Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1659 dan 1660

٩ - بَابُ مَا جَاءَ فِي شَهۡرَيِ الۡعِيدِ
9. Bab tentang dua bulan hari raya

١٦٥٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا حُمَيۡدُ بۡنُ مَسۡعَدَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ، حَدَّثَنَا خَالِدٌ الۡحَذَّاءُ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي بَكۡرَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (شَهۡرَا عِيدٍ لَا يَنۡقُصَانِ: رَمَضَانُ، وَذُو الۡحِجَّةِ). [(صحيح أبي داود)(٢٠١٢)].
1659. Humaid bin Mas’adah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami, Khalid Al-Hadzdza` menceritakan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Dua bulan hari raya yang tidak berkurang, yaitu: bulan Ramadan dan Zulhijah.”
١٦٦٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عُمَرَ الۡمُقۡرِىءُ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ عِيسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ سِيرِينَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡفِطۡرُ يَوۡمَ تُفۡطِرُونَ، وَالۡأَضۡحَى يَوۡمَ تُضَحُّونَ). [(الإرواء)(٩٠٥)، (الصحيحة)(٢٢٤)].
1660. Muhammad bin ‘Umar Al-Muqri` telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ishaq bin ‘Isa menceritakan kepada kami, beliau berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Idulfitri adalah hari kalian selesai berpuasa dan Iduladha adalah hari kalian menyembelih.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2329 dan 2330

٢٣٢٩ - أَخۡبَرَنِي عَمۡرُو بۡنُ يَحۡيَى بۡنِ الۡحَارِثِ قَالَ: حَدَّثَنَا الۡمُعَافَى بۡنُ سُلَيۡمَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا الۡقَاسِمُ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ يَحۡيَى عَنۡ مُجَاهِدٍ وَأُمِّ كُلۡثُومٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ دَخَلَ عَلَى عَائِشَةَ فَقَالَ: (هَلۡ عِنۡدَكُمۡ طَعَامٌ) نَحۡوَهُ.
2329. ‘Amr bin Yahya bin Al-Harits telah mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Al-Mu’afa bin Sulaiman menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Qasim menceritakan kepada kami dari Thalhah bin Yahya, dari Mujahid dan Ummu Kultsum, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui ‘Aisyah seraya bertanya, “Apakah kalian memiliki makanan?” Semisal hadis tersebut.
٢٣٣٠ – (صحيح بما قبله) قَالَ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ وَقَدۡ رَوَاهُ سِمَاكُ بۡنُ حَرۡبٍ قَالَ: حَدَّثَنِي رَجُلٌ عَنۡ عَائِشَةَ بِنۡتِ طَلۡحَةَ أَخۡبَرَنِي صَفۡوَانُ بۡنُ عَمۡرٍو قَالَ: حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡرَائِيلُ عَنۡ سِمَاكِ بۡنِ حَرۡبٍ قَالَ: حَدَّثَنِي رَجُلٌ عَنۡ عَائِشَةَ بِنۡتِ طَلۡحَةَ عَنۡ عَائِشَةَ - أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ -، قَالَتۡ: جَاءَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمًا، فَقَالَ: (هَلۡ عِنۡدَكُمۡ مِنۡ طَعَامٍ؟) قُلۡتُ: لَا، قَالَ: (إِذًا أَصُومُ). قَالَتۡ: وَدَخَلَ عَلَيَّ مَرَّةً أُخۡرَى، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قَدۡ أُهۡدِيَ لَنَا حَيۡسٌ، فَقَالَ: (إِذًا أُفۡطِرُ الۡيَوۡمَ، وَقَدۡ فَرَضۡتُ الصَّوۡمَ).
2330. Abu ‘Abdurrahman berkata: Hadis ini juga diriwayatkan oleh Simak bin Harb, beliau berkata: Seseorang menceritakan kepadaku dari ‘Aisyah binti Thalhah. Shafwan bin ‘Amr telah mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Ahmad bin Khalid menceritakan kepada kami, beliau berkata: Isra`il menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, beliau berkata: Seseorang menceritakan kepadaku dari ‘Aisyah binti Thalhah, dari ‘Aisyah ibunda kaum mukminin, beliau mengatakan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang pada suatu hari seraya bertanya, “Apakah kalian memiliki makanan?”
Aku menjawab, “Tidak.”
Beliau bersabda, “Kalau begitu, aku berpuasa.”
‘Aisyah mengatakan: Beliau masuk menemui di waktu yang lain. Aku mengatakan, “Wahai Rasulullah, kita diberi hadiah berupa hais (makanan yang terbuat dari kurma, minyak samin, dan susu kering).”
Nabi bersabda, “Kalau begitu, aku akan membatalkan puasa (sunah) hari ini. Tadinya aku telah berniat puasa.”

Mukhtashar MINHAJUL QASHIDIN

PENULIS


Penulis kitab ini adalah Syaikh Abu Umar Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al Maqdisi rahimahullah. Kitab ini adalah ringkasan dari kitab Ibnul Jauzi rahimahullah.

SEBAB PENULISAN


Beliau menerangkan dalam mukadimah kitabnya bahwa sebab penulisan kitab ini adalah karena beliau mendapatkan Kitab Minhajul Qashidin karya Ibnul Jauzi rahimahullah. Beliau menilai kitab tersebut termasuk yang paling bermanfaat dan banyak faedahnya, sehingga beliau senang menelaah dan membaca kitab tersebut. Namun karena kitab tersebut terlampau tebal, maka beliau pun membuat ringkasan yang mencakup mayoritas kandungan kitab tersebut dan poin-poin penting dari kitab tersebut.

METODE PENULISAN


Sebagaimana beliau terangkan, beliau tidak mengikuti tartib (urutan daftar isi) Kitab Minhajul Qashidin, juga tidak menyebutkan lafal-lafal aslinya, namun beliau kadang sebutkan secara makna agar lebih ringkas.

KANDUNGAN KITAB


Kitab ini terbagi menjadi 4 bagian:
  1. Bagian pertama memuat masalah ibadah.
  2. Bagian kedua memuat masalah adat.
  3. Bagian ketiga menerangkan perkara-perkara yang membinasakan.
  4. Bagian keempat menerangkan perkara-perkara yang menyelamatkan.

Dalam bab pertama beliau menyebutkan masalah-masalah ibadah yang mencakup 9 pembahasan: Kitab Ilmu dan Keutamaannya, Kitab Thaharah dan Shalat, Kitab Zakat, Kitab Puasa, Kitab Haji, Kitab Adab Membaca Al Quran, Kitab Dzikir dan Doa.

Di antara yang beliau sebutkan dalam Kitab Ilmu adalah keutamaan ilmu, adab penuntut ilmu dan pengajarnya, juga menerangkan sifat-sifat ulama akhirat (ulama yang sebenarnya).

Di bagian kedua yang menerangkan masalah-masalah adat, beliau awali dengan menerangkan masalah-masalah adab makan dan minum, kemudian beliau sebutkan 7 kitab: Kitab Nikah dan Adabnya, Kitab Adab Mencari Ma’isyah (penghasilan), Kitab Halal dan Haram, Kitab Adab Berteman dan Bersaudara, Kitab Adab Safar, Kitab Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Kitab Kehidupan dan Akhlak Nabi.

Beberapa masalah dalam adab berteman sangatlah penting untuk kita. Di sana beliau menyebutkan tidak semua orang bisa kita jadikan teman baik. Orang yang akan kita jadikan teman baik haruslah memenuhi beberapa kriteria: Aqil (berakal), berakhlak yang baik, bukan seorang fasiq (senang berbuat kemaksiatan), bukan ahlul bid’ah, dan bukan seorang yang tamak kepada dunia. Beliau menyebutkan hadis yang artinya, “Seseorang itu di atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang dijadikan temannya.” [H.R. Al Bukhari]. Ibnu Qudamah mengingatkan bahwa seorang teman mesti ada kekurangan. Beliau berkata, “Jika mencari seorang teman yang bersih dari kesalahan niscaya kau tak akan mendapatkannya.”

Di bagian ketiga ketika menerangkan masalah perkara-perkara yang membinasakan, beliau menyebutkan 7 kitab: Kitab yang menerangkan keajaiban-keajaiban hati, kitab yang menerangkan cara melatih kalbu dan mengobati penyakit-penyakit kalbu, kitab meredam dua syahwat: syahwat perut dan farj (kemaluan), kitab penyakit-penyakit lisan, kitab celaan kepada amarah, iri dan dengki, kitab riya’, kitab ghurur (ketertipuan) dan macam-macamnya.

Di antara hal penting yang perlu kita cermati dalam bagian ini adalah penjelasan beliau tentang penyakit-penyakit lisan. Di antara yang beliau sebutkan:
  1. Berbicara sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
  2. Tenggelam dalam perbincangan yang batil; yakni perbincangan tentang maksiat.
  3. Bicara kotor dan caci maki.
  4. Banyak bergurau.
  5. Mengejek dan mengolok-olok.
  6. Menyebarkan rahasia.
  7. Ghibah.
  8. Namimah (adu domba).

Di bagian keempat beliau menyebut masalah-masalah yang menyebutkan 6 kitab: Kitab tobat dan menyebutkan syarat-syarat serta rukunnya, kitab sabar dan syukur, kitab roja’ (rasa berharap) dan khauf (rasa takut), kitab zuhud dan faqr, kitab tauhid dan tawakal, kitab mahabbah (mencintai Allah), kerinduan dan ridha kepada Allah.

Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin termasuk kitab yang penting kita baca dalam rangka melembutkan kalbu, memperbaiki akhlak dan tingkah laku kita.

Namun perlu diingat tentang dua hal:
  1. Hendaknya meruju’ (meneliti kesahihan) setiap hadis kepada penjelasan ulama kita sekarang, seperti meruju’ ke kitab-kitab Syaikh Albani rahimahullah karena di dalamnya terdapat banyak hadis-hadis yang lemah bahkan maudhu’ (palsu).
  2. Selain itu juga waspada dari kalimat-kalimat yang “janggal” dalam kitab ini seperti: “Sesungguhnya kesalahan guru lebih bermanfaat dari kebenaran pada diri seorang penuntut ilmu.”

Namun demikian, apapun keadaannya kitab ini sangat bermanfaat bagi kaum muslimin. Oleh karena itu membaca kitab ini di bawah bimbingan para ulama dan para pengajar yang berkompeten akan sangat bermanfaat. Di dalamnya terkandung berlimpah faedah yang sangat banyak untuk kebaikan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Semoga Allah memudahkan kita untuk mempelajari dan mengamalkan kandungannya.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 49 vol.05 1438 H rubrik Maktabah. Pemateri: Al Ustadz Abdurrahman Mubarak.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2327 dan 2328

٢٣٢٧ – (حسن صحيح) أَخۡبَرَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: أَنۡبَأَنَا وَكِيعٌ قَالَ: حَدَّثَنَا طَلۡحَةُ بۡنُ يَحۡيَى عَنۡ عَمَّتِهِ عَائِشَةَ بِنۡتِ طَلۡحَةَ عَنۡ عَائِشَةَ - أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ -، قَالَتۡ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوۡمٍ، فَقَالَ: (هَلۡ عِنۡدَكُمۡ شَيۡءٌ؟)، قُلۡنَا: لَا، قَالَ: (فَإِنِّي صَائِمٌ). [انظر ما قبله].
2327. Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Waki’ memberitakan kepada kami, beliau berkata: Thalhah bin Yahya menceritakan kepada kami dari bibinya, yaitu ‘Aisyah binti Thalhah, dari ‘Aisyah ibunda kaum mukminin, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui kami pada suatu hari.
Beliau bertanya, “Apakah kalian memiliki makanan?”
Kami menjawab, “Tidak.”
Beliau bersabda, “Jika demikian, maka aku berpuasa.”
٢٣٢٨ – (حسن صحيح) أَخۡبَرَنِي أَبُو بَكۡرِ بۡنُ عَلِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنَا نَصۡرُ بۡنُ عَلِيٍّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي عَنِ الۡقَاسِمِ بۡنِ مَعۡنٍ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ يَحۡيَى عَنۡ عَائِشَةَ بِنۡتِ طَلۡحَةَ وَمُجَاهِدٍ عَنۡ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَاهَا، فَقَالَ: (هَلۡ عِنۡدَكُمۡ طَعَامٌ؟)، فَقُلۡتُ: لَا، قَالَ: (إِنِّي صَائِمٌ)، ثُمَّ جَاءَ يَوۡمًا آخَرَ، فَقَالَتۡ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا قَدۡ أُهۡدِيَ لَنَا حَيۡسٌ، فَدَعَا بِهِ، فَقَالَ: (أَمَا إِنِّي قَدۡ أَصۡبَحۡتُ صَائِمًا)، فَأَكَلَ.
2328. Abu Bakr bin ‘Ali telah mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Nashr bin ‘Ali menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku dari Al-Qasim bin Ma’n, dari Thalhah bin Yahya, dari ‘Aisyah binti Thalhah dan Mujahid, dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepadanya.
Beliau bertanya, “Apakah kalian memiliki makanan?”
Aku menjawab, “Tidak.”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku berpuasa.”
Kemudian beliau datang pada hari yang lain, lalu ‘Aisyah mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami diberi hadiah berupa hais (makanan yang terbuat dari kurma, minyak samin, dan susu kering).”
Beliau minta diambilkan dan bersabda, “Sesungguhnya tadi pagi aku berpuasa (sunah).” Lalu beliau makan.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2324, 2325, dan 2326

٢٣٢٤ – (حسن صحيح) أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡهَيۡثَمِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرٍ الۡحَنَفِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ يَحۡيَى عَنۡ مُجَاهِدٍ عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَجِيءُ وَيَقُولُ: (هَلۡ عِنۡدَكُمۡ غَدَاءٌ؟)، فَنَقُولُ: لَا، فَيَقُولُ: (إِنِّي صَائِمٌ)، فَأَتَانَا يَوۡمًا -وَقَدۡ أُهۡدِيَ لَنَا حَيۡسٌ-، فَقَالَ: (هَلۡ عِنۡدَكُمۡ شَيۡءٌ؟)، قُلۡنَا: نَعَمۡ؛ أُهۡدِيَ لَنَا حَيۡسٌ، قَالَ: (أَمَا إِنِّي قَدۡ أَصۡبَحۡتُ أُرِيدُ الصَّوۡمَ؛ فَأَكَلَ). خَالَفَهُ قَاسِمُ بۡنُ يَزِيدَ. [(إرواء الغليل) أيضًا، (صحيح أبي داود)(٢١١٩)، م].
2324. ‘Abdullah bin Al-Haitsam telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Abu Bakr Al-Hanafi menceritakan kepada kami, beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Thalhah bin Yahya, dari Mujahid, dari ‘Aisyah, beliau mengatakan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang dan bertanya, “Apakah kalian memiliki makan siang?”
Kami menjawab, “Tidak.”
Beliau bersabda, “Aku puasa.”
Lalu beliau datang kepada kami pada suatu hari dan kami telah dihadiahi hais (makanan yang terbuat dari kurma, minyak samin, dan susu kering).
Nabi bertanya, “Apakah kalian memiliki makanan?”
Kami menjawab, “Iya. Kami dihadiahi hais.”
Beliau bersabda, “Sebenarnya tadi pagi aku hendak berpuasa (sunah).” Lalu beliau makan.
Qasim bin Yazid menyelisihi Abu Bakr Al-Hanafi.
٢٣٢٥ – (حسن صحيح) أَخۡبَرَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَرۡبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا قَاسِمٌ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ يَحۡيَى عَنۡ عَائِشَةَ بِنۡتِ طَلۡحَةَ عَنۡ عَائِشَةَ - أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ -، قَالَتۡ: أَتَانَا رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمًا، فَقُلۡنَا: أُهۡدِيَ لَنَا حَيۡسٌ؛ قَدۡ جَعَلۡنَا لَكَ مِنۡهُ نَصِيبًا، فَقَالَ: (إِنِّي صَائِمٌ) فَأَفۡطَرَ. [انظر ما قبله].
2325. Ahmad bin Harb telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Qasim menceritakan kepada kami, beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Thalhah bin Yahya, dari ‘Aisyah binti Thalhah, dari ‘Aisyah ibunda kaum mukminin, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami pada suatu hari. Kami berkata: Kami dihadiahi hais (makanan yang terbuat dari kurma, minyak samin, dan susu kering) dan kami telah menyisihkan sebagian untuk engkau. Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku berpuasa (sunah).” Lalu beliau membatalkan puasa. 
٢٣٢٦ – (حسن صحيح) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى قَالَ: حَدَّثَنَا طَلۡحَةُ بۡنُ يَحۡيَى قَالَ: حَدَّثَتۡنِي عَائِشَةُ بِنۡتُ طَلۡحَةَ عَنۡ عَائِشَةَ - أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ -، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَأۡتِيهَا وَهُوَ صَائِمٌ، فَقَالَ: (أَصۡبَحَ عِنۡدَكُمۡ شَيۡءٌ تُطۡعِمِينِيهِ؟)، فَنَقُولُ: لَا، فَيَقُولُ: (إِنِّي صَائِمٌ)، ثُمَّ جَاءَهَا بَعۡدَ ذٰلِكَ، فَقَالَتۡ: أُهۡدِيَتۡ لَنَا هَدِيَّةٌ، فَقَالَ: (مَا هِيَ؟)، قَالَتۡ: حَيۡسٌ، قَالَ: (قَدۡ أَصۡبَحۡتُ صَائِمًا)، فَأَكَلَ. [انظر ما قبله].
2326. ‘Amr bin ‘Ali telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Yahya menceritakan kepada kami, beliau berkata: Thalhah bin Yahya menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Aisyah binti Thalhah menceritakan kepada kami dari ‘Aisyah ibunda kaum mukminin, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang kepadanya dalam keadaan berpuasa.
Beliau bertanya, “Apakah pagi ini kalian memiliki makanan yang bisa kalian berikan kepadaku?”
Kami menjawab, “Tidak.”
Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya aku berpuasa.”
Kemudian setelah itu, beliau datang kepada ‘Aisyah. ‘Aisyah mengatakan, “Kami diberi hadiah.”
Nabi bertanya, “Apa itu?”
‘Aisyah menjawab, “Hais (makanan yang terbuat dari kurma, minyak samin, dan susu kering).”
Nabi bersabda, “Tadi pagi aku berpuasa (sunah).” Lalu beliau membatalkan puasanya.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2322 dan 2323

٦٧ - النِّيَّةُ فِي الصِّيَامِ وَالۡاخۡتِلَافُ عَلَى طَلۡحَةَ بۡنِ يَحۡيَى بۡنِ طَلۡحَةَ فِي خَبَرِ عَائِشَةَ فِيهِ
67. Niat puasa dan perbedaan riwayat Thalhah bin Yahya bin Thalhah pada kabar ‘Aisyah dalam masalah ini

٢٣٢٢ – (حسن) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ مَنۡصُورٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَاصِمُ بۡنُ يُوسُفَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ يَحۡيَى بۡنِ طَلۡحَةَ عَنۡ مُجَاهِدٍ عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمًا؛ فَقَالَ: (هَلۡ عِنۡدَكُمۡ شَيۡءٌ؟)، فَقُلۡتُ: لَا، قَالَ: (فَإِنِّي صَائِمٌ)، ثُمَّ مَرَّ بِي بَعۡدَ ذٰلِكَ الۡيَوۡمِ، وَقَدۡ أُهۡدِيَ إِلَيَّ حَيۡسٌ، فَخَبَأۡتُ لَهُ مِنۡهُ، - وَكَانَ يُحِبُّ الۡحَيۡسَ -، قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّهُ أُهۡدِيَ لَنَا حَيۡسٌ، فَخَبَّأۡتُ لَكَ مِنۡهُ، قَالَ: (أَدۡنِيهِ؛ أَمَا إِنِّي قَدۡ أَصۡبَحۡتُ وَأَنَا صَائِمٌ)، فَأَكَلَ مِنۡهُ، ثُمَّ قَالَ: (إِنَّمَا مَثَلُ صَوۡمِ الۡمُتَطَوِّعِ، مَثَلُ الرَّجُلِ يُخۡرِجُ مِنۡ مَالِهِ الصَّدَقَةَ؛ فَإِنۡ شَاءَ أَمۡضَاهَا، وَإِنۡ شَاءَ حَبَسَهَا). [(إرواء الغليل)(٤/١٣٥-١٣٦)].
2322. ‘Amr bin Manshur telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: ‘Ashim bin Yusuf menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Al-Ahwash menceritakan kepada kami dari Thalhah bin Yahya bin Thalhah, dari Mujahid, dari ‘Aisyah, beliau mengatakan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemuiku pada suatu hari seraya bertanya, “Apakah kalian memiliki sesuatu (makanan)?”
Aku pun menjawab, “Tidak.”
Beliau bersabda, “Jika demikian, maka aku berpuasa.”
Kemudian setelah hari itu, aku dihadiahi hais (makanan terbuat dari kurma, minyak samin, dan susu kering). Aku pun menyisihkan sebagian untuk beliau karena beliau menyukai hais.
‘Aisyah mengatakan: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dihadiahi hais, maka aku menyisihkan sebagiannya untukmu.”
Nabi bersabda, “Dekatkan kepadaku. Tadi pagi aku sebenarnya berpuasa.” Beliau memakannya, kemudian bersabda, “Perumpamaan puasa sunah itu seperti seseorang yang mengeluarkan sedekah dari hartanya. Jika dia mau, dia boleh menyalurkannya. Dan jika dia mau, dia boleh menahannya.”
٢٣٢٣ – (حسن) أَخۡبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَنۡبَأَنَا شَرِيكٌ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ يَحۡيَى بۡنِ طَلۡحَةَ عَنۡ مُجَاهِدٍ عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: دَارَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ دَوۡرَةً، قَالَ: (أَعِنۡدَكِ شَيۡءٌ؟)، قَالَتۡ: لَيۡسَ عِنۡدِي شَيۡءٌ، قَالَ: (فَأَنَا صَائِمٌ)، قَالَتۡ: ثُمَّ دَارَ عَلَيَّ الثَّانِيَةَ، وَقَدۡ أُهۡدِيَ لَنَا حَيۡسٌ، فَجِئۡتُ بِهِ، فَأَكَلَ، فَعَجِبۡتُ مِنۡهُ! فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! دَخَلۡتَ عَلَيَّ وَأَنۡتَ صَائِمٌ، ثُمَّ أَكَلۡتَ حَيۡسًا؟ قَالَ: (نَعَمۡ يَا عَائِشَةُ! إِنَّمَا مَنۡزِلَةُ مَنۡ صَامَ فِي غَيۡرِ رَمَضَانَ، أَوۡ غَيۡرِ قَضَاءِ رَمَضَانَ، أَوۡ فِي التَّطَوُّعِ؛ بِمَنۡزِلَةِ رَجُلٍ أَخۡرَجَ صَدَقَةَ مَالِهِ، فَجَادَ مِنۡهَا بِمَا شَاءَ؛ فَأَمۡضَاهُ، وَبَخِلَ مِنۡهَا بِمَا بَقِيَ؛ فَأَمۡسَكَهُ). [انظر ما قبله].
2323. Abu Dawud telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Yazid menceritakan kepada kami: Syarik memberitakan kepada kami dari Thalhah bin Yahya bin Thalhah, dari Mujahid, dari ‘Aisyah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah singgah ke tempatku.
Beliau bertanya, “Apakah engkau memiliki makanan?”
‘Aisyah mengatakan, “Aku tidak memiliki makanan sedikit pun.”
Nabi bersabda, “Jika demikian, maka aku berpuasa.”
‘Aisyah mengatakan: Kemudian beliau singgah ke tempatku pada kali yang kedua dan kami telah dihadiahi hais (makanan yang terbuat dari kurma, minyak samin, dan susu kering). Aku menghidangkannya dan beliau pun makan. Aku heran karenanya.
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, engkau masuk menemuiku dalam keadaan tadinya engkau berpuasa. Lalu, sekarang engkau makan hais?”
Nabi bersabda, “Benar, wahai ‘Aisyah. Kedudukan orang yang berpuasa selain Ramadan, atau selain kada Ramadan, atau kedudukan orang yang berpuasa sunah; seperti kedudukan seseorang yang mengeluarkan sedekah hartanya. Dia boleh mendermakan darinya sekehendaknya, lalu ia salurkan; atau ia menahan darinya sisa hartanya, sehingga ia pun tidak jadi menyalurkannya.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2321

٦٦ - إِذَا لَمۡ يُجۡمِعۡ مِنَ اللَّيۡلِ؛ هَلۡ يَصُومُ ذٰلِكَ الۡيَوۡمَ مِنَ التَّطَوُّعِ؟
66. Jika tidak berniat puasa sejak malam, apakah dia bisa puasa sunah hari itu?

٢٣٢١ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى عَنۡ يَزِيدَ قَالَ: حَدَّثَنَا سَلَمَةُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ لِرَجُلٍ: (أَذِّنۡ يَوۡمَ عَاشُورَاءَ: مَنۡ كَانَ أَكَلَ؛ فَلۡيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوۡمِهِ، وَمَنۡ لَمۡ يَكُنۡ أَكَلَ؛ فَلۡيَصُمۡ). [(الصحيحة)(٢٦٢٤)، خ].
2321. Muhammad bin Al-Mutsanna telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Yahya menceritakan kepada kami dari Yazid, beliau berkata: Salamah menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang, “Umumkan pada hari Asyura: Siapa saja yang sudah makan, agar ia sempurnakan puasa di sisa harinya; dan siapa saja yang belum makan, agar ia berpuasa.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2320

٦٥ - إِذَا طَهُرَتِ الۡحَائِضُ، أَوۡ قَدِمَ الۡمُسَافِرُ فِي رَمَضَانَ؛ هَلۡ يَصُومُ بَقِيَّةَ يَوۡمِهِ؟
65. Jika wanita yang haid telah suci atau musafir sudah datang kembali di bulan Ramadan, apakah ia berpuasa di sisa harinya?

٢٣٢٠ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أَحۡمَدَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ يُونُسَ أَبُو حَصِينٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡثَرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا حُصَيۡنٌ عَنِ الشَّعۡبِيِّ عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ صَيۡفِيٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمَ عَاشُورَاءَ: (أَمِنۡكُمۡ أَحَدٌ أَكَلَ الۡيَوۡمَ؟)، فَقَالُوا: مِنَّا مَنۡ صَامَ، وَمِنَّا مَنۡ لَمۡ يَصُمۡ، قَالَ: (فَأَتِمُّوا بَقِيَّةَ يَوۡمِكُمۡ، وَابۡعَثُوا إِلَى أَهۡلِ الۡعَرُوضِ؛ فَلۡيُتِمُّوا بَقِيَّةَ يَوۡمِهِمۡ). [(ابن ماجه)(١٧٣٥)].
2320. ‘Abdullah bin Ahmad bin ‘Abdullah bin Yunus Abu Hashin telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: ‘Abtsar menceritakan kepada kami, beliau berkata: Hushain menceritakan kepada kami dari Asy-Sya’bi, dari Muhammad bin Shaifi, beliau mengatakan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada hari Asyura, “Apakah di antara kalian ada yang telah makan pada hari ini?”
Para sahabat menjawab, “Di antara kami ada yang puasa dan ada yang tidak berpuasa.”
Nabi bersabda, “Kalian sempurnakanlah puasa di sisa hari kalian. Kirimlah utusan kepada penduduk Makkah, Madinah, dan sekitarnya, agar mereka menyempurnakan puasa di sisa hari mereka.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2318 dan 2319

٦٤ - وَضۡعُ الصِّيَامِ عَنِ الۡحَائِضِ
64. Gugurnya kewajiban puasa dari wanita yang sedang haid

٢٣١٨ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عَلِيُّ بۡنُ حُجۡرٍ قَالَ: أَنۡبَأَنَا عَلِيٌّ يَعۡنِي ابۡنَ مُسۡهِرٍ عَنۡ سَعِيدٍ عَنۡ قَتَادَةَ عَنۡ مُعَاذَةَ الۡعَدَوِيَّةِ، أَنَّ امۡرَأَةً سَأَلَتۡ عَائِشَةَ: أَتَقۡضِي الۡحَائِضُ الصَّلَاةَ إِذَا طَهُرَتۡ؟ قَالَتۡ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنۡتِ؟ كُنَّا نَحِيضُ عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ نَطۡهُرُ، فَيَأۡمُرُنَا بِقَضَاءِ الصَّوۡمِ، وَلَا يَأۡمُرُنَا بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ. [ق، مضى(٣٨١)].
2318. ‘Ali bin Hujr telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: ‘Ali bin Mushir memberitakan kepada kami dari Sa’id, dari Qatadah, dari Mu’adzah Al-‘Adawiyyah, bahwa ada seorang wanita bertanya kepada ‘Aisyah: Apakah wanita yang haid mengada salat jika telah suci? ‘Aisyah bertanya: Apakah engkau seorang wanita Haruri (sekte Khawarij)? Kami dahulu juga mengalami haid di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami suci. Beliau memerintahkan kami untuk mengada puasa dan tidak memerintahkan kami mengada salat.
٢٣١٩ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا سَلَمَةَ يُحَدِّثُ عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: إِنۡ كَانَ لَيَكُونُ عَلَيَّ الصِّيَامُ مِنۡ رَمَضَانَ؛ فَمَا أَقۡضِيهِ حَتَّى يَجِيءَ شَعۡبَانُ. [(ابن ماجه)(١٦٦٩)، ق].
2319. ‘Amr bin ‘Ali telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Yahya menceritakan kepada kami, beliau berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, beliau berkata: Aku mendengar Abu Salamah menceritakan dari ‘Aisyah, beliau mengatakan: Jika aku memiliki hutang puasa bulan Ramadan, maka aku tidak bisa mengadanya sampai bulan Syakban datang.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1658

١٦٥٨ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا مُجَاهِدُ بۡنُ يَحۡيَى، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡقَاسِمُ بۡنُ مَالِكٍ الۡمُزَنِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡجُرَيۡرِيُّ، عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: مَا صُمۡنَا عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ تِسۡعًا وَعِشۡرِينَ، أَكۡثَرُ مِمَّا صُمۡنَا ثَلَاثِينَ. [(الروض)(٦٣٦)، (صحيح أبي داود)(٢٠١١)].
1658. Mujahid bin Yahya telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Qasim bin Malik Al-Muzani menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Jurairi menceritakan kepada kami dari Abu Nadhrah, dari Abu Hurairah; Beliau mengatakan: Kami lebih sering berpuasa di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama dua puluh sembilan hari daripada tiga puluh hari.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1656

٨ - بَابُ مَا جَاءَ فِي: (الشَّهۡرُ تِسۡعٌ وَعِشۡرُونَ)
8. Bab tentang sabda, “Bulan ini dua puluh sembilan hari”

١٦٥٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كَمۡ مَضَى مِنَ الشَّهۡرِ؟) قَالَ: قُلۡنَا: اثۡنَانِ وَعِشۡرُونَ، وَبَقِيَتۡ ثَمَانٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الشَّهۡرُ هَٰكَذَا، وَالشَّهۡرُ هَٰكَذَا، وَالشَّهۡرُ هَٰكَذَا) ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَأَمۡسَكَ وَاحِدَةً. [(صحيح أبي داود)(٢٠٠٨): ق نحوه].
1656. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Berapa hari dari bulan ini telah berlalu?” Abu Hurairah mengatakan: Kami menjawab: Dua puluh dua hari dan sisa delapan hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bulan ini begini, bulan ini begini, dan bulan ini begini.” Tiga kali dan beliau menahan satu jari.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1654

٧ - بَابُ مَا جَاءَ فِي: (صُومُوا لِرُؤۡيَتِهِ وَأَفۡطِرُوا لِرُؤۡيَتِهِ)
7. Bab tentang “Berpuasalah karena melihat hilal (Ramadan) dan berhentilah berpuasa karena melihat hilal (Syawal)”

١٦٥٤ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو مَرۡوَانَ، مُحَمَّدُ بۡنُ عُثۡمَانَ الۡعُثۡمَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا رَأَيۡتُمُ الۡهِلَالَ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيۡتُمُوهُ فَأَفۡطِرُوا، فَإِنۡ غُمَّ عَلَيۡكُمۡ فَاقۡدُرُوا لَهُ). وَكَانَ ابۡنُ عُمَرَ يَصُومُ قَبۡلَ الۡهِلَالِ بِيَوۡمٍ. [(الإرواء)(٤/١٠)، (صحيح أبي داود)(٢٠٠٩)].
1654. Abu Marwan Muhammad bin ‘Utsman Al-‘Utsmani telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Salim bin ‘Abdullah, dari Ibnu ‘Umar; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian telah melihat hilal (Ramadan), maka berpuasalah. Dan jika kalian telah melihatnya (hilal Syawal), maka berhentilah berpuasa. Jika kalian terhalangi melihatnya, maka tentukanlah.” Ibnu ‘Umar dahulu biasa berpuasa sehari sebelum hilal.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2316 dan 2317

٦٣ - تَأۡوِيلُ قَوۡلِ اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ﴾
63. Takwil firman Allah azza wajalla, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.”

٢٣١٦ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا قُتَيۡبَةُ قَالَ: أَنۡبَأَنَا بَكۡرٌ وَهُوَ ابۡنُ مُضَرَ عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ الۡحَارِثِ عَنۡ بُكَيۡرٍ عَنۡ يَزِيدَ مَوۡلَى سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ، قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ﴾؛ كَانَ مَنۡ أَرَادَ مِنَّا أَنۡ يُفۡطِرَ وَيَفۡتَدِيَ؛ حَتَّى نَزَلَتِ الۡآيَةُ الَّتِي بَعۡدَهَا، فَنَسَخَتۡهَا. [(الترمذي)(٨٠٢)، ق].
2316. Qutaibah telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Bakr bin Mudhar memberitakan kepada kami dari ‘Amr bin Al-Harits, dari Bukair, dari Yazid maula Salamah bin Al-Akwa’, dari Salamah bin Al-Akwa’, beliau mengatakan: Ketika ayat ini turun, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu) memberi makan seorang miskin”, maka ketika itu siapa saja di antara kami yang ingin tidak berpuasa, dia membayar fidiah. Sampai ayat setelahnya turun, sehingga menasakhkannya.
٢٣١٧ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ: أَنۡبَأَنَا وَرۡقَاءُ عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ عَنۡ عَطَاءٍ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ فِي قَوۡلِهِ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ﴾؛ يُطِيقُونَهُ: يُكَلَّفُونَهُ، فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ وَاحِدٍ؛ ﴿فَمَنۡ تَطَوَّعَ خَيۡرًا﴾، طَعَامُ مِسۡكِينٍ آخَرَ، لَيۡسَتۡ بِمَنۡسُوخَةٍ، ﴿فَهُوَ خَيۡرٌ لَهُ وَأَنۡ تَصُومُوا خَيۡرٌ لَكُمۡ﴾؛ لَا يُرَخَّصُ فِي هَٰذَا إِلَّا لِلَّذِي لَا يُطِيقُ الصِّيَامَ، أَوۡ مَرِيضٍ لَا يُشۡفَى. [(إرواء الغليل)(٩١٢)، خ نحوه].
2317. Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Yazid menceritakan kepada kami, beliau berkata: Warqa` memberitakan kepada kami dari ‘Amr bin Dinar, dari ‘Atha`, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah azza wajalla, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” Yuthiqunahu artinya terbebani. (Maka) membayar fidiah, yaitu memberi makan orang miskin satu orang. Faman tathawwa’a khairan: memberi makan lagi orang miskin yang lain. Ayat ini tidak mansukh. “Maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Dalam ayat ini, tidaklah diberi keringanan kecuali bagi yang tidak mampu puasa atau orang sakit yang tidak bisa sembuh.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2315

٦٢ - وَضۡعُ الصِّيَامِ عَنِ الۡحُبۡلَى وَالۡمُرۡضِعِ
62. Gugurnya puasa dari wanita hamil dan menyusui

٢٣١٥ – (حسن) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ مَنۡصُورٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُسۡلِمُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ عَنۡ وُهَيۡبِ بۡنِ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ سَوَادَةَ الۡقُشَيۡرِيُّ عَنۡ أَبِيهِ عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ - رَجُلٌ مِنۡهُمۡ -؛ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ بِالۡمَدِينَةِ وَهُوَ يَتَغَدَّى، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (هَلُمَّ إِلَى الۡغَدَاءِ)، فَقَالَ: إِنِّي صَائِمٌ! فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- وَضَعَ لِلۡمُسَافِرِ الصَّوۡمَ وَشَطۡرَ الصَّلَاةِ، وَعَنِ الۡحُبۡلَى وَالۡمُرۡضِعِ). [مضى(٢٢٧٤)].
2315. ‘Amr bin Manshur telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami dari Wuhaib bin Khalid, beliau berkata: ‘Abdullah bin Sawadah Al-Qusyairi menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Anas bin Malik –seorang dari kalangan mereka-; Bahwa beliau datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah dalam keadaan beliau sedang makan siang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Mari makan siang.” Anas berkata: Sesungguhnya aku berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya Allah azza wajalla menggugurkan puasa dan separuh salat untuk musafir, wanita hamil, dan wanita menyusui.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2314

٦١ - الرُّخۡصَةُ فِي الۡإِفۡطَارِ لِمَنۡ حَضَرَ شَهۡرَ رَمَضَانَ، فَصَامَ، ثُمَّ سَافَرَ
61. Rukhsah membatalkan puasa bagi siapa saja yang memasuki bulan Ramadan kemudian berpuasa lalu melakukan safar

٢٣١٤ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ آدَمَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُفَضَّلٌ عَنۡ مَنۡصُورٍ عَنۡ مُجَاهِدٍ عَنۡ طَاوُسٍ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: سَافَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ عُسۡفَانَ، ثُمَّ دَعَا بِإِنَاءٍ، فَشَرِبَ نَهَارًا؛ لِيَرَاهُ النَّاسُ، ثُمَّ أَفۡطَرَ حَتَّى دَخَلَ مَكَّةَ، فَافۡتَتَحَ مَكَّةَ فِي رَمَضَانَ. قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: فَصَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي السَّفَرِ وَأَفۡطَرَ؛ فَمَنۡ شَاءَ صَامَ، وَمَنۡ شَاءَ أَفۡطَرَ. [ق، مضى (٢٢٩٠)].
2314. Muhammad bin Rafi’ telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, beliau berkata: Mufadhdhal menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Mujahid, dari Thawus, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan safar. Beliau tetap berpuasa sampai tiba di ‘Usfan. Kemudian beliau meminta sebuah bejana dan beliau minum di waktu siang hari supaya dilihat oleh orang-orang. Kemudian beliau tidak berpuasa hingga masuk Makkah dan beliau menguasai Makkah di bulan Ramadan. Ibnu ‘Abbas mengatakan: Jadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah puasa ketika safar dan pernah tidak berpuasa. Sehingga siapa saja yang mau, silakan berpuasa. Dan siapa saja yang mau, silakan tidak berpuasa.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1653

١٦٥٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ، عَنۡ أَبِي بِشۡرٍ، عَنۡ أَبِي عُمَيۡرِ بۡنِ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ؛ قَالَ: حَدَّثَنِي عُمُومَتِي مِنَ الۡأَنۡصَارِ مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالُوا: أُغۡمِيَ عَلَيۡنَا هِلَالُ شَوَّالٍ، فَأَصۡبَحۡنَا صِيَامًا، فَجَاءَ رَكۡبٌ مِنۡ آخِرِ النَّهَارِ، فَشَهِدُوا عِنۡدَ النَّبِيِّ أَنَّهُمۡ رَأَوُا الۡهِلَالَ بِالۡأَمۡسِ، فَأَمَرَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يُفۡطِرُوا، وَأَنۡ يَخۡرُجُوا إِلَى عِيدِهِمۡ مِنَ الۡغَدِ. [(الإرواء)(٦٣٤)، (صحيح أبي داود)(١٠٥٠)].
1653. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Husyaim menceritakan kepada kami dari Abu Bisyr, dari Abu ‘Umair bin Anas bin Malik; Beliau berkata: Paman-pamanku dari kalangan Ansar dan termasuk sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepadaku. Mereka berkata: Hilal bulan Syawal terhalangi dari kami, sehingga keesokan harinya kami masih berpuasa. Lalu datanglah satu rombongan di akhir siang. Mereka bersaksi di dekat Nabi bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berbuka dan agar mereka keluar esok untuk melangsungkan hari raya mereka.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2313

٦٠ - الرُّخۡصَةُ لِلۡمُسَافِرِ أَنۡ يَصُومَ بَعۡضًا وَيُفۡطِرَ بَعۡضًا
60. Rukhsah untuk musafir, dia bisa berpuasa di sebagian waktu dan tidak berpuasa di sebagian waktu lain

٢٣١٣ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا قُتَيۡبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ عَنِ الزُّهۡرِيِّ عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَامَ الۡفَتۡحِ صَائِمًا فِي رَمَضَانَ، حَتَّى إِذَا كَانَ بِالۡكَدِيدِ أَفۡطَرَ. [خ(١٩٤٤)، م(٣/١٤٠-١٤١)].
2313. Qutaibah telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar safar pada tahun Fathu Makkah di bulan Ramadan dalam keadaan berpuasa. Hingga ketika beliau berada di Kadid, beliau tidak berpuasa.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2311 dan 2312

٢٣١١ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ عَلِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنَا الۡقَوَارِيرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ مَنۡصُورٍ عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ عَنۡ جَابِرٍ، قَالَ: سَافَرۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ فَصَامَ بَعۡضُنَا، وَأَفۡطَرَ بَعۡضُنَا. [م(٣/١٤٣)].
2311. Abu Bakr bin ‘Ali telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Al-Qawariri menceritakan kepada kami, beliau berkata: Bisyr bin Manshur menceritakan kepada kami dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari Abu Nadhrah, dari Jabir, beliau mengatakan: Kami pernah melakukan safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian kami berpuasa dan sebagian yang lain tidak berpuasa.
٢٣١٢ – (صحيح) أَخۡبَرَنِي أَيُّوبُ بۡنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مَرۡوَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا عَاصِمٌ عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ الۡمُنۡذِرِ عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، وَجَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ؛ أَنَّهُمَا سَافَرَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ فَيَصُومُ الصَّائِمُ، وَيُفۡطِرُ الۡمُفۡطِرُ، وَلَا يَعِيبُ الصَّائِمُ عَلَى الۡمُفۡطِرِ وَلَا الۡمُفۡطِرُ عَلَى الصَّائِمِ. [م].
2312. Ayyub bin Muhammad telah mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Marwan menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Ashim menceritakan kepada kami dari Abu Nadhrah Al-Mundzir, dari Abu Sa’id dan Jabir bin ‘Abdullah; Bahwa keduanya melakukan safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang berpuasa dan ada yang tidak. Orang yang berpuasa tidak menghina orang yang tidak berpuasa, demikian pula orang yang tidak berpuasa tidak menghina orang yang berpuasa.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2309 dan 2310

٥٩ - ذِكۡرُ الۡاخۡتِلَافِ عَلَى أَبِي نَضۡرَةَ الۡمُنۡذِرِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ قُطَعَةَ فِيهِ
59. Penyebutan perbedaan riwayat Abu Nadhrah Al-Mundzir bin Malik bin Qutha’ah pada hadis ini

٢٣٠٩ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا يَحۡيَى بۡنُ حَبِيبِ بۡنِ عَرَبِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنۡ سَعِيدٍ الۡجُرَيۡرِيِّ عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ، قَالَ: كُنَّا نُسَافِرُ فِي رَمَضَانَ؛ فَمِنَّا الصَّائِمُ وَمِنَّا الۡمُفۡطِرُ؛ لَا يَعِيبُ الصَّائِمُ عَلَى الۡمُفۡطِرِ، وَلَا يَعِيبُ الۡمُفۡطِرُ عَلَى الصَّائِمِ. [م(٣/١٤٢-١٤٣)].
2309. Yahya bin Habib bin ‘Arabi telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Hammad menceritakan kepada kami dari Sa’id Al-Jurairi, dari Abu Nadhrah, beliau berkata: Abu Sa’id menceritakan kepada kami, beliau berkata: Kami pernah melakukan safar di bulan Ramadan. Di antara kami ada yang berpuasa dan di antara kami ada yang tidak berpuasa. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang tidak berpuasa dan orang yang tidak berpuasa tidak mencela orang yang berpuasa.
٢٣١٠ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا سَعِيدُ بۡنُ يَعۡقُوبَ الطَّالۡقَانِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ وَهُوَ ابۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡوَاسِطِيُّ عَنۡ أَبِي مَسۡلَمَةَ عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَمِنَّا الصَّائِمُ، وَمِنَّا الۡمُفۡطِرُ، وَلَا يَعِيبُ الصَّائِمُ عَلَى الۡمُفۡطِرِ، وَلَا يَعِيبُ الۡمُفۡطِرُ عَلَى الصَّائِمِ. [م].
2310. Sa’id bin Ya’qub Ath-Thalqani telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Khalid bin ‘Abdullah Al-Wasithi menceritakan kepada kami dari Abu Maslamah, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id, beliau mengatakan: Kami pernah melakukan safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kami ada yang berpuasa dan ada yang tidak. Orang yang berpuasa tidak mengejek orang yang tidak berpuasa dan orang yang tidak berpuasa tidak mengejek orang yang berpuasa.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2306, 2307, dan 2308

٢٣٠٦ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سَلَمَةَ قَالَ: أَنۡبَأَنَا ابۡنُ الۡقَاسِمِ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ عَنۡ أَبِيهِ عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: إِنَّ حَمۡزَةَ قَالَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ: يَا رَسُولَ اللهِ! أَصُومُ فِي السَّفَرِ - وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ -؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ). [ق].
2306. Muhammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Ibnu Al-Qasim memberitakan kepada kami, beliau berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, beliau berkata: Sesungguhnya Hamzah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, bolehkah aku berpuasa ketika safar –dan beliau sering berpuasa-? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Jika engkau mau, berpuasalah. Dan jika engkau mau, jangan berpuasa.” 
٢٣٠٧ – (حسن صحيح) أَخۡبَرَنِي عَمۡرُو بۡنُ هِشَامٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سَلَمَةَ عَنِ ابۡنِ عَجۡلَانَ عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ عَنۡ أَبِيهِ عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: إِنَّ حَمۡزَةَ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! أَصُومُ فِي السَّفَرِ؟ فَقَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ) [ق].
2307. ‘Amr bin Hisyam telah mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Muhammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Ajlan, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, beliau mengatakan: Sesungguhnya Hamzah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan: Wahai Rasulullah, apakah aku boleh berpuasa ketika safar? Beliau bersabda, “Jika engkau mau, berpuasalah. Dan jika engkau mau, jangan berpuasa.”
٢٣٠٨ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: أَنۡبَأَنَا عَبۡدَةُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ عُرۡوَةَ عَنۡ أَبِيهِ عَنۡ عَائِشَةَ، أَنَّ حَمۡزَةَ الۡأَسۡلَمِيَّ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الصَّوۡمِ فِي السَّفَرِ - وَكَانَ رَجُلًا يَسۡرُدُ الصِّيَامَ -؟ فَقَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ). [ق نحوه].
2308. Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdah bin Sulaiman memberitakan kepada kami, beliau berkata: Hisyam bin ‘Urwah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari ‘Aisyah, bahwa Hamzah Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang puasa ketika safar –dan beliau seorang yang sering berpuasa-. Nabi bersabda, “Jika engkau mau, berpuasalah. Dan jika engkau mau, jangan berpuasa.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2304 dan 2305

٥٨ - ذِكۡرُ الۡاخۡتِلَافِ عَلَى هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ فِيهِ
58. Penyebutan perbedaan riwayat Hisyam bin ‘Urwah dalam masalah ini

٢٣٠٤ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ بِشۡرٍ عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ عَنۡ أَبِيهِ عَنۡ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو الۡأَسۡلَمِيِّ، أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ: أَصُومُ فِي السَّفَرِ؟ قَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ). [ق].
2304. Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Bisyr, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami, bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Apakah aku boleh berpuasa ketika safar? Beliau menjawab, “Jika engkau mau, berpuasalah. Dan jika engkau mau, janganlah berpuasa.”
٢٣٠٥ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عَلِيُّ بۡنُ الۡحَسَنِ اللَّانِيُّ بِالۡكُوفَةِ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحِيمِ الرَّازِيُّ عَنۡ هِشَامٍ عَنۡ عُرۡوَةَ عَنۡ عَائِشَةَ، عَنۡ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو، أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنِّي رَجُلٌ أَصُومُ، أَفَأَصُومُ فِي السَّفَرِ؟ قَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ). [ق].
2305. ‘Ali bin Al-Hasan Al-Lani di Kufah telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdurrahim Ar-Razi menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Hamzah bin ‘Amr, bahwa beliau bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku seseorang yang biasa berpuasa. Apakah aku boleh berpuasa ketika safar? Beliau menjawab, “Jika engkau mau, berpuasalah. Dan jika engkau mau, jangan berpuasa.”

Pemilik Kisah Unik

Berpakaian sangat sederhana adalah ciri khasnya dalam majelis-majelis ilmu. Orang tidak akan menyangka bahwa sosok ini adalah seorang ulama hadis yang mumpuni. Banyak pihak dibuat bingung dan kaget dengan penampilannya tersebut. Bahkan sempat ada yang mempermasalahkan kehadirannya di majelis ilmu. Apalagi jika bukan karena penampilannya yang teramat sederhana dan lain daripada yang lain. Tentu mudah untuk ditebak siapakah gerangan ulama ini. Siapa lagi kalau bukan Al A’masy Sulaiman bin Mihran Abu Muhammad Al Asadi Al Kahiliy rahimahullah.

Namun siapa sangka beliau adalah seorang Imam, Syaikhul Islam, Hafizh, Syaikhnya para Qari’ dan ahli hadis. Satu riwayat menyebutkan bahwa beliau berasal dari pinggiran wilayah Rai. Dalam referensi yang lain disebutkan bahwa ia dilahirkan di kampung ibunya di Thabaristan pada tahun 61. Kemudian dibawa oleh keluarga menuju ke Kufah ketika masih kecil. Pada akhirnya beliau memang tinggal dan menghabiskan usianya di Kota Kufah Irak.

GURU DAN MURIDNYA


Sebagai seorang tabi’in ia pernah bertemu dengan beberapa shahabat yang mulia di antaranya adalah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Al A’masy termasuk ulamanya tabiin. Beberapa ulama seperti Ibnu Hajar memasukkan beliau pada thabaqah yang ketiga. Pembaca yang budiman, kesederhanaan, dan keterbatasan bukan penghalang baginya untuk menimba ilmu agama. Sederhana dan berpenampilan seadanya, itulah sosok ulama kita ini sampai-sampai Ibnu Uyainah rahimahullah mengatakan, “Jikalau anda melihat Al A’masy dengan mengenakan syal yang telah usang dan dua khuf (sepatu), maka dia seolah-olah seorang pengemis atau peminta-minta.”

Namun demikian, beliau terdidik bersama orang-orang saleh dan terkondisi dalam ibadah serta ilmu dengan orang-orang terpilih di masanya. Bukan satu hal yang sulit bagi Al A’masy untuk memetik dan menimba ilmu dari para shahabat karena jumlah mereka masih sangat banyak saat itu. Dalam biografinya dinukilkan bahwa Al A’masy banyak meriwayatkan hadis dari para ulama ternama, di antaranya adalah Abu Wail, Abu Amr Asy Syaibani, Ibrahim An Nakhai, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Zir bin Hubaisy, Abdurrahman bin Abi Laila, Asy-Sya’bi, dan masih yang lainnya. Demikian halnya banyak ulama yang meriwayatkan hadis darinya, seperti Al Hakam bin Utaibah, Abu Ishaq As Sabi’i, Ayyub As Sikhtiyani, Zaid bin Aslam, Khalid Al Hadza’, Abu Hanifah, Al Auza’i, Syu’bah, Sufyan, Zaidah, dan masih banyak yang lainnya.

PUJIAN DAN KESAKSIAN PARA ULAMA


Ali Al Madini rahimahullah memberikan persaksian tentang kapasitas Al A’masy dalam periwayatan hadisnya dengan menyatakan, “Al A’masy mempunyai hadis sekitar seribu tiga ratus hadis.” Ulama selevel Sufyan bin Uyainah pun tak ketinggalan menyampaikan pujiannya, “Al A’masy adalah seseorang yang paling menguasai bacaan Kitabullah, paling hafal hadis, dan paling mengetahui Ilmu Faraidh (ilmu waris).” Demikianlah keilmuan beliau memang membuat kagum para ulama yang sezaman dengannya. Sehingga ulama pun seakan berlomba untuk mendekat dan mengambil ilmu darinya.

Simak pengakuan Mujahid dalam ungkapannya berikut ini, “Kalau seandainya aku mempunyai kekuatan, niscaya aku akan senantiasa menemui orang ini (maksudnya adalah Al A’masy).” Nama-nama besar ulama yang merapat kepada beliau untuk meriwayatkan hadis di antaranya adalah Al Hakam bin Utaibah, Abu Ishaq As Sabi’i, Ayyub As Sikhtiyani, Zaid bin Aslam, Khalid Al Hadzdza’, Sulaiman At Taimi, Abu Hanifah, Al ‘Auzai, Syu’bah, Ma’mar, Sa’id bin Abi Arubah, dan masih banyak yang lainnya.

Begitulah kondisi Al A’masy, derajatnya terangkat dengan ilmu warisan para nabi bukan dengan jabatan atau pangkat kedudukan. Orang-orang pun begitu menghormatinya layaknya seorang penguasa. Hingga Isa bin Yunus mengatakan, “Kami belum pernah melihat orang seperti Al A’masy dan belum pernah melihat orang-orang kaya yang lebih hina daripada ketika mereka berada di majelisnya Al A’masy, padahal beliau adalah orang yang faqir.” Al A’masy adalah orang yang jiwanya mulia. Tidaklah kefakiran membuatnya menghinakan diri dengan meminta-minta dan mengemis kepada orang-orang kaya. Justru para penguasa dan orang-orang kaya membutuhkan ilmunya dan rela bersimpuh di majelisnya untuk menuntut ilmu agama.

AHLI IBADAH


Beliau juga dikenal sebagai ahli ibadah, lihatlah penuturan Waki’ bin Al Jarrah berikut ini, “Hampir 70 tahun Al A’masy tidak pernah luput ikut takbirah al ihram (dalam pelaksanaan salat berjama’ah)”. Abdullah bin Al Khuraiby berkata, “Tidak ada sepeninggal Al A’masy seorang ahli ibadah yang melebihinya.” Abdullah Al Khuraibi menambahkan tentang ibadahnya, “Sepeninggal Al A’masy tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya dalam beribadah.” Adalah Yahya Al Qaththan jika disebut-sebut Al A’masy maka beliau mengatakan, “Al A’masy termasuk ahli ibadah dan beliau adalah orang yang selalu menjaga pelaksanaan salat berjamaah di shaf yang pertama.” Beliau juga sangat semangat dalam menjaga kesucian tubuhnya dalam segala kesempatan. Bahkan dikisahkan ketika Al A’masy terjaga dari tidurnya di malam hari, maka ia segera mencari air untuk bersuci. Namun tidak mendapatkannya. Hingga akhirnya beliau mencari debu untuk bertayamum dengannya lalu kembali tidur. Tatkala ditanya tentang hal ini, maka Al A’masy menjawab bahwa beliau tidak suka meninggal dalam kondisi tidak berwudhu.

KISAH-KISAH UNIKNYA


Al A’masy dikenal sebagai ulama dengan sederet kisah-kisah unik namun sarat faedah ilmiyah. Di antaranya beliau menuturkan, “Ada seseorang yang menikah dengan bangsa jin.” Maka kami pun bertanya kepada jin tersebut, “Makanan apa yang kalian sukai?” Ia menjawab, “Nasi.” Untuk membuktikan kebenarannya maka aku pun membawakan nasi untuknya dan aku melihat nasi yang mulai terangkat seperti akan dimakan namun aku tidak melihat siapa pun. Kemudian beliau melanjutkan pertanyaannya, “Apakah di antara bangsa jin ada kelompok-kelompok sebagaimana yang ada pada di antara kami.” Dia pun menjawab, “Ya, benar.” Al A’masy bertanya, “Lalu siapakah Syi’ah Rafidhah di antara kalian.” Jin itu menjawab, “Mereka adalah kelompok terburuk di antara kami.”

Simak juga kisah beliau dengan qashshas (tukang cerita) sebagaimana dinukilkan kisahnya oleh Abu Bakar At Thurtusi, “Tatkala Sulaiman bin Mihran Al A’masy datang ke Basrah, beliau melihat seorang pembuat cerita sedang beraksi di sebuah masjid. Maka Al A’masy melangkah menuju ke tengah-tengah majelis dan mengangkat kedua tangannya seraya mencabuti bulu ketiaknya.

Maka pembuat cerita itu mengatakan kepada beliau, “Wahai Syaikh apa engkau tidak malu dengan perbuatanmu ini? Kami sedang mengkaji tentang ilmu sementara engkau melakukan perbuatan seperti ini?” Al A’masy berkata, “Apa yang sedang aku lakukan ini lebih baik daripada apa yang engkau perbuat.” Pembuat cerita itu bertanya, “Bagaimana bisa seperti itu?” Maka Al A’masy menjawab, “Karena aku melakukan sunnah sementara engkau melakukan kedustaan. Aku adalah Al A’masy dan apa yang engkau katakan tadi tidak pernah aku mengucapkannya sedikitpun.” Ketika orang-orang mendengar apa yang disampaikan oleh Al A’masy, mereka pun bubar meninggalkan tukang cerita itu dan berkumpul di sekitar Al A’masy lalu mengatakan, “Wahai Abu Muhammad sampaikanlah hadis kepada kami.”

Demikianlah sepenggal biografi ulama tabiin ini yang penuh dengan pelajaran yang berharga. Al A’masy meninggal pada bulan Rabiul Awal tahun 146 H dalam usia 85 tahun. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan memberikan balasan atas segala jasa serta kebaikan beliau. Allahu a’lam.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 49 vol.05 1438 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2303

٥٧ - ذِكۡرُ الۡاخۡتِلَافِ عَلَى عُرۡوَةَ فِي حَدِيثِ حَمۡزَةَ فِيهِ
57. Penyebutan perbedaan riwayat ‘Urwah pada hadis Hamzah dalam masalah ini

٢٣٠٣ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا الرَّبِيعُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ قَالَ: أَنۡبَأَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ قَالَ: أَنۡبَأَنَا عَمۡرٌو وَذَكَرَ آخَرَ عَنۡ أَبِي الۡأَسۡوَدِ عَنۡ عُرۡوَةَ عَنۡ أَبِي مُرَاوِحٍ عَنۡ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو، أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ: أَجِدُ فِيَّ قُوَّةً عَلَى الصِّيَامِ فِي السَّفَرِ؛ فَهَلۡ عَلَيَّ جُنَاحٌ؟ قَالَ: (هِيَ رُخۡصَةٌ مِنَ اللهِ - عَزَّ وَجَلَّ -؛ فَمَنۡ أَخَذَ بِهَا فَحَسَنٌ، وَمَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِ). [م(٣/١٤٥)].
2303. Ar-Rabi’ bin Sulaiman telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Ibnu Wahb memberitakan kepada kami, beliau berkata: ‘Amr dan Ibnu Wahb menyebutkan seorang yang lain memberitakan kepada kami dari Abu Al-Aswad, dari ‘Urwah, dari Abu Murawih, dari Hamzah bin ‘Amr, bahwa beliau mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Aku mendapati kekuatan pada diriku untuk puasa ketika safar. Apakah aku mendapatkan dosa? Beliau bersabda, “Tidak berpuasa ketika safar adalah rukhsah dari Allah azza wajalla, sehingga siapa saja yang mengambilnya, maka bagus. Dan siapa saja yang suka untuk berpuasa, maka ia tidak berdosa.”

PELITA DARI MAURITANIA

“Syaikh Muhammad Al Amin rahimahullah memiliki kepribadian yang sangat istimewa dan spesial. Siapa pun yang pernah bertemu dengan beliau, menghadiri majelisnya, mendengarkan pelajarannya atau membaca kitabnya akan mengetahui hal tersebut.” Demikian pengakuan salah seorang murid beliau yaitu Syaikh Athiyah Muhammad Salim yang pernah menjabat sebagai hakim Mahkamah Syar’iyah di kota Madinah. Jika Anda pernah mendengar nama sebuah kitab tafsir monumental abad ini yang bernama Adhwaul Bayan maka beliaulah penulisnya. Seorang guru besar ilmu tafsir dan ulama Rabbani yang membimbing umat ini dengan penuh kesabaran.

NASAB DAN PERKEMBANGAN ILMIAHNYA


Nama panjang beliau adalah Muhammad Al Amin bin Muhammad Al Mukhtar bin Abdul Qadir Al Jakni Asy Syinqithi rahimahullah. Nama ayah beliau adalah Muhammad Al Mukhtar bin Abdul Qadir dan jika ditelusuri maka nasab kabilah beliau ini akan berakhir kepada sebuah daerah di Himyar. Syaikh terlahir di sebuah kota yang bernama Syinqith tepatnya di Desa Tanbah dan sekarang tempat tersebut lebih populer dengan nama Mauritania. Yaitu sebuah negara yang terletak di bagian barat laut Afrika dengan pesisirnya yang menghadap ke Samudra Atlantik di antara Sahara Barat di sebelah utara dan Senegal di selatan.

Syaikh tumbuh besar di lingkungan yang kondusif untuk mempelajari ilmu agama sehingga beliau pun terdidik hingga besar di tengah komunitas yang cinta ilmu agama. Terlebih sanak kerabat Syaikh yang sangat familiar dan hidup dalam nuansa ilmu agama yang sangat kental. Ayah Syaikh meninggal ketika beliau masih kecil. Namun demikian beliau mampu menyelesaikan Al Quran pada usia 10 tahun melalui bimbingan pamannya yang bernama Abdullah bin Muhammad Al Mukhtar.

Putra paman beliau yang lain, bernama Muhammad bin Ahmad Al Mukhtar mempunyai andil kepada beliau dalam mempelajari khat Mushaf Utsmani (Mushaf Induk). Selain itu beliau juga belajar ilmu tajwid dengan bacaan Nafi’ yang meriwayatkan dari Warsy, bahkan mengambil sanad qiraah hingga sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal usia beliau saat itu masih 16 tahun. Di samping itu, beliau juga belajar kitab-kitab fikih praktis Imam Malik semisal Rajaz Syaikh Ibnu A’syir dan belajar sastra dari istri pamannya. Syaikh juga meluangkan waktu untuk belajar dasar-dasar ilmu nahwu dan sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ketinggalan beliau juga semangat belajar tentang ilmu nasab bangsa Arab bahkan Nazham Ghazwat (peperangan) karya Ahmad Al Badawi beliau hafal, padahal jumlahnya lebih dari 500 bait.

Dalam usia yang relatif masih sangat muda, Syaikh mampu menimba mendalam berbagai cabang disiplin ilmu agama. Antusias menuntut ilmu agama yang tinggi ditunjang kecerdasan dan kekuatan hafalan yang mantap membuat beliau tidak kesulitan menjalaninya. Seperti itulah deskripsi ringkas pertumbuhan awal belajar Syaikh dan rumah paman beliau bisa dikatakan sebagai madrasah pertama dalam menuntut ilmu agama.

GURU-GURU BELIAU


Selain berbagai cabang ilmu di atas, beliau juga belajar fikih Madzhab Maliki dan Alfiyah Ibnu Malik dari Syaikh Muhammad bin Shalih yang terkenal dengan sebutan Al Afram bin Muhammad Al Mukhtar. Beliau juga mengambil disiplin ilmu yang lain seperti Nahwu, Sharaf, Ushul, Balaghah, tafsir, dan hadis dari beberapa syaikh yang berasal dari kabilah Jakniyyun. Cukup banyak nama-nama ulama terkenal dari kabilah tersebut yang pernah jadi guru beliau seperti Syaikh Al Allamah Ahmad bin Umar, Syaikh Muhammad bin An Ni’mah bin Zaidan, dan Syaikh Ahmad Mud dua ulama ahli fikih besar di masanya, kemudian belajar juga kepada syaikh Ahmad Faal bin Aaduh, dan selain mereka.

Tatkala Ibunda syaikh dan paman-pamannya melihat talenta besar pada diri beliau karena bisa mengungguli teman-teman selevelnya, maka mereka pun memberikan perhatian dan bimbingan ekstra kepada syaikh agar lebih fokus dalam menuntut ilmu. Dalam sebuah penuturannya syaikh menjelaskan bahwa semua disiplin ilmu telah dipelajari dari guru-guru beliau tersebut. Hanya saja ilmu mantiq dan adab-adab pengkajian dan diskusi beliau pelajari sendiri secara otodidak.

Waktu demi waktu beliau lalui dengan penuh perjuangan dan kesabaran dalam memperbanyak perbendaharaan ilmu. Hingga akhirnya ilmu beliau semakin luas dan matang dalam berbagai bidang ilmu agama. Tibalah saatnya beliau sibuk dengan segala aktivitasnya sebagai ulama seperti belajar, mengajar, berfatwa, membimbing, dan mengarahkan para penuntut ilmu. Hanya saja beliau lebih terkenal dengan keluasan ilmunya dalam memutuskan hukum. Sehingga meskipun ketika itu di negeri beliau ada seorang hakim Perancis, namun Syaikh lebih dipercaya oleh orang-orang pribumi untuk menyelesaikan konflik dan sengketa yang mereka hadapi. Utusan-utusan tak jarang datang dari tempat yang jauh untuk berkonsultasi dan meminta solusi kepada beliau.

KEPINDAHAN SYAIKH KE MADINAH


Bermula dari niatan beliau untuk melaksanakan ibadah haji di Mekah, beliau pun melakukan safar ke Baitullah. Singkat cerita beliau bertemu dengan Amir bin Khalid As Sudairi yang sedang mencari majelis yang mengajarkan ilmu sastra. Gayung pun bersambut, sehingga akhirnya mereka berdua terlibat dalam tanya jawab yang panjang. Setelah Amir mengetahui siapakah sejatinya Syaikh Muhammad Amin, maka ia mengarahkan syaikh agar di Madinah nanti menemui dua ulama yaitu Syaikh Abdullah bin Zahim dan Syaikh Abdul Aziz bin Shalih.

Setibanya di Madinah beliau pun tidak mengalami hambatan berarti untuk bisa bersua dengan kedua syaikh tersebut. Namun beliau lebih banyak melakukan diskusi dan pembahasan dengan Syaikh Abdul Aziz bin Shalih. Akhirnya Syaikh diberi hadiah oleh Syaikh Abdul Aziz berupa kitab Al Mughni karya Ibnu Qudamah dan beberapa karya tulis Ibnu Taimiyah dalam bidang akidah. Tekad beliau untuk tinggal di Madinah semakin kuat setelah banyak menelaah kitab-kitab karya Imam Ahmad bin Hanbal dan kitab Ahlus Sunnah. Terlebih lagi setelah menemukan suasana dan lingkungan yang sangat kondusif untuk belajar serta mengajarkan ilmu agama.

Sebelum kedatangan Syaikh Muhammad Amin ke Madinah telah ada Syaikh Ath Thayyib yang telah banyak mengajar dan memberikan banyak manfaat kepada kaum muslimin di Madinah. Tatkala Syaikh Thayyib meninggal pada tahun 1363, maka posisi beliau digantikan oleh para muridnya. Syaikh Muhammad Amin juga diberi kesempatan untuk mengajar tafsir di Masjid Nabawi dan beliau mampu menyelesaikannya sebanyak dua kali. Seiring dengan berjalannya waktu, Syaikh Muhammad Amin mulai dikenal oleh penduduk Madinah, dan bahkan nama beliau disebut-sebut di berbagai penjuru negeri. Pada awalnya beliau membuka majelis di Masjid Nabawi dengan mengajar Ushul Fiqh untuk murid-murid senior tingkat atas. Namun majelis beliau ramai dikunjungi para penuntut ilmu, termasuk orang-orang awam yang ingin mengambil faedah ilmiyah darinya. Sampai-sampai ada yang datang dari ujung Kota Riyadh, semata-mata untuk menghadiri majelis beliau di Masjid Nabawi. Beliau pun membuka pelajaran khusus di rumahnya setelah Ashar atas permintaan dari murid-murid seniornya. Hingga ulama sekaliber Syaikh Abdul Aziz bin Baz tetap menghadiri pelajaran tafsir beliau di Masjid Nabawi.

KEPRIBADIANNYA


Syaikh adalah seorang ulama yang berakhlak baik dan budi pekerti luhur sebagaimana dipersaksikan oleh murid-muridnya. Salah satu akhlak beliau yang sangat menonjol adalah sifat zuhudnya terhadap dunia dan apa yang dimiliki oleh manusia. Sungguh dunia tidak berharga di mata syaikh sejak beliau menginjakkan kaki di Madinah. Bahkan ketika beliau banyak berinteraksi dengan pemerintah setempat. Hingga akhir hayatnya, beliau tidak pernah meminta pemberian, gaji, upah, hadiah, dan lain sebagainya. Namun beliau begitu mudah mendermakan apa yang beliau miliki kepada orang lain. Jika ada yang berinisiatif memberi, padahal beliau tidak memintanya, maka pemberian tersebut diterima. Namun selanjutnya beliau bagi-bagikan kepada orang-orang fakir yang membutuhkannya.

Syaikh Muhammad Amin wafat dalam keadaan tidak meninggalkan sekeping pun dirham atau dinar. Sungguh beliau hidup mulia dengan sifat ‘iffah (menjaga kehormatan diri) dan qanaahnya (merasa cukup). Beliau pernah mengatakan, “Sungguh aku datang dari negeriku dengan membawa perbendaharaan besar yang akan mencukupiku sepanjang hidup dan aku khawatir perbendaharaan itu akan hilang.” Beliau pun ditanya, “Apa perbendaharaan itu?” Beliau menjawab, “Qanaah.”

KARYA TULISNYA


Di sela-sela kesibukannya mengajar di berbagai majelis ilmu dan juga amanah yang beliau emban sebagai anggota Hai’ah Kibaril Ulama (Majelis Besar Ulama Senior Saudi Arabia) dan Rabithah Alam Islami (Persatuan Dunia Islam), beliau masih menyempatkan diri untuk aktif menghasilkan berbagai karya tulis. Di antara karya tulis beliau adalah Adhwa’ Al Bayan li Tafsir Al Qur’an bil Al Qur’an yang merupakan karya ilmiyah beliau yang paling terkenal. Kemudian Mudzakirah Al Ushul ‘ala Raudhah An Nadzir yang menghimpun berbagai ushul dari madzhab Hanbali, Maliki, dan Syafi’i. Juga Man’u Jawaz Al Majaz fi Al Munazzal li At Ta’abbud wal I’jaz, yaitu kitab yang menjelaskan tentang terlarangnya majaz pada nama-nama dan sifat-sifat Allah dalam Al Quran. Daf’u Ibham Al Idhthirab ‘an Ayi Al Kitab, yaitu sebuah karya tulis tentang ayat-ayat yang terkesan mempunyai makna saling bertentangan. Kemudian kitab beliau yang lainnya adalah Adab Al Bahts wa Al Munazharah tentang adab-adab membahas dan mendiskusikan suatu permasalahan. Syaikh Muhammad Amin juga mempunyai ceramah-ceramah ilmiyah yang kemudian dicetak dalam bentuk buku dan karya tulis.

Demikianlah Syaikh begitu semangat berperan memberikan sumbangsihnya kepada kaum muslimin dengan berbagai ceramah, karya tulis, dan fatwa-fatwanya. Beliau menghabiskan usianya untuk berdakwah dan menjadi suri teladan yang baik bagi para juru dakwah dan kaum muslimin secara umum. Akhirnya beliau meninggal dunia di Kota Madinah pada tanggal 17 Dzulhijjah 1393 H bertepatan dengan tahun 1972 M. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, dan membalas jasa-jasa beliau dengan balasan yang sebaik-baiknya. Allahu A’lam.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 49 vol.05 1438 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1651

١٦٥١ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ عَبۡدَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ مُحَمَّدٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُسۡلِمُ بۡنُ خَالِدٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا الۡعَلَاءُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا كَانَ النِّصۡفُ مِنۡ شَعۡبَانَ فَلَا صَوۡمَ حَتَّى يَجِيءَ رَمَضَانُ). [(المشكاة)(١٩٧٤)، (الروض)(٦٤٣)، (صحيح أبي داود)(٢٠٢٥)].
1651. Ahmad bin ‘Abdah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Hisyam bin ‘Ammar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Muslim bin Khalid menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Al-‘Ala` bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika sudah separuh bulan Syakban, maka tidak puasa sampai bulan Ramadan datang.”

Ulama 500 GURU

Pada era generasi tabi’in banyak ulama-ulama besar bertebaran di berbagai penjuru negeri. Saat itu masih begitu dekat dengan zaman keNabian yang merefleksikan kejayaan Islam di berbagai penjuru dunia. Dari sekian banyak pembesar tabi’in, tersebutlah seorang ulama yang bernama Amir Syarahil bin Abd bin Dzi kibar rahimahullah. Dzu Kibar adalah nama sebuah kabilah (suku) yang tinggal di Negeri Yaman. Namun beliau lebih populer dengan sebutan Asy Sya’bi dan kunyahnya adalah Abu Amr Al Hamdani.

Beliau diakui sebagai imam di masanya dan simbol ulama yang sangat berilmu di era generasi tabi’in. Ibunda beliau berasal dari tawanan perang Jalula, yaitu sebuah desa yang terletak di Persia. Di tempat itulah kaum muslimin berhasil menaklukkan orang-orang Persia dalam sebuah pertempuran yang terjadi pada tahun 16 H. Secara geografis, Jalula sekarang masuk wilayah Irak dan dikenal dengan sebutan As Sa’diyah.

ULAMA 500 GURU


Asy Sya’bi rahimahullah dilahirkan kurang lebih enam tahun setelah berlangsungnya masa pemerintahan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Namun versi lain menukilkan bahwa beliau dilahirkan pada tahun 21 H. Memang beliau terlahir di Kufah Negeri Irak namun demikian beliau sering meluangkan banyak waktu ke Madinah. Karena di kota Nabi itulah dahulu para sahabat bertebaran dalam berbagai majelis sehingga kota itu menjadi idaman para penuntut ilmu.

Jarak Kufah-Madinah memang cukup jauh, namun kendati demikian hal itu tidak mengendorkan antusiasnya dalam menuntut ilmu agama. Di situlah Asy Sya’bi berjumpa dengan puluhan atau bahkan ratusan sahabat yang mulia untuk meriwayatkan hadis dari mereka. Dikisahkan dari Manshur bin Abdurrahman bahwa Asy Sya’bi menyatakan, “Aku pernah menjumpai 500 sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Apa yang beliau sampaikan tersebut bukan pernyataan yang berlebihan karena memang demikian adanya. Beliau telah berjumpa dengan sekian banyak sahabat di Madinah. Dalam usia yang masih muda beliau diberi kemudahan untuk menuntut ilmu dari ratusan sahabat. Bahkan di antara mereka adalah pembesar-pembesar para sahabat seperti Sa’d bin Abi Waqqash, Abu Musa Al Asy’ari, Adi bin Hatim, Usamah bin Zaid, Abu Hurairah, Aisyah, Jabir bin Samurah, Abdullah bin Umar, Imran bin Hushain, Al Mughirah bin Syu’bah, Abdullah bin Amr, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr, Ka’ab bin ‘Ujrah, Usamah bin Zaid, Abu Mas’ud Al Badry, Samurah bin Jundab, An Nu’man bin Basyir, Al Bara’ bin ‘Azib, Zaid bin Arqam, Al Hasan bin Ali, Jabir bin Abdillah, Maimunah, Ummu Salamah, Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhum, dan masih banyak yang lainnya.

Sejatinya selain tujuan utamanya adalah untuk menimba ilmu agama dari telaga ilmu para sahabat di Madinah, Asy Sya’bi juga punya maksud lain meninggalkan Kota Kufah. Ya, ia sempat tinggal di Madinah selama 8 tahun dalam rangka untuk menghindarkan diri dari kekejaman Al Hajjaj bin Yusuf. Di kota itulah Asy Sya’bi bisa mendapatkan ketenangan dan sekaligus merealisasikan cita-cita mulia meriwayatkan hadis.

Meskipun berpostur tubuh kecil namun Asy Sya’bi diberi anugerah kekuatan hafalan yang sangat kokoh. Sampai-sampai disebutkan dalam satu riwayat bahwa beliau tidak pernah menulis sama sekali. Namun beliau bisa memahami dan menghafal ilmu yang disampaikan dengan sangat baik. Beliau pun mengatakan, “Aku tidak pernah menulis hitam di atas lembaran putih hingga saat ini dan tidaklah aku mendengar hadis melainkan aku mampu menghafalnya. Dan aku tidak suka jika ada seseorang yang mengulangi ucapannya.” Subhanallah, daya ingat yang sangat kuat dan inilah satu keajaiban ulama salaf yang sulit tertandingi oleh generasi-generasi setelahnya. Dengan segala kelebihan dan potensi yang ada, Asy Sya’bi menjadi seorang ulama besar saat itu.

SANJUNGAN PARA ULAMA


Salah satu indikasi yang menunjukkan persaksian ulama terhadap keilmuan Asy Sya’bi rahimahullah adalah semangat mereka untuk meriwayatkan hadis darinya. Oleh sebab itu Ibnu Sirin rahimahullah pernah menyatakan, “Aku pernah masuk ke Kota Kufah dalam kondisi Asy Sya’bi mempunyai kumpulan majelis yang sangat besar. Padahal sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu masih sangat banyak di tengah-tengah kita.”

Murid-murid Asy Sya’bi yang terkenal seperti Hammad bin Salamah, Abu Ishaq, Dawud bin Abi Hind, Ibnu ‘Aun, Ismail bin Abi Khalid, Ashim Al Ahwal, Makhul Asy Syami, Atha bin Saib, Mughirah bin Miqsam, Ibnu Abi Laila, Abu Hanifah, Abdullah bin ‘Ayyasy, dan masih ada yang lainnya.

Secara lisan pun mengalir pujian dan kekaguman ulama-ulama terhadap beliau. Abu Bakr bin Ayyasy rahimahullah pernah mengatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hushain, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih faqih daripada Asy Sya’bi.” Aku pun bertanya kepadanya, “Tidak pula Syuraih.” Beliau pun marah seraya mengatakan, “Sesungguhnya aku belum pernah melihat Syuraih.”

Sulaiman At Taimi rahimahullah menyatakan, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih faqih daripada Asy Sya’bi kecuali Said bin Al Musayyib. Tidak pula Thawus, Atha’, Al Hasan, atau Ibnu Sirin. Sungguh aku telah melihat mereka semuanya.”

Beliau dikenal pula sebagai seorang ulama yang sangat gigih dalam membela sunnah. Pernah ada seorang lelaki dari sekte kaisaniyyah berkata di hadapan Asy Sya’bi. Kaisaniyyah adalah pengikut Kaisan maula Ali yang merupakan sebuah aliran Syiah yang sangat ekstrim dengan meyakini bahwa imam mereka mengetahui segala sesuatu. Laki-laki tersebut mengatakan di depan Asy Sya’bi, “Aisyah termasuk salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau benci.” Asy Sya’bi rahimahullahpun langsung menegurnya dengan menyatakan, “Kamu telah menyelisihi sunnah Nabimu.”

Diriwayatkan dari Abu Bakar Al Hudzali rahimahullah bahwa Ibnu Sirin mengatakan kepadanya, “Hendaknya engkau senantiasa mengambil ilmu dari Asy Sya’bi. Sungguh aku pernah melihat Asy Sya’bi dimintai fatwanya padahal sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih sangat banyak.” Pernah ada seseorang bertanya kepada Asy Sya’bi, “Darimana engkau bisa mendapatkan ilmu yang sangat melimpah ini?” Beliau pun menajwab, “Dengan menghilangkan kemalasan, melakukan perjalanan di berbagai negeri, kesabaran bagaikan kesabaran benda mati, dan berangkat di awal waktu sebagaimana berangkatnya seekor burung gagak.”

Ibnu Uyainah rahimahullah menyatakan, “Ulamanya manusia ada tiga, yaitu Ibnu Abbas di zamannya, Asy Sya’bi di zamannya, dan Ats Tsauri di zamannya.” Tak kurang seorang sahabat seperti Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu pun memberi pujian dan sanjungan yang selangit kepada Asy Sya’bi. Dikisahkan oleh Abdul Malik bin Umair bahwa beliau mengatakan, “Pernah suatu saat Ibnu Umar melewati Asy Sya’bi dalam kondisi beliau sedang membacakan kisah berbagai peperangan yang pernah terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu mendengarnya maka Ibnu Umar berkomentar, “Seolah-olah orang ini ikut menyaksikan pertempuran tersebut bersama kami. Sungguh ia lebih hafal tentang sejarah-sejarah itu dan lebih berilmu daripada kami.”

Dawud bin Abi Hind rahimahullah mengatakan, “Belum pernah aku bermajelis dengan seorang pun yang lebih berilmu daripada Asy Sya’bi.” Ashim bin Sulaiman menyatakan, “Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih mengetahui tentang hadis penduduk Kufah, Bashrah, Hijaz, dan berbagai penjuru negeri daripada Asy Sya’bi.”

Meskipun derajat keilmuan Asy Sya’bi telah mencapai level yang sangat tinggi sebagaimana persaksian para ulama di atas. Namun demikian Asy Sya’bi mempunyai kepribadian yang rendah hati. Ibnu Syihab rahimahullah menuturkan bahwa ucapan yang sering terlontar dari lisannya adalah; saya tidak tahu. Beliau tidak merasa malu untuk mengucapkan kata-kata tersebut tatkala ditanya tentang suatu permasalahan.

Tatkala fitnah Ibnu Al Asyats bergejolak di masa pemerintahan Hajjaj bin Yusuf, saat itu Asy Sya’bi termasuk yang terlibat di dalamnya. Beliau bersama dengan para ahli pembaca Al Quran dari Irak terlibat dalam gerakan pemberontakan terhadap Al Hajjaj. Mereka memandang kezaliman Al Hajjaj telah mencapai puncaknya hingga dia memaksakan agar menunda waktu salat dan menjamak salat ketika muqim. Persis seperti yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya, “Akan datang kepada kalian para pemimpin yang mematikan salat.”

Namun pada akhirnya Asy Sya’bi menyesali perbuatannya tersebut dan mengakui bahwa pemberontakan yang dilakukan Ibnu Al Asyats tidaklah benar. Tatkala dihadapkan kepada Al Hajjaj paska kekalahan telak pihak Ibnu Al Asyats, maka Asy Sya’bi berkata, “Sungguh aku merasa sangat sedih dan dicekam rasa takut yang sangat. Kami menyadari bahwa apa yang telah kami lakukan ini bukanlah perbuatan orang-orang yang baik lagi bertakwa. Namun bukan pula kami orang-orang yang jahat lagi kuat.” Setelah mendengar pengakuan tersebut maka Al Hajjaj membebaskan Asy Sya’bi dan membiarkannya pergi dalam kondisi aman. Asy Sya’bi meninggal dunia pada tahun 105 H dalam usia 77 tahun. Semoga Allah azza wajalla mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau serta memberikan balasan terbaik atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 47 vol.04 2017 rubrik Biografi & Ralat di rubrik Pembaca Menyapa Majalah Qudwah edisi 49 vol.05 2017. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafy Abdullah.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1643 dan 1644

١٦٤٣ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي سُفۡيَانَ، عَنۡ جَابِرٍ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ لِلهِ – عَزَّ وَجَلَّ - عِنۡدَ كُلِّ فِطۡرٍ عُتَقَاءَ، وَذٰلِكَ فِي كُلِّ لَيۡلَةٍ). ](التعليق الرغيب)(٢/٧٢)، (صحيح الترغيب)(٩٩١ و٩٩٢)، (التعليق على ابن خزيمة)(١٨٨٣)].
1643. Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Bakr bin ‘Ayyasy menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah azza wajalla setiap saat berbuka memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Hal itu terjadi di setiap malam.”
١٦٤٤ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَدۡرٍ، عَبَّادُ بۡنُ الۡوَلِيدِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بِلَالٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عِمۡرَانُ الۡقَطَّانُ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ؛ قَالَ: دَخَلَ رَمَضَانُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ هَٰذَا الشَّهۡرَ قَدۡ حَضَرَكُمۡ، وَفِيهِ لَيۡلَةٌ خَيۡرٌ مِنۡ أَلۡفِ شَهۡرٍ، مَنۡ حُرِمَهَا فَقَدۡ حُرِمَ الۡخَيۡرَ كُلَّهُ، وَلَا يُحۡرَمُ خَيۡرَهَا إِلَّا مَحۡرُومٌ) [(التعليق الرغيب)(٢/٦٩)، (صحيح الترغيب)(٩٨٩، ٩٩٠)، (تمام المنة)].
1644. Abu Badr ‘Abbad bin Al-Walid telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Muhammad bin Bilal menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Imran Al-Qaththan menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas bin Malik; Beliau mengatakan: Bulan Ramadan telah mulai, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya bulan ini telah datang kepada kalian. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa saja yang dihalangi dari malam itu, maka ia dihalangi dari seluruh kebaikan. Dan tidaklah dihalangi dari kebaikan malam itu kecuali orang yang terhalang (dari kebaikan).”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2300, 2301, dan 2302

٢٣٠٠ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عِمۡرَانُ بۡنُ بَكَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ أَبِي أَنَسٍ عَنۡ سُلَيۡمَانَ بۡنِ يَسَارٍ وَحَنۡظَلَةَ بۡنِ عَلِيٍّ قَالَ: حَدَّثَانِي جَمِيعًا عَنۡ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو، قَالَ: كُنۡتُ أَسۡرُدُ الصِّيَامَ عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أَسۡرُدُ الصِّيَامَ فِي السَّفَرِ؟ فَقَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ). [ق].
2300. ‘Imran bin Bakkar telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Ahmad bin Khalid menceritakan kepada kami, beliau berkata: Muhammad menceritakan kepada kami dari ‘Imran bin Abu Anas, dari Sulaiman bin Yasar dan Hanzhalah bin ‘Ali, beliau berkata: Kedua-duanya menceritakan kepadaku dari Hamzah bin ‘Amr, beliau mengatakan: Aku sering berpuasa di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku mengatakan: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sering berpuasa ketika safar. Beliau bersabda, “Jika engkau mau, maka berpuasalah. Dan jika engkau mau, maka janganlah berpuasa.”
٢٣٠١ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ سَعۡدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَمِّي قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي عَنِ ابۡنِ إِسۡحَاقَ عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ أَبِي أَنَسٍ عَنۡ حَنۡظَلَةَ بۡنِ عَلِيٍّ عَنۡ حَمۡزَةَ، قَالَ: قُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ! إِنِّي رَجُلٌ أَسۡرُدُ الصِّيَامَ؛ أَفَأَصُومُ فِي السَّفَرِ؟ قَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ). [ق].
2301. ‘Ubaidullah bin Sa’d bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Pamanku menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ayahku menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq, dari ‘Imran bin Abu Anas, dari Hanzhalah bin ‘Ali, dari Hamzah, beliau mengatakan: Aku berkata: Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku seorang yang sering berpuasa. Apakah aku boleh berpuasa ketika safar? Nabi menjawab, “Jika engkau mau, maka berpuasalah. Dan jika engkau mau, maka janganlah berpuasa.”
٢٣٠٢ –(صحيح) أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ سَعۡدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَمِّي قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي عَنِ ابۡنِ إِسۡحَاقَ قَالَ: حَدَّثَنِي عِمۡرَانُ بۡنُ أَبِي أَنَسٍ أَنَّ سُلَيۡمَانَ بۡنَ يَسَارٍ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا مُرَاوِحٍ حَدَّثَهُ أَنَّ حَمۡزَةَ بۡنَ عَمۡرٍو حَدَّثَهُ، أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ - وَكَانَ رَجُلًا يَصُومُ فِي السَّفَرِ -؟ فَقَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ). [م(٣/١٤٥)].
2302. ‘Ubaidullah bin Sa’d telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Pamanku menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ayahku menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq, beliau berkata: ‘Imran bin Abu Anas menceritakan kepadaku bahwa Sulaiman bin Yasar menceritakan kepadanya, bahwa Abu Murawih menceritakan kepadanya, bahwa Hamzah bin ‘Amr menceritakan kepadanya, bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau adalah seorang yang biasa berpuasa ketika safar. Nabi bersabda, “Jika engkau mau, silakan berpuasa. Dan jika engkau mau, silakan tidak berpuasa.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2297, 2298, dan 2299

٢٢٩٧ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡحَمِيدِ بۡنُ جَعۡفَرٍ عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ أَبِي أَنَسٍ عَنۡ سُلَيۡمَانَ بۡنِ يَسَارٍ عَنۡ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو، قَالَ: سَأَلۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الصَّوۡمِ فِي السَّفَرِ؟ فَقَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ أَنۡ تَصُومَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ أَنۡ تُفۡطِرَ فَأَفۡطِرۡ). [ق، انظر ما قبله].
2297. Muhammad bin Basysyar telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Abu Bakr menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdul Hamid bin Ja’far menceritakan kepada kami dari ‘Imran bin Abu Anas, dari Sulaiman bin Yasar, dari Hamzah bin ‘Amr, beliau mengatakan: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang puasa ketika safar. Beliau bersabda, “Jika engkau mau berpuasa, maka berpuasalah. Dan jika engkau mau tidak berpuasa, maka janganlah berpuasa.”
٢٢٩٨ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا الرَّبِيعُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرُو بۡنُ الۡحَارِثِ وَاللَّيۡثُ فَذَكَرَ آخَرَ عَنۡ بُكَيۡرٍ عَنۡ سُلَيۡمَانَ بۡنِ يَسَارٍ عَنۡ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو الۡأَسۡلَمِيِّ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً عَلَى الصِّيَامِ فِي السَّفَرِ؟ قَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ). [م، عائشة].
2298. Ar-Rabi’ bin Sulaiman telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Amr bin Al-Harits, Al-Laits, dan beliau menyebutkan satu orang lagi mengabarkan kepadaku dari Bukair, dari Sulaiman bin Yasar, dari Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami, beliau mengatakan: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kekuatan untuk berpuasa ketika safar. Nabi bersabda, “Jika engkau mau, maka berpuasalah. Dan jika engkau mau, maka janganlah berpuasa.”
٢٢٩٩ – (صحيح) أَخۡبَرَنِي هَارُونُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَكۡرٍ قَالَ: أَنۡبَأَنَا عَبۡدُ الۡحَمِيدِ بۡنُ جَعۡفَرٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عِمۡرَانُ بۡنُ أَبِي أَنَسٍ عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ عَنۡ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو، أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الصَّوۡمِ فِي السَّفَرِ؟ قَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ أَنۡ تَصُومَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ أَنۡ تُفۡطِرَ فَأَفۡطِرۡ). [ق، مضى قريبًا].
2299. Harun bin ‘Abdullah telah mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Muhammad bin Bakr menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdul Hamid bin Ja’far memberitakan kepada kami, beliau berkata: ‘Imran bin Abu Anas mengabarkan kepadaku dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, dari Hamzah bin ‘Amr, bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berpuasa ketika safar. Nabi bersabda, “Jika engkau mau berpuasa, maka berpuasalah. Dan jika engkau mau tidak berpuasa, maka janganlah berpuasa.”