Syarh Al-Ajurrumiyyah - Wawu sebagai Tanda Rafa'

نِيَابَةُ الۡوَاوِ عَنِ الضَّمَةِ:
Penggantian huruf wawu dari harakat damah:
قَوۡلُهُ: (وَأَمَّا الۡوَاوُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفۡعِ فِي مَوۡضِعَيۡنِ: فِي جَمۡعِ الۡمُذَكَّرِ السَّالِمِ، وَفِي الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ، وَهِيَ: أَبُوكَ، وَأَخُوكَ، وَحَمُوكَ، وَفُوكَ، وَذُو مَالٍ).
Ucapan mualif, “Adapun huruf wawu merupakan tanda rafa’ pada dua tempat, yaitu: pada jamak muzakar salim dan al-asma` al-khamsah (isim yang lima), yaitu: أَبُوكَ, أَخُوكَ, حَمُوكَ, فُوكَ, dan ذُو مَالٍ.”
قَالَ الۡمُؤَلِّفُ –رَحِمَهُ اللهُ-: (وَأَمَّا الۡوَاوُ) أَتَى بِالۡوَاوِ بَعۡدَ الضَّمَّةِ، وَهُوَ لَمۡ يَأۡتِ بِالۡأَلِفِ بَعۡدَ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّ الضَّمَّةَ إِذَا أُشۡبِعَتۡ تَوَلَّدَ مِنۡهَا وَاوٌ، فَالۡوَاوُ أَقۡرَبُ شَيۡءٍ لِلضَّمَّةِ، فَلِهَٰذَا جَعَلَهَا الۡمُؤَلِّفُ تُوَالِيهَا.
Mualif rahimahullah berkata, “Adapun huruf wawu”; beliau membawakan huruf wawu setelah harakat damah. Beliau tidak menyebutkan huruf alif dahulu setelah harakat damah karena harakat damah jika dipanjangkan akan memunculkan huruf wawu. Jadi wawu paling dekat dengan harakat damah. Atas dasar ini, mualif meletakkannya langsung setelah damah.
وَقَوۡلُهُ: (وَأَمَّا الۡوَاوُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفۡعِ فِي مَوۡضِعَيۡنِ).
فَالۡوَاوُ تَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفۡعِ فِي مَوۡضِعَيۡنِ فَقَطۡ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذٰلِكَ التَّتَبُّعُ وَالۡاسۡتِقۡرَاءُ، فَإِنَّ عُلَمَاءَ اللُّغَةِ –رَحِمَهُمُ اللهُ- تَتَبَّعُوا كَلَامَ الۡعَرَبِ؛ فَوَجَدُوا أَنَّ الَّذِي يُرۡفَعُ بِالۡوَاوِ لَا يَعۡدُو شَيۡئَيۡنِ:
Ucapan mualif, “Adapun wawu menjadi tanda rafa’ pada dua tempat.”
Huruf wawu menjadi tanda rafa’ di dua tempat saja. Dalil terhadap hal itu adalah penelitian dan pengamatan. Karena ahli ulama bahasa –semoga Allah merahmati mereka- mengamati ucapan orang Arab, lalu mereka mendapatkan bahwa yang di-rafa’ dengan wawu tidak lebih dari dua hal:
الۡأَوَّلُ: (فِي جَمۡعِ الۡمُذَكَّرِ السَّالِمِ)؛ وَهُوَ مَا دَلَّ عَلَى ثَلَاثَةٍ فَأَكۡثَرَ، مَعَ سَلَامَةِ بِنَاءِ الۡمُفۡرَدِ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَقُلۡ: مَا جُمِعَ بِوَاوٍ وَنُونٍ، أَوۡ يَاءٍ وَنُونٍ مَزِيدَتَيۡنِ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَقُلۡ: مَا سَلِمَ فِيهِ بِنَاءُ مُفۡرَدِهِ.
(مُسۡلِمٌ) زِدۡ وَاوًا وَنُونًا، فَيَكُونُ (مُسۡلِمُونَ) هَٰذَا جَمۡعُ الۡمُذَكَّرِ السَّالِمُ؛ لِأَنَّكَ زِدۡتَ وَاوًا وَنُونًا عَلَى الۡمُفۡرَدِ، وَبَقِيَ الۡمُفۡرَدُ عَلَى مَا هُوَ عَلَيۡهِ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَقُلۡ: إِنَّكَ جَمَعۡتَهُ مَعَ سَلَامَةِ بِنَاءِ الۡمُفۡرَدِ.
Pertama, “pada jamak muzakar salim”; yaitu yang menunjukkan tiga atau lebih disertai tetapnya susunan asli mufradnya. Jika engkau mau, engkau bisa katakan: Kata yang dijamak menggunakan tambahan huruf wawu dan nun. Dan jika engkau mau, engkau bisa katakan: Kata yang tetap / tidak berubah susunan mufradnya.
