Syarh Al-Ajurrumiyyah - Huruf-huruf Sumpah

حُرُوفُ الۡقَسَمِ:
Huruf-huruf sumpah:
قَوۡلُهُ: (وَحُرُوفُ الۡقَسَمِ وَهِيَ: الۡوَاوُ، وَالۡبَاءُ، وَالتَّاءُ).
وَقَوۡلُهُ: (وَحُرُوفُ الۡقَسَمِ)؛ إِذَا وَجَدۡتَ كَلِمَةً دَخَلَ عَلَيۡهَا أَحَدُ حُرُوفِ الۡقَسَمِ فَهِيَ اسۡمٌ، وَحُرُوفُ الۡقَسَمِ تَجُرُّ، فَهِيَ مِنۡ حُرُوفِ الۡخَفۡضِ، وَهِيَ (الۡوَاوُ، وَالۡبَاءُ، وَالتَّاءُ).
Ucapan mualif, “Dan huruf-huruf sumpah, yaitu: huruf wawu, ba, dan ta.”
Ucapan mualif, “Dan huruf-huruf sumpah.” Jika engkau mendapati suatu kata yang diawali oleh salah satu dari huruf-huruf sumpah, maka kata tersebut adalah isim. Dan huruf sumpah men-jar­r-kan. Jadi huruf sumpah termasuk huruf khafdh. Huruf-huruf sumpah adalah huruf wawu, ba, dan ta.
قَوۡلُهُ: (الۡوَاوُ)؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَالۡفَجۡرِ ۝١ وَلَيَالٍ عَشۡرٍ﴾ [الفجر: ١-٢]؛ (الۡفَجۡرِ) اسۡمٌ؛ لِأَنَّهُ دَخَلَ عَلَيۡهِ حَرۡفُ الۡقَسَمِ، وَفِيهِ عَلَامَةٌ ثَانِيَةٌ، وَهِيَ الۡأَلِفُ وَاللَّامُ، وَفِيهَا ثَالِثَةٌ، وَهِيَ الۡخَفۡضُ.
Ucapan mualif, “Huruf wawu.” Allah taala berfirman, “وَالۡفَجۡرِ ۝١ وَلَيَالٍ عَشۡرٍ (Demi fajar, dan malam yang sepuluh).” (QS. Al-Fajr: 1-2). الۡفَجۡرِ adalah isim karena diawali oleh huruf sumpah. Padanya ada tanda kedua, yaitu huruf alif lam. Ada pula tanda ketiga yaitu khafdh.
وَقَوۡلُهُ: (وَالۡبَاءُ)؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ أَبِاللهِ وَءَايَٰتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ﴾ [التوبة: ٦٥]، (الله) لَفۡظُ الۡجَلَالَةِ اسۡمٌ، لِأَنَّهُ دَخَلَ عَلَيۡهِ حَرۡفُ خَفۡضٍ، ﴿وَأَقۡسَمُوا بِاللهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ﴾ [الأنعام: ١٠٩]، الۡبَاءُ هُنَا حَرۡفُ قَسَمٍ، وَ(الله): لَفۡظُ الۡجَلَالَةِ اسۡمٌ؛ فِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡأَسۡمَاءِ: دُخُولُ حَرۡفِ الۡقَسَمِ عَلَيۡهِ، وَالۡخَفۡضُ، وَالۡأَلِفُ وَاللَّامُ.
Ucapan mualif, “Huruf ba.” Allah taala berfirman, “قُلۡ أَبِاللهِ وَءَايَٰتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ (Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?)” (QS. At-Taubah: 65). الله lafzhul jalalah adalah isim karena diawali oleh huruf khafdh. “وَأَقۡسَمُوا بِاللهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ (Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan).” (QS. Al-An’am: 109). Huruf ba di sini adalah huruf sumpah dan الله lafzhul jalalah adalah isim. Padanya ada sebagian tanda-tanda isim, yaitu: diawali oleh huruf sumpah, khafdh, dan huruf alif lam.
وَ(التَّاءُ) قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَتَاللهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم﴾ [الأنبياء: ٥٧]، (اللهِ) لَفۡظُ الۡجَلَالَةِ اسۡمٌ؛ لِأَنَّ فِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡاسۡمِ: دُخُولَ حَرۡفِ الۡقَسَمِ عَلَيۡهِ، وَالۡأَلِفَ وَاللَّامَ، وَالۡخَفۡضَ.
Huruf ta. Allah taala berfirman, “وَتَاللهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم (Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian).” (QS. Al-Anbiya`: 57). الله lafzhul jalalah adalah isim karena padanya ada sebagian tanda-tanda isim, yaitu: diawali oleh huruf sumpah, huruf alif lam, dan khafdh.
وَإِذَا أَضَفۡنَا حُرُوفَ الۡقَسَمِ الثَّلَاثَةَ إِلَى حُرُوفِ الۡخَفۡضِ التِّسۡعَةِ، صَارَ الۡجَمِيعُ اثۡنَي عَشَرَ حَرۡفًا، كُلُّهَا تَخۡفِضُ.
قَوۡلُهُ: (الۡبَاءُ): ذَكَرَهَا الۡمُؤَلِّفُ –رَحِمَهُ اللهُ- فِي حُرُوفِ الۡخَفۡضِ، وَفِي حُرُوفِ الۡقَسَمِ، فَهِيَ إِذَنۡ تَكُونُ مُشۡتَرَكَةً بَيۡنَ حُرُوفِ الۡخَفۡضِ، وَحُرُوفِ الۡقَسَمِ.
Jika kita tambahkan huruf-huruf sumpah yang tiga ini kepada huruf-huruf khafdh yang sembilan, maka seluruhnya menjadi dua belas huruf. Semuanya meng-khafdh-kan.
Ucapan mualif, “Huruf ba”: Mualif rahimahullah menyebutkannya di huruf khafdh dan di huruf sumpah. Sehingga huruf ba ini sama-sama bisa menjadi huruf khafdh atau huruf sumpah.
انۡتَهَى الۡكَلَامُ عَنِ الۡاسۡمِ، فَصَارَ الۡاسۡمُ يُعۡرَفُ بِأَرۡبَعِ عَلَامَاتٍ: الۡخَفۡضُ، وَالتَّنۡوِينُ، وَدُخُولُ الۡأَلِفِ وَاللَّامِ، وَحُرُوفُ الۡخَفۡضِ، يَعۡنِي: أَنَّ كُلَّ كَلِمَةٍ تَجِدُ فِيهَا وَاحِدَةً مِنۡ هَٰذِهِ الۡعَلَامَاتِ فَهِيَ اسۡمٌ، وَرُبَمَا يَجۡتَمِعُ فِيهَا عَلَامَتَانِ، وَرُبَمَا يَجۡتَمِعُ فِيهَا ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ، وَلَا يَجۡتَمِعُ فِيهَا أَرۡبَعُ عَلَامَاتٍ؛ لِأَنَّ التَّنۡوِينَ وَالۡأَلِفَ وَاللَّامَ لَا يَجۡتَمِعَانِ، وَاللهُ أَعۡلَمُ.
Selesai pembicaraan tentang isim. Jadi, isim dikenal dengan empat tanda: khafdh, tanwin, diawali oleh huruf alif lam, dan huruf khafdh. Yakni bahwa setiap kata yang didapati padanya ada satu dari tanda-tanda ini maka kata itu adalah isim. Kadang-kadang terkumpul dua tanda isim pada suatu isim. Terkadang terkumpul tiga tanda isim. Namun tidak bisa terkumpul empat tanda sekaligus karena tanwin dan huruf alif lam tidak bisa berkumpul. Wallahualam.
فَائِدَةٌ: تَكُونُ الۡأَلِفُ وَاللَّامُ شَمۡسِيَّةً وَقَمَرِيَّةً، فَإِنۡ أُدۡغِمَتۡ بِمَا بَعۡدَهَا فَهِيَ شَمۡشِيَّةٌ، وَإِنۡ أُظۡهِرَتۡ، فَهِيَ قَمَرِيَّةٌ، كَمَا نَقُولُ: (الشَّمۡسُ، الۡقَمَرُ)، فَتَجِدُ أَنَّ (أل) فِي (الشَّمۡس) مُدۡغَمَةٌ فِي الشِّينِ، لَا يَصِحُّ أَنۡ تَقُولَ: (الۡشَمۡس)، وَتَجِدُ اللَّامَ فِي الۡقَمَرِ ظَاهِرَةً لَمۡ تُدۡغَمۡ، وَلِهٰذَا لَا يَصِحُّ أَنۡ تَقُولَ: (القَّمَر)، فَإِنۡ أُدۡغِمَتۡ فِيمَا بَعۡدَهَا فَهِيَ شَمۡسِيَّةٌ، وَإِنۡ أُظۡهِرَتۡ فَهِيَ قَمَرِيَّةٌ، سُمِّيَتۡ شَمۡسِيَّةً، لِأَنَّ أَصۡلَهَا مِنَ الشَّمۡسِ يَعۡنِي: الۡأَصۡلَ الَّذِي جَعَلُوهُ أَصۡلًا فِي هَٰذَا الشَّمۡسُ، وَقَمَرِيَّةً، لِأَنَّ الۡأَصۡلَ الَّذِي جَعَلُوهُ فِي هَٰذَا الۡقَمَرُ.
Faedah: Huruf alif lam bisa syamsiah atau kamariah. Jika di-idgham (dilebur) kepada huruf setelahnya, berarti alif lam syamsiah. Dan jika di-izhhar (ditampakkan), berarti alif lam kamariah. Sebagaimana kita katakan, “الشَّمۡسُ (asy-syamsu), الۡقَمَرُ (al-qamaru).” Engkau dapati bahwa penyebutan alif lam pada asy-syamsu di-idgham ke huruf syin. Sehingga engkau tidak boleh mengatakan, “al-syamsu.” Engkau juga dapati bahwa huruf lam di al-qamar disebut secara jelas (izhhar) tidak di-idgham. Atas dasar ini, engkau tidak boleh berkata, “aq-qamar.” Jadi, jika alif lam di-idgham ke huruf setelahnya maka syamsiah dan jika di-izhhar maka kamariah. Dinamakan syamsiah karena asalnya dari asy-syams, yakni: asal yang mereka jadikan dasar dalam hal ini adalah kata asy-syams. Dinamakan kamariah karena dasar yang mereka jadikan dalam hal ini adalah kata al-qamar.

Syarh Al-Ajurrumiyyah - Huruf-huruf Khafdh

حُرُوفُ الۡخَفۡضِ:
Huruf-huruf khafdh:
قَوۡلُهُ: (وَحُرُوفِ الۡخَفۡضِ، وَهِيَ: مِنۡ، وَإِلَى، وَعَنۡ، وَعَلَى، وَفِي، وَرُبَّ، وَالۡبَاءُ، وَالۡكَافُ، وَاللَّامُ).
Ucapan Ibnu Ajurrum, “Huruf-huruf khafdh, yaitu: مِنۡ, إِلَى, عَنۡ, عَلَى, فِي, رُبَّ, huruf ba, huruf kaf, dan huruf lam.”
وَقَوۡلُهُ: (وَحُرُوفِ الۡخَفۡضِ): يَعۡنِي: الۡحُرُوفَ الَّتِي إِذَا دَخَلَتۡ عَلَى الۡاسۡمِ خَفَضَتۡهُ، يَعۡنِي: جَرَّتۡهُ. وَقَدۡ عَلِمۡنَا أَنَّ هَٰذِهِ الۡحُرُوفَ إِذَا دَخَلَتۡ عَلَى الۡاسۡمِ جَرَّتۡهُ مِنَ التَّتَبُّعِ وَاسۡتِقۡرَاءِ كَلَامِ الۡعَرَبِ، وَإِلَّا فَلَيۡسَ هُنَاكَ قُرۡآنٌ، وَلَا سُنَّةٌ تَدُلُّ عَلَى هَٰذَا؛ لٰكِنَّ الۡعَرَبِيَّ إِذَا دَخَلَ حَرۡفٌ مِنۡ حُرُوفِ الۡخَفۡضِ عَلَى كَلِمَةٍ خَفَضَهَا.
Ucapan Ibnu Ajurrum, “Huruf-huruf khafdh”, yakni: huruf-huruf yang jika mendahului sebuah isim, maka akan menyebabkan isim tersebut menjadi khafdh, yakni menjadi jarr. Kita telah mengetahui bahwa huruf-huruf berikut ini jika mendahului sebuah isim akan menjadikannya jarr adalah melalui pengamatan dan penelitian ucapan orang Arab. Karena tidak ada satu ayat Alquranpun, tidak pula satu sunahpun yang menunjukkan hal ini. Akan tetapi orang Arab, jika ada salah satu huruf khafdh yang mendahului sebuah kata, maka dia akan menjadikan kata tersebut khafdh.
وَقَوۡلُهُ: (وَهِيَ: مِنۡ، وَإِلَى، وَعَنۡ، وَعَلَى، وَفِي، وَرُبَّ، وَالۡبَاءُ، وَالۡكَافُ، وَاللَّامُ):
عَدَّ الۡمُؤَلِّفُ –رَحِمَهُ اللهُ- تِسۡعَةَ أَحۡرُفٍ.
Ucapan Ibnu Ajurrum, “Yaitu: مِنۡ, إِلَى, عَنۡ, عَلَى, فِي, رُبَّ, huruf ba, huruf kaf, dan huruf lam.” Mualif rahimahullah menghitung ada sembilan huruf.
الۡأَوَّلُ: (مِنۡ) تَقُولُ مَثَلًا: (خَرَجۡتُ مِنَ الۡبَصۡرَةِ)، وَلَا يَجُوزُ فِي اللُّغَةِ الۡعَرَبِيَّةِ أَنۡ تَقُولَ: (خَرَجۡتُ مِنَ الۡبَصۡرَةَ)، وَلَا يَجُوزُ أَيۡضًا أَنۡ تَقُولَ: (خَرَجۡتُ مِنَ الۡبَصۡرَةُ)، بَلۡ (مِنۡ) حَرۡفُ خَفۡضٍ، فَتَقُولُ: (مِنَ الۡبَصۡرَةِ)، وَلَا بُدَّ.
وَتَقُولُ: (اشۡتَرَيۡتُ هَٰذَا الۡكِتَابَ مِنۡ زَيۡدٍ)، فَالۡكِتَابُ اسۡمٌ، لِأَنَّ بِهِ الۡأَلِفَ وَاللَّامَ، وَ(زَيۡدٍ) اسۡمٌ، وَفِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡاسۡمِ الۡخَفۡضُ وَالتَّنۡوِينُ.
Pertama, مِنۡ. Misal, engkau katakan: خَرَجۡتُ مِنَ الۡبَصۡرَةِ (Aku keluar dari Bashrah). Di dalam bahasa Arab, engkau tidak boleh mengatakan: خَرَجۡتُ مِنَ الۡبَصۡرَةَ. Engkau juga tidak boleh mengatakan: خَرَجۡتُ مِنَ الۡبَصۡرَةُ. Tetapi مِنۡ adalah huruf khafdh, sehingga engkau harus mengatakan: مِنَ الۡبَصۡرَةِ.
Engkau juga mengatakan: اشۡتَرَيۡتُ هَٰذَا الۡكِتَابَ مِنۡ زَيۡدٍ (Aku membeli kitab ini dari Zaid). الۡكِتَابَ adalah isim karena ada huruf alif dan lam. زَيۡدٍ juga isim, padanya ada tanda-tanda isim, yaitu: khafdh dan tanwin.
الثَّانِي: (إِلَى) إِذَا دَخَلَتۡ عَلَى كَلِمَةٍ فَهِيَ اسۡمٌ وَتُخۡفِضُهُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿ثُمَّ رُدُّوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ مَوْلَىٰهُمُ ٱلْحَقِّ﴾ [الأنعام: ٦٢]، (اللهِ): لَفۡظُ الۡجَلَالَةِ اسۡمٌ، وَالدَّلِيلُ أَنَّهُ فِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡاسۡمِ: الۡخَفۡضُ، وَدُخُولُ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ (إِلَى)، وَالثَّالِثُ: الۡأَلِفُ وَاللَّامُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿أَفَلَمْ يَنظُرُوٓا۟ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوْقَهُمْ﴾ [ق: ٦]، (السَّمَاءِ): اسۡمٌ؛ لِأَنَّهَا دَخَلَ عَلَيۡهَا حَرۡفُ الۡخَفۡضِ، وَالۡأَلِفُ وَاللَّامُ، وَالۡخَفۡضُ.
يَقُولُ الۡعُلَمَاءُ: (مِنۡ) لِلۡابۡتِدَاءِ، وَ(إِلَى) لِلانۡتِهَاءِ، فَإِذَا قُلۡتَ: (خَرَجۡتُ مِنۡ مَكَّةَ إِلَى الۡمَدِينَةِ) فَابۡتِدَاءُ سَفَرِكَ فِي مَكَّةَ، وَانۡتِهَاؤُهُ فِي الۡمَدِينَةِ.
Kedua, إِلَى jika mengawali sebuah kata maka kata tersebut adalah isim dan membuatnya menjadi khafdh. Allah taala berfirman, “ثُمَّ رُدُّوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ مَوْلَىٰهُمُ ٱلْحَقِّ (Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya.)” (QS. Al-An’am: 62). اللهِ lafdhul jalalah adalah isim. Dalilnya adalah padanya ada sebagian tanda-tanda isim, yaitu: khafdh, diawali oleh huruf khafdh إِلَى, dan huruf alif dan lam.
Allah taala berfirman, “أَفَلَمْ يَنظُرُوٓا۟ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوْقَهُمْ (Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka)” (QS. Qaf: 6). السَّمَاءِ adalah isim karena ia diawali oleh huruf khafdh, huruf alif dan lam, dan khafdh.
Ulama mengatakan bahwa مِنۡ untuk ibtida` (permulaan) dan إِلَى untuk intiha` (penghabisan). Jadi, jika engkau mengucapkan: خَرَجۡتُ مِنۡ مَكَّةَ إِلَى الۡمَدِينَةِ, maka permulaan safarmu adalah di Makkah dan penghujungnya di Madinah.
الثَّالِثُ: (عَنۡ) مِنۡ حُرُوفِ الۡخَفۡضِ، إِذَا دَخَلَتۡ عَلَى كَلِمَةٍ فَهِيَ اسۡمٌ، وَيَجِبُ أَنۡ تَخۡفِضَ هَٰذِهِ الۡكَلِمَةَ، تَقُولُ: (كَلَّمۡتُكَ عَنۡ جِدٍّ)، فَـ(جِدٍّ) اسۡمٌ، وَفِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡأَسۡمَاءِ: التَّنۡوِينُ، وَالۡخَفۡضُ، وَدُخُولُ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ عَلَيۡهِ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿عَنِ ٱلْيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٌ﴾ [ق: ١٧]، (الۡيَمِينِ) اسۡمٌ، وَفِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡأَسۡمَاءِ: دُخُولُ الۡأَلِفِ وَاللَّامِ، وَالۡخَفۡضُ، وَدُخُولُ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ. (قَعِيدٌ) اسۡمٌ، وَفِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡاسۡمِ التَّنۡوِينُ.
Ketiga, عَنۡ termasuk huruf khafdh. Jika ia mengawali sebuah kata, maka kata tersebut adalah isim dan engkau wajib untuk meng-khafdh kata ini. Engkau katakan: كَلَّمۡتُكَ عَنۡ جِدٍّ (Aku berbicara kepadamu dengan sungguh-sungguh). Maka جِدٍّ adalah isim. Padanya ada sebagian tanda-tanda isim, yaitu: tanwin, khafdh, dan didahului oleh huruf khafdh.
Allah taala berfirman, “عَنِ ٱلْيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٌ (seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri).” (QS. Qaf: 17). الۡيَمِينِ adalah isim. Padanya ada sebagian tanda-tanda isim: diawali oleh huruf alif dan lam, khafdh, dan diawali oleh huruf khafdh. قَعِيدٌ adalah isim. Padanya ada sebagian tanda-tanda isim, yaitu tanwin.
وَمِنۡ مَعَانِي (عَنۡ) الۡمُجَاوَزَةُ، تَقُولُ: (رَمَيۡتُ السَّهۡمَ عَنِ الۡقَوۡسِ)، يَعۡنِي: أَنَّ السَّهۡمَ جَاوَزَ الۡقَوۡسَ، يَعۡنِي: خَرَجَ مِنۡهُ، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَآ أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَآ أَنْهَىٰكُمْ عَنْهُ﴾ [هود: ٨٨]، فَـ(عَنۡ) هُنَا فِيهَا مَعۡنًى الۡمُجَاوَزَةُ، وَقَالَ ابۡنُ مَالِكٍ:
.............................. بِـ(عَنۡ) تَجَاوُزًا عَنَى مَنۡ قَدۡ فَطَنۡ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿حَتَّىٰ يُعْطُوا۟ ٱلْجِزْيَةَ عَن يَدٍ﴾ [التوبة: ٢٩]، يَعۡنِي الۡجِزۡيَةَ تَتَجَاوَزُ أَيۡدِيَهُمۡ، أَيۡ تَنۡتَقِلُ مِنۡ أَيۡدِيهِمۡ إِلَى أَيۡدِي الۡمُسۡلِمِينَ.
Di antara makna-makna عَنۡ adalah mujawazah (melewati). Engkau katakan: رَمَيۡتُ عَنِ الۡقَوۡسِ (Aku memanah dari busur), yakni bahwa anak panah melewati busur. Yakni anak panah keluar dari busur. Allah taala berfirman, “وَمَآ أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَآ أَنْهَىٰكُمْ عَنْهُ (Dan aku tidak berkehendak menyalahi kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang).” (QS. Hud: 88). Jadi عَنۡ di sini mengandung makna mujawazah. Ibnu Malik berkata: ... بِـ(عَنۡ) تَجَاوُزًا عَنَى مَنۡ قَدۡ فَطَنَ (Siapa saja yang pintar, maka ia memaksudkan makna tajawuz (melewati) dengan menggunakan kata عَنۡ).
Allah taala berfirman, “حَتَّىٰ يُعْطُوا۟ ٱلْجِزْيَةَ عَن يَدٍ (sampai mereka membayar jizyah dengan patuh).” (QS. At-Taubah: 29). Yakni jizyah tersebut melewati tangan-tangan mereka. Artinya jizyah tersebut berpindah dari tangan-tangan mereka kepada tangan-tangan kaum muslimin.
الرَّابِعُ: (عَلَى) إِذَا دَخَلَتۡ عَلَى كَلِمَةٍ فَالۡكَلِمَةُ اسۡمٌ، وَيَجِبُ خَفۡضُهَا، ﴿عَلَى اللهِ تَوَكَّلۡنَا﴾ [الأعراف: ٨٩]، نَقُولُ: (الله) لَفۡظُ الۡجَلَالَةِ اسۡمٌ، عَلَامَةُ الۡاسۡمِ فِيهِ أَنَّهُ دَخَلَتۡ عَلَيۡهِ (عَلَى)، وَأَنَّ فِيهِ الۡأَلِفَ وَاللَّامَ، وَأَنَّهُ خُفِضَ.
وَمَعۡنَى (عَلَى): الۡعُلُوُّ مِنَ الۡاسۡتِعۡلَاءِ، تَقُولُ: (رَقِيتُ عَلَى السَّطَحِ)، قَالَ ابۡنُ مَالِكٍ:
عَلَى لِلۡاسۡتِعۡلَا،................ ..............................
Keempat, عَلَى jika mengawali suatu kata, maka kata tersebut adalah isim dan wajib meng-khafdh-nya. “عَلَى اللهِ تَوَكَّلۡنَا (Kepada Allah sajalah kami bertawakal).” (QS. Al-A’raf: 89). Kita katakan: الله lafzhul jalalah adalah isim. Tanda isim padanya adalah bahwa kata tersebut diawali oleh عَلَى, ada huruf alif dan lam, serta kata tersebut di-khafdh.
Makna عَلَى adalah tinggi dari kata isti’la`. Engkau katakan, “رَقِيتُ عَلَى السَّطَحِ (Aku naik ke tempat tertinggi).” Ibnu Malik mengatakan, “عَلَى untuk naik.”
﴿ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ﴾ [الأعراف: ٥٤]، فَالۡعَرۡشُ اسۡمٌ، فِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡأَسۡمَاءِ دُخُولُ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ، وَالۡأَلِفُ وَاللَّامُ، وَالۡخَفۡضُ.
فَلَوۡ قَالَ قَائِلٌ: (عَلَى الۡعَرۡشُ) بِرَفۡعِ الۡعَرۡشِ، لَقُلۡنَا: هَٰذَا خَطَأٌ، لِأَنَّ حَرۡفَ الۡخَفۡضِ يَجِبُ أَنۡ يَخۡفِضَ.
وَلَوۡ قَالَ: (عَلَى الۡعَرۡشَ)، بِنَصۡبِ الۡعَرۡشِ، لَقُلۡنَا: هَٰذَا خَطَاٌ أَيۡضًا، لِأَنَّ حَرۡفَ الۡخَفۡضِ لَا بُدَّ أَنۡ يَخۡفِضَ، إِذَنۡ عَلَيۡنَا أَنۡ نَقُولَ: (عَلَى الۡعَرۡشِ) بِجَرِّ الۡعَرۡشِ.
“ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ (Lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy).” (QS. Al-A’raf: 54). الۡعَرۡشُ adalah isim. Padanya ada sebagian tanda-tanda isim, yaitu: diawali huruf khafdh, huruf alif lam, dan khafdh.
Kalau ada yang berkata, “عَلَى الۡعَرۡشُ” dengan me-rafa’ الۡعَرۡش, tentu kita katakan: Ini keliru karena huruf khafdh wajib untuk meng-khafdh-kan isim setelahnya.
Kalau dia katakan, “عَلَى الۡعَرۡشَ” dengan me-nashab الۡعَرۡش, tentu kita katakan: Ini juga keliru karena huruf khafdh harus meng-khafdh-kan isim setelahnya. Maka wajib untuk kita katakan, “عَلَى الۡعَرۡشِ” dengan men-jarr-kan الۡعَرۡش.
الۡخَامِسُ: (فِي)، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِى الۡمَسَٰجِدِ﴾ [البقرة: ١٨٧]، فَإِذَا وَجَدۡتَ كَلِمَةً دَخَلَتۡ عَلَيۡهَا (فِي) فَهِيَ اسۡمٌ، فَـ(الۡمَسَاجِد): اسۡمٌ، فِيهَا مِنۡ عَلَامَاتِ الۡأَسۡمَاءِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ: دُخُولُ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ، وَالۡأَلِفُ وَاللَّامُ، وَالۡخَفۡضُ.
وَمِثۡلُ قَوۡلِهِ ﷺ: (وَمَا اجۡتَمَعَ قَوۡمٌ فِي بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِ اللهِ...) الحديث، فَقَوۡلُهُ: (بَيۡتٍ) ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ: التَّنۡوِينُ، وَالۡخَفۡضُ، وَدُخُولُ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ، وَفِي قَوۡلِهِ: (بُيُوتِ) عَلَامَتَانِ: حَرۡفُ الۡخَفۡضِ، وَالۡخَفۡضُ.
وَ (فِي) لَهَا مَعَانٍ كَثِيرَةٌ مِنۡهَا: الظَّرۡفِيَّةُ، وَهُوَ الۡأَكۡثَرُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِى الۡمَسَٰجِدِ﴾ [البقرة: ١٨٧]، إِذَنۡ الۡمَسَاجِدُ ظَرۡفٌ، وَتَقُولُ: (الرَّجُلُ فِي الۡمَجۡلِسِ) إِذَنۡ الۡمَجۡلِسُ ظَرۡفٌ لَهُ، وَتَقُولُ: (الۡمَاءُ فِي الۡكَأۡسِ) فَالۡكَأۡسُ ظَرۡفٌ.
Kelima, فِي. Allah taala berfirman, “وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِى الۡمَسَٰجِدِ (Sedang kalian beriktikaf di dalam masjid-masjid).” (QS. Al-Baqarah: 187). Jika engkau mendapati ada sebuah kata yang diawali oleh فِي, maka kata tersebut adalah isim. Jadi الۡمَسَاجِدِ adalah isim. Padanya ada tiga tanda isim: diawali oleh huruf khafdh, huruf alif lam, dan khafdh.
Semisal sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَمَا اجۡتَمَعَ قَوۡمٌ فِي بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِ اللهِ (Tidaklah satu kaum pun yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah)…”[1] Sabda beliau, “بَيۡتٍ” ada tiga tanda: tanwin, khafdh, dan diawali oleh huruf khafdh. Di sabda beliau, “بُيُوتِ” ada dua tanda: huruf khafdh dan khafdh.
فِي memiliki banyak makna. Di antaranya adalah keterangan tempat dan makna ini adalah yang paling sering. Allah taala berfirman, “وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِى الۡمَسَٰجِدِ” (QS. Al-Baqarah: 187). Maka الۡمَسَاجِدُ adalah suatu tempat. Engkau katakan, “الرَّجُلُ فِي الۡمَجۡلِسِ (Lelaki itu berada dalam majelis).” Maka majelis adalah tempat lelaki tersebut. Engkau katakan, “الۡمَاءُ فِي الۡكَأۡسِ (Air itu di dalam gelas.” Jadi gelas adalah suatu tempat.
السَّادِسُ: (رُبَّ)، تَقُولُ: (رُبَّ رَجُلٍ لَقِيتُهُ)، فَإِذَا وَجَدۡتَ كَلِمَةً دَخَلَ عَلَيۡهَا (رُبَّ) فَهِيَ اسۡمٌ، فَـ(رَجُلٍ) فِي قَوۡلِكَ (رُبَّ رَجُلٍ) اسۡمٌ، فِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡأَسۡمَاءِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ: دُخُولُ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ، وَالتَّنۡوِينُ، وَالۡخَفۡضُ.
وَ(رُبَّ) تَأۡتِي لِلتَّقۡلِيلِ وَالتَّكۡثِيرِ، حَسۡبَ السِّيَاقِ.
Keenam, “رُبَّ”. Engkau katakan, “رُبَّ رَجُلٍ لَقِيتُهُ (Sedikit lelaki yang aku jumpai).” Maka, jika engkau dapati suatu kata yang diawali oleh رُبَّ, maka kata tersebut adalah isim. Jadi رَجُلٍ dalam ucapanmu رُبَّ رَجُلٍ adalah isim. Padanya ada tiga tanda isim, yaitu: diawali oleh huruf khafdh, tanwin, dan khafdh.
Dan رُبَّ bisa bermakna jarang dan sering, tergantung konteks kalimat.
قَالَ: (وَالۡبَاءُ، وَالۡكَافُ، وَاللَّامُ)، الۡكَلِمَاتُ الَّتِي فِي الۡأَوَّلِ يَقُولُ –رَحِمَهُ اللهُ-: وَهِيَ (مِنۡ، وَإِلَى، وَعَنۡ، وَعَلَى، وَفِي، وَرُبَّ) السِّتُّ هَٰذِهِ قَالَهَا بِلَفۡظِهَا، (وَالۡبَاءُ) قَالَهَا بِاسۡمِهَا وَلَمۡ يَقُلۡ: وَ(بِ)، وَ(الۡكَافُ) وَلَمۡ يَقُلۡ: وَ(كَ) وَ(اللَّامُ)، وَلَمۡ يَقُلۡ: وَ(لِ)، لِأَنَّ الۡمَعۡرُوفَ عِنۡدَ النَّحۡوِيِّينَ أَنَّ الۡكَلِمَةَ إِذَا كَانَتۡ عَلَى حَرۡفٍ وَاحِدٍ يُنۡطَقُ بِاسۡمِهَا، وَإِذَا كَانَتۡ عَلَى حَرۡفَيۡنِ فَأَكۡثَرَ ذُكِرَتۡ بِلَفۡظِهَا، فَقُلۡ: (مِنۡ) حَرۡفُ جَرٍّ، وَلَا تَقُلۡ: الۡمِيمُ وَالنُّونُ حَرۡفُ جَرٍّ.
وَفِي قَوۡلِكَ: (لِزَيۡدٍ) تَقُولُ: اللَّامُ حَرۡفُ جَرٍّ، وَلَا تَقُلۡ: (لِ) حَرۡفُ جَرٍّ.
Mualif berkata, “Huruf ba, huruf kaf, dan huruf lam.” Kata-kata yang berada di awal, beliau rahimahullah ucapkan, “Yaitu مِنۡ, إِلَى, عَنۡ, عَلَى, فِي, رُبَّ.” Enam kata ini beliau ucapkan dengan melafalkannya. Namun huruf ba, beliau ucapkan dengan namanya dan beliau tidak mengatakan بِ. Juga huruf kaf, beliau tidak mengatakan كَ. Begitu pula huruf lam, beliau tidak mengatakan لِ. Karena yang sudah diketahui kalangan para ahli nahwu, bahwa kata jika terdiri dari satu huruf, maka diucapkan dengan namanya. Namun jika suatu kata terdiri dari dua huruf atau lebih, maka disebutkan dengan melafalkannya. Sehingga, katakanlah, مِنۡ huruf jarr. Dan jangan katakan mim dan nun huruf jarr.
Dan pada ucapanmu, “لِزَيۡدٍ”, engkau katakan lam huruf jarr. Jangan engkau katakan لِ huruf jarr.
السَّابِعُ: (الۡبَاءُ)، مِنۡ عَلَامَاتِ الۡاسۡمِ، فَإِذَا وَجَدۡتَ كَلِمَةً دَخَلَتۡ عَلَيۡهَا الۡبَاءُ فَهِيَ اسۡمٌ، فَإِذَا قُلۡتَ: (بِسۡمِ اللهِ) فَـ(اسۡمِ) اسۡمٌ، وَفِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡأَسۡمَاءِ دُخُولُ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ، وَالۡخَفۡضُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿أَلَيۡسَ اللهُ بِعَزِيزٍ ذِى انتِقَامٍ﴾ [الزمر: ٣٧]، (عَزِيزٍ) اسۡمٌ؛ لِأَنَّهُ دَخَلَ عَلَيۡهِ حَرۡفُ الۡخَفۡضِ، وَهُوَ (الۡبَاءُ)، وَخُفِضَ وَنُوِّنَ، فَهٰذِهِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ.
وَ(الۡبَاءُ): تَأۡتِي لِلسَّبَبِيَّةِ، وَلَهَا مَعَانٍ كَثِيرَةٌ، مِنۡهَا السَّبَبِيَّةُ، وَمِنۡهَا الۡاسۡتِعَانَةُ مِثۡلُ: (كَتَبۡتُ بِالۡقَلَمِ)، وَكُلُّ بَاءٍ تَدۡخُلُ عَلَى أَدَوَاتِ الۡعَمَلِ فَهِيَ لِلۡاسۡتِعَانَةِ، مِثۡلُ: (ضَرَبۡتُ بِالۡعَصَا)، وَتَأۡتِي أَيۡضًا لِمَعَانٍ أُخۡرَى.
Ketujuh, huruf ba termasuk tanda-tanda isim. Sehingga, jika engkau mendapati suatu kata diawali oleh huruf ba, maka kata itu adalah isim. Jika engkau katakan, “بِسۡمِ اللهِ (Dengan nama Allah),” maka اسۡمِ adalah isim. Padanya ada sebagian tanda-tanda isim, yaitu: diawali oleh huruf khafdh dan khafdh.
Allah taala berfirman, “أَلَيۡسَ اللهُ بِعَزِيزٍ ذِى انتِقَامٍ (Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?)” (QS. Az-Zumar: 37). عَزِيزٍ adalah isim karena diawali oleh huruf khafdh yaitu huruf ba, di-khafdh, dan ditanwin. Ini adalah tiga tanda isim.
Huruf ba bisa bermakna sebab. Huruf ba memiliki banyak makna di antaranya bermakna sebab dan meminta bantuan, seperti: كَتَبۡتُ بِالۡقَلَمِ (Aku menulis dengan bantuan pena). Setiap huruf ba yang mengawali alat pekerjaan, maka maknanya adalah meminta bantuan, seperti: ضَرَبۡتُ بِالۡعَصَا (Aku memukul dengan bantuan tongkat). Huruf ba juga memiliki beberapa makna lain.
الثَّامِنُ: (الۡكَافُ)، الۡكَافُ أَيۡضًا مِنۡ حُرُوفِ الۡخَفۡضِ، تَقُولُ: (فُلَانٌ كَالۡبَحۡرِ كَرَمًا)، نَقُولُ: (الۡبَحۡرِ) اسۡمٌ، فِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡأَسۡمَاءِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ: الۡكَافُ، وَالۡأَلِفُ وَاللَّامُ، وَالۡخَفۡضُ.
لَوۡ قَالَ قَائِلٌ: (فُلَانٌ كَالۡبَحۡرُ) بِالرَّفۡعِ، لَقُلۡنَا: هَٰذَا خَطَأٌ، لِأَنَّ الۡكَافَ حَرۡفُ خَفۡضٍ، يَجِبُ أَنۡ يَخۡفِضَ مَا بَعۡدَهُ، وَلَوۡ قَالَ: (فُلَانٌ كَالۡبَحۡرَ) بِالنَّصۡبِ، لَقُلۡنَا: هَٰذَا خَطَأٌ، وَلٰكِنۡ عَلَيۡهِ أَنۡ يَقُولَ: (فُلَانٌ كَالۡبَحۡرِ) بِالۡجَرِّ، فَـ(فُلَانٌ) اسۡمٌ، وَفِيهِ مِنَ الۡعَلَامَاتِ التَّنۡوِينُ، وَ(كَرَمًا) اسۡمٌ، وَفِيهِ مِنَ الۡعَلَامَاتِ التَّنۡوِينُ؛ وَمَعۡنَى (الۡكَافِ) التَّشۡبِيهُ.
Kedelapan, huruf kaf. Huruf kaf juga termasuk huruf khafdh. Engkau katakan, “فُلَانٌ كَالۡبَحۡرِ كَرَمًا (Polan, kedermawanannya seperti lautan).” Kita katakan: الۡبَحۡرِ adalah isim. Padanya ada tiga tanda isim, yaitu: huruf kaf, huruf alif lam, dan khafdh.
Kalau ada yang berkata, “فُلَانٌ كَالۡبَحۡرُ” dengan rafa’, tentu kita katakan: Ini keliru karena huruf kaf adalah huruf khafdh, wajib untuk meng-khafdh kata setelahnya. Kalau ia berkata, “فُلَانٌ كَالۡبَحۡرَ” dengan nashab, tentu kita katakan: Ini keliru. Tetapi wajib baginya untuk mengatakan, “فُلَانٌ كَالۡبَحۡرِ” dengan jarr. فُلَانٌ adalah isim, padanya ada sebagian tanda isim, yaitu tanwin. كَرَمًا juga isim, padanya ada tanwin yang termasuk tanda isim. Makna huruf kaf adalah untuk menyerupakan.
التَّاسِعُ: (اللَّامُ) أَيۡضًا مِنۡ حُرُوفِ الۡخَفۡضِ إِذَا دَخَلَتۡ عَلَى اسۡمٍ خَفَضَتۡهُ، وَلَا تَدۡخُلُ إِلَّا عَلَى الۡأَسۡمَاءِ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّهُ لِحُبِّ الۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ﴾ [العاديات: ٨]، (حُبِّ) اسۡمٌ، وَفِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡاسۡمِ: الۡخَفۡضُ، وَدُخُولُ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ، وَ(الۡخَيۡرِ) اسۡمٌ، وَفِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡاسۡمِ عَلَامَتَانِ: الۡخَفۡضُ، وَدُخُولُ الۡأَلِفِ وَاللَّامِ، وَ(لَشَدِيدٌ) اسۡمٌ، وَفِيهِ مِنۡ عَلَامَاتِ الۡاسۡمِ: التَّنۡوِينُ، وَاللَّامُ هُنَا للتَّوۡكِيدِ، وَلَيۡسَتۡ حَرۡفَ جَرٍّ.
وَاللَّامُ تَأۡتِي لِمَعَانٍ مِنۡهَا التَّمۡلِيكُ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَكُمۡ نِصۡفُ مَا تَرَكَ أَزۡوَٰجُكُمۡ﴾ [النساء: ١٢]، أَيۡ: مِلۡكٌ لَكُمۡ، وَتَقُولُ: (الۡمَالُ لِزَيۡدٍ) أَيۡ: مِلۡكٌ لَهُ.
Kesembilan, huruf lam juga termasuk huruf khafdh. Jika mengawali suatu isim, maka akan meng-khafdh­-kannya. Huruf khafdh lam hanya bisa mengawali isim.
Allah taala berfirman, “وَإِنَّهُ لِحُبِّ الۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ (dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta).” (QS. Al-‘Adiyat: 8). حُبِّ adalah isim. Padanya ada sebagian tanda isim: khafdh dan diawali oleh huruf khafdh. الۡخَيۡرِ adalah isim. Padanya ada dua tanda isim: khafdh dan diawali oleh huruf alif lam. لَشَدِيدٌ adalah isim. Padanya ada sebagian tanda isim, yaitu tanwin. Huruf lam di sini untuk taukid (penekanan) dan bukan huruf jarr.
Huruf lam memiliki banyak makna, di antaranya adalah tamlik (kepemilikian). Allah taala berfirman, “وَلَكُمۡ نِصۡفُ مَا تَرَكَ أَزۡوَٰجُكُمۡ (Dan bagi kalian (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian)” (QS. An-Nisa: 12). Yakni: milik kalian. Engkau katakan, “الۡمَالُ لِزَيۡدٍ” artinya harta itu milik Zaid. 

Ummu Mahjan Al Anshariyah

Jangan remehkan kebaikan! Mengapa demikian? Karena sesungguhnya seseorang tidak akan pernah tahu dengan pasti mana dari amalan-amalan yang dia lakukan yang diterima oleh Allah subhanahu wa taala. Dia juga tidak akan pernah tahu secara pasti amalan dia yang manakah yang dapat mengantarkannya ke surga. Itu sebabnya jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun.

Akan tetapi, sayangnya... sepertinya banyak yang menganggap sepele peringatan ini. Mayoritas manusia telah terpola pikirannya dengan gaya hidup materialisme. Sesuatu yang kecil dianggap tidak berarti. Sesuatu yang besar, barulah membanggakan dan menghasilkan. Padahal cara berpikir demikian adalah cara berpikir yang jauh dari kehidupan Islami.

Syariat Islam mengajarkan sebaliknya. Sesuatu tidaklah dilihat dari keadaan lahirnya semata. Sekecil apapun perkara yang dilakukan seorang hamba, mesti ada perhitungannya kelak, yaitu di hari ketika semua perkara diperhitungkan di hadapan Allah subhanahu wa taala. Di hari kiamat tidaklah ada satu orangpun yang akan dirugikan oleh Allah subhanahu wa taala. Sekecil apapun kebaikan maka akan didatangkan perhitungan dan pembalasannya. Begitu pula dengan keburukan. Sekecil apapun itu, Allah bakal datangkan perhitungan dan pembalasannya. Allah subhanahu wa taala berfirman dalam Al Quran Surat Al Anbiya: 47 yang artinya, “Dan Kami letakkan timbangan keadilan pada hari kiamat. Maka tidaklah akan dizalimi seorangpun sedikitpun. Sekalipun (keadaan kebaikan atau kejelekan tersebut) sebesar biji sawi akan Kami datangkan dengannya (perhitungan dan pembalasannya). Dan cukuplah Kami sebagai penghitung.”

Terlebih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ المْعَرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, sekalipun (hanya sekadar) engkau memberikan kepada saudaramu wajah yang berseri-seri.” [Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim].

SubhaanAllah... begitu agung dan mudahnya syariat Islam. Tidak seseorangpun melainkan dia mempunyai kesempatan yang sama di sisi Allah dalam berupaya memperbanyak amal kebaikan. Yang Allah takdirkan mempunyai kemampuan serta peran yang besar di dalam dakwah dan amal maka ia kerjakan sebagaimana yang ia mampui, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban dengan bagiannya yang besar tersebut di hadapan Allah kelak.

Sedangkan orang yang Allah takdirkan hanya memiliki sedikit kemampuan dan peran yang kecil dalam dakwah dan amal, entah karena fisiknya yang lemah, ataukah karena ekonominya yang sedikit, ataukah karena ilmunya yang terbatas, maka dia tidak perlu berkecil hati. Selama seseorang beramal ikhlas karena mengharapkan keridaan Allah subhanahu wa taala, bukan tidak mungkin amalannya tersebut dapat menghantarkannya ke surga, semua itu karena Allah tidak akan membebaninya kecuali sesuai dengan kesanggupannya.

Maka... pada kisah niswah kali ini kita kan melihat salah satu sosok shahabiyah yang mungkin amalannya sangat biasa. Akan tetapi ternyata amalan tersebut membekas di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga dia berhak mendapatkan doa Rasul di penghujung hayatnya. Dia adalah Ummu Mahjan Al Anshariyah radhiyallahu ‘anha.

Tidak ada yang tahu persis siapa nama asli beliau. Beliau hanyalah seorang wanita tua yang miskin dan berkulit hitam. Dia termasuk penduduk asli Madinah. Orang-orang di sekitarnya biasa memanggilnya Ummu Mahjan. Mungkin tiada seorangpun yang pernah terpikir akan meneladani apa yang diperbuat dan dilakukan oleh Ummu Mahjan. Bahkan mungkin tidak terbesit dalam benak Ummu Mahjan sendiri. Tidak berniat untuk dikenal apalagi dikenang. Beliau hanya sekadar melakukan sesuatu yang bisa dikerjakannya dan berharap sesuatu itu dapat memberikan manfaat baginya di dunia maupun di akhiratnya. Sesungguhnya apa yang dikerjakan oleh Ummu Mahjan?

Ummu Mahjan -sebagaimana telah disebutkan- adalah seorang wanita tua dan miskin. Tidak banyak amalan yang dapat dilakukannya. Tenaganya sudah sangat berkurang dimakan usia, belum lagi keadaannya yang miskin membuatnya terhalang dari melakukan amalan yang berkaitan dengan harta. Tapi hal tersebut tidak membuatnya berkecil hati. Ia sadar benar bahwa Allah senantiasa membuka pintu kebaikan bagi siapapun yang menghendaki keridaan-Nya.

Maka dengan penuh kesederhanaan Ummu Mahjan mulai menyingsingkan lengannya berupaya memberikan sedikit tenaga yang dimilikinya untuk membersihkan masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ya... hanya sekadar membersihkan masjid. Akan tetapi, siapa yang meremehkan masjid Allah? Berbagai amalan kebaikan dilakukan di sana. Salat lima waktu, halaqah ilmi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tempat para hamba Allah beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Maka bagi Ummu Mahjan tempat ini haruslah senantiasa dijaga kebersihannya.

Ia lakukan amalan ini dengan penuh kesungguhan. Setiap mendekati waktu-waktu salat, di setiap harinya, ia berusaha tidak terluput dari menjaga kebersihannya. Demikian senantiasa dia lakukan hingga ajal menjemputnya. SubhaanAllah... Mungkin itulah sebabnya, mungkin awalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengenalnya, akan tetapi karena seringnya Rasulullah melihat dan bertemu dengannya ketika sedang membersihkan masjid, maka ketika ia tidak ada, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan dirinya.

Ya... Ummu Mahjan wafat pada suatu malam. Para sahabat menguburkannya di sepertiga malam yang akhir di Baqi Al Gharqad, dan mereka enggan membangunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang tertidur. Hingga akhirnya di pagi harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan seorang wanita tua yang biasa membersihkan masjid. Beliau menanyakannya kepada para sahabatnya. Para sahabat menjawab, “Ia telah wafat.”

“Mengapa kalian tidak mengabariku?” Rasulullah bertanya seakan menyalahkan keputusan sahabat yang tidak membangunkan beliau. Para sahabat menganggap Ummu Mahjan adalah sosok yang kurang berarti sehingga merasa tidak perlu membangunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mengetahui bahwa Ummu Mahjan telah tiada dan telah dikuburkan, maka Rasulullah meminta untuk ditunjukkan kuburannya. Merekapun menunjukkannya dan kemudian Rasulullah menyalatinya di kuburannya.

SubhaanAllah... Lihatlah! Betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganggap remeh kebaikan yang dikerjakan Ummu Mahjan radhiyallahu ‘anha. Bahkan beliau merasa tidak suka untuk melewatkan kesempatan menyalati dan mendoakan Ummu Mahjan di dalam salatnya, berharap Allah subhanahu wa taala mengabulkan doa yang beliau panjatkan bagi Ummu Mahjan. Bahkan beliau menjelaskan kepada para sahabatnya setelah melaksanakan salat bagi Ummu Mahjan, bahwa kuburan-kuburan di sekitar Ummu Mahjan pun mendapatkan berkah karena sebab salat yang beliau laksanakan bagi Ummu Mahjan di area perkuburan tersebut. Beliau bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari yang artinya, “Sesungguhnya para penghuni kuburan-kuburan ini (yaitu kuburan-kuburan yang ada di sekitar Ummu Mahjan mayoritasnya) dipenuhi dengan kegelapan, dan Allah menerangi mereka dengan sebab salatku kepada mereka.”

SubhaanAllah... Kebaikan yang dilakukan oleh Ummu Mahjan bahkan dapat memberikan manfaat bukan hanya bagi dirinya di dunia maupun di alam kuburnya, tapi juga bagi orang lain. Maa syaa Allah.

Dari kisah sederhana tersebut tersirat sebuah pelajaran yang besar. Ternyata kebaikan besar bisa tercipta dengan sebuah amalan yang mungkin terlihat sederhana. Niat dan keikhlasan kepada Allah sajalah yang membuat amalan itu bisa berubah menjadi besar. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan dalam sebuah hadis bahwa setiap amalan itu tergantung dari niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Apalagi jika amalan tersebut adalah amalan kebaikan, sesuai dengan tuntunan Rasul, dikerjakan terus menerus. Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda,
وَكَانَ أَحَبُّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ صَاحِبُهُ عَلَيْهِ
“Dan keadaan amalan / perkara yang paling dicintai di dalam agama adalah amalan yang pelakunya terus-menerus melakukannya.” [H.R. Mutafaqun alaihi].

SubhaanAllah... ternyata demikianlah amalan yang dicintai di dalam agama kita. Sekalipun tidak banyak, akan tetapi terus dilakukan, istiqamah dalam melaksanakannya, mengharap keridaan Allah, maka akan berbuah hasil yang besar. Apalagi jika amalan itu amalan yang lebih besar lagi. Lalu... apa yang membuat kita duduk termangu menunggu ada amalan besar yang harus dikerjakan? Sepantasnya kita bersegera bangkit menyingsingkan lengan untuk melakukan kebaikan di kehidupan kita ini. Kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain pada hakikatnya adalah kebaikan untuk bekal kita sendiri di akhirat kelak. Ingat sabda Rasulullah di atas, “Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, sekalipun (hanya sekadar) engkau memberikan kepada saudaramu wajah yang berseri-seri.” [Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim].

Jika demikian... Sudahkah kita mulai hari ini dengan senyuman...?

Sumber: Majalah Qudwah edisi 46 vol.04 2017 rubrik Niswah. Pemateri: Al Ustadzah Ummu Abdillah Shafa.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5106

٢٦ - بَابٌ ﴿وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمۡ مِنۡ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلۡتُمۡ بِهِنَّ﴾ [النساء: ٢٣]
26. Bab “anak-anak istri kalian yang dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kamu campuri” (QS. An-Nisa`: 23)

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: الدُّخُولُ وَالۡمَسِيسُ وَاللِّمَاسُ هُوَ الۡجِمَاعُ. وَمَنۡ قَالَ: بَنَاتُ وَلَدِهَا مِنۡ بَنَاتِهِ فِي التَّحۡرِيمِ، لِقَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ لِأُمِّ حَبِيبَةَ، (لَا تَعۡرِضۡنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ). وَكَذٰلِكَ حَلَائِلُ وَلَدِ الۡأَبۡنَاءِ هُنَّ حَلَائِلُ الۡأَبۡنَاءِ. وَهَلۡ تُسَمَّى الرَّبِيبَةَ وَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ فِي حَجۡرِهِ؟ وَدَفَعَ النَّبِيُّ ﷺ رَبِيبَةً لَهُ إِلَى مَنۡ يَكۡفُلُهَا، وَسَمَّى النَّبِيُّ ﷺ ابۡنَ ابۡنَتِهِ ابۡنًا.
Ibnu ‘Abbas mengatakan: Kata dukhul, masis, dan limas artinya jimak. Dan siapa saja yang berkata: Putri dari anak laki-lakinya hukumnya sama dengan putrinya dalam masalah haram dinikahi, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Habibah, “Jangan engkau tawarkan putri-putri kalian kepadaku!” Demikian pula istri-istri anak dari putranya sama hukumnya dengan istri-istri putra-putranya. Apakah juga dinamakan rabibah walaupun dia tidak di bawah pemeliharaannya? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan rabibah (putri tiri) beliau kepada orang yang mengasuhnya dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut putra dari putrinya sebagai putra.
٥١٠٦ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ زَيۡنَبَ، عَنۡ أُمِّ حَبِيبَةَ قَالَتۡ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلۡ لَكَ فِي بِنۡتِ أَبِي سُفۡيَانَ؟ قَالَ: (فَأَفۡعَلُ مَاذَا؟). قُلۡتُ: تَنۡكِحُ، قَالَ: (أَتُحِبِّينَ؟). قُلۡتُ: لَسۡتُ لَكَ بِمُخۡلِيَةٍ، وَأَحَبُّ مَنۡ شَرَكَنِي فِيكَ أُخۡتِي، قَالَ: (إِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِي). قُلۡتُ: بَلَغَنِي أَنَّكَ تَخۡطُبُ. قَالَ: (ابۡنَةَ أُمِّ سَلَمَةَ؟). قُلۡتُ: نَعَمۡ، قَالَ: (لَوۡ لَمۡ تَكُنۡ رَبِيبَتِي مَا حَلَّتۡ لِي، أَرۡضَعَتۡنِي وَأَبَاهَا ثُوَيۡبَةُ، فَلَا تَعۡرِضۡنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ). وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ: دُرَّةُ بِنۡتُ أَبِي سَلَمَةَ. [طرفه في: ٥١٠١].
5106. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Zainab, dari Ummu Habibah, beliau mengatakan: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah engkau berminat terhadap putri Abu Sufyan? Beliau bertanya, “Apa yang hendak aku lakukan?” Aku katakan: Engkau nikahi. Beliau bertanya, “Apakah engkau suka?” Aku berkata: Aku mendapati engkau memiliki istri selainku dan aku suka orang yang menemaniku denganmu adalah saudara perempuanku. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia tidak halal untukku.” Aku berkata: Telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau sedang melamar. Beliau bertanya, “Dengan putri Ummu Salamah?” Aku berkata: Iya. Beliau bersabda, “Seandainya dia bukan rabibahku, dia tetap tidak halal untukku. Tsuwaibah telah menyusuiku dan ayahnya. Jadi, kalian jangan tawarkan putri-putri dan saudara-saudara perempuan kalian kepadaku.” Al-Laits berkata: Hisyam menceritakan kepada kami: Dia adalah Durrah binti Abu Salamah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5105

٢٥ - بَابُ مَا يَحِلُّ مِنَ النِّسَاءِ وَمَا يَحۡرُمُ
25. Bab wanita yang halal dan yang haram dinikahi

وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمۡ أُمَّهَاتُكُمۡ وَبَنَاتُكُمۡ وَأَخَوَاتُكُمۡ وَعَمَّاتُكُمۡ وَخَالَاتُكُمۡ وَبَنَاتُ الۡأَخِ وَبَنَاتُ الۡأُخۡتِ﴾ إِلَى آخِرِ الۡآيَتَيۡنِ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا﴾ [النساء: ٢٣ – ٢٤] وَقَالَ أَنَسٌ: ﴿وَالۡمُحۡصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ﴾ ذَوَاتُ الۡأَزۡوَاجِ الۡحَرَائِرُ حَرَامٌ ﴿إِلَّا مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾، لَا يَرَى بَأۡسًا أَنۡ يَنۡزِعَ الرَّجُلُ جَارِيَتَهُ مِنۡ عَبۡدِهِ. وَقَالَ: ﴿وَلَا تَنۡكِحُوا الۡمُشۡرِكَاتِ حَتَّى يُؤۡمِنَّ﴾ [البقرة: ٢٢١] وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: مَا زَادَ عَلَى أَرۡبَعٍ فَهۡوَ حَرَامٌ، كَأُمِّهِ وَابۡنَتِهِ وَأُخۡتِهِ.
Dan firman Allah taala, “Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian; anak-anak kalian yang perempuan; saudara-saudara kalian yang perempuan, saudara-saudara bapak kalian yang perempuan; saudara-saudara ibu kalian yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara yang perempuan,” sampai akhir ayat berikutnya, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa`: 23-24). Anas mengatakan, “dan (diharamkan juga kamu menikahi) wanita yang bersuami,” yaitu wanita-wanita yang memiliki suami yang merdeka adalah haram (dinikahi). “kecuali budak-budak yang kalian miliki”, beliau berpendapat tidak mengapa seorang laki-laki menikahi budak perempuannya. Allah berfirman, “Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” (QS. Al-Baqarah: 221). Ibnu ‘Abbas mengatakan: Menikahi istri lebih dari empat adalah haram, sebagaimana haramnya menikahi ibunya, putrinya, dan saudara perempuannya.
٥١٠٥ - وَقَالَ لَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ سُفۡيَانَ: حَدَّثَنِي حَبِيبٌ، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: حُرِّمَ مِنَ النَّسَبِ سَبۡعٌ، وَمِنَ الصِّهۡرِ سَبۡعٌ. ثُمَّ قَرَأَ: ﴿حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمۡ أُمَّهَاتُكُمۡ﴾ الۡآيَةَ. وَجَمَعَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ جَعۡفَرٍ بَيۡنَ ابۡنَةِ عَلِيٍّ وَامۡرَأَةِ عَلِيٍّ، وَقَالَ ابۡنُ سِيرِينَ: لَا بَأۡسَ بِهِ، وَكَرِهَهُ الۡحَسَنُ مَرَّةً، ثُمَّ قَالَ: لَا بَأۡسَ بِهِ. وَجَمَعَ الۡحَسَنُ بۡنُ الۡحَسَنِ بۡنِ عَلِيٍّ بَيۡنَ ابۡنَتَيۡ عَمٍّ فِي لَيۡلَةٍ، وَكَرِهَهُ جَابِرُ بۡنُ زَيۡدٍ لِلۡقَطِيعَةِ، وَلَيۡسَ فِيهِ تَحۡرِيمٌ، لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَأُحِلَّ لَكُمۡ مَا وَرَاءَ ذٰلِكُمۡ﴾ [النساء: ٢٤]. وَقَالَ عِكۡرِمَةُ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: إِذَا زَنَى بِأُخۡتِ امۡرَأَتِهِ لَمۡ تَحۡرُمۡ عَلَيۡهِ امۡرَأَتُهُ. وَيُرۡوَى عَنۡ يَحۡيَى الۡكِنۡدِيِّ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ وَأَبِي جَعۡفَرٍ فِيمَنۡ يَلۡعَبُ بِالصَّبِيِّ: إِنۡ أَدۡخَلَهُ فِيهِ، فَلَا يَتَزَوَّجَنَّ أُمَّهُ، وَيَحۡيَى هٰذَا غَيۡرُ مَعۡرُوفٍ، لَمۡ يُتَابَعۡ عَلَيۡهِ. وَقَالَ عِكۡرِمَةُ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: إِذَا زَنَى بِهَا لَمۡ تَحۡرُمۡ عَلَيۡهِ امۡرَأَتُهُ. وَيُذۡكَرُ عَنۡ أَبِي نَصۡرٍ: أَنَّ ابۡنَ عَبَّاسٍ حَرَّمَهُ. وَأَبُو نَصۡرٍ هَٰذَا لَمۡ يُعۡرَفۡ بِسَمَاعِهِ مِنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ. وَيُرۡوَى عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ، وَجَابِرِ بۡنِ زَيۡدٍ، وَالۡحَسَنِ، وَبَعۡضِ أَهۡلِ الۡعِرَاقِ: تَحۡرُمُ عَلَيۡهِ. وَقَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: لَا تَحۡرُمُ حَتَّى يُلۡزِقَ بِالۡأَرۡضِ، يَعۡنِي يُجَامِعَ. وَجَوَّزَهُ ابۡنُ الۡمُسَيَّبِ وَعُرۡوَةُ وَالزُّهۡرِيُّ، وَقَالَ الزُّهۡرِيُّ: قَالَ عَلِيٌّ لَا تَحۡرُمُ، وَهٰذَا مُرۡسَلٌ.
5105. Ahmad bin Hanbal berkata kepada kami: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Sufyan: Habib menceritakan kepadaku, dari Sa’id, dari Ibnu ‘Abbas: Tujuh wanita diharamkan (dinikahi) karena nasab dan tujuh wanita pula diharamkan (dinikahi) karena hubungan kekerabatan pernikahan. Kemudian beliau membaca ayat, “Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian.” Sampai selesai. ‘Abdullah bin Ja’far mengumpulkan antara putri ‘Ali (Zainab) dan mantan istri ‘Ali (Laila binti Mas’ud). Ibnu Sirin berkata: Hal itu tidak mengapa. Al-Hasan pernah sekali waktu membencinya, namun kemudian beliau berpendapat: Hal itu tidak mengapa. Al-Hasan bin Al-Hasan bin ‘Ali mengumpulkan antara dua putri paman-pamannya dalam satu malam. Jabir bin Zaid membenci hal itu karena dapat memutus silaturahmi. Namun tidak ada pengharaman dalam masalah ini berdasarkan firman Allah taala, “Dan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian.” (QS. An-Nisa`: 24). ‘Ikrimah berkata dari Ibnu ‘Abbas: Jika seorang lelaki berzina dengan saudara perempuan istrinya, tidak lantas istrinya menjadi haram baginya. Diriwayatkan dari Yahya Al-Kindi, dari Asy-Sya’bi dan Abu Ja’far tentang seorang lelaki yang bermain dengan anak laki-laki: Jika ia menyodomi anak itu, maka dia tidak boleh menikahi ibu anak itu. Namun, Yahya ini tidak diketahui ke-‘adalah-annya dan tidak ada yang mengiringinya. ‘Ikrimah berkata dari Ibnu ‘Abbas: Jika seorang lelaki berzina dengan ibu mertuanya, maka istrinya tetap tidak menjadi haram baginya. Disebutkan dari Abu Nashr: Bahwa Ibnu ‘Abbas mengharamkannya. Namun Abu Nashr ini tidak diketahui apakah dia mendengar hadis ini dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain, Jabir bin Zaid, Al-Hasan, dan sebagian ulama ‘Iraq: Wanita itu menjadi haram baginya. Abu Hurairah mengatakan: Tidak menjadi haram kecuali jika ia telah menyetubuhinya. Ibnu Al-Musayyab, ‘Urwah, dan Az-Zuhri membolehkannya (keabsahan hubungan pernikahan dengan wanita itu). Az-Zuhri berkata: ‘Ali mengatakan bahwa wanita itu tidak menjadi haram. Namun riwayat ini mursal.

Shahih Muslim hadits nomor 6

٤ - بَابُ النَّهۡيِ عَنِ الرِّوَايَةِ عَنِ الضُّعَفَاءِ وَالۡاحۡتِيَاطِ فِي تَحَمُّلِهَا
4. Bab larangan meriwayatkan dari rawi-rawi yang lemah dan berhati-hati dalam menerimanya

٦ - (٦) - وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يَزِيدَ، قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ أَبِي أَيُّوبَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو هَانِىءٍ، عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ مُسۡلِمِ بۡنِ يَسَارٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمۡ مَا لَمۡ تَسۡمَعُوا أَنۡتُمۡ وَلَا آبَاؤُكُمۡ، فَإِيَّاكُمۡ وَإِيَّاهُمۡ).
6. (6). Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: ‘Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, beliau berkata: Sa’id bin Abu Ayyub menceritakan kepadaku, beliau berkata: Abu Hani` menceritakan kepadaku, dari Abu ‘Utsman Muslim bin Yasar, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Akan ada orang-orang di akhir umatku yang mereka menceritakan kepada kalian sesuatu yang belum pernah didengar oleh kalian dan bapak-bapak kalian. Hati-hatilah kalian dari mereka!”

KEMULIAAN HAKIKI

Anugerah berupa ilmu dan amal saleh adalah anugerah terindah yang tak ternilai dengan harta duniawi seberapa pun banyaknya. Allah mengaruniakan nikmat besar ini kepada siapa pun yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dengannya pula Allah memuliakan hamba betapapun statusnya dalam pandangan manusia dan inilah yang Allah janjikan dalam ayat-Nya yang artinya, “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berimlu beberapa derajat.” [Q.S. Al Mujadalah: 11]

Tatkala Allah azza wajalla telah berkehendak untuk memilih dan memuliakan hamba-Nya dengan ilmu, maka tidak ada satu pun yang mampu mencegahnya. Tersebutlah seorang mantan budak yang akhirnya menjadi ulama besar di era generasi tabiin. Siapa lagi kalau bukan Atha’ bin Abi Rabah Aslam Al Quraisyi Al Makki rahimahullah yang dilahirkan pada pertengahan masa pemerintahan Utsman. Adapun nama asli ayahnya yang dikenal dengan Abi Rabah adalah Aslam bekas budaknya Habibah bintu Maisarah bin Abi Khutsaim. Atha’ pada awalnya adalah seorang budak yang berkulit hitam, berhidung pesek, dan lumpuh tangannya. Status beliau tatkala masih kecil adalah sebagai hamba sahaya milik seorang wanita di kota Mekah.

Talenta besar yang ada dan semangat tinggi dalam menuntut ilmu agama pada diri Atha’ telah terlihat tatkala ia masih muda. Kesibukannya sebagai budak tidak melalaikan Atha’ dari kewajibannya mencurahkan waktu untuk belajar ilmu agama. Inilah gerangan yang membuat sang majikan akhirnya membebaskan Atha’ karena melihat semangat dan keseriusannya dalam beragama. Majikannya menaruh harapan besar kepada Atha’ agar kelak menjadi orang yang berguna untuk Islam dan kaum muslimin. Maka semenjak saat itu pula Atha’ memiliki kesempatan lebih maksimal untuk menimba ilmu agama setelah sebelumnya belenggu perbudakan membuat ruang geraknya terbatas.

Benar saja, sebagai wujud rasa syukurnya Atha’pun memanfaatkan peluang ini dengan semaksimal mungkin untuk mengambil ilmu dari para sahabat yang mulia seperti Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Hakim bin Hizam, Rafi’ bin Khadij, Zaid bin Arqam, Shafwan bin Umayyah, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr, Ibnu Umar, Jabir, Zaid bin Arqam dan sahabat-sahabat yang lain. Sangat banyak sahabat dan ulama tabiin yang bersua dengan Atha’ dan kesempatan ini tidak disia-siakan olehnya untuk meriwayatkan hadis. Oleh karenanya Atha’ pernah menyatakan, “Aku pernah berjumpa dengan dua ratus sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Atha’ rahimahullah dikenal sebagai sosok yang sabar sepanjang perjalanannya meriwayatkan hadis dan menuntut ilmu. Atha’ adalah cermin kesungguhan dan kesabaran dalam menghadapi rintangan menimba ilmu syar’i hingga beliau pun tidak memedulikan di mana tempat tinggalnya selama menuntut ilmu agama. Ibnu Juraij berkisah, “Masjid adalah tempat tidurnya Atha’ selama 20 tahun, berjuang memperdalam ilmu agama dan ia adalah orang yang paling bagus salatnya.”

Setelah sekian tahun lamanya berjuang dan mengerahkan segala potensi yang dimiliki, maka jadilah Atha’ seorang imam dan mufti di tanah haram. Keilmuan beliau telah diakui dan dipersaksikan oleh ulama-ulama tabiin bahkan sahabat sekalipun. Tatkala ada sebagian penduduk Mekah yang datang menemui Ibnu Abbas untuk bertanya dan meminta fatwa kepadanya, maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhupun menyatakan, “Wahai penduduk Mekah, kenapa kalian datang menemuiku untuk bertanya masalah agama padahal di tengah-tengah kalian ada Atha’ bin Abi Rabah?!”

Kaum muslimin terutama di Mekah sangat merasakan keberadaan Atha’ sebagai ulama dan mufti (pemberi fatwa) dalam berbagai problematika yang mereka hadapi. Bahkan banyak ulama yang mencari majelisnya Atha’ untuk meriwayatkan hadis atau bertanya tentang urusan agama. Di antara ulama tabi’in yang pernah tercatat sebagai perawi sekaligus muridnya adalah Mujahid bin Jabr, Abu Ishaq As Sabi’i, Abu Az Zubair, Amr bin Dinar, Az Zuhri, Qatadah, Amr bin Syuaib, Malik bin Dinar, Al A’masy, Ayyub As Sikhtiyani, Manshur bin Al Mu’tamir, Yahya bin Abi Katsir, Abu Hanifah, Al Hakam bin Utaibah, dan masih banyak selainnya.

Meskipun Atha’ telah dikenal sebagai ulama besar dan mufti di tanah haram, namun hal ini tidak membuat beliau menjadi lupa diri apalagi sombong. Justru sebaliknya semakin banyak ilmu yang dimiliki seorang hamba maka akan menumbuhkan sifat tawadhu pada dirinya. Inilah keistimewaan ulama salaf para pendahulu kita yang saleh dari generasi sahabat dan setelahnya. Sungguh kita akan menjumpai mereka sebagai orang-orang yang sangat tawadhu meskipun ilmu mereka telah mencapai level yang sangat tinggi.

Abdul Aziz bin Rufai’ berkisah, “Atha’ pernah ditanya tentang suatu permasalahan.” Maka beliau pun menjawab, “Aku tidak mengetahui jawabannya.” Maka ada seseorang berkata kepadanya, “Tidakkah engkau menjawab dengan pendapatmu sendiri.” Ia menjawab, “Sungguh aku malu kepada Allah untuk beragama di atas bumi ini dengan pendapatku sendiri.” Tentang sifat tawadhunya ini, Ibnu Abi Laila juga menuturkan, “Aku pernah datang menemui Atha’ lantas ia menanyakan beberapa hal kepadaku. Maka para sahabatnya Atha’ merasa heran dengan peristiwa tersebut dan bertanya kepadanya, “Bagaimana bisa engkau bertanya kepada orang itu.” Atha’ pun menjawab, “Apa yang kalian permasalahkan? Orang ini lebih berilmu dariku.”

Figur pemberani dalam menyuarakan kebenaran dan tulus dalam memberikan nasihat juga menjadi satu karakteristik Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah dalam berinteraksi dengan penguasa kaum muslimin. Al Ashmai berkisah, “Suatu hari Atha’ bin Abi Rabah masuk menemui Khalifah Abdul Malik yang sedang duduk di atas tempat istirahatnya, sementara di sekitarnya ada para pembesar kerajaan. Peristiwa ini terjadi di Mekah ketika sang Abdul Malik menunaikan ibadah haji di masa pemerintahannya.

Tatkala Abdul Malik melihat kedatangan Atha’, sang khalifah bergegas bangkit dan mengucapkan salam serta menyambut kehadirannya dengan hangat. Lantas Atha’ duduk di hadapan Abdul Malik dan sang Khalifah bertanya kepadanya, “Wahai Abu Muhammad (kunyahnya Atha’) apakah gerangan kebutuhanmu?” Atha’ menjawab, “Wahai Amirul Mukminin! Bertakwalah dengan menjauhi larangan Allah dan larangan Rasul-Nya. Jalanilah kepemimpinan dengan bijaksana dan bertakwalah kepada Allah terhadap urusan anak-anak kaum Muhajirin dan Anshar. Karena sungguh atas jasa merekalah Anda bisa duduk di atas singgasana ini. Bertakwalah kepada Allah terhadap urusan kaum muslimin yang menjaga tapal perbatasan karena mereka adalah bentengnya kaum muslimin. Perhatikanlah urusan-urusan kaum muslimin karena kelak Anda seorang diri akan ditanya tentang mereka. Dan bertakwalah kepada Allah dalam menyikapi siapa saja yang berada di depan pintu rumahmu (orang-orang yang membutuhkan bantuanmu) jangan Anda melalaikan mereka dan jangan menutup pintu untuk menghindar dari mereka.”

Khalifah Abdul Malik menyatakan, “Aku akan lakukan semua nasihatmu.” Maka Atha’ segera bangkit untuk pergi namun Khalifah Abdul Malik segera memegang tangannya seraya mengatakan, “Wahai Abu Muhammad! Sungguh dari tadi engkau hanya memintakan urusan orang lain kepadaku dan kami akan memenuhi permintaan mereka itu. Sekarang sebutkanlah apa yang menjadi kebutuhanmu?” Maka Atha’ menjawab, “Saya tidak mempunyai hajat kepada makhluk.” Lantas Atha’ keluar, maka Abdul Malik mengatakan, “Sungguh ini adalah kemuliaan, sungguh ini adalah kehormatan.”

Allah azza wajalla memberikan karunia umur yang panjang kepada Atha’ sehingga usianya mencapai lebih dari 80 tahun. Demikianlah Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah yang telah menghabiskan masa muda hingga lanjut usia dengan ilmu dan amal. Beliau adalah orang yang begitu zuhud terhadap dunia padahal jikalau mau, bisa saja Atha’ mencari dan mengumpulkan harta dunia. Umar bin Dzar menuturkan, “Aku belum pernah melihat orang seperti Atha’. Aku belum pernah melihatnya mengenakan gamis sama sekali dan aku belum pernah melihatnya memakai pakaian yang harganya senilai lima dirham.”

Masa tua telah tiba dan fisik pun melemah, namun tidak demikian dengan semangat ibadahnya. Ibnu Juraij mengatakan, “Aku menemani Atha’ selama delapan belas tahun dan fisiknya melemah setelah menginjak usia tua. Namun ia masih mampu berdiri melakukan salat dengan khusyuk dan membaca dua ratus ayat dari surat Al Baqarah tanpa bergerak sama sekali.” Atha meninggal dunia pada tahun 115 H dengan usia 88 tahun dan dimakamkan di kota tempat tinggalnya. Semoga Allah subhanahu wa taala mencurahkan rahmat dan ampunan-Nya serta memberikan sebaik-baik balasan untuk beliau. Allahu A’lam.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 46 vol 04 2017 rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafy Abdullah.

IMAMNYA Para Imam

Beliau adalah Syu’bah bin Al Hajjaaj bin Al Ward Al Azdiy Al Wasithiy Al Bashriy rahimahullah. Kunyah beliau adalah Abu Bistham. Sebagian ada yang memanggil beliau dengan sebutan Abu Said. Beliau adalah seorang ulama hadis dari Bashrah, Irak. Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa beliau terlahir di 80 Hijriyah pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan.

Beliau meriwayatkan hadis dari beberapa orang, di antaranya: Ayyub As Sikhtiyaaniy dan Abu Ishaq. Masih banyak ulama lain yang beliau ambil riwayat hadisnya. Bahkan, Al Imam Al Mizziy menyebutkan daftar guru-guru beliau itu dalam 7 halaman. Sedangkan ulama yang mengambil riwayat hadis dari beliau di antaranya: Waki’ bin Al-Jarrah, Abdullah bin Al Mubarak, dan Abdurrahman bin Mahdi.

Beliau tidak hanya dikenal sebagai ahlul hadis, namun juga ahli ibadah. Abu Qathn rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat Syu’bah melakukan rukuk (dalam salat sunnah, pent) kecuali aku menyangka bahwa beliau telah lupa (karena saking lamanya), dan tidaklah beliau duduk di antara 2 sujud kecuali aku menyangka bahwa beliau telah lupa (karena saking lamanya).” [Riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliyaa’].

Abu Bakr Al Bakraawiy rahimahullah menyatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih (kuat) beribadah dibandingkan Syu’bah. Beliau (banyak) beribadah kepada Alah hingga mengering kulit yang membungkus tulangnya. Hingga tidak ada daging (pada kulitnya).” [Riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliyaa’].

Abu Dawud Ath Thayaalisiy rahimahullah menyatakan, “Kami pernah berada di sisi Syu’bah. Tiba-tiba datang Sulaiman bin Al Mughirah menangis. Syu’bah bertanya, ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis?’ Sulaiman berkata, ‘Wahai Abu Said, keledaiku mati. Telah lewat dariku (waktu) Jumat, dan telah pergi kebutuhan-kebutuhanku.’ Syu’bah berkata, ‘Engkau dulu membelinya seharga berapa?’ Sulaiman berkata, ‘3 dinar.’ Syu’bah berkata, ‘Aku punya 3 dinar. Demi Allah, aku tidak punya yang lain.’ Syu’bah berkata, “Wahai anak, bawakan ke sini kantong itu.’ Ternyata di dalamnya terdapat 3 dinar, kemudian diberikan pada Sulaiman. Syu’bah berkata, ‘Belilah keledai dengan ini, janganlah menangis lagi.’” [Riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliyaa’].

Keteladanan dalam qona’ah dan zuhud juga ada pada beliau. Syu’bah pernah berkata, “Jika aku punya tepung dan usus (itu sudah cukup bagiku, pent). Aku tidak peduli dengan hal-hal yang terluput dariku berupa urusan duniawi.” [Riwayat Adz Dzahabiy dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’].

Abu Abdillah Al Hakim rahimahullah menyatakan, “Syu’bah adalah Imamnya para Imam di Bashrah dalam pengenalan terhadap hadis. Beliau pernah melihat Anas bin Malik dan Amr bin Salamah Al-Jarmiy. Beliau mendengar (ilmu) dari 400 guru dari kalangan Tabi’in.” [Siyaar A’laamin Nubalaa’].

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah menyatakan, “Kalau tidak karena Syu’bah, niscaya ilmu hadis tidak dikenal di Irak.” [Siyaar A’laamin Nubalaa].

Abu Dawud At Thayaalisiy rahimahullah berkata, “Aku mendengar 7000 riwayat (baik hadis maupun atsar atau ucapan ulama setelah sahabat, pent) dari Syu’bah.” [Siyaar A’laamin Nubalaa’].

Sufyan Ats Tsauriy rahimahullah berkata, “Syu’bah adalah Amirul Mukminin dalam hadis.” [Siyaar A’laamin Nubalaa’].

Syu’bah bin Al Hajjaj rahimahullah dikenal sebagai seorang yang tegas dan sangat keras dalam menyikapi para perawi hadis yang menyimpang atau lemah. Beliau melakukan perjalanan melintasi berbagai negeri untuk memastikan keadaan perawi hadis. Meski itu hanya untuk memastikan keshahihan satu hadis saja, beliau menempuh perjalanan panjang tersebut.

Beliau meneliti suatu hadis dan mendatangi satu persatu perawi yang disebutkan dalam sanad hadis itu. Beliau mengunjungi Abdullah bin Atha’ di Makkah. Di sana, Abdullah bin Atha’ menyatakan bahwa ia mendengar hadis itu dari Sa’ad bin Ibrahim. Beliaupun beranjak pergi menuju tempat Sa’ad bin Ibrahim yang berada di Madinah. Ternyata, sampai di Madinah, Sa’ad bin Ibrahim menjelaskan bahwa hadis itu ia dengar dari perawi yang tempat tinggalnya ada di dekat kediaman Syu’bah, di Bashrah (Irak), yaitu Ziyaad bin Mikhraaq. Syu’bah pun kembali pulang ke Bashrah. Ketika menemui Ziyaad bin Mikhraaq, dikatakan kepada beliau bahwa hadis itu didengar dari Syahr bin Hawsyab, seorang perawi hadis yang memiliki unsur kelemahan. Syu’bah kemudian menyatakan, “Kalau seandainya hadis ini shahih, itu lebih aku cintai dibandingkan keluargaku, hartaku, dan manusia seluruhnya.” (kisah ini disebutkan Al Baihaqiy dalam Al Qira’ah Khalfal Imaam, Al Khathib Al Baghdaadiy dalam Ar Rihlah fii Thalabil Hadiits, Ibnu ‘Adi dalam Al Kaamil).

Syu’bah bin Al Hajjaj rahimahullah meninggal di tahun 160 Hijriyah.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 46 vol. 04 2017 rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Utsman Kharisman.

Aqra’ bin Habis radhiyallahu ‘anhu

Tokoh kita kali ini adalah seorang yang dihormati di masa jahiliyahnya dan di masa Islam. Ia dahulunya adalah seorang hakim yang memutuskan perkara orang-orang yang bersengketa. Beliau adalah Al Aqra’ bin Haabis. Nama panjang beliau adalah Al Aqra’ bin Haabis bin Aqqal bin Muhammad bin Sufyan bin Mujaasyi’ At Tamimi Al Mujasi’i Ad Darimi. Ibnu Duraid berkata: Nama asli Al Aqra’ bin Haabis adalah Firas. Beliau disebut Al Aqra’ karena ada kebotakan di kepala beliau. Sebelum masuk Islam, Aqra’ adalah seorang penyembah api (majusy).

Aqra’ adalah salah seorang pembesar Bani Tamim yang merupakan utusan kaumnya, Bani Tamim, kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersamanya ada Utharid bin Hajib, Qais bin ‘Ashim, Zabraqaan bin Badr, Uyainah bin Hishn, dan sejumlah besar dari Bani Tamim yang berjumlah kurang lebih 70 sampai 80 orang. Mereka masuk ke masjid lalu memanggil dengan suara keras agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dari kamar beliau.

“Wahai Muhammad!” Tatkala Rasul telah keluar menemui mereka, mereka lantas berkata, “Wahai Muhammad, kami datang dengan memberikan kebanggaan (نفاخرك) untukmu.” Hal ini membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa terganggu dan tidak senang dengan perbuatan tersebut. Atas merekalah turun ayat Allah dalam surat Al Hujurat ayat keempat
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَآءِ ٱلْحُجُرَٰتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari belakang kamar-kamar mayoritasnya adalah orang yang tidak berakal.” [Q.S. Al Hujurat: 4]

Dalam kesempatan tersebut, para utusan Bani Tamim kemudian bersedia masuk Islam dan mulai mempelajari Al Quran serta permasalahan agama kepada Rasulullah selama beberapa saat lamanya. Setelah sekian lamanya mereka belajar kepada Rasulullah, pulanglah rombongan utusan tersebut kepada kaumnya.

Ada satu kisah menarik tentang beliau yang disebutkan oleh Abu Hurairah. Suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium kedua cucunya, Hasan dan Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Maka Al Aqra’ bin Habis melihat apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu. Ia pun mengatakan, “Sesungguhnya, aku memiliki sepuluh anak. Dan aku belum pernah mencium seorang pun di antara mereka.” Mendengar penuturan Al Aqra’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda yang artinya, “Barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak disayangi.” Demikianlah Rasulullah mengajari Aqra’ akan arti kasih sayang dan ciuman kepada anak. Tentu sikap Rasulullah ini merupakan perkara baru bagi Aqra’ yang tidak biasa melakukannya. Bahwa penting untuk diketahui akan besarnya nilai kasih sayang kepada anak.

Perang yang Diikuti


Aqra’ bin Habis termasuk sahabat yang ikut menyaksikan Peristiwa Fathu Makkah, Perang Hunain, dan Perang Thaif. Perang-perang ini adalah perang yang beliau ikuti di masa Nabi masih hidup. Berhubung Aqra adalah salah seorang pemimpin kaum dan baru saja masuk Islam, maka untuk melunakkan hatinya, Rasul memberikan ghanimah kepadanya dalam jumlah yang besar saat terjadi perang Hunain. Beliau termasuk mualafatu qulubuhum. Masing-masing mereka mendapatkan ghanimah sebanyak 100 ekor unta. Mereka adalah Aqra’ bin Habis, Abu Sufyan, Suhail bin Amr, Uyainah bin Hishn, dan yang lainnya. Pernah pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan kiriman potongan emas dari negeri Yaman dari Ali bin Abi Thalib. Lalu beliau membagi emas tersebut kepada empat orang, salah satunya adalah Aqra’ bin Habis. Beliau juga ikut serta dalam perang Yamamah dan perang-perang setelahnya yang dipimpin oleh Khalid bin Al Walid termasuk saat penaklukan wilayah Anbar di Negeri Irak. Beliau ikut serta pula dalam perang Dumatul Jandal di bawah pimpinan Surahbil bin Hasanah. Kehidupan Aqra’ berakhir di dalam medan perang. Saat terjadi perang Yarmuk, Aqra’ terbunuh bersama sepuluh anak-anaknya. Radhiyallah anhu, semoga Allah meridhainya. [Ustadz Hammam]


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 65 vol.06 1438H-2017M rubrik Figur.

Shahih Muslim hadits nomor 5

٣ – بَابُ النَّهۡيِ عَنِ الۡحَدِيثِ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
3. Bab larangan menceritakan setiap apa yang ia dengar

٥ – (٥) - وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ الۡعَنۡبَرِيُّ: حَدَّثَنَا أَبِي. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ. قَالَا: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ خُبَيۡبِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ حَفۡصِ بۡنِ عَاصِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كَفَى بِالۡمَرۡءِ كَذِبًا أَنۡ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ).
5. (5). ‘Ubaidullah bin Mu’adz Al-Anbari telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Khubaib bin ‘Abdurrahman, dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.”
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ حَفۡصٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ خُبَيۡبِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ حَفۡصِ بۡنِ عَاصِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِمِثۡلِ ذٰلِكَ.
Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Hafsh menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Khubaib bin ‘Abdurrahman, dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… semisal itu.
وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا هُشَيۡمٌ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ التَّيۡمِيِّ، عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ النَّهۡدِيِّ؛ قَالَ: قَالَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنۡهُ: بِحَسۡبِ الۡمَرۡءِ مِنَ الۡكَذِبِ أَنۡ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ.
Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Husyaim mengabarkan kepada kami, dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu ‘Utsman An-Nahdi; Beliau berkata: ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ta’ala ‘anhu mengatakan: Cukuplah seorang berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.
وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحۡمَدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ سَرۡحٍ قَالَ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ؛ قَالَ: قَالَ لِي مَالِكٌ: اعۡلَمۡ أَنَّهُ لَيۡسَ يَسۡلَمُ رَجُلٌ حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ، وَلَا يَكُونُ إِمَامًا أَبَدًا، وَهُوَ يُحَدِّثُ بِكُلِّ مَا سَمِعَ.
Abu Ath-Thahir Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sarh telah menceritakan kepadaku, beliau berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami; Beliau berkata: Malik berkata kepadaku: Ketahuilah bahwa tidaklah selamat seseorang yang menceritakan setiap apa yang ia dengar dan dia tidak akan menjadi pemimpin selama-lamanya dalam keadaan ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي الۡأَحۡوَصِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ؛ قَالَ: بِحَسۡبِ الۡمَرۡءِ مِنَ الۡكَذِبِ أَنۡ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ.
Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami, beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abu Al-Ahwash, dari ‘Abdullah; Beliau mengatakan: Cukuplah seseorang itu berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.
وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى، قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ مَهۡدِيٍّ يَقُولُ: لَا يَكُونُ الرَّجُلُ إِمَامًا يُقۡتَدَى بِهِ حَتَّى يُمۡسِكَ عَنۡ بَعۡضِ مَا سَمِعَ.
Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Aku mendengar ‘Abdurrahman bin Mahdi berkata: Seseorang tidak dapat menjadi seorang pemimpin yang diteladani hingga ia menahan diri dari sebagian apa yang ia dengar.
وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا عُمَرُ بۡنُ عَلِيِّ بۡنِ مُقَدَّمٍ، عَنۡ سُفۡيَانَ بۡنِ حُسَيۡنٍ؛ قَالَ: سَأَلَنِي إِيَاسُ بۡنُ مُعَاوِيَةَ فَقَالَ: إِنِّي أَرَاكَ قَدۡ كَلِفۡتَ بِعِلۡمِ الۡقُرۡآنِ، فَاقۡرَأۡ عَلَيَّ سُورَةً وَفَسِّرۡ، حَتَّى أَنۡظُرَ فِيمَا عَلِمۡتَ. قَالَ فَفَعَلۡتُ، فَقَالَ لِيَ: احۡفَظۡ عَلَيَّ مَا أَقُولُ لَكَ: إِيَّاكَ وَالشَّنَاعَةَ فِي الۡحَدِيثِ، فَإِنَّهُ قَلَّمَا حَمَلَهَا أَحَدٌ إِلَّا ذَلَّ فِي نَفۡسِهِ، وَكُذِّبَ فِي حَدِيثِهِ.
Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: ‘Umar bin ‘Ali bin Muqaddam mengabarkan kepada kami, dari Sufyan bin Husain; Beliau berkata: Iyas bin Mu’awiyah bertanya kepadaku, beliau berkata: Sesungguhnya aku melihat engkau menekuni ilmu Alquran, maka bacakan satu surat kepadaku dan tafsirkanlah sehingga aku dapat melihat apa yang telah engkau ketahui. Beliau berkata: Aku pun melakukannya. Lalu beliau berkata kepadaku: Hafalkanlah apa yang aku ucapkan kepadamu: Hati-hatilah engkau dari berbuat sesuatu yang dibenci dalam hal hadis. Karena jarang orang yang membawanya kecuali ia menghinakan dirinya sendiri dan hadisnya didustakan.
وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ، قَالَا: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: قَالَ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ مَسۡعُودٍ قَالَ: مَا أَنۡتَ بِمُحَدِّثٍ قَوۡمًا حَدِيثًا لَا تَبۡلُغُهُ عُقُولُهُمۡ، إِلَّا كَانَ لِبَعۡضِهِمۡ فِتۡنَةً.
Abu Ath-Thahir dan Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah: Bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud mengatakan: Tidaklah engkau menceritakan satu hadis kepada suatu kaum yang akal-akal mereka tidak dapat mencernanya kecuali hal itu menjadi ujian bagi sebagian mereka.

Shahih Muslim hadits nomor 1447

١٢ - (١٤٤٧) - وَحَدَّثَنَا هَدَّابُ بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أُرِيدَ عَلَى ابۡنَةِ حَمۡزَةَ، فَقَالَ: (إِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِي، إِنَّهَا ابۡنَةُ أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ، وَيَحۡرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحۡرُمُ مِنَ الرَّحِمِ).
12. (1447). Haddab bin Khalid telah menceritakan kepada kami: Hammam menceritakan kepada kami: Qatadah menceritakan kepada kami, dari Jabir bin Zaid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diinginkan untuk menikahi putri Hamzah. Maka, beliau bersabda, “Sesungguhnya dia tidak halal untukku karena dia adalah putri saudara susuanku dan siapa saja yang haram karena hubungan rahim, maka itupun haram karena susuan.”
١٣ - (...) - وَحَدَّثَنَاهُ زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ - وَهُوَ الۡقَطَّانُ -. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يَحۡيَى بۡنِ مِهۡرَانَ الۡقُطَعِيُّ: حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ عُمَرَ. جَمِيعًا عَنۡ شُعۡبَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُسۡهِرٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي عَرُوبَةَ. كِلَاهُمَا عَنۡ قَتَادَةَ. بِإِسۡنَادِ هَمَّامٍ سَوَاءً، غَيۡرَ أَنَّ حَدِيثَ شُعۡبَةَ انۡتَهَىٰ عِنۡدَ قَوۡلِهِ: (ابۡنَةُ أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ).
وَفِي حَدِيثِ سَعِيدٍ: (وَإِنَّهُ يَحۡرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحۡرُمُ مِنَ النَّسَبِ).
وَفِي رِوَايَةِ بِشۡرِ بۡنِ عُمَرَ: سَمِعۡتُ جَابِرَ بۡنَ زَيۡدٍ.
13. Zuhair bin Harb telah menceritakannya kepada kami: Yahya Al-Qaththan menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Yahya bin Mihran Al-Qutha’i telah menceritakan kepada kami: Bisyr bin ‘Umar menceritakan kepada kami. Semuanya dari Syu’bah. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakannya kepada kami: ‘Ali bin Mushir menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Abu ‘Arubah. Masing-masing keduanya dari Qatadah sesuai sanad Hammam. Sama, hanya saja hadis Syu’bah berhenti di sabda beliau, “putri saudara susuanku.”
Di dalam hadis Sa’id, “Dan bahwasanya siapa saja yang haram karena nasab, maka itupun haram karena susuan.”
Di dalam riwayat Bisyr bin ‘Umar: Aku mendengar Jabir bin Zaid.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5109, 5110, dan 5111

٥١٠٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يُجۡمَعُ بَيۡنَ الۡمَرۡأَةِ وَعَمَّتِهَا، وَلَا بَيۡنَ الۡمَرۡأَةِ وَخَالَتِهَا). [الحديث ٥١٠٩ – طرفه في: ٥١١٠].
5109. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh dikumpulkan antara seorang wanita dengan bibi dari jalur ayahnya (dalam pernikahan). Tidak boleh pula antara seorang wanita dengan bibi dari jalur ibunya.”
٥١١٠، ٥١١١ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ قَالَ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي قَبِيصَةُ بۡنُ ذُؤَيۡبٍ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ يَقُولُ: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ تُنۡكَحَ الۡمَرۡأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا، وَالۡمَرۡأَةُ وَخَالَتُهَا. فَنُرَى خَالَةَ أَبِيهَا بِتِلۡكَ الۡمَنۡزِلَةِ؛ لِأَنَّ عُرۡوَةَ حَدَّثَنِي عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: حَرِّمُوا مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحۡرُمُ مِنَ النَّسَبِ. [طرفه في: ٢٦٤٤].
5110, 5111. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Yunus mengabarkan kepadaku, dari Az-Zuhri, beliau berkata: Qabishah bin Dzuaib menceritakan kepadaku: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang wanita dinikahi bersama bibinya dari jalur ayah dan melarang seorang wanita dinikahi bersama bibinya dari jalur ibu. Kami memandang bahwa bibi ayahnya dari jalur ibu juga masuk dalam larangan itu. Karena ‘Urwah menceritakan kepadaku dari ‘Aisyah, beliau mengatakan: Haramkanlah karena susuan apa saja yang haram karena nasab.