡوَابِ الۡخَيۡرِ؟ الصَّوۡمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطۡفِئُ الۡخَطِيئَةَ كَمَا يُطۡفِئُ الۡمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَوۡفِ اللَّيۡلِ).. ثُمَّ تَلَا: ﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ الۡمَضَاجِعِ...﴾ حَتَّى بَلَغَ: ﴿يَعۡمَلُونَ﴾. ثُمَّ قَالَ: (أَلَا أُخۡبِرُكَ بِرَأۡسِ الۡأَمۡرِ وَعُمُودِهِ وَذِرۡوَةِ سَنَامِهِ؟). قُلۡتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (رَأۡسُ الۡأَمۡرِ: الۡإِسۡلَامُ، وَعُمُودُهُ: الصَّلَاةُ، وَذِرۡوَةُ سَنَامِهِ: الۡجِهَادُ).. ثُمَّ قَالَ: (أَلَا أُخۡبِرُكَ بِمَلَاك ذٰلِكَ كُلِّهِ؟). قُلۡتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: (كُفَّ عَلَيۡكَ هَٰذَا). قُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ قَالَ: (ثَكِلَتۡكَ أُمُّكَ، وَهَلۡ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمۡ) – أَوۡ قَالَ: (عَلَى مَنَاخِرِهِمۡ – إِلَّا حَصَائِدُ أَلۡسِنَتِهِمۡ). [رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح].
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku berkata: Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka. Beliau menjawab, “Sungguh engkau telah menanyakan sesuatu yang agung dan hal itu sungguh mudah bagi siapa saja yang Allah mudahkan, yaitu: engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, menegakkan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah dapat memadamkan kesalahan seperti air memadamkan api, dan salatnya seseorang di tengah malam.” Kemudian beliau membaca ayat yang artinya, “Lambung mereka jauh dari tempat tidur…” sampai “…mereka kerjakan” (QS. As-Sajdah: 16-17). Kemudian beliau bersabda, “Maukah aku beritahu engkau dengan pokok urusan agama, tiang-tiangnya, dan puncak tertingginya?” Aku katakan: Tentu mau, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, “Pokok urusan agama adalah Islam, tiang-tiangnya adalah salat, dan puncak tertinginya adalah jihad.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah aku beritahu engkau inti dari semua itu?” Aku katakan: Tentu mau, wahai Rasulullah. Beliau pun memegang lisannya seraya bersabda, “Tahanlah ini olehmu.” Aku katakan: Wahai Nabi Allah, apakah kita diazab dengan sebab apa yang kita ucapkan? Beliau bersabda, “Ibumu kehilanganmu. Tidaklah yang menyebabkan manusia diseret di atas wajah-wajah mereka di neraka.” Atau beliau bersabda, “Di atas hidung-hidung mereka kecuali akibat ucapan lisan-lisan mereka.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2616, beliau mengatakan: hadis hasan sahih).

الۡحَدِيثُ الثَّلَاثُونَ

عَنۡ أَبِي ثَعۡلَبَةَ الۡخُشَنِيُّ جُرۡثُومِ بۡنِ نَاشِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلَا تَعۡتَدُوهَا، وَحَرَّمَ أَشۡيَاءَ فَلَا تَنۡتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنۡ أَشۡيَاءَ رَحۡمَةً لَكُمۡ غَيۡرَ نِسۡيَانٍ فَلَا تَبۡحَثُوا عَنۡهَا). [حديث حسن رواه الدارقطني وغيره].
Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani Jurtsum bin Nasyir radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbagai kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dan Dia telah menetapkan batasan-batasan, maka janganlah kalian melampauinya. Dan Dia telah mengharamkan berbagai hal, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia mendiamkan dari berbagai perkara sebagai rahmat untuk kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian bertanya-tanya tentangnya.” (Hadis hasan diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan selain beliau).