Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4924

٣ – بَابٌ ﴿وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ﴾ ۝٣
3. Bab “Dan agungkanlah Tuhanmu”

٤٩٢٤ – حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الصَّمَدِ: حَدَّثَنَا حَرۡبٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى قَالَ: سَأَلۡتُ أَبَا سَلَمَةَ: أَيُّ القُرۡآنِ أُنۡزِلَ أَوَّلُ؟ فَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ﴾ فَقُلۡتُ: أُنۡبِئۡتُ أَنَّهُ: ﴿اقۡرَأۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾ [العلق: ١]. فَقَالَ أَبُو سَلَمَةَ: سَأَلۡتُ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ: أَيُّ القُرۡآنِ أُنۡزِلَ أَوَّلُ؟ فَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ﴾. فَقُلۡتُ: أُنۡبِئۡتُ أَنَّهُ: ﴿اقۡرَأۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ﴾. فَقَالَ: لَا أُخۡبِرُكَ إِلَّا بِمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (جَاوَرۡتُ فِي حِرَاءٍ، فَلَمَّا قَضَيۡتُ جِوَارِي هَبَطۡتُ، فَاسۡتَبۡطَنۡتُ الۡوَادِيَ، فَنُودِيتُ فَنَظَرۡتُ أَمَامِي وَخَلۡفِي، وَعَنۡ يَمِينِي وَعَنۡ شِمَالِي، فَإِذَا هُوَ جَالِسٌ عَلَى عَرۡشٍ بَيۡنَ السَّمَاءِ وَالۡأَرۡضِ، فَأَتَيۡتُ خَدِيجَةَ فَقُلۡتُ: دَثِّرُونِي، وَصُبُّوا عَلَيَّ مَاءً بَارِدًا، وَأُنۡزِلَ عَلَيَّ: ﴿يَا أَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ ۞ قُمۡ فَأَنۡذِرۡ ۞ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ﴾. [طرفه في: ٤].
4924. Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami: ‘Abdush Shamad menceritakan kepada kami: Harb menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku bertanya kepada Abu Salamah: Ayat Alquran yang mana yang pertama kali diturunkan? Beliau menjawab, “(Ayat yang artinya) Wahai orang yang berselimut.” Aku berkata: Aku diberitahu bahwa ayat yang pertama turun adalah (yang artinya), “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1). Abu Salamah berkata: Aku bertanya kepada Jabir bin ‘Abdullah: Ayat Alquran yang mana yang pertama kali diturunkan? Beliau menjawab, “(Ayat yang artinya) Wahai orang yang berselimut.” Aku berkata: Aku diberitahu bahwa ayat yang pertama turun adalah (yang artinya), “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu.” Lantas beliau berkata: Aku tidak mengabarkan kepadamu kecuali dengan yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tinggal di dalam gua Hira`, ketika aku selesai, aku turun. Ketika aku berada di dasar lembah, aku dipanggil. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, sebelah kanan, sebelah kiri, (tidak ada siapa-siapa) ternyata dia duduk di atas suatu singgasana di antara langit dan bumi. Lalu aku datang menemui Khadijah dan berkata: Selimuti aku dan tuangkan air dingin kepadaku. Turunlah ayat (yang artinya), “Wahai orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan; dan agungkanlah Tuhanmu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4923

٢ – بَابٌ قَوۡلُهُ: ﴿قُمۡ فَأَنۡذِرۡ﴾ ۝٢
2. Bab firman Allah (yang artinya), “Bangkitlah lalu berilah peringatan”

٤٩٢٣ – حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ وَغَيۡرُهُ قَالَا: حَدَّثَنَا حَرۡبُ بۡنُ شَدَّادٍ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبي كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (جَاوَرۡتُ بِحِرَاءٍ) مِثۡلَ حَدِيثِ عُثۡمَانَ بۡنِ عُمَرَ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ الۡمُبَارَكِ. [طرفه في: ٤].
4923. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrahman bin Mahdi dan selain beliau menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Harb bin Syaddad menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan, “Aku tinggal di gua Hira`.” Semisal hadis ‘Utsman bin ‘Umar dari ‘Ali bin Al-Mubarak.

Shahih Muslim hadits nomor 1472

٢ - بَابُ طَلَاقِ الثَّلَاثِ
2. Bab talak tiga sekaligus

١٥ - (١٤٧٢) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ - وَاللَّفۡظُ لِابۡنِ رَافِعٍ - .- قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ ابۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ -: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ ابۡنِ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ الطَّلَاقُ عَلَىٰ عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَأَبِي بَكۡرٍ وَسَنَتَيۡنِ مِنۡ خِلَافَةِ عُمَرَ، طَلَاقُ الثَّلَاثِ وَاحِدَةً. فَقَالَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ: إِنَّ النَّاسَ قَدِ اسۡتَعۡجَلُوا فِي أَمۡرٍ قَدۡ كَانَتۡ لَهُمۡ فِيهِ أَنَاةٌ، فَلَوۡ أَمۡضَيۡنَاهُ عَلَيۡهِمۡ، فَأَمۡضَاهُ عَلَيۡهِمۡ.
15. (1472). Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami. Lafal hadis ini milik Ibnu Rafi’. Ishaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami. Ibnu Rafi’ berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: Dahulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan dua tahun di awal kekhilafahan ‘Umar, talak tiga sekaligus dihitung satu talak. ‘Umar bin Al-Khaththab berkata: Sesungguhnya orang-orang telah meminta disegerakan pada suatu perkara yang sebenarnya mereka memiliki tempo padanya. Andai kita berlakukan hal itu (talak tiga sekaligus dihitung tiga) bagi mereka. Lalu beliau pun memberlakukannya kepada mereka.
١٦ - (...) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا رَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ رَافِعٍ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّ أَبَا الصَّهۡبَاءِ قَالَ لِابۡنِ عَبَّاسٍ: أَتَعۡلَمُ أَنَّمَا كَانَتِ الثَّلَاثُ تُجۡعَلُ وَاحِدَةً عَلَىٰ عَهۡدِ النَّبِيِّ ﷺ وَأَبِي بَكۡرٍ، وَثَلَاثًا مِنۡ إِمَارَةِ عُمَرَ؟ فَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: نَعَمۡ.
16. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Rauh bin ‘Ubadah mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Rafi’ telah menceritakan kepada kami—lafal hadis ini milik beliau—: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami: Ibnu Thawus mengabarkan kepadaku dari ayahnya, bahwa Abu Ash-Shahba` bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: Apakah engkau mengetahui bahwa dahulu talak tiga sekaligus hanya dihitung satu talak di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, sedangkan pada kepemimpinan ‘Umar dihitung tiga? Ibnu ‘Abbas menjawab: Iya.
١٧ - (...) - وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ، عَنۡ حَمَّادِ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنۡ أَيُّوبَ السَّخۡتِيَانِيِّ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ مَيۡسَرَةَ، عَنۡ طَاوُسٍ، أَنَّ أَبَا الصَّهۡبَاءِ قَالَ لِابۡنِ عَبَّاسٍ: هَاتِ مِنۡ هَنَاتِكَ، أَلَمۡ يَكُنِ الطَّلَاقُ الثَّلَاثُ عَلَىٰ عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَأَبِي بَكۡرٍ وَاحِدَةً؟ فَقَالَ: قَدۡ كَانَ ذٰلِكَ، فَلَمَّا كَانَ فِي عَهۡدِ عُمَرَ تَتَايَعَ النَّاسُ فِي الطَّلَاقِ، فَأَجَازَهُ عَلَيۡهِمۡ.
17. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Harb mengabarkan kepada kami dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub As-Sakhtiyani, dari Ibrahim bin Maisarah, dari Thawus, bahwa Abu Ash-Shahba` bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: Bawakanlah riwayat garibmu! Bukankah talak tiga sekaligus di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr dihitung satu talak? Beliau menjawab: Memang dahulu demikian, lalu ketika di masa ‘Umar, orang-orang sering dan terburu-buru mengucapkan cerai, maka beliau memberlakukannya (talak tiga sekaligus dihitung tiga) terhadap mereka.

Figur Keberanian Sang Kesatria

Berani berkata benar, berani mempertahankannya, dan berani menghadapi segala risiko yang menghadang, adalah sifat kesatria. Para pejuang yang gagah adalah pemberani dalam memeluk kebenaran. Lantang mengikrarkannya, tidak gentar terhadap musuh sekuat apapun. Mereka pun tidak akan goyah dengan tawaran dunia, ataupun rayuan cinta semu. Apalagi sekadar celaan atau gunjingan yang tidak langsung didengar.

Berani adalah sifat mulia lagi terpuji. Tentu maksudnya adalah berani yang terukur dengan barometer syariat. Berani yang terikat dengan kebenaran, bukan yang lainnya. Bukanlah berani, mereka yang lancang melanggar hukum Allah. Tidaklah disebut berani, mereka yang nekad menerjang batasan Allah. Karena hakikat keberanian mereka itu akan memgakibatkan kehancuran dan penyesalan yang tiada berakhir. Kalaupun hal itu disebut berani, maka berani yang tidak terpuji.

Berapa banyak manusia pemberani, namun pada perkara yang menyebabkan murka Allah. Salah kaprah dalam memaknai arti berani, latah dalam upaya membuktikan jati diri. Hanya untuk dikatakan berani oleh komunitasnya yang terbatas, akhirnya rela mengambil risiko kematian yang naas. Ngebut di jalan, menenggak narkoba, dan semacamnya. Ya, berani tanpa bimbingan syar’i hanya akan menjerumuskan pada kebinasaan diri.

Beranipun tidak identik dengan selalu garang. Berani pada tempatnya, santun dalam waktunya adalah sebuah hikmah bijak nan indah. Kenyataannya, tidak jarang orang yang sok berani atau tepatnya memaksakan diri untuk berani, kemudian kehilangan sifat lembutnya sama sekali. Mereka menerjemahkan berani sebagai sikap kaku tanpa kompromi. Sehingga keadaan seperti ini membentuk tabiat dan watak yang keras. Akhirnya, keluarga yang berhak mendapatkan kelembutan justru merasakan sikap arogan. Orang-orang lemah yang seharusnya mendapatkan pengayoman, justru seolah merasakan penindasan. Sekali lagi, berani harus terbingkai dalam tuntunan ilmu syar’i.

Keteladanan salaf dalam hal keberanian sangat melimpah. Bahkan seluruh kehidupan mereka penuh dengan nilai-nilai keberanian. Bisa jadi fisik mungkin lemah, namun jiwa mereka kuat. Kemampuan bisa jadi terbatas, namun mereka selalu bersandar kepada Dzat yang maha mampu atas segalanya. Itulah ilmu yang membuahkan iman. Keyakinan kokoh yang membuat tegap dan teguh dalam menghadang berbagai rintangan yang ingin menggeser keimanan. Inilah berani yang sesungguhnya.

Karena iman inilah, keberanian bukan hanya pada sebagian mereka. Bahkan hampir merata pada semua kalangan. Muda tua, laki-laki maupun wanita. Dalam lipatan kitab para ulama, termaktub biografi sosok wanita pemberani. Namanya begitu harum, terabadikan dalam berbagai karya fenomenal para ulama. Dalam kitab-kitab yang tersusun rapi, terjaga, dan tersimpan di perpustakaan kaum muslimin. Beliau adalah Fathimah bintu Al Khaththab radhiyallahu ‘anha, saudari manusia kedua dalam Islam ini setelah nabinya, Amirul Mukminin Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Fathimah bintu Al Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza Al Quraisyiah Al Adawiyah adalah nama lengkap beliau. Sebagian mengatakan bahwa nama beliau adalah Umayyah. Ada yang mengatakan bernama Ramlah. Namun, yang paling masyhur adalah Fathimah. Adapun kuniyah beliau adalah Ummu Jamil. Beliau dipersunting oleh seorang shahabat yang mulia, yaitu Said bin Zaid Al Qurasyi radhiyallahu ‘anhu. Dari pernikahan ini, terlahirlah seorang putra bernama Abdurrahman.

Sungguh rumah tangga penuh berkah. Betapa tidak, sang nakhoda adalah seorang shahabat agung yang termasuk sepuluh pemetik janji surga dari lisan mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak masih hidup. Seiya sekata dalam iman, merajut bahagia dalam kedamaian. Terbukti, beliau dan suami tercinta termasuk yang awal masuk Islam. Saat Islam dan pemeluknya mendapat berbagai tekanan dan siksaan dari kaum musyrikin. Namun, lihatlah keberanian yang berbalut iman! Semuanya terasa manis dan indah dalam keyakinan janji ilahi. Ya, inilah keimanan. Saudara! Cerminkanlah pada diri kita! Seberapa kesabaran kita saat didera ujian?! Kurang lebih seperti itulah kadar keimanan kita.

Pergi meninggalkan tanah kelahiran, menuju tempat asing jauh dari sanak keluarga, pekerjaan pun belum pasti, apalagi penghidupan yang layak. Itulah gambaran hijrah waktu itu. Beranikah Anda menerima tantangan ini? Bagi kita mungkin akan berfikir seribu kali untuk melakukannya. Bagaimana anak istri? Mau makan apa, nanti tinggal di mana? Dan berbagai pertimbangan dunia. Pertimbangan yang sejatinya menunjukkan kelemahan iman terhadap janji Allah dan Rasul-Nya. Namun lihat para shahabat! Mereka adalah orang yang bersegera mengamalkannya. Termasuk yang awal berhijrah adalah Fathimah dan suaminya. Padahal mereka juga punya sanak keluarga, mereka juga butuh makan dan tempat tinggal. Ya, keimananlah yang membuat mereka berani mempertaruhkan berbagai kemungkinan. Keimanan membuat mereka berani melawan berbagai risiko yang menghadang.

Anda pasti kenal Umar. Siapakah yang tidak mengenal sosok pemberani ini?! Dalam cuplikan kisah menakjubkan berikut, kita akan melihat bahwa Fathimah pun mampu melawan keberanian Umar. Karena keberanian Fathimah adalah keberanian dalam iman. Kisah itu dituturkan sendiri oleh Umar. Beliau mengatakan, “Tiga hari setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib, aku keluar rumah. Di jalan aku bertemu dengan seorang dari kabilah Makhzumi yang telah masuk Islam.” Orang itu satu kabilah dengan Umar. Umar melanjutkan, “Aku pun menegur orang tersebut. ‘Engkau telah keluar dari agama nenek moyang, dan mengikuti agama Muhammad?!’ Ia menjawab, ‘Apa yang telah aku lakukan ini, dilakukan pula oleh orang yang lebih besar haknya atasmu dari padaku.’ ‘Siapa dia?’ ‘Saudarimu dan suaminya.’ Demi mendengar hal itu, aku segera menuju rumah Fathimah. Sesampai di sana, ternyata pintu rumah dalam keadaan terkunci. Dari luar, aku mendengar sesuatu. Setelah pintu dibuka, aku masuk dan langsung bertanya, ‘Apa yang aku dengar tadi?’ Fathimah menjawab, ‘Engkau tidak mendengar sesuatupun.’ Aku memaksa bertanya lagi, namun Fathimah masih menutupi. Maka suara semakin meninggi. Maka aku pegang kepala Fathimah, kemudian aku pukul hingga berdarah.”

Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa Umar memegang dan memukul kepala iparnya, yaitu Said bin Zaid. Kemudian Fathimah bangkit dari belakang dan memegang Umar. Fathimah mengatakan, “Awas! Hal ini akan menjadi sebab kehinaanmu!” Umar kembali berkisah, “Aku pun merasa malu melihat darah itu.” Umar menyesal telah melukai saudara sendiri. Umar meminta lembaran yang sebelumnya dibaca Fathimah dan suaminya. Tertulis di sana surat Al Haqqah ayat 30 sampai 52. Maka itulah saat keimanan muncul dalam hati Umar.

Subhanallah, keberanian Fathimah adalah di antara sebab masuk Islamnya Umar. Dengan gagah, Fathimah tetap kokoh mempertahankan imannya. Bahkan dengan keberaniannya Fathimah mengingatkan Umar. Suaranya keras dan lantang, tangannya pun tidak tinggal diam. Tidak peduli dengan Umar yang sejak lama terkenal dengan sikap kerasnya. Memang dengan iman, yang lemah akan menjadi kuat. Yang sedih akan berbahagia. Yang tertindas pun menjadi mulia.

Diriwayatkan bahwa Fathimah bintu Al Khaththab radhiyallahu ‘anha pernah menyampaikan sebuah hadis yang beliau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Senantiasa umatku akan berada dalam kebaikan selama tidak tampak pada mereka cinta dunia pada ulama yang fasik, para pembaca Al Quran yang hakikatnya jahil, serta para penguasa yang lalim. Apabila hal ini muncul, aku khawatir Allah akan meratakan azab-Nya.”

Keberanian Fathimah bintu Al Khaththab radhiyallahu ‘anha adalah keteladanan dalam membela dan mewujudkan kebenaran. Tidak surut mundur walau berbagai halang rintang menghadang. Terbukti bahwa sifat lemah pada wanita bukanlah bermakna rela terhina. Keberadaan wanita di dalam rumah bukanlah maksudnya terkungkung dalam kebatilan. Namun, mereka harus memiliki jiwa pemberani dalam meraih kebenaran. Ya, berani yang terbimbing dengan ilmu dan iman. Allahu A’lam.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 52 vol.05 1439 H rubrik Niswah. Pemateri: Ustadz Abu Muhammad Farhan.

Shahih Muslim hadits nomor 1471

١ - بَابُ تَحۡرِيمِ طَلَاقِ الۡحَائِضِ بِغَيۡرِ رِضَاهَا وَأَنَّهُ لَوۡ خَالَفَ وَقَعَ الطَّلَاقُ وَيُؤۡمَرُ بِرَجۡعَتِهَا
1. Bab pengharaman menalak wanita haid tanpa ridanya dan bahwa andai ada yang menyelisihi, maka tetap jatuh talak dan ia diperintah untuk merujuknya

١ - (١٤٧١) - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ التَّمِيمِيُّ قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكِ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ فِي عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَسَأَلَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، ثُمَّ لۡيَتۡرُكۡهَا حَتَّى تَطۡهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطۡهُرَ، ثُمَّ إِنۡ شَاءَ أَمۡسَكَ بَعۡدُ، وَإِنۡ شَاءَ طَلَّقَ قَبۡلَ أَنۡ يَمَسَّ، فَتِلۡكَ الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنۡ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ).
[البخاري: كتاب الطلاق، باب قول الله تعالى: ﴿يا أيها النبي إذا طلقتم النساء...﴾، رقم: ٥٢٥١].
1. (1471). Yahya bin Yahya At-Tamimi telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku membaca di hadapan Malik bin Anas dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau menalak istrinya yang sedang haid di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ‘Umar bin Al-Khaththab bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkan dia agar merujuk istrinya. Kemudian dia biarkan istrinya sampai suci kemudian haid kemudian suci. Kemudian jika dia mau, dia pertahankan istrinya setelah itu, atau jika dia mau, dia cerai sebelum dia gauli. Itulah (waktu agar mereka bisa menghadapi) idah (yang wajar) yang Allah azza wajalla perintahkan jika istri hendak dicerai.”
(...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ وَقُتَيۡبَةُ وَابۡنُ رُمۡحٍ - وَاللَّفۡظُ لِيَحۡيَىٰ - .- قَالَ قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ بۡنُ سَعۡدٍ - عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَةً لَهُ وَهِيَ حَائِضٌ تَطۡلِيقَةً وَاحِدَةً، فَأَمَرَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يُرَاجِعَهَا ثُمَّ يُمۡسِكَهَا حَتَّىٰ تَطۡهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ عِنۡدَهُ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ، ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّى تَطۡهُرَ مِنۡ حَيۡضَتِهَا، فَإِنۡ أَرَادَ أَنۡ يُطَلِّقَهَا فَلۡيُطَلِّقۡهَا حِينَ تَطۡهُرُ مِنۡ قَبۡلِ أَنۡ يُجَامِعَهَا، فَتِلۡكَ الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ أَنۡ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ.
وَزَادَ ابۡنُ رُمۡحٍ فِي رِوَايَتِهِ: وَكَانَ عَبۡدُ اللهِ إِذَا سُئِلَ عَنۡ ذٰلِكَ، قَالَ لِأَحَدِهِمۡ: أَمَّا أَنۡتَ طَلَّقۡتَ امۡرَأَتَكَ مَرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَمَرَنِي بِهٰذَا، وَإِنۡ كُنۡتَ طَلَّقۡتَهَا ثَلَاثًا فَقَدۡ حَرُمَتۡ عَلَيۡكَ حَتَّىٰ تَنۡكِحَ زَوۡجًا غَيۡرَكَ، وَعَصَيۡتَ اللهَ فِيمَا أَمَرَكَ مِنۡ طَلَاقِ امۡرَأَتِكَ.
قَالَ مُسۡلِمٌ: جَوَّدَ اللَّيۡثُ فِي قَوۡلِهِ تَطۡلِيقَةً وَاحِدَةً.
[البخاري: كتاب الطلاق، باب: ﴿وبعولتهن أحق بردهن﴾، في العدة، رقم: ٥٣٣٢].
Yahya bin Yahya, Qutaibah, dan Ibnu Rumh telah menceritakan kepada kami—dan lafal hadis ini milik Yahya—. Qutaibah berkata: Laits menceritakan kepada kami. Dua orang lainnya berkata: Al-Laits bin Sa’d mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari ‘Abdullah, bahwa beliau menalak istrinya dalam keadaan sedang haid dengan satu talak. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya agar merujuk istrinya kemudian dia mempertahankannya sampai suci lalu haid sekali lagi di sisinya. Kemudian dia memberi tempo istrinya sampai suci dari haidnya. Lalu, jika dia ingin menalaknya, maka silakan ia menalaknya ketika suci sebelum ia menggaulinya. Itulah masa (wanita dapat menghadapi) idah (secara wajar) yang Allah perintahkan jika istri ingin ditalak.
Ibnu Rumh menambahkan di dalam riwayatnya: ‘Abdullah ketika ia ditanya tentang itu, beliau berkata kepada salah seorang mereka: Jika engkau menalak istrimu satu atau dua kali, maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku merujuknya. Namun, jika engkau telah menalaknya tiga kali, maka wanita itu haram bagimu sampai ia menikah dengan suami selainmu dan engkau bermaksiat kepada Allah dalam perkara perintah menalak istrimu.
Muslim berkata: Al-Laits memastikan ucapannya “satu talak”.
٢ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ قَالَ: طَلَّقۡتُ امۡرَأَتِي عَلَىٰ عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَهِيَ حَائِضٌ، فَذَكَرَ ذٰلِكَ عُمَرُ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، ثُمَّ لۡيَدَعۡهَا حَتَّىٰ تَطۡهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ، فَإِذَا طَهُرَتۡ فَلۡيُطَلِّقۡهَا قَبۡلَ أَنۡ يُجَامِعَهَا أَوۡ يُمۡسِكۡهَا، فَإِنَّهَا الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ أَنۡ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ).
قَالَ عُبَيۡدُ اللهِ: قُلۡتُ لِنَافِعٍ: مَا صَنَعَتِ التَّطۡلِيقَةُ؟ قَالَ: وَاحِدَةٌ اعۡتَدَّ بِهَا.
2. Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar. Beliau mengatakan: Aku menceraikan istriku di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang haid, lalu ‘Umar menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya kemudian membiarkannya sampai suci kemudian haid sekali lagi. Lalu jika wanita itu sudah suci, silakan dia menceraikannya sebelum menggaulinya atau mempertahankannya. Sesungguhnya itu adalah (waktu yang wajar menghadapi) idah yang diperintahkan Allah jika ingin menceraikan istri.”
‘Ubaidullah bertanya kepada Nafi’: Apa yang terjadi dengan ucapan talak dalam keadaan demikian? Beliau menjawab: Dihitung satu talak.
(...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَابۡنُ الۡمُثَنَّى قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ إِدۡرِيسَ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، نَحۡوَهُ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ قَوۡلَ عُبَيۡدِ اللهِ لِنَافِعٍ.
قَالَ ابۡنُ الۡمُثَنَّى فِي رِوَايَتِهِ: فَلۡيَرۡجِعۡهَا. وقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: فَلۡيُرَاجِعۡهَا.
Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Al-Mutsanna telah menceritakannya kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdullah bin Idris menceritakan kepada kami dari ‘Ubaidullah melalui sanad ini semisal hadis tersebut. Namun beliau tidak menyebutkan pertanyaan ‘Ubaidullah kepada Nafi’.
Ibnu Al-Mutsanna berkata di dalam riwayatnya: falyarji’ha. Abu Bakr berkata: falyuraji’ha.
٣ - (...) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ نَافِعٍ، أَنَّ ابۡنَ عُمَرَ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَسَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ، فَأَمَرَهُ أَنۡ يَرۡجِعَهَا ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّىٰ تَحِيضَ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ، ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّىٰ تَطۡهُرَ، ثُمَّ يُطَلِّقَهَا قَبۡلَ أَنۡ يَمَسَّهَا، فَتِلۡكَ الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ أَنۡ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ.
قَالَ: فَكَانَ ابۡنُ عُمَرَ إِذَا سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يُطَلِّقُ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ يَقُولُ: أَمَّا أَنۡتَ طَلَّقۡتَهَا وَاحِدَةً أَوِ اثۡنَتَيۡنِ، إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَمَرَهُ أَنۡ يَرۡجِعَهَا، ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّىٰ تَحِيضَ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ، ثُمَّ يُمۡهِلَهَا حَتَّى تَطۡهُرَ، ثُمَّ يُطَلِّقَهَا قَبۡلَ أَنۡ يَمَسَّهَا، وَأَمَّا أَنۡتَ طَلَّقۡتَهَا ثَلَاثًا فَقَدۡ عَصَيۡتَ رَبَّكَ فِيمَا أَمَرَكَ بِهِ مِنۡ طَلَاقِ امۡرَأَتِكَ، وَبَانَتۡ مِنۡكَ.
3. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Isma’il menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Nafi’, bahwa Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya ketika sedang haid. ‘Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memerintahkan agar merujuknya kemudian menangguhkannya sampai wanita itu haid sekali lagi, kemudian menangguhkannya sampai suci. Kemudian dia bisa menceraikannya sebelum menggaulinya. Itulah (waktu wanita dapat menghadapi) idah (secara wajar) yang diperintahkan oleh Allah apabila istri ingin dicerai.
Beliau berkata: Ibnu ‘Umar apabila ditanya tentang seseorang yang menceraikan istrinya ketika sedang haid, maka beliau mengatakan: Jika engkau menalaknya satu atau dua, maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar ia merujuknya, kemudian menangguhkannya sampai wanita itu haid sekali lagi, kemudian menangguhkannya sampai suci, kemudian dia bisa menceraikannya sebelum menggaulinya. Adapun jika engkau menalaknya yang ketiga, maka sungguh engkau bermaksiat kepada Tuhanmu dalam aturan menceraikan istrimu yang telah diperintahkan kepadamu, namun wanita itu tetap telah terpisah darimu.
٤ - (...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: أَخۡبَرَنِي يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ - وَهُوَ ابۡنُ أَخِي الزُّهۡرِيِّ - عَنۡ عَمِّهِ: أَخۡبَرَنَا سَالِمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ قَالَ: طَلَّقۡتُ امۡرَأَتِي وَهِيَ حَائِضٌ. فَذَكَرَ ذٰلِكَ عُمَرُ لِلنَّبِيِّ ﷺ. فَتَغَيَّظَ رَسُولُ اللهِ ﷺ ثُمَّ قَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا حَتَّىٰ تَحِيضَ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ مُسۡتَقۡبَلَةً، سِوَى حَيۡضَتِهَا الَّتِي طَلَّقَهَا فِيهَا، فَإِنۡ بَدَا لَهُ أَنۡ يُطَلِّقَهَا فَلۡيُطَلِّقۡهَا طَاهِرًا مِنۡ حَيۡضَتِهَا قَبۡلَ أَنۡ يَمَسَّهَا، فَذٰلِكَ الطَّلَاقُ لِلۡعِدَّةِ كَمَا أَمَرَ اللهُ).
وَكَانَ عَبۡدُ اللهِ طَلَّقَهَا تَطۡلِيقَةً وَاحِدَةً، فَحُسِبَتۡ مِنۡ طَلَاقِهَا، وَرَاجَعَهَا عَبۡدُ اللهِ كَمَا أَمَرَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ.
4. ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepadaku: Ya’qub bin Ibrahim mengabarkan kepadaku: Muhammad putra saudara Az-Zuhri menceritakan kepada kami dari pamannya: Salim bin ‘Abdullah mengabarkan kepada kami bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar mengatakan: Aku menceraikan istriku ketika sedang haid. Lalu ‘Umar menyebutkan kejadian itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam geram kemudian bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya sampai wanita itu haid sekali lagi berikutnya, bukan haid ketika dia menalaknya. Jika dia masih ingin menalaknya, maka dia bisa menalaknya ketika suci dari haidnya sebelum menggaulinya. Itu adalah talak pada (waktu wanita bisa menghadapi) idah (secara wajar) sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.”
‘Abdullah ketika itu baru menalak satu dan itu dihitung termasuk dari talaknya, lalu ‘Abdullah merujuknya sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
(...) - وَحَدَّثَنِيهِ إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: أَخۡبَرَنَا يَزِيدُ بۡنُ عَبۡدِ رَبِّهِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنِي الزُّبَيۡدِيُّ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ. غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ ابۡنُ عُمَرَ: فَرَاجَعۡتُهَا. وَحَسَبۡتُ لَهَا التَّطۡلِيقَةَ الَّتِي طَلَّقۡتُهَا.
Ishaq bin Manshur telah menceritakannya kepadaku: Yazid bin ‘Abdu Rabbih mengabarkan kepada kami: Muhammad bin Harb menceritakan kepada kami: Az-Zubaidi menceritakan kepadaku dari Az-Zuhri melalui sanad ini. Hanya saja beliau berkata: Ibnu ‘Umar mengatakan: Aku merujuknya dan aku menghitung satu talak yang aku ucapkan terhadapnya.
٥ - (...) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَابۡنُ نُمَيۡرٍ.- وَاللَّفۡظُ لِأَبِي بَكۡرٍ - قَالُوا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ - مَوۡلَىٰ آلِ طَلۡحَةَ - عَنۡ سَالِمٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ. فَذَكَرَ ذٰلِكَ عُمَرُ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، ثُمَّ لۡيُطَلِّقۡهَا طَاهِرًا أَوۡ حَامِلًا).
5. Abu Bakr bin Abu Syaibah, Zuhair bin Harb, dan Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami. Lafal hadis ini milik Abu Bakr. Mereka berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Muhammad bin ‘Abdurrahman—maula (bekas budak yang dimerdekakan) keluarga Thalhah—dari Salim, dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau menceraikan istrinya ketika sedang haid. Lalu ‘Umar menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya kemudian silakan ia menceraikannya ketika suci atau hamil.”
٦ - (...) - وَحَدَّثَنِي أَحۡمَدُ بۡنُ عُثۡمَانَ بۡنِ حَكِيمٍ الۡأَوۡدِيُّ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ مَخۡلَدٍ: حَدَّثَنِي سُلَيۡمَانُ - وَهُوَ ابۡنُ بِلَالٍ -: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ دِينَارٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَسَأَلَ عُمَرُ عَنۡ ذٰلِكَ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا حَتَّىٰ تَطۡهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ حَيۡضَةً أُخۡرَىٰ ثُمَّ تَطۡهُرَ، ثُمَّ يُطَلِّقُ بَعۡدُ، أَوۡ يُمۡسِكُ).
6. Ahmad bin ‘Utsman bin Hakim Al-Adawi telah menceritakan kepadaku: Khalid bin Makhlad menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Bilal menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin Dinar menceritakan kepadaku dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau menceraikan istrinya ketika sedang haid lalu ‘Umar menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya sampai wanita itu suci, kemudian haid sekali lagi, kemudian suci. Setelah itu dia bisa menalaknya atau mempertahankannya.”
