Perkataan Seseorang Boleh Diterima dan Ditolak Kecuali Rasulullah

Pertanyaan:

Assalaamu'alaikum. Bukankah perkataan seseorang itu boleh diterima dan boleh ditolak, kecuali perkataan Rasulullah. Bagaimana dengan perkataan Sayyid Quthb?

Jawaban:

Wa'alaikumus salaam warahmatullaah. Memang benar perkataan seseorang boleh diterima dan boleh ditolak kecuali perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana ucapannya para 'ulama di antaranya Al-Imam Malik. Artinya kalau perkataan seseorang itu tidak sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah maka ditolak tetapi kalau sesuai maka diterima.

Maka demikian juga ucapan Sayyid Quthb, bahkan kalau kita baca ucapan-ucapan dia, maka kebanyakan ucapannya menyelisihi Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah. Di antara ucapannya adalah:
"Risalah Islam adalah revolusi terhadap fanatisme agama, yaitu sejak Islam mendeklarasikan kebebasan beragama dalam bentuknya yang spektakuler, seperti yang ditegaskan di dalam firman Allah:
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam)." (Al-Baqarah:256)"

Serta ucapan-ucapan lainnya yang tidak sejalan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Lihat kitab Al-'Awaashim Maa fii Kutubi Sayyid Quthb yang ditulis oleh Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaliy, suatu kitab yang membantah berbagai pemikiran dan tulisan-tulisannya Sayyid Quthb)

Maka janganlah kita fanatik terhadap seseorang, tetapi kita harus fanatik kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa saja yang mencocokinya, kita terima dan siapa saja yang menyelisihinya maka kita tolak.

Wallaahu A'lam.

Sumber: Buletin Jumat Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-48 Tahun ke-2 / 22 Oktober 2004 M / 08 Ramadhan 1425 H.