Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1141

١١ – بَابُ قِيَامِ النَّبِيِّ ﷺ بِاللَّيۡلِ وَنَوۡمِهِ، وَمَا نُسِخَ مِنۡ قِيَامِ اللَّيۡلِ
11. Bab salat malam dan tidurnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang dihapus dari salat malam

وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الۡمُزَّمِّلُ ۞ قُمِ اللَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلًا ۞ نِصۡفَهُ أَوِ انۡقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا ۞أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ الۡقُرۡآنَ تَرۡتِيلًا ۞ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلًا ثَقِيلًا ۞ إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيۡلِ هِيَ أَشَدُّ وِطَاءً وَأَقۡوَمُ قِيلًا ۞ إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبۡحًا طَوِيلًا﴾ [المزمل: ١-٧] وَقَوۡلِهِ: ﴿عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ ۚ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ ۙ وَءَاخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِى ٱلْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ ۙ وَءَاخَرُونَ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَو‌ٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَو‌ٰةَ وَأَقْرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا﴾ [المزمل: ٢٠]. قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: نَشَأَ: قَامَ، بِالۡحَبَشِيَّةِ. ﴿وِطَاءً﴾ قَالَ: مُوَاطَأَةَ الۡقُرۡآنِ، أَشَدُّ مُوَافَقَةً لِسَمۡعِهِ وَبَصَرِهِ وَقِلۡبِهِ. ﴿لِيُوَاطِئُوا﴾ [التوبة: ٣٦]: لِيُوَافِقُوا.
Dan firman Allah taala, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangi sedikit dari seperdua itu, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (QS. Al-Muzzammil: 1-7). Dan firman Allah, “Allah mengetahui bahwa kalian sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepada kalian, karena itu bacalah apa yang mudah (bagi kalian) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kalian orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagi kalian) dari Al Quran dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk diri kalian niscaya kalian memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: nasya`a artinya berdiri menurut bahasa Habasyah (Etiopia). Witha`an, beliau berkata: kecocokan dengan Al Quran, yaitu lebih berkesan untuk pendengaran, pandangan, dan hatinya. Liyuwathi`u (QS. At-Taubah: 37) artinya: agar mereka menyesuaikan.
١١٤١ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ حُمَيۡدٍ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُفۡطِرُ مِنَ الشَّهۡرِ حَتَّى نَظُنُّ أَنۡ لَا يَصُومَ مِنۡهُ، وَيَصُومُ حَتَّى نَظُنَّ أَنۡ لَا يُفۡطِرَ مِنۡهُ شَيۡئًا، وَكَانَ لَا تَشَاءُ أَنۡ تَرَاهُ مِنَ اللَّيۡلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيۡتَهُ، وَلَا نَئِمًا إِلَّا رَأَيۡتَهُ. تَابَعَهُ سُلَيۡمَانُ وَأَبُو خَالِدٍ الۡأَحۡمَرُ، عَنۡ حُمَيۡدٍ. [الحديث ١١٤١ – أطرافه في: ١٩٧٢، ١٩٧٣، ٣٥٦١].
1141. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepadaku, dari Humaid: Bahwa beliau mendengar Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidak berpuasa di satu bulan sampai kami mengira bahwa beliau tidak pernah berpuasa di bulan itu. Dan beliau pernah berpuasa sampai kami mengira bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa di bulan itu. Dan tidaklah engkau ingin melihat beliau di malam hari dalam keadaan salat kecuali engkau akan dapat melihatnya atau dalam keadaan tidur kecuali engkau akan dapat melihatnya. Sulaiman dan Abu Khalid Al-Ahmad mengiringi Muhammad bin Ja’far dari Humaid.