Shahih Muslim hadits nomor 11

٢ – بَابُ بَيَانِ الصَّلَوَاتِ الَّتِي هِيَ أَحَدُ أَرۡكَانِ الۡإِسۡلَامِ
2. Bab keterangan bahwa salat merupakan salah satu rukun Islam

٨ - (١١) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدِ بۡنِ جَمِيلِ بۡنِ طَرِيفِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ الثَّقَفِيُّ، عَنۡ مَالِكِ بۡنِ أَنَسٍ - فِيمَا قُرِىءَ عَلَيۡهِ -، عَنۡ أَبِي سُهَيۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ؛ أَنَّهُ سَمِعَ طَلۡحَةَ بۡنَ عُبَيۡدِ اللهِ يَقُولُ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ مِنۡ أَهۡلِ نَجۡدٍ، ثَائِرُ الرَّأۡسِ، نَسۡمَعُ دَوِيَّ صَوۡتِهِ وَلَا نَفۡقَهُ مَا يَقُولُ، حَتَّى دَنَا مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَإِذَا هُوَ يَسۡأَلُ عَنِ الۡإِسۡلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (خَمۡسُ صَلَوَاتٍ فِي الۡيَوۡمِ وَاللَّيۡلَةِ). فَقَالَ: هَلۡ عَلَيَّ غَيۡرُهُنَّ؟ قَالَ: (لَا، إِلَّا أَنۡ تَطَّوَّعَ، وَصِيَامُ شَهۡرِ رَمَضَانَ). فَقَالَ: هَلۡ عَلَيَّ غَيۡرُهُ؟ فَقَالَ: (لَا، إِلَّا أَنۡ تَطَّوَّعَ). وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ الزَّكَاةَ، فَقَالَ: هَلۡ عَلَيَّ غَيۡرُهَا؟ قَالَ: (لَا، إِلَّا أَنۡ تَطَّوَّعَ). قَالَ: فَأَدۡبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ، لَا أَزِيدُ عَلَى هَٰذَا، وَلَا أَنۡقُصُ مِنۡهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَفۡلَحَ إِنۡ صَدَقَ).
8. (11). Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Tharif bin ‘Abdullah Ats-Tsaqafi telah menceritakan kepada kami dari Malik bin Anas—pada apa yang dibacakan kepada beliau—,dari Abu Suhail, dari ayahnya; Bahwa beliau mendengar Thalhah bin ‘Ubaidullah mengatakan: Seorang lelaki penduduk Najd yang kusut rambutnya datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami mendengar gema suaranya namun kami tidak paham ucapannya sampai dia mendekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata dia bertanya tentang Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lima kali salat dalam sehari semalam.” Dia bertanya, “Apakah salat selain itu wajib atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali jika engkau ingin salat sunah. Lalu puasa bulan Ramadan.” Dia bertanya, “Apakah puasa selain itu wajib atasku?” Nabi bersabda, “Tidak, kecuali apabila engkau ingin puasa sunah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan zakat kepadanya, lalu dia bertanya, “Apakah ada zakat lain yang wajib atasku?” Nabi menjawab, “Tidak, kecuali jika engkau ingin sedekah sunah.” Thalhah mengatakan: Lelaki itu berbalik seraya berkata, “Demi Allah, aku tidak menambah lebih dari ini dan tidak pula menguranginya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia beruntung jika jujur.”
٩ - (...) - حَدَّثَنِي يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ وَقُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ جَمِيعًا، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ جَعۡفَرٍ، عَنۡ أَبِي سُهَيۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ نَحۡوَ حَدِيثِ مَالِكٍ. غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَفۡلَحَ، وَأَبِيهِ، إِنۡ صَدَقَ). أَوۡ: (دَخَلَ الۡجَنَّةَ، وَأَبِيهِ، إِنۡ صَدَقَ).
Yahya bin Ayyub dan Qutaibah bin Sa’id semuanya telah menceritakan kepadaku dari Isma’il bin Ja’far, dari Abu Suhail, dari ayahnya, dari Thalhah bin ‘Ubaidullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hadis ini seperti hadis Malik. Hanya saja beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia beruntung—demi ayahnya—jika jujur.” Atau, “Dia akan masuk surga—demi ayahnya—jika dia jujur.”[1]

[1] Imam An-Nawawi rahimahullah berkata di dalam Syarh beliau (yang artinya), “Ucapan: Dia beruntung demi ayahnya; bukanlah sumpah. Itu hanyalah kalimat yang terucap karena kebiasaan orang-orang Arab menyisipkannya di dalam ucapan mereka tanpa dimaksudkan untuk sumpah yang sebenarnya. Adapun larangan bersumpah kepada selain Allah hanyalah ditujukan bagi siapa saja yang memaksudkan sumpah yang di dalamnya ada pengagungan yang disumpah dengannya dan penyerupaan dengan Allah subhanahu wa taala.” Beliau juga berkata, “Ada pula yang berpendapat bahwa mungkin kejadian ini sebelum ada larangan bersumpah dengan selain Allah taala. Wallahualam.”