Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2645

٢٦٤٥ - حَدَّثَنَا مُسۡلِمُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ فِي بِنۡتِ حَمۡزَةَ: (لَا تَحِلُّ لِي، يَحۡرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحۡرُمُ مِنَ النَّسَبِ، هِيَ بِنۡتُ أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ).
[الحديث ٢٦٤٥ – طرفه في: ٥١٠٠].
2645. Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Hammam menceritakan kepada kami: Qatadah menceritakan kepada kami, dari Jabir bin Zaid, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang putri Hamzah, “Dia tidak halal untukku. Apa saja yang haram karena nasab, maka itupun haram karena susuan. Dia adalah putri saudara susuanku.”

Ad-Dararil Mudhiyyah - Nazhar, Wali, Saksi Nikah, dan Perwakilan Akad Nikah

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَجُوزُ النَّظَرُ إِلَى الۡمَخۡطُوبَةِ، فَلِحَدِيثِ الۡمُغِيرَةِ عِنۡدَ أَحۡمَدَ وَالنَّسَائِيِّ، وَابۡنِ مَاجَهۡ، وَالتِّرۡمِذِيِّ، وَالدَّارِمِيِّ، وَابۡنِ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ أَنَّهُ خَطَبَ امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (انۡظُرۡ إِلَيۡهَا فَإِنَّهُ أَحۡرَى أَنۡ يُؤۡدَمَ بَيۡنَكُمَا) الۡحَدِيث. وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنۡتُ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ وَأَتَاهُ رَجُلٌ فَأَخۡبَرَهُ أَنَّهُ تَزَوَّجَ امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَنَظَرۡتَ إِلَيۡهَا؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَاذۡهَبۡ فَانۡظُرۡ إِلَيۡهَا، فَإِنَّ فِي أَعۡيُنِ الۡأَنۡصَارِ شَيۡئًا). وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Adapun perihal bolehnya memandang wanita yang dilamar adalah berdasar hadis Al-Mughirah riwayat Ahmad, An-Nasa`i, Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Ad-Darimi, dan Ibnu Hibban[1] –beliau menilainya sahih-, bahwa Al-Mughirah telah melamar seorang wanita dari kalangan Ansar, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah dia, karena hal itu lebih pantas untuk kelanggengan antara kalian berdua.” Muslim[2] rahimahullahu ta’ala mengeluarkan riwayat dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda: Aku pernah di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau didatangi oleh seorang pria. Lalu pria itu mengabarkan kepada beliau bahwa dia akan menikahi seorang wanita dari kalangan Ansar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau sudah melihatnya?” Pria itu menjawab, “Belum.” Nabi bersabda, “Pergi dan lihatlah dia karena di mata-mata wanita Ansar ada sesuatu.” Di dalam bab ini ada beberapa hadis.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ، فَلِحَدِيثِ أَبِي مُوسَى، عِنۡدَ أَحۡمَدَ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَابۡنِ مَاجَهۡ، وَالتِّرۡمِذِيِّ، وَابۡنِ حِبَّانَ، وَالۡحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ). وَحَدِيثِ عَائِشَةَ عِنۡدَ أَحۡمَدَ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَابۡنِ مَاجَهۡ، وَالتِّرۡمِذِيِّ وَحَسَّنَهُ، وَابۡنُ حِبَّانَ، وَالۡحَاكِمِ وَأَبِي عَوَانَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (أَيُّمَا امۡرَأَةٍ نَكَحَتۡ بِغَيۡرِ إِذۡنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَإِنۡ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الۡمَهۡرُ بِمَا اسۡتَحَلَّ مِنۡ فَرۡجِهَا، فَإِنِ اشۡتَجَرُوا فَالسُّلۡطَانُ وَلِيُّ مَنۡ لَا وَلِيَّ لَهُ). وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ. قَالَ الۡحَاكِمُ: وَقَدۡ صَحَّتِ الرِّوَايَةُ فِيهِ عَنۡ أَزۡوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ عَائِشَةَ، وَأُمِّ سَلَمَةَ، وَزَيۡنَبَ بِنۡتِ جَحۡشٍ، ثُمَّ سَرَدَ تَمَامَ ثَلَاثِينَ صَحَابِيًّا. وَالۡوَلِيُّ عِنۡدَ الۡجُمۡهُورِ هُوَ الۡأَقۡرَبُ مِنَ الۡعَصَبَةِ. وَرُوِيَ عَنۡ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ ذَوِي الۡأَرۡحَامِ مِنَ الۡأَوۡلِيَاءِ.

Adapun perihal tidak ada nikah kecuali dengan wali adalah berdasar hadis Abu Musa riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim[3] –beliau menilainya sahih- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak ada nikah kecuali dengan wali.” Dan berdasar hadis ‘Aisyah riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi[4] –beliau menilainya hasan-, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Abu ‘Awanah[5], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa pun wanita yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil. Jika si pria menggaulinya, maka si wanita berhak mendapatkan mahar dengan sebab menghalalkan kemaluannya. Jika mereka berselisih, maka penguasa adalah wali bagi siapa saja yang tidak memiliki wali.” Di dalam bab ini ada beberapa hadis. Al-Hakim berkata: Riwayat tentang ini telah sahih dari para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ‘Aisyah, Ummu Salamah, dan Zainab binti Jahsy; kemudian beliau melanjutkan hingga genap tiga puluh sahabat. Dan wali nikah menurut mayoritas ulama adalah orang yang paling dekat dari kalangan ‘ashabah (ahli waris dari kalangan laki-laki). Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa orang-orang yang memiliki hubungan rahim termasuk para wali nikah.

وَأَمَّا اعۡتِبَارُ الشَّاهِدَيۡنِ، فَلِحَدِيثِ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ عِنۡدَ الدَّارُقُطۡنِيِّ وَالۡبَيۡهَقِيِّ فِي الۡعِلَلِ، وَأَحۡمَدَ فِي رِوَايَةِ ابۡنِهِ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيۡ عَدۡلٍ). وَفِي إِسۡنَادِهِ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحۡرِزٍ هُوَ مَتۡرُوكٌ. وَأَخۡرَجَ الدَّارُقُطۡنِيُّ وَالۡبَيۡهَقِيُّ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ قَالَتۡ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيۡ عَدۡلٍ؛ فَإِنۡ تَشَاجَرُوا فَالسُّلۡطَانُ وَلِيُّ مَنۡ لَا وَلِيَّ لَهُ). وَإِسۡنَادُهُ ضَعِيفٌ وَأَخۡرَجَ التِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (الۡبَغَايَا اللَّاتِي يَنۡكِحۡنَ أَنۡفُسَهُنَّ بِغَيۡرِ بَيِّنَةٍ). وَصَحَّحَ التِّرۡمِذِيُّ وَقۡفَهُ. وَهَٰذِهِ الۡأَحَادِيثُ وَمَا وَرَدَ فِي مَعۡنَاهَا يُقَوِّي بَعۡضُهَا بَعۡضًا، وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى ذٰلِكَ الۡجُمۡهُورُ.

Adapun pengetahuan dua saksi adalah berdasar hadis ‘Imran bin Hushain riwayat Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi di dalam Al-‘Ilal, dan Ahmad dalam riwayat putranya, yaitu ‘Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.” Di dalam sanadnya ada ‘Abdullah bin Muhriz dan dia orang yang (hadisnya) ditinggalkan. Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan dari hadis ‘Aisyah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil. Jika mereka saling berselisih, maka penguasa adalah wali bagi siapa saja yang tidak memiliki wali.” Sanadnya daif. At-Tirmidzi[6] juga mengeluarkan riwayat dari hadis Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perempuan-perempuan jalang adalah wanita yang menikahkan diri-diri mereka tanpa bukti.” At-Tirmidzi menilai sahih mauquf. Hadis-hadis ini dan riwayat yang semakna dengannya saling menguatkan. Mayoritas ulama berpendapat dengan hal itu. 

وَأَمَّا اسۡتِثۡنَاءُ الۡوَلِيِّ الۡعَاضِلِ وَغَيۡرِ مُسۡلِمٍ؛ فَلِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ﴾ [البقرة: ٢٣٢] وَلِتَزَوُّجِهِ ﷺ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنۡتَ أَبِي سُفۡيَانَ مِنۡ غَيۡرِ وَلِيِّهَا لِمَا كَانَ كَافِرًا حَالَ الۡعَقۡدِ.

Adapun pengecualian wali nikah yang menghalang-halangi dan selain muslim adalah berdasar firman Allah taala, “Janganlah kalian (para wali) menghalangi mereka (wanita yang di bawah perwalian kalian) menikah lagi dengan (mantan) suami-suami mereka.” (QS. Al-Baqarah: 232). Juga berdasar pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Habibah bintu Abu Sufyan dengan tanpa walinya karena Abu Sufyan masih kafir ketika akad nikah. 

وَأَمَّا جَوَازُ التَّوۡكِيلِ لِعَقۡدِ النِّكَاحِ وَلَوۡ كَانَ الۡوَكِيلُ وَاحِدًا مِنَ الۡجِهَتَيۡنِ؛ فَلِحَدِيثِ عُقۡبَةَ بۡنِ عَامِرٍ عِنۡدَ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِرَجُلٍ: أَتَرۡضَى أَنۡ أُزَوِّجَكَ فُلَانَةً؟ قَالَ: نَعَمۡ، وَقَالَ لِلۡمَرۡأَةِ: (أَتَرۡضَيۡنَ أَنۡ أُزَوِّجَكِ فُلَانًا؟ قَالَتۡ: نَعَمۡ، فَزَوَّجَ أَحَدَهُمَا صَاحِبَهُ) الۡحَدِيثَ وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى ذٰلِكَ جَمَاعَةٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ الۡأَوۡزَعِيُّ، وَرَبِيعَةُ، وَالثَّوۡرِيُّ، وَمَالِكٌ، وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَأَكۡثَرُ أَصۡحَابِهِ، وَاللَّيۡثُ، وَالۡهَادَوِيَّةُ، وَأَبُو ثَوۡرٍ، وَحَكَى فِي الۡبَحۡرِ عَنِ النَّاصِرِ وَالشَّافِعِيِّ وَزُفَرَ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ. قَالَ فِي الۡفَتۡحِ وَعَنۡ مَالِكٍ لَوۡ قَالَتِ الۡمَرۡأَةُ لِوَلِيِّهَا زَوِّجۡنِي بِمَنۡ رَأَيۡتَ فَزَوَّجَهَا نَفۡسَهُ، أَوۡ بِمَنِ اخۡتَارَ، لَزِمَهَا ذٰلِكَ، وَلَوۡ لَمۡ تَعۡلَمۡ عَيۡنَ الزَّوۡجِ. وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: يُزَوِّجُهُ السُّلۡطَانُ أَوۡ وَلِيٌّ آخَرُ مِثۡلُهُ أَوۡ أَقۡعَدُ مِنۡهُ، وَوَافَقَهُ زُفَرُ.