“مُسۡلمٌ”, tambahkan huruf wawu dan nun sehingga menjadi “مُسۡلِمُونَ”, ini adalah jamak muzakar salim. Karena engkau menambahkan huruf wawu dan nun pada bentuk mufradnya, sementara bentuk mufradnya masih seperti semula. Jika engkau mau, engkau bisa mengatakan: Sesungguhnya engkau telah membuatnya menjadi bentuk jamak disertai tetapnya susunan asli mufradnya.
(ابۡنٌ) جَمۡعُهَا (بَنُونَ)، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ﴾ [الشعراء: ٨٨]، فَـ(بَنُونَ) لَيۡسَتۡ جَمۡعَ مُذَكَّرٍ سَالِمًا؛ لِأَنَّهُ تَغَيَّرَ الۡمُفۡرَدُ، نَعَمۡ لَوۡ قُلۡنَا: (ابۡنُونَ) إِنۡ كَانَ هَٰذَا يَجُوزُ فِي اللُّغَةِ، صَارَ جَمۡعَ مُذَكَّرٍ سَالِمًا، لٰكِنۡ لَا يُقَالُ: (ابۡنُونَ) يُقَالُ فِي اللُّغَةِ: (بَنُونَ).
لٰكِنَّ النَّحۡوِيِّينَ –رَحِمَهُمُ اللهُ- عِنۡدَهُمۡ –مَا شَاءَ اللهُ- فِطۡنَةٌ، قَالُوا: إِذَا لَمۡ يَكُنۡ جَمۡعَ مُذَكَّرٍ سَالِمًا فَلۡيَكُنۡ مُلۡحَقًا بِهِ، وَجَعَلُوا مِثۡلَ هَٰذَا مُلۡحَقًا بِجَمۡعِ الۡمُذَكَّرِ السَّالِمِ.
“ابۡنٌ” jamaknya adalah “بَنُونَ”. Allah taala berfirman, “يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (Pada hari harta dan anak-anak tidak bermanfaat).” (QS. Asy-Syu’ara: 88). “بَنُونَ bukanlah jamak muzakar salim karena bentuk mufradnya berubah. Iya, jika kita katakan, “ابۡنُونَ”, ini dibolehkan dalam bahasa sehingga menjadi jamak muzakar salim. Tetapi tidak ada yang mengatakan, “ابۡنُونَ”, yang ada dikatakan dalam bahasa, “بَنُونَ”.
Tetapi para ahli ilmu nahwu –semoga Allah merahmati mereka-, mereka memiliki –masya Allah- kecerdasan. Mereka berkata: Jika kata ini bukan jamak muzakar salim, maka berarti merupakan mulhaq-nya (turunannya). Mereka menjadikan kata-kata yang semisal ini sebagai mulhaq jamak muzakar salim.
إِذَا قَالَ قَائِلٌ: (قَامَ الۡمُسۡلِمُونَ بِسَعۡيٍ مَشۡكُورٍ فِي مُسَاعَدَةِ الۡفُقَرَاءِ) فَالۡعِبَارَةُ صَحِيحَةٌ.
(قَامَ الۡمُسۡلِمُونُ) –بِرَفۡعِ النُّونِ- خَطَأٌ؛ لِأَنَّهَا تُرۡبَعُ بِالۡوَاوِ.
(قَامَ الۡمُسۡلِمِينَ) خَطَأٌ؛ لِأَنَّهَا تُرۡفَعُ بِالۡوَاوِ.
Jika ada yang berkata, “قَامَ الۡمُسۡلِمُونَ بِسَعۡيٍ مَشۡكُورٍ فِي مُسَاعَدَةِ الۡفُقَرَاءِ (Kaum muslimin melakukan usaha yang patut disyukuri dalam membantu orang-orang fakir)”, maka ungkapan ini benar.
“قَامَ الۡمُسۡلِمُونُ” dengan rafa’ huruf nun, ini keliru; karena di-rafa’ dengan huruf wawu.
“قَامَ الۡمُسۡلِمِينَ” keliru, karena kata itu di-rafa’ dengan huruf wawu.
(انۡتَصَرَ الۡمُسۡلِمُونَ).
(انۡتَصَرَ): فِعۡلٌ مَاضٍ مَبۡنِيٌّ عَلَى الۡفَتۡحِ.
(الۡمُسۡلِمُونَ): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ جَمۡعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ، وَالنُّونُ عِوَضٌ عَنِ التَّنۡوِينِ فِي الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ.
“انۡتَصَرَ الۡمُسۡلِمُونَ (Kaum muslimin telah menang).”
“انۡتَصَرَ” adalah fiil madhi mabni atas tanda fatah.
“الۡمُسۡلِمُونَ” adalah fa’il yang di-rafa’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf wawu sebagai ganti dari harakat damah karena merupakan jamak muzakar salim. Dan huruf nun adalah ganti dari tanwin dalam isim mufrad.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ﴾ [الأنفال: ٢]، (الۡمُؤۡمِنُونَ): مُبۡتَدَأٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ جَمۡعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ، وَالنُّونُ عِوَضٌ عَنِ التَّنۡوِينِ فِي الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ.
Allah taala berfirman, “إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ (Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka).” (QS. Al-Anfal: 2). “الۡمُؤۡمِنُونَ” adalah mubtada` yang di-rafa’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf wawu sebagai ganti dari harakat damah karena merupakan jamak muzakar salim. Huruf nun adalah ganti dari tanwin pada isim mufrad.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ﴾ [المؤمنون: ١١٧].
(الۡكَافِرُونَ): جَمۡعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ، مُفۡرَدُهَا: كَافِرٌ، وَنَقُولُ فِي إِعۡرَابِهَا:
(لَا) نَافِيَةٌ.
(يُفۡلِحُ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ، لِأَنَّهُ لَمۡ يَتَّصِلۡ بِهِ شَيۡءٌ.
(الۡكَافِرُونَ): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ جَمۡعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ، وَالنُّونُ عِوَضٌ عَنِ التَّنۡوِينِ فِي الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ.
Allah taala berfirman, “إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ (Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung).” (QS. Al-Mu`minun: 117).
“الۡكَافِرُونَ” adalah jamak muzakar salim. Bentuk mufradnya adalah كَافِرٌ. Kita katakan dalam meng-i’rab-nya:
“لَا” adalah nafi.
“يُفۡلِحُ” adalah fiil mudhari’ yang di-rafa’ dan tanda rafa’-nya adalah harakat damah yang tampak karena fiil mudhari’ tersebut tidak bersambung dengan apa-apa.
“الۡكَافِرُونَ” adalah fa’il yang di-rafa’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf wawu sebagai ganti dari damah karena merupakan jamak muzakar salim. Huruf nun adalah ganti dari tanwin pada isim mufrad.
إِذَنۡ: جَمۡعُ الۡمُذَكَّرِ السَّالِمُ لَا بُدَّ أَنۡ يُرۡفَعَ بِالۡوَاوِ وَلَا يُمۡكِنُ أَنۡ يُرۡفَعَ بِغَيۡرِ الۡوَاوِ.
Jadi jamak muzakar salim harus di-rafa’ dengan huruf wawu dan tidak mungkin di-rafa’ dengan selain wawu.
الثَّانِي: (وَفِي الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ) الۡأَسۡمَاءُ الۡخَمۡسَةُ: هَٰذِهِ أَسۡمَاءٌ حَصَرَهَا النَّحۡوِيُّونَ، وَلَا يُمۡكِنُ أَنۡ نَزِيدَ عَلَيۡهَا إِلَّا وَاحِدًا اخۡتُلِفَ فِيهِ، لٰكِنَّ الۡمُؤَلِّفَ كُوفِيٌّ يَرَى أَنَّ الۡأَسۡمَاءَ خَمۡسَةٌ، وَابۡنُ مَالِكٍ بَصۡرِيٌّ يَرَى أَنَّهَا سِتَّةٌ، وَزَادَ فِيهَا (هَنُ)، وَلَٰكِنۡ نَتۡبَعُ مُؤَلِّفَنَا.
الۡأَسۡمَاءُ الۡخَمۡسَةُ، (وَهِيَ أَبُوكَ، وَأَخُوكَ، وَحَمُوكَ، وَفُوكَ، وَذُو مَالٍ)، هَٰذِهِ الۡأَسۡمَاءُ الۡخَمۡسَةُ تُرۡفَعُ بِالۡوَاوِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَلَمَّا فَصَلَتِ الۡعِيرُ قَالَ أَبُوهُمۡ﴾ [يوسف: ٩٤] وَقَدۡ قَالَ: (أَبُوهُمۡ) وَلَمۡ يَقُلۡ: (أَبَاهُمۡ)؛ لِأَنَّهُ مَرۡفُوعٌ بِالۡوَاوِ.
Kedua, “Dan pada al-asma` al-khamsah.” Al-asma` al-khamsah adalah isim yang diberi batasan oleh ahli ilmu nahwu dan tidak mungkin kita tambahkan kecuali satu yang diperselisihkan. Tetapi mualif adalah seorang Kufah yang berpendapat bahwa isim tersebut ada lima. Adapun Ibnu Malik adalah seorang Bashrah yang berpendapat bahwa isim ada enam. Beliau menambahkan, “هَنُ”, akan tetapi kita mengikuti mualif kita.
Al-asma` al-khamsah, yaitu “أَبُوكَ, أَخُوكَ, حَمُوكَ, فُوكَ, dan ذُو مَالٍ”, isim yang lima ini di-rafa’ dengan huruf wawu. Allah taala berfirman, “وَلَمَّا فَصَلَتِ الۡعِيرُ قَالَ أَبُوهُمۡ (Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka).” (QS. Yusuf: 94). Allah berfirman, “أَبُوهُمۡ” dan tidak berkata, “أَبَاهُمۡ” karena di-rafa’ dengan huruf wawu.
إِذَنۡ: الۡأَسۡمَاءُ الۡخَمۡسَةُ تُرۡفَعُ بِالۡوَاوِ، وَلٰكِنۡ لِنَعۡلَمَ أَنَّهُ لَا بُدَّ فِيهَا مِنۡ شُرُوطٍ:
Jadi al-asma` al-khamsah di-rafa’ dengan wawu. Tetapi hendaknya kita tahu bahwa harus ada syarat-syarat:
الشَّرۡطُ الۡأَوَّلُ: أَنۡ تَكُونَ عَلَى اللَّفۡظِ الَّذِي قَالَهُ الۡمُؤَلِّفُ، وَالۡمُؤَلِّفُ قَالَهَا عَلَى أَنَّهَا مُفۡرَدٌ، فَخُذۡ هَٰذَا شَرۡطًا: أَنۡ تَكُونَ مُفۡرَدَةً، فَإِنۡ كَانَتۡ جَمۡعًا مِثۡلَ: (آبَاءُ) فَلَا تُرۡفَعُ بِالۡوَاوِ، فَـ(آبَاءُ) جَمۡعُ (أَبٍ) وَهُوَ جَمۡعُ تَكۡسِيرٍ، وَيُرۡفَعُ بِالضَّمَّةِ.
Syarat pertama: isim tersebut merupakan lafal yang disebutkan oleh mualif. Mualif menyebutkannya dalam bentuk mufrad. Ambil ini sebagai sebuah syarat, yaitu isim yang lima ini harus berupa mufrad. Jika isim ini berbentuk jamak semisal “آبَاءُ”, maka tidak di-rafa’ dengan huruf wawu. Jadi “آبَاءُ” jamak dari “أَبٍ” adalah jamak taksir dan di-rafa’ dengan harakat damah.
الشَّرۡطُ الثَّانِي: أَنۡ تَكُونَ مُكَبَّرَةً، فَإِنۡ كَانَتۡ غَيۡرَ مُكَبَّرَةٍ، فَإِنَّهَا لَا تُرۡفَعُ بِالۡوَاوِ. فَلَوۡ قُلۡتَ: (جَاءَ أُخَيُّكَ) صَغَّرۡتَهُ، فَلَا أَقُولُ (أُخَيُّوكَ) مَرۡفُوعَةً بِالضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهَا مَا دَامَتۡ مُصَغَّرَةً، فَإِنَّهَا تُرۡفَعُ بِالضَّمَّةِ.
Syarat kedua: isim tersebut dalam keadaan mukabbarah (bukan dalam bentuk tashghir). Jika tidak berbentuk mukabbarah, maka tidak di-rafa’ dengan huruf wawu. Andai engkau katakan, “جَاءَ أُخَيُّكَ (Saudara kecilmu telah datang)”, engkau jadikan isim tashghir, maka aku tidak bisa mengatakan, “أُخَيُّوكَ” di-rafa’ dengan wawu, karena selama isim itu berbentuk tashghir, maka di-rafa’ dengan harakat damah.
الشَّرۡطُ الثَّالِثُ: أَنۡ تَكُونَ مُضَافَةً، فَإِنۡ كَانَتۡ غَيۡرَ مُضَافَةٍ، فَإِنَّهَا لَا تُرۡفَعُ بِالۡوَاوِ، تُرۡفَعُ بِالضَّمَّةِ، فَتَقُولُ مَثَلًا: (جَاءَ أَبُوكَ) هَٰذَا صَحِيحٌ، لٰكِنۡ لَوۡ حَذَفۡتَ الۡإِضَافَةَ فَقُلۡتَ: (جَاءَ أَبٌ) لَا يَجُوزُ أَنۡ تَقُولَ: (جَاءَ أَبُ) هَٰذَا حَرَامٌ نَحۡوًا، لَيۡسَ حَرَامًا شَرۡعًا، إِذَنۡ نَقُولُ: (جَاءَ أَبٌ) وَنَرۡفَعُ (أَبٌ) بِالضَّمِّ؛ لِأَنَّهَا اسۡمٌ مُفۡرَدٌ.
وَإِذَا أُضِيفَتۡ، فَإِنَّهَا تُعۡرَبُ هَٰذَا الۡإِعۡرَابَ سَوَاءٌ أُضِيفَتۡ إِلَى ضَمِيرٍ أَوۡ ظَاهِرٍ؛ فَإِضَافَتُهَا إِلَى ضَمِيرٍ مِثۡلُ: (أَبُوكَ)، وَإِضَافَتُهَا إِلَى اسۡمٍ ظَاهِرٍ، مِثۡلُ: (جَاءَ أَبُو زَيۡدٍ).
Syarat ketiga: berupa mudhaf. Jika tidak berupa mudhaf, maka tidak di-rafa’ dengan huruf wawu namun di-rafa’ dengan harakat damah. Misal engkau katakan, “جَاءَ أَبُوكَ (Ayahmu telah datang).” Ini benar. Namun, jika engkau hilangkan idhafah-nya, sehingga engkau katakan, “جَاءَ أَبٌ (Seorang ayah telah datang)”, maka engkau tidak boleh mengatakan, “جَاءَ أَبُ”. Ini haram secara nahwu. Bukan haram secara syariat. Jadi, kita katakan, “جَاءَ أَبٌ” kita rafa’-kan أَبٌ dengan harakat damah karena merupakan isim mufrad.
Jika di-idhafah, maka di-i’rab dengan menggunakan i’rab ini, sama saja apakah di-idhafah kepada isim dhamir (kata ganti) atau kepada isim zhahir. Idhafah kepada dhamir semisal “أَبُوكَ” dan idhafah kepada isim zhahir semisal “جَاءَ أَبُو زَيۡدٍ (Bapaknya Zaid telah datang).”
الشَّرۡطُ الرَّابِعُ: أَنۡ تَكُونَ إِضَافَتُهَا لِغَيۡرِ يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ، فَإِنۡ أُضِيفَتۡ إِلَى يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ؛ فَإِنَّهَا لَا تُرۡفَعُ بِالۡوَاوِ.
مِثَالُ إِضَافَتُهَا إِلَى يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ: تَقُولُ: (قَامَ أَبِي) فَهُنَا مُضَافَةٌ إِلَى يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ؛ فَلَا يَجُوزُ أَنۡ تَرۡفَعَهَا بِالۡوَاوِ، بَلۡ نَرۡفَعُهَا بِضَمَّةٍ مُقَدَّرَةٍ عَلَى مَا قَبۡلَ يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ، مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا اشۡتِغَالُ الۡمَحَلِّ بِحَرَكَةِ الۡمُنَاسَبَةِ؛ لِأَنَّ يَاءَ الۡمُتَكَلِّمِ يُنَاسِبُهَا الۡكَسۡرَةُ، كَمَا فِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿هَٰذَآ أَخِى﴾ [ص: ٢٣]، (أَخِي) خَبَرُ الۡمُبۡتَدَأِ مَرۡفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ ضَمَّةٌ مُقَدَّرَةٌ مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا اشۡتِغَالُ الۡمَحَلِّ بِحَرَكَةِ الۡمُنَاسَبَةِ، وَالۡيَاءُ مُضَافٌ إِلَيۡهِ.
Syarat keempat: idhafah-nya tidak kepada huruf ya mutakalim. Engkau katakan, “قَامَ أَبِي (Ayahku telah berdiri).” Di sini, isim tersebut di-idhafah-kan kepada huruf ya mutakalim, maka tidak boleh engkau rafa’ dengan wawu. Namun kita rafa’ dengan harakat damah tersembunyi pada huruf sebelum huruf ya mutakalim. Yang menghalangi dari munculnya adalah tempatnya sudah terpakai oleh harakat yang bersesuaian. Karena huruf ya mutakalim bersesuaian dengan harakat kasrah, sebagaimana di dalam firman Allah taala, “هَٰذَآ أَخِى (Ini adalah saudaraku).” (QS. Shad: 23). أَخِي adalah khabar dari mubtada` yang di-rafa’ dan tanda rafa’-nya adalah harakat damah yang tersembunyi. Yang menghalangi dari munculnya adalah tempatnya sudah terpakai oleh harakat yang bersesuaian. Huruf ya adalah mudhaf ilaih.
الشَّرۡطُ الۡخَامِسُ: أَنۡ تَكُونَ (فُو) خَالِيَةً مِنَ (الۡمِيمِ)، وَهَٰذَا الشَّرۡطُ خَاصٌّ بِـ(فُو)؛ لِأَنَّهُ يُوجَدُ لُغَةٌ يَجۡعَلُونَ بَدَلَ الۡوَاوِ مِيمًا، فَيُقَالُ: (انۡفَتَحَ فَمُكَ) وَلَا تَقُلۡ: (انۡفَتَحَ فَمُوكَ)، وَتَكُونُ اسۡمًا مُفۡرَدًا مَرۡفُوعًا بَالضَّمَّةِ.
Syarat kelima: فُو harus terbebas dari huruf mim. Ini adalah syarat khusus untuk فُو karena didapati sebuah cara baca yang menjadikan mim sebagai ganti dari huruf wawu, sehingga dibaca, “انۡفَتَحَ فَمُكَ (Mulutmu terbuka).” Tidak boleh dikatakan, “انۡفَتَحَ فَمُوكَ”. Jika demikian, maka menjadi isim mufrad yang di-rafa’ dengan harakat damah.
الشَّرۡطُ السَّادِسُ: خَاصٌّ بِـ(ذُو)، وَهُوَ أَنۡ تَكُونَ بِمَعۡنَى (صَاحِبُ) احۡتِرَازًا مِنۡ (ذُو) الَّتِي بِمَعۡنَى (الَّذِي)؛ لِأَنَّ قَبِيلَةَ (طَيِّئ) يَسۡتَعۡمِلُونَ (ذُو) بِمَعۡنَى الَّذِي.
قَالَ شَاعِرُهَا:
فَإِنَّ الۡمَاءَ مَاءُ أَبِي وَجَدِّي وَبِئۡرِي ذُو حَفَرۡتُ وَذُو طَوَيۡتُ
الشَّاهِدُ قَوۡلُهُ: (ذُو حَفَرۡتُ) بِمَعۡنَى: الَّذِي حَفَرۡتُ، وَ(ذُو طَوَيۡتُ) بِمَعۡنَى: الَّذِي طَوَيۡتُ.
Syarat keenam: khusus untuk ذُو, yang mempunyai makna pemilik, bukan ذُو yang bermakna “yang”. Karena kabilah Thayyi’ menggunakan ذُو untuk makna “yang”.
Penyairnya berkata[1], “فَإِنَّ الۡمَاءَ مَاءُ أَبِي وَجَدِّي وَبِئۡرِي ذُو حَفَرۡتُ وَذُو طَوَيۡتُ (Sesungguhnya air itu adalah air ayahku dan kakekku. Dan sumurku, akulah yang menggali dan membangunnya).”
Yang menjadi bukti di sini adalah ucapannya “ذُو حَفَرۡتُ” yang semakna dengan الَّذِي حَفَرۡتُ (yang aku gali) dan “ذُو طَوَيۡتُ” yang semakna dengan الَّذِي طَوَيۡتُ (yang aku bangun).
إِذَنۡ: الشَّرۡطُ سِتَّةٌ: أَرۡبَعَةٌ مُشۡتَرَكَةٌ، وَاثۡنَتَانِ خَاصَّةٌ، أَنۡ تَكُونَ مُفۡرَدَةً، مُكَبَّرَةً، مُضَافَةً، وَإِضَافَتُهَا إِلَى غَيۡرِ يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ، وَأَنۡ تَكُونَ (فُو) خَالِيَةً مِنَ الۡمِيمِ، وَأَنۡ تَكُونَ (ذُو) بِمَعۡنَى صَاحِبٍ.
تَقُولُ مَثَلًا: (جَاءَنِي ذُو مَالٍ)، فَإِنۡ قُلۡتَ: (جَاءَنِي ذَا مَالٍ) فَخَطَأٌ، وَلَوۡ قُلۡتَ: جَاءَنِي ذُ مَالٌ) فَحَذَفۡتَ الۡوَاوَ وَرَفَعۡتَهَا بِالضَّمَّةِ، فَخَطَأٌ.
Jadi syaratnya ada enam. Empat untuk semuanya, dua untuk khusus. Yaitu: berbentuk mufrad, mukabbarah, mudhaf, idhafah-nya selain kepada huruf ya mutakalim, فُو terbebas dari huruf mim, dan ذُو bermakna pemilik.
Misal engkau katakan, “جَاءَنِي ذُو مَالٍ (Si pemilik harta telah mendatangiku).” Jika engkau katakan, “جَاءَنِي ذَا مَالٍ”, maka keliru. Andai engkau katakan, “جَاءَنِي ذُ مَالٌ”, engkau hilangkan huruf wawu dan engkau rafa’ dengan harakat damah, maka ini keliru.
أَمۡثِلَةٌ: (جَاءَ أَخُوكَ) (جَاءَ): فِعۡلٌ مَاضٍ، (أَخُو): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ بِالۡوَاوِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ.
Contoh-contoh: “جَاءَ أَخُوكَ (Saudaramu telah datang).” جَاءَ adalah fiil madhi, أَخُو fa’il yang di-rafa’ dengan huruf wawu sebagai ganti dari damah karena termasuk al-asma` al-khamsah.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَلَمَّا فَصَلَتِ الۡعِيرُ قَالَ أَبُوهُمۡ﴾ [يوسف: ٩٤].
(قَالَ): فِعۡلٌ مَاضٍ مَبۡنِيٌّ عَلَى الۡفَتۡحِ.
(أَبُوهُمۡ): فَاعِلٌ؛ لِأَنَّهُ هُوَ الَّذِي صَدَرَ مِنۡهُ الۡقَوۡلُ، مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ، وَ(أَبُو) مُضَافٌ، وَ(هُمۡ) مُضَافٌ إِلَيۡهِ.
Allah taala berfirman, “وَلَمَّا فَصَلَتِ الۡعِيرُ قَالَ أَبُوهُمۡ (Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka).” (QS. Yusuf: 94).
قَالَ adalah fiil madhi mabni atas harakat fatah.
أَبُوهُمۡ adalah fa’il karena dialah asal munculnya perkataan. Di-rafa’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf wawu sebagai ganti dari harakat damah karena termasuk al-asma` al-khamsah. أَبُو adalah mudhaf dan هُمۡ adalah mudhaf ilaih.
(قَالَ أُخَيُّكَ لِي) هَٰذِهِ مُصَغَّرَةٌ، وَمِنَ الشُّرُوطِ أَنۡ تَكُونَ مُكَبَّرَةً، فَإِذَا كَانَتۡ مُصَغَّرَةً فَإِنَّهَا تُعۡرَبُ بِإِعۡرَابِ الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ.
“قَالَ أُخَيُّكَ لِي (Saudara kecilmu berkata kepadaku)” ini adalah isim tashghir. Padahal termasuk dari syarat-syaratnya adalah dalam keadaan mukabbarah (bukan isim tashghir). Jadi jika berupa isim tashghir, maka di-i’rab dengan i’rab isim mufrad.
قَالَ تَعَالَى: ﴿أَنتُمۡ وَأَبَآؤُكُم﴾ [الأعراف: ٧١]، هَٰذِهِ رُفِعَتۡ بِالضَّمَّةِ لِأَنَّ مِنۡ شَرۡطِ إِعۡرَابِهَا بِالۡوَاوِ أَنۡ تَكُونَ مُفۡرَدَةً وَهِيَ هُنَا جَمۡعُ تَكۡسِيرٍ، وَجَمۡعُ التَّكۡسِيرِ يُرۡفَعُ بِالضَّمَّةِ.
Allah taala berfirman, “kalian dan bapak-bapak kalian” (QS. Al-A’raf: 71). Ini di-rafa’ dengan harakat damah karena termasuk syarat agar di-i’rab dengan wawu adalah berupa isim mufrad. Sementara di sini berupa jamak taksir. Jamak taksir di-rafa’ dengan harakat damah.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَاللهُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِيمِ﴾ [البقرة: ١٠٥].
(ذُو): مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ مَرۡفُوعَةٌ بِالۡوَاوِ؛ لِأَنَّ الشُّرُوطَ فِيهَا تَامَّةٌ.
(اللهُ): لَفۡظُ الۡجَلَالَةِ مُبۡتَدَأٌ مَرۡفُوعٌ بِالضَّمَّةِ الظَّاهِرَةِ.
(ذُو): خَبَرُ الۡمُبۡتَدَأِ مَرۡفُوعٌ بِالۡوَاوِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ.
Allah taala berfirman, “وَاللهُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِيمِ (Dan Allah mempunyai karunia yang besar).” (QS. Al-Baqarah: 105).
ذُو termasuk al-asma` al-khamsah di-rafa’ dengan huruf wawu karena syarat-syaratnya ada lengkap.
اللهُ lafal jalalah mubtada` di-rafa’ dengan harakat damah yang tampak.
ذُو adalah khabar mubtada` di-rafa’ dengan huruf wawu sebagai ganti dari harakat damah karena termasuk al-asma` al-khamsah.
(قَعَدَ أَبُوكَ وَرَاءَكَ).
(قَعَدَ): فِعۡلٌ مَاضٍ.
(أَبُوكَ): (أَبُو): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ وَ(أَبُو) مُضَافٌ وَ(الۡكَافُ) مُضَافٌ إِلَيۡهِ.
“قَعَدَ أَبُوكَ وَرَاءَكَ (Ayahmu telah duduk di belakangmu).”
قَعَدَ adalah fiil madhi.
أَبُوكَ: أَبُو adalah fa’il yang di-rafa’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf wawu sebagai ganti dari harakat damah karena termasuk al-asma` al-khamsah. أَبُو mudhaf dan huruf kaf adalah mudhaf ilaih.
(جَاءَ أَبَوَانِ).
(جَاءَ): فِعۡلٌ مَاضٍ.
(أَبَوَانِ): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡأَلِفُ، وَلَا يُرۡفَعُ بِالۡوَاوِ؛ لِأَنَّهُ فَقَدَ شَرۡطَ الۡإِفۡرَادِ، إِذۡ هُوَ مُثَنًّى.
“جَاءَ أَبَوَانِ (Dua orang ayah telah datang).”
جَاءَ adalah fiil madhi.
أَبَوَانِ adalah fa’il yang di-rafa’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf alif. Tidak di-rafa’ dengan huruf wawu karena syarat kemufradannya tidak terpenuhi karena kata ini adalah mutsanna.
(هَٰذَا أُبَيُّكَ فَاحۡتَفِ بِهِ) لَا نَرۡفَعُ (أُبَيُّكَ) بِالضَّمَّةِ بِالۡوَاوِ لِأَنَّهُ مُصَغَّرٌ.
(هَٰؤُلَاءِ آبَاؤُكَ) لَا نَرۡفَعُ (آبَاؤُكَ) بِالۡوَاوِ؛ لِأَنَّهَا لَيۡسَتۡ مُفۡرَدَةً.
(لِي أَبَوَانِ) لَا نَرۡفَعُ (أَبَوَانِ) بِالۡوَاوِ؛ لَا لِأَنَّهَا لَيۡسَتۡ مُفۡرَدَةً.
“هَٰذَا أُبَيُّكَ فَاحۡتَفِ بهِ (Ini adalah bapak kecilmu, maka hormatilah dia).” Kita tidak me-rafa’ أُبَيُّكَ dengan huruf wawu karena isim tashghir.
“هَٰؤُلَاءِ آبَاؤُكَ (Mereka ini adalah bapak-bapakmu).” Kita tidak me-rafa’ آبَاؤُكَ dengan huruf wawu karena tidak dalam keadaan mufrad.
“لِي أَبَوَانِ (Aku memiliki dua orang ayah).” Kita tidak me-rafa’ أَبَوَانِ dengan huruf wawu karena tidak dalam bentuk mufrad.
وَمِنَ الطَّرَائِفِ: أَنَّ أَعۡرَابِيًّا عَادَ فَوَجَدَ ابۡنًا صَغِيرًا لَهُ مُمۡسِكًا بِفَمِ قِرۡبَةٍ، وَقَدۡ خَافَ أَنۡ تَغۡلِبَهُ الۡقِرۡبَةُ؛ فَصَاحَ: يَا أَبَتِ، أَدۡرِكۡ فَاهَا، غَلَبَنِي فُوهَا، لَا طَاقَةَ لِي بِفِيهَا.
(فَاهَا): مَنۡصُوبٌ بِالۡأَلِفِ.
(فُوهَا): مَرۡفُوعٌ بِالۡوَاوِ.
(فِيهَا): مَجۡرُورٌ بِالۡيَاءِ.
Ada kisah lucu: Bahwa seorang Arab badui pulang, lalu mendapati ada seorang anak kecil yang memegangi mulut bejana. Anak itu khawatir tidak kuat menahan berat bejana itu sehingga ia berteriak, “يَا أَبَتِ، أَدۡرِكۡ فَاهَا، غَلَبَنِي فُوهَا، لَا طَاقَةَ لِي بِفِيهَا (Wahai ayahku, tolong pegang mulut bejana ini! Mulut bejana ini mengalahkanku. Aku tidak mampu untuk menahan mulutnya.).”[2]
فَاهَا di-nashab dengan huruf alif.
فُوهَا di-rafa’ dengan huruf wawu.
فِيهَا di-jarr dengan huruf ya.
إِذَنۡ الۡوَاوُ تَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفۡعِ فِي مَوۡضِعَيۡنِ:
الۡأَوَّلُ: فِي جَمۡعِ الۡمُذَكَّرِ السَّالِمِ.
الثَّانِي: فِي الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ، وَهِيَ الَّتِي عَدَّهَا الۡمُؤَلِّفُ –رَحِمَهُ اللهُ-.
Jadi wawu merupakan tanda rafa’ pada dua tempat:
  1. Jamak muzakar salim.
  2. Al-asma` al-khamsah, yaitu isim-isim yang telah dirinci oleh mualif –semoga Allah merahmatinya-. 

[1] Bait syair milik Sinan bin Al-Fahl Ath-Tha`i telah disebutkan oleh Abu Tammam dalam Hamasah beliau (1/231), Al-Amali Ibnu Asy-Syajari (2/306), Syarh Al-Mufashshal (3/147), dan Syarh At-Tashil (1/122). 
[2] Al-‘Iqd Al-Farid (4/66).