Taqrib At-Tahdzib - 3320. 'Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi

٣٣٢٠ - [خ مق د ت س فق] عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الزُّبَيۡرِ بۡنِ عِيسَى الۡقُرَشِيُّ، الۡأَسَدِيُّ، الۡحُمَيۡدِيُّ، الۡمَكِّيُّ، أَبُو بَكۡرٍ، ثِقَةٌ حَافِظٌ فَقِيهٌ، أَجَلُّ أَصۡحَابِ ابۡنِ عُيَيۡنَةَ، مِنَ الۡعَاشِرَةِ، وَمَاتَ بِمَكَّةَ سَنَةَ تِسۡعَ عَشۡرَةَ وَقِيلَ:بَعۡدَهَا، قَالَ الۡحَاكِمُ: كَانَ الۡبُخَارِيُّ إِذَا وَجَدَ الۡحَدِيثَ عِنۡدَ الۡحُمَيۡدِيِّ لَا يَعۡدُوهُ إِلَى غَيۡرِهِ.
3320. 'Abdullah bin Az-Zubair bin 'Isa Al-Qurasyi Al-Asadi Al-Humaidi Al-Makki. Abu Bakr. Tepercaya hafizh fakih. Sahabat Ibnu 'Uyainah yang paling utama. Termasuk tingkatan kesepuluh. Beliau meninggal di Makkah tahun 219 H. Ada yang mengatakan: setelah itu. Al-Hakim berkata: Al-Bukhari apabila telah mendapatkan hadis pada diri Al-Humaidi, beliau tidak beralih kepada selainnya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4553

٤ - بَابُ ﴿قُلۡ يَا أَهۡلَ الۡكِتَابِ تَعَالَوۡا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَنۡ لَا نَعۡبُدَ إِلَّا اللهَ﴾ ۝٦٤، سَوَاءٍ: قَصۡدٍ
4. Bab “Katakanlah: Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang sama antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah,“ sawa` artinya qashd (pertengahan)

٤٥٥٣ - حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُوسَى، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ مَعۡمَرٍ (ح). وَحَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ عَبَّاسٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو سُفۡيَانَ مِنۡ فِيهِ إِلَى فِيَّ قَالَ: انۡطَلَقۡتُ فِي الۡمُدَّةِ الَّتِي كَانَتۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، قَالَ: فَبَيۡنَا أَنَا بِالشَّأۡمِ، إِذۡ جِيءَ بِكِتَابٍ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى هِرَقۡلَ، قَالَ: وَكَانَ دِحۡيَةُ الۡكَلۡبِيُّ جَاءَ بِهِ، فَدَفَعَهُ إِلَى عَظِيمِ بُصۡرَى، فَدَفَعَهُ عَظِيمُ بُصۡرَى إِلَى هِرَقۡلَ،
4553. Ibrahim bin Musa telah menceritakan kepadaku dari Hisyam, dari Ma’mar. (Dalam riwayat lain) ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah mengabarkan kepadaku. Beliau berkata: Ibnu ‘Abbas menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Abu Sufyan menceritakan kepadaku dari mulutnya kepada mulutku. Beliau mengatakan: Aku pergi di masa gencatan senjata (setelah perjanjian Hudaibiyyah) yang terjadi antara aku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan: Ketika aku berada di Syam, tiba-tiba datanglah tulisan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Hiraql (Heraklius). Beliau mengatakan: Ketika itu, Dihyah Al-Kalbi yang membawanya, lalu ia menyerahkannya kepada pembesar Bushra. Lalu pembesar Bushra menyerahkannya kepada Hiraql.
قَالَ: فَقَالَ هِرَقۡلُ: هَلۡ هَا هُنَا أَحَدٌ مِنۡ قَوۡمِ هَٰذَا الرَّجُلِ الَّذِي يَزۡعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ؟ فَقَالُوا: نَعَمۡ، قَالَ: فَدُعِيتُ فِي نَفَرٍ مِنۡ قُرَيۡشٍ، فَدَخَلۡنَا عَلَى هِرَقۡلَ، فَأُجۡلِسۡنَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ، فَقَالَ: أَيُّكُمۡ أَقۡرَبُ نَسَبًا مِنۡ هَٰذَا الرَّجُلِ الَّذِي يَزۡعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ؟ فَقَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: فَقُلۡتُ: أَنَا، فَأَجۡلَسُونِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ، وَأَجۡلَسُوا أَصۡحَابِي خَلۡفِي، ثُمَّ دَعَا بِتَرۡجُمَانِهِ، فَقَالَ: قُلۡ لَهُمۡ: إِنِّي سَائِلٌ هَٰذَا عَنۡ هَٰذَا الرَّجُلِ الَّذِي يَزۡعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، فَإِنۡ كَذَبَنِي فَكَذِّبُوهُ، قَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: وَايۡمُ اللهِ، لَوۡلَا أَنۡ يُؤۡثِرُوا عَلَيَّ الۡكَذِبَ لَكَذَبۡتُ، ثُمَّ قَالَ لِتَرۡجُمَانِهِ: سَلۡهُ كَيۡفَ حَسَبُهُ فِيكُمۡ؟ قَالَ: قُلۡتُ: هُوَ فِينَا ذُو حَسَبٍ، قَالَ: فَهَلۡ كَانَ مِنۡ آبَائِهِ مَلِكٌ؟ قَالَ: قُلۡتُ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ كُنۡتُمۡ تَتَّهِمُونَهُ بِالۡكَذِبِ قَبۡلَ أَنۡ يَقُولَ مَا قَالَ؟ قُلۡتُ: لَا، قَالَ: أَيَتَّبِعُهُ أَشۡرَافُ النَّاسِ أَمۡ ضُعَفَاؤُهُمۡ؟ قَالَ: قُلۡتُ: بَلۡ ضُعَفَاؤُهُمۡ، قَالَ: يَزِيدُونَ أَوۡ يَنۡقُصُونَ؟ قَالَ: قُلۡتُ لَا بَلۡ يَزِيدُونَ،
Abu Sufyan berkata: Hiraql berkata: Apakah di sini ada seseorang dari kaum lelaki yang mengaku sebagai nabi ini? Mereka menjawab: Iya ada. Abu Sufyan mengatakan: Lalu aku dipanggil bersama serombongan orang Quraisy, lalu kami masuk menemui Hiraql. Kami didudukkan di hadapannya. Hiraql bertanya: Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan lelaki yang mengaku nabi ini? Abu Sufyan berkata: Aku berkata: Saya. Lalu mereka mendudukkan aku di hadapan Hiraql dan mereka mendudukkan para sahabatku di belakangku. Kemudian Hiraql memanggil penerjemahnya. Dia berkata: Katakan kepada mereka: Sesungguhnya aku akan bertanya kepada orang ini (Abu Sufyan) tentang lelaki yang mengaku nabi. Jika dia berdusta kepadaku, maka kalian katakan dia dusta. Abu Sufyan berkata: Demi Allah, andai mereka tidak akan mengecapku dengan sifat dusta tentu aku akan berdusta. Kemudian Hiraql berkata kepada penerjemahnya: Tanyakan kepadanya bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian? Abu Sufyan berkata: Aku berkata: Dia memiliki nasab yang terpandang di tengah-tengah kami. Hiraql berkata: Apakah di antara bapak-bapaknya ada seorang raja? Abu Sufyan berkata: Aku berkata: Tidak ada. Hiraql bertanya: Apakah kalian dahulu pernah menuduhnya dengan sifat dusta sebelum dia mengucapkan perkataannya? Aku berkata: Tidak. Hiraql bertanya: Apakah orang-orang mulia yang mengikutinya atau orang-orang yang lemah? Abu Sufyan berkata: Aku berkata: Bahkan orang-orang lemah. Hiraql bertanya: Apakah mereka semakin bertambah atau berkurang? Abu Sufyan berkata: Aku berkata: Bahkan mereka semakin bertambah. 
قَالَ: هَلۡ يَرۡتَدُّ أَحَدٌ مِنۡهُمۡ عَنۡ دِينِهِ بَعۡدَ أَنۡ يَدۡخُلَ فِيهِ سَخۡطَةً لَهُ؟ قَالَ: قُلۡتُ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ قَاتَلۡتُمُوهُ؟ قَالَ: قُلۡتُ: نَعَمۡ، قَالَ: فَكَيۡفَ كَانَ قِتَالُكُمۡ إِيَّاهُ؟ قَالَ: قُلۡتُ: تَكُونُ الۡحَرۡبُ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَهُ سِجَالًا، يُصِيبُ مِنَّا وَنُصِيبُ مِنۡهُ، قَالَ: فَهَلۡ يَغۡدِرُ؟ قَالَ: قُلۡتُ: لَا، وَنَحۡنُ مِنۡهُ فِي هَٰذِهِ الۡمُدَّةِ لَا نَدۡرِي مَا هُوَ صَانِعٌ فِيهَا، قَالَ: وَاللهِ مَا أَمۡكَنَنِي مِنۡ كَلِمَةٍ أُدۡخِلُ فِيهَا شَيۡئًا غَيۡرَ هَٰذِهِ، قَالَ: فَهَلۡ قَالَ هَٰذَا الۡقَوۡلَ أَحَدٌ قَبۡلَهُ؟ قُلۡتُ: لَا،
Hiraql bertanya: Apakah ada seseorang di antara mereka yang murtad dari agamanya karena benci setelah menganutnya? Abu Sufyan berkata: Aku menjawab: Tidak ada. Hiraql bertanya: Apakah kalian memeranginya? Abu Sufyan berkata: Aku menjawab: Iya. Hiraql bertanya: Bagaimana peperangan antara kalian dengannya? Abu Sufyan berkata: Aku menjawab: Perang antara kami dengannya silih berganti, terkadang dia mengalahkan kami, terkadang kami yang mengalahkannya. Hiraql bertanya: Apakah dia biasa mungkir? Abu Sufyan berkata: Aku menjawab: Tidak, namun kami sedang dalam masa gencatan senjata dengannya sehingga kami tidak tahu apa yang dia lakukan di masa ini. Abu Sufyan berkata: Demi Allah, aku tidak bisa menyisipkan suatu kalimat (untuk menjatuhkan Nabi) selain ini. Hiraql bertanya: Apakah ada orang sebelum dia yang mengatakan ini? Aku menjawab: Tidak ada.
ثُمَّ قَالَ لِتُرۡجُمَانِهِ: قُلۡ لَهُ: إِنِّي سَأَلۡتُكَ عَنۡ حَسَبِهِ فِيكُمۡ، فَزَعَمۡتَ أَنَّهُ فِيكُمۡ ذُو حَسَبٍ، وَكَذٰلِكَ الرُّسُلُ تُبۡعَثُ فِي أَحۡسَابِ قَوۡمِهَا، وَسَأَلۡتُكَ هَلۡ كَانَ فِي آبَائِهِ مَلِكٌ، فَزَعَمۡتَ أَنۡ لَا، فَقُلۡتُ: لَوۡ كَانَ مِنۡ آبَائِهِ مَلِكٌ، قُلۡتُ رَجُلٌ يَطۡلُبُ مُلۡكَ آبَائِهِ، وَسَأَلۡتُكَ عَنۡ أَتۡبَاعِهِ: أَضُعَفَاؤُهُمۡ أَمۡ أَشۡرَافُهُمۡ، فَقُلۡتَ: بَلۡ ضُعَفَاؤُهُمۡ، وَهُمۡ أَتۡبَاعُ الرُّسُلِ، وَسَأَلۡتُكَ: هَلۡ كُنۡتُمۡ تَتَّهِمُونَهُ بِالۡكَذِبِ قَبۡلَ أَنۡ يَقُولَ مَا قَالَ، فَزَعَمۡتَ أَنۡ لَا، فَعَرَفۡتُ أَنَّهُ لَمۡ يَكُنۡ لِيَدَعَ الۡكَذِبَ عَلَى النَّاسِ، ثُمَّ يَذۡهَبَ فَيَكۡذِبَ عَلَى اللهِ، وَسَأَلۡتُكَ: هَلۡ يَرۡتَدُّ أَحَدٌ مِنۡهُمۡ عَنۡ دِينِهِ بَعۡدَ أَنۡ يَدۡخُلَ فِيهِ سَخۡطَةً لَهُ، فَزَعَمۡتَ أَنۡ لَا، وَكَذٰلِكَ الۡإِيمَانُ إِذَا خَالَطَ بَشَاشَةَ الۡقُلُوبِ،
Kemudian Hiraql berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepadanya: Sesungguhnya aku bertanya kepadamu tentang nasabnya di tengah-tengah kalian, lalu engkau menyatakan bahwa dia memilik nasab yang terpandang di tengah-tengah kalian. Demikianlah para rasul diutus dengan nasab yang terpandang pada kaumnya. Aku tadi bertanya kepadamu apakah ada di antara bapak-bapaknya yang merupakan seorang raja. Lalu engkau menyatakan tidak ada, maka aku katakan: Kalau ada di antara bapak-bapaknya yang merupakan seorang raja, tentu aku katakan dia adalah seseorang yang menuntut kerajaan ayahnya. Aku tadi bertanya kepadamu tentang para pengikutnya: Apakah orang-orang lemah atau orang-orang yang mulia. Lalu engkau katakan: Orang-orang lemah. Mereka memang pengikut para rasul. Aku tadi bertanya kepadamu: Apakah kalian pernah menuduhnya dengan sifat dusta sebelum dia mengatakan ucapannya. Lalu engkau menyatakan tidak. Aku mengetahui bahwa dia meninggalkan kedustaan kepada manusia (sebelum diutusnya), maka dia tidak akan melakukan kedustaan atas nama Allah. Aku tadi bertanya kepadamu: Apakah ada seseorang di antara mereka yang murtad dari agamanya karena membencinya setelah dia menganutnya. Lalu engkau menyatakan tidak ada. Demikianlah iman itu ketika cahayanya merasuk ke hati.
وَسَأَلۡتُكَ هَلۡ يَزِيدُونَ أَمۡ يَنۡقُصُونَ، فَزَعَمۡتَ أَنَّهُمۡ يُزِيدُونَ وَكَذٰلِكَ الۡإِيمَانُ حَتَّى يَتِمَّ، وَسَأَلۡتُكَ هَلۡ قَاتَلۡتُمُوهُ، فَزَعَمۡتَ أَنَّكُمۡ قَاتَلۡتُمُوهُ، فَتَكُونُ الۡحَرۡبُ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُ سِجَالًا، يَنَالُ مِنۡكُمۡ وَتَنَالُونَ مِنۡهُ، وَكَذٰلِكَ الرُّسُلُ تُبۡتَلَى، ثُمَّ تَكُونُ لَهُمُ الۡعَاقِبَةُ، وَسَأَلۡتُكَ هَلۡ يَغۡدِرُ فَزَعَمۡتَ أَنَّهُ لَا يَغۡدِرُ، وَكَذٰلِكَ الرُّسُلُ لَا تَغۡدِرُ، وَسَأَلۡتُكَ هَلۡ قَالَ أَحَدٌ هَٰذَا الۡقَوۡلَ قَبۡلَهُ، فَزَعَمۡتَ أَنۡ لَا، فَقُلۡتُ: لَوۡ كَانَ قَالَ هَٰذَا الۡقَوۡلَ أَحَدٌ قَبۡلَهُ، قُلۡتُ رَجُلٌ ائۡتَمَّ بِقَوۡلٍ قِيلَ قَبۡلَهُ، قَالَ: ثُمَّ قَالَ: بِمَ يَأۡمُرُكُمۡ؟ قَالَ: قُلۡتُ: يَأۡمُرُنَا بِالصَّلَاةِ، وَالزَّكَاةِ، وَالصِّلَةِ، وَالۡعَفَافِ، قَالَ: إِنۡ يَكُ مَا تَقُولُ فِيهِ حَقًّا فَإِنَّهُ نَبِيٌّ، وَقَدۡ كُنۡتُ أَعۡلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ، وَلَمۡ أَكُ أَظُنُّهُ مِنۡكُمۡ، وَلَوۡ أَنِّي أَعۡلَمُ أَنِّي أَخۡلُصُ إِلَيۡهِ لَأَحۡبَبۡتُ لِقَاءَهُ، وَلَوۡ كُنۡتُ عِنۡدَهُ لَغَسَلۡتُ عَنۡ قَدَمَيۡهِ، وَلَيَبۡلُغَنَّ مُلۡكُهُ مَا تَحۡتَ قَدَمَيَّ،
Aku tadi bertanya kepadamu apakah mereka semakin bertambah atau berkurang. Lalu engkau menyatakan bahwa mereka bertambah. Demikianlah iman itu hingga sempurna. Aku tadi bertanya kepadamu apakah kalian memeranginya. Lalu engkau menyatakan bahwa kalian telah memeranginya, sehingga perang antara kalian dengannya silih berganti. Kadang dia menang terhadap kalian, terkadang kalian menang darinya. Demikianlah para rasul itu diuji, kemudian hasil akhirnya menjadi milik mereka. Aku tadi bertanya kepadamu apakah dia biasa mungkir. Lalu engkau menyatakan bahwa dia tidak pernah mungkir. Demikianlah para rasul tidak mungkir. Aku tadi bertanya kepadamu apakah ada orang yang sudah mengatakan ucapan ini sebelum dia. Lalu engkau menyatakan tidak ada. Aku katakan: Kalau ada orang yang telah mengatakan ucapan ini sebelum dia, tentu aku katakan: Dia adalah orang yang mengikuti ucapan yang dikatakan sebelum dia. Abu Sufyan berkata: Kemudian Hiraql bertanya: Apa yang dia perintahkan kepada kalian? Abu Sufyan berkata: Aku menjawab: Dia memerintahkan kami untuk salat, zakat, silaturahmi, dan ifah. Hiraql berkata: Jika yang engkau katakan itu benar adanya, maka sungguh dia adalah seorang nabi. Aku sudah tahu bahwa dia akan keluar namun aku tidak mengira dia dari kalangan kalian. Andai aku mengetahui bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku suka untuk berjumpa dengannya. Andai aku di sisinya, tentu aku akan basuh kedua kakinya. Dan kekuasaannya benar-benar akan sampai di bawah kedua kakiku.
قَالَ: ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَرَأَهُ، فَإِذَا فِيهِ: (بِسۡمِ اللهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ، مِنۡ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ إِلَى هِرَقۡلَ عَظِيمِ الرُّومِ، سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الۡهُدَى، أَمَّا بَعۡدُ: فَإِنِّي أَدۡعُوكَ بِدِعَايَةِ الۡإِسۡلَامِ، أَسۡلِمۡ تَسۡلَمۡ، وَأَسۡلِمۡ يُؤۡتِكَ اللهُ أَجۡرَكَ مَرَّتَيۡنِ، فَإِنۡ تَوَلَّيۡتَ فَإِنَّ عَلَيۡكَ إِثۡمَ الۡأَرِيسِيِّينَ: وَ﴿يَا أَهۡلَ الۡكِتَابِ تَعَالَوۡا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَنۡ لَا نَعۡبُدَ إِلَّا اللهَ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿اشۡهَدُوا بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ﴾) [٦٤]. فَلَمَّا فَرَغَ مِنۡ قِرَاءَةِ الۡكِتَابِ، ارۡتَفَعَتِ الۡأَصۡوَاتُ عِنۡدَهُ وَكَثُرَ اللَّغَطُ، وَأُمِرَ بِنَا فَأُخۡرِجۡنَا، قَالَ: فَقُلۡتُ لِأَصۡحَابِي حِينَ خَرَجۡنَا: لَقَدۡ أَمِرَ أَمۡرُ ابۡنِ أَبِي كَبۡشَةَ، إِنَّهُ لَيَخَافُهُ مَلِكُ بَنِي الۡأَصۡفَرِ، فَمَا زِلۡتُ مُوقِنًا بِأَمۡرِ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ سَيَظۡهَرُ حَتَّى أَدۡخَلَ اللهُ عَلَيَّ الۡإِسۡلَامَ.
Abu Sufyan berkata: Kemudian dia meminta didatangkan tulisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu membacanya. Ternyata isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Hiraql pembesar Romawi. Keselamatan kepada siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amabakdu: Sesungguhnya aku mengajakmu dengan dakwah Islam. Berislamlah niscaya engkau selamat. Masuk islamlah, Allah akan memberimu pahala dua kali. Namun jika engkau berpaling, maka dosa para rakyatmu menjadi tanggunganmu. Dan “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang sama antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah,” sampai firman-Nya, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali ‘Imran: 64). Ketika dia selesai membaca tulisan itu, suara-suara meninggi dan banyak keributan di sekitar dia. Kami diperintahkan agar keluar. Abu Sufyan berkata: Aku berkata kepada para sahabatku ketika kami telah keluar: Perkara Ibnu Abu Kabsyah (Nabi Muhammad) telah menjadi besar, sesungguhnya dia ditakuti oleh raja Bani Al-Ashfar (Romawi). Setelah itu, aku senantiasa yakin dengan urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia akan menang sampai Allah memasukkan aku ke dalam Islam.
قَالَ الزُّهۡرِيُّ: فَدَعَا هِرَقۡلُ عُظَمَاءَ الرُّومِ، فَجَمَعَهُمۡ فِي دَارٍ لَهُ، فَقَالَ: يَا مَعۡشَرَ الرُّومِ، هَلۡ لَكُمۡ فِي الۡفَلَاحِ وَالرَّشَدِ آخِرَ الۡأَبَدِ، وَأَنۡ يَثۡبُتَ لَكُمۡ مُلۡكُكُمۡ؟ قَالَ: فَحَاصُوا حَيۡصَةَ حُمُرِ الۡوَحۡشِ إِلَى الۡأَبۡوَابِ، فَوَجَدُوهَا قَدۡ غُلِّقَتۡ، فَقَالَ: عَلَيَّ بِهِمۡ، فَدَعَا بِهِمۡ فَقَالَ: إِنِّي إِنَّمَا اخۡتَبَرۡتُ شِدَّتَكُمۡ عَلَى دِينِكُمۡ، فَقَدۡ رَأَيۡتُ مِنۡكُمُ الَّذِي أَحۡبَبۡتُ، فَسَجَدُوا لَهُ، وَرَضُوا عَنۡهُ. [طرفه في: ٧].
Az-Zuhri berkata: Hiraql mengundang para pembesar Romawi. Dia mengumpulkan mereka di dalam rumahnya. Lalu dia berkata: Wahai sekalian orang-orang Romawi, apakah kalian ingin tetap berada dalam keberuntungan dan bimbingan di akhir zaman ini dan kalian ingin kekuasaan kalian tetap langgeng? Dia berkata: Mereka kabur berlarian seperti larinya zebra menuju pintu-pintu, namun mereka mendapati pintu-pintu telah terkunci. Hiraql berkata: Bawa mereka kepadaku. Dia memanggil mereka. Lantas Hiraql berkata: Aku hanyalah menguji keteguhan kalian dalam beragama, maka aku telah melihat hal yang aku cintai dari diri kalian. Maka para pembesar Romawi itu sujud kepada Hiraql dan mereka meridainya.