٧ - (...) - وَحَدَّثَنِي عَلِيُّ بۡنُ حُجۡرٍ السَّعۡدِيُّ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنِ ابۡنِ سِيرِينَ قَالَ: مَكَثۡتُ عِشۡرِينَ سَنَةً يُحَدِّثُنِي مَنۡ لَا أَتَّهِمُ، أَنَّ ابۡنَ عُمَرَ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ ثَلَاثًا وَهِيَ حَائِضٌ، فَأُمِرَ أَنۡ يُرَاجِعَهَا، فَجَعَلۡتُ لَا أَتَّهِمُهُمۡ، وَلَا أَعۡرِفُ الۡحَدِيثَ، حَتَّىٰ لَقِيتُ أَبَا غَلَّابٍ، يُونُسَ بۡنَ جُبَيۡرٍ الۡبَاهِلِيَّ، وَكَانَ ذَا ثَبَتٍ، فَحَدَّثَنِي: أَنَّهُ سَأَلَ ابۡنَ عُمَرَ، فَحَدَّثَهُ: أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ تَطۡلِيقَةً وَهِيَ حَائِضٌ، فَأُمِرَ أَنۡ يَرۡجِعَهَا.
قَالَ: قُلۡتُ: أَفَحُسِبَتۡ عَلَيۡهِ؟ قَالَ: فَمَهۡ، أَوَ إِنۡ عَجَزَ وَاسۡتَحۡمَقَ؟
[البخاري: كتاب الطلاق، باب إذا طلقت الحائض تعتد بذلك الطلاق، رقم: ٥٢٥٢].
7. ‘Ali bin Hujr As-Sa’di telah menceritakan kepadaku: Isma’il bin Ibrahim menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Ibnu Sirin. Beliau berkata: Seseorang yang tidak aku ragukan (periwayatannya) selama dua puluh tahun menceritakan kepadaku bahwa Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya tiga kali, lalu beliau diperintahkan agar merujuknya. Aku tidak meragukannya, namun aku tidak mengenali hadis itu sampai aku berjumpa dengan Abu Ghallan Yunus bin Jubair Al-Bahili—beliau orang yang memiliki kekuatan hafalan—lalu beliau menceritakan kepadaku: Bahwa beliau bertanya Ibnu ‘Umar, lalu beliau menceritakan kepadanya: Bahwa beliau menceraikan istrinya satu kali talak ketika sedang haid, lalu beliau diperintahkan untuk merujuknya.
Beliau berkata: Aku bertanya: Apakah talak itu dihitung? Beliau menjawab: Mengapa tidak? Walaupun si penalak itu tidak mampu (merujuk) dan bodoh.
(...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو الرَّبِيعِ وَقُتَيۡبَةُ قَالَا: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنۡ أَيُّوبَ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، نَحۡوَهُ، غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: فَسَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ، فَأَمَرَهُ.
Abu Ar-Rabi’ dan Qutaibah telah menceritakannya kepada kami. Keduanya berkata: Hammad menceritakan kepada kami dari Ayyub melalui sanad ini semisal hadis tersebut. Hanya saja beliau berkata: ‘Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memerintahkannya.
٨ - (...) - وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ بۡنُ عَبۡدِ الصَّمَدِ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ جَدِّي، عَنۡ أَيُّوبَ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، وَقَالَ فِي الۡحَدِيثِ: فَسَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ؟ فَأَمَرَهُ أَنۡ يُرَاجِعَهَا حَتَّىٰ يُطَلِّقَهَا طَاهِرًا مِنۡ غَيۡرِ جِمَاعٍ، وَقَالَ: (يُطَلِّقُهَا فِي قُبُلِ عِدَّتِهَا).
8. ‘Abdul Warits bin ‘Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku, dari Ayyub melalui sanad ini. Beliau berkata di dalam hadis ini: ‘Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Lalu Nabi memerintahkannya agar merujuknya sampai dia menceraikannya dalam keadaan suci sebelum digauli. Dan beliau bersabda, “Dia menceraikannya di awal waktu idahnya.”
٩ - (...) - وَحَدَّثَنِي يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ الدَّوۡرَقِيُّ، عَنِ ابۡنِ عُلَيَّةَ، عَنۡ يُونُسَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ سِيرِينَ، عَنۡ يُونُسَ بۡنِ جُبَيۡرٍ قَالَ: قُلۡتُ لِابۡنِ عُمَرَ: رَجُلٌ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ. فَقَالَ: أَتَعۡرِفُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ؟ فَإِنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَأَتَىٰ عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ فَسَأَلَهُ؟ فَأَمَرَهُ أَنۡ يَرۡجِعَهَا، ثُمَّ تَسۡتَقۡبِلَ عِدَّتَهَا.
قَالَ: فَقُلۡتُ لَهُ: إِذَا طَلَّقَ الرَّجُلُ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، أَتَعۡتَدُّ بِتِلۡكَ التَّطۡلِيقَةِ؟ فَقَالَ: فَمَهۡ، أَوَ إِنۡ عَجَزَ وَاسۡتَحۡمَقَ؟.
9. Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi telah menceritakan kepadaku dari Ibnu ‘Ulayyah, dari Yunus, dari Muhammad bin Sirin, dari Yunus bin Jubair. Beliau berkata: Aku berkata kepada Ibnu ‘Umar: Ada seorang lelaki yang menceraikan istrinya ketika sedang haid. Beliau berkata: Apakah engkau mengenal ‘Abdullah bin ‘Umar? Sesungguhnya dia menceraikan istrinya ketika sedang haid, lalu ‘Umar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya kepada beliau. Lalu Nabi memerintahkan Ibnu ‘Umar agar merujuknya kemudian dia jika dia ingin menceraikannya, maka dia ceraikan di waktu dia dapat menghadapi idahnya (secara wajar).
Beliau berkata: Lalu aku bertanya kepadanya: Jika seseorang menceraikan istrinya ketika sedang haid, apakah talak itu dihitung? Beliau menjawab: Mengapa tidak? Meskipun si pelaku tidak mampu (merujuk) dan berbuat bodoh.
١٠ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ. قَالَ ابۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ يُونُسَ بۡنَ جُبَيۡرٍ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ يَقُولُ: طَلَّقۡتُ امۡرَأَتِي وَهِيَ حَائِضٌ، فَأَتَىٰ عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ، فَذَكَرَ ذٰلِكَ لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لِيُرَاجِعۡهَا، فَإِذَا طَهَرَتۡ، فَإِنۡ شَاءَ فَلۡيُطَلِّقۡهَا).
قَالَ: فَقُلۡتُ لِابۡنِ عُمَرَ: أَفَاحۡتَسَبۡتَ بِهَا؟ قَالَ: مَا يَمۡنَعُهُ، أَرَأَيۡتَ إِنۡ عَجَزَ وَاسۡتَحۡمَقَ؟
10. Muhammad bin Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Ibnu Al-Mutsanna berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah. Beliau berkata: Aku mendengar Yunus bin Jubair berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Umar mengatakan: Aku menceraikan istriku ketika sedang haid. Lalu ‘Umar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebutkan kejadian itu kepada beliau. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia rujuk wanita itu, lalu jika telah suci, maka jika ia mau, silakan menceraikannya.”
Beliau berkata: Aku bertanya kepada Ibnu ‘Umar: Apakah engkau menghitung talak itu? Beliau menjawab: Apa yang menghalanginya? Apa pendapatmu jika dia tidak mampu atau berbuat bodoh? (Talak tetap jatuh).
١١ - (...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا خَالِدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ سِيرِينَ قَالَ: سَأَلۡتُ ابۡنَ عُمَرَ عَنِ امۡرَأَتِهِ الَّتِي طَلَّقَ؟ فَقَالَ: طَلَّقۡتُهَا وَهِيَ حَائِضٌ، فَذُكِرَ ذٰلِكَ لِعُمَرَ، فَذَكَرَهُ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، فَإِذَا طَهَرَتۡ فَلۡيُطَلِّقۡهَا لِطُهۡرِهَا) قَالَ: فَرَاجَعۡتُهَا ثُمَّ طَلَّقۡتُهَا لِطُهۡرِهَا.
قُلۡتُ: فَاعۡتَدَدۡتَ بِتِلۡكَ التَّطۡلِيقَةِ الَّتِي طَلَّقۡتَ وَهِيَ حَائِضٌ؟ قَالَ: مَا لِيَ لَا أَعۡتَدُّ بِهَا؟ وَإِنۡ كُنۡتُ عَجَزۡتُ وَاسۡتَحۡمَقۡتُ؟
[البخاري: كتاب الطلاق، باب إذا طلقت الحائض تعتد بذلك الطلاق، رقم: ٥٢٥٣].
11. Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Khalid bin ‘Abdullah mengabarkan kepada kami dari ‘Abdul Malik, dari Anas bin Sirin. Beliau berkata: Aku bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang istrinya yang telah dia cerai. Beliau mengatakan: Aku menceraikannya ketika sedang haid. Lalu kejadian itu disebutkan kepada ‘Umar, kemudian ‘Umar menyebutkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya. Jika dia sudah suci, maka dia boleh menceraikannya dalam masa sucinya.”
Aku berkata: Apakah engkau menghitung talak yang engkau ucapkan ketika dia sedang haid itu? Beliau menjawab: Kenapa aku tidak menghitungnya? Walaupun aku tidak mampu dan berbuat bodoh.
١٢ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ. قَالَ ابۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ سِيرِينَ، أَنَّهُ سَمِعَ ابۡنَ عُمَرَ قَالَ: طَلَّقۡتُ امۡرَأَتِي وَهِيَ حَائِضٌ، فَأَتَى عُمَرُ النَّبِيَّ ﷺ فَأَخۡبَرَهُ، فَقَالَ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، ثُمَّ إِذَا طَهَرَتۡ فَلۡيُطَلِّقۡهَا).
قُلۡتُ لِابۡنِ عُمَرَ: أَفَاحۡتَسَبۡتَ بِتِلۡكَ التَّطۡلِيقَةِ؟ قَالَ: فَمَهۡ.
12. Muhammad bin Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Ibnu Al-Mutsanna berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Anas bin Sirin, bahwa beliau mendengar Ibnu ‘Umar mengatakan: Aku menceraikan istriku ketika sedang haid. Lalu ‘Umar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabari beliau. Lalu beliau bersabda, “Perintahkan dia agar merujuknya kemudian jika dia sudah suci, dia boleh menceraikannya.”
Aku bertanya kepada Ibnu ‘Umar: Apakah engkau menghitung talak itu? Beliau menjawab: Mengapa tidak?
(...) - وَحَدَّثَنِيهِ يَحۡيَى بۡنُ حَبِيبٍ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ الۡحَارِثِ. (ح) وَحَدَّثَنِيهِ عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ بِشۡرٍ: حَدَّثَنَا بَهۡزٌ. قَالَا: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. غَيۡرَ أَنَّ فِي حَدِيثِهِمَا (لِيَرۡجِعۡهَا). وَفِي حَدِيثِهِمَا: قَالَ: قُلۡتُ لَهُ: أَتَحۡتَسِبُ بِهَا؟ قَالَ: فَمَهۡ.
Yahya bin Habib telah menceritakannya kepadaku: Khalid bin Al-Harits menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) ‘Abdurrahman bin Bisyr telah menceritakanya kepadaku: Bahz menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami melalui sanad ini. Hanya saja di dalam hadis keduanya “liyarji’ha”. Dan di dalam hadis keduanya: Beliau berkata: Aku bertanya kepadanya: Apakah engkau menghitungnya? Beliau menjawab: Mengapa tidak?
١٣ - (...) - وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّهُ سَمِعَ ابۡنَ عُمَرَ يُسۡأَلُ عَنۡ رَجُلٍ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ حَائِضًا؟ فَقَالَ: أَتَعۡرِفُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: فَإِنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ حَائِضًا، فَذَهَبَ عُمَرُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَأَخۡبَرَهُ الۡخَبَرَ، فَأَمَرَهُ أَنۡ يُرَاجِعَهَا.
قَالَ: لَمۡ أَسۡمَعۡهُ يَزِيدُ عَلَىٰ ذٰلِكَ (لِأَبِيهِ).
13. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami: Ibnu Thawus mengabarkan kepadaku dari ayahnya, bahwa beliau mendengar Ibnu ‘Umar ditanya tentang seorang pria yang menceraikan istrinya ketika sedang haid. Beliau berkata: Apakah engkau mengenal ‘Abdullah bin ‘Umar? Si penanya berkata: Iya. Beliau mengatakan: Sesungguhnya dia pernah menceraikan istrinya yang sedang haid, lalu ‘Umar pergi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengabari beliau hal itu. Maka Nabi memerintahkan Ibnu ‘Umar agar merujuknya.
Ibnu Thawus berkata: Aku tidak mendengar beliau menambah lebih daripada riwayat itu. Yakni ayahnya.
١٤ - (...) - وَحَدَّثَنِي هَارُونُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بۡنُ مُحَمَّدٍ. قَالَ: قَالَ ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي أَبُو الزُّبَيۡرِ؛ أَنَّهُ سَمِعَ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ أَيۡمَنَ - مَوۡلَىٰ عَزَّةَ - يَسۡأَلُ ابۡنَ عُمَرَ، وَأَبُو الزُّبَيۡرِ يَسۡمَعُ ذٰلِكَ: كَيۡفَ تَرَىٰ فِي رَجُلٍ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ حَائِضًا؟ فَقَالَ: طَلَّقَ ابۡنُ عُمَرَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ عَلَىٰ عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَسَأَلَ عُمَرُ رَسُولَ اللهِ ﷺ؟ فَقَالَ: إِنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (لِيُرَاجِعۡهَا) فَرَدَّهَا. وَقَالَ: (إِذَا طَهَرَتۡ فَلۡيُطَلِّقۡ أَوۡ لِيُمۡسِكۡ).
قَالَ ابۡنُ عُمَرَ: وَقَرَأَ النَّبِيُّ ﷺ: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقۡتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ فِي قُبُلِ عِدَّتِهِنَّ.
14. Harun bin ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku: Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibnu Juraij berkata: Abu Az-Zubair mengabarkan kepadaku; Bahwa beliau mendengar ‘Abdurrahman bin Aiman—maula ‘Azzah—bertanya kepada Ibnu ‘Umar sementara Abu Az-Zubair mendengarnya: Bagaimana pendapatmu tentang seorang pria yang menceraikan istrinya yang sedang haid? Beliau menjawab: Ibnu ‘Umar pernah menceraikan istrinya yang sedang haid di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ‘Umar bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Sesungguhnya ‘Abdullah bin ‘Umar telah menceraikan istrinya yang sedang haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia harus merujuknya kembali.” Lalu beliau mengembalikannya. Dan beliau bersabda, “Jika wanita itu sudah suci, silakan dia cerai atau dia pertahankan.”
Ibnu ‘Umar mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (yang artinya), “Wahai sekalian nabi, jika kalian hendak menceraikan istri, maka ceraikanlah mereka di permulaan (waktu mereka dapat menghadapi) idah mereka (secara wajar).” 
(...) - وَحَدَّثَنِي هَارُونُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنۡ أَبِي الزُّبَيۡرِ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ. نَحۡوَ هٰذِهِ الۡقِصَّةِ.
Harun bin ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku: Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Abu Az-Zubaid, dari Ibnu ‘Umar. Seperti kisah ini.
(...) - وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي أَبُو الزُّبَيۡرِ، أَنَّهُ سَمِعَ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ أَيۡمَنَ - مَوۡلَىٰ عُرۡوَةَ - يَسۡأَلُ ابۡنَ عُمَرَ، وَأَبُو الزُّبَيۡرِ يَسۡمَعُ. بِمِثۡلِ حَدِيثِ حَجَّاجٍ، وَفِيهِ بَعۡضُ الزِّيَادَةِ.
قَالَ مُسۡلِمٌ: أَخۡطَأَ حَيۡثُ قَالَ: عُرۡوَةَ: إِنَّمَا هُوَ مَوۡلَىٰ عَزَّةَ.
Muhammad bin Rafi’ telah menceritakannya kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami: Abu Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa beliau mendengar ‘Abdurrahman bin Aiman—maula ‘Urwah—bertanya kepada Ibnu ‘Umar, sementara Abu Az-Zubair mendengar, semisal hadis Hajjaj. Di dalamnya ada sebagian tambahan.
Muslim berkata: Beliau keliru ketika berkata: ‘Urwah; sesungguhnya dia adalah maula ‘Azzah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6982

١ - بَابٌ أَوَّلُ مَا بُدِىءَ بِهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنَ الۡوَحۡيِ الرُّؤۡيَا الصَّالِحَةُ
1. Bab awal mula wahyu yang turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar

٦٩٨٢ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ. وَحَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: حَدَّثَنَا مَعۡمَرٌ: قَالَ الزُّهۡرِيُّ: فَأَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا أَنَّهَا قَالَتۡ:
6982. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab. (Dalam riwayat lain) ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar menceritakan kepada kami: Az-Zuhri berkata: ‘Urwah mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau mengatakan:
أَوَّلُ مَا بُدِىءَ بِهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنَ الۡوَحۡيِ الرُّؤۡيَا الصَّادِقَةُ فِي النَّوۡمِ، فَكَانَ لَا يَرَى رُؤۡيَا إِلَّا جَاءَتۡ مِثۡلَ فَلَقِ الصُّبۡحِ، فَكَانَ يَأۡتِي حِرَاءً فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ - وَهُوَ التَّعَبُّدُ - اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الۡعَدَدِ، وَيَتَزَوَّدُ لِذٰلِكَ، ثُمَّ يَرۡجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَتُزَوِّدُهُ لِمِثۡلِهَا، حَتَّى فَجِئَهُ الۡحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ، فَجَاءَهُ الۡمَلَكُ فِيهِ، فَقَالَ: اقۡرَأۡ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (فَقُلۡتُ: مَا أَنَا بِقَارِىءٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الۡجَهۡدُ، ثُمَّ أَرۡسَلَنِي فَقَالَ: اقۡرَأۡ، فَقُلۡتُ: مَا أَنَا بِقَارِىءٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الۡجَهۡدُ، ثُمَّ أَرۡسَلَنِي فَقَالَ: اقۡرَأۡ، فَقُلۡتُ: مَا أَنَا بِقَارِىءٍ، فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الۡجَهۡدُ، ثُمَّ أَرۡسَلَنِي فَقَالَ: ﴿اقۡرَأۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾ حَتَّى بَلَغَ: ﴿مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ﴾) [العلق: ١-٥].
Wahyu yang pertama-tama turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar ketika tidur. Beliau tidak melihat mimpi kecuali mimpi itu datang seperti cahaya subuh. Dahulu, beliau biasa datang ke gua Hira`, lalu beribadah menyendiri di sana selama beberapa malam. Beliau membawa bekal untuk itu. Kemudian beliau kembali kepada Khadijah, lalu Khadijah membekalinya semisal bekal sebelumnya. Sampai tiba-tiba kebenaran itu datang ketika beliau sedang berada di dalam gua Hira`. Malaikat datang kepada beliau di dalam gua itu lalu berkata, “Bacalah!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Aku tidak bisa membaca. Lalu ia menarik dan mendekapku sampai aku kepayahan, kemudian dia melepaskanku dan berkata: Bacalah! Aku katakan: Aku tidak bisa membaca. Lalu dia menarik dan mendekapku yang kedua kalinya sampai aku kepayahan, kemudian dia melepaskanku dan berkata: Bacalah! Aku katakan: Aku tidak bisa membaca. Lalu dia mendekapku yang ketiga kalinya sampai aku kepayahan, kemudian dia melepaskanku dan berkata (yang artinya): Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan; sampai ayat: Apa yang tidak ia ketahui.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
فَرَجَعَ بِهَا تَرۡجُفُ بَوَادِرُهُ، حَتَّى دَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ، فَقَالَ: (زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي). فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنۡهُ الرَّوۡعُ، فَقَالَ (يَا خَدِيجَةُ، مَا لِي). وَأَخۡبَرَهَا الۡخَبَرَ، وَقَالَ: (قَدۡ خَشِيتُ عَلَى نَفۡسِي). فَقَالَتۡ لَهُ: كَلَّا، أَبۡشِرۡ، فَوَاللّٰهِ لَا يُخۡزِيكَ اللهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَصۡدُقُ الۡحَدِيثَ، وَتَحۡمِلُ الۡكَلَّ، وَتَقۡرِي الضَّيۡفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الۡحَقِّ.
Nabi pun kembali kepada Khadijah dalam keadaan tengkuk beliau bergoncang sampai masuk bertemu Khadijah, lalu berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Mereka menyelimuti beliau sampai rasa takut beliau hilang. Nabi bertanya, “Wahai Khadijah, ada apa denganku?” Lalu beliau mengabari peristiwa tadi kepada Khadijah dan berkata, “Aku mengkhawatirkan diriku.” Khadijah berkata kepada beliau, “Sekali-kali tidak. Bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau menyambung silaturahmi, berucap jujur, membantu menanggung beban, menjamu tamu, dan memberi bantuan ketika ada peristiwa-peristiwa kebenaran.”
ثُمَّ انۡطَلَقَتۡ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتۡ بِهِ وَرَقَةَ بۡنَ نَوۡفَلِ بۡنِ أَسَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّى بۡنِ قُصَيٍّ، وَهُوَ ابۡنُ عَمِّ خَدِيجَةَ أَخُو أَبِيهَا، وَكَانَ امۡرَأً تَنَصَّرَ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ يَكۡتُبُ الۡكِتَابَ الۡعَرَبِيَّ، فَيَكۡتُبُ بِالۡعَرَبِيَّةِ مِنَ الۡإِنۡجِيلِ، مَا شَاءَ اللهُ أَنۡ يَكۡتُبَ، وَكَانَ شَيۡخًا كَبِيرًا قَدۡ عَمِيَ، فَقَالَتۡ لَهُ خَدِيجَةُ: أَيِ ابۡنَ عَمِّ، اسۡمَعۡ مِنَ ابۡنِ أَخِيكَ، فَقَالَ وَرَقَةُ: ابۡنَ أَخِي مَاذَا تَرَى؟ فَأَخۡبَرَهُ النَّبِيُّ ﷺ مَا رَأَى، فَقَالَ وَرَقَةُ: هَٰذَا النَّامُوسُ الَّذِي أُنۡزِلَ عَلَى مُوسَى، يَا لَيۡتَنِي فِيهَا جَذَعًا، أَكُونُ حَيًّا حِينَ يُخۡرِجُكَ قَوۡمُكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَوَمُخۡرِجِيَّ هُمۡ؟). فَقَالَ وَرَقَةُ: نَعَمۡ، لَمۡ يَأۡتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمَا جِئۡتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ، وَإِنۡ يُدۡرِكۡنِي يَوۡمُكَ أَنۡصُرۡكَ نَصۡرًا مُؤَزَّرًا.
Kemudian Khadijah pergi bersama beliau sampai datang kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushayy. Dia adalah putra paman (saudara ayah) Khadijah dan beliau beragama Nasrani di masa jahiliah. Dia biasa menulis kitab berbahasa Arab, lalu menulis Injil dalam bahasa Arab, sekehendak Allah. Dia adalah seorang yang sudah tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai putra saudaraku, dengarkan cerita dari putra saudaramu.” Waraqah berkata, “Wahai putra saudaraku, apa yang engkau lihat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan apa yang beliau lihat. Waraqah berkata, “Ini adalah Namus yang dahulu turun kepada Musa. Duhai, andai aku masih muda dan aku masih hidup ketika kaummu akan mengusirmu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Iya. Tidak pernah seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa kecuali pasti akan dimusuhi. Jika aku masih mendapati harimu itu, aku akan menolongmu sekuat tenaga.”
ثُمَّ لَمۡ يَنۡشَبۡ وَرَقَةُ أَنۡ تُوُفِّيَ، وَفَتَرَ الۡوَحۡيُ فَتۡرَةً حَتَّى حَزِنَ النَّبِيُّ ﷺ، فِيمَا بَلَغَنَا، حُزۡنًا غَدَا مِنۡهُ مِرَارًا كَيۡ يَتَرَدَّى مِنۡ رُءُوسِ شَوَاهِقِ الۡجِبَالِ، فَكُلَّمَا أَوۡفَى بِذِرۡوَةِ جَبَلٍ لِكَيۡ يُلۡقِيَ مِنۡهُ نَفۡسَهُ، تَبَدَّى لَهُ جِبۡرِيلُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّكَ رَسُولُ اللهِ حَقًّا. فَيَسۡكُنُ لِذٰلِكَ جَأۡشُهُ، وَتَقِرُّ نَفۡسُهُ، فَيَرۡجِعُ، فَإِذَا طَالَتۡ عَلَيۡهِ فَتۡرَةُ الۡوَحۡيِ غَدَا لِمِثۡلِ ذٰلِكَ، فَإِذَا أَوۡفَى بِذِرۡوَةِ جَبَلٍ تَبَدَّى لَهُ جِبۡرِيلُ فَقَالَ لَهُ مِثۡلَ ذٰلِكَ.
Tidak lama kemudian, Waraqah wafat. Wahyu berhenti turun sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa sedih—dalam riwayat yang sampai kepada kami—dengan kesedihan yang sangat, sehingga saking sedihnya beliau selama beberapa kali pergi di pagi hari untuk menjatuhkan diri dari puncak gunung yang tinggi. Setiap kali beliau naik ke puncak gunung untuk menjatuhkan diri beliau darinya, Jibril menampakkan diri kepada beliau seraya berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah benar-benar seorang utusan Allah.” Dengan sebab itu meredalah kegalauan beliau dan hatinya tenang, sehingga beliau kembali pulang. Ketika wahyu lama tidak kunjung turun, maka beliau kembali berangkat di pagi hari untuk tujuan semisal itu, sehingga ketika beliau sampai di puncak gunung, Jibril menampakkan dirinya kepada beliau, lalu berkata semisal itu.
قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿فَالِقُ الۡإِصۡبَاحِ﴾ [الأنعَام: ٩٦]: ضَوۡءُ الشَّمۡسِ بِالنَّهَارِ، وَضَوۡءُ الۡقَمَرِ بِاللَّيۡلِ. [طرفه في: ٣].
Ibnu ‘Abbas berkata, “Faaliqul ishbah (Dia menyingsingkan pagi).” (QS. Al-An’am): (al-ishbah) adalah cahaya matahari di siang hari dan cahaya bulan di malam hari.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4957

٤ – بَابٌ ﴿الَّذِي عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ﴾ ۝٤
4. Bab “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam”

٤٩٥٧ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: سَمِعۡتُ عُرۡوَةَ: قَالَتۡ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: فَرَجَعَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى خَدِيجَةَ، فَقَالَ: (زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي). فَذَكَرَ الۡحَدِيثَ. [طرفه في: ٣].
4957. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: Aku mendengar ‘Urwah: ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali kepada Khadijah, lalu mengatakan, “Selimuti aku, selimuti aku.” Lalu beliau menyebutkan hadis tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4956

٣ - بَابٌ قَوۡلُهُ: ﴿اقۡرَأۡ وَرَبُّكَ الۡأَكۡرَمُ﴾ ۝٣
3. Bab firman Allah (yang artinya), “Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah”

٤٩٥٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ (ح). وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي عُقَيۡلٌ: قَالَ مُحَمَّدٌ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَوَّلُ مَا بُدِىءَ بِهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ الرُّؤۡيَا الصَّادِقَةُ، جَاءَهُ الۡمَلَكُ فَقَالَ: ﴿اقۡرَأۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۞ خَلَقَ الۡإِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ ۞ اقۡرَأۡ وَرَبُّكَ الۡأَكۡرَمُ ۞ الَّذِي عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ﴾ [١-٤]. [طرفه في: ٣].
4956. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. (Dalam riwayat lain) Al-Laits berkata: ‘Uqail menceritakan kepadaku: Muhammad berkata: ‘Urwah mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Wahyu pertama yang mula-mula turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar, kemudian malaikat datang kepada beliau dan mengatakan (ayat yang artinya), “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.” (QS. Al-‘Alaq: 1-4).

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4955

٢ - بَابٌ قَوۡلُهُ: ﴿خَلَقَ الۡإِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ﴾ ۝٢
2. Bab firman Allah, “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”

٤٩٥٥ - حَدَّثَنَا ابۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، قَالَتۡ: أَوَّلُ مَا بُدِىءَ بِهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ الرُّؤۡيَا الصَّالِحَةُ، فَجَاءَهُ الۡمَلَكُ، فَقَالَ: ﴿اقۡرَأۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۞ خَلَقَ الۡإِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ ۞ اقۡرَأۡ وَرَبُّكَ الۡأَكۡرَمُ﴾. [طرفه في: ٣].
4955. Ibnu Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah, bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Wahyu yang awal kali turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar. Lalu malaikat datang kepada beliau seraya mengucapkan (ayat yang artinya), “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3215

٣٢١٥ - حَدَّثَنَا فَرۡوَةُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُسۡهِرٍ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ الۡحَارِثَ بۡنَ هِشَامٍ سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ: كَيۡفَ يَأۡتِيكَ الۡوَحۡيُ؟ قَالَ: (كُلُّ ذَاكَ، يَأۡتِي الۡمَلَكُ أَحۡيَانًا فِي مِثۡلِ صَلۡصَلَةِ الۡجَرَسِ، فَيَفۡصِمُ عَنِّي وَقَدۡ وَعَيۡتُ مَا قَالَ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، وَيَتَمَثَّلُ لِيَ الۡمَلَكُ أَحۡيَانًا رَجُلًا، فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ). [طرفه في: ٢].
3215. Farwah telah menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Bahwa Al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana wahyu turun kepada engkau?” Nabi bersabda, “Setiap kali wahyu turun, malaikat itu datang, kadang-kadang dengan seperti suara dentang lonceng, ketika telah selesai, ternyata aku sudah memahami dan menghafal apa yang malaikat itu katakan. Dan ini adalah yang paling berat bagiku. Kadang-kadang malaikat itu menjelma seorang pria, lalu dia berbicara kepadaku, lalu aku memahami dan menghafal apa yang ia ucapkan.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7

٦ – بَابٌ
6. Bab

٧ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ الۡحَكَمُ بۡنُ نَافِعٍ قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ بۡنِ مَسۡعُودٍ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ أَبَا سُفۡيَانَ بۡنَ حَرۡبٍ أَخۡبَرَهُ:
7. Abu Al-Yaman Al-Hakam bin Nafi’ telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud mengabarkan kepadaku: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Abbas mengabarkan kepadanya: Bahwa Abu Sufyan bin Harb mengabarkan kepadanya:
أَنَّ هِرَقۡلَ أَرۡسَلَ إِلَيۡهِ فِي رَكۡبٍ مِنۡ قُرَيۡشٍ، وَكَانُوا تُجَّارًا بِالشَّأۡمِ فِي الۡمُدَّةِ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَادَّ فِيهَا أَبَا سُفۡيَانَ وَكُفَّارَ قُرَيۡشٍ، فَأَتَوۡهُ وَهُمۡ بِإِيلِيَاءَ، فَدَعَاهُمۡ فِي مَجۡلِسِهِ، وَحَوۡلَهُ عُظَمَاءُ الرُّومِ، ثُمَّ دَعَاهُمۡ وَدَعَا بِتَرۡجُمَانِهِ،
Bahwa Hiraql (Heraklius) mengirim utusan kepada Abu Sufyan dalam rombongan dagang dari Quraisy. Mereka adalah para pedagang menuju Syam di masa gencatan senjata yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy (pada perjanjian Hudaibiyah). Utusan itu meminta agar rombongan Abu Sufyan datang kepada Heraklius ketika mereka berada di Iliya`. Heraklius memanggil mereka di majelisnya dan di sekitarnya ada para pembesar Romawi. Dia memanggil mereka dan penerjemahnya.
فَقَالَ: أَيُّكُمۡ أَقۡرَبُ نَسَبًا بِهَٰذَا الرَّجُلِ الَّذِي يَزۡعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ؟ فَقَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: فَقُلۡتُ: أَنَا أَقۡرَبُهُمۡ نَسَبًا، فَقَالَ: أَدۡنُوهُ مِنِّي، وَقَرِّبُوا أَصۡحَابَهُ، فَاجۡعَلُوهُمۡ عِنۡدَ ظَهۡرِهِ، ثُمَّ قَالَ لِتَرۡجُمَانِهِ: قُلۡ لَهُمۡ إِنِّي سَائِلٌ هَٰذَا عَنۡ هَٰذَا الرَّجُلِ، فَإِنۡ كَذَبَنِي، فَكَذِّبُوهُ، فَوَاللّٰهِ لَوۡلَا الۡحَيَاءُ مِنۡ أَنۡ يَأۡثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبۡتُ عَنۡهُ، ثُمَّ كَانَ أَوَّلَ مَا سَأَلَنِي عَنۡهُ أَنۡ قَالَ: كَيۡفَ نَسَبُهُ فِيكُمۡ؟ قُلۡتُ: هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ، قَالَ: فَهَلۡ قَالَ هَٰذَا الۡقَوۡلَ مِنۡكُمۡ أَحَدٌ قَطُّ قَبۡلَهُ؟ قُلۡتُ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ كَانَ مِنۡ آبَائِهِ مِنۡ مَلِكٍ؟ قُلۡتُ: لَا، قَالَ: فَأَشۡرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ، أَمۡ ضُعَفَاؤُهُمۡ؟ فَقُلۡتُ: بَلۡ ضُعَفَاؤُهُمۡ، قَالَ: أَيَزِيدُونَ أَمۡ يَنۡقُصُونَ؟ قُلۡتُ: بَلۡ يَزِيدُونَ، قَالَ: فَهَلۡ يَرۡتَدُّ أَحَدٌ مِنۡهُمۡ سَخۡطَةً لِدِينِهِ بَعۡدَ أَنۡ يَدۡخُلَ فِيهِ؟ قُلۡتُ: لَا،
Heraklius bertanya, “Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan lelaki yang mengaku dirinya nabi?”
Abu Sufyan berkata: Aku katakan, “Aku yang paling dekat nasabnya.”
Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku! Dekatkan para sahabatnya dan posisikan mereka di dekat punggungnya.”
Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka bahwa aku bertanya kepadanya tentang lelaki ini. Jika dia dusta kepadaku, maka kalian (para sahabat Abu Sufyan) dustakan dia.” Demi Allah, kalau bukan karena malu mereka menudingku berdusta, tentu aku sudah berdusta kepadanya.
Kemudian hal pertama yang Heraklius tanyakan kepadaku yaitu dia bertanya, “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?”
Aku jawab, “Dia orang yang memiliki nasab mulia di antara kami.”
Dia bertanya, “Apakah sudah pernah ada di antara kalian yang berbicara dengan ucapan dia sebelum ini?”
Aku jawab, “Tidak ada.”
Dia bertanya, “Apakah ada di antara ayah-ayahnya yang termasuk raja?”
Aku jawab, “Tidak ada.”
Dia bertanya, “Apakah orang-orang mulia atau orang-orang lemah yang mengikutinya?”
Aku jawab, “Bahkan orang-orang lemah.”
Dia bertanya, “Apakah mereka semakin bertambah atau berkurang jumlahnya?”
Aku jawab, “Bahkan mereka semakin banyak.”
Dia bertanya, “Apakah ada seseorang di antara mereka yang murtad karena benci dengan agamanya setelah dia memeluknya?”
Aku jawab, “Tidak ada.”
قَالَ: فَهَلۡ كُنۡتُمۡ تَتَّهِمُونَهُ بِالۡكَذِبِ قَبۡلَ أَنۡ يَقُولَ مَا قَالَ؟ قُلۡتُ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ يَغۡدِرُ؟ قُلۡتُ: لَا، وَنَحۡنُ مِنۡهُ فِي مُدَّةٍ، لَا نَدۡرِي مَا هُوَ فَاعِلٌ فِيهَا - قَالَ: وَلَمۡ تُمۡكِنِّي كَلِمَةٌ أُدۡخِلُ فِيهَا شَيۡئًا غَيۡرُ هَٰذِهِ الۡكَلِمَةِ - قَالَ: فَهَلۡ قَاتَلۡتُمُوهُ؟ قُلۡتُ: نَعَمۡ، قَالَ: فَكَيۡفَ كَانَ قِتَالُكُمۡ إِيَّاهُ؟ قُلۡتُ: الۡحَرۡبُ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَهُ سِجَالٌ، يَنَالُ مِنَّا، وَنَنَالُ مِنۡهُ، قَالَ: مَاذَا يَأۡمُرُكُمۡ؟ قُلۡتُ: يَقُولُ: اعۡبُدُوا اللهَ وَحۡدَهُ، وَلَا تُشۡرِكُوا بِهِ شَيۡئًا، وَاتۡرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمۡ، وَيَأۡمُرُنَا بِالصَّلَاةِ، وَالصِّدۡقِ، وَالۡعَفَافِ، وَالصِّلَةِ،
Dia bertanya, “Apakah sebelum dia mengucapkan ucapannya ini, kalian dahulu pernah menuduhnya berdusta?”
Aku jawab, “Tidak.”
Dia bertanya, “Apakah dia memungkiri janji?”
Aku jawab, “Tidak. Dan kami sedang berada di dalam masa perjanjian dengannya. Kami tidak tahu apa yang dia perbuat dengan janjinya.” Abu Sufyan berkata: Aku tidak sanggup untuk menyisipkan suatu kalimat (untuk menjatuhkan beliau) kecuali kalimat ini.
Dia bertanya, “Apakah kalian memerangi dia?”
Aku jawab, “Iya.”
Dia bertanya, “Bagaimana perang yang kalian lakukan terhadapnya?”
Aku jawab, “Perang yang terjadi antara kami dengannya hasilnya silih berganti. Kadang dia yang menang, kadang kami yang menang.”
Dia bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?”
Aku jawab, “Dia mengucapkan: Sembahlah Allah semata dan jangan sekutukan sesuatupun dengan-Nya. Tinggalkan apa yang diucapkan oleh ayah-ayah kalian. Dia memerintahkan kami salat, jujur, ifah, dan silaturahmi.”
فَقَالَ لِلتَّرۡجُمَانِ: قُلۡ لَهُ: سَأَلۡتُكَ عَنۡ نَسَبِهِ، فَذَكَرۡتَ أَنَّهُ فِيكُمۡ ذُو نَسَبٍ، فَكَذٰلِكَ الرُّسُلُ تُبۡعَثُ فِي نَسَبِ قَوۡمِهَا، وَسَأَلۡتُكَ: هَلۡ قَالَ أَحَدٌ مِنۡكُمۡ هَٰذَا الۡقَوۡلَ؟ فَذَكَرۡتَ أَنۡ لَا، فَقُلۡتُ: لَوۡ كَانَ أَحَدٌ قَالَ هَٰذَا الۡقَوۡلَ قَبۡلَهُ لَقُلۡتُ: رَجُلٌ يَأۡتَسِي بِقَوۡلٍ قِيلَ قَبۡلَهُ، وَسَأَلۡتُكَ هَلۡ كَانَ مِنۡ آبَائِهِ مِنۡ مَلِكٍ؟ فَذَكَرۡتَ أَنۡ لَا، قُلۡتُ: فَلَوۡ كَانَ مِنۡ آبَائِهِ مِنۡ مَلِكٍ قُلۡتُ: رَجُلٌ يَطۡلُبُ مُلۡكَ أَبِيهِ، وَسَأَلۡتُكَ: هَلۡ كُنۡتُمۡ تَتَّهِمُونَهُ بِالۡكَذِبِ قَبۡلَ أَنۡ يَقُولَ مَا قَالَ؟ فَذَكَرۡتَ أَنۡ لَا، فَقَدۡ أَعۡرِفُ أَنَّهُ لَمۡ يَكُنۡ لِيَذَرَ الۡكَذِبَ عَلَى النَّاسِ، وَيَكۡذِبَ عَلَى اللهِ، وَسَأَلۡتُكَ: أَشۡرَافُ النَّاسِ اتَّبَعُوهُ أَمۡ ضُعَفَاؤُهُمۡ؟ فَذَكَرۡتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمُ اتَّبَعُوهُ، وَهُمۡ أَتۡبَاعُ الرُّسُلِ، وَسَأَلۡتُكَ أَيَزِيدُونَ أَمۡ يَنۡقُصُونَ؟ فَذَكَرۡتَ أَنَّهُمۡ يَزِيدُونَ، وَكَذٰلِكَ أَمۡرُ الۡإِيمَانِ حَتَّى يَتِمَّ،
Heraklius berkata kepada penerjemah, “Katakan kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, lalu engkau menyebutkan bahwa dia itu orang yang memiliki nasab mulia di antara kalian. Memang demikianlah para rasul diutus pada nasab kaumnya. Aku bertanya kepadamu apakah ada seorang di antara kalian yang mengucapkan dengan ucapan ini, lalu engkau menyebutkan tidak ada. Aku katakan: Andai ada seseorang yang telah ada mengatakan ucapan ini sebelumnya, tentu akan aku katakan: Ini adalah orang yang meniru ucapan yang telah diucapkan sebelum dia. Aku telah bertanya kepadamu apakah ada di antara ayah-ayahnya yang merupakan seorang raja, lalu engkau menyebutkan tidak ada. Aku katakan: Andai ada di antara ayah-ayahnya yang merupakan seorang raja, tentu aku katakan: Ini adalah orang yang menuntut kerajaan ayahnya. Aku telah bertanya kepadamu apakah kalian menuduhnya dengan kedustaan sebelum dia mengucapkan ucapannya tersebut, lalu engkau mengatakan tidak. Maka, sungguh aku mengetahui bahwa jika dia sekali-kali tidak membiarkan kedustaan kepada manusia, maka dia tidak akan berdusta atas nama Allah. Aku juga telah bertanya kepadamu apakah orang-orang mulia yang mengikutinya atau orang-orang yang lemah, lalu engkau sebutkan bahwa orang-orang lemah yang mengikutinya. Mereka memang para pengikut para rasul. Aku juga telah bertanya kepadamu apakah mereka bertambah jumlahnya atau berkurang, lalu engkau menyebutkan bahwa mereka bertambah banyak. Memang demikianlah perkara iman hingga menjadi sempurna.”
وَسَأَلۡتُكَ أَيَرۡتَدُّ أَحَدٌ سَخۡطَةً لِدِينِهِ بَعۡدَ أَنۡ يَدۡخُلَ فِيهِ؟ فَذَكَرۡتَ أَنۡ لَا، وَكَذٰلِكَ الۡإِيمَانُ حِينَ تُخَالِطُ بَشَاشَتُهُ الۡقُلُوبَ، وَسَأَلۡتُكَ: هَلۡ يَغۡدِرُ؟ فَذَكَرۡتَ أَنۡ لَا، وَكَذٰلِكَ الرُّسُلُ لَا تَغۡدِرُ، وَسَأَلۡتُكَ: بِمَا يَأۡمُرُكُمۡ؟ فَذَكَرۡتَ أَنَّهُ يَأۡمُرُكُمۡ أَنۡ تَعۡبُدُوا اللهَ وَلَا تُشۡرِكُوا بِهِ شَيۡئًا، وَيَنۡهَاكُمۡ عَنۡ عِبَادَةِ الۡأَوۡثَانِ، وَيَأۡمُرُكُمۡ بِالصَّلَاةِ، وَالصِّدۡقِ، وَالۡعَفَافِ، فَإِنۡ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا، فَسَيَمۡلِكُ مَوۡضِعَ قَدَمَيَّ هَاتَيۡنِ، وَقَدۡ كُنۡتُ أَعۡلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ، لَمۡ أَكُنۡ أَظُنُّ أَنَّهُ مِنۡكُمۡ، فَلَوۡ أَنِّي أَعۡلَمُ أَنِّي أَخۡلُصُ إِلَيۡهِ، لَتَجَشَّمۡتُ لِقَاءَهُ، وَلَوۡ كُنۡتُ عِنۡدَهُ لَغَسَلۡتُ عَنۡ قَدَمِهِ، ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ الَّذِي بَعَثَ بِهِ دِحۡيَةُ إِلَى عَظِيمِ بُصۡرَى، فَدَفَعَهُ إِلَى هِرَقۡلَ، فَقَرَأَهُ فَإِذَا فِيهِ:
“Aku bertanya kepadamu apakah ada seseorang yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah ia memeluknya, lalu engkau sebutkan tidak ada. Demikianlah iman ketika cahayanya telah merasuk ke hati. Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah memungkiri janji, lalu engkau menyebutkan tidak. Memang demikian para rasul tidak memungkiri janji. Aku bertanya kepadamu apa yang ia perintahkan kepada kalian, lalu engkau menyebutkan bahwa dia memerintah kalian untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya, dia melarang kalian dari beribadah kepada berhala, dia memerintahkan kalian salat, jujur, dan ifah. Jika yang engkau katakan memang sesuai kenyataan, niscaya dia akan menguasai tempat kedua kakiku ini. Aku sudah mengetahui bahwa ia akan keluar, namun aku tidak menyangka bahwa dia dari kalangan kalian. Andai aku mengetahui bahwa aku bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha sungguh-sungguh berjumpa dengannya. Dan andai aku sudah berada di sisinya, akan aku basuh kakinya.” Kemudian dia meminta didatangkan surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawa oleh Dihyah kepada pembesar Bushra, lalu ia berikan kepada Heraklius. Lalu ia membacanya, ternyata isinya:
بِسۡمِ اللهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيمِ
مِنۡ مُحَمَّدٍ عَبۡدِ اللهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقۡلَ عَظِيمِ الرُّومِ، سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الۡهُدَى. أَمَّا بَعۡدُ، فَإِنِّي أَدۡعُوكَ بِدِعَايَةِ الۡإِسۡلَامِ، أَسۡلِمۡ تَسۡلَمۡ، يُؤۡتِكَ اللهُ أَجۡرَكَ مَرَّتَيۡنِ، فَإِنۡ تَوَلَّيۡتَ، فَإِنَّ عَلَيۡكَ إِثۡمَ الۡأَرِيسِيِّينَ وَ: ﴿يَـٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ تَعَالَوۡا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوۡا۟ فَقُولُوا۟ ٱشۡهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ﴾ [آل عمران: ٦٤].
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Heraklius pembesar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amabakdu, sesungguhnya aku mengajak engkau kepada agama Islam. Berislamlah, niscaya engkau selamat. Allah akan memberimu pahala dua kali, namun jika engkau berpaling, maka dosa para rakyat itu akan menjadi tanggunganmu. Dan, “Wahai ahli kitab, kemarilah kalian kepada satu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dengan kalian, yaitu agar kita tidak menyembah kecuali Allah dan kita tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya; dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika kalian berpaling, maka katakanlah: Saksikanlah bahwasanya kami ini orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali ‘Imran: 64).
قَالَ أَبُو سُفۡيَانَ: فَلَمَّا قَالَ مَا قَالَ، وَفَرَغَ مِنۡ قِرَاءَةِ الۡكِتَابِ، كَثُرَ عِنۡدَهُ الصَّخَبُ، وَارۡتَفَعَتِ الۡأَصۡوَاتُ، وَأُخۡرِجۡنَا، فَقُلۡتُ لِأَصۡحَابِي حِينَ أُخۡرِجۡنَا: لَقَدۡ أَمِرَ أَمۡرُ ابۡنِ أَبِي كَبۡشَةَ، إِنَّهُ يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِي الأَصۡفَرِ، فَمَا زِلۡتُ مُوقِنًا أَنَّهُ سَيَظۡهَرُ، حَتَّى أَدۡخَلَ اللهُ عَلَيَّ الۡإِسۡلَامَ، وَكَانَ ابۡنُ النَّاظُورِ - صَاحِبُ إِيلِيَاءَ وَهِرَقۡلَ - سُقُفًّا عَلَى نَصَارَى الشَّأۡمِ، يُحَدِّثُ أَنَّ هِرَقۡلَ حِينَ قَدِمَ إِيلِيَاءَ، أَصۡبَحَ يَوۡمًا خَبِيثَ النَّفۡسِ، فَقَالَ بَعۡضُ بَطَارِقَتِهِ: قَدِ اسۡتَنۡكَرۡنَا هَيۡئَتَكَ، قَالَ ابۡنُ النَّاظُورِ: وَكَانَ هِرَقۡلُ حَزَّاءً، يَنۡظُرُ فِي النُّجُومِ، فَقَالَ لَهُمۡ حِينَ سَأَلُوهُ: إِنِّي رَأَيۡتُ اللَّيۡلَةَ حِينَ نَظَرۡتُ فِي النُّجُومِ مَلِكَ الۡخِتَانِ قَدۡ ظَهَرَ، فَمَنۡ يَخۡتَتِنُ مِنۡ هَٰذِهِ الأُمَّةِ؟ قَالُوا: لَيۡسَ يَخۡتَتِنُ إِلَّا الۡيَهُودُ، فَلَا يُهِمَّنَّكَ شَأۡنُهُمۡ، وَاكۡتُبۡ إِلَى مَدَايِنِ مُلۡكِكَ، فَيَقۡتُلُوا مَنۡ فِيهِمۡ مِنَ الۡيَهُودِ،
Abu Sufyan berkata: Ketika dia sudah mengatakan apa yang ia ucapkan dan selesai dari membaca kitab, terdengar banyak teriakan dan suara-suara nyaring di dekatnya dan kami dikeluarkan. Aku berkata kepada para sahabatku ketika kami dikeluarkan: Telah menjadi besar urusan Ibnu Abu Kabsyah (Nabi Muhammad), sesungguhnya raja Bani Al-Ashfar (Romawi) takut kepadanya. Setelah itu, aku senantiasa yakin bahwa dia (Nabi Muhammad) akan menang sampai Allah memasukkan agama Islam kepadaku. Ketika itu, Ibnu An-Nazhur—pemimpin Iliya` dan teman Heraklius—tokoh sesepuh Nasrani Syam menceritakan tentang Heraklius ketika tiba di Iliya` bahwa dia pada pagi hari ini menjadi seorang yang buruk. Sebagian patriark berkata: Kami menganggap buruk keadaanmu. Ibnu An-Nazhur berkata: Heraklius adalah seorang dukun yang biasa melihat bintang-bintang. Dia berkata kepada mereka ketika mereka bertanya kepadanya: Sesungguhnya aku telah melihat tadi malam ketika aku melihat gemintang bahwa raja khitan telah menang. Siapakah yang melakukan khitan dari umat ini? Mereka berkata: Tidak ada yang melakukan khitan kecuali orang-orang Yahudi, jadi janganlah keadaan mereka merisaukanmu. Tulislah surat kepada kota-kota kerajaanmu agar pemimpin kota itu membunuh orang-orang Yahudi yang berada di daerah mereka.
فَبَيۡنَمَا هُمۡ عَلَى أَمۡرِهِمۡ، أُتِيَ هِرَقۡلُ بِرَجُلٍ أَرۡسَلَ بِهِ مَلِكُ غَسَّانَ، يُخۡبِرُ عَنۡ خَبَرِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَلَمَّا اسۡتَخۡبَرَهُ هِرَقۡلُ، قَالَ: اذۡهَبُوا فَانۡظُرُوا أَمُخۡتَتِنٌ هُوَ أَمۡ لَا؟ فَنَظَرُوا إِلَيۡهِ، فَحَدَّثُوهُ أَنَّهُ مُخۡتَتِنٌ، وَسَأَلَهُ عَنِ الۡعَرَبِ، فَقَالَ: هُمۡ يَخۡتَتِنُونَ، فَقَالَ هِرَقۡلُ: هَٰذَا مُلۡكُ هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ قَدۡ ظَهَرَ، ثُمَّ كَتَبَ هِرَقۡلُ إِلَى صَاحِبٍ لَهُ بِرُومِيَةَ، وَكَانَ نَظِيرَهُ فِي الۡعِلۡمِ، وَسَارَ هِرَقۡلُ إِلَى حِمۡصَ، فَلَمۡ يَرِمۡ حِمۡصَ، حَتَّى أَتَاهُ كِتَابٌ مِنۡ صَاحِبِهِ، يُوَافِقُ رَأۡيَ هِرَقۡلَ عَلَى خُرُوجِ النَّبِيِّ ﷺ، وَأَنَّهُ نَبِيٌّ فَأَذِنَ هِرَقۡلُ لِعُظَمَاءِ الرُّومِ فِي دَسۡكَرَةٍ لَهُ بِحِمۡصَ، ثُمَّ أَمَرَ بِأَبۡوَابِهَا فَغُلِّقَتۡ، ثُمَّ اطَّلَعَ فَقَالَ: يَا مَعۡشَرَ الرُّومِ، هَلۡ لَكُمۡ فِي الۡفَلَاحِ وَالرُّشۡدِ وَأَنۡ يَثۡبُتَ مُلۡكُكُمۡ، فَتُبَايِعُوا هَٰذَا النَّبِيَّ؟ فَحَاصُوا حَيۡصَةَ حُمُرِ الۡوَحۡشِ إِلَى الۡأَبۡوَابِ، فَوَجَدُوهَا قَدۡ غُلِّقَتۡ، فَلَمَّا رَأَى هِرَقۡلُ نَفۡرَتَهُمۡ وَأَيِسَ مِنَ الۡإِيمَانِ، قَالَ: رُدُّوهُمۡ عَلَيَّ، وَقَالَ: إِنِّي قُلۡتُ مَقَالَتِي آنِفًا أَخۡتَبِرُ بِهَا شِدَّتَكُمۡ عَلَى دِينِكُمۡ، فَقَدۡ رَأَيۡتُ، فَسَجَدُوا لَهُ وَرَضُوا عَنۡهُ، فَكَانَ ذٰلِكَ آخِرَ شَأۡنِ هِرَقۡلَ.
Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, ada seseorang yang diutus oleh raja Ghassan datang kepada Heraklius. Dia mengabarkan tentang berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Heraklius mendengar beritanya, dia berkata: Pergi dan periksalah apakah dia (utusan raja Ghassan) berkhitan atau tidak? Mereka pun memeriksanya, lalu mereka menceritakan kepadanya bