Shahih Muslim hadits nomor 2748

٢ - بَابُ سُقُوطِ الذُّنُوبِ بِالاسۡتِغۡفَارِ تَوۡبَةً
2. Bab gugurnya dosa-dosa dengan permohonan ampunan dalam rangka tobat

٩ - (٢٧٤٨) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ قَيۡسٍ، قَاصِّ عُمَرَ بۡنِ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ، عَنۡ أَبِي صِرۡمَةَ، عَنۡ أَبِي أَيُّوبَ، أَنَّهُ قَالَ، حِينَ حَضَرَتۡهُ الۡوَفَاةُ: كُنۡتُ كَتَمۡتُ عَنۡكُمۡ شَيۡئًا سَمِعۡتُهُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ. سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (لَوۡلَا أَنَّكُمۡ تُذۡنِبُونَ لَخَلَقَ اللهُ خَلۡقًا يُذۡنِبُونَ، يَغۡفِرُ لَهُمۡ).
9. (2748). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Laits menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Qais –ahli kisah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz-, dari Abu Shirmah, dari Abu Ayyub, bahwa ketika ajal menghampirinya, beliau berkata: Dahulu, aku menyembunyikan dari kalian hadis yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian tidak ada yang berbuat dosa, tentu Allah akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa yang Allah akan mengampuni mereka.”
١٠ - (...) - حَدَّثَنَا هَارُونُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَيۡلِيُّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: حَدَّثَنِي عِيَاضٌ، وَهُوَ ابۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡفِهۡرِيُّ: حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ عُبَيۡدِ بۡنِ رِفَاعَةَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ كَعۡبٍ الۡقُرَظِيِّ، عَنۡ أَبِي صِرۡمَةَ، عَنۡ أَبِي أَيُّوبَ الۡأَنۡصَارِيِّ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ أَنَّهُ قَالَ: (لَوۡ أَنَّكُمۡ لَمۡ تَكُنۡ لَكُمۡ ذُنُوبٌ، يَغۡفِرُهَا اللهُ لَكُمۡ، لَجَاءَ اللهُ بِقَوۡمٍ لَهُمۡ ذُنُوبٌ، يَغۡفِرُهَا لَهُمۡ).
10. Harun bin Sa’id Al-Aili telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami: ‘Iyadh bin ‘Abdullah Al-Fihri menceritakan kepadaku: Ibrahim bin ‘Ubaid bin Rifa’ah menceritakan kepadaku dari Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi, dari Abu Shirmah, dari Abu Ayyub Al-Anshari, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; Bahwa beliau bersabda, “Seandainya kalian tidak memiliki dosa apapun yang Allah mengampuninya untuk kalian, tentu Allah akan mendatangkan suatu kaum yang memiliki dosa, lalu Allah ampuni mereka.”

Shahih Muslim hadits nomor 2747

٧ - (٢٧٤٧) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الصَّبَّاحِ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ: حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ، وَهُوَ عَمُّهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَلّٰهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيۡهِ، مِنۡ أَحَدِكُمۡ كَانَ عَلَىٰ رَاحِلَتِهِ بِأَرۡضِ فَلَاةٍ فَانۡفَلَتَتۡ مِنۡهُ، وَعَلَيۡهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ. فَأَيِسَ مِنۡهَا، فَأَتَىٰ شَجَرَةً. فَاضۡطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدۡ أَيِسَ مِنۡ رَاحِلَتِهِ. فَبَيۡنَمَا هُوَ كَذٰلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا، قَائِمَةً عِنۡدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا. ثُمَّ قَالَ مِنۡ شِدَّةِ الۡفَرَحِ: اللّٰهُمَّ أَنۡتَ عَبۡدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخۡطَأَ مِنۡ شِدَّةِ الۡفَرَحِ).
7. (2747). Muhammad bin Ash-Shabbah dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Umar bin Yunus menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami: Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah menceritakan kepada kami: Anas bin Malik menceritakan kepada kami. Anas adalah paman dari Ishaq. Anas mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sangat bergembira terhadap tobat hamba-Nya ketika bertobat kepada-Nya daripada salah seorang kalian yang menaiki tunggangannya di tanah tandus. Lalu tunggangan itu kabur darinya, sementara makanan dan minumannya ada di tunggangannya. Ia putus asa dari mendapatkan tunggangannya, lalu ia mendatangi sebuah pohon. Ia berbaring di bawah naungannya. Ia sungguh telah putus asa dari tunggangannya itu. Ketika ia sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba tunggangannya ada di situ, berdiri di sisinya. Ia pun mengambil tali kekangnya kemudian saking gembiranya, ia berkata: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah rabb-Mu. Ia keliru saking gembiranya.”
٨ - (...) - حَدَّثَنَا هَدَّابُ بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَلّٰهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ مِنۡ أَحَدِكُمۡ إِذَا اسۡتَيۡقَظَ عَلَىٰ بَعِيرِهِ، قَدۡ أَضَلَّهُ بِأَرۡضِ فَلَاةٍ).
[البخاري: كتاب الدعوات، باب التوبة، رقم: ٦٣٠٩].
8. Haddab bin Khalid telah menceritakan kepada kami: Hammam menceritakan kepada kami: Qatadah menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Allah jauh lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya daripada salah seorang kalian yang bangun mendapatkan untanya yang tadinya ia kehilangan di tanah tandus.”
(...) - وحَدَّثَنِيهِ أَحۡمَدُ الدَّارِمِيُّ: حَدَّثَنَا حَبَّانُ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ. حَدَّثَنَا قَتَادَةُ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِمِثۡلِهِ.
Ahmad Ad-Darimi telah menceritakan hadis tersebut kepadaku: Habban menceritakan kepada kami: Hammam menceritakan kepada kami: Qatadah menceritakan kepada kami: Anas bin Malik menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… semisal hadis tersebut.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 2882

١ - بَابُ الۡخُرُوجِ إِلَى الۡحَجِّ
1. Bab keluar bepergian untuk haji

٢٨٨٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ عَمَّارٍ وَأَبُو مُصۡعَبٍ الزُّهۡرِيُّ وَسُوَيۡدُ بۡنُ سَعِيدٍ؛ قَالُوا: حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ أَنَسٍ، عَنۡ سُمَيٍّ مَوۡلَى أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (السَّفَرُ قِطۡعَةٌ مِنَ الۡعَذَابِ، يَمۡنَعُ أَحَدَكُمۡ نَوۡمَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمۡ نَهۡمَتَهُ مِنۡ سَفَرِهِ فَلۡيُعَجِّلِ الرُّجُوعَ إِلَى أَهۡلِهِ). [(الروض النضير)(٧٧٤): ق].
2882. Hisyam bin ‘Ammar, Abu Mush’ab Az-Zuhri, dan Suwaid bin Sa’id telah menceritakan kepada kami; Mereka berkata: Malik bin Anas menceritakan kepada kami dari Sumayy maula Abu Bakr bin ‘Abdurrahman, dari Abu Shalih As-Samman, dari Abu Hurairah; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Safar adalah satu bagian dari azab yang menghalangi salah seorang kalian dari tidur, makan, dan minumnya. Maka, jika salah seorang kalian sudah menyelesaikan keperluan safarnya, segeralah kembali kepada keluarganya.”
٢٨٨٢ (م) - حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ حُمَيۡدِ بۡنِ كَاسِبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ مُحَمَّدٍ، عَنۡ سُهَيۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ؛ بِنَحۡوِهِ.
2882. Ya’qub bin Humaid bin Kasib telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; semisal hadis tersebut.

Shahih Muslim hadits nomor 2746

٦ - (٢٧٤٦) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ وَجَعۡفَرُ بۡنُ حُمَيۡدٍ. قَالَ جَعۡفَرٌ: حَدَّثَنَا. وقَالَ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ إِيَادِ بۡنِ لَقِيطٍ، عَنۡ إِيَادٍ، عَنِ الۡبَرَاءِ بۡنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كَيۡفَ تَقُولُونَ بِفَرَحِ رَجُلٍ انۡفَلَتَتۡ مِنۡهُ رَاحِلَتُهُ. تَجُرُّ زِمَامَهَا بِأَرۡضٍ قَفۡرٍ لَيۡسَ بِهَا طَعَامٌ، وَلَا شَرَابٌ. وَعَلَيۡهَا لَهُ طَعَامٌ وَشَرَابٌ، فَطَلَبَهَا حَتَّىٰ شَقَّ عَلَيۡهِ، ثُمَّ مَرَّتۡ بِجِذۡلِ شَجَرَةٍ فَتَعَلَّقَ زِمَامُهَا. فَوَجَدَهَا مُتَعَلِّقَةً بِهِ؟) قُلۡنَا: شَدِيدًا يَا رَسُولَ اللهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَا، وَاللهِ، لَلّٰهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ، مِنَ الرَّجُلِ بِرَاحِلَتِهِ).
قَالَ جَعۡفَرٌ: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ إِيَادٍ، عَنۡ أَبِيهِ.
6. (2746). Yahya bin Yahya dan Ja’far bin Humaid telah menceritakan kepada kami. Ja’far berkata: Telah menceritakan kepada kami. Yahya berkata: ‘Ubaidullah bin Iyad bin Laqith mengabarkan kepada kami dari Iyad, dari Al-Bara` bin ‘Azib, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagaimana pendapat kalian tentang kegembiraan seseorang yang tunggangannya kabur darinya, menyeret tali kekangnya di tanah tandus, tidak ada makanan dan minuman apapun. Di atas tunggangannya ada makanan dan minumannya. Orang itu mencarinya sampai kepayahan. Tunggangannya melewati sebuah batang pohon lalu tali kekangnya menyangkut, sehingga orang itu mendapatkan tunggangannya tersangkut di situ.” Kami menjawab, “Dia tentu sangat gembira wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, demi Allah, Allah jauh lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya daripada gembiranya orang itu terhadap tunggangannya.”
Ja’far berkata: ‘Ubaidullah bin Iyad menceritakan kepada kami dari ayahnya.

Shahih Muslim hadits nomor 2745

٥ - (٢٧٤٥) - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ الۡعَنۡبَرِيُّ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا أَبُو يُونُسَ، عَنۡ سِمَاكٍ قَالَ: خَطَبَ النُّعۡمَانُ بۡنُ بَشِيرٍ فَقَالَ: (لَلّٰهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ مِنۡ رَجُلٍ حَمَلَ زَادَهُ وَمَزَادَهُ عَلَىٰ بَعِيرٍ. ثُمَّ سَارَ حَتَّىٰ كَانَ بِفَلَاةٍ مِنَ الۡأَرۡضِ، فَأَدۡرَكَتۡهُ الۡقَائِلَةُ، فَنَزَلَ فَقَالَ تَحۡتَ شَجَرَةٍ. فَغَلَبَتۡهُ عَيۡنُهُ. وَانۡسَلَّ بَعِيرُهُ. فَاسۡتَيۡقَظَ فَسَعَىٰ شَرَفًا فَلَمۡ يَرَ شَيۡئًا، ثُمَّ سَعَىٰ شَرَفًا ثَانِيًا، فَلَمۡ يَرَ شَيۡئًا. ثُمَّ سَعَىٰ شَرَفًا ثَالِثًا، فَلَمۡ يَرَ شَيۡئًا. فَأَقۡبَلَ حَتَّىٰ أَتَىٰ مَكَانَهُ الَّذِي قَالَ فِيهِ. فَبَيۡنَمَا هُوَ قَاعِدٌ إِذۡ جَاءَهُ بَعِيرُهُ يَمۡشِي. حَتَّىٰ وَضَعَ خِطَامَهُ فِي يَدِهِ. فَلَلّٰهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوۡبَةِ الۡعَبۡدِ، مِنۡ هَٰذَا حِينَ وَجَدَ بَعِيرَهُ عَلَىٰ حَالِهِ).
قَالَ سِمَاكٌ: فَزَعَمَ الشَّعۡبِيُّ، أَنَّ النُّعۡمَانَ رَفَعَ هَٰذَا الۡحَدِيثَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ. وَأَمَّا أَنَا فَلَمۡ أَسۡمَعۡهُ.
5. (2745). ‘Ubaidullah bin Mu’adz Al-‘Anbari telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Abu Yunus menceritakan kepada kami dari Simak, beliau berkata: An-Nu’man bin Basyir berkhotbah dan mengatakan, “Sungguh, Allah lebih sangat gembira terhadap tobat hamba-Nya daripada seseorang yang membawa bekal dan tempat perbekalannya di atas unta. Kemudian ia berjalan hingga tiba di suatu dataran, lalu ia ingin istirahat siang. Ia pun singgah dan istirahat di bawah sebuah pohon, sehingga tertidur. Untanya pergi tanpa sepengetahuannya. Orang itu bangun, lalu ia menuju suatu tanah yang tinggi namun ia tidak melihat apapun. Kemudian ia menuju tanah tinggi kedua, namun ia tidak melihat apa-apa. Kemudian ia menuju ke tanah tinggi yang ketiga, namun juga tidak melihat apa-apa. Ia pun mendatangi tempat ia istirahat tadi. Ketika ia sedang duduk, tiba-tiba untanya mendatanginya dengan berjalan hingga meletakkan tali kekangnya di tangannya. Maka, sungguh Allah jauh lebih gembira terhadap tobat hamba daripada orang ini ketika mendapatkan kembali untanya dalam keadaan seperti sediakala.”
Simak berkata: Asy-Sya’bi menyatakan bahwa An-Nu’man mengangkat hadis ini sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun aku sendiri tidak mendengarnya.

Shahih Muslim hadits nomor 2744

٣ - (٢٧٤٤) - حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ. وَاللَّفۡظُ لِعُثۡمَانَ. قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا. وقَالَ عُثۡمَانُ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنِ الۡحَارِثِ بۡنِ سُوَيۡدٍ، قَالَ: دَخَلۡتُ عَلَىٰ عَبۡدِ اللهِ أَعُودُهُ وَهُوَ مَرِيضٌ. فَحَدَّثَنَا بِحَدِيثَيۡنِ: حَدِيثًا عَنۡ نَفۡسِهِ وَحَدِيثًا عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ. قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ الۡمُؤۡمِنِ، مِنۡ رَجُلٍ فِي أَرۡضٍ دَوِّيَّةٍ مَهۡلِكَةٍ، مَعَهُ رَاحِلَتُهُ. عَلَيۡهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ. فَنَامَ فَاسۡتَيۡقَظَ وَقَدۡ ذَهَبَتۡ. فَطَلَبَهَا حَتَّىٰ أَدۡرَكَهُ الۡعَطَشُ. ثُمَّ قَالَ: أَرۡجِعُ إِلَىٰ مَكَانِي الَّذِي كُنۡتُ فِيهِ. فَأَنَامُ حَتَّىٰ أَمُوتَ. فَوَضَعَ رَأۡسَهُ عَلَىٰ سَاعِدِهِ لِيَمُوتَ. فَاسۡتَيۡقَظَ وَعِنۡدَهُ رَاحِلَتُهُ وَعَلَيۡهَا زَادُهُ وَطَعَامُهُ وَشَرَابُهُ. فَاللهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوۡبَةِ الۡعَبۡدِ الۡمُؤۡمِنِ مِنۡ هَٰذَا بِرَاحِلَتِهِ وَزَادِهِ).
[البخاري: كتاب الدعوات، باب التوبة، رقم: ٦٣٠٨].
3. (2744). ‘Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Lafal ini milik ‘Utsman. Ishaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami. ‘Utsman berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari ‘Umarah bin ‘Umair, dari Al-Harits bin Suwaid. Beliau berkata: Aku masuk menemui ‘Abdullah untuk menjenguknya karena beliau sedang sakit. Beliau menceritakan dua hadis kepada kami: satu hadis dari dirinya sendiri dan satu hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah jauh lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya yang mukmin daripada seseorang yang berada di tanah tandus yang membinasakan beserta tunggangannya. Di atas tunggangannya ada makanan dan minumannya. Ia tidur malam, lalu bangun. Ternyata tunggangannya telah pergi. Ia mencarinya sampai merasa kehausan. Kemudian ia berkata: Aku akan kembali ke tempatku tadi berada, lalu aku akan tidur sampai mati. Ia meletakkan kepala di atas lengan atasnya untuk tidur. Lalu, ia terbangun dalam keadaan di dekatnya sudah ada tunggangan beserta bekal, makanan, dan minumannya. Maka, Allah jauh lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya yang mukmin daripada (gembiranya) orang ini terhadap tunggangan dan bekalnya.”
(...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ آدَمَ، عَنۡ قُطۡبَةَ بۡنِ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. وَقَالَ: (مِنۡ رَجُلٍ بِدَاوِيَّةٍ مِنَ الۡأَرۡضِ).
Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan hadis tersebut kepada kami: Yahya bin Adam menceritakan kepada kami dari Quthbah bin ‘Abdul ‘Aziz, dari Al-A’masy melalui sanad ini. Beliau bersabda, “Daripada seseorang yang berada di tanah yang tandus.”
٤ - (...) - وَحَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ: حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بۡنُ عُمَيۡرٍ. قَالَ: سَمِعۡتُ الۡحَارِثَ بۡنَ سُوَيۡدٍ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ حَدِيثَيۡنِ: أَحَدُهُمَا عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَالۡآخَرُ عَنۡ نَفۡسِهِ. فَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ الۡمُؤۡمِنِ)... بِمِثۡلِ حَدِيثِ جَرِيرٍ.
4. Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepadaku: Abu Usamah menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami: ‘Umarah bin ‘Umair menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Al-Harits bin Suwaid berkata: ‘Abdullah menceritakan dua hadis kepadaku: yang satu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang yang lain dari dirinya sendiri. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Allah jauh lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya yang mukmin…” semisal hadis Jarir.

Shahih Muslim hadits nomor 2675

١ - بَابٌ فِي الۡحَضِّ عَلَى التَّوۡبَةِ وَالۡفَرَحِ بِهَا
1. Bab anjuran untuk tobat dan bergembira dengannya

١ - (٢٦٧٥) - حَدَّثَنِي سُوَيۡدُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ مَيۡسَرَةَ: حَدَّثَنِي زَيۡدُ بۡنُ أَسۡلَمَ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ أَنَّهُ قَالَ: (قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا عِنۡدَ ظَنِّ عَبۡدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حَيۡثُ يَذۡكُرُنِي. وَاللهِ، لَلَّهُ أَفۡرَحُ بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ مِنۡ أَحَدِكُمۡ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالۡفَلَاةِ. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبۡرًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ ذِرَاعًا. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ بَاعًا. وَإِذَا أَقۡبَلَ إِلَيَّ يَمۡشِي، أَقۡبَلۡتُ إِلَيۡهِ أُهَرۡوِلُ).
1. (2675). Suwaid bin Sa’id telah menceritakan kepadaku: Hafsh bin Maisarah menceritakan kepada kami: Zaid bin Aslam menceritakan kepadaku dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; Bahwa beliau bersabda, “Allah azza wajalla berfirman: Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah benar-benar lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya daripada (gembiranya) salah seorang kalian mendapatkan kembali tunggangannya yang hilang di gurun pasir. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu hasta. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu hasta, Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu depa. Dan jika dia menuju kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan menuju kepadanya dengan berjalan cepat.”
٢ - (...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ بۡنِ قَعۡنَبٍ الۡقَعۡنَبِيُّ: حَدَّثَنَا الۡمُغِيرَةُ، يَعۡنِي ابۡنَ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الۡحِزَامِيَّ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوۡبَةِ أَحَدِكُمۡ، مِنۡ أَحَدِكُمۡ بِضَالَّتِهِ إِذَا وَجَدَهَا).
2. ‘Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab Al-Qa’nabi telah menceritakan kepadaku: Al-Mughirah bin ‘Abdurrahman Al-Hizami menceritakan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah benar-benar jauh lebih gembira terhadap tobat salah seorang kalian daripada (gembiranya) salah seorang kalian jika mendapatkan kembali tunggangannya yang hilang.”
(...) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: حَدَّثَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِمَعۡنَاهُ.
Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… semakna hadis tersebut.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2433 dan 2434

٨٥ - صَوۡمُ يَوۡمَيۡنِ مِنَ الشَّهۡرِ
85. Puasa dua hari dari sebulan

٢٤٣٣ – (صحيح الإسناد) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنِي سَيۡفُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ مِنۡ خِيَارِ الۡخَلۡقِ قَالَ: حَدَّثَنَا الۡأَسۡوَدُ بۡنُ شَيۡبَانَ عَنۡ أَبِي نَوۡفَلِ بۡنِ أَبِي عَقۡرَبٍ عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: سَأَلۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الصَّوۡمِ؟ فَقَالَ: (صُمۡ يَوۡمًا مِنَ الشَّهۡرِ)، قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! زِدۡنِي، زِدۡنِي؛ قَالَ: (تَقُولُ: يَا رَسُولَ اللهِ! زِدۡنِي، زِدۡنِي؛ يَوۡمَيۡنِ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ)، قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! زِدۡنِي، زِدۡنِي؟! إِنِّي أَجِدُنِي قَوِيًّا! فَقَالَ: (زِدۡنِي زِدۡنِي أَجِدُنِي قَوِيًّا!) فَسَكَتَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حَتَّى ظَنَنۡتُ أَنَّهُ لَيَرُدُّنِي! قَالَ: (صُمۡ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ).
2433. ‘Amr bin ‘Ali telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Saif bin ‘Ubaidullah –beliau termasuk manusia pilihan- menceritakan kepadaku, beliau berkata: Al-Aswad bin Syaiban menceritakan kepada kami dari Abu Naufal bin Abu ‘Aqrab, dari ayahnya, beliau berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang puasa. Beliau bersabda, “Berpuasalah satu hari dari sebulan.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku, tambahkanlah untukku!”
Beliau bersabda, “Engkau berkata: Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku, tambahkanlah untukku. Dua hari dari setiap bulan.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku, tambahkanlah untukku! Sesungguhnya aku mendapati diriku ini kuat.”
Beliau bersabda, “Tambahkanlah untukku, tambahkanlah untukku! Aku mendapati diriku kuat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu diam hingga aku menyangka beliau menolak permintaanku. Beliau bersabda, “Berpuasalah tiga hari dari sebulan.”
٢٤٣٤ – (صحيح الإسناد) أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ سَلَّامٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ هَارُونَ قَالَ: أَنۡبَأَنَا الۡأَسۡوَدُ بۡنُ شَيۡبَانَ عَنۡ أَبِي نَوۡفَلِ بۡنِ أَبِي عَقۡرَبٍ عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ عَنِ الصَّوۡمِ؟ فَقَالَ: (صُمۡ يَوۡمًا مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ)، وَاسۡتَزَادَهُ؛ قَالَ: بِأَبِى أَنۡتَ وَأُمِّي، أَجِدُنِي قَوِيًّا، فَزَادَهُ؛ قَالَ: (صُمۡ يَوۡمَيۡنِ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ)، فَقَالَ: بِأَبِي أَنۡتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ! إِنِّي أَجِدُنِي قَوِيًّا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنِّي أَجِدُنِي قَوِيًّا! إِنِّي أَجِدُنِي قَوِيًّا!)، فَمَا كَادَ أَنۡ يَزِيدَهُ! فَلَمَّا أَلَحَّ عَلَيۡهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (صُمۡ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ).
2434. ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Sallam telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Aswad bin Syaiban memberitakan kepada kami dari Abu Naufal bin Abu ‘Aqrab, dari ayahnya, bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang puasa. Nabi bersabda, “Puasalah satu hari dari setiap bulan.”
Abu ‘Aqrab meminta tambah kepada beliau. Beliau mengatakan, “Engkau aku tebus dengan ayah dan ibuku. Aku mendapati diriku ini kuat.”
Nabi menambahkan untuknya. Beliau bersabda, “Puasalah dua hari dari setiap bulan.”
Abu ‘Aqrab mengatakan, “Engkau aku tebus dengan ayah dan ibuku, wahai Rasulullah. Sesungguhnya aku mendapati diriku ini kuat.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mendapati diriku ini kuat. Sesungguhnya aku mendapati diriku ini kuat.” Hampir-hampir Nabi tidak menambahkan untuknya. Ketika dia mendesak beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasalah tiga hari dari setiap bulan.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2430, 2431, dan 2432

٢٤٣٠ – (ضعيف) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَى قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنۡ شُعۡبَةَ قَالَ: أَنۡبَأَنَا أَنَسُ بۡنُ سِيرِينَ عَنۡ رَجُلٍ -يُقَالُ لَهُ: عَبۡدُ الۡمَلِكِ- يُحَدِّثُ عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَأۡمُرُ بِهَٰذِهِ الۡأَيَّامِ؛ الثَّلَاثِ الۡبِيضِ، وَيَقُولُ: (هُنَّ صِيَامُ الشَّهۡرِ). [(ابن ماجه)(١٧٠٧)].
2430. Muhammad bin ‘Abdul A’la telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Khalid menceritakan kepada kami dari Syu’bah, beliau berkata: Anas bin Sirin memberitakan kepada kami dari seseorang yang dipanggil dengan nama ‘Abdul Malik. Beliau menceritakan dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memerintahkan (puasa) pada tiga hari ini, yaitu tiga hari putih dan bersabda, “Puasa di hari-hari tersebut adalah puasa sebulan.”
٢٤٣١ – (ضعيف أيضًا) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ قَالَ: أَنۡبَأَنَا حِبَّانُ قَالَ: أَنۡبَأَنَا عَبۡدُ اللهِ عَنۡ شُعۡبَةَ عَنۡ أَنَسِ بۡنِ سِيرِينَ قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ الۡمَلِكِ بۡنَ أَبِي الۡمِنۡهَالِ يُحَدِّثُ عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَهُمۡ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ؛ الۡبِيضِ؛ قَالَ: (هِيَ صَوۡمُ الشَّهۡرِ).
2431. Muhammad bin Hatim telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Hibban memberitakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdullah memberitakan kepada kami dari Syu’bah, dari Anas bin Sirin. Beliau berkata: Aku mendengar ‘Abdul Malik bin Abu Al-Minhal menceritakan dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka puasa tiga hari putih. Beliau bersabda, “Puasa di hari-hari itu adalah puasa sebulan.”
٢٤٣٢ – (ضعيف أيضًا) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مَعۡمَرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا حِبَّانُ قَالَ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ سِيرِينَ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ قُدَامَةَ بۡنِ مِلۡحَانَ عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَأۡمُرُنَا بِصَوۡمِ أَيَّامِ اللَّيَالِي الۡغُرِّ الۡبِيضِ: ثَلَاثَ عَشۡرَةَ، وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ، وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ.
2432. Muhammad bin Ma’mar telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Hibban menceritakan kepada kami, beliau berkata: Hammam menceritakan kepada kami, beliau berkata: Anas bin Sirin menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdul Malik bin Qudamah bin Milhan menceritakan kepadaku dari ayahnya, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memerintahkan kami berpuasa pada hari-hari malam putih: tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2427, 2428, dan 2429

٢٤٢٧ – (ضعيف) أَخۡبَرَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ عُثۡمَانَ بۡنِ حَكِيمٍ عَنۡ بَكۡرٍ عَنۡ عِيسَى عَنۡ مُحَمَّدٍ عَنِ الۡحَكَمِ عَنۡ مُوسَى بۡنِ طَلۡحَةَ عَنِ ابۡنِ الۡحَوۡتَكِيَّةِ، قَالَ: قَالَ أَبِي: جَاءَ أَعۡرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَمَعَهُ أَرۡنَبٌ قَدۡ شَوَاهَا وَخُبۡزٌ، فَوَضَعَهَا بَيۡنَ يَدَيِ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ قَالَ: إِنِّي وَجَدۡتُهَا تَدۡمَى! فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِأَصۡحَابِهِ: (لَا يَضُرُّ، كُلُوا)، وَقَالَ لِلۡأَعۡرَابِيِّ: (كُلۡ)، قَالَ: إِنِّي صَائِمٌ! قَالَ: (صَوۡمُ مَاذَا؟)، قَالَ: صَوۡمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهۡرِ، قَالَ: (إِنۡ كُنۡتَ صَائِمًا؛ فَعَلَيۡكَ بِالۡغُرِّ الۡبِيضِ: ثَلَاثَ عَشۡرَةَ، وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ، وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ). قَالَ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ: الصَّوَابُ عَنۡ أَبِي ذَرٍّ وَيُشۡبِهُ أَنۡ يَكُونَ وَقَعَ مِنَ الۡكُتَّابِ ذَرٌّ فَقِيلَ أَبِي. [(التعليق على ابن خزيمة)(٢١٢٧)].
2427. Ahmad bin ‘Utsman bin Hakim telah mengabarkan kepada kami dari Bakr, dari ‘Isa, dari Muhammad, dari Al-Hakam, dari Musa bin Thalhah, dari Ibnu Al-Hautakiyyah. Beliau berkata: Ayahku berkata: Seorang arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersamanya ada seekor kelinci yang telah dipanggang dan roti. Dia meletakkannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan, “Sesungguhnya aku mendapati kelinci itu haid.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Tidak mengapa, kalian makanlah.” Beliau bersabda kepada si arab badui, “Makanlah!”
Dia berkata, “Sesungguhnya aku puasa.”
Nabi bertanya, “Puasa apa?”
Dia menjawab, “Puasa tiga hari dari sebulan.”
Nabi bersabda, “Jika engkau berpuasa, berpuasalah di hari putih: tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.”
Abu ‘Abdurrahman berkata: Yang benar adalah dari Abu Dzarr. Sepertinya kata “Dzarr” terluput dari para penulis, sehingga menjadi “ayahku”.
٢٤٢٨ – (ضعيف أيضًا) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ يَحۡيَى بۡنِ الۡحَارِثِ قَالَ: حَدَّثَنَا الۡمُعَافَى بۡنُ سُلَيۡمَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا الۡقَاسِمُ بۡنُ مَعۡنٍ عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ يَحۡيَى عَنۡ مُوسَى بۡنِ طَلۡحَةَ، أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ بِأَرۡنَبٍ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ مَدَّ يَدَهُ إِلَيۡهَا، فَقَالَ الَّذِي جَاءَ بِهَا: إِنِّي رَأَيۡتُ بِهَا دَمًا! فَكَفَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدَهُ، وَأَمَرَ الۡقَوۡمَ أَنۡ يَأۡكُلُوا، وَكَانَ فِي الۡقَوۡمِ رَجُلٌ مُنۡتَبِذٌ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَا لَكَ؟)، قَالَ: إِنِّي صَائِمٌ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (فَهَلَّا ثَلَاثَ الۡبِيضِ: ثَلَاثَ عَشۡرَةَ، وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ، وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ!)
2428. ‘Amr bin Yahya bin Al-Harits telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Al-Mu’afa bin Sulaiman menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Qasim bin Ma’n menceritakan kepada kami dari Thalhah bin Yahya, dari Musa bin Thalhah, bahwa seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa kelinci. Ketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjulurkan tangan beliau ke arah kelinci itu. Orang yang membawa kelinci mengatakan: Sesungguhnya aku melihat di kelinci ini ada darah (haid). Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menarik tangan beliau dan memerintahkan orang-orang agar memakannya. Di antara orang-orang itu ada seseorang yang memisahkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Kenapa engkau?”
Orang itu menjawab, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Kenapa tidak di tiga hari putih: tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.”
٢٤٢٩ – (ضعيف أيضًا) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: حَدَّثَنَا يَعۡلَى عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ يَحۡيَى عَنۡ مُوسَى بۡنِ طَلۡحَةَ، قَالَ: أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِأَرۡنَبٍ قَدۡ شَوَاهَا رَجُلٌ، فَلَمَّا قَدَّمَهَا إِلَيۡهِ؛ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنِّي قَدۡ رَأَيۡتُ بِهَا دَمًا! فَتَرَكَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَلَمۡ يَأۡكُلۡهَا، وَقَالَ لِمَنۡ عِنۡدَهُ: (كُلُوا؛ فَإِنِّي لَوِ اشۡتَهَيۡتُهَا أَكَلۡتُهَا)، وَرَجُلٌ جَالِسٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (ادۡنُ فَكُلۡ مَعَ الۡقَوۡمِ)، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنِّي صَائِمٌ! قَالَ: (فَهَلَّا صُمۡتَ الۡبِيضَ؟)، قَالَ: وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: (ثَلَاثَ عَشۡرَةَ، وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ، وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ).
2429. Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Ya’la menceritakan kepada kami dari Thalhah bin Yahya, dari Musa bin Thalhah, beliau berkata: Seekor kelinci yang telah dipanggang oleh seseorang dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika orang itu menyuguhkan kepada beliau, dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat ada darah (haid) di kelinci ini.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan dan tidak memakan kelinci itu dan beliau bersabda kepada orang-orang yang ada di dekat beliau, “Makanlah kalian karena andai aku berhasrat menyantapnya niscaya aku makan.” Ada seseorang yang duduk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mendekat dan makanlah bersama orang-orang!” Dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Nabi bersabda, “Kenapa engkau tidak berpuasa di hari-hari putih?” Orang itu bertanya, “Kapan itu?” Nabi bersabda, “Tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2424, 2425, dan 2426

٢٤٢٤ – (حسن) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ يَزِيدَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ عَنِ الۡأَعۡمَشِ قَالَ: سَمِعۡتُ يَحۡيَى بۡنَ سَامٍ عَنۡ مُوسَى بۡنِ طَلۡحَةَ، قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا ذَرٍّ –بِالرَّبَذَةِ-، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا صُمۡتَ شَيۡئًا مِنَ الشَّهۡرِ؛ فَصُمۡ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ، وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ، وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ). [(إرواء الغليل)(٩٤٧)].
2424. ‘Amr bin Yazid telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, beliau berkata: Aku mendengar Yahya bin Sam dari Musa bin Thalhah, beliau berkata: Aku mendengar Abu Dzarr di Rabadzah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Jika engkau berpuasa di sebagian bulan, maka puasalah tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.”
٢٤٢٥ – (حسن بما قبله) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ عَنۡ سُفۡيَانَ عَنۡ بَيَانِ بۡنِ بِشۡرٍ عَنۡ مُوسَى بۡنِ طَلۡحَةَ عَنِ ابۡنِ الۡحَوۡتَكِيَّةِ عَنۡ أَبِي ذَرٍّ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِرَجُلٍ: (عَلَيۡكَ بِصِيَامِ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ، وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ، وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ). قَالَ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ: هَٰذَا خَطَأٌ لَيۡسَ مِنۡ حَدِيثِ بَيَانٍ، وَلَعَلَّ سُفۡيَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا اثۡنَانِ فَسَقَطَ الۡأَلِفُ فَصَارَ بَيَانُ.
2425. Muhammad bin Manshur telah mengabarkan kepada kami dari Sufyan, dari Bayan bin Bisyr, dari Musa bin Thalhah, dari Ibnu Al-Hautakiyyah, dari Abu Dzarr, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang, “Berpuasalah engkau tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.” Abu ‘Abdurrahman berkata: Ini keliru. Ini bukan termasuk hadis milik Bayan. Sepertinya Sufyan berkata: Itsnan (dua orang, yaitu Muhammad dan Hakim) menceritakan kepada kami. Lalu huruf alifnya tidak tertulis sehingga menjadi Bayan.
٢٤٢٦ – (حسن بما قبله) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَجُلَانِ مُحَمَّدٌ وَحَكِيمٌ عَنۡ مُوسَى بۡنِ طَلۡحَةَ عَنِ ابۡنِ الۡحَوۡتَكِيَّةِ عَنۡ أَبِي ذَرٍّ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَ رَجُلًا بِصِيَامِ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ، وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ، وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ.
2426. Muhammad bin Al-Mutsanna telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, beliau berkata: Dua orang, yaitu Muhammad dan Hakim, menceritakan kepada kami dari Musa bin Thalhah, dari Ibnu Al-Hautakiyyah, dari Abu Dzarr, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seseorang untuk puasa tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2421, 2422, dan 2423

٨٤ - ذِكۡرُ الۡاخۡتِلَافِ عَلَى مُوسَى بۡنِ طَلۡحَةَ فِي الۡخَبَرِ فِي صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهۡرِ
84. Penyebutan perbedaan riwayat Musa bin Thalhah pada hadis tentang puasa tiga hari dari sebulan

٢٤٢١ – (ضعيف) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مَعۡمَرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا حَبَّانُ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ عَنۡ مُوسَى بۡنِ طَلۡحَةَ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: جَاءَ أَعۡرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ بِأَرۡنَبٍ قَدۡ شَوَاهَا، فَوَضَعَهَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ، فَأَمۡسَكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَلَمۡ يَأۡكُلۡ، وَأَمَرَ الۡقَوۡمَ أَنۡ يَأۡكُلُوا، وَأَمۡسَكَ الۡأَعۡرَابِيُّ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (مَا يَمۡنَعُكَ أَنۡ تَأۡكُلَ؟)، قَالَ: إِنِّي صَائِمٌ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهۡرِ، قَالَ: (إِنۡ كُنۡتَ صَائِمًا فَصُمِ الۡغُرَّ). [(إرواء الغليل)(٤/١٠٠-١٠١)].
2421. Muhammad bin Ma’mar telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Habban menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari Musa bin Thalhah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Seorang arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa seekor kelinci yang telah dia panggang. Dia meletakannya di hadapan beliau, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergeming dan tidak memakannya. Akan tetapi beliau memerintahkan orang-orang agar memakannya. Si arab badui itu juga bergeming.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang menghalangi engkau untuk memakannya?”
Dia menjawab, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa tiga hari dari sebulan.”
Nabi bersabda, “Jika engkau berpuasa (tiga hari dari sebulan), maka puasalah pada ayyamul bidh (hari tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas).” 
٢٤٢٢ – (حسن) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ قَالَ: أَنۡبَأَنَا الۡفَضۡلُ بۡنُ مُوسَى عَنۡ فِطۡرٍ عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ سَامٍ عَنۡ مُوسَى بۡنِ طَلۡحَةَ عَنۡ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ نَصُومَ مِنَ الشَّهۡرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ الۡبِيضَ: ثَلَاثَ عَشۡرَةَ، وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ، وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ. [(الصحيحة)(١٥٦٧)].
2422. Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Al-Fadhl bin Musa memberitakan kepada kami dari Fithr, dari Yahya bin Sam, dari Musa bin Thalhah, dari Abu Dzarr. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar berpuasa pada tiga hari putih dari sebulan, yaitu: hari tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.
٢٤٢٣ – (حسن) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ يَزِيدَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ عَنِ الۡأَعۡمَشِ قَالَ: سَمِعۡتُ يَحۡيَى بۡنَ سَامٍ عَنۡ مُوسَى بۡنِ طَلۡحَةَ عَنۡ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ نَصُومَ مِنَ الشَّهۡرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ الۡبِيضَ؛ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ، وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ، وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ. [المصدر نفسه].
2423. ‘Amr bin Yazid telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, beliau berkata: Aku mendengar Yahya bin Sam dari Musa bin Thalhah, dari Abu Dzarr. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar berpuasa tiga hari putih dari sebulan, yaitu: hari tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2418, 2419, dan 2420

٢٤١٨ – (صحيح بلفظ (الخميسين)) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عُثۡمَانَ بۡنِ أَبِي صَفۡوَانَ الثَّقَفِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنِ الۡحُرِّ بۡنِ الصَّيَّاحِ عَنۡ هُنَيۡدَةَ بۡنِ خَالِدٍ عَنِ امۡرَأَتِهِ عَنۡ بَعۡضِ أَزۡوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَتۡ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَصُومُ الۡعَشۡرَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ؛ الۡاثۡنَيۡنِ وَالۡخَمِيسَ. [انظر ما قبله].
2418. Muhammad bin ‘Utsman bin Abu Shafwan Ats-Tsaqafi telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Al-Hurr bin Ash-Shayyah, dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berpuasa sepuluh hari (Zulhijah) dan tiga hari dari setiap bulan. Yaitu: Senin dan Kamis.
٢٤١٩ – (شاذ) أَخۡبَرَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡجَوۡهَرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ فُضَيۡلٍ عَنِ الۡحَسَنِ بۡنِ عُبَيۡدِ اللهِ عَنۡ هُنَيۡدَةَ الۡخُزَاعِيِّ عَنۡ أُمِّهِ عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَأۡمُرُ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ: أَوَّلِ خَمِيسٍ، وَالۡاثۡنَيۡنِ وَالۡاثۡنَيۡنِ.
2419. Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Muhammad bin Fudhail menceritakan kepada kami dari Al-Hasan bin ‘Ubaidullah, dari Hunaidah Al-Khuza’i, dari ibunya, dari Ummu Salamah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memerintahkan puasa tiga hari: hari Kamis pertama, hari Senin, dan hari Senin.
٢٤٢٠ – (حسن) أَخۡبَرَنَا مَخۡلَدُ بۡنُ الۡحَسَنِ قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَبِي أُنَيۡسَةَ عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ عَنۡ جَرِيرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ صِيَامُ الدَّهۡرِ، وَأَيَّامُ الۡبِيضِ: صَبِيحَةَ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ، وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ، وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ). [(التعليق الرغيب)(٢/٨٤)].
2420. Makhlad bin Al-Hasan telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami dari Zaid bin Abu Unaisah, dari Abu Ishaq, dari Jarir bin ‘Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Puasa tiga hari dari setiap bulan adalah puasa satu tahun. Dan (yang terbaik adalah) ayyamul bidh (hari-hari putih), yaitu: hari tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2416 dan 2417

٢٤١٦ – (ضعيف) أَخۡبَرَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي النَّضۡرِ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو النَّضۡرِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسۡحَاقَ الۡأَشۡجَعِيُّ كُوفِيٌّ عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ قَيۡسٍ الۡمُلَائِيِّ عَنِ الۡحُرِّ بۡنِ الصَّيَّاحِ عَنۡ هُنَيۡدَةَ بۡنِ خَالِدٍ الۡخُزَاعِيِّ عَنۡ حَفۡصَةَ، قَالَتۡ: أَرۡبَعٌ لَمۡ يَكُنۡ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ ﷺ: صِيَامَ عَاشُورَاءَ، وَالۡعَشۡرَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ، وَرَكۡعَتَيۡنِ قَبۡلَ الۡغَدَاةِ. [(إرواء الغليل)(٩٥٤)].
2416. Abu Bakr bin Abu An-Nadhr telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Abu An-Nadhr menceritakan kepadaku, beliau berkata: Abu Ishaq Al-Asyja’i -seorang penduduk Kufah- menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Qais Al-Mula`i, dari Al-Hurr bin Ash-Shayyah, dari Hunaidah bin Khalid Al-Khuza’i, dari Hafshah. Beliau mengatakan: Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: puasa hari Asyura, sepuluh (sembilan hari pertama bulan Zulhijah), puasa tiga hari dari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum salat subuh.
٢٤١٧ – (صحيح) أَخۡبَرَنِي أَحۡمَدُ بۡنُ يَحۡيَى عَنۡ أَبِي نُعَيۡمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنِ الۡحُرِّ بۡنِ الصَّيَّاحِ عَنۡ هُنَيۡدَةَ بۡنِ خَالِدٍ عَنِ امۡرَأَتِهِ عَنۡ بَعۡضِ أَزۡوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَصُومُ تِسۡعًا مِنۡ ذِي الۡحِجَّةِ، وَيَوۡمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ؛ أَوَّلَ اثۡنَيۡنِ مِنَ الشَّهۡرِ؛ وَخَمِيسَيۡنِ. [مضى (٢٣٧٢)].
2417. Ahmad bin Yahya telah mengabarkan kepadaku dari Abu Nu’aim, beliau berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Al-Hurr bin Ash-Shayyah, dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berpuasa sembilan hari awal dari bulan Zulhijah, hari Asyura, dan tiga hari dari setiap bulan; yaitu: hari Senin awal bulan dan dua hari Kamis.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2414 dan 2415

٨٣ – كَيۡفَ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ؟ وَذِكۡرُ اخۡتِلَافِ النَّاقِلِينَ لِلۡخَبَرِ فِي ذٰلِكَ
83. Bagaimana Nabi berpuasa tiga hari dari setiap bulan dan penyebutan perbedaan riwayat para penukil hadis dalam hal itu

٢٤١٤ – (صحيح بما بعده) أَخۡبَرَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ مُحَمَّدٍ الزَّعۡفَرَانِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ عَنۡ شَرِيكٍ عَنِ الۡحُرِّ بۡنِ صَيَّاحٍ عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ؛ يَوۡمَ الۡاثۡنَيۡنِ مِنۡ أَوَّلِ الشَّهۡرِ، وَالۡخَمِيسَ الَّذِي يَلِيهِ، ثُمَّ الۡخَمِيسَ الَّذِي يَلِيهِ.
2414. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Sa’id bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Syarik, dari Al-Hurr bin Shayyah, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berpuasa tiga hari dari setiap bulan, yaitu: hari Senin di awal bulan, hari Kamis setelahnya, dan hari Kamis setelahnya.
٢٤١٥ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا خَلَفُ بۡنُ تَمِيمٍ عَنۡ زُهَيۡرٍ عَنِ الۡحُرِّ بۡنِ الصَّيَّاحِ قَالَ: سَمِعۡتُ هُنَيۡدَةَ الۡخُزَاعِيَّ، قَالَ: دَخَلۡتُ عَلَى أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ؛ سَمِعۡتُهَا تَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَصُومُ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ؛ أَوَّلَ اثۡنَيۡنِ مِنَ الشَّهۡرِ، ثُمَّ الۡخَمِيسَ، ثُمَّ الۡخَمِيسَ الَّذِي يَلِيهِ. [(صحيح أبي داود)(٢١٠٦)].
2415. ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali telah mengabarkan kepada kami: Khalaf bin Tamim menceritakan kepada kami dari Zuhair, dari Al-Hurr bin Ash-Shayyah, beliau berkata: Aku mendengar Hunaidah Al-Khuza’i berkata: Aku masuk menemui ibunda kaum mukminin. Aku mendengarnya mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berpuasa tiga hari dari setiap bulan. Yaitu pada hari Senin pertama dari bulan tersebut, kemudian hari Kamis, kemudian hari Kamis setelahnya.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1689, 1690, dan 1691

٢١ - بَابُ مَا جَاءَ فِي الۡغِيبَةِ وَالرَّفَثِ لِلصَّائِمِ
21. Bab tentang gibah dan berkata jorok bagi orang yang berpuasa

١٦٨٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ رَافِعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡمُبَارَكِ، عَنِ ابۡنِ أَبِي ذِئۡبٍ، عَنۡ سَعِيدٍ الۡمَقۡبُرِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ لَمۡ يَدَعۡ قَوۡلَ الزُّورِ، وَالۡجَهۡلَ، وَالۡعَمَلَ بِهِ، فَلَا حَاجَةَ لِلهِ فِي أَنۡ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ) [(التعليق الرغيب)(٢/٩٧)، (صحيح أبي داود)(٢٠٤٥): خ].
1689. ‘Amr bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdullah bin Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Ibnu Abu Dzi`b, dari Sa’id Al-Maqburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta, kejahilan, dan berbuat jahil, maka Allah tidak memiliki hajat pada perbuatan meninggalkan makan dan minumnya.”
١٦٩٠ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ رَافِعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡمُبَارَكِ، عَنۡ أُسَامَةَ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنۡ سَعِيدٍ الۡمَقۡبُرِيِّ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (رُبَّ صَائِمٍ لَيۡسَ لَهُ مِنۡ صِيَامِهِ إِلَّا الۡجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيۡسَ لَهُ مِنۡ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ). [(التعليق) أيضًا، (المشكاة)(٢٠١٤)].
1690. ‘Amr bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdullah bin Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Usamah bin Zaid, dari Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan betapa banyak orang yang salat malam tidak mendapatkan dari salat malamnya kecuali bergadang.”
١٦٩١ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الصَّبَّاحِ، قَالَ: أَنۡبَأَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا كَانَ يَوۡمُ صَوۡمِ أَحَدِكُمۡ فَلَا يَرۡفُثۡ، وَلَا يَجۡهَلۡ، وَإِنۡ جَهِلَ عَلَيۡهِ أَحَدٌ، فَلۡيَقُلۡ: إِنِّي امۡرُؤٌ صَائِمٌ). [(صحيح أبي داود)(٢٠٤٥): ق].
1691. Muhammad bin Ash-Shabbah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Jarir memberitakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang kalian berada di hari saat berpuasa, maka jangan berkata jorok dan jangan berbuat jahil. Jika ada seseorang berbuat jahil kepadanya, maka hendaknya ia katakan: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2411, 2412, dan 2413

٢٤١١ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا قُتَيۡبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي هِنۡدٍ أَنَّ مُطَرِّفًا حَدَّثَهُ أَنَّ عُثۡمَانَ بۡنَ أَبِي الۡعَاصِ، قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (صِيَامٌ حَسَنٌ؛ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهۡرِ). [(التعليق الرغيب)(٢/٦٠)].
2411. Qutaibah telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Yazid bin Abu Habib, dari Sa’id bin Abu Hind, bahwa Mutharrif menceritakan kepadanya bahwa ‘Utsman bin Abu Al-‘Ash mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa tiga hari dari sebulan adalah puasa yang baik.”
٢٤١٢ - أَخۡبَرَنَا زَكَرِيَّا بۡنُ يَحۡيَى قَالَ: أَنۡبَأَنَا أَبُو مُصۡعَبٍ عَنۡ مُغِيرَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي هِنۡدٍ عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِسۡحَاقَ عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي هِنۡدٍ قَالَ: عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي الۡعَاصِ نَحۡوَهُ مُرۡسَلٌ.
2412. Zakariyya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Abu Mush’ab memberitakan kepada kami dari Mughirah bin ‘Abdurrahman, dari ‘Abdullah bin Sa’id bin Abu Hind, dari Muhammad bin Ishaq, dari Sa’id bin Abu Hind, beliau berkata: ‘Utsman bin Abu Al-‘Ash semisal hadis tersebut. Hadis ini mursal.
٢٤١٣ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا يُوسُفُ بۡنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ عَنۡ شَرِيكٍ عَنِ الۡحُرِّ بۡنِ صَيَّاحٍ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ، يَقُولُ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ. [انظر ما قبله].
2413. Yusuf bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami dari Syarik, dari Al-Hurr bin Shayyah, beliau berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Umar mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berpuasa tiga hari dari setiap bulan.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1687 dan 1688

٢٠ - بَابُ مَا جَاءَ فِي الۡمُبَاشَرَةِ لِلصَّائِمِ
20. Bab tentang bermesraan bagi orang yang berpuasa

١٦٨٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ ابۡنُ عُلَيَّةَ، عَنِ ابۡنِ عَوۡنٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، قَالَ: دَخَلَ الۡأَسۡوَدُ وَمَسۡرُوقٌ عَلَى عَائِشَةَ، فَقَالَا: أَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ؟ قَالَتۡ: كَانَ يَفۡعَلُ، وَكَانَ أَمۡلَكَكُمۡ لِإِرۡبِهِ. [(الإرواء)(٤/٨١)، (الروض)(٧٦٦)، (التعليق على ابن خزيمة)(١٩٩٨): ق].
1687. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Isma’il bin ‘Ulayyah menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Aun, dari Ibrahim, beliau berkata: Al-Aswad dan Masruq masuk menemui ‘Aisyah.
Keduanya bertanya, “Apakah dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermesraan dalam keadaan berpuasa?”
‘Aisyah menjawab, “Dahulu beliau melakukannya dan beliau adalah orang yang paling kuat mengendalikan syahwatnya.”
١٦٨٨ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ خَالِدِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ الۡوَاسِطِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ السَّائِبِ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ؛ قَالَ: رُخِّصَ لِلۡكَبِيرِ الصَّائِمِ فِي الۡمُبَاشَرَةِ، وَكُرِهَ لِلشَّابِّ. [(صحيح أبي داود)(٢٠٦٥)].
1688. Muhammad bin Khalid bin ‘Abdullah Al-Wasithi telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ayahku menceritakan kepada kami dari ‘Atha` bin As-Sa`ib, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas; Beliau mengatakan: Diberi keringanan untuk bermesraan bagi orang berpuasa yang sudah tua dan dibenci untuk para pemuda.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2408, 2409, dan 2410

٨٢ - ذِكۡرُ الۡاخۡتِلَافِ عَلَى أَبِي عُثۡمَانَ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ فِي صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ
82. Penyebutan perbedaan riwayat Abu ‘Utsman pada hadis Abu Hurairah tentang puasa tiga hari dari setiap bulan

٢٤٠٨ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا زَكَرِيَّا بۡنُ يَحۡيَى قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَى قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ عَنۡ ثَابِتٍ عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ، قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (شَهۡرُ الصَّبۡرِ، وَثَلَاثَةُ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ؛ صَوۡمُ الدَّهۡرِ). [(التعليق الرغيب)(٢/٨٢)، (إرواء الغليل)(٤/٩٩)].
2408. Zakariyya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdul A’la menceritakan kepada kami, beliau berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Tsabit, dari Abu ‘Utsman, bahwa Abu Hurairah mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa di bulan kesabaran (Ramadan) dan puasa tiga hari dari setiap bulan adalah puasa satu tahun.”
٢٤٠٩ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عَلِيُّ بۡنُ الۡحَسَنِ اللَّانِيُّ بِالۡكُوفَةِ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحِيمِ وَهُوَ ابۡنُ سُلَيۡمَانَ عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ عَنۡ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهۡرِ فَقَدۡ صَامَ الدَّهۡرَ كُلَّهُ). ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ اللهُ فِي كِتَابِهِ: ﴿مَنۡ جَاءَ بِالۡحَسَنَةِ فَلَهُ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا﴾. [(إرواء الغليل)(٤/١٠٢)].
2409. ‘Ali bin Al-Hasan Al-Lani di Kufah telah mengabarkan kepada kami dari ‘Abdurrahim bin Sulaiman, dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari Abu ‘Utsman, dari Abu Dzarr. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang puasa tiga hari dari sebulan, maka dia telah puasa satu tahun seluruhnya.” Kemudian Abu Dzarr mengatakan: Maha benar Allah dalam kitab-Nya, “Siapa saja yang membawa amal kebaikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.”
٢٤١٠ – (ضعيف الإسناد) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ قَالَ: أَنۡبَأَنَا حِبَّانُ قَالَ: أَنۡبَأَنَا عَبۡدُ اللهِ عَنۡ عَاصِمٍ عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ عَنۡ رَجُلٍ قَالَ أَبُو ذَرٍّ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ؛ فَقَدۡ تَمَّ صَوۡمُ الشَّهۡرِ - أَوۡ فَلَهُ صَوۡمُ الشَّهۡرِ -). شَكَّ عَاصِمٌ.
2410. Muhammad bin Hatim telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Hibban memberitakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdullah memberitakan kepada kami dari ‘Ashim, dari Abu ‘Utsman, dari seseorang. Abu Dzarr mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang puasa tiga hari dari setiap bulan, maka telah sempurna puasa satu bulan –atau: baginya puasa satu bulan-.” ‘Ashim ragu.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2406 dan 2407

٢٤٠٦ – (منكر بذكر الغسل) أَخۡبَرَنَا زَكَرِيَّا بۡنُ يَحۡيَى قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنۡ عَاصِمِ بۡنِ بَهۡدَلَةَ عَنۡ رَجُلٍ عَنِ الۡأَسۡوَدِ بۡنِ هِلَالٍ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ بِرَكۡعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنۡ لَا أَنَامَ إِلَّا عَلَى وِتۡرٍ، وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ. [والمحفوظ: (صلاة الضحى)، كما تقدم ويأتي، (إرواء الغليل)(٤/١٠١)].
2406. Zakariyya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Abu Kamil menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari ‘Ashim bin Bahdalah, dari seseorang, dari Al-Aswad bin Hilal, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku dengan dua rakaat salat duha, agar aku tidak tidur malam kecuali sudah salat witir, dan puasa tiga hari dari setiap bulan.
٢٤٠٧ – (منكر كما تقدم) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضۡرِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنۡ عَاصِمٍ عَنِ الۡأَسۡوَدِ بۡنِ هِلَالٍ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ - رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ -، قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ بِنَوۡمٍ عَلَى وَتۡرٍ، وَالۡغُسۡلِ يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ، وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ.
2407. Muhammad bin Rafi’ telah mengabarkan kepada kami: Abu An-Nadhr menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari ‘Ashim, dari Al-Aswad bin Hilal, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku tidur malam dalam keadaan sudah salat witir, mandi pada hari Jumat, dan puasa tiga hari dari setiap bulan.

Usamah bin Zaid, Sang Kekasih Putra Seorang Kekasih

(وَايْمُ اللهِ إِنْ كَانَ لَأَحَبَّهُمْ إِلَيَّ مِنْ بَعْدِهِ)
“Demi Allah! Sungguh dia adalah orang yang paling kucinta sepeninggalnya.”

Demikianlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengungkapkan bagaimanakah sosok Usamah bin Zaid di dalam hati beliau. Beliau sangat mencintainya sebagaimana beliau juga amat cinta kepada ayahnya yang telah tiada, yaitu Zaid bin Haritsah. Oleh sebab itulah Usamah disebut-sebut sebagai ‘al-Hibb ibnul Hibb’, kekasih Rasulullah putra kekasih Rasulullah. Usamah bin Zaid bernama lengkap Abu Muhammad Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syarahil bin Ka’ab bin ‘Abdil ‘Uzza bin Zaid Al Kalbi.

Beliau dilahirkan sepuluh tahun sebelum hijriah dari sepasang suami istri yang memiliki hubungan sangat dekat dan erat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana tidak, sementara ayahnya adalah Zaid bin Haritsah, budak yang sekian lama melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga beliau pun mencintainya dan membebaskannya. Bahkan beliau mengangkatnya sebagai anak meski kemudian Allah melarang seorang anak dinasabkan kepada selain orang tuanya. Sempat Rasulullah memberikan pilihan kepada Zaid antara kembali kepada orang tua dan kerabatnya atau tetap tinggal bersama beliau. Namun kuatnya ikatan cinta antara mereka berdua membuatnya lebih memilih terus hidup bersama beliau.