Malaikat Jibril ‘alaihis salam

Keberadaan para malaikat sebagai makhluk yang mulia menjadi satu prinsip yang harus diyakini. Merekalah penduduk langit dengan jumlah yang sangat banyak dan hanya Allah yang mengetahuinya. Bayangkan saja di Baitul Ma’mur setiap harinya ada tujuh puluh ribu malaikat yang datang untuk shalat lantas tidak kembali lagi! Subhanallah, Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya yang menakjubkan dan luar biasa.

Pembaca yang budiman, tahukah anda siapa penghulu dan pemimpin seluruh malaikat yang ada tersebut. Dialah Jibril ‘alaihis salam, malaikat yang paling mulia secara mutlak dengan berbagai keistimewaan yang dimiliki. Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada Jibril sekian kelebihan yang tidak dimiliki oleh malaikat selainnya. Cukuplah keistimewaan Jibril terindikasikan dalam berbagai ayat dan hadis yang mengisahkan tentang sifat-sifatnya.

Keistimewaan Jibril ‘alaihis salam


Malaikat Jibril juga disebutkan dalam lafazh yang lain bernama Jabrail. Sebagian pakar tafsir seperti Ikrimah dan selainnya berpandangan bahwa Jibril berasal dari bahasa Ibrani yang artinya hamba Allah. Kata Jibril tersusun dari dua kata yaitu Jibr yang artinya hamba dan iil yang artinya Allah.

Sebagaimana keumuman malaikat yang lain, Jibril ‘alaihis salam diciptakan dari cahaya. Jibril mempunyai fisik yang sangat besar dan mengagumkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali. Jibril mempunyai enam ratus sayap yang menutupi ufuk langit. Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya yang sempurna. Sifat fisik Jibril telah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan dalam hadis-hadisnya yang shahih. Sementara dalam ayat-Nya, Allah menggambarkan bagaimana keadaan para malaikat secara umum mempunyai dua, tiga, atau empat sayap. Namun, subhanallah Jibril dengan enam ratus sayapnya menutup ufuk-ufuk penjuru langit.

Nabi pun sempat tidak sadarkan diri setelah melihat Jibril ‘alaihis salam dengan wujud aslinya pada kali pertamanya. Fisik yang sangat besar ini juga didukung dengan kekuatan yang begitu dahsyat. Ya, Jibril adalah malaikat dengan kekuatan yang sangat menakjubkan. Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan ini dalam firman-Nya yang maknanya, “Yang mempunyai kekuatan.” [Q.S. At Takwir: 20]. Bayangkan dengan satu sayapnya saja Jibril mampu menjungkirbalikkan negeri kaum Luth. Malaikat yang perkasa ini melambungkan daratan yang begitu luas dengan segala isinya ke atas langit lantas menghempaskan permukaan bumi!

Sebagai malaikat penyampai wahyu, Jibril ‘alaihis salam pun diberi kekuatan dan kekokohan besar yang tidak dimiliki malaikat selainnya. Dengan kekuatan dahsyat ini Jibril mampu mendengarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dan menyampaikannya kepada para Rasul. Sementara keumuman para malaikat merasa sangat takut dan bahkan pingsan tatkala mendengar firman Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkisah bahwa jika Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan suatu urusan di langit, maka para malaikat pun mengepakkan sayapnya sebagai bentuk ketundukan terhadap firman-Nya. Efeknya bagaikan gemerincing rantai yang dipukulkan pada batu yang besar. Maka ketika telah hilang rasa takut dalam kalbu para malaikat, mereka pun bertanya, “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Malaikat yang lain menjawab, “Al Haq dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Demikian kondisi penduduk langit ketika mendengar firman Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasa takut pun melanda para malaikat dan bahkan pingsan karena mendengar firman-Nya. Namun tidak demikian halnya dengan Jibril ‘alaihis salam, Ia diberi keteguhan dan kemampuan untuk mendengar firman Allah lalu menyampaikannya kepada para rasul. Jibril adalah malaikat pembawa wahyu sekaligus pengajar para rasul. Ya, Jibril adalah pengajar manusia-manusia paling berilmu di atas muka bumi ini. Allah tegaskan hal ini dalam ayat-Nya,
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الۡقُوَى
Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” [Q.S. An Najm: 5].

Bahkan tapak kaki kudanya Jibril mampu memberikan efek yang sangat luar biasa. Ingatkah Anda bagaimana upaya Samiri untuk menyesatkan kaumnya Nabi Musa ‘alaihis salam? Samiri mengambil jejak kaki kuda Jibril setelah tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya. Maka Samiri mengambil segenggam tanah bekas jejak kaki kuda itu dan menyimpannya di sebuah kantong. Ketika Bani Israil melempar emas dan perhiasan ke dalam kobaran api hingga terbakar sampai meleleh, maka Samiri pun melempar segenggam tanah tadi ke kobaran api yang melahap perhiasan Bani Israil seraya mengatakan, “Jadilah anak sapi!” Dan hasilnya sungguh ajaib, dengan seizin Allah, perhiasan yang telah meleleh tersebut berubah menjadi patung emas seekor anak sapi yang mengeluarkan suara. Apabila segenggam tanah dari jejak kaki kudanya Jibril saja mempunyai efek yang sangat luar biasa, lalu bagaimana kiranya dengan kekuatan Jibril itu sendiri.

Betapa seringnya Jibril ‘alaihis salam disebutkan secara spesifik dalam Al Quran setelah penyebutan malaikat secara umum. Subhanallah, sedemikian besarnya kemuliaan Jibril di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat-Nya,
تَنَزَّلُ الۡمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ مِنۡ كُلِّ أَمۡرٍ
Pada malam itu turun para malaikat dan Ar Ruh (Jibril) dengan seizin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan.” [Q.S. Al Qadr: 4].

Dengan sekian keistimewaan di atas, tidak mengherankan jika Jibril sangat ditaati di kalangan para malaikat. Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan hal ini dalam firman-Nya,
إِنَّهُ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ. ذِي قُوَّةٍ عِنۡدَ ذِي الۡعَرۡشِ مَكِينٍ. مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ
Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril). Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy. Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” [Q.S. At Takwir: 19-21]

Di antara bukti ketaatan para malaikat terhadap Jibril ‘alaihis salam adalah peristiwa terbelahnya dada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Turunlah Jibril dan membelah dada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sesuatu darinya kemudian mencuci dengan air zam-zam. Kemudian Jibril datang dengan membawa bejana emas berisikan hikmah dan iman lalu dituangkan ke dada beliau. Lantas Jibril membawa beliau naik ke atas langit dunia dan mengatakan kepada penjaga langit dunia, “Bukalah (pintu langit dunia).” Malaikat penjaga langit dunia berkata, “Siapa ini?” Jibril pun menjawab, “Aku Jibril.” Kemudian pintu pun dibukakan.

Lihatlah bagaimana ketaatan malaikat tersebut kepada perintah Jibril untuk membukakan pintu langit dunia. Demikian pula ketika Jibril menyeru para malaikat untuk mencintai seorang hamba ketika Allah telah mencintainya, niscaya para malaikat penduduk langit akan tunduk kepada perintahnya. Demikian Jibril ‘alaihis salam, penghulu dan pemimpin para malaikat yang mulia.

Malaikat Tepercaya


Predikat malaikat yang tepercaya melekat pada diri Jibril ‘alaihis salam. Ya, Jibril adalah malaikat pembawa wahyu untuk hamba-hamba terpilih dari kalangan nabi dan rasul. Malaikat yang termulia adalah malaikat yang paling berhak untuk mengemban amanah tersebut. Jibril pun melaksanakan perintah Rabbnya dengan sempurna. Tiada pernah Jibril mengubah, menambah, mengurangi, atau menyembunyikan wahyu-wahyu Allah untuk para rasul-Nya.

Maka sungguh celaka orang-orang Yahudi yang menancapkan bendera permusuhan terhadap Jibril. Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan beberapa versi riwayat yang menjelaskan sebab kebencian orang-orang Yahudi terhadap Jibril. Di antaranya, tuduhan orang-orang Yahudi bahwa Jibril turun dengan membawa peperangan, pembunuhan, dan siksaan. Mereka pun mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seandainya yang menyertai beliau adalah Mikail niscaya mereka akan menerimanya. Karena Mikail turun dengan membawa rahmat, menumbuhkan tanaman, dan menurunkan hujan, demikian alasan mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat yang artinya, “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril telah menurunkan al-Qur’an ke dalam hatimu.” [Q.S. Al Baqarah: 97]. Apapun alasan yang melatarbelakangi kebencian tersebut, mereka adalah para pendengki yang begitu besar permusuhannya terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta shahabatnya. Dan memusuhi Jibril sama saja dengan memusuhi Allah subhanahu wa ta’ala. Karena Jibril adalah malaikat yang diutus dan diperintah oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sungguh celaka kaum Yahudi yang memproklamirkan diri sebagai musuhnya Jibril ‘alaihis salam. Allahu a’lam. (Ustadz Abu Hafiy)


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 74 vol. 07 1439H-2018M rubrik Akidah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7196

٧١٩٦ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ أَبَا سُفۡيَانَ بۡنَ حَرۡبٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ هِرَقۡلَ أَرۡسَلَ إِلَيۡهِ فِي رَكۡبٍ مِنۡ قُرَيۡشٍ، ثُمَّ قَالَ لِتَرۡجُمَانِهِ: قُلۡ لَهُمۡ إِنِّي سَائِلٌ هَٰذَا، فَإِنۡ كَذَبَنِي فَكَذِّبُوهُ، فَذَكَرَ الۡحَدِيثَ، فَقَالَ لِلتُّرۡجُمَانِ: قُلۡ لَهُ: إِنۡ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا، فَسَيَمۡلِكُ مَوۡضِعَ قَدَمَيَّ هَاتَيۡنِ. [طرفه في: ٧].
7196. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah mengabarkan kepadaku: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Abbas mengabarkan kepadanya: Bahwa Abu Sufyan bin Harb mengabarkan kepada beliau: Bahwa Hiraql (Heraklius) mengutus utusan kepadanya ketika beliau berada dalam sebuah rombongan dari Quraisy. Kemudian Hiraql berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepada mereka: Sesungguhnya aku akan bertanya kepada orang ini, jika dia berdusta kepadaku, maka kalian katakan dia dusta. Lalu beliau menyebutkan hadis. Lalu Hiraql berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepadanya: Jika yang engkau katakan benar sesuai kenyataan, maka dia akan menguasai tempat kedua kakiku ini.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3174

١٣ - بَابُ فَضۡلِ الۡوَفَاءِ بِالۡعَهۡدِ
13. Bab keutamaan menepati janji

٣١٧٤ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ يُونُسَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ أَبَا سُفۡيَانَ بۡنَ حَرۡبِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ هِرَقۡلَ أَرۡسَلَ إِلَيۡهِ فِي رَكۡبٍ مِنۡ قُرَيۡشٍ، كَانُوا تِجَارًا بِالشَّأۡمِ، فِي الۡمُدَّةِ الَّتِي مَادَّ فِيهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ أَبَا سُفۡيَانَ فِي كُفَّارِ قُرَيۡشٍ. [طرفه في: ٧].
3174. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Abbas mengabarkan kepadanya: Bahwa Abu Sufyan bin Harb mengabarkan kepada beliau bahwa Hiraql (Heraklius) mengutus utusan kepadanya ketika beliau sedang berada di suatu rombongan Quraisy. Mereka sedang melakukan perdagangan di Syam pada masa gencatan senjata yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abu Sufyan (yang waktu itu) masih di pihak orang-orang kafir Quraisy.

Dihyah Al Kalbi radhiyallahu ‘anhu

Jibril Mendatangi Nabi dengan Rupa Beliau


Kali ini, figur kita adalah shahabat dari kalangan Anshar. Seorang shahabat senior yang sangat dikenal saat itu. Nama shahabat ini adalah Dihyah bin Khalifah bin Farwah bin Fadhalah bin Zaid bin Imriil Qais bin Al Khazraj bin Amir bin Bakr bin Amir Al Akbar bin Auf bin Bakr bin Auf bin Udzrah bin Zaid Al Laat Al Kalbi radhiyallahu ‘anhu. Termasuk dari shahabat yang masuk Islam sebelum Perang Badar. Namun begitu, beliau tidak sempat mengikuti perang Badar. Beliau mengikuti Perang Uhud dan peperangan-peperangan setelahnya. Istri beliau adalah Durrah bintu Abi Lahab, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dihyah Al Kalbi memiliki banyak kelebihan. Di antara kelebihan beliau adalah kemampuan mengenal secara mendalam peta geografi Negeri Syam dan Jazirah, sehingga beliau banyak memberikan masukan tentang Negeri Syam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, beliau juga termasuk seorang ahli perang, terbukti dengan ditunjuknya beliau menjadi salah satu komandan perang dalam perang Yarmuk.

Beliau juga termasuk shahabat nabi yang memiliki kedekatan hubungan dengan beliau, sehingga beliau termasuk orang-orang yang diperbolehkan menemui Nabi tanpa meminta izin terlebih dahulu, dan beliau termasuk shahabat Rasul yang sering duduk bersama nabi dalam waktu yang lama. Sehingga putri As Shiddiq, Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha merasa heran dengan keistimewaan ini. Beliau juga pernah menghadiahi Nabi sepasang Khuf dan beliaupun menerima hadiah tersebut.

Dari segi fisik, Dihyah bin Khalifah Al Kalbi adalah seorang yang memiliki paras yang sangat rupawan, beliau disebut sebagai dalam kitab tarikh sebagai seorang yang mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sering kali malaikat Jibril menampakkan diri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rupa Dihyah. Diriwayatkan dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
كَانَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ يَأۡتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ فِي صُورَةِ دِحۡيَةَ
Dahulu Jibril mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rupa Dihyah.” [H.R. Ahmad dengan redaksi ini, sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

Selain kebaikan fisik beliau, Dihyah adalah salah satu ipar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menikahi salah seorang saudari beliau yang bernama Syaraaf bintu Khalifah bin Farwah. Bahkan sebelum menikahi saudarinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahi keponakan beliau yang bernama Khaulah binti Al Hudzail bin Qabishah bin Hubairah bin Al Haris bin Hubaib At Taghlabiyah. Ia adalah putri dari saudari Dihyah yang bernama Kharnaq bintu Khalifah Al Kalbiyah. Nabi menikahi Khaulah binti al Hudzail, namun wanita tersebut meninggal di perjalanan dari negeri Syam sebelum beliau sampai kepada Nabi. Dalam pernikahan dengan Syaraaf bintu Khalifah pun, sang wanita juga ditakdirkan meninggal dalam perjalanan menuju kepada Nabi.

Utusan dari Utusan Allah


Dihyah adalah salah seorang shahabat yang diutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Heraklius, Raja Romawi saat itu. Beliau diutus untuk mendakwahkan Islam di tahun ke enam hijriyyah, tepatnya setelah terjadi perjanjian Hudaibiyyah. Beliau ditemani oleh salah seorang shahabat, Hayyan bin Milh radhiyallahu ‘anhu. Saat itu, sebenarnya Heraklius telah membenarkan kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ia enggan untuk masuk ke dalam Islam karena merasa takut dari gangguan pengikutnya dan takut hilangnya kekuasaan yang ada di tangannya. Heraklius pernah berkata kepada Dihyah bin Khalifah tatkala beliau membawa surat dari Rasulullah kepadanya, “Celaka, sungguh aku mengetahui bahwa temanmu itu (yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah nabi yang diutus, dan dialah yang kami tunggu-tunggu dan kami mendapatkan (beritanya) dalam kitab-kitab kami. Akan tetapi aku mengkhawatirkan diriku dari orang-orang Romawi. Seandainya bukan karena itu, sungguh aku akan mengikutinya. Pergilah engkau kepada Dhagathir Al Ashqaf Ar Rumi, ceritakanlah kepadanya tentang perkara temanmu ini!, Ia (kedudukannya) lebih agung dariku dan perkataannya lebih diterima di sisi orang-orang Romawi. Lihatlah apa yang akan dikatakannya.”

Maka Dihyah pun datang kepadanya dan mengabarkan dengan apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengannya. Setelah Dhagathir membaca isi surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, ia pun berkata; “Temanmu ini demi Allah adalah nabi yang diutus, kami telah mengenalnya dengan sifat-sifatnya, dan kami dapatkan namanya dalam kitab-kitab kami.”

Maka ia pun melepaskan pakaian hitam yang dikenakannya dan menggantinya dengan pakaian yang berwarna putih. Kemudian ia mengambil tongkatnya dan keluar menemui orang-orang Romawi, sedang mereka saat itu sedang berada dalam tempat ibadah mereka. Ia pun berkata, “Wahai bangsa Romawi, telah datang kepada kita surat dari Ahmad, surat ini berisi ajakannya kepada Allah. Sungguh aku bersaksi laa ilaha illallah dan aku bersaksi bahwa Ahmad adalah utusan Allah.”

Maka orang-orang pun serentak menyerbunya. Mereka memukulinya dan membunuhnya. Setelah itu, Dihyah pun kembali menemui Heraklius dan mengabarkan kabar tersebut. Maka Heraklius berkata, “Sungguh aku telah mengatakan kepadamu, bahwa kami merasa takut atas diri-diri kami sedangkan Dhagathir demi Allah merupakan orang yang lebih agung di sisi orang Romawi.”

Saat terjadi pertempuran antara kaum muslimin dan bangsa Yahudi, lalu kaum muslimin memenangkan perang tersebut, banyak dari pasukan Yahudi terbunuh dan tersisalah ghanimah yang banyak berikut tawanan-tawanan perang yang menjadi hamba sahaya dari kalangan anak-anak dan wanita mereka yang dibagikan kepada muslimin. Di antara tawanan tersebut ada putri dari pemimpinnya, yaitu Shafiyah bintu Huyay. Semula Shafiyah jatuh dalam bagian kepemilikan Dihyah Al Kalbi. Namun melihat kepada kedudukan Shafiyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membeli Shafiyah, beliau membebaskan dan kemudian menikahinya. Hal ini terjadi di tahun ke tujuh hijriyyah.

Dihyah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan beberapa hadis Nabi. Di antara yang mengambil riwayat dari beliau adalah Manshur bin Said Al Kalbi, Muhammad bin Kaab, Abdullah bin Syadad bin Had, Aamir As Sya’bi, Khalid bin Yazid bin Muawiyyah. Hidup hingga masa kepemimpinan Muawiyah. Beliau tinggal di Mizzah, sebuah daerah di dekat negeri Damaskus dan meninggal di sana. Tidak diketahui secara pasti waktu meninggalnya. Radhiyallah anhu – semoga Allah meridhai beliau. [Ustadz Hammam]


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 74 vol. 7 1439 H/2018 M rubrik Figur.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7541

٥١ - بَابُ مَا يَجُوزُ مِنۡ تَفۡسِيرِ التَّوۡرَاةِ وَغَيۡرِهَا مِنۡ كُتُبِ اللهِ، بِالۡعَرَبِيَّةِ وَغَيۡرِهَا
51. Bab hal-hal yang dibolehkan dari menafsirkan Taurat dan kitab-kitab Allah yang lain ke bahasa Arab dan bahasa lainnya

لِقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿فَأۡتُوا بِالتَّوۡرَاةِ فَاتۡلُوهَا إِنۡ كُنۡتُمۡ صَادِقِينَ﴾ [آل عمران: ٩٣].
Berdasarkan firman Allah taala (yang artinya), “Katakanlah: Bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kalian orang-orang yang benar.” (QS. Ali ‘Imran: 93).
٧٥٤١ - وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سُفۡيَانَ بۡنُ حَرۡبٍ: أَنَّ هِرَقۡلَ دَعَا تَرۡجُمَانَهُ، ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ النَّبِيِّ ﷺ فَقَرَأَهُ: بِسۡمِ اللهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ، مِنۡ مُحَمَّدٍ عَبۡدِ اللهِ وَرَسُولِهِ، إِلَى هِرَقۡلَ وَ: ﴿يَا أَهۡلَ الۡكِتَابِ تَعَالَوۡا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ﴾ [آل عمران: ٦٤] الۡآيَةَ. [طرفه في: ٧].
7541. Ibnu ‘Abbas berkata: Abu Sufyan bin Harb mengabarkan kepadaku: Bahwa Hiraql (Heraklius) memanggil penerjemahnya kemudian dia meminta tulisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan, lalu dia membacanya: Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Hiraql. Dan “Wahai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 64).

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6260

٢٤ - بَابٌ كَيۡفَ يُكۡتَبُ الۡكِتَابُ إِلَى أَهۡلِ الۡكِتَابِ
24. Bab bagaimana tulisan kepada ahli kitab ditulis

٦٢٦٠ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الۡحَسَنِ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ: أَنَّ ابۡنَ عَبَّاسٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ أَبَا سُفۡيَانَ بۡنَ حَرۡبٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ هِرَقۡلَ أَرۡسَلَ إِلَيۡهِ فِي نَفَرٍ مِنۡ قُرَيۡشٍ، وَكَانُوا تِجَارًا بِالشَّأۡمِ، فَأَتَوۡهُ، فَذَكَرَ الۡحَدِيثَ، قَالَ: ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقُرِىءَ، فَإِذَا فِيهِ: (بِسۡمِ اللهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ، مِنۡ مُحَمَّدٍ عَبۡدِ اللهِ وَرَسُولِهِ، إِلَى هِرَقۡلَ عَظِيمِ الرُّومِ، السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الۡهُدَى، أَمَّا بَعۡدُ). [طرفه في: ٧].
6260. Muhammad bin Muqatil Abu Al-Hasan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu ‘Abbas mengabarkan kepadanya: Bahwa Abu Sufyan mengabarkan kepadanya: Bahwa Hiraql (Heraklius) mengutus utusan kepadanya ketika beliau berada di serombongan orang Quraisy. Mereka sedang berdagang di Syam. Mereka mendatangi Hiraql—lalu beliau menyebutkan hadis—beliau berkata: Kemudian Hiraql minta didatangkan tulisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dibaca. Ternyata isinya, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Hiraql pembesar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amabakdu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5980

٥٩٨٠ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ أَبَا سُفۡيَانَ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ هِرَقۡلَ أَرۡسَلَ إِلَيۡهِ، فَقَالَ: فَمَا يَأۡمُرُكُمۡ؟ - يَعۡنِي النَّبِيَّ ﷺ - فَقَالَ: يَأۡمُرُنَا بِالصَّلَاةِ، وَالصَّدَقَةِ، وَالۡعَفَافِ، وَالصِّلَةِ. [طرفه في: ٧].
5980. Yahya telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bahwa ‘Abdullah bin ‘Abbas mengabarkan kepadanya: Bahwa Abu Sufyan mengabarkan kepadanya: Bahwa Hiraql (Heraklius) mengutus utusan kepadanya, lalu dia bertanya: Lalu apa yang orang itu perintahkan kepada kalian—yang dia maksud adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—Abu Sufyan menjawab: Dia memerintahkan kami untuk salat, sedekah, ifah, dan silaturahmi.

Sang Imam Tuna Netra

“Aku tidak menyangka Allah azza wajalla menciptakan manusia dengan kekuatan hafalan sepertimu,” tukas Sa’id bin Musayyib rahimahullah. Sampai sedemikian halnya kekaguman seorang penghulu ulama tabi’in, Sa’id bin Musayyib terhadap hafalan muridnya ini. Siapakah dia hingga begitu kagum dengan kapasitas hafalannya?

Pembaca Qudwah yang budiman, sejarah telah merekam keberadaan ulama-ulama besar dengan kekuatan hafalan yang sangat luar biasa dan menakjubkan. Fakta di lapangan membuktikan bahwa kuatnya hafalan mereka bagaikan gunung-gunung yang kokoh menjulang tinggi. Di antara simbol kekuatan hafalan sekaligus guru besar di bidang ilmu tafsir adalah Qatadah bin Di’amah As Sadusi rahimahullah.

Beliau adalah Qatadah bin Di’amah bin Qatadah bin Aziz, namun dalam pendapat lain namanya adalah Qatadah bin Di’amah bin ‘Ukabah As Sadusi Al Bashri rahimahullah. Adapun As Sadus berasal dari Bani Syaiban bin Dzuhl bin Tsa’lab bin Bakr bin Wail yang merupakan suku Arab bagian utara. Adz Dzahabi rahimahullah menyebut beliau sebagai Hafizhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadis). Ulama tabiin dengan banyak kelebihan ini dilahirkan pada tahun 60 H dan terlahir dalam keadaan kedua matanya buta.

Ya, Qatadah adalah seorang tuna netra sejak terlahir dari rahim sang ibu. Namun sungguh pun demikian keadaan tersebut bukanlah penghambat perjuangannya menuntut ilmu hingga akhirnya menjadi ulama tafsir terkemuka. Dan sungguh ajaib kekuatan memorinya. Bisa kita bayangkan, ulama sekelas Sa’id bin Musayyib rahimahullah saja begitu kagum setelah mengetahui kekuatan hafalannya.

Ulama ini pernah menimba ilmu dari sekian shahabat seperti Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Sarjis radhiyallahu ‘anhu, Handzalah Al Katib radhiyallahu ‘anhu, Abu Thufail Al Kinani radhiyallahu ‘anhu, Anas bin An Nadhr radhiyallahu ‘anhu, dan selainnya. Di samping itu, Qatadah pun pernah meriwayatkan dari ulama-ulama besar tabiin yang sezaman dengannya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam Al Bidayah Wan Nihayah bahwa Qatadah meriwayatkan dari Anas bin Malik dan sekelompok ulama tabiin seperti Said bin Al Musayyib, Abul Aliyah, Zurarah bin Aufa, Atha, Muhammad bin Sirin, Masruq, Al Hasan Al Bashri dan yang lainnya. Untuk nama yang terakhir bahkan Qotadah pernah berguru kepadanya selama dua belas tahun lamanya.

Adapun ulama-ulama tenar yang pernah meriwayatkan darinya cukup banyak seperti Ayyub As Sikhtiyani, Ibnu Abi Arubah, Ma’mar bin Rasyid, Al Auzai, Mis’ar bin Kidam, Syu’bah bin Al Hajjaj, Abu Awanah Al Waddah, Hammad bin Salamah dan masih banyak yang lainnya.

KEKUATAN HAFALANNYA


Sebagaimana gelar mufassir yang disematkan kepada beliau, Qatadah memang memiliki perhatian begitu besar terhadap Al Quran. Dikisahkan bahwa beliau terbiasa secara rutin mengkhatamkan Al Quran beberapa hari sekali dan jika telah masuk sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan beliau pun menghatamkan Al Quran dengan frekuensi lebih banyak.

Abu Awanah berkisah, “Aku pernah menyaksikan Qatadah mempelajari Al Qur’an pada bulan Ramadhan. Qatadah biasanya menghatamkan Al Qur’an selama tujuh hari dan jika datang bulan Ramadhan beliau menghatamkannya selama tiga hari. Adapun jika telah tiba sepuluh malam terakhir, beliau pun menghatamkan Al Qur’an setiap malam.”

Meskipun tuna netra, Qatadah dianugerahi hafalan yang kuat dan ingatan yang begitu kokoh. Mathar mengatakan, “Apabila Qatadah mendengar suatu hadis maka ia langsung bisa menghafalnya.” Ghalib bin Al-Qaththan berkata, “Siapa yang ingin melihat manusia dengan hafalan paling kuat yang pernah kita jumpai maka hendaknya ia melihat kepada Qatadah.”

Suatu hari Qatadah datang menemui Said bin Al Musayyib dan memperbanyak periwayatan darinya selama beberapa hari. Said pun bertanya kepadanya, “Seluruh apa yang engkau tanyakan kepadaku bisa menghafalnya?” “Ya,” jawab Qatadah. Luar biasa, Qatadah mampu menghafal semua pertanyaan dan jawaban yang disampaikan Said dengan baik tanpa celah hingga Said merasa kagum seraya berkata, “Aku tidak menyangka Allah telah menciptakan manusia seperti dirimu.” Said juga menyatakan, “Tidak ada orang Irak yang pernah kutemui hafalannya lebih kuat daripada Qatadah.”

Qatadah adalah simbol kekuatan hafalan di masanya karena memang memorinya sangat kokoh dan menakjubkan hafalannya. Tidak mengherankan jika apa saja yang didengar pasti terekam dan terpatri dalam kalbunya. Qatadah sendiri pernah menyatakan, “Aku tidak pernah sama sekali mengatakan kepada orang yang bicara kepadaku, ‘Tolong ulangi lagi ucapan Anda.’ Dan apa saja yang didengar oleh telingaku pasti tersimpan dalam hatiku.”

Imam Ahmad rahimahullah pernah membicarakan tentang Qatadah secara panjang lebar dan memaparkan tentang keilmuan, kefakihan dan pengetahuannya tentang khilaf ulama dan ilmu tafsir. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa Qatadah adalah orang yang kuat hafalannya dan orang ahli fikih. Imam Ahmad berkata, “Teramat jarang Anda jumpai ada seorang yang bisa mengunggulinya. Namun kalau dikatakan ada yang seperti Qatadah, maka bisa saja terjadi. Ia adalah orang yang paling hafal dari kalangan penduduk Basrah. Tidaklah ia mendengar sesuatu melainkan langsung bisa menghafalnya.”

ULAMA ADALAH MANUSIA BIASA


Adz Dzahabi rahimahullah menjelaskan, “Qatadah adalah hujjah menurut kesepakatan para ulama jika beliau menjelaskan dan menegaskan periwayatannya. Karena sebagaimana diketahui beliau termasuk ulama mudallis (orang yang melakukan tadlis) dalam meriwayatkan hadis. Tadlis secara bahasa adalah menyembunyikan aib dalam hadis dan menampakkan adanya kebaikan secara lahir. Ada perbincangan pula di kalangan ulama tentang ketergelinciran beliau dalam masalah takdir. Namun demikian tidak satu ulama pun yang meragukan kejujuran, keadilan, dan kekuatan hafalannya. Semoga Allah memberikan udzur karena demikianlah karakter dasar manusia yang tidak bisa lepas dari kesalahan. Apalagi beliau sendiri telah mengerahkan segenap daya dan upaya dalam melakukan ijtihad.

Seorang ulama yang berijtihad kemudian terjatuh dalam kesalahan, maka ia tetap mendapatkan satu pahala. Kemudian para ulama besar yang banyak menepati kebenaran, diketahui pula upayanya dalam mencari kebenaran, keilmuannya luas, kecerdasannya menonjol, dikenal pula kesalihan, sikap wara’, dan komitmennya terhadap sunnah, maka ulama dengan karakteristik demikian ini akan diampuni ketergelincirannya dan kita tidak boleh memvonis sesat terhadapnya, merendahkannya serta melupakan kebaikan-kebaikannya. Inilah sikap yang benar, kita tidak boleh mengikuti bid’ah dan kesalahannya serta kita berharap semoga ia bertobat darinya.”

Sebagian ulama menambahkan keterangan bahwa Qatadah sempat tergelincir dalam masalah takdir namun pada akhirnya bertobat dan ruju’ (kembali) kepada kebenaran. Beliau pun tidak pernah mengajak manusia kepada pemikiran tersebut dan bahkan tidak pernah membicarakannya di hadapan kaum muslimin.

Qatadah menghiasi kehidupannya dengan penuh kerendahan hati dan selalu berusaha menjaga sikap ilmiyahnya. Meskipun terhitung sebagai ulama besar di masanya namun beliau tidak malu dan gengsi untuk menyatakan tidak tahu ketika ditanya. Namun kredibilitas beliau sebagai ulama besar tetap eksis dan bersinar. Abu Hilal berkisah, “Suatu ketika aku pernah bertanya kepada Qatadah tentang suatu permasalahan.” Ia pun menjawab, “Aku tidak tahu.” Aku katakan kepadanya, “Jawablah dengan pendapatmu.” “Aku tidak pernah menjawab pertanyaan dengan logikaku semenjak empat puluh tahun yang lalu.” Dalam riwayat lain beliau menegaskan, “Aku belum pernah dengan logikaku semenjak tiga puluh tahun yang lalu.”

UNTAIAN-UNTAIAN NASIHATNYA


Beliau adalah figur ulama yang berusaha mengaplikasikan amal saleh dalam kehidupan keseharian. Beliau juga acap kali menyampaikan nasihat. Beliau pernah berpesan, “Waspadalah dan berhati-hatilah dari sikap memberat-beratkan, berlebih-lebih dan ekstrim serta ujub terhadap diri sendiri. Hendaknya kalian bersikap tawadhu pasti Allah akan meninggikan derajat kalian.”

Di lain kesempatan Qatadah mengatakan, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan senantiasa bersamanya. Dan siapa saja yang disertai Allah, maka dia bersama dengan golongan yang tidak terkalahkan, Penjaga yang tidak pernah tidur dan Pemberi hidayah yang tidak pernah tersesat.”

Dalam bab tauhid, Imam Al Bukhari meriwayatkan ucapan Qatadah yang sangat terkenal bahwa beliau menyatakan, “Allah menciptakan bintang-bintang di langit untuk tiga hal, yaitu sebagai perhiasan di atas langit, sebagai pelempar setan dan sebagai tanda penunjuk. Barang siapa menafsirkan fungsi bintang-bintang untuk selain tujuan tersebut di atas, berarti dia telah melakukan kesalahan, menyia-nyiakan nasibnya dan membebani diri dengan sesuatu yang tidak diketahui ilmunya.”

Faedah-faedah ilmiyah pun sering terucap dari lisan beliau sebagaimana apa yang pernah beliau tegaskan, “Satu bab ilmu yang dihafal oleh seseorang dan dia gunakan untuk memperbaiki keadaan dirinya serta manusia lebih utama daripada dia beribadah selama satu tahun.” Beliau pun motivator ulung dalam perjuangan menuntut ilmu agama, perhatikanlah ucapan beliau berikut ini, “Kalau seandainya ada seseorang yang merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki, niscaya Musa akan merasa cukup dengan ilmunya, namun ternyata Musa terus mencari tambahan ilmu.”

AKHIR HIDUPNYA


Imam Qatadah meninggal pada tahun 117 H dalam usia 57 tahun di Wasith karena penyakit tha’un dan dimakamkan di kota tersebut. Kepergian beliau ini membuat kaum muslimin terutama yang tinggal di negerinya begitu sedih karena kehilangan ulama besar di zamannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau serta kita semua. Aamiin Ya Rabbal Alamin.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 55 vol.05 1439 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafy Abdullah.

Shahih Muslim hadits nomor 1478

٢٩ - (١٤٧٨) - وَحَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا رَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ: حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بۡنُ إِسۡحَاقَ: حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيۡرِ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: دَخَلَ أَبُو بَكۡرٍ يَسۡتَأۡذِنُ عَلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَوَجَدَ النَّاسَ جُلُوسًا بِبَابِهِ لَمۡ يُؤۡذَنۡ لِأَحَدٍ مِنۡهُمۡ. قَالَ: فَأُذِنَ لِأَبِي بَكۡرٍ فَدَخَلَ. ثُمَّ أَقۡبَلَ عُمَرُ فَاسۡتَأۡذَنَ فَأُذِنَ لَهُ، فَوَجَدَ النَّبِيَّ ﷺ جَالِسًا، حَوۡلَهُ نِسَاؤُهُ، وَاجِمًا سَاكِتًا. قَالَ: فَقَالَ: لَأَقُولَنَّ شَيۡئًا أُضۡحِكُ النَّبِيَّ ﷺ.
29. (1478). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami: Rauh bin ‘Ubadah menceritakan kepada kami: Zakariyya` bin Ishaq menceritakan kepada kami: Abu Az-Zubair menceritakan kepada kami dari Jabir bin ‘Abdullah. Beliau mengatakan: Abu Bakr masuk meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendapati orang-orang sedang duduk di depan pintu beliau. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang diizinkan. Jabir mengatakan: Abu Bakr diizinkan, lalu beliau masuk. Kemudian ‘Umar datang meminta izin lalu diizinkan. Beliau mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk, sementara para istri beliau ada di sekeliling beliau terdiam sedih. Jabir berkata: Lalu beliau mengatakan: Aku akan mengatakan sesuatu yang dapat membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa.
فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوۡ رَأَيۡتَ بِنۡتَ خَارِجَةَ، سَأَلَتۡنِي النَّفَقَةَ فَقُمۡتُ إِلَيۡهَا فَوَجَأۡتُ عُنُقَهَا، فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَقَالَ: (هُنَّ حَوۡلِي كَمَا تَرَىٰ، يَسۡأَلۡنَنِي النَّفَقَةَ)، فَقَامَ أَبُو بَكۡرٍ إِلَىٰ عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَىٰ حَفۡصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلَاهُمَا يَقُولُ: تَسۡأَلۡنَ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَا لَيۡسَ عِنۡدَهُ. فَقُلۡنَ: وَاللهِ، لَا نَسۡأَلُ رَسُولَ اللهِ ﷺ شَيۡئًا أَبَدًا لَيۡسَ عِنۡدَهُ، ثُمَّ اعۡتَزَلَهُنَّ شَهۡرًا أَوۡ تِسۡعًا وَعِشۡرِينَ. ثُمَّ نَزَلَتۡ عَلَيۡهِ هَٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ﴾، حَتَّىٰ بَلَغَ: ﴿لِلۡمُحۡسِنَـٰتِ مِنكُنَّ أَجۡرًا عَظِيمًا﴾ [الأحزاب: ٢٨-٢٩].
Beliau mengatakan: Wahai Rasulullah, andai engkau tadi melihat putri Kharijah. Dia meminta nafkah kepadaku lalu aku bangkit ke arahnya dan aku tepak lehernya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan bersabda, “Mereka berada di sekelilingku sebagaimana engkau lihat, mereka meminta nafkah kepadaku.” Abu Bakr bangkit ke arah ‘Aisyah lalu menepak lehernya. ‘Umar bangkit ke arah Hafshah dan menepak lehernya. Masing-masing keduanya berkata: Kalian meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang tidak beliau miliki. Kami berkata: Demi Allah, kami tidak akan meminta apapun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak beliau punyai selama-lamanya. Kemudian Nabi menjauhi mereka selama sebulan atau dua puluh sembilan hari. Kemudian ayat ini turun (artinya), “Wahai Nabi, katakan kepada para istrimu,” sampai, “bagi wanita yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 28-29).
قَالَ: فَبَدَأَ بِعَائِشَةَ، فَقَالَ: (يَا عَائِشَةُ، إِنِّي أُرِيدُ أَنۡ أَعۡرِضَ عَلَيۡكِ أَمۡرًا أُحِبُّ أَنۡ لَا تَعۡجَلِي فِيهِ حَتَّىٰ تَسۡتَشِيرِي أَبَوَيۡكِ) قَالَتۡ: وَمَا هُوَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَتَلَا عَلَيۡهَا الۡآيَةَ. قَالَتۡ: أَفِيكَ، يَا رَسُولَ اللهِ، أَسۡتَشِيرُ أَبَوَيَّ؟ بَلۡ أَخۡتَارُ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الۡآخِرَةَ، وَأَسۡأَلُكَ أَنۡ لَا تُخۡبِرَ امۡرَأَةً مِنۡ نِسَائِكَ بِالَّذِي قُلۡتُ، قَالَ: (لَا تَسۡأَلُنِي امۡرَأَةٌ مِنۡهُنَّ إِلَّا أَخۡبَرۡتُهَا، إِنَّ اللهَ لَمۡ يَبۡعَثۡنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَٰكِنۡ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا).
Jabir berkata: Beliau memulai dengan ‘Aisyah. Beliau bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya aku ingin menawarkan kepada engkau suatu pilihan yang aku suka engkau tidak terburu-buru memilihnya sampai engkau meminta pendapat kedua orang tuamu.” ‘Aisyah bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Lalu Nabi membacakan ayat ini kepadanya. ‘Aisyah berkata, “Apakah padamu, wahai Rasulullah, aku meminta pendapat kedua orang tuaku? Bahkan, aku memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Dan aku meminta agar engkau jangan mengabarkan ucapanku ini kepada seorang pun dari istri-istrimu.” Nabi bersabda, “Tidaklah ada seorang istri dari para istriku yang bertanya kepadaku kecuali akan aku kabarkan. Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk menyulitkan, tidak pula ingin menjerumuskan mereka, akan tetapi Allah mengutusku untuk mengajari dan memberi kemudahan.”

Shahih Muslim hadits nomor 1477

٢٤ - (١٤٧٧) - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ التَّمِيمِيُّ: أَخۡبَرَنَا عَبۡثَرٌ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ قَالَ: قَالَتۡ عَائِشَةُ: قَدۡ خَيَّرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَلَمۡ نَعُدَّهُ طَلَاقًا.
[البخاري: كتاب الطلاق، باب من خَيَّرَ أزواجه، رقم: ٥٢٦٣].
24. (1477). Yahya bin Yahya At-Tamimi telah menceritakan kepada kami: ‘Abtsar mengabarkan kepada kami dari Isma’il bin Abu Khalid, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq. Beliau berkata: ‘Aisyah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajukan pilihan kepada kami, lalu kami tidak menganggapnya sebagai talak.
٢٥ - (...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُسۡهِرٍ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ قَالَ: مَا أُبَالِي خَيَّرۡتُ امۡرَأَتِي وَاحِدَةً أَوۡ مِائَةً أَوۡ أَلۡفًا بَعۡدَ أَنۡ تَخۡتَارَنِي، وَلَقَدۡ سَأَلۡتُ عَائِشَةَ فَقَالَتۡ: قَدۡ خَيَّرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ، أَفَكَانَ طَلَاقًا؟
25. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakannya kepada kami: ‘Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Abu Khalid, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq. Beliau berkata: Aku tidak peduli aku telah mengajukan pilihan kepada istriku satu kali, seratus kali, atau seribu kali setelah istriku memilihku. Sungguh aku telah bertanya kepada ‘Aisyah, lalu beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajukan pilihan kepada kami, apakah itu talak?
٢٦ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَاصِمٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ خَيَّرَ نِسَاءَهُ، فَلَمۡ يَكُنۡ طَلَاقًا.
26. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Ashim, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq, dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajukan pilihan kepada para istrinya, lalu itu tidak menjadi talak.
٢٧ - (...) - وَحَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ وَإِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: خَيَّرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَاخۡتَرۡنَاهُ، فَلَمۡ يَعُدَّهُ طَلَاقًا.
27. Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrahman mengabarkan kepada kami dari Sufyan, dari ‘Ashim Al-Ahwal dan Isma’il bin Abu Khalid, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq, dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajukan pilihan kepada kami, lalu kami memilih beliau. Dan beliau tidak menganggapnya sebagai talak.
٢٨ - (...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ - قَالَ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ - عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ مُسۡلِمٍ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: خَيَّرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَاخۡتَرۡنَاهُ، فَلَمۡ يَعۡدُدۡهَا عَلَيۡنَا شَيۡئًا.
[البخاري: كتاب الطلاق، باب من خَيَّرَ أزواجه، رقم: ٥٢٦٢].
28. Yahya bin Yahya, Abu Bakr bin Abu Syaibah, dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Yahya berkata: Telah mengabarkan kepada kami. Dua orang lainnya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Muslim, dari Masruq, dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajukan pilihan kepada kami, lalu kami memilih beliau dan beliau tidak menganggapnya sebagai sesuatu (talak) terhadap kami.
(...) - وَحَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهۡرَانِيُّ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ زَكَرِيَّاءَ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنِ الۡأَسۡوَدِ، عَنۡ عَائِشَةَ.
وَعَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ مُسۡلِمٍ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ، بِمِثۡلِهِ.
Abu Ar-Rabi’ Az-Zahrani telah menceritakan kepadaku: Isma’il bin Zakariyya` menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari ‘Aisyah.
Dan dari Al-A’masy, dari Muslim, dari Masruq, dari ‘Aisyah semisal hadis tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2978

٢٩٧٨ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَخۡبَرَهُ: أَنَّ أَبَا سُفۡيَانَ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ هِرَقۡلَ أَرۡسَلَ إِلَيۡهِ وَهُمۡ بِإِيلِيَاءَ، ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنۡ قِرَاءَةِ الۡكِتَابِ كَثُرَ عِنۡدَهُ الصَّخَبُ، فَارۡتَفَعَتِ الۡأَصۡوَاتُ وَأُخۡرِجۡنَا، فَقُلۡتُ لِأَصۡحَابِي حِينَ أُخۡرِجۡنَا: لَقَدۡ أَمِرَ أَمۡرُ ابۡنِ أَبِي كَبۡشَةَ إِنَّهُ يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِي الۡأَصۡفَرِ. [طرفه في: ٧].
2978. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah mengabarkan kepadaku: Bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan kepadanya: Bahwa Abu Sufyan mengabarkan kepadanya bahwa Hiraql (Heraklius) mengutus utusan kepadanya ketika mereka sedang berada di Iliya`. Kemudian Hiraql meminta didatangkan surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika dia sudah selesai membaca surat tersebut, terdengar banyak teriakan dan suara nyaring di dekatnya. Kami dibawa keluar. Aku berkata kepada para sahabatku ketika sudah dibawa keluar: Urusan Ibnu Abu Kabsyah (Nabi Muhammad) ini telah menjadi besar. Sesungguhnya dia ditakuti oleh Raja Bani Al-Ashfar (Romawi) ini.

Shahih Muslim hadits nomor 1476

٢٣ - (١٤٧٦) - حَدَّثَنَا سُرَيۡجُ بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا عَبَّادُ بۡنُ عَبَّادٍ، عَنۡ عَاصِمٍ، عَنۡ مُعَاذَةَ الۡعَدَوِيَّةِ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَسۡتَأۡذِنُنَا، إِذَا كَانَ فِي يَوۡمِ الۡمَرۡأَةِ مِنَّا بَعۡدَمَا نَزَلَتۡ: ﴿تُرۡجِى مَن تَشَآءُ مِنۡهُنَّ وَتُـٔۡوِىٓ إِلَيۡكَ مَن تَشَآءُ ۖ﴾ [الأحزاب: ٥١] فَقَالَتۡ لَهَا مُعَاذَةُ: فَمَا كُنۡتِ تَقُولِينَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ إِذَا اسۡتَأۡذَنَكِ؟ قَالَتۡ: كُنۡتُ أَقُولُ: إِنۡ كَانَ ذَاكَ إِلَيَّ لَمۡ أُوثِرۡ أَحَدًا عَلَىٰ نَفۡسِي.
[البخاري: كتاب التفسير، باب: ﴿ترجي من تشاء منهن وتؤوي من تشاء...﴾، رقم: ٤٧٨٩].
23. (1476). Suraij bin Yunus telah menceritakan kepada kami: ‘Abbad bin ‘Abbad menceritakan kepada kami dari ‘Ashim, dari Mu’adzah Al-‘Adawiyyah, dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin kami apabila berada di jatah hari di antara kami setelah turun ayat (yang artinya), “Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki.” (QS. Al-Ahzab: 51). Mu’adzah bertanya kepada ‘Aisyah: Lalu apa yang engkau katakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika meminta izin kepadamu? ‘Aisyah menjawab: Dahulu, aku katakan: Jika beliau meminta izinku, aku tidak mengutamakan seorang pun di atas diriku (dalam hal ini).
(...) - وَحَدَّثَنَاهُ الۡحَسَنُ بۡنُ عِيسَىٰ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ الۡمُبَارَكِ: أَخۡبَرَنَا عَاصِمٌ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، نَحۡوَهُ.
Al-Hasan bin ‘Isa telah menceritakannya kepada kami: Ibnu Al-Mubarak mengabarkan kepada kami: ‘Ashim mengabarkan kepada kami melalui sanad ini, semisal hadis tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2941

٢٩٤١ - قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: فَأَخۡبَرَنِي أَبُو سُفۡيَانَ: أَنَّهُ كَانَ بِالشَّأۡمِ فِي رِجَالٍ مِنۡ قُرَيۡشٍ قَدِمُوا تِجَارًا، فِي الۡمُدَّةِ الَّتِي كَانَتۡ بَيۡنَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَبَيۡنَ كُفَّارِ قُرَيۡشٍ، قَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: فَوَجَدَنَا رَسُولُ قَيۡصَرَ بِبَعۡضِ الشَّأۡمِ، فَانۡطُلِقَ بِي وَبِأَصۡحَابِي، حَتَّى قَدِمۡنَا إِيلِيَاءَ فَأُدۡخِلۡنَا عَلَيۡهِ، فَإِذَا هُوَ جَالِسٌ فِي مَجۡلِسِ مُلۡكِهِ، وَعَلَيۡهِ التَّاجُ، وَإِذَا حَوۡلَهُ عُظَمَاءُ الرُّومِ،
2941. Ibnu ‘Abbas mengatakan: Abu Sufyan mengabarkan kepadaku: Bahwa dahulu beliau berada di Syam bersama beberapa orang Quraisy. Mereka datang untuk berdagang di masa gencatan senjata antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang kafir Quraisy. Abu Sufyan berkata: Kami mendapati utusan kaisar di sebagian daerah Syam. Dia berangkat bersamaku dan para sahabatku, hingga kami sampai di Iliya`, lalu kami dibawa masuk menemui kaisar. Dia sedang duduk di singgasana kerajaannya dan di atas kepalanya ada sebuah mahkota. Dan ternyata di sekitar dia ada para pembesar Romawi.
فَقَالَ لِتُرۡجُمَانِهِ: سَلۡهُمۡ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ نَسَبًا إِلَى هَٰذَا الرَّجُلِ الَّذِي يَزۡعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ؟ قَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: فَقُلۡتُ: أَنَا أَقۡرَبُهُمۡ إِلَيۡهِ نَسَبًا، قَالَ: مَا قَرَابَةُ مَا بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُ؟ فَقُلۡتُ: هُوَ ابۡنُ عَمِّي، وَلَيۡسَ فِي الرَّكۡبِ يَوۡمَئِذٍ أَحَدٌ مِنۡ بَنِي عَبۡدِ مَنَافٍ غَيۡرِي، فَقَالَ قَيۡصَرُ: أَدۡنُوهُ. وَأَمَرَ بِأَصۡحَابِي فَجُعِلُوا خَلۡفَ ظَهۡرِي عِنۡدَ كَتِفِي، ثُمَّ قَالَ لِتُرۡجُمَانِهِ: قُلۡ لِأَصۡحَابِهِ: إِنِّي سَائِلٌ هَٰذَا الرَّجُلَ عَنِ الَّذِي يَزۡعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، فَإِنۡ كَذَبَ فَكَذِّبُوهُ، قَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: وَاللهِ لَوۡلَا الۡحَيَاءُ يَوۡمَئِذٍ، مِنۡ أَنۡ يَأۡثُرَ أَصۡحَابِي عَنِّي الۡكَذِبَ، لَكَذَبۡتُهُ حِينَ سَأَلَنِي عَنۡهُ، وَلَٰكِنِّي اسۡتَحۡيَيۡتُ أَنۡ يَأۡثُرُوا الۡكَذِبَ عَنِّي فَصَدَقۡتُهُ، ثُمَّ قَالَ لِتُرۡجُمَانِهِ: قُلۡ لَهُ كَيۡفَ نَسَبُ هَٰذَا الرَّجُلِ فِيكُمۡ؟ قُلۡتُ: هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ، قَالَ: فَهَلۡ قَالَ هَٰذَا الۡقَوۡلَ أَحَدٌ مِنۡكُمۡ قَبۡلَهُ؟ قُلۡتُ: لَا، فَقَالَ: كُنۡتُمۡ تَتَّهِمُونَهُ عَلَى الۡكَذِبِ قَبۡلَ أَنۡ يَقُولَ مَا قَالَ؟ قُلۡتُ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ كَانَ مِنۡ آبَائِهِ مِنۡ مَلِكٍ؟ قُلۡتُ: لَا، قَالَ: فَأَشۡرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ أَمۡ ضُعَفَاؤُهُمۡ؟ قُلۡتُ: بَلۡ ضُعَفَاؤُهُمۡ،
Kaisar itu berkata kepada penerjemahnya: Tanyakan kepada mereka, siapa di antara mereka yang paling dekat nasabnya dengan lelaki yang mengaku sebagai nabi ini? Abu Sufyan berkata: Aku mengatakan: Aku paling dekat nasab dengannya di antara mereka. Kaisar bertanya: Apa hubungan kekerabatanmu dengannya? Aku menjawab: Dia adalah anak pamanku. Dan tidak ada di dalam rombongan pada hari itu seorangpun dari bani ‘Abdu Manaf selain aku. Kaisar berkata: Dekatkan dia. Dan kaisar memerintahkan para sahabatku ditempatkan di belakang punggungku di dekat bahuku. Kemudian kaisar berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepada para sahabatnya: Sesungguhnya aku akan menanyai orang ini tentang lelaki yang mengaku nabi. Jika dia dusta, maka kalian katakan dia dusta. Abu Sufyan berkata: Demi Allah, kalau bukan karena malu pada hari itu dari para sahabatku akan menceritakan sifat dusta pada diriku (kepada yang lain) tentu aku akan berdusta kepadanya ketika dia bertanya kepadaku tentangnya. Akan tetapi aku malu nanti mereka menceritakan sifat dusta pada diriku sehingga aku berkata kepada jujur kepadanya. Kemudian kaisar berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepadanya, bagaimana nasab lelaki ini di kalangan kalian? Aku menjawab: Dia memiliki nasab yang terpandang di antara kami. Kaisar bertanya: Apakah ada seseorang di antara kalian yang mengatakan perkataan ini? Aku menjawab: Tidak ada. Kaisar bertanya: Apakah kalian dahulu pernah menuduhnya berdusta sebelum lelaki ini mengatakan ucapannya? Aku menjawab: Tidak. Kaisar bertanya: Apakah di antara ayahnya ada yang menjadi raja? Aku menjawab: Tidak. Kaisar bertanya: Apakah orang-orang mulia yang mengikutinya ataukah orang-orang lemah? Aku menjawab: Orang-orang yang lemah.
قَالَ: فَيَزِيدُونَ أَوۡ يَنۡقُصُونَ؟ قُلۡتُ: بَلۡ يَزِيدُونَ، قَالَ: فَهَلۡ يَرۡتَدُّ أَحَدٌ سَخۡطَةً لِدِينِهِ بَعۡدَ أَنۡ يَدۡخُلَ فِيهِ؟ قُلۡتُ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ يَغۡدِرُ؟ قُلۡتُ: لَا، وَنَحۡنُ الۡآنَ مِنۡهُ فِي مُدَّةٍ نَحۡنُ نَخَافُ أَنۡ يَغۡدِرَ - قَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: وَلَمۡ تُمۡكِنِّي كَلِمَةٌ أُدۡخِلُ فِيهَا شَيۡئًا أَنۡتَقِصُهُ بِهِ لَا أَخَافُ أَنۡ تُؤۡثَرَ عَنِّي غَيۡرُهَا - قَالَ: فَهَلۡ قَاتَلۡتُمُوهُ وَقَاتَلَكُمۡ؟ قُلۡتُ: نَعَمۡ، قَالَ: فَكَيۡفَ كَانَتۡ حَرۡبُهُ وَحَرۡبُكُمۡ؟ قُلۡتُ: كَانَتۡ دُوَلًا وَسِجَالًا، يُدَالُ عَلَيۡنَا الۡمَرَّةَ وَنُدَالُ عَلَيۡهِ الۡأُخۡرَى، قَالَ: فَمَاذَا يَأۡمُرُكُمۡ؟ قَالَ: يَأۡمُرُنَا أَنۡ نَعۡبُدَ اللهَ وَحۡدَهُ لَا نُشۡرِكُ بِهِ شَيۡئًا، وَيَنۡهَانَا عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ آبَاؤُنَا، وَيَأۡمُرُنَا بِالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ، وَالۡعَفَافِ، وَالۡوَفَاءِ بِالۡعَهۡدِ، وَأَدَاءِ الۡأَمَانَةِ.
Kaisar bertanya: Apakah mereka semakin bertambah atau berkurang? Aku menjawab: Mereka semakin bertambah. Kaisar bertanya: Apakah ada seseorang yang murtad karena benci agamanya setelah ia menganutnya? Aku menjawab: Tidak ada. Kaisar bertanya: Apakah dia memungkiri janji? Aku menjawab: Tidak dan kami sekarang sedang berada di masa gencatan senjata dengannya. Kami khawatir dia akan memungkiri janji—Abu Sufyan berkata: Aku tidak mungkin menyisipkan suatu kalimat yang menjatuhkan beliau tanpa khawatir diceritakan (ada kedustaan) pada diriku selain kalimat ini—. Kaisar bertanya: Apakah kalian memeranginya dan dia memerangi kalian? Aku menjawab: Iya. Kaisar bertanya: Bagaimana peperangan antara dia dengan kalian? Aku menjawab: Silih berganti saling mengalahkan. Sesekali kemenangan berada di pihak kami, kali yang lain berada di pihaknya. Kaisar bertanya: Apa yang dia perintahkan kepada kalian? Abu Sufyan berkata: Dia memerintahkan kami untuk menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya, dia melarang kami dari sesembahan bapak-bapak kami. Dia memerintahkan kami salat, sedekah, ifah, memenuhi janji, dan menunaikan amanah.
فَقَالَ لِتُرۡجُمَانِهِ حِينَ قُلۡتُ ذٰلِكَ لَهُ: قُلۡ لَهُ: إِنِّي سَأَلۡتُكَ عَنۡ نَسَبِهِ فِيكُمۡ فَزَعَمۡتَ أَنَّهُ ذُو نَسَبٍ، وَكَذٰلِكَ الرُّسُلُ تُبۡعَثُ فِي نَسَبِ قَوۡمِهَا، وَسَأَلۡتُكَ: هَلۡ قَالَ أَحَدٌ مِنۡكُمۡ هَٰذَا الۡقَوۡلَ قَبۡلَهُ؟ فَزَعَمۡتَ أَنۡ لَا، فَقُلۡتُ: لَوۡ كَانَ أَحَدٌ مِنۡكُمۡ قَالَ هَٰذَا الۡقَوۡلَ قَبۡلَهُ، قُلۡتُ: رَجُلٌ يَأۡتَمُّ بِقَوۡلٍ قَدۡ قِيلَ قَبۡلَهُ، وَسَأَلۡتُكَ: هَلۡ كُنۡتُمۡ تَتَّهِمُونَهُ بِالۡكَذِبِ قَبۡلَ أَنۡ يَقُولَ مَا قَالَ؟ فَزَعَمۡتَ أَنۡ لَا، فَعَرَفۡتُ أَنَّهُ لَمۡ يَكُنۡ لِيَدَعَ الۡكَذِبَ عَلَى النَّاسِ وَيَكۡذِبَ عَلَى اللهِ، وَسَأَلۡتُكَ: هَلۡ كَانَ مِنۡ آبَائِهِ مِنۡ مَلِكٍ؟ فَزَعَمۡتَ أَنۡ لَا، فَقُلۡتُ: لَوۡ كَانَ مِنۡ آبَائِهِ مَلِكٌ، قُلۡتُ: يَطۡلُبُ مُلۡكَ آبَائِهِ، وَسَأَلۡتُكَ: أَشۡرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ أَمۡ ضُعَفَاؤُهُمۡ؟ فَزَعَمۡتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمُ اتَّبَعُوهُ، وَهُمۡ أَتۡبَاعُ الرُّسُلِ،
Kaisar berkata kepada penerjemahnya ketika aku telah selesai menyebutkan hal itu kepadanya: Katakan kepadanya: Sesungguhnya aku telah bertanya kepadamu tentang nasabnya, lantas engkau menyatakan bahwa dia memiliki nasab yang terpandang. Demikianlah para rasul diutus dengan nasab yang mulia di kaumnya. Aku telah bertanya kepadamu: Apakah ada seseorang sebelum dia yang mengatakan ucapan ini? Lantas engkau menyatakan tidak ada. Aku katakan: Kalau ada seseorang di antara kalian sebelum dia yang mengatakan ucapan ini, aku katakan: Dia adalah seseorang yang hanya mengikuti ucapan yang telah dikatakan sebelumnya. Aku telah mengatakan kepadamu: Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum mengatakan ucapannya itu? Lantas engkau mengatakan: Tidak. Aku mengetahui bahwa orang yang tidak berdusta kepada manusia (sebelum diutusnya) tidak akan berdusta atas nama Allah (setelah diutus). Aku telah bertanya kepadamu: Apakah ada di antara bapak-bapaknya yang menjadi raja? Lantas engkau menyatakan tidak ada, sehingga aku katakan: Kalau ada di antara bapaknya yang merupakan seorang raja, tentu aku katakan: Dia hanyalah menuntut kerajaan ayahnya. Aku telah bertanya kepadamu: Apakah orang-orang mulia yang mengikutinya ataukah orang-orang lemah? Lantas engkau menyatakan bahwa orang-orang lemah yang mengikutinya. Mereka memang pengikut para rasul.
وَسَأَلۡتُكَ: هَلۡ يَزِيدُونَ أَوۡ يَنۡقُصُونَ؟ فَزَعَمۡتَ أَنَّهُمۡ يَزِيدُونَ، وَكَذٰلِكَ الۡإِيمَانُ حَتَّى يَتِمَّ، وَسَأَلۡتُكَ هَلۡ يَرۡتَدُّ أَحَدٌ سَخۡطَةً لِدِينِهِ بَعۡدَ أَنۡ يَدۡخُلَ فِيهِ؟ فَزَعَمۡتَ أَنۡ لَا، فَكَذٰلِكَ الۡإِيمَانُ حِينَ تَخۡلِطُ بَشَاشَتُهُ الۡقُلُوبَ لَا يَسۡخَطُهُ أَحَدٌ، وَسَأَلۡتُكَ هَلۡ يَغدِرُ؟ فَزَعَمۡتَ أَنۡ لَا، وَكَذٰلِكَ الرُّسُلُ لَا يَغۡدِرُونَ، وَسَأَلۡتُكَ: هَلۡ قَاتَلۡتُمُوهُ وَقَاتَلَكُمۡ؟ فَزَعَمۡتَ أَنۡ قَدۡ فَعَلَ، وَأَنَّ حَرۡبَكُمۡ وَحَرۡبَهُ تَكُونُ دُوَلًا، وَيُدَالُ عَلَيۡكُمُ الۡمَرَّةَ وَتُدَالُونَ عَلَيۡهِ الۡأُخۡرَى، وَكَذٰلِكَ الرُّسُلُ تُبۡتَلَى وَتَكُونُ لَهَا الۡعَاقِبَةُ، وَسَأَلۡتُكَ: بِمَاذَا يَأۡمُرُكُمۡ؟ فَزَعَمۡتَ أَنَّهُ يَأۡمُرُكُمۡ أَنۡ تَعۡبُدُوا اللهَ وَلَا تُشۡرِكُوا بِهِ شَيۡئًا، وَيَنۡهَاكُمۡ عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ آبَاؤُكُمۡ، وَيَأۡمُرُكُمۡ بِالصَّلَاةِ، وَالصِّدۡقِ، وَالۡعَفَافِ، وَالۡوَفَاءِ بِالۡعَهۡدِ، وَأَدَاءِ الۡأَمَانَةِ، قَالَ: وَهَٰذِهِ صِفَةُ النَّبِيِّ، قَدۡ كُنۡتُ أَعۡلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ، وَلَٰكِنۡ لَمۡ أَظُنَّ أَنَّهُ مِنۡكُمۡ، وَإِنۡ يَكُ مَا قُلۡتَ حَقًّا، فَيُوشِكُ أَنۡ يَمۡلِكَ مَوۡضِعَ قَدَمَىَّ هَاتَيۡنِ، وَلَوۡ أَرۡجُو أَنۡ أَخۡلُصَ إِلَيۡهِ، لَتَجَشَّمۡتُ لُقِيَّهُ، وَلَوۡ كُنۡتُ عِنۡدَهُ لَغَسَلۡتُ قَدَمَيۡهِ. قَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقُرِىءَ فَإِذَا فِيهِ:
Aku telah bertanya kepadamu: Apakah mereka bertambah atau berkurang? Lantas engkau menyatakan bahwa mereka bertambah. Demikianlah iman sampai sempurna. Aku telah bertanya kepadamu: Apakah ada seseorang yang murtad karena benci dengan agamanya setelah ia menganutnya? Lantas engkau menyatakan tidak ada. Demikianlah iman ketika cahayanya telah merasuk ke dalam hati, maka tidak ada seorang pun yang membencinya. Aku telah bertanya kepadamu: Apakah dia memungkiri janji? Lantas engkau menyatakan tidak. Demikianlah para rasul tidak ada yang memungkiri janji. Aku telah bertanya kepadamu: Apakah kalian memeranginya dan dia memerangi kalian? Lantas engkau menyatakan bahwa dia telah melakukannya dan bahwa peperangan antara kalian dengannya silih berganti. Sesekali kemenangan di pihak kalian dan kali yang lain berada di pihaknya. Demikianlah para rasul diuji, namun hasil akhirnya milik mereka. Aku telah bertanya kepadamu: Apa yang dia perintahkan kepada kalian? Lantas engkau menyatakan bahwa dia memerintahkan kalian menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya, melarang kalian dari sesembahan bapak-bapak kalian, memerintahkan kalian salat, jujur, ifah, memenuhi janji, dan menunaikan amanah. Kaisar berkata: Ini adalah sifat nabi. Sungguh aku sudah mengetahui bahwa dia akan keluar, namun aku tidak mengira bahwa dia dari kalangan kalian. Jika memang benar seperti yang engkau katakan, maka dia akan menguasai tempat dua kakiku ini. Andai aku berharap bisa sampai kepadanya tentu aku akan berusaha keras untuk menemuinya dan kalau aku sudah berada di dekatnya, tentu akan aku basuh kedua kakinya. Abu Sufyan berkata: Kemudian dia meminta surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dibacakan. Ternyata isinya:
بِسۡمِ اللهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ
مِنۡ مُحَمَّدٍ عَبۡدِ اللهِ وَرَسُولِهِ، إِلَى هِرَقۡلَ عَظِيمِ الرُّومِ، سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الۡهُدَى، أَمَّا بَعۡدُ: فَإِنِّي أَدۡعُوكَ بِدِعَايَةِ الۡإِسۡلَامِ، أَسۡلِمۡ تَسۡلَمۡ، وَأَسۡلِمۡ يُؤۡتِكَ اللهُ أَجۡرَكَ مَرَّتَيۡنِ، فَإِنۡ تَوَلَّيۡتَ فَعَلَيۡكَ إِثۡمُ الۡأَرِيسِيِّينَ، وَ: ﴿يَـٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ تَعَالَوۡا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوۡا۟ فَقُولُوا۟ ٱشۡهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ﴾ [آل عمران: ٦٤].
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Hiraql (Heraklius) pembesar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amabakdu, sesungguhnya aku menyeru engkau dengan seruan Islam. Berislamlah, niscaya engkau selamat. Berislamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka menjadi tanggunganmu dosa para rakyatmu. Dan “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali ‘Imran: 64).
قَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: فَلَمَّا أَنۡ قَضَى مَقَالَتَهُ عَلَتۡ أَصۡوَاتُ الَّذِينَ حَوۡلَهُ مِنۡ عُظَمَاءِ الرُّومِ، وَكَثُرَ لَغَطُهُمۡ، فَلَا أَدۡرِي مَاذَا قَالُوا، وَأُمِرَ بِنَا فَأُخۡرِجۡنَا، فَلَمَّا أَنۡ خَرَجۡتُ مَعَ أَصۡحَابِي وَخَلَوۡتُ بِهِمۡ، قُلۡتُ لَهُمۡ: لَقَدۡ أَمِرَ أَمۡرُ ابۡنِ أَبِي كَبۡشَةَ، هَٰذَا مَلِكُ بَنِي الۡأَصۡفَرِ يَخَافُهُ، قَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: وَاللهِ مَا زِلۡتُ ذَلِيلًا مُسۡتَيۡقِنًا بِأَنَّ أَمۡرَهُ سَيَظۡهَرُ، حَتَّى أَدۡخَلَ اللهُ قَلۡبِي الۡإِسۡلَامَ وَأَنَا كَارِهٌ. [طرفه في: ٧].
Abu Sufyan berkata: Ketika dia telah menyelesaikan ucapannya, maka suara para pembesar Romawi yang berada di sekelilingnya meninggi dan teriakan mereka banyak, namun aku tidak mengerti apa yang mereka katakan dan kami diperintahkan keluar. Ketika aku keluar bersama para sahabatku dan telah menyepi. Aku berkata kepada mereka: Urusan Ibnu Abu Kabsyah (Nabi Muhammad) telah menjadi besar dan raja Bani Al-Ashfar (Romawi) ini takut kepadanya. Abu Sufyan berkata: Demi Allah, aku senantiasa merasa hina dan yakin bahwa urusannya akan menang sampai Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku dalam keadaan aku masih benci.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2804

١١ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿هَلۡ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحۡدَى الۡحُسۡنَيَيۡنِ﴾ [التوبة: ٥٢] وَالۡحَرۡبُ سِجَالٌ
11. Bab firman Allah taala (yang artinya), “Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan” dan peperangan itu silih berganti

٢٨٠٤ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ قَالَ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ أَبَا سُفۡيَانَ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ هِرَقۡلَ قَالَ لَهُ: سَأَلۡتُكَ كَيۡفَ كَانَ قِتَالُكُمۡ إِيَّاهُ؟ فَزَعَمۡتَ أَنَّ الۡحَرۡبَ سِجَالٌ وَدُوَلٌ، فَكَذٰلِكَ الرُّسُلُ تُبۡتَلَى، ثُمَّ تَكُونُ لَهُمُ الۡعَاقِبَةُ. [طرفه في: ٧].
2804. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Yunus menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Abbas mengabarkan kepadanya: Bahwa Abu Sufyan mengabarkan kepadanya: Bahwa Hiraql (Heraklius) berkata kepadanya: Aku bertanya kepadamu bagaimana peperangan kalian terhadapnya? Lalu engkau menyatakan bahwa peperangan silih berganti dan saling mengalahkan. Demikianlah para rasul diuji, kemudian hasil akhirnya milik mereka.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2681

٢٨ - بَابُ مَنۡ أَمَرَ بِإِنۡجَازِ الۡوَعۡدِ
28. Bab siapa saja yang memerintahkan untuk menepati janji

وَفَعَلَهُ الۡحَسَنُ. وَذَكَرَ إِسۡمَاعِيلَ: ﴿إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الۡوَعۡدِ﴾ [مريم: ٥٤]. وَقَضَى ابۡنُ الۡأَشۡوَعِ بِالۡوَعۡدِ، وَذَكَرَ ذٰلِكَ عَنۡ سَمُرَةَ. وَقَالَ الۡمِسۡوَرُ بۡنُ مَخۡرَمَةَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ، وَذَكَرَ صِهۡرًا لَهُ، قَالَ: (وَعَدَنِي فَوَفَى لِي). قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ، وَرَأَيۡتُ إِسۡحَاقَ بۡنَ إِبۡرَاهِيمَ يَحۡتَجُّ بِحَدِيثِ ابۡنِ أَشۡوَعَ.
Al-Hasan (Al-Bashri) melakukannya. Dan Allah menyebut tentang Isma’il, “Sesungguhnya dia adalah orang yang menepati janji.” (QS. Maryam: 54). Ibnu Al-Asywa’ memerintahkan untuk menepati janji dan beliau menyebutkan hal itu dari Samurah. Al-Miswar bin Makhramah berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—beliau menyebutkan seseorang yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Nabi yang disebabkan pernikahan (yakni Abu Al-‘Ash bin Ar-Rabi’)—mengatakan, “Dia (Abu Al-‘Ash) membuat janji denganku, lalu dia menepatinya.” Abu ‘Abdullah berkata dan aku melihat Ishaq bin Ibrahim berargumen dengan hadis Ibnu Asywa’.
٢٦٨١ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ حَمۡزَةَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَخۡبَرَهُ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سُفۡيَانَ: أَنَّ هِرَقۡلَ قَالَ لَهُ: سَأَلۡتُكَ مَاذَا يَأۡمُرُكُمۡ؟ فَزَعَمۡتَ: أَنَّهُ أَمَرَكُمۡ بِالصَّلَاةِ، وَالصِّدۡقِ، وَالۡعَفَافِ، وَالۡوَفَاءِ بِالۡعَهۡدِ، وَأَدَاءِ الۡأَمَانَةِ، قَالَ: وَهَٰذِهِ صِفَةُ نَبِيٍّ. [طرفه في: ٧].
2681. Ibrahim bin Hamzah telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Shalih, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan kepada beliau. Beliau mengatakan: Abu Sufyan mengabarkan kepadaku: Bahwa Hiraql (Heraklius) berkata kepadanya: Aku bertanya kepadamu, apa yang Nabi itu perintahkan kepada kalian? Lalu engkau menyatakan bahwa dia memerintahkan kalian salat, jujur, ifah, menepati janji, dan menunaikan amanah. Hiraql berkata: Ini adalah sifat seorang nabi.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 51

٣٩ – بَابٌ
39. Bab

٥١ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ حَمۡزَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ أَخۡبَرَهُ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سُفۡيَانَ أَنَّ هِرَقۡلَ قَالَ لَهُ: سَأَلۡتُكَ هَلۡ يَزِيدُونَ أَمۡ يَنۡقُصُونَ؟ فَزَعَمۡتَ أَنَّهُمۡ يَزِيدُونَ، وَكَذٰلِكَ الۡإِيمَانُ حَتَّى يَتِمَّ، وَسَأَلۡتُكَ هَلۡ يَرۡتَدُّ أَحَدٌ سَخۡطَةً لِدِينِهِ بَعۡدَ أَنۡ يَدۡخُلَ فِيهِ؟ فَزَعَمۡتَ أَنۡ لَا، وَكَذٰلِكَ الۡإِيمَانُ حِينَ تُخَالِطُ بَشَاشَتُهُ الۡقُلُوبَ لَا يَسۡخَطُهُ أَحَدٌ.
[الحديث ٥١ – أطرافه في: ٢٦٨١، ٢٨٠٤، ٢٩٤١، ٢٩٧٨، ٣١٧٤، ٤٥٥٣].
51. Ibrahim bin Hamzah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Shalih, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Abbas mengabarkan kepadanya. Beliau mengatakan: Abu Sufyan mengabarkan kepadaku bahwa Hiraql (Heraklius) berkata kepada beliau: Aku tadi bertanya kepadamu apakah mereka (kaum muslimin) bertambah atau berkurang? Lalu engkau menyatakan bahwa mereka bertambah. Demikianlah iman hingga sempurna. Aku tadi bertanya kepadamu apakah ada seseorang yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah menganutnya? Lalu engkau menyatakan tidak ada. Demikianlah iman ketika cahayanya telah merasuk ke dalam hati, maka tidak ada seorangpun yang akan membencinya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4997

٧ – بَابٌ: كَانَ جِبۡرِيلُ يَعۡرِضُ الۡقُرۡآنَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ
7. Bab dahulu Jibril memeriksa bacaan Alquran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

وَقَالَ مَسۡرُوقٌ، عَنۡ عَائِشَةَ، عَنۡ فَاطِمَةَ عَلَيۡهَا السَّلَامُ: أَسَرَّ إِلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ: (أَنَّ جِبۡرِيلَ كَانَ يُعَارِضُنِي بِالۡقُرۡآنِ كُلَّ سَنَةٍ، وَإِنَّهُ عَارَضَنِي الۡعَامَ مَرَّتَيۡنِ، وَلَا أُرَاهُ إِلَّا حَضَرَ أَجَلِي).
Masruq berkata dari ‘Aisyah, dari Fathimah ‘alaihas salam: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membicarakan kepadaku secara rahasia, “Bahwa Jibril biasa memeriksa bacaan Alquranku setiap tahun. Pada tahun ini dia memeriksa bacaanku sebanyak dua kali dan aku tidak mengira hal itu kecuali karena ajalku hampir tiba.”
٤٩٩٧ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ قَزَعَةَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَجۡوَدَ النَّاسِ بِالۡخَيۡرِ، وَأَجۡوَدُ مَا يَكُونُ فِي شَهۡرِ رَمَضَانَ، لِأَنَّ جِبۡرِيلَ كَانَ يَلۡقَاهُ فِي كُلِّ لَيۡلَةٍ فِي شَهۡرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنۡسَلِخَ، يَعۡرِضُ عَلَيۡهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡقُرۡآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبۡرِيلُ، كَانَ أَجۡوَدَ بِالۡخَيۡرِ مِنَ الرِّيحِ الۡمُرۡسَلَةِ. [طرفه في: ٦].
4997. Yahya bin Quza’ah telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan dan beliau paling dermawan pada bulan Ramadan karena Jibril biasa menemui beliau di setiap malam di bulan Ramadan sampai Ramadan berakhir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memeriksakan bacaan Alquran kepada Jibril. Ketika Jibril menemui beliau, maka beliau lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3554

٣٥٥٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَجۡوَدَ النَّاسِ، وَأَجۡوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلۡقَاهُ جِبۡرِيلُ، وَكَانَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ يَلۡقَاهُ فِي كُلِّ لَيۡلَةٍ مِنۡ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرۡآنَ، فَلَرَسُولُ اللهِ ﷺ أَجۡوَدُ بِالۡخَيۡرِ مِنَ الرِّيحِ المُرۡسَلَةِ. [طرفه في: ٦].
3554. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah menceritakan kepada kami: Yunus mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah menceritakan kepadaku dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dan beliau paling dermawan di bulan Ramadan ketika Jibril menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam biasa menemui beliau di setiap malam bulan Ramadan, lalu mengajari beliau Alquran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar orang yang lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.

Shahih Muslim hadits nomor 1475

٤ - بَابُ بَيَانِ أَنَّ تَخۡيِيرَ امۡرَأَتِهِ لَا يَكُونُ طَلَاقًا إِلَّا بِالنِّيَّةِ
4. Bab keterangan bahwa mengajukan pilihan kepada istrinya tidak jatuh talak kecuali dengan niat

٢٢ - (١٤٧٥) - وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ. (ح) وَحَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَى التُّجِيبِيُّ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ بۡنُ يَزِيدَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ عَوۡفٍ، أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتۡ: لَمَّا أُمِرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِتَخۡيِيرِ أَزۡوَاجِهِ بَدَأَ بِي، فَقَالَ: (إِنِّي ذَاكِرٌ لَكِ أَمۡرًا. فَلَا عَلَيۡكِ أَنۡ لَا تَعۡجَلِي حَتَّىٰ تَسۡتَأۡمِرِي أَبَوَيۡكِ) قَالَتۡ: قَدۡ عَلِمَ أَنَّ أَبَوَيَّ لَمۡ يَكُونَا لِيَأۡمُرَانِي بِفِرَاقِهِ. قَالَتۡ: ثُمَّ قَالَ: (إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱلۡحَيَو‌ٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ۝٢٨ وَإِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلۡءَاخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنَـٰتِ مِنكُنَّ أَجۡرًا عَظِيمًا﴾ [الأحزاب: ٢٨-٢٩]) قَالَتۡ: فَقُلۡتُ: فِي أَيِّ هَٰذَا أَسۡتَأۡمِرُ أَبَوَيَّ؟ فَإِنِّي أُرِيدُ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الۡآخِرَةَ. قَالَتۡ: ثُمَّ فَعَلَ أَزۡوَاجُ رَسُولِ اللهِ ﷺ مِثۡلَ مَا فَعَلۡتُ.
[البخاري: كتاب التفسير، باب: ﴿قل لأزواجك إن كنتن تردن الحياة الدنيا...﴾، رقك ٤٧٨٥].
22. (1475). Abu Ath-Thahir telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Harmalah bin Yahya At-Tujibi telah menceritakan kepadaku—lafal hadis ini milik beliau—: ‘Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami: Yunus bin Yazid mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab: Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengabarkan kepadaku bahwa ‘Aisyah mengatakan: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk mengajukan pilihan kepada para istrinya, beliau memulai denganku. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku akan menyebutkan kepadaku suatu perkara. Engkau tidak perlu tergesa-gesa sampai meminta pendapat kedua orangtuamu.” ‘Aisyah mengatakan: Beliau telah mengetahui bahwa kedua orangtuaku tidak akan memerintahkanku untuk berpisah dengan beliau. ‘Aisyah mengatakan: Kemudian Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah azza wajalla berfirman (yang artinya): Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepada kalian mutah dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Dan jika kalian menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar. (QS. Al-Ahzab: 28-29).” ‘Aisyah mengatakan: Aku berkata: Dalam hal ini aku harus meminta pendapat kedua orang tuaku? Sesungguhnya aku menghendaki Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. ‘Aisyah mengatakan: Kemudian istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain melakukan semisal yang aku lakukan.
٣٥ - (١٤٧٥) - قَالَ الزُّهۡرِيُّ: فَأَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: لَمَّا مَضَىٰ تِسۡعٌ وَعِشۡرُونَ لَيۡلَةً، دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ بَدَأَ بِي. فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ أَقۡسَمۡتَ أَنۡ لَا تَدۡخُلَ عَلَيۡنَا شَهۡرًا، وَإِنَّكَ دَخَلۡتَ مِنۡ تِسۡعٍ وَعِشۡرِينَ أَعُدُّهُنَّ. فَقَالَ: (إِنَّ الشَّهۡرَ تِسۡعٌ وَعِشۡرُونَ) ثُمَّ قَالَ: (يَا عَائِشَةُ، إِنِّي ذَاكِرٌ لَكِ أَمۡرًا فَلَا عَلَيۡكِ أَنۡ لَا تَعۡجَلِي فِيهِ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡمِرِي أَبَوَيۡكِ). ثُمَّ قَرَأَ عَلَيَّ الۡآيَةَ: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ﴾ حَتَّىٰ بَلَغَ: ﴿أَجۡرًا عَظِيمًا﴾ [الأحزاب: ٢٨-٢٩]. قَالَتۡ عَائِشَةُ: قَدۡ عَلِمَ، وَاللهِ أَنَّ أَبَوَيَّ لَمۡ يَكُونَا لِيَأۡمُرَانِي بِفِرَاقِهِ. قَالَتۡ: فَقُلۡتُ: أَوَفِي هَٰذَا أَسۡتَأۡمِرُ أَبَوَيَّ؟ فَإِنِّي أُرِيدُ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الۡآخِرَةَ.
قَالَ مَعۡمَرٌ: فَأَخۡبَرَنِي أَيُّوبُ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتۡ: لَا تُخۡبِرۡ نِسَاءَكَ أَنِّي اخۡتَرۡتُكَ. فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ اللهَ أَرۡسَلَنِي مُبَلِّغًا وَلَمۡ يُرۡسِلۡنِي مُتَعَنِّتًا).
قَالَ قَتَادَةُ: صَغَتۡ قُلُوبُكُمَا: مَالَتۡ قُلُوبُكُمَا.
[البخاري: كتاب التفسير، باب: ﴿وإن كنتن...﴾، رقم: ٤٧٨٦].
35. (1475). Az-Zuhri berkata: ‘Urwah mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Ketika dua puluh sembilan malam telah berlalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku. Beliau mengawali denganku. Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah bersumpah tidak masuk menemui kami selama satu bulan dan sungguh engkau masuk setelah dua puluh sembilan malam, menurut hitunganku. Nabi bersabda, “Sesungguhnya bulan ini dua puluh sembilan hari.” Kemudian beliau bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya aku akan menyebutkan kepadamu suatu perkara. Engkau tidak harus terburu-buru memutuskannya sebelum meminta pendapat kedua orangtuamu.” Kemudian beliau membaca ayat kepadaku (yang artinya), “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,” sampai, “pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 28-29). ‘Aisyah mengatakan: Beliau telah mengetahui—demi Allah—bahwa kedua orangtuaku tidak akan memerintahkan aku untuk berpisah dengan beliau. ‘Aisyah mengatakan: Aku pun berkata: Apakah di masalah ini aku meminta pendapat kedua orangtuaku? Sesungguhnya aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.
Ma’mar berkata: Ayyub mengabarkan kepadaku bahwa ‘Aisyah mengatakan: Jangan kabarkan para istrimu bahwa aku memilih engkau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya Allah mengutusku untuk menyampaikan dan tidak mengutusku untuk menyusahkan.”
Qatadah berkata: صَغَتۡ قُلُوبُكُمَا, yaitu hati kalian berdua condong (menerima kebaikan).