Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1813

٥ – بَابُ مَنۡ قَالَ: لَيۡسَ عَلَى الۡمُحۡصَرِ بَدَلٌ
5. Bab barang siapa yang berkata: Tidak disyariatkan mengganti bagi orang yang tertahan

وَقَالَ رَوۡحٌ: عَنۡ شِبۡلٍ، عَنِ ابۡنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: إِنَّمَا الۡبَدَلُ عَلَى مَنۡ نَقَضَ حَجَّهُ بِالتَّلَذُّذِ، فَأَمَّا مَنۡ حَبَسَهُ عُذۡرٌ أَوۡ غَيۡرُ ذٰلِكَ فَإِنَّهُ يَحِلُّ وَلَا يَرۡجِعُ، وَإِنۡ كَانَ مَعَهُ هَدۡيٌ وَهُوَ مُحۡصَرٌ نَحَرَهُ إِنۡ كَانَ لَا يَسۡتَطِيعُ أَنۡ يَبۡعَثَ بِهِ، وَإِنِ اسۡتَطَاعَ أَنۡ يَبۡعَثَ بِهِ لَمۡ يَحِلَّ حَتَّى يَبۡلُغَ الۡهَدۡيُ مَحِلَّهُ. وَقَالَ مَالِكٌ وَغَيۡرُهُ: يَنۡحَرُ هَدۡيَهُ وَيَحۡلِقُ فِي أَيِّ مَوۡضِعٍ كَانَ، وَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ، لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَأَصۡحَابَهُ بِالۡحُدَيۡبِيَةِ نَحَرُوا وَحَلَقُوا وَحَلُّوا مِنۡ كُلِّ شَيۡءٍ قَبۡلَ الطَّوَافِ، وَقَبۡلَ أَنۡ يَصِلَ الۡهَدۡيُ إِلَى الۡبَيۡتِ، ثُمَّ لَمۡ يُذۡكَرۡ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَ أَحَدًا أَنۡ يَقۡضُوا شَيۡئًا، وَلَا يَعُودُوا لَهُ، وَالۡحُدَيۡبِيَةُ خَارِجٌ مِنَ الۡحَرَمِ.
Rauh mengatakan: Dari Syibl, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Penggantian haji hanya wajib bagi siapa saja yang membatalkan hajinya dengan jimak. Adapun siapa saja yang terhalang oleh suatu uzur atau selain itu, maka ia tahalul dan tidak perlu mengada. Apabila ia membawa hewan kurban haji dalam keadaan ia terhalang, maka ia menyembelihnya jika ia tidak mampu mengirim hewan tersebut sampai ke tanah haram. Apabila ia mampu mengirimnya, maka ia tidak tahalul sampai hewan kurban haji tersebut sampai tempat penyembelihannya. Malik dan selain beliau mengatakan: Dia menyembelih hewan kurban hajinya dan menggundul kepalanya di tempat mana saja ia berada, tidak ada kada atasnya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya di Hudaibiyah, mereka menyembelih, menggundul, dan tahalul dari segala sesuatu sebelum beliau dapat melakukan tawaf dan sebelum hewan kurban haji sampai ke Baitullah. Kemudian tidak disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang pun untuk mengada apapun atau mengulanginya. Dan Hudaibiyah berada di luar tanah haram.
١٨١٣ – حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ حِينَ خَرَجَ إِلَى مَكَّةَ مُعۡتَمِرًا فِي الۡفِتۡنَةِ: إِنۡ صُدِدۡتُ عَنِ الۡبَيۡتِ صَنَعۡنَا كَمَا صَنَعۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَأَهَلَّ بِعُمۡرَةٍ مِنۡ أَجۡلِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ أَهَلَّ بِعُمۡرَةٍ عَامَ الۡحُدَيۡبِيَةِ، ثُمَّ إِنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ نَظَرَ فِي أَمۡرِهِ فَقَالَ: مَا أَمۡرُهُمَا إِلَّا وَاحِدٌ، فَالۡتَفَتَ إِلَى أَصۡحَابِهِ فَقَالَ: مَا أَمۡرُهُمَا إِلَّا وَاحِدٌ، أُشۡهِدُكُمۡ أَنِّي قَدۡ أَوۡجَبۡتُ الۡحَجَّ مَعَ الۡعُمۡرَةِ، ثُمَّ طَافَ لَهُمَا طَوَافًا وَاحِدًا، وَرَأَى أَنَّ ذٰلِكَ مُجۡزِيًا عَنۡهُ، وَأَهۡدَى. [طرفه في: ١٦٣٩].
1813. Isma’il telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Malik menceritakan kepadaku, dari Nafi’: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan ketika keluar menuju Makkah dalam rangka umrah di saat ujian (Al-Hajjaj menyerang Ibnuz Zubair): Apabila aku terhalang dari Kakbah, kami akan melakukan seperti yang dahulu kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memulai ihram untuk umrah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memulai ihram untuk umrah pada tahun Hudaibiyah. Kemudian ‘Abdullah bin ‘Umar memperhatikan perkaranya, lalu berkata: Tidaklah perkara haji dan umrah kecuali satu saja. Beliau menoleh kepada para sahabatnya dan berkata: Tidaklah perkara haji dan umrah kecuali satu saja, aku persaksikan kepada kalian bahwa aku telah mewajibkan haji bersama umrah atas diriku. Kemudian beliau melakukan tawaf untuk haji dan umrah dengan satu tawaf saja. Beliau berpendapat bahwa itu sudah mencukupi, kemudian beliau berkurban haji.