Adapun bolehnya perwakilan untuk akad nikah walaupun wakilnya hanya satu orang untuk dua pihak adalah berdasarkan hadis ‘Uqbah bin ‘Amir riwayat Abu Dawud[7], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang pria, “Apakah engkau rida aku nikahkan engkau dengan Fulanah?” Pria itu menjawab, “Iya.” Nabi bertanya kepada si wanita, “Apakah engkau rida aku nikahkan engkau dengan Fulan?” Wanita itu menjawab, “Iya.” Nabi pun menikahkan keduanya. Sekelompok ulama berpendapat dengan hadis itu, yaitu: Al-Auza’i, Rabi’ah, Ats-Tsauri, Malik, Abu Hanifah dan sebagian besar sahabatnya, Al-Laits, Hadawiyyah, dan Abu Tsaur. Beliau mengisahkan di dalam Al-Bahr dari An-Nashir, Asy-Syafi’i, dan Zufar, bahwa hal itu tidak boleh. Beliau berkata di dalam Al-Fath: Dan dari Malik, seandainya si wanita berkata kepada walinya: Nikahkan aku dengan siapa saja yang engkau sukai. Lalu walinya menikahkan wanita itu dengan dirinya sendiri (yaitu jika wanita itu adalah budaknya) atau dengan siapa saja yang dia pilih, maka wanita itu harus menerimanya walaupun dia belum mengetahui sosok calon suaminya. Asy-Syafi’i berkata: (Majikan menikahi budaknya sendiri) yang menikahkannya haruslah penguasa atau wali lain yang setingkat dengannya atau lebih rendah (lebih jauh) darinya. Zufar sependapat dengan Asy-Syafi’i.


[1] HR. Ahmad (4/244), An-Nasa`i (6/69), Ibnu Majah nomor 1866, At-Tirmidzi nomor 1087, Ad-Darimi nomor 2172, dan Ibnu Hibban (6/139). Hadis ini sahih. 
[3] HR. Ahmad (4/394, 413), Abu Dawud nomor 2085, Ibnu Majah nomor 1881, At-Tirmidzi nomor 1101, Ibnu Hibban (6/152), dan Al-Hakim (2/170). 
[5] HR. Ibnu Hibban (6/151), Al-Hakim (2/168), dan Abu ‘Awanah dalam Mustakhraj-nya nomor 4037. 
[7] Nomor 2117 dan hadis ini sahih.

Ad-Dararil Mudhiyyah - Perihal Lamaran dan Sekufu

وَأَمَّا كَوۡنُهَا تُخۡطَبُ الۡكَبِيرَةُ إِلَى نَفۡسِهَا، فَلِمَا فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَرۡسَلَ إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ يَخۡطُبُهَا.

Adapun perihal wanita dewasa dilamar kepada dirinya sendiri, maka berdasar hadis di dalam Shahih Muslim rahimahullah[1] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada Ummu Salamah untuk melamarnya.

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡمُعۡتَبَرِ حُصُولَ الرِّضَا مِنۡهَا، فَلِحَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالىَ وَغَيۡرِهِ: (الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفۡسِهَا مِنۡ وَلِيِّهَا، وَالۡبِكۡرُ تُسۡتَأۡذَنُ فِي نَفۡسِهَا، وَإِذۡنُهَا صِمَاتُهَا). وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَعَائِشَةَ نَحۡوَهُ. وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَابۡنُ مَاجَهۡ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: (أَنَّ جَارِيَةً بِكۡرًا أَتَتۡ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَذَكَرَتۡ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ، فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ ﷺ). قَالَ الۡحَافِظُ: وَرِجَالُ إِسۡنَادِهِ ثِقَاتٌ. وَرُوِيَ نَحۡوَهُ مِنۡ حَدِيثِ جَابِرٍ. أَخۡرَجَهُ النَّسَائِيُّ، وَمِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ أَخۡرَجَهُ أَيۡضًا النَّسَائِيُّ، وَأَخۡرَجَ ابۡنُ مَاجَهۡ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ بُرَيۡدَةَ عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: (جَاءَتۡ فَتَاةٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَتۡ: إِنَّ أَبِي زَوَّجَنِى ابۡنَ أَخِيهِ لِيَرۡفَعَ بِي خَسِيسَتَهُ، قَالَ: فَجَعَلَ الۡأَمۡرَ إِلَيۡهَا، فَقَالَتۡ: قَدۡ أَجَزۡتُ مَا صَنَعَ أَبِي، وَلٰكِنۡ أَرَدۡتُ أَنۡ أُعَلِّمَ النِّسَاءَ أَنۡ لَيۡسَ إِلَى الۡآبَاءِ مِنَ الۡأَمۡرِ شَيۡءٌ)، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ. وَأَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَالنَّسَائِيُّ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ بُرَيۡدَةَ عَنۡ عَائِشَةَ.

Adapun yang dijadikan patokan adalah adanya keridaan dari si wanita, maka berdasar hadis Ibnu ‘Abbas riwayat Muslim rahimahullahu ta’ala[2] dan selain beliau, “Janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya dan perawan dimintai izin pada dirinya. Izinnya adalah diamnya.” Dan di dalam dua kitab Shahih[3] dan selain keduanya dari hadis Abu Hurairah dan ‘Aisyah[4] semisal hadis tersebut.

Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ad-Daruquthni[5] mengeluarkan hadis Ibnu ‘Abbas: Bahwa seorang wanita gadis datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia menyebutkan bahwa ayahnya menikahkannya dalam keadaan ia tidak suka. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepadanya. Al-Hafizh berkata: Periwayat-periwayat sanadnya adalah orang-orang tepercaya. Diriwayatkan semisal hadis tersebut dari hadis Jabir. Dikeluarkan oleh An-Nasa`i. Juga dari hadis ‘Aisyah yang juga dikeluarkan oleh An-Nasa`i.

Ibnu Majah[6] mengeluarkan riwayat dari ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, beliau berkata: Seorang pemudi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: Sesungguhnya ayahku menikahkanku dengan putra saudaranya untuk dapat menghilangkan kerendahannya dengan sebab diriku. Beliau berkata: Lalu Nabi menyerahkan keputusan kepada wanita tersebut. Wanita itu berkata: Aku telah menyetujui perbuatan ayahku, akan tetapi aku hanya ingin untuk mengajari para wanita bahwa para ayah tidak memiliki kewenangan dalam hal ini sedikit pun. Para rawinya adalah perawi kitab Shahih. Ahmad dan An-Nasa`i[7] juga mengeluarkan riwayat dari hadis Ibnu Buraidah dari ‘Aisyah.

وَأَمَّا اعۡتِبَارُ الۡكَفَاءَةِ، فَلِحَدِيثِ عَلِيٍّ عِنۡدَ التِّرۡمِذِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (ثَلَاثٌ لَا تُؤَخَّرُ: الصَّلَاةُ إِذَا أَتَتۡ، وَالۡجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتۡ، وَالۡأَيِمُ إِذَا وجدت لَهَا كُفۡؤًا)، وَأَخۡرَجَ الۡحَاكِمُ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (الۡعَرَبُ أَكۡفَاءٌ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ، قَبِيلَةٌ لِقَبِيلَةٍ، حَيٌّ لِحَيٍّ، وَرَجُلٌ لِرَجُلٍ، إِلَّا حَائِكٌ أَوۡ حَجَّامٌ). وَفِي إِسۡنَادِهِ رَجُلٌ مَجۡهُولٌ، وَقَالَ: أَبُو حَاتِمٍ: إِنَّهُ كَذِبٌ لَا أَصۡلَ لَهُ، وَذَكَرَ الۡحَافِظُ أَنَّهُ مَوۡضُوعٌ، وَلٰكِنۡ رَوَاهُ الۡبَزَّارُ فِي مُسۡنَدِهِ مِنۡ طَرِيقٍ أُخۡرَى عَنۡ مُعَاذِ بۡنِ جَبَلٍ رَفَعَهُ: (الۡعَرَبُ بَعۡضُهَا أَكۡفَاءٌ لِبَعۡضٍ)، وَفِيهِ سُلَيۡمَانُ بۡنُ أَبِي الۡجَوۡنِ. وَيُغۡنِي عَنۡ ذٰلِكَ مَا فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ: (خِيَارُهُمۡ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمۡ فِي الۡإِسۡلَامِ إِذَا فَقِهُوا). وَقَدۡ أَخۡرَجَ التِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي حَاتِمٍ الۡمُزَنِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا أَتَاكُمۡ مَنۡ تَرۡضَوۡنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنۡكِحُوهُ، إِنۡ لَا تَفۡعَلُوهُ تَكُنۡ فِتۡنَةٌ فِي الۡأَرۡضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ. قَالُوا: أَوۡ إِنۡ كَانَ فِيهِ؟ قَالَ: إِذَا جَاءَكُمۡ مَنۡ تَرۡضَوۡنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنۡكِحُوهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ). وَقَدۡ حَسَّنَهُ التِّرۡمِذِيُّ. وَأَخۡرَجَ الدَّارُقُطۡنِيُّ عَنۡ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ: (لَأَمۡنَعَنَّ تَزَوُّجَ ذَوَاتِ الۡأَحۡسَابِ إِلَّا مِنَ الۡأَكۡفَاءِ).

Adapun perihal sekufu, berdasarkan hadis ‘Ali riwayat At-Tirmidzi[8], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga hal yang tidak boleh ditunda: Salat ketika telah datang waktunya, pengurusan jenazah apabila jenazah sudah ada, dan nikah seorang gadis apabila didapatkan pasangan yang sekufu.” Al-Hakim mengeluarkan riwayat dari hadis Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Arab sebagian mereka sekufu dengan yang lain. Kabilah satu dengan kabilah lain, desa satu dengan desa lain, pria satu dengan pria lain, kecuali tukang tenun atau tukang bekam.” Di dalam sanadnya ada seorang yang majhul. Abu Hatim berkata: Riwayat ini dusta, tidak ada sumbernya. Al-Hafizh menyebutkan bahwa hadis ini palsu. Akan tetapi Al-Bazzar meriwayatkannya di dalam Musnadnya dari jalan lain dari Mu’adz bin Jabal dan beliau mengangkat ucapannya kepada Nabi, “Orang Arab sebagiannya sekufu dengan yang lain.” Di dalam sanadnya ada Sulaiman bin Abu Al-Jaun.

Hadis di dalam dua kitab Shahih[9] dan selainnya telah menucukupi dari hadis di atas, yaitu dari hadis Abu Hurairah, “Sebaik-baik mereka di masa jahiliah adalah sebaik-baik mereka di masa Islam, apabila mereka memahami (ajaran Islam).” At-Tirmidzi[10] mengeluarkan riwayat dari hadis Abu Hatim Al-Muzani, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ada seorang yang kalian ridai agama dan akhlaknya datang kepada kalian (untuk melamar), maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, akan ada ujian di muka bumi dan kerusakan yang besar.” Para sahabat bertanya: Walaupun ia belum mampu? Beliau bersabda, “Jika ada seorang yang kalian ridai agama dan akhlaknya datang kepada kalian, maka nikahkanlah ia” sebanyak tiga kali. At-Tirmidzi menilai hadis tersebut hasan. Ad-Daruquthni mengeluarkan riwayat dari ‘Umar bahwa beliau mengatakan, “Aku benar-benar melarang pernikahan wanita-wanita yang memiliki nasab yang mulia kecuali dengan yang sekufu.”

وَأَمَّا كَوۡنُ الصَّغِيرَةِ تُخۡطَبُ إِلَى وَلِيِّهَا، فَلِمَا فِي صَحِيحِ الۡبُخَارِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَغَيۡرِهِ عَنۡ عُرۡوَةَ (أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ خَطَبَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا إِلَى أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ).

Adapun wanita yang masih kecil dilamar kepada walinya adalah berdasarkan hadis di dalam Shahih Al-Bukhari rahimahullahu ta’ala[11] dan selainnya dari ‘Urwah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melamar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu

وَأَمَّا كَوۡنُ رِّضَا الۡبِكۡرِ صِمَاتَهَا، فَلِمَا تَقَدَّمَ مِنَ الۡأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ.

Adapun perihal rida seorang gadis adalah diamnya, maka berdasarkan hadis-hadis sahih yang telah lewat.

وَأَمَّا كَوۡنُهَا تُحۡرَمُ الۡخُطۡبَةُ فِي الۡعِدَّةِ، فَلِحَدِيثِ فَاطِمَةَ بِنۡتِ قَيۡسٍ: (أَنَّ زَوۡجَهَا طَلَّقَهَا ثَلَاثًا، فَلَمۡ يَجۡعَلۡ لَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ سُكۡنَى وَلَا نَفَقَةً، وَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِذَا حَلَلۡتِ فَآذِنِينِي فَآذَنۡتُهُ) الۡحَدِيث. وَهُوَ فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرِهِ. وَأَخۡرَجَ الۡبُخَارِيُّ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا فِي تَفۡسِيرِ قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فِيمَا عَرَّضۡتُمۡ بِهِ مِنۡ خِطۡبَةِ النِّسَاءِ﴾ [البقرة: ٢٣٥] قَالَ: (يَقُولُ إِنِّي أُرِيدُ التَّزۡوِيجَ وَلَوَدِدۡتُ أَنَّهُ يُسِرَ لِي امۡرَأَةٌ صَالِحَةٌ)، وَأَخۡرَجَ الدَّارُقُطۡنِيُّ عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَلِيٍّ الۡبَاقِرِ؛ أَنَّهُ دَخَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ وَهِيَ أَيِّمَةٌ مِنۡ أَبِي سَلَمَةَ، فَقَالَ: (لَقَدۡ عَلِمۡتِ أَنِّي رَسُولُ اللهِ وَخيرتُهُ مِنۡ خَلۡقِهِ وَمَوۡضِعِي مِنۡ قَوۡمِي وَكَانَتۡ تِلۡكَ خُطۡبَتَهُ). وَالۡحَدِيثُ مُنۡقَطِعٌ. قَالَ فِي الۡفَتۡحِ: وَاتَّفَقَ الۡعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الۡمُرَادَ بِهٰذَا الۡحُكۡمِ مَنۡ مَاتَ عَنۡهَا زَوۡجُهَا. وَاخۡتَلَفُوا فِي الۡمُعۡتَدَّةِ مِنَ الطَّلَاقِ الۡبَائِنِ، وَكَذَا مِنۡ وَقۡفِ نِكَاحِهَا. وَأَمَّا الرَّجۡعِيَّةُ؛ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ: لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنۡ يُعَرِّضَ لَهَا بِالۡخُطۡبَةِ فِيهَا، وَالۡحَاصِلُ أَنَّ التَّصۡرِيحَ بِالۡخُطۡبَةِ حَرَامٌ لِجَمِيعِ الۡمُعۡتَدَّاتِ، وَالتَّعۡرِيضُ مُبَاحٌ فِي الۡأُولَى؛ وَحَرَامٌ فِي الۡأَخِيرَةِ، مُخۡتَلَفٌ فِيهِ فِي الۡبَائِنِ.

Adapun perihal haramnya lamaran ketika masa idah adalah berdasar hadis Fathimah bintu Qais, bahwa suaminya menalak tiga dirinya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan bahwa ia tidak mendapatkan hak tempat tinggal dan nafkah lagi dari suaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Jika masa idahmu telah selesai, maka beritahu aku.” Lalu Fathimah pun memberitahu beliau. Hadis ini ada di dalam Shahih Muslim rahimahullah[12] dan selainnya. Al-Bukhari[13] mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma di dalam tafsir firman Allah taala, “meminang wanita-wanita itu dengan sindiran” (QS. Al-Baqarah: 235). Ibnu ‘Abbas mengatakan: Yaitu dia mengatakan: Sesungguhnya aku ingin untuk menikah dan aku sangat ingin dimudahkan mendapatkan seorang wanita salehah. Ad-Daruquthni[14] mengeluarkan riwayat dari Muhammad bin ‘Ali Al-Baqir; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Ummu Salamah. Ummu Salamah sudah ditinggal mati Abu Salamah. Nabi bersabda, “Sungguh engkau telah tahu bahwa aku adalah utusan Allah dan pilihan Allah dari para makhluk-Nya, serta kedudukanku di kaumku.” Dan itu adalah lamaran beliau. Namun hadis ini munqathi’. Beliau berkata di dalam Al-Fath: Para ulama bersapakat bahwa yang diinginkan dengan hukum (lamaran dengan sindiran) ini adalah wanita yang (sedang menjalani idah) ditinggal mati suaminya. Dan mereka berselisih tentang wanita yang sedang melalui masa idah karena talak bain... Adapun wanita yang sedang menjalani idah karena ditalak raj’i (masih bisa dirujuk suaminya), maka Asy-Syafi’i berkata: Tidak boleh bagi seorang pun untuk menyampaikan lamaran secara sindiran kepada wanita tersebut. Kesimpulannya bahwa lamaran secara tegas / tandas adalah haram ditujukan kepada seluruh wanita yang sedang melalui masa idah. Adapun lamaran yang berupa sindiran adalah mubah untuk wanita yang sedang menjalani idah karena ditinggal mati suaminya, haram untuk wanita yang sedang menjalani idah karena ditalak raj’i, dan diperselisihkan untuk wanita yang sedang menjalani idah talak bain.

وَأَمَّا الۡمَنۡعُ مِنۡ خُطۡبَةِ عَلَى الۡخُطۡبَةِ، فَلِحَدِيثِ عُقۡبَةَ بۡنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ الله ﷺ قَالَ: (الۡمُؤۡمِنُ أَخُو الۡمُؤۡمِنِ، فَلَا يَحِلُّ لِلۡمُؤۡمِنِ أَنۡ يَبۡتَاعَ عَلَى بَيۡعِ أَخِيهِ وَلَا يَخۡطُبَ عَلَى خُطۡبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَذَرَ)، وَهُوَ فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَغَيۡرِهِ. وَأَخۡرَجَ الۡبُخَارِيُّ وَغَيۡرُهُ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ: (لَا يَخۡطُبُ الرَّجُلُ عَلَى خُطۡبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَنۡكِحَ أَوۡ يَتۡرُكَ). وَأَخۡرَجَ أَيۡضًا مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ: (لَا يَخۡطُبُ الرَّجُلُ عَلَى خُطۡبَةِ الرَّجُلِ، حَتَّى يَتۡرُكَ الۡخَاطِبُ قَبۡلَهُ أَوۡ يَأۡذَنَ لَهُ). وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى تَحۡرِيمِ ذٰلِكَ الۡجُمۡهُورُ.

Adapun larangan lamaran di atas lamaran, maka berdasarkan hadis ‘Uqbah bin ‘Amir, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin adalah saudara orang mukmin. Sehingga, tidak halal bagi seorang mukmin untuk menjual di atas penjualan saudaranya dan tidak halal melamar di atas lamaran saudaranya, hingga saudaranya itu meninggalkan. Hadis ini ada di dalam Shahih Muslim[15] rahimahullah ta’ala dan selainnya. Al-Bukhari[16] dan selain beliau mengeluarkan riwayat dari hadis Abu Hurairah, “Seorang pria tidak boleh melamar di atas lamaran saudaranya sampai saudaranya itu menikah atau meninggalkan wanita yang dilamarnya.” Al-Bukhari[17] juga mengeluarkan riwayat dari hadis Ibnu ‘Umar, “Seorang pria tidak boleh melamar di atas lamaran orang lain hingga si pelamar sebelumnya itu meninggalkan wanita yang dilamarnya atau mengizinkannya.” Mayoritas ulama berpendapat haramnya hal itu.


[5] HR. Ahmad (1/273), Abu Dawud nomor 2096, Ibnu Majah nomor 1875, dan Ad-Daruquthni (3/234). 
[7] HR. Ahmad (6/136) dan An-Nasa`i (6/86). 
[14] (3/224). 

Shahih Muslim hadits nomor 92

٤٠ - بَابُ مَنۡ مَاتَ لَا يُشۡرِكُ بِاللهِ شَيۡئًا دَخَلَ الۡجَنَّةَ، وَمَنۡ مَاتَ مُشۡرِكًا دَخَلَ النَّارَ
40. Bab barang siapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah sedikit pun, maka dia akan masuk surga; dan barang siapa yang meninggal dalam keadaan musyrik, maka dia akan masuk neraka

١٥٠ - (٩٢) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي وَوَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ شَقِيقٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ. قَالَ وَكِيعٌ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ. وَقَالَ ابۡنُ نُمَيۡرٍ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ مَاتَ يُشۡرِكُ بِاللهِ شَيۡئًا دَخَلَ النَّارَ).
وَقُلۡتُ أَنَا: وَمَنۡ مَاتَ لَا يُشۡرِكُ بِاللهِ شَيۡئًا دَخَلَ الۡجَنَّةَ.
[البخاري: كتاب الجنائز، باب في الجنائز...، رقم: ١١٨١].
150. (92). Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku dan Waki’ menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Syaqiq, dari ‘Abdullah. Waki’ berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Ibnu Numair berkata: Aku (‘Abdullah bin Mas’ud) mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah sedikit saja, maka dia akan masuk neraka.”
Aku (‘Abdullah) mengatakan: Dan barang siapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah sedikit pun, maka dia akan masuk surga.

Shahih Muslim hadits nomor 1005

١٦ - بَابُ بَيَانِ أَنَّ اسۡمَ الصَّدَقَةِ يَقَعُ عَلَى كُلِّ نَوۡعٍ مِنَ الۡمَعۡرُوفِ
16. Bab keterangan bahwa nama sedekah bisa diberikan pada setiap jenis perbuatan baik

٥٢ - (١٠٠٥) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبَّادُ بۡنُ الۡعَوَّامِ. كِلَاهُمَا عَنۡ أَبِي مَالِكٍ الۡأَشۡجَعِيِّ، عَنۡ رِبۡعِيِّ بۡنِ حِرَاشٍ، عَنۡ حُذَيۡفَةَ، - فِي حَدِيثِ قُتَيۡبَةَ: قَالَ: قَالَ نَبِيُّكُمۡ ﷺ. وَقَالَ ابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: عَنِ النَّبِيِّ ﷺ - قَالَ: (كُلُّ مَعۡرُوفٍ صَدَقَةٌ).
52. (1005). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Abbad bin Al-‘Awwam menceritakan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Abu Malik Al-Asyja’i, dari Rib’i bin Hirasy, dari Hudzaifah, -di dalam hadis Qutaibah: Hudzaifah berkata: Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Ibnu Abu Syaibah berkata: Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda, “Setiap perbuatan baik adalah sedekah.”

Shahih Muslim hadits nomor 816

٢٦٨ - (٨١٦) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ، عَنۡ قَيۡسٍ. قَالَ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡعُودٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي وَمُحَمَّدُ بۡنُ بِشۡرٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ، عَنۡ قَيۡسٍ. قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ مَسۡعُودٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثۡنَتَيۡنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا، فَسَلَّطَهُ عَلَىٰ هَلَكَتِهِ فِي الۡحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ حِكۡمَةً، فَهُوَ يَقۡضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا).
268. (816). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Isma’il, dari Qais. Beliau berkata: ‘Abdullah bin Mas’ud mengatakan. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku dan Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Isma’il menceritakan kepada kami dari Qais. Beliau berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Mas’ud mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal: seseorang yang diberi harta oleh Allah, lalu dia habiskan dalam jalan kebenaran; dan seseorang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Allah, lalu dia menetapkan hukum dengannya dan mengajarkannya.”

Berlomba-lomba dalam Kebaikan

Allah Ta'ala telah memberikan berbagai nikmat-Nya kepada kita semua yang tentunya harus kita syukuri dengan cara: yang pertama, kita meyakini dalam hati bahwa nikmat-nikmat tersebut datangnya dari Allah semata, yang merupakan karunia-Nya yang diberikan kepada kita; yang kedua, mengucapkan rasa syukur kepada-Nya melalui lisan-lisan kita dengan cara memuji-Nya; dan yang ketiga, mempergunakannya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

Di antara nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah harta dan sehatnya anggota badan seperti lisan, tangan, kaki dan lainnya. Semua nikmat itu harus kita gunakan untuk ketaatan kepada Allah dengan cara menginfakkan harta yang kita miliki di jalan kebenaran, membiasakan lisan kita untuk senantiasa berdzikir kepada-Nya dengan dzikir-dzikir yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam haditsnya yang shahih, mengucapkan ucapan yang baik, beramar ma'ruf nahi munkar dan sebagainya.

Kalaulah kita belum mampu secara maksimal melakukan ketaatan kepada Allah dengan harta maka bukan berarti pintu ketaatan tertutup bagi kita, bahkan masih banyak pintu ketaatan lainnya yang Allah syari'atkan untuk kita, seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut ini:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه: أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ قَالُوْا لِلنَّبِيِّ : يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالأُجُوْرِ، يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ: ((أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُوْنَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِمَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ)) قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ، وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟! قَالَ: ((أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ لَوْ وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ))
Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu: bahwa segolongan shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala-pahala, mereka shalat sebagaimana kami pun shalat, mereka puasa sebagaimana kami pun puasa, tetapi mereka bisa bershadaqah dengan kelebihan harta mereka." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang bisa kalian shadaqahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah dan setiap tahlil adalah shadaqah; amar ma'ruf (menyuruh kepada kebaikan) adalah shadaqah, nahi munkar (mencegah dari kemunkaran) adalah shadaqah dan (bahkan) pada kemaluan salah seorang dari kalian terdapat shadaqah." Mereka bertanya: "Ya Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami yang menumpahkan syahwatnya itu memperoleh pahala?" Beliau bersabda: "Apa pendapat kalian, seandainya dia meletakkannya pada yang haram, bukankah dia memperoleh dosa? Maka demikian juga, seandainya dia meletakkannya pada yang halal maka dia memperoleh pahala." (HR. Muslim no.1006)

Kedudukan Hadits Ini


Hadits ini mempunyai kedudukan yang begitu penting, karena mengandung beberapa perkara yang penting, di antaranya:
  1. Tempat untuk berlomba-lomba (dalam kebaikan)
  2. Banyaknya jalan kebaikan, sehingga seandainya seorang hamba lemah (tidak mampu) pada sebagiannya maka dia mampu pada bagian yang lainnya.
  3. Perkara-perkara yang mubah akan menjadi amalan qurbah (pendekatan diri kepada Allah) dengan adanya niat yang baik.
  4. Bolehnya qiyas (yaitu qiyaasul 'aks)

Tempat Para Salaf Berlomba-lomba


Diambil faidah dari hadits ini, bahwasanya para salaf berlomba-lomba dan bersemangat terhadap amalan-amalan yang dapat mendekatkan dan mengangkat derajat mereka di sisi Allah. Karena itulah para shahabat yang miskin mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menjelaskan kepada beliau bahwa saudara-saudara mereka dari kalangan para pedagang telah mendahului mereka dengan membawa pahala-pahala dan derajat-derajat yang tinggi, karena mereka mempunyai kelebihan dari sisi harta, sehingga mereka bisa melaksanakan haji, 'umrah, bershadaqah dan berjihad, sedangkan mereka (para shahabat yang miskin) tidak mampu melakukan semuanya itu, maka bagaimana caranya supaya bisa sama seperti mereka, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka sebagaimana terdapat di dalam hadits tersebut.

Inilah tempat para salaf y berlomba-lomba, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
{وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَ}
"Dan untuk yang demikian itu hendaklah orang berlomba-lomba." (At-Takwiir:26)

Inilah yang menyebabkan mereka mendapatkan pujian Allah dan Rasul-Nya, mendapatkan kemenangan dan kemuliaan di dunia dan akhirat. Ada salah seorang di antara mereka dalam keadaan ma'dzur (diberikan 'udzur) dari suatu amalan dan diberikan keringanan untuknya, lalu dia datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dalam keadaan menangis karena dia tidak mampu melaksanakan amalan tersebut, sebagaimana telah Allah khabarkan kepada kita tentang mereka pada saat keluarnya Rasulullah menuju jihad, Allah berfirman:
وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَآ أَجِدُ مَآ أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا۟ وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا۟ مَا يُنفِقُونَ
"Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu", lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan (untuk berjihad fii sabiilillaah)." (At-Taubah:92)

Tercelanya Berlomba-lomba dalam Dunia


Adapun berlomba-lomba dalam perkara-perkara dunia maka itu tercela, dan apabila seorang hamba melampaui batas dengannya, hal ini akan menjadi sebab kebinasaan/kehancuran mereka dan kelemahannya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
((فَأَبْشِرُوْا وَأَمِّلُوْا مَا يَسُرُّكُمْ فَوَاللّٰهِ ! مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ))
"Bergembiralah kalian dan berharaplah terhadap apa-apa yang menggembirakan kalian, maka demi Allah! Bukanlah kefakiran (kemiskinan) yang aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan atas kalian adalah akan dibentangkannya dunia atas kalian sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba maka hal itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka." (HR. Al-Bukhariy no.3158 dan Muslim no.2961-lafazh hadits milik Muslim- dari 'Amr bin 'Auf radhiyallahu 'anhu)

Al-Ghibthah


Yaitu seorang hamba berangan-angan ingin seperti keadaan orang yang dia ingini tersebut tanpa berangan-angan hilangnya nikmat tersebut darinya. Ini disyari'atkan dan secara khusus dalam perkara-perkara akhirat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
((لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً، فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً، فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا))
"Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang: seseorang yang Allah berikan harta kepadanya lalu dia belanjakan sampai habisnya di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) kepadanya lalu dia menentukan (berhukum) dengannya dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhariy no.73 dan Muslim no.816 -lafazh hadits milik Muslim- dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu)

Maka dapat diambil faidah dari hadits ini bahwasanya para shahabat menerjemahkan apa yang mereka pelajari dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada amalan, maka orang-orang yang miskin dari mereka berghibthah kepada orang-orang kaya dan mereka menginginkan agar seperti mereka dalam bershadaqah, haji, 'umrah dan jihad fii sabiilillaah, karena itulah mereka berkata: "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi membawa pahala-pahala, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, tetapi mereka dapat bershadaqah dengan kelebihan harta mereka."

Setiap yang Ma'ruf adalah Shadaqah


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
((كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ))
"Setiap yang ma'ruf adalah shadaqah." (HR. Al-Bukhariy no.6021 dari Jabir radhiyallahu 'anhu dan Muslim no.1005 dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu)

Maka shadaqah digunakan untuk semua macam-macam yang ma'ruf dan kebaikan, sampai keutamaan Allah pun yang diberikan kepada para hamba-Nya merupakan shadaqah dari-Nya untuk mereka.

Telah tersembunyi makna yang luas ini yang dimiliki shadaqah oleh para shahabat yang miskin, lalu mereka datang kepada kekasih mereka, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka bertanya kepada beliau tentang caranya supaya sama dengan orang-orang yang kaya, yang telah mendahului mereka dengan pahala-pahala dan derajat-derajat yang tinggi, maka Rasulullah bersabda kepada mereka: "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang bisa kalian shadaqahkan?" Kemudian beliau menyebutkan untuk mereka, di antaranya:

1. Al-Baaqiyaatush Shaalihaat

Allah Ta'ala berfirman:
وَٱلْبَـٰقِيَـٰتُ ٱلصَّـٰلِحَـٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
"Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Al-Kahfi:46)

Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa Al-Baaqiyaatush Shaalihaat adalah subhaanallaah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar (yaitu dzikir-dzikir yang disebutkan dalam hadits di atas -pent).

2. Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "dan amar ma'ruf adalah shadaqah, nahi munkar adalah shadaqah". Jenis ini termasuk shadaqah yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah kepada para shahabat yang miskin, pada amar ma'ruf nahi munkar tersebut terdapat perbuatan baik kepada makhluk maka jadilah shadaqah atas mereka, dan kadang-kadang menjadi lebih utama daripada shadaqah dengan harta, dan bagaimana tidak menjadi lebih utama sementara Allah telah berfirman:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ
"Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (Aali 'Imraan:110)

3. Pada Kemaluan Salah Seorang di Antara Kalian Terdapat Shadaqah

Dalam hadits di atas disebutkan kata al-budh'u yang bisa diartikan jima' dan bisa juga diartikan kemaluan itu sendiri.

Zhahirnya hadits menunjukkan bahwasanya dia akan diberi pahala pada jima'nya dengan istrinya walaupun tanpa niat, sekelompok ahlul ilmi berpendapat dengan pendapat ini. Akan tetapi yang benar bahwasanya hadits ini terikat dengan (keharusan adanya) ikhlashnya niat karena Allah 'azza wa jalla, yang demikian itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
((إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ))
"Sesungguhnya kamu tidaklah menafkahkan suatu nafaqah (pembelanjaan) yang kamu mengharapkan dengannya Wajah Allah kecuali kamu akan diberi pahala atasnya, sampai apa-apa yang kamu berikan pada mulut istrimu." (HR. Al-Bukhariy no.56 dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu)

Maka selayaknya bagi seorang hamba agar memaksudkan dengan jima'nya itu untuk menjaga dirinya dan istrinya dari zina dan apa-apa yang mengantarkan kepadanya atau dalam rangka menunaikan hak istri dengan pergaulan yang baik atau menginginkan anak yang shalih yang beribadah kepada Allah 'azza wa jalla atau niat-niat baik lainnya, hingga jadilah jima'nya dengan istrinya tersebut sebagai shadaqah.

Hadits ini sebagai dalil bagi yang berpendapat: "Bahwasanya perkara-perkara yang mubah akan menjadi ketaatan-ketaatan dengan adanya niat." (Lihat Syarh Muslim 3/44)

4. Bolehnya Qiyas (yaitu Qiyaasul 'Aks)

Disebutkan dalam hadits di atas: "Para shahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami yang menumpahkan syahwatnya itu memperoleh pahala?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bagaimana pendapat kalian, seandainya dia meletakkannya pada yang haram, bukankah dia memperoleh dosa? Maka demikian juga apabila dia meletakkannya pada yang halal maka dia memperoleh pahala."

Berkata An-Nawawiy: "Padanya terdapat bolehnya qiyas dan ini merupakan madzhabnya para 'ulama secara keseluruhan dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali ahli zhahir." (Syarh Muslim 3/44)

Al-Imam Asy-Syafi'i atau Al-Imam Ahmad ketika ditanya tentang qiyas, beliau menjawab: "Kita menggunakan qiyas ketika darurat sebagaimana kita memakan bangkai ketika dalam keadaan darurat."

Qiyas menduduki tingkatan keempat dari hujjah-hujjah syar'iyyah setelah Al-Kitab, As-Sunnah dan Ijma', dan jenis qiyas yang terdapat dalam hadits ini dinamakan oleh 'ulama ushuliyyin: qiyaasul 'aks, yaitu menetapkan kebalikan dari hukum sesuatu karena adanya kebalikannya dalam sebabnya.

Di antara contohnya, terdapat dalam hadits dari 'Abdullah (bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu), dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah sedikit saja maka dia masuk neraka." Maka saya katakan: "Dan barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah sedikitpun maka dia masuk surga." (HR. Al-Bukhariy no.1238 dan Muslim no.92)

Faidah-faidah dari Hadits Ini:

  1. Hendaknya suatu ucapan ditopang dengan dalil ketika menyebarkan ilmu, karena sesungguhnya hal ini akan membantu diterimanya kebenaran dan lebih memantapkan/mengkokohkan baginya pada hati-hati para mukallaf (orang-orang yang terbebani syari'at), maka wajib atas para 'ulama agar tidak menyempitkan dada mereka ketika mereka menanyakan tentang dalilnya, dan pertanyaan tentang dalil bukan dari kategori menggoyahkan kepercayaan terhadap para 'ulama.
  2. Anjuran bahkan diperintahkan mempergauli istri dengan baik dan sesungguhnya berbuat baik kepadanya termasuk qurbah yang seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabbnya 'azza wa jalla dengan amalan tersebut.
  3. Menggunakan hikmah seperti yang dicontohkan dalam hadits ini untuk mengobati berbagai perkara.
  4. Dalam hadits ini terdapat keutamaan perkumpulannya para shahabat yang bersemangat terhadap amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah 'azza wa jalla.
  5. Pada hadits ini terdapat keutamaan orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang sabar.

Wallaahu A'lam. Diringkas dari kitab Qawaa'id wa Fawaa`id minal Arba'iin An-Nawawiyyah hal.222-228 dengan beberapa perubahan dan tambahan.

Sumber: Buletin Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-42 Tahun ke-2 / 10 September 2004 M / 25 Rajab 1425 H.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1238

١٢٣٨ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَفۡصٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ: حَدَّثَنَا شَقِيقٌ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ مَاتَ يُشۡرِكُ بِاللهِ شَيۡئًا دَخَلَ النَّارَ). وَقُلۡتُ أَنَا: مَنۡ مَاتَ لَا يُشۡرِكُ بِاللهِ شَيۡئًا دَخَلَ الۡجَنَّةَ.
[الحديث ١٢٣٨ – طرفاه في: ٤٤٩٧، ٦٦٨٣].
1238. ‘Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami: Syaqiq menceritakan kepada kami, dari ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang meninggal dalam keadaan menyekutukan apa pun dengan Allah, maka ia akan masuk neraka.” Aku (‘Abdullah) mengatakan: Siapa saja yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan apa pun dengan Allah, maka ia akan masuk surga.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 56

٥٦ - حَدَّثَنَا الۡحَكَمُ بۡنُ نَافِعٍ قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي عَامِرُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ، أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّكَ لَنۡ تُنۡفِقَ نَفَقَةً تَبۡتَغِي بِهَا وَجۡهَ اللهِ إِلَّا أُجِرۡتَ عَلَيۡهَا، حَتَّى مَا تَجۡعَلُ فِي فِي امۡرَأَتِكَ).
[الحديث ٥٦ – أطرافه في: ١٢٩٥، ٢٧٤٢، ٢٧٤٤، ٣٩٣٦، ٤٤٠٩، ٥٣٥٤، ٥٦٥٩، ٥٦٦٨، ٦٣٧٣، ٦٧٣٣].
56. Al-Hakam bin Nafi’ telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, beliau berkata: ‘Amir bin Sa’d menceritakan kepadaku, dari Sa’d bin Abu Waqqash, bahwa beliau mengabarkan kepadanya: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan satu nafkah pun yang engkau harapkan wajah Allah dengannya kecuali engkau akan diberi ganjarannya, sampaipun apa saja yang engkau letakkan di mulut istrimu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6021

٣٣ - بَابٌ كُلُّ مَعۡرُوفٍ صَدَقَةٌ
33. Bab setiap perbuatan baik adalah sedekah

٦٠٢١ - حَدَّثَنَا عَلِىُّ بۡنُ عَيَّاشٍ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ قَالَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُنۡكَدِرِ عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (كُلُّ مَعۡرُوفٍ صَدَقَةٌ).
6021. ‘Ali bin ‘Ayyasy telah menceritakan kepada kami: Abu Ghassan menceritakan kepada kami, beliau berkata: Muhammad bin Al-Munkadir menceritakan kepadaku dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Setiap perbuatan baik adalah sedekah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 73

١٦ - بَابُ الۡاِغۡتِبَاطِ فِي الۡعِلۡمِ وَالۡحِكۡمَةِ
16. Bab bergibtah dalam hal ilmu dan hikmah

وَقَالَ عُمَرُ: تَفَقَّهُوا قَبۡلَ أَنۡ تُسَوَّدُوا. وَقَدۡ تَعَلَّمَ أَصۡحَابُ النَّبِيّ ﷺ فِي كِبَرِ سِنِّهِم.
‘Umar mengatakan: Pahamilah ilmu agama sebelum kalian dijadikan pemimpin. Sungguh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih belajar ketika usia mereka telah senja.
٧٣ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ قَالَ: حَدَّثَنِي إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ أَبِي خَالِدٍ عَلَى غَيۡرِ مَا حَدَّثَنَاهُ الزُّهۡرِيُّ قَالَ: سَمِعۡتُ قَيۡسَ بۡنَ أَبِي حَازِمٍ قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ مَسۡعُودٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثۡنَتَيۡنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الۡحَقِّ، وَرَجُلٍ آتَاهُ اللهُ الۡحِكۡمَةَ فَهُوَ يَقۡضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا). [الحديث ٧٣ - أطرافه في: ١٤٠٩، ٧١٤١، ٧٣١٦].
73. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, beliau berkata: Isma’il bin Abu Khalid menceritakan kepadaku berbeda dengan yang diceritakan Az-Zuhri kepada kami, beliau berkata: Aku mendengar Qais bin Abu Hazim berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Mas’ud mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua hal: seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu dihabiskan dalam jalan kebenaran dan seseorang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Allah lalu ia menetapkan hukum dengannya dan mengajarkannya.”

Shahih Muslim hadits nomor 2961

٦ - (٢٩٦١) - حَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، يَعۡنِي ابۡنَ حَرۡمَلَةَ بۡنِ عِمۡرَانَ التُّجِيبِيَّ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، أَنَّ الۡمِسۡوَرَ بۡنَ مَخۡرَمَةَ أَخۡبَرَهُ، أَنَّ عَمۡرَو بۡنَ عَوۡفٍ، وَهُوَ حَلِيفُ بَنِي عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍّ، وَكَانَ شَهِدَ بَدۡرًا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، أَخۡبَرَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ بَعَثَ أَبَا عُبَيۡدَةَ بۡنَ الۡجَرَّاحِ إِلَى الۡبَحۡرَيۡنِ، يَأۡتِي بِجِزۡيَتِهَا. وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ هُوَ صَالَحَ أَهۡلَ الۡبَحۡرَيۡنِ، وَأَمَّرَ عَلَيۡهِمُ الۡعَلَاءَ بۡنَ الۡحَضۡرَمِيِّ. فَقَدِمَ أَبُو عُبَيۡدَةَ بِمَالٍ مِنَ الۡبَحۡرَيۡنِ، فَسَمِعَتِ الۡأَنۡصَارُ بِقُدُومِ أَبِي عُبَيۡدَةَ. فَوَافَوۡا صَلَاةَ الۡفَجۡرِ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَلَمَّا صَلَّىٰ رَسُولُ اللهِ ﷺ انۡصَرَفَ، فَتَعَرَّضُوا لَهُ. فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ رَآهُمۡ. ثُمَّ قَالَ: (أَظُنُّكُمۡ سَمِعۡتُمۡ أَنَّ أَبَا عُبَيۡدَةَ قَدِمَ بِشَيۡءٍ مِنَ الۡبَحۡرَيۡنِ؟) فَقَالُوا: أَجَلۡ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: (فَأَبۡشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمۡ فَوَاللّٰهِ، مَا الۡفَقۡرَ أَخۡشَىٰ عَلَيۡكُمۡ. وَلَكِنِّي أَخۡشَىٰ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ تُبۡسَطَ الدُّنۡيَا عَلَيۡكُمۡ كَمَا بُسِطَتۡ عَلَىٰ مَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ. فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا. وَتُهۡلِكَكُمۡ كَمَا أَهۡلَكَتۡهُمۡ).
6. (2961). Harmalah bin Yahya bin ‘Abdullah bin Harmalah bin ‘Imran At-Tujibi telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwa Al-Miswar bin Makhramah mengabarkan kepada beliau, bahwa ‘Amr bin ‘Auf –beliau adalah sekutu Bani ‘Amir bin Luai dan mengikuti perang Badr bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan kepada beliau, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah ke Bahrain untuk mengambil upetinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima perjanjian damai dari penduduk Bahrain dan mengangkat Al-‘Ala` bin Al-Hadhrami sebagai pemimpin mereka. Abu ‘Ubaidah tiba membawa harta dari Bahrain sehingga orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah. Mereka pun menghadiri salat Subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah salat, beliau berbalik, ternyata mereka menampakkan diri di hadapan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum ketika melihat mereka. Kemudian beliau bersabda, “Aku mengira kalian telah mendengar bahwa Abu ‘Ubaidah tiba membawa sesuatu dari Bahrain.” Mereka berkata: Betul wahai Rasulullah. Beliau bersabda, “Bergembiralah dan berharaplah terhadap sesuatu yang membahagiakan kalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan pada diri kalian. Akan tetapi, aku mengkhawatirkan dunia akan dibentangkan untuk kalian sebagaimana dunia telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian akan berlomba-lomba mencari dunia sebagaimana mereka telah berlomba-lomba. Lalu hal itu akan membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”
(...) - حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡحُلۡوَانِيُّ وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ. جَمِيعًا عَنۡ يَعۡقُوبَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ سَعۡدٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ صَالِحٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الدَّارِمِيُّ: أَخۡبَرَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ. كِلَاهُمَا عَنِ الزُّهۡرِيِّ. بِإِسۡنَادِ يُونُسَ وَمِثۡلِ حَدِيثِهِ.
غَيۡرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ صَالِحٍ: (وَتُلۡهِيَكُمۡ كَمَا أَلۡهَتۡهُمۡ).
Al-Hasan bin ‘Ali Al-Hulwani dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d: Ayahku menceritakan kepada kami, dari Shalih. (Dalam riwayat lain) ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ad-Darimi telah menceritakan kepada kami: Abu Al-Yaman mengabarkan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Az-Zuhri. Sesuai sanad Yunus dan semisal hadisnya.
Hanya saja di dalam hadis Shalih, “Lalu hal itu akan melalaikan kalian sebagaimana telah melalaikan mereka.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3158

٣١٥٨ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، عَنِ الۡمِسۡوَرِ بۡنِ مَخۡرَمَةَ أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ عَمۡرَو بۡنَ عَوۡفٍ الۡأَنۡصَارِيَّ، وَهُوَ حَلِيفٌ لِبَنِي عَامِرِ بۡنِ لُؤَىٍّ، وَكَانَ شَهِدَ بَدۡرًا، أَخۡبَرَهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ بَعَثَ أَبَا عُبَيۡدَةَ بۡنَ الۡجَرَّاحِ إِلَى الۡبَحۡرَيۡنِ يَأۡتِي بِجِزۡيَتِهَا، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ هُوَ صَالَحَ أَهۡلَ الۡبَحۡرَيۡنِ وَأَمَّرَ عَلَيۡهِمُ الۡعَلَاءَ بۡنَ الۡحَضۡرَمِيِّ، فَقَدِمَ أَبُو عُبَيۡدَةَ بِمَالٍ مِنَ الۡبَحۡرَيۡنِ، فَسَمِعَتِ الۡأَنۡصَارُ بِقُدُومِ أَبِي عُبَيۡدَةَ فَوَافَتۡ صَلَاةَ الصُّبۡحِ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمَّا صَلَّى بِهِمِ الۡفَجۡرَ انۡصَرَفَ، فَتَعَرَّضُوا لَهُ، فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ رَآهُمۡ، وَقَالَ: (أَظُنُّكُمۡ قَدۡ سَمِعۡتُمۡ أَنَّ أَبَا عُبَيۡدَةَ قَدۡ جَاءَ بِشَىۡءٍ). قَالُوا: أَجَلۡ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (فَأَبۡشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمۡ، فَوَاللّٰهِ لَا الۡفَقۡرَ أَخۡشَى عَلَيۡكُمۡ، وَلَكِنۡ أَخۡشَى عَلَيۡكُمۡ أَنۡ تُبۡسَطَ عَلَيۡكُمُ الدُّنۡيَا، كَمَا بُسِطَتۡ عَلَى مَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهۡلِكَكُمۡ كَمَا أَهۡلَكَتۡهُمۡ). [الحديث ٣١٥٨ – طرفاه في: ٤٠١٥، ٦٤٢٥].
3158. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, beliau berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair menceritakan kepadaku, dari Al-Miswar bin Makhramah, bahwa beliau mengabarkan kepadanya: Bahwa ‘Amr bin ‘Auf Al-Anshari, beliau dahulu adalah sekutu Bani ‘Amir bin Luai dan beliau mengikuti perang Badr, mengabarkan kepadanya: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengutus Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah ke Bahrain untuk mengambil upeti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima perjanjian damai dengan penduduk Bahrain dan menjadikan Al-‘Ala` bin Al-Hadhrami sebagai pemimpin mereka. Abu ‘Ubaidah datang membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah sehingga mereka menghadiri salat Subuh bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau telah salat Subuh mengimami mereka, beliau berpaling. Orang-orang Ansar menampakkan diri di hadapan beliau. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam tersenyum ketika melihat mereka dan bersabda, “Aku mengira kalian telah mendengar bahwa Abu ‘Ubaidah telah datang membawa sesuatu.” Mereka berkata: Betul wahai Rasulullah. Nabi bersabda, “Bergembira dan harapkanlah apa yang membahagiakan kalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan pada kalian. Tetapi aku mengkhawatirkan dunia akan dibentangkan untuk kalian sebagaimana dunia telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mencari dunia sebagaimana mereka telah berlomba-lomba sehingga hal itu membuat kalian binasa sebagaimana telah membuat mereka binasa.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 10

٤ - بَابٌ الۡمُسۡلِمُ مَنۡ سَلِمَ الۡمُسۡلِمُونَ مِنۡ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
4. Bab seorang muslim adalah siapa saja yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya

١٠ - حَدَّثَنَا آدَمُ بۡنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي السَّفَرِ وَإِسۡمَاعِيلَ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡمُسۡلِمُ مَنۡ سَلِمَ الۡمُسۡلِمُونَ مِنۡ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالۡمُهَاجِرُ مَنۡ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ).
قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: وَقَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ: حَدَّثَنَا دَاوُدُ، عَنۡ عَامِرٍ قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَقَالَ عَبۡدُ الۡأَعۡلَى: عَنۡ دَاوُدَ، عَنۡ عَامِرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. [الحديث ١٠ – طرفه في: ٦٤٨٤].
10. Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari ‘Abdullah bin Abu As-Safar dan Isma’il, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang muslim adalah barang siapa yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah barang siapa yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.”
Abu ‘Abdullah berkata: Abu Mu’awiyah berkata: Dawud menceritakan kepada kami, dari ‘Amir, beliau berkata: Aku mendengar ‘Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Abdul A’la berkata: Dari Dawud, dari ‘Amir, dari ‘Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2117

٢١١٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يَحۡيَى بۡنِ فَارِسٍ الذُّهۡلِيُّ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَعُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ، قَالَ مُحَمَّدٌ: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَصۡبَغِ الۡجَزَرِيُّ عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ يَحۡيَى، أنا مُحَمَّدُ بۡنُ سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي عَبۡدِ الرَّحِيمِ خَالِدِ بۡنِ أَبِي يَزِيدَ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَبِي أُنَيۡسَةَ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنۡ مَرۡثَدِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ عُقۡبَةَ بۡنِ عَامِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِرَجُلٍ: (أَتَرۡضَى أَنۡ أُزَوِّجَكَ فُلَانَةً؟) قَالَ: نَعَمۡ، وَقَالَ لِلۡمَرۡأَةِ: (أَتَرۡضَيۡنَ أَنۡ أُزَوِّجَكِ فُلَانًا؟) قَالَتۡ: نَعَمۡ، فَزَوَّجَ أَحَدَهُمَا صَاحِبَهُ، فَدَخَلَ بِهَا الرَّجُلُ، وَلَمۡ يَفۡرِضۡ لَهَا صَدَاقًا، وَلَمۡ يُعۡطِهَا شَيۡئًا، وَكَانَ مِمَّنۡ شَهِدَ الۡحُدَيۡبِيَةَ، وَكَانَ مَنۡ شَهِدَ الۡحُدَيۡبِيَةَ لَهُ سَهۡمٌ بِخَيۡبَرَ. فَلَمَّا حَضَرَتۡهُ الۡوَفَاةُ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ زَوَّجَنِي فُلَانَةً، وَلَمۡ أَفۡرِضۡ لَهَا صَدَاقًا، وَلَمۡ أُعۡطِهَا شَيۡئًا، وَإِنِّي أُشۡهِدُكُمۡ أَنِّي أَعۡطَيۡتُهَا مِنۡ صَدَاقِهَا سَهۡمِي بِخَيۡبَرَ، فَأَخَذَتۡ سَهۡمًا فَبَاعَتۡهُ بِمِائَةِ أَلۡفٍ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَزَادَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ، وَحَدِيثُهُ أَتَمُّ فِي أَوَّلِ الۡحَدِيثِ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (خَيۡرُ النِّكَاحِ أَيۡسَرُهُ) وَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِلرَّجُلِ، ثُمَّ سَاقَ مَعۡنَاهُ قَالَ أَبُو دَاوُدَ: يُخَافُ أَنۡ يَكُونَ هَٰذَا الۡحَدِيثُ مُلۡزَقًا، لِأَنَّ الۡأَمۡرَ عَلَى غَيۡرِ هَٰذَا.
2117. Muhammad bin Yahya bin Faris Adz-Dzuhli, Muhammad bin Al-Mutsanna, dan ‘Umar bin Al-Khaththab telah menceritakan kepada kami. Muhammad berkata: Abu Al-Ashbagh Al-Jazari ‘Abdul ‘Aziz bin Yahya menceritakan kepada kami: Muhammad bin Salamah memberitakan kepada kami, dari Abu ‘Abdurrahim Khalid bin Abu Yazid, dari Zaid bin Abu Unaisah, dari Yazid bin Abu Habib, dari Martsad bin ‘Abdullah, dari ‘Uqbah bin ‘Amir, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang pria, “Apakah engkau rida aku nikahkan engkau dengan Fulanah?” Pria itu menjawab: Iya. Nabi bertanya kepada si wanita, “Apakah engkau rida aku nikahkan engkau dengan Fulan?” Wanita itu menjawab: Iya. Maka, Nabi pun menikahkan keduanya. Si pria menggauli wanita itu dalam keadaan belum menentukan mahar dan belum memberi apa-apa kepada wanita itu. Pria itu termasuk yang mengikuti Hudaibiyah dan siapa saja yang mengikuti Hudaibiyah, memiliki jatah tanah di Khaibar. Ketika menjelang wafatnya, pria itu berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahkanku dengan Fulanah, namun aku belum menentukan mahar dan belum memberikan apa-apa kepada istriku. Aku mempersaksikan kepada kalian bahwa aku memberikan jatah tanahku di Khaibar kepada istriku sebagai maharnya. Maka, istrinya mengambil jatah dan menjualnya seharga seratus ribu. Abu Dawud berkata: ‘Umar bin Al-Khaththab menambahkan dan hadisnya lebih lengkap di bagian awal hadis: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik pernikahan adalah yang termudah.” Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang pria, kemudian beliau mengisahkan semakna hadis itu. Abu Dawud berkata: Ditakutkan tambahan hadis ini disisipkan karena kejadiannya tidak sesuai dengan (tambahan hadis) ini.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2083

٢٠ - بَابٌ فِي الۡوَلِيِّ
20. Bab tentang wali

٢٠٨٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ كَثِيرٍ، أنا سُفۡيَانُ، حَدَّثَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ بۡنِ مُوسَى، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَيُّمَا امۡرَأَةٍ نَكَحَتۡ بِغَيۡرِ إِذۡنِ مَوَالِيهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ) ثَلَاثَ مَرَّاتٍ (فَإِنۡ دَخَلَ بِهَا فَالۡمَهۡرُ لَهَا بِمَا أَصَابَ مِنۡهَا، فَإِنۡ تَشَاجَرُوا فَالسُّلۡطَانُ وَلِيُّ مَنۡ لَا وَلِيَّ لَهُ).
2083. Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami: Sufyan memberitakan kepada kami: Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, dari Sulaiman bin Musa, dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita mana saja yang menikah tanpa seizin wali-walinya, maka nikahnya batil.” Sebanyak tiga kali. “Jika si pria sudah menggaulinya, maka dia berhak mendapatkan mahar dengan sebab ia menggaulinya. Jika mereka saling berselisih, maka penguasa adalah wali bagi siapa saja yang tidak memiliki wali.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2085

٢٠٨٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ قُدَامَةَ بۡنِ أَعۡيَنَ، نا أَبُو عُبَيۡدَةَ الۡحَدَّادُ، عَنۡ يُونُسَ وَإِسۡرَائِيلَ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ). قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَهُوَ: يُونُسُ عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، وَإِسۡرَائِيلُ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ.
2085. Muhammad bin Qudamah bin A’yan telah menceritakan kepada kami, Abu ‘Ubaidah Al-Haddad menceritakan kepada kami, dari Yunus dan Israil, dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada nikah kecuali dengan wali.” Abu Dawud berkata: Maksudnya: Yunus dari Abu Burdah; dan Israil dari Abu Ishaq dari Abu Burdah.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 1103

١٦ - بَابُ مَا جَاءَ لَا نِكَاحَ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ
16. Bab tentang tidak ada nikah kecuali dengan bukti

١١٠٣ – (ضعيف) حَدَّثَنَا يُوسُفُ بۡنُ حَمَّادٍ الۡبَصۡرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَى، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (الۡبَغَايَا اللَّاتِي يُنۡكِحۡنَ أَنۡفُسَهُنَّ بِغَيۡرِ بَيِّنَةٍ). قَالَ يُوسُفُ بۡنُ حَمَّادٍ: رَفَعَ عَبۡدُ الۡأَعۡلَى هَٰذَا الۡحَدِيثَ فِي التَّفۡسِيرِ، وَأَوۡقَفَهُ فِي كِتَابِ الطَّلَاقِ، وَلَمۡ يَرۡفَعۡهُ. [(الإرواء)(١٨٦٢)].
1103. Yusuf bin Hammad Al-Bashri telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdul A’la menceritakan kepada kami, dari Sa’id, dari Qatadah, dari Jabir bin Zaid, dari Ibnu ‘Abbas; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perempuan-perempuan jalang adalah wanita yang menikahkan diri-diri mereka tanpa ada bukti.” Yusuf bin Hammad berkata: ‘Abdul A’la meneruskan hadis ini sampai kepada Nabi dalam kitab Tafsir dan beliau tidak meneruskannya dalam kitab Talak.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 1102

١٥ – بَابٌ
15. Bab

١١٠٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عُمَرَ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ بۡنِ مُوسَى، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ، قَالَ: (أَيُّمَا امۡرَأَةٍ نَكَحَتۡ بِغَيۡرِ إِذۡنِ وَلِيِّهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَإِنۡ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الۡمَهۡرُ بِمَا اسۡتَحَلَّ مِنۡ فَرۡجِهَا، فَإِنۡ اشۡتَجَرُوا فَالسُّلۡطَانُ وَلِيُّ مَنۡ لَا وَلِيَّ لَهُ). هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ.
1102. Ibnu Abu ‘Umar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Sulaiman bin Musa, dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil. Jika si pria sudah menggaulinya, maka si wanita berhak mendapatkan mahar dengan sebab ia menghalalkan kemaluannya. Jika mereka berselisih, maka penguasa adalah wali bagi siapa saja yang tidak memiliki wali.” Ini adalah hadis hasan.
وَقَدۡ رَوَى يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَنۡصَارِيُّ، وَيَحۡيَى بۡنُ أَيُّوبَ، وَسُفۡيَانُ الثَّوۡرِيُّ، وَغَيۡرُ وَاحِدٍ مِنَ الۡحُفَّاظِ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، نَحۡوَ هَٰذَا. وَحَدِيثُ أَبِي مُوسَى حَدِيثٌ فِيهِ اخۡتِلَافٌ: رَوَاهُ إِسۡرَائِيلُ وَشَرِيكُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ وَأَبُو عَوَانَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ مُعَاوِيَةَ وَقَيۡسُ بۡنُ الرَّبِيعِ: عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَرَوَى أَسۡبَاطُ بۡنُ مُحَمَّدٍ وَزَيۡدُ بۡنُ حُبَابٍ: عَنۡ يُونُسَ بۡنِ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَرَوَى أَبُو عُبَيۡدَةَ الحَدَّادُ: عَنۡ يُونُسَ بۡنِ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَهُ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ فِيهِ: عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ.
Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Yahya bin Ayyub, Sufyan Ats-Tsauri, dan lebih dari seorang hafizh telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij semisal hadis ini. Hadis Abu Musa adalah hadis yang mengandung perselisihan. Diriwayatkan oleh Israil, Syarik bin ‘Abdullah, Abu ‘Awanah, Zuhair bin Mu’awiyah, dan Qais bin Ar-Rabi’ dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asbath bin Muhammad dan Zaid bin Hubab meriwayatkan dari Yunus bin Abu Ishaq, dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu ‘Ubaidah Al-Haddad meriwayatkan dari Yunus bin Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis tersebut, namun beliau tidak menyebutkan padanya: dari Abu Ishaq. 
وَقَدۡ رُوِيَ عَنۡ يُونُسَ بۡنِ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَيۡضًا. وَرَوَى شُعۡبَةُ وَالثَّوۡرِيُّ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ). وَقَدۡ ذَكَرَ بَعۡضُ أَصۡحَابِ سُفۡيَانَ: عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى. وَلَا يَصِحُّ. وَرِوَايَةُ هٰؤُلَاءِ الَّذِينَ رَوَوۡا عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ (لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ) عِنۡدِي أَصَحُّ، لِأَنَّ سَمَاعَهُمۡ مِنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ فِي أَوۡقَاتٍ مُخۡتَلِفَةٍ، وَإِنۡ كَانَ شُعۡبَةُ وَالثَّوۡرِيُّ أَحۡفَظَ وَأَ ثۡبَتَ مِنۡ جَمِيعِ هٰؤُلَاءِ الَّذِينَ رَوَوۡا عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ هَٰذَا الۡحَدِيثَ، فَإِنَّ رِوَايَةَ هٰؤُلَاءِ عِنۡدِي أَشۡبَهُ، لِأَنَّ شُعۡبَةَ وَالثَّوۡرِيَّ سَمِعَا هَٰذَا الۡحَدِيثَ مِنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ فِي مَجۡلِسٍ وَاحِدٍ، وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ: [(الإرواء)(١٨٤٠)].
Juga telah diriwayatkan dari Yunus bin Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syu’bah dan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada nikah kecuali dengan wali.” Sebagian murid Sufyan telah menyebutkan dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa. Namun ini tidak sahih. Riwayat orang-orang yang meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tidak ada nikah kecuali dengan wali”, menurutku lebih sahih. Karena mereka mendengar dari Abu Ishaq pada beberapa waktu yang berbeda-beda. Meskipun Syu’bah dan Ats-Tsauri lebih kuat dan kokoh hafalannya daripada orang-orang yang meriwayatkan hadis ini dari Abu Ishaq. Karena riwayat mereka ini menurutku lebih tepat. Juga karena Syu’bah dan Ats-Tsauri mendengar hadis ini dari Abu Ishaq dalam satu majelis saja. Yang menunjukkan hal itu adalah:
١١٠٢ (م) - حَدَّثَنَا مَحۡمُودُ بۡنُ غَيۡلَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، قَالَ: أَنۡبَأَنَا شُعۡبَةُ، قَالَ: سَمِعۡتُ سُفۡيَانَ الثَّوۡرِيَّ يَسۡأَلُ أَبَا إِسۡحَاقَ: أَسَمِعۡتَ أَبَا بُرۡدَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ)؟ فَقَالَ: نَعَمۡ. فَدَلَّ هَٰذَا الۡحَدِيثُ عَلَى أَنَّ سَمَاعَ شُعۡبَةَ وَالثَّوۡرِيِّ هَٰذَا الۡحَدِيثَ فِي وَقۡتٍ وَاحِدٍ، وَإِسۡرَائِيلُ هُوَ ثِقَةٌ ثَبۡتٌ فِي أَبِي إِسۡحَاقَ. سَمِعۡتُ مُحَمَّدَ بۡنَ الۡمُثَنَّى يَقُولُ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ مَهۡدِيٍّ يَقُولُ: مَا فَاتَنِي مِنۡ حَدِيثِ الثَّوۡرِيِّ عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ الَّذِي فَاتَنِي، إِلَّا لَمَّا اتَّكَلۡتُ بِهِ عَلَى إِسۡرَائِيلَ، لِأَنَّهُ كَانَ يَأۡتِي بِهِ أَتَمَّ. وَحَدِيثُ عَائِشَةَ فِي هَٰذَا الۡبَابِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ). حَدِيثٌ عِنۡدِي حَسَنٌ. رَوَاهُ ابۡنُ جُرَيۡجٍ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ بۡنِ مُوسَى، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.
1102. Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Dawud menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu’bah memberitakan kepada kami, beliau berkata: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri bertanya kepada Abu Ishaq: Apakah engkau mendengar Abu Burdah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada nikah kecuali dengan wali.”? Abu Ishaq menjawab: Iya. Hadis ini menunjukkan bahwa Syu’bah dan Ats-Tsauri mendengar hadis ini dalam satu waktu. Dan Israil adalah periwayat yang tsiqah tsabt dalam periwayatan dari Abu Ishaq. Aku mendengar Muhammad bin Al-Mutsanna berkata: Aku mendengar ‘Abdurrahman bin Mahdi berkata: Tidaklah terluput dariku hadis Ats-Tsauri dari Abu Ishaq kecuali karena aku lebih mempercayai Israil. Sebabnya adalah riwayat Israil lebih sempurna. Hadis ‘Aisyah dalam bab ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada nikah kecuali dengan wali.” Hadis ini menurutku hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Juraij dari Sulaiman bin Musa, dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
وَرَوَاهُ الحَجَّاجُ بۡنُ أَرۡطَاةَ وَجَعۡفَرُ بۡنُ رَبِيعَةَ عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَرُوِيَ عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مِثۡلَهُ. وَقَدۡ تَكَلَّمَ بَعۡضُ أَصۡحَابِ الۡحَدِيثِ فِي حَدِيثِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. قَالَ ابۡنُ جُرَيۡجٍ: ثُمَّ لَقِيتُ الزُّهۡرِيَّ فَسَأَلۡتُهُ فَأَنۡكَرَهُ، فَضَعَّفُوا هَٰذَا الۡحَدِيثَ مِنۡ أَجۡلِ هَٰذَا. وَذُكِرَ عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ مَعِينٍ، أَنَّهُ قَالَ: لَمۡ يَذۡكُرۡ هَٰذَا الۡحَرۡفَ عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ إِلَّا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ. قَالَ يَحۡيَى بۡنُ مَعِينٍ: وَسَمَاعُ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ لَيۡسَ بِذَاكَ، إِنَّمَا صَحَّحَ كُتُبَهُ عَلَى كُتُبِ عَبۡدِ الۡمَجِيدِ بۡنِ عَبۡدِ العَزِيزِ بۡنِ أَبِي رَوَّادٍ مَا سَمِعَ مِنۡ ابۡنِ جُرَيۡجٍ. وَضَعَّفَ يَحۡيَى رِوَايَةَ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ.
Al-Hajjaj bin Arthah dan Ja’far bin Rabi’ah meriwayatkannya dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan pula dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis tersebut. Sebagian ulama ahli hadis telah membicarakan hadis Az-Zuhri dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij berkata: Kemudian aku berjumpa Az-Zuhri lalu aku bertanya kepada beliau namun beliau mengingkarinya. Maka, mereka menyatakan hadis ini daif atas dasar ini. Disebutkan pula dari Yahya bin Ma’in bahwa beliau berkata: Tidak ada yang menyebutkan potongan kalimat ini dari Ibnu Juraij kecuali Isma’il bin Ibrahim. Yahya bin Ma’in berkata: Bukan demikian Isma’il bin Ibrahim mendengar dari Ibnu Juraij. Beliau hanya membenarkan kitab-kitabnya sesuai dengan kitab ‘Abdul Majid bin ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rawwad tentang apa yang beliau dengar dari Ibnu Juraij. Yahya menilai daif riwayat Isma’il bin Ibrahim dari Ibnu Juraij.
وَالعَمَلُ فِي هَٰذَا الۡبَابِ عَلَى حَدِيثِ النَّبِيِّ ﷺ (لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ) عِنۡدَ أَهۡلِ العِلۡمِ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ مِنۡهُمۡ: عُمَرُ بۡنُ الخَطَّابِ، وَعَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبَّاسٍ، وَأَبُو هُرَيۡرَةَ وَغَيۡرُهُمۡ. وَهَٰكَذَا رُوِيَ عَنۡ بَعۡضِ فُقَهَاءِ التَّابِعِينَ؛ أَنَّهُمۡ قَالُوا: لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ. مِنۡهُمۡ سَعِيدُ بۡنُ الۡمُسَيِّبِ، وَالۡحَسَنُ الۡبَصۡرِيُّ، وَشُرَيۡحٌ، وَإِبۡرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ، وَعُمَرُ بۡنُ عَبۡدِ العَزِيزِ وَغَيۡرُهُمۡ. وَبِهَٰذَا يَقُولُ سُفۡيَانُ الثَّوۡرِيُّ، وَالۡأَوۡزَاعِيُّ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡمُبَارَكِ، وَمَالِكٌ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَحۡمَدُ، وَإِسۡحَاقُ.
Para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengamalkan dalam bab ini sesuai hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tidak ada nikah kecuali dengan wali”, di antara mereka adalah: ‘Umar bin Al-Khaththab, ‘Ali bin Abu Thalib, ‘Abdullah bin ‘Abbas, Abu Hurairah, dan selain mereka. Seperti ini pula yang diriwayatkan dari sebagian ahli fikih kalangan tabiin; Bahwa mereka mengatakan: Tidak ada nikah kecuali dengan wali. Di antara mereka adalah: Sa’id bin Al-Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Syuraih, Ibrahim An-Nakha’i, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, dan selain mereka. Pendapat ini pula yang diucapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’i, ‘Abdullah bin Al-Mubarak, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq.