Sang DERMAWAN

“Barangkali Al Khatib sendiri tidak melihat ada seorangpun yang selevel dengan dirinya,” tutur Abu Ali Al Bardani. Jikalau disebutkan nama Al Khatib maka yang tebersit dalam benak adalah seorang ulama tersohor dari kota Baghdad di Irak. Tidak lain beliau adalah Al Khatib Al Baghdadi seorang ulama yang sangat produktif menghasilkan karya tulis pada masanya. Salah satu buah karya beliau yang sangat fantastis dan terkenal adalah Tarikh Baghdad (sejarah Baghdad). Nama lengkapnya Al Khatib Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit rahimahullah yang terlahir pada tahun 392 H atau bertepatan dengan 1002 M.

PERKEMBANGAN INTELEKTUALNYA


Semenjak kecil beliau terbimbing di satu komunitas yang kental dengan pendidikan ilmu agama. Tercatat dalam biografinya bahwa ayahanda beliau yang bernama Abul Hasan adalah seorang khatib di sebuah desa yang bernama Darzijan di Irak. Di samping itu, ayahnya adalah seorang qari’ (ahli baca Al Quran) dengan bacaan Hafsh Al Kattani. Al Khatib tumbuh dan dewasa dalam bimbingan sang ayahanda yang merupakan seorang pecinta ilmu agama. Sejak kecil sang ayah telah menanamkan kepada putranya benih-benih kecintaan terhadap ilmu agama. Ayahnya memotivasinya untuk belajar ilmu hadis dan ilmu fikih. Oleh sebab itulah, Al Khatib telah mendengar dan belajar hadis tatkala usianya baru genap sebelas tahun.

Demikianlah masa kecil beliau begitu terkondisi dalam semangat belajar ilmu agama. Hingga akhirnya antusias belajar beliau ini terus membekas dan berlanjut hingga masa remaja. Bukan suatu hal yang aneh jika beliau menyukai rihlah menuntut ilmu agama pada usianya yang relatif masih sangat muda. Pada usia dua puluh tahun, beliau pergi ke Kota Bashrah untuk menuntut ilmu agama di hadapan para ulama di kota tersebut. Selang tiga tahun berikutnya beliau bertolak ke Naisabur dengan membawa misi mulia memperdalam ilmu agama. Bahkan dalam usianya yang sudah tidak muda lagi beliau masih sempat melakukan perjalanan ke Negeri Syam, Mekah, Ashfahan, Dainur, Hamadzan, Ray, Kufah, dan selainnya. Satu pembuktian akan semangat beliau yang menjulang tinggi untuk terus menuntut ilmu agama dan meriwayatkan hadis.

Di Akbara, Al Khatib belajar kepada Al Husain bin Muhammad Ash Shaigh. Sementara itu di Bashrah beliau menimba ilmu kepada Abu Umaral Hasyimi untuk fokus mendalami ilmu hadis. Demikian pula di Kota Naisabur, beliau berjumpa dengan sejumlah ulama semisal Al Qadhi Abu Bakar Al Hiyari, Abu Said Ash Shairafi, Abul Qasim Abdurrahman As Siraj, dan selain mereka. Adapun di Ashfahan, beliau berguru kepada Al Hafizh Abu Nu’aim dan sejumlah ulama yang lainnya. Hingga para ulama pun memberikan rekomendasi terhadap Al Khatib dalam perjalanan ilmiahnya mendalami ilmu agama. Seperti Abu Bakar Al Barqani yang pernah menulis sebuah surat kepada Abu Nuaim Al Hafizh, “Sungguh telah datang kepada Anda saudara kami (Al Khatib) untuk menimba ilmu kepada Anda. Alhamdulillah, dia termasuk pribadi dengan kedudukan yang baik dalam bidang ilmu hadis dan pengetahuan yang kokoh. Sungguh dia telah menempuh perjalanan jauh dalam rangka untuk mencari ilmu agama. Dia pun berhasil mendapatkan ilmu yang tidak mampu dihasilkan oleh ulama yang selevel dengannya.”

KARYA TULISNYA


Al Khatib sangat produktif menghasilkan berbagai karya tulis di sela pengembaraannya ke berbagai negeri. Penjelajahan beliau ke sekian negeri tidak menyurutkan langkah dalam berkarya dan berkhidmah untuk Islam. Mengumpulkan berbagai literatur, membaca dan menulis sehingga menjadi kesibukan dalam keseharian. Melakukan penelitian terhadap derajat hadis, menilai status para perawi hadis terkait dengan kredibilitas dalam periwayatan, dan bahkan mampu menulis sejarah serta menjelaskannya dengan terperinci. Sehingga beliau terpandang sebagai hafizh yang paling menojol dan mumpuni di masanya.

Tercatat ada lima puluh sekian karya tulis yang telah beliau persembahkan untuk Islam dan muslimin. Di antaranya adalah buah karyanya yang terkenal selain Tarikh Baghdad adalah Al Kifayah fi Ma’rifat Ushul ‘Ilm Al Riwayat, Iqtidha Al ‘Ilmi Al Amal, Syarf Ashab Al Hadis, Taqyid Al ‘Ilm, As Sabiq wal Lahiq, Rihlah fi Thalabil Hadis, Al Faqih wal Mutafaqqih, dan selainnya.

PUJIAN PARA ULAMA


Allah subhanahu wa ta’ala telah menganugerahkan banyak kelebihan kepada Al Khatib Al Baghdadi. Hal ini diakui oleh para ulama besar dengan banyaknya pujian dan sanjungan mereka kepada beliau. Adz Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala menyatakan, “Beliau adalah imam pilih tanding, sangat luas pengetahuannya, mufti, seorang hafizh (penghafal) yang begitu cerdas, pakar hadis di masanya, pemilik sekian karya tulis dan penutup para hafizh.”

Pembaca yang budiman, ternyata cukup banyak ulama yang menyejajarkan beliau dengan Ad Daruquthni. Salah satu muridnya yang bernama Ibnu Makula menuturkan, “Abu Bakar (Al Khatib) termasuk ulama terakhir yang kami saksikan pengetahuan, hafalan, kekokohan, dan ketelitiannya terhadap hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menguasai illah-illahnya (kesalahan-kesalahan dalam periwayatan hadis) dan sanad-sanadnya. Tidak ada ulama Baghdad setelah Abul Hasan Ad Daruquthni yang semisal dengan beliau.” Hal senada juga dipersaksikan oleh Al Muktaman As Sajiy, “Setelah Ad Daruquthni, Baghdad tidak pernah lagi melahirkan ulama yang lebih hafal daripada Abu Bakar Al Khatib.” Bahkan ulama besar sekelas Abu Ishaq Asy Syairazi juga menyatakan, “Abu Bakar Al Khatib mirip Ad Daruquthni dan ulama sekelasnya dalam ilmu hadis dan hafalannya.”

Al Khatib rahimahullah merupakan seorang figur ulama yang berwibawa dan disegani oleh kaum muslimin, bahkan para ulama. Beliau memiliki karakter tenang dalam menghadapi berbagai situasi dan dikenal memiliki tulisan yang bagus serta bahasa yang fasih.

AKHLAK DAN IBADAHNYA


Beliau termasuk ulama yang wara’ dan sangat menjaga kehormatan dirinya. Suatu saat ada seseorang datang dengan membawa uang dinar di lengan bajunya seraya mengatakan kepada Al Khatib, “Ini ada emas yang bisa engkau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu.” Maka Al Khatib mengerutkan keningnya dan bermuka masam lantas mengatakan, “Aku tidak butuh kepada dinar-dinar itu.” Maka laki-laki itu berkata, “Seolah-olah engkau menganggap sedikit pemberianku.” Ia pun melempar dinar yang ada di lengan bajunya tersebut di hadapan Al Khatib. “Ini tiga ratus dinar untukmu”, tukas laki-laki itu. Namun Al Khatib langsung bangkit dengan raut wajah yang memerah lantas pergi meninggalkan orang itu. Akhirnya lelaki itu dengan hina dina terpaksa harus memungut lagi kepingan-kepingan dinar yang telah dia lempar. Sepenggal kisah ini menggambarkan bahwa beliau sangat menjaga kehormatan diri dan tidak silau dengan harta duniawi. Beliau lebih tidak mau untuk meminta-minta dan menghinakan diri di hadapan penguasa demi harta.

Namun lihatlah para pembaca, bagaimana semangat beliau dalam berderma. Tentang hal ini Abu Zakaria At Tibrizi berkisah, “Aku pernah pergi ke Damaskus lantas aku membaca kitab-kitab sastra Arab di hadapan Al Khatib di sebuah majelis di masjid Jami’. Saat itu aku tinggal di menara masjid Jami’. Lalu Al Khatib naik menemuiku seraya mengatakan, “Aku ingin mengunjungimu di rumahmu.” Kami pun terlibat dalam perbincangan selama beberapa saat. Tiba-tiba beliau mengeluarkan lembaran kertas dan berkata, “Hadiah adalah sunnah. Belilah pena dengan ini.” Kemudian beliau bangkit lalu pergi dan ternyata itu adalah uang senilai lima dinar mesir. Pada kesempatan yang lain beliau kembali naik ke atas dan meletakkan uang yang sama.”

Tentang ibadah beliau pun dipersaksikan oleh para ulama. Al Khatib pernah menunaikan ibadah haji dan mengkhatamkan Al Quran dengan bacaan yang tartil selama pelaksanaan haji tersebut. Kemudian orang-orang pun datang berkumpul menemui beliau dan meminta beliau meriwayatkan hadis. Maka Al Khatib meriwayatkan hadis kepada mereka di atas kendaraannya. Bahkan yang luar biasa beliau pernah mengkhatamkan Al Quran sepanjang perjalanan safar dari Damaskus ke Baghdad di setiap harinya. Subhanallah, dalam kondisi sedemikian sulitnya beliau masih mampu mengkhatamkan Al Quran.

Di akhir kehidupannya, Al Khatib sakit. Tepatnya pada pertengahan bulan Ramadhan dan kondisi beliau semakin memburuk pada bulan Dzulhijjah. Akhirnya beliau meninggal pada tanggal 7 Dzulhijjah tahun 463 H dan turut hadir dalam pemakamannya para qadhi dan tokoh-tokoh agama serta ahli fiqh. Beliau pun dimakamkan di samping Bisyr Al Hafi karena itulah keinginan beliau selama masih hidup.

Beliau rahimahullah sempat meminta agar hartanya yang berjumlah 200 dinar diinfakkan untuk kebaikan dan kepentingan kaum muslimin. Selain itu beliau juga berwasiat agar menyedekahkan seluruh pakaiannya untuk orang-orang yang membutuhkannya. Bahkan beliau juga mewakafkan seluruh kitab-kitab pribadinya. Sungguh beliau pribadi yang sangat gemar bederma untuk umat. Baik semasa hidupnya maupun setelah beliau meninggal dunia. Semoga Allah membalas jasa dan kebaikan beliau dengan balasan yang sebesar-besarnya. Allahu A’lam.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 52 vol.05 1439 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah.