Sabtu Kelam Penangkap Ikan

Ashabus Sabt, kisah mereka menjadi pelajaran penting sepanjang sejarah manusia. Berita tentang mereka secara khusus adalah peringatan bagi Yahudi agar segera beriman kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beriman kepada Al-Qur'an, sebelum turun azab, sebagaimana menimpa atas Ashabus Sabt.
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ ءَامِنُوا۟ بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُم مِّن قَبْلِ أَن نَّطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَىٰٓ أَدْبَارِهَآ أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّآ أَصْحَـٰبَ ٱلسَّبْتِ ۚ وَكَانَ أَمْرُ ٱللَّهِ مَفْعُولًا
“Wahai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kalian kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur`an), yang membenarkan Kitab yang ada pada kalian sebelum Kami mengubah muka (kalian), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka, sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.” [Q.S. An-Nisa:47].

Bani Quraizhah, Bani Qainuqa', atau Bani Nadhir, sebagai komunitas besar Yahudi di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat yakin akan kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Jauh-jauh hari sebelum datangnya Ar-Rasul mereka tengah menantinya. Kini Rasul itu telah datang, Al-Haq telah terpampang di hadapan mereka, namun hasad menghalangi mereka dari iman.

Turunlah ayat-ayat Allah subhanahu wa ta'ala memberikan peringatan kepada Ahlul Kitab. Termasuk peringatan untuk mereka adalah peristiwa bersejarah yang telah menimpa nenek moyang mereka, Ashabus Sabt. Agar tegak hujah atas mereka, dan agar mereka kembali ke jalan yang lurus.

ASHABUS SABT DALAM AL-QURAN


Ashabus Sabt, kisahnya masyhur di kalangan Ahlul Kitab. Bukan berita baru bagi mereka.
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ ٱلَّذِينَ ٱعْتَدَوْا۟ مِنكُمْ فِى ٱلسَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَـٰسِـِٔينَ
“Dan sesungguhnya telah kalian ketahui orang-orang yang melanggar di antara kalian pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, 'Jadilah kalian kera yang hina.'” [Q.S. Al Baqarah:65].

Di dalam Al-Quran, kisah ini disebutkan di beberapa tempat. Namun, secara rinci Allah subhanahu wa ta'ala sebutkan dalam surat Al-A'raf. Di awal kisah Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلَّتِى كَانَتْ حَاضِرَةَ ٱلْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِى ٱلسَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَ‌ٰلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْسُقُونَ
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” [Q.S. Al-A'raf:163].

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya), “Wahai Nabi, tanyakan kepada mereka, orang-orang Yahudi, ahlul kitab tentang kisah sebuah negeri di pesisir pantai.”

Pertanyaan ini sesungguhnya sebuah peringatan sekaligus celaan kepada Yahudi yang tidak mau beriman kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Keadaan mereka serupa dengan keadaan nenek moyangnya, Ashabus Sabt.

SEBAB KEBINASAAN ASHABUS SABT


Kejadian besar menimpa Ashabus Sabt. Allah laknat mereka, Allah jauhkan mereka dari rahmat-Nya. Jasad-jasad mereka berubah menjadi kera yang hina. Subhanallah! Apakah gerangan yang terjadi?

Mereka telah melanggar batasan-batasan Allah subhanahu wa ta'ala. Bahkan mereka melakukan tipu muslihat yang mereka anggap bermanfaat untuk menipu Allah subhanahu wa ta'ala. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman (yang artinya), “Ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu.”

Inilah di antara pelanggaran mereka, melanggar aturan pada hari Sabtu. Dalam syariat Yahudi, Allah subhanahu wa ta'ala mewajibkan mereka memuliakan hari sabtu dengan beribadah dan meninggalkan pekerjaan, Allah subhanahu wa ta'ala haramkan menangkap ikan di hari tersebut.

Larangan bekerja di hari sabtu dan mengkhususkannya untuk beribadah adalah syariat yang cukup berat atas mereka.

Dan disebabkan kefasikan mereka, Allah subhanahu wa ta'ala perberat beban atas Yahudi. Allah subhanahu wa ta'ala uji mereka dengan peristiwa yang sangat menakjubkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman (yang artinya), “Di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka.”

Hari sabtu sebagai hari larangan, justru di hari itulah ikan-ikan bergegas ke permukaan laut. Berbagai jenis ikan bermunculan, -hanya Allah subhanahu wa ta'ala saja yang mengetahui berapa banyaknya jenis dan jumlahnya-, muncul di permukaan laut. Dan jika sabtu telah berlalu, hilang semua ikan yang bermunculan di tepian permukaan laut. Semua kembali ke tengah laut dan tidak akan diperoleh melainkan dengan kerja keras.

Allahu Akbar! Benar-benar menakjubkan! Bukankah hewan tidak mengerti hari dan tidak bisa membedakannya?

Namun, seakan ikan-ikan laut mampu membedakan hari. Di hari itu mereka serempak bermunculan di permukaan laut dan menepi di pesisir pantai. Dan di selain hari sabtu, ikan-ikan enggan untuk menampakkan dirinya. Itulah kekuasaan Allah, itulah sebagian dari ilmu Allah yang maha Luas.

Syariat yang berat menjadi semakin beratlah atas Bani Israil. Ini semua tidak lain dengan sebab kefasikan mereka. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala ingatkan dalam firman-Nya yang artinya, “Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.”

Ini pula yang terjadi pada zaman ini. Karena kefasikan manusia, perkara haram dan syubhat menjadi sangat merebak di sekitar kita, begitu mudah dinikmati. Sebut saja sebagai misal, semua transaksi dihiasi dengan riba dan harta syubhat, pinjaman-pinjaman ribawi demikian mudah dipetik, muamalah-muamalah yang penuh syubhat, dan keharaman sangat menjanjikan hasil dan kekayaan. Persis seperti ikan-ikan yang berbondong ke tepi laut dan permukaannya di hari Allah larang Yahudi berburu ikan.

Manusia pun lebih suka bergelut dengan barang haram dan muamalah yang penuh dengan syubhat, karena banyak dan mudah dicapai ketimbang muamalah yang bersih dari riba dan noda syubhat. Serupa dengan Yahudi yang lebih suka menangkapi ikan-ikan yang datang di hari sabtu dengan tipu daya yang mereka lakukan. Sungguh kefasikan adalah sebab segala kesempitan, dan merebaknya kejelekan berikutnya.

YAHUDI KAUM YANG SUKA MELAKUKAN TIPU DAYA (HILAH)


Bagaimana kelakuan kebanyakan yahudi saat datang ujian dari Allah, berupa ikan yang datang berbondong-bondong di hari sabtu? Mereka berfikir, adakah jalan untuk mengelabui syariat? Demikianlah sifat Yahudi.

Mereka sengaja tidak mencari ikan di hari sabtu, namun mereka memiliki keinginan untuk meraup keuntungan dengan menangkap ikan-ikan di hari sabtu. Hilah pun mereka lakukan. Di hari Jum'at, ashabus sabt menggali galian-galian dan memasang perangkap-perangkap ikan. Sudah barang tentu di hari sabtu ikan-ikan akan masuk ke dalam lubang-lubang galian dan terperangkap dalam jaring-jaring. Dan di hari Ahad, barulah mereka memanen ikan yang melimpah ruah tanpa ada kesusahan.

Dengan perbuatan itu mereka berkata, “Kami tidak melanggar larangan Allah. Kami tidak bekerja di hari sabtu.”

Keadaan ini terus berlangsung, dan para pelaku hilah menjadi mayoritas di tengah-tengah kota pantai yang Allah kisahkan.

PECAH MENJADI TIGA GOLONGAN


Kemungkaran merebak di negeri itu. Kehormatan hari sabtu dirobek. Syariat Allah dilanggar, bahkan dengan tipu muslihat. Mayoritas penduduk melanggar kehormatan hari sabtu. Inilah golongan pertama, kaum pendurhaka dan pelaku hilah.

Tidak semua tergelincir dalam api kebinasaan. Masih ada di tengah mereka sebagian kecil manusia yang dengan gigihnya menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Dan merekalah golongan kedua.

Di tengah mereka ada pula golongan ketiga, yaitu mereka yang sesungguhnya membenci kemungkaran, namun tidak ikut serta dalam nahi munkar. Mereka mencukupkan apa yang telah dilakukan saudaranya yang gigih melarang kemungkaran. Bahkan sempat mereka berkata kepada golongan kedua, “Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala kisahkan sebagian dialog golongan kedua dan ketiga dalam firman-Nya:
وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ ٱللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ قَالُوا۟ مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, 'Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?' Mereka menjawab, 'Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabb kalian, dan supaya mereka bertakwa'.” [Q.S. Al A'raf:164].

Pembaca Qudwah yang dirahmati Allah, perhatikan sejenak jawaban mereka yang terus melakukan nahi munkar, “Mereka menjawab, 'Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabb kalian, dan supaya mereka bertakwa'.”

Jawaban ini patut kita renungkan. Inilah sesungguhnya maksud amar ma'ruf nahi munkar. Pertama: Menegakkan hujjah dan menyampaikan kepada manusia. Kedua: Semoga dengan itu mereka mendapat hidayah dan mau meninggalkan kemungkaran yang mereka lakukan.

Nabi dan Rasul beserta para ulama pewaris nabi, tugas mereka hanya menyampaikan. Adapun hidayah, semua di Tangan Allah.

AZAB ALLAH TIBA


Waktu berjalan demikian cepat. Peringatan demi peringatan tidak juga membuat pelaku kemungkaran bergeming dari kemungkarannya. Ajal pun sampai, saat azab Allah tiba.
فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦٓ أَنجَيْنَا ٱلَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ ٱلسُّوٓءِ وَأَخَذْنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ بِعَذَابٍۭ بَـِٔيسٍۭ بِمَا كَانُوا۟ يَفْسُقُونَ
“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat, dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” [Q.S. Al A'raf:165].

Kaum yang selalu menegakkan amar ma'ruf nahi munkar Allah selamatkan. Adapun mereka yang zalim, para pelaku hilah Allah binasakan. Masih tersisa golongan yang ketiga, yaitu mereka yang membenci kemungkaran, namun diam tidak melakukan nahi munkar. Bagaimana nasib mereka? Apakah mereka selamat dari azab? Atau mereka bersama dengan kaum durjana yang Allah ubah jasadnya menjadi kera?

Para ulama berbeda pendapat tentang gologan ini. Selamat atau ikut binasa.

Ada yang mengatakan mereka termasuk yang selamat dari azab Allah subhanahu wa ta'ala, ada pula yang mengatakan mereka juga mendapat azab.

Lahiriah ayat menunjukkan bahwa mereka Allah selamatkan. Dan inilah yang benar insyaallah karena beberapa alasan:

  1. Karena di dalam ayat, Allah subhanahu wa ta'ala khususkan kebinasaan itu hanya menimpa orang-orang yang zalim. Sementara, Allah subhanahu wa ta'ala tidak mensifati mereka sebagai orang-orang yang zalim.
  2. Sisi lain yang menguatkan pendapat ini, amar ma'ruf nahi munkar hukumnya fardhu kifayah; jika sudah ada yang menjalankan maka gugurlah dari yang lain. Jadi, mereka mencukupkan diri karena sudah adanya peringatan dan nasihat dari yang lain.
  3. Sisi lain yang patut kita renungi pula, mereka pun membenci dan mengingkari perbuatan tersebut, melalui ucapan mereka dalam ayat ini:
لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ ٱللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا
“Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?”
Tampak dalam ucapan mereka kebencian terhadap para pelaku maksiat dan meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta'ala akan menghukum mereka dengan hukuman yang sangat berat, tentu jika tidak bertaubat. Pendapat inilah yang dipilih Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah.

AKHIR DARI TIPU MUSLIHAT


Setelah sekian lama mereka mendurhakai Allah, setelah sekian lama nasihat sampai kepada mereka, setelah hati mereka keras. Datanglah azab Allah. Hari-hari yang biasa mereka lalui dengan segala keramaian mengangkat hasil panen. Hiruk-pikuk ashabus sabt dengan ikan-ikan yang mereka peroleh dengan jalan yang haram, hilang sudah. Tidak ada lagi keramaian, tidak ada lagi hiruk-pikuk. Allah subhanahu wa ta'ala rubah mereka menjadi kera-kera yang hina, kemudian binasa, membawa kemurkaan dan laknat dari Allah. Allahul musta'an.

Kisah ashabus Sabt adalah pelajaran, bukan hanya bagi kaum yang menyimpang, juga peringatan dan pelajaran bagi kaum yang bertakwa.
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ ٱلَّذِينَ ٱعْتَدَوْا۟ مِنكُمْ فِى ٱلسَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَـٰسِـِٔينَ. فَجَعَلْنَـٰهَا نَكَـٰلًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ
“Dan sesungguhnya telah kalian ketahui orang-orang yang melanggar di antara kalian pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, 'Jadilah kalian kera yang hina.' Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” [Q.S. Al-Baqarah:65-66].

FAEDAH-FAEDAH 


  • Diharamkannya merekayasa syariat, membuat tipuan-tipuan dengan maksud menggugurkan kewajiban atau memoles keharaman sehingga tampak seolah-olah tidak haram. 
  • Yahudi adalah kaum yang gemar melakukan hilah (tipu muslihat). Merekayasa syariat sehingga perkara yang haram tampak seolah-olah halal. Seperti Ashabus Sabt, ketika dilarang bekerja dan menangkap ikan di hari Sabtu. Namun, kemudian mereka melakukan rekayasa dengan memasang perangkap, jaring atau semisalnya di hari jumat. Lalu memanennya di hari Ahad. 
  • Kisah ini juga peringatan bagi kaum muslimin akan kelakuan Yahudi dan Nasrani. Karena segala kemungkaran yang dilakukan Yahudi, pasti akan ada di tengah umat ini yang mengikuti jejak mereka. Sebagaimana pernah disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits: 
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنۡ قَبۡلِكُمۡ شِبۡرًا بِشِبۡرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوۡ دَخَلُوا فِي جُحۡرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعۡتُمُوهُمۡ قُلۡنَا يَا رَسُولَ اللهِ آلۡيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنۡ 
“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai apabila mereka masuk lubang biawak, pasti kalian akan mengikutinya.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Al Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi?” [H.R. Al Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Said Al Khudri radhiyallahu 'anhu]. 
  • Akan ada golongan yang tidak mementingkan amar ma'ruf nahi munkar. Mereka benci kemungkaran yang ada di sekitarnya, namun berputus asa dari nahi munkar. Sebagaimana ada di antara Yahudi yang tidak melakukan nahi munkar kepada Ashabus Sabt. 
  • Di tengah umat juga akan ada kaum muslimin yang suka melakukan hilah, sebagaimana terjadi di tengah-tengah Yahudi. 
  • Kisah ini menunjukkan betapa sempurna kekuasaan dan kemampuan Allah. Allah Maha Kuasa merubah manusia menjadi kera-kera dan babi. Demikian pula munculnya ikan hanya di hari sabtu, pun menunjukkan betapa besar kemampuan Allah subhanahu wa ta'ala
  • Kebinasaan suatu kaum tidak lain sebabnya adalah perbuatan tangan mereka sendiri. Sebagaimana dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 
وَأَخَذْنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ بِعَذَابٍۭ بَـِٔيسٍۭ بِمَا كَانُوا۟ يَفْسُقُونَ 
“Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” [Q.S. Al A'raf:165]
  • Amar ma'ruf nahi munkar termasuk sebab seseorang mendapatkan keselamatan dari azab Allah. 
  • Di antara uslub atau metode dakwah adalah mengingatkan kejadian-kejadian kaum yang telah lalu. Baik kaum yang mendapatkan kemuliaan atau kaum yang mendapatkan kebinasaan. 


Sumber: Majalah Qudwah edisi 9 vol. 1 1434 H/2013 M, rubrik Samawi. Pemateri: Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.


DI MANAKAH NEGERI ITU? 


Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan bahwa negeri tersebut adalah Aylah. Sebagaimana dinukilkan dari Shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma

Aylah adalah sebuah kota yang terletak di antara Madyan dan Thur, di pesisir laut merah. Demikian Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan. 

Sebagian ulama berpendapat bahwa negeri itu adalah Madyan atau negeri lainnya. Allahu a'lam. Allah subhanahu wa ta'ala lah yang mengetahui negeri apa, dan di tepi laut sebelah manakah negeri itu? Tidak ada riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai negeri ini. 

Walhasil, komunitas yahudi tersebut berada di tepi laut, dan penduduknya bekerja sebagai pencari ikan. Seperti apa yang diterangkan Al-Quran.