Adapun ibunda Usamah adalah Ummu Aiman Barakah bintu Tsa’labah Al-Habasyiyah, seorang budak wanita yang Rasulullah warisi dari ibunda beliau dan kemudian beliau merdekakan. Ummu Aiman adalah wanita yang telah berjasa mengasuh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa beliau kecil. Para ulama dan sejarawan Islam menyebutkan bahwa shahabat yang berusia dua puluh tahun saat Nabi Muhammad wafat ini adalah seorang yang berhidung pesek dan berkulit hitam. Namun sifat kurang pada fisik Usamah ini tidaklah menghalanginya untuk mendapatkan derajat yang tinggi dalam Islam dan di mata kaum muslimin. Sebab Islam tidaklah menilai pada bentuk lahiriah semata. Kejujuran iman dan amal salehlah yang mengangkat derajat seorang insan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya), “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” [Q.S. Al Hujurat: 13]

Di antara gambaran lain tentang kedekatan Usamah bin Zaid dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah saat beliau mendudukkan Usamah kecil di salah satu paha beliau, sementara Al Hasan cucu beliau di atas paha yang satunya. Beliau mendekap keduanya seraya mengatakan (artinya), “Ya Allah! Sayangilah keduanya. Karena sungguh aku menyayangi mereka berdua.” Pada suatu ketika Usamah terjatuh di ambang pintu rumah hingga wajahnya terluka dan berdarah. Beliau meminta Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk membersihkan darahnya namun Aisyah merasa jijik. Lalu Nabi mengisap darah dari wajah Usamah dan meludahkannya. Kemudian beliau bersabda,
لَوْ كَانَ أُسَامَةُ جَارِيَةً لَكَسَوْتُهُ وَحَلَّيْتُهُ حَتَّى أَنَفِّقَهُ
“Seandainya Usamah seorang anak perempuan aku akan mendandani dan memakaikannya perhiasan sampai aku dapat menikahkannya.”

Saat Nabi memasuki kota Makkah bersama pasukan Islam dalam peristiwa pembebasan Kota Makkah bulan Ramadhan tahun delapan hijriah, beliau memboncengkan Usamah di atas tunggangan beliau, sementara tidak ada satu pun dari tokoh Bani Hasyim atau Quraisy yang beliau boncengkan ketika itu. Kemudian sesampainya di jantung kota Makkah Rasulullah memanggil juru kunci Ka’bah yang bernama Utsman bin Thalhah. Beliau memerintahkannya agar membukakan pintu Ka’bah. Beliau masuk ke dalamnya kemudian pintu ditutup. Tak seorang pun berada di dalam Ka’bah bersama beliau selain Usamah bin Zaid, Bilal, dan Utsman bin Thalhah. Dikisahkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat melaksanakan ibadah haji sempat menunda untuk bertolak dari Arafah demi menanti kedatangan Usamah, sementara para jamaah haji tengah memerhatikan beliau dan menunggu-nunggu apa yang akan beliau lakukan dalam rangkaian manasik berikutnya.

Dalam peristiwa Fathu Makkah dilaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada seorang wanita yang mencuri. Beliau pun bertekad untuk menerapkan atasnya hukum Allah bagi siapa saja yang melakukan pencurian, yaitu hukum potong tangan. Namun keputusan tersebut terasa berat bagi orang-orang Quraisy, sebab wanita itu berasal dari Bani Makhzum yang mereka anggap sebagai salah satu kabilah paling mulia di antara mereka. Mereka pun merundingkan siapa yang akan mereka jadikan sebagai mediator kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan agar beliau berkenan membatalkan hukum tersebut. Hingga tercapailah mufakat di antara mereka bahwa tak ada yang lebih pantas untuk itu selain Usamah bin Zaid, karena kedekatan dan ikatan cintanya dengan Rasulullah yang tak tersembunyi lagi bagi mereka. Lalu Usamah menyampaikan hal itu kepada Rasulullah. Namun beliau marah dan berubah raut wajahnya mendengar apa yang diutarakan oleh Usamah. Beliau mengingkarinya dan berkata (artinya), “Apakah engkau memohonkan agar digugurkan satu hukum had Allah?” Kemudian beliau bangkit berpidato dan bersabda, “Hanyalah yang membinasakan umat-umat terdahulu apabila seorang yang mulia di antara mereka mencuri mereka pun membiarkannya. Namun bila seorang yang lemah di antara mereka mencuri maka mereka menegakkan hukuman kepadanya. Demi Allah. Andaikan Fathimah bintu Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya.”

Pelajaran Berharga untuk Usamah


Pada bulan Ramadhan tahun tujuh hijriah, Usamah tergabung dalam suatu komando militer berjumlah 130 prajurit yang dibentuk untuk sebuah operasi militer. Kemudian mereka melakukan penggempuran di pagi hari terhadap kaum musyrikin Huraqah yang merupakan bagian dari kabilah Juhainah. Di antara pasukan musuh terdapat seorang yang sangat gencar melancarkan serangan kepada pasukan Islam. Terbukti beberapa prajurit muslim telah berhasil ia tumbangkan. Usamah bin Zaid pun terpancing untuk mengincarnya dan menunggu saat lengahnya. Tatkala kesempatan itu datang Usamah tidak menyia-nyiakannya. Ia dan seorang dari kaum Anshar dengan sigap menyerbunya hingga orang tersebut terdesak. Usamah dan temannya mengangkat senjata untuk membunuhnya. Tapi dengan segera orang tersebut mengucapkan, “la ilaha illallah.” Teman Usamah pun mengurungkan niat untuk menghabisinya. Sementara Usamah tidak. Ia tetap mendaratkan ujung tombaknya yang tajam ke tubuhnya. Dia pun terbunuh dengan tusukan tombak Usamah. Setibanya kembali di kota Madinah, disampaikanlah hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memanggil Usamah. “Wahai Usamah! Apakah kau membunuhnya setelah dia mengucapkan la ilaha illallah?”, tanya Rasulullah kepada Usamah. Usamah menjawab, “Wahai Rasulullah! Dia mengucapkannya hanya untuk melindungi diri.” Rasulullah kembali mengulangi pertanyaannya, “Wahai Usamah! Apakah kau membunuhnya setelah dia mengucapkan la ilaha illallah?” Terus menerus beliau mengulangi pertanyaan ini sebagai teguran, hingga membuat Usamah merasa sangat menyesal dan berangan-angan seandainya saat itu ia baru masuk Islam dan belum berislam sebelumnya serta tidak membunuh orang tersebut. Lalu Usamah berjanji untuk tidak lagi membunuh seorang pun yang telah mengucapkan kalimat syahadat. Sebuah pelajaran yang berharga, menggambarkan kepada kita betapa besar kesucian darah seorang muslim yang tentunya telah mengikrarkan kalimat syahadat. Tak sembarang darahnya ditumpahkan dan tak mudah pula untuk ia dikafirkan. Usamah benar-benar menerima pelajaran ini dengan baik. Ia lebih memilih sikap diam dan tidak memihak kala terjadi peperangan di antara kaum muslimin di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Usamah Memimpin Pasukan


Di akhir-akhir bulan Safar tahun sebelas Hijriah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menginstruksikan kepada kaum muslimin untuk bersiap-siap menggempur sebagian wilayah Romawi. Keyakinan beliau akan kapasitas kepemimpinan Usamah menjadi alasan beliau mengamanahkan komando barisan kepadanya. Akan tetapi muncul pembicaraan di antara sebagian orang tentang kepemimpinan Usamah ini. Sebab, pasukan yang beranggotakan para pembesar shahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar ini dibawahi oleh anak muda yang kala itu usianya tak lebih dari 20 tahun.

Menyadari hal ini Rasulullah, segera bangkit dan menaiki mimbar. Setelah mengucapkan pujian kepada Allah beliau bersabda (artinya), “Apabila kalian mencerca kepemimpinannya, yakni Usamah bin Zaid, sungguh kalian pun telah mencerca kepemimpinan ayahnya sebelum dia. Padahal, demi Allah, ayahnya benar-benar layak untuk memimpin, dan demi Allah dia pun benar-benar orang yang paling ku cinta. Dan demi Allah, yang ini pun, yakni Usamah, sungguh-sungguh pantas (pula) untuk memimpin. Dan demi Allah, sungguh dia termasuk orang yang paling kucinta setelah ayahnya. Maka aku berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepadanya. Karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang saleh kalian.” Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat sebelum pasukan ini bergerak menuju sasaran yang telah beliau tentukan. Namun beliau telah meninggalkan wasiat yang bijak. Beliau berpesan, “Laksanakanlah pengiriman pasukan Usamah!” Pasukan pun bergerak menuju Abna di awal bulan Rabi’ ats-Tsani, setelah sang Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq meminta kepada Usamah agar ia memperkenankan Umar bin Al Khathab tetap tinggal bersamanya di Madinah. Pasukan beroperasi selama 20 hari dan kembali membawa kemenangan. Tak seorang prajurit pun gugur dalam pertempuran tersebut hingga kaum muslimin mengatakan, “Belum pernah kita melihat satu pasukan tempur pun yang lebih selamat dari bahaya daripada pasukan tempur Usamah.” Pasca perang ini, Usamah turut serta dalam memerangi orang-orang yang murtad di masa Khalifah Abu Bakar.

Kedudukan Usamah di Mata Shahabat Nabi yang Lain


Pada suatu hari, sang Khalifah Umar bin Al Khaththab membagi-bagikan harta baitul mal kepada kaum muslimin. Beliau memberi Usamah lima ribu sementara untuk putranya sendiri yaitu Abdullah bin Umar hanya dua ribu. Abdullah pun khawatir kedudukannya dalam Islam sangat rendah di mata ayahnya, sebab Abdullah tahu bahwa ayahnya tidaklah memberi masing-masing orang kecuali sesuai dengan keutamaan dan jasanya dalam Islam. Lalu dia berkata kepada ayahnya, “Engkau lebih mengutamakan Usamah daripadaku, padahal aku telah mengikuti beberapa jihad bersama Rasulullah yang tidak dia ikuti.” Umar menjawab, “Sesungguhnya Usamah dahulu lebih dicintai oleh Rasulullah daripadamu, dan ayahnya lebih dicintai oleh Rasulullah daripada ayahmu.” Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Usamah bin Zaid berpindah ke Mizzah, sebelah barat kota Damaskus. Kemudian beliau kembali dan tinggal di Wadil Qura lalu ke Madinah. Beliau meninggal pada tahun 51 Hijriah di Jurf yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Masjid Nabawi. Radhiyallahu ‘anish-shahabati ajma’in. Wallahu a’lamu bish-shawab. [Ustadz Harits]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 69 vol. 06 1438H-2017M rubrik Figur.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2404 dan 2405

٨١ – صَوۡمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهۡرِ
81. Puasa tiga hari dari sebulan

٢٤٠٤ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا عَلِيُّ بۡنُ حُجۡرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي حَرۡمَلَةَ عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَسَارٍ عَنۡ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: أَوۡصَانِي حَبِيبِي ﷺ بِثَلَاثَةٍ – لَا أَدَعُهُنَّ إِنۡ شَاءَ اللهُ تَعَالَى أَبَدًا -: أَوۡصَانِي بِصَلَاةِ الضُّحَى، وَبِالۡوَتۡرِ قَبۡلَ النَّوۡمِ، وَبِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ. [ق دون قوله: (لا أدعهن أبدًا)، وعند خ معناه (صحيح أبي داود)(١٢٨٦)، (إرواء الغليل)(٩٤٦)].
2404. ‘Ali bin Hujr telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Isma’il menceritakan kepada kami, beliau berkata: Muhammad bin Abu Harmalah menceritakan kepada kami dari ‘Atha` bin Yasar, dari Abu Dzarr. Beliau mengatakan: Kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku dengan tiga hal yang insya Allah tidak akan aku tinggalkan selama-lamanya. Beliau mewasiatkan aku: dengan salat Duha, dengan salat witir sebelum tidur malam, dan dengan puasa tiga hari dari setiap bulan.
٢٤٠٥ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَلِيِّ بۡنِ الۡحَسَنِ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي قَالَ: أَنۡبَأَنَا أَبُو حَمۡزَةَ عَنۡ عَاصِمٍ عَنِ الۡأَسۡوَدِ بۡنِ هِلَالٍ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ بِثَلَاثٍ: بِنَوۡمٍ عَلَى وِتۡرٍ، وَالۡغُسۡلِ يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ، وَصَوۡمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ. [مضى (٢٤٠٤)].
2405. Muhammad bin ‘Ali bin Al-Hasan telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Abu Hamzah memberitakan kepada kami dari ‘Ashim, dari Al-Aswad bin Hilal, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku dengan tiga perkara: dengan tidur malam dalam keadaan sudah salat witir, mandi pada hari Jumat, dan puasa tiga hari dari setiap bulan.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2403

٨٠ - صِيَامُ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهۡرِ
80. Puasa empat hari dari sebulan

٢٤٠٣ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡحَسَنِ قَالَ: حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بۡنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنِي شُعۡبَةُ عَنۡ زِيَادِ بۡنِ فَيَّاضٍ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا عِيَاضٍ قَالَ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَمۡرٍو، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (صُمۡ مِنَ الشَّهۡرِ يَوۡمًا، وَلَكَ أَجۡرُ مَا بَقِيَ)، قُلۡتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَكۡثَرَ مِنۡ ذٰلِكَ! قَالَ: (فَصُمۡ يَوۡمَيۡنِ، وَلَكَ أَجۡرُ مَا بَقِيَ)، قُلۡتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَكۡثَرَ مِنۡ ذٰلِكَ! قَالَ: (فَصُمۡ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، وَلَكَ أَجۡرُ مَا بَقِيَ)، قُلۡتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَكۡثَرَ مِنۡ ذٰلِكَ! قَالَ: (صُمۡ أَرۡبَعَةَ أَيَّامٍ، وَلَكَ أَجۡرُ مَا بَقِيَ)، قُلۡتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَكۡثَرَ مِنۡ ذٰلِكَ! فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَفۡضَلُ الصَّوۡمِ صَوۡمُ دَاوُدَ؛ كَانَ يَصُومُ يَوۡمًا وَيُفۡطِرُ يَوۡمًا). [م(٣/١٦٦)].
2403. Ibrahim bin Al-Hasan telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepadaku dari Ziyad bin Fayyadh, beliau berkata: Aku mendengar Abu ‘Iyadh berkata: ‘Abdullah bin ‘Amr mengatakan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasalah satu hari dari sebulan dan bagimu pahala hari sisanya.”
Aku mengatakan, “Sesungguhnya aku mampu lebih sering daripada itu.”
Beliau bersabda, “Puasalah dua hari dan bagimu pahala hari sisanya.”
Aku mengatakan, “Sesungguhnya aku mampu lebih sering daripada itu.”
Beliau bersabda, “Puasalah tiga hari dan bagimu pahala hari sisanya.”
Aku mengatakan, “Sesungguhnya aku mampu lebih sering daripada itu.”
Beliau bersabda, “Puasalah empat hari dan bagimu pahala hari sisanya.”
Aku mengatakan, “Sesungguhnya aku mampu lebih sering daripada itu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama adalah puasa Dawud. Beliau puasa sehari dan tidak berpuasa sehari.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2402

٧٩ - صِيَامُ خَمۡسَةِ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهۡرِ
79. Puasa lima hari dari sebulan

٢٤٠٢ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا زَكَرِيَّاءُ بۡنُ يَحۡيَى قَالَ: حَدَّثَنَا وَهۡبُ بۡنُ بَقِيَّةَ قَالَ: أَنۡبَأَنَا خَالِدٌ عَنۡ خَالِدٍ وَهُوَ الۡحَذَّاءُ عَنۡ أَبِي قِلَابَةَ، عَنۡ أَبِي الۡمَلِيحِ، قَالَ: دَخَلۡتُ مَعَ أَبِيكَ زَيۡدٍ عَلَى عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو، فَحَدَّثَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ ذُكِرَ لَهُ صَوۡمِي، فَدَخَلَ عَلَيَّ، فَأَلۡقَيۡتُ لَهُ وِسَادَةَ أَدَمٍ رَبۡعَةً؛ حَشۡوُهَا لِيفٌ، فَجَلَسَ عَلَى الۡأَرۡضِ، وَصَارَتِ الۡوِسَادَةُ فِيمَا بَيۡنِي وَبَيۡنَهُ، قَالَ: (أَمَا يَكۡفِيكَ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ؟)، قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: (خَمۡسًا). قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: (سَبۡعًا)، قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: (تِسۡعًا)، قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: (إِحۡدَى عَشۡرَةَ)، قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَا صَوۡمَ فَوۡقَ صَوۡمِ دَاوُدَ؛ شَطۡرَ الدَّهۡرِ، صِيَامُ يَوۡمٍ وَفِطۡرُ يَوۡمٍ). [م(٣/١٦٥-١٦٦)].
2402. Zakariyya` bin Yahya telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Wahb bin Baqiyyah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Khalid memberitakan kepada kami dari Khalid Al-Hadzdza`, dari Abu Qilabah, dari Abu Al-Malih, beliau berkata: Aku bersama ayahmu masuk menemui ‘Abdullah bin ‘Amr, lalu beliau menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diceritakan tentang puasaku. Lalu Nabi masuk menemuiku, lalu aku menyodorkan sebuah bantal kulit berukuran sedang kepada beliau. Isi bantal itu adalah serabut pohon kurma. Namun beliau memilih duduk di atas tanah dan jadilah bantal itu berada di antara aku dengan beliau.
Beliau bersabda, “Tidakkah mencukupimu (puasa) tiga hari dari setiap bulan?”
Aku mengatakan, “Wahai Rasulullah, (tambahkanlah).”
Beliau bersabda, “Lima hari.”
Aku mengatakan, “Wahai Rasulullah, (tambah lagi).”
Nabi bersabda, “Tujuh hari.”
Aku mengatakan, “Wahai Rasulullah, (tambah lagi).”
Nabi bersabda, “Sembilan hari.”
Aku mengatakan, “Wahai Rasulullah, (tambah lagi).”
Beliau bersabda, “Sebelas hari.”
Aku mengatakan, “Wahai Rasulullah, (tambah lagi).”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada puasa di atas puasa Dawud. Yaitu, puasa separuh tahun. Puasa sehari dan tidak berpuasa sehari.”

PENGHAFAL 24000 HADIS

Ulama kharismatik nan berwibawa ini sangat disegani para ulama di masanya bahkan penguasa selevel khalifah sekalipun begitu menghormatinya. Salah satu guru besar Imam Ahmad bin Hanbal ini terlahir di Irak pada tahun 118 H atau bertepatan dengan 736 M. Ulama dengan nama lengkap Yazid bin Harun bin Zadi Abu Khalid As Sulami rahimahullah ini selain memiliki kharisma yang tinggi juga dikenal sangat luas ilmunya dan begitu kokoh amalannya. Satu pendapat menyebutkan bahwa beliau berasal dari Bukhara yang merupakan sebuah kota yang terletak di bagian tengah Uzbekistan.

Bertemu dengan ulama besar di masanya merupakan nilai lebih yang beliau miliki untuk menjadi seorang ulama besar. Bayangkan saja dalam petualangannya menuntut ilmu, Yazid pernah meriwayatkan hadis dan berguru kepada ulama-ulama besar semisal Yahya bin Said Al Anshari, Sulaiman At Taimi, Ashim Al Ahwal, Humaid Ath Thawil, Syu’bah bin Al Hajjaj, Said bin Abi Arubah, Ismail bin Ayyas, dan sederet ulama besar lainnya. Para ahlu hadis dari berbagai tempat terutama dari Kota Baghdad berduyun-duyun datang demi menimba ilmu di hadapan Yazid bin Harun rahimahullah. Sampai-sampai tak kurang majelis beliau dihadiri oleh tujuh puluh ribu ahli hadis dan penuntut ilmu. Mereka rela berdesak-desakan untuk mencari sanad hadis yang ‘ali (tinggi) dari beliau.

KEKUATAN HAFALANNYA


Ulama salaf memang terkenal dengan hafalan mereka yang sangat kuat bagaikan gunung. Mereka adalah simbol kuatnya hafalan yang sangat sulit dicari tandigannya pada masa ini. Demikian halnya dengan Yazid bin Harun rahimahullah, hampir-hampir tidak ada ulama di masanya yang meragukan kekuatan hafalan beliau. Apalagi kesaksian ini muncul dari ulama-ulama besar, terpercaya baik yang berstatus sebagai guru atau murid beliau. Keteguhan hafalan Yazid memang telah dikenal oleh kaum muslimin di berbagai penjuru negeri. Maka tidak mengherankan jika beliau mampu menghafal dua puluh empat ribu hadis lengkap dengan sanadnya. Subhanallah, para pembaca yang budiman coba bandingkan dengan kondisi kita yang mungkin tidak ada satupun hadis yang kita hafal lengkap dengan sanadnya.

Simak penuturan salah satu muridnya yang bernama Ziyad bin Ayyub berikut ini, “Selama berguru kepadanya aku belum pernah melihat Yazid membawa kitab sama sekali dan tidaklah beliau menyampaikan hadis kepada kami melainkan murni dengan hafalannya.” Ahmad bin Hanbal rahimahullah pun menegaskan bahwa gurunya ini tidak sekadar hafal semata namun benar-benar mutqin (kokoh) hafalannya. Dalam kesempatan lain Ahmad sangat menyanjung gurunya ini dengan mengatakan, “Betapa fakih, cerdas, dan pintarnya beliau.” Begitu kuat hafalannya hingga sebagian ulama menyatakan bahwa Yazid lebih kuat hafalannya dari Waki’ bin Al Jarah.

KEKOKOHAN IBADAHNYA


Hafalan Yazid yang kuat juga selaras dengan ibadahnya yang sangat luar biasa. Salat malam adalah rutinitas sehari-hari yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan beliau. Yazid rahimahullah memang terbiasa melakukan salat sunah di malam dan siang hari tanpa kenal lelah. Pernah suatu ketika ‘Ashim bin Ali bersama dengan Yazid bin Harun pergi menemui Qais bin Ar Rabi’ untuk suatu keperluan. Maka ‘Ashim pun menyaksikan secara langsung bahwa Yazid terus mengerjakan salat malam hingga menjelang fajar dan melakukan salat Subuh tanpa berwudhu lagi. Demikianlah beliau dalam kondisi demikian selama empat puluh sekian tahun.

Gelar sebagai ahli ibadah pun sangat pantas disandangkan kepada beliau sebagaimana dinukilkan sebagian ulama. Di antara salat sunah di siang hari yang beliau tekuni sepanjang hayatnya adalah salat Dhuha. Beliau terbiasa melakukan salat Dhuha sebanyak enam belas rekaat. Demikianlah keseharian sang ulama, selalu beribadah tanpa mengenal waktu dan tempat sehingga beliau adalah ahli ibadah di malam dan siang hari.

SANG PENEGAK AMAR MAKRUF DAN NAHI MUNKAR


Berkisah tentang ulama yang satu ini memang tidak bisa terpisahkan dari sekian keistimewaan yang Allah subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada beliau. Antusiasnya dalam menegakkan amar makruf dan nahi munkar tidak perlu disangsikan lagi. Inilah salah satu faktor yang membuat beliau sangat karismatik di hadapan ulama bahkan Khalifah Al Makmun dibuatnya takut dan tak berkutik di hadapannya. Padahal kita tahu siapa Khalifah Al Makmun, ia adalah salah satu diktator dinasti Abbasiyah yang terpengaruh ideologi mu’tazilah yang kental dengan teori filsafatnya.

Salah satu konsep akidah kelompok mu’tazilah yang sesat adalah meyakini bahwa Al Quran adalah makhluk bukan kalamullah (firman Allah subhanahu wa ta’ala). Al Makmun berambisi memaksakan akidah sesat ini kepada orang-orang di lingkungan kerajaan dan para ulama pun dipaksa secara fisik untuk menyatakan bahwa Al Quran adalah makhluk. Namun Yazid bin Harun tidak mengenal kompromi dengan keyakinan sesat tersebut. Beliau tidak gentar untuk menegaskan bahwa barang siapa menyatakan bahwa Al Quran adalah makhluk maka dia adalah seorang zindiq (pelaku dosa). Ternyata prinsip dan ketegasan ini diketahui pula oleh Khalifah Makmun sehingga sang khalifah tidak berani terang-terangan menyuarakan keyakinannya di hadapan Yazid.

Suatu saat Al Makmun mengatakan, “Kalau seandainya bukan karena kedudukan Yazid bin Harun niscaya aku perlihatkan keyakinanku bahwa Al Quran adalah makhluk.” Ada seseorang bertanya kepadanya, “Siapakah gerangan Yazid hingga engkau begitu takut kepadanya.” Al Makmun menimpali, “Celaka kamu, aku segan kepada Yazid bukan karena dia punya kekuasaan. Namun dia adalah panutan kaum muslimin, aku khawatir jika aku memperlihatkan keyakinanku kepadanya maka dia membantahku sehingga rakyatku bergejolak dan berselisih lalu muncul bencana di tengah mereka.”

Dikisahkan oleh Abdul Wahab bin Hakim bahwa ia berkata bahwa Al Makmun pernah menyatakan, “Selama Yazid belum meninggal, maka belum tiba saatnya aku memaksakan keyakinanku dengan membunuh manusia atau menyiksa mereka.” Yazid pun menyandang gelar sebagai pembela sunnah karena permusuhan beliau begitu keras terhadap sekte Jahmiyyah. Beliau sangat mengingkari orang-orang Jahmiyyah yang menakwilkan sifat istiwa’ (salah satu sifat Allah subhanahu wa ta’ala) dengan takwil (menyimpangkan makna) yang batil.

PRIBADI YANG DERMAWAN


Lebih dari itu semua, beliau juga seorang yang dermawan. Kisah ini menjadi bukti kedermawanan Yazid dan dukungan beliau terhadap para penuntut ilmu agama. Suatu ketika Yazid bin Harun rahimahullah bertemu dengan seorang lelaki yang sangat kuat hafalannya. Tatkala Yazid menyampaikan hadis-hadis kepada para muridnya, pemuda tersebut tidak mencatatnya sama sekali. Namun ternyata dia mampu menghafal dengan baik apa yang telah disampaikan oleh Yazid di majelis tersebut. Akhirnya salah seorang muridnya menyampaikan keistimewaan laki-laki tersebut kepada Yazid. Maka dipanggillah orang tersebut dan ternyata ia adalah Abu Mas’ud Ahmad bin Al-Furat Ar Razi. Yazid sangat memuliakan Abu Mas’ud yang selama ini telah dikenal sebagai seorang ahli hadis. Ia diajak ke rumahnya lantas diberi jamuan dan pada akhirnya Yazid memberikan uang senilai empat ratus dirham kepada Abu Mas’ud sebagai bekal perjalanan safarnya. Karena kebetulan saat itu ia hendak melakukan safar untuk belajar kepada Abdurrazzaq Ash Shan’ani rahimahullah. Demikianlah, Yazid bin Harun rahimahullah adalah seorang ulama yang memiliki sekian perangai dan budi pekerti yang mulia.

Pada akhir hayatnya Yazid bin Harun rahimahullah mengalami kebutaan pada kedua matanya sehingga tidak bisa melihat sebagaimana sebelumnya. Yazid meninggal di Wasith pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 206 H dalam usia 88 tahun. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati beliau dan memberi balasan yang terbaik, Allahu A’lam.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 50 vol.05 1438H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafy Abdullah.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1685 dan 1686

١٦٨٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَعَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ مُسۡلِمٍ، عَنۡ شُتَيۡرِ بۡنِ شَكَلٍ، عَنۡ حَفۡصَةَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ. [م].
1685. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan ‘Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Muslim, dari Syutair bin Syakal, dari Hafshah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah mencium dalam keadaan berpuasa.
١٦٨٦ – (ضعيف جدًا) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡفَضۡلُ بۡنُ دُكَيۡنٍ، عَنۡ إِسۡرَائِيلَ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنۡ أَبِي يَزِيدَ الضِّنِّيِّ، عَنۡ مَيۡمُونَةَ، مَوۡلَاةِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَتۡ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنۡ رَجُلٍ قَبَّلَ امۡرَأَتَهُ وَهُمَا صَائِمَانِ؟ قَالَ: (قَدۡ أَفۡطَرَا). [(التعليق على ابن ماجه)].
1686. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Fadhl bin Dukain menceritakan kepada kami, dari Israil, dari Zaid bin Jubair, dari Abu Yazid Adh-Dhinni, dari Maimunah, budak yang dibebaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang seorang lelaki yang mencium istrinya dalam keadaan keduanya berpuasa. Beliau bersabda, “Keduanya telah batal puasanya.”

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1683 dan 1684

١٩ - بَابُ مَا جَاءَ فِي الۡقُبۡلَةِ لِلصَّائِمِ
19. Bab tentang mencium bagi orang yang berpuasa

١٦٨٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡجَرَّاحِ، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ، عَنۡ زِيَادِ بۡنِ عِلَاقَةَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مَيۡمُونٍ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ قَالَتۡ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُقَبِّلُ فِي شَهۡرِ الصَّوۡمِ. [(الإرواء)(٤/٨٢)، (صحيح أبي داود)(٢٠٦٢)، (الصحيحة)(٢١٩-٢٢١): م وخ نحوه].
1683. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan ‘Abdullah bin Al-Jarrah telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Al-Ahwash menceritakan kepada kami dari Ziyad bin ‘Ilaqah, dari ‘Amr bin Maimun, dari ‘Aisyah; Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah mencium di bulan puasa.
١٦٨٤ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُسۡهِرٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنِ الۡقَاسِمِ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَأَيُّكُمۡ يَمۡلِكُ إِرۡبَهُ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ يَمۡلِكُ إِرۡبَهُ؟! [(الإرواء) أيضًا، (الصحيحة)(٢٢٠)، (صحيح أبي داود)(٢٠٦١): ق].
1684. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari ‘Ubaidullah, dari Al-Qasim, dari ‘Aisyah; Beliau mengatakan: Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium dalam keadaan berpuasa. Manakah di antara kalian yang mampu menguasai hasratnya sebagaimana Rasulullah menguasai hasratnya?!

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 2400 dan 2401

٢٤٠٠ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ عَنۡ أَبِي الۡعَبَّاسِ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (اقۡرَأِ الۡقُرۡآنَ فِي شَهۡرٍ)، قُلۡتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَكۡثَرَ مِنۡ ذٰلِكَ! فَلَمۡ أَزَلۡ أَطۡلُبُ إِلَيۡهِ، حَتَّى قَالَ: (... فِي خَمۡسَةِ أَيَّامٍ)، وَقَالَ: (صُمۡ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهۡرِ)، قُلۡتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَكۡثَرَ مِنۡ ذٰلِكِ؛ فَلَمۡ أَزَلۡ أَطۡلُبُ إِلَيۡهِ، حَتَّى قَالَ: (صُمۡ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ -عَزَّ وَجَلَّ- صَوۡمَ دَاوُدَ؛ كَانَ يَصُومُ يَوۡمًا وَيُفۡطِرُ يَوۡمًا).
2400. Muhammad bin Basysyar telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Muhammad menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Dinar, dari Abu Al-‘Abbas, dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Khatamkan Alquran dalam sebulan.”
Aku mengatakan, “Sesungguhnya aku mampu lebih sering daripada itu.”
Aku terus-menerus menuntut beliau, sampai beliau bersabda, “(Khatamkan) dalam lima hari.” Beliau juga bersabda, “Puasalah tiga hari dari sebulan.”
Aku mengatakan, “Sesungguhnya aku mampu lebih sering daripada itu.”
Aku terus-menerus menuntut beliau, sampai beliau bersabda, “Puasalah puasa yang paling Allah azza wajalla cintai, yaitu puasa Dawud. Beliau berpuasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari.”
٢٤٠١ – (صحيح الإسناد) أَخۡبَرَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡحَسَنِ قَالَ: حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ قَالَ: قَالَ ابۡنُ جُرَيۡجٍ سَمِعۡتُ عَطَاءً يَقُولُ إِنَّ أَبَا الۡعَبَّاسِ الشَّاعِرَ أَخۡبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَمۡرِو بۡنِ الۡعَاصِ، قَالَ: بَلَغَ النَّبِيَّ ﷺ أَنِّي أَصُومُ؛ أَسۡرُدُ الصَّوۡمَ، وَأُصَلِّي اللَّيۡلَ! فَأَرۡسَلَ إِلَيۡهِ -وَإِمَّا لَقِيَهُ-، قَالَ: (أَلَمۡ أُخۡبَرۡ أَنَّكَ تَصُومُ وَلَا تُفۡطِرُ، وَتُصَلِّي اللَّيۡلَ؟! فَلَا تَفۡعَلۡ؛ فَإِنَّ لِعَيۡنِكَ حَظًّا، وَلِنَفۡسِكَ حَظًّا، وَلِأَهۡلِكَ حَظًّا، وَصُمۡ وَأَفۡطِرۡ، وَصَلِّ وَنَمۡ، وَصُمۡ مِنۡ كُلِّ عَشَرَةِ أَيَّامٍ يَوۡمًا، وَلَكَ أَجۡرُ تِسۡعَةٍ)، قَالَ: إِنِّي أَقۡوَى لِذٰلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: (صُمۡ صِيَامَ دَاوُدَ إِذًا)، قَالَ: وَكَيۡفَ كَانَ صِيَامُ دَاوُدَ؟ يَا نَبِيَّ اللهِ؟! قَالَ: (كَانَ يَصُومُ يَوۡمًا وَيُفۡطِرُ يَوۡمًا، وَلَا يَفِرُّ إِذَا لَاقَى) قَالَ: وَمَنۡ لِي بِهٰذَا يَا نَبِيَّ اللهِ؟! [ق نحوه دون قوله: (قال: ومن لي)].
2401. Ibrahim bin Al-Hasan telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ibnu Juraij berkata: Aku mendengar ‘Atha` mengatakan sesungguhnya Abu Al-‘Abbas si penyair mengabarkan kepadanya bahwa beliau mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengatakan: Sampai berita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku berpuasa, aku terus-menerus berpuasa, dan salat semalam suntuk. Lalu Nabi mengutus seseorang kepadaku –bisa jadi beliau langsung yang menemuinya-, beliau bersabda, “Tidakkah benar yang dikabarkan bahwa engkau puasa dan tidak pernah tidak berpuasa; dan engkau salat semalam suntuk? Jangan engkau lakukan! Karena matamu memiliki bagian, jiwamu memiliki bagian, dan keluargamu memiliki bagian. Puasalah dan juga tidak puasalah. Salatlah dan tidur malamlah. Puasalah sehari dari setiap sepuluh hari dan bagimu pahala sembilan hari.”
‘Abdullah bin ‘Amr mengatakan, “Sesungguhnya aku lebih kuat daripada itu, wahai Rasulullah.”
Nabi bersabda, “Kalau begitu, puasalah puasa Dawud.”
‘Abdullah bertanya, “Bagaimanakah puasa Dawud, wahai Nabi Allah?”
Nabi bersabda, “Beliau puasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari. Beliau juga tidak lari ketika bertemu musuh.”
‘Abdullah mengatakan, “Siapa yang dapat menjaminku untuk bisa seperti itu, wahai Nabi Allah?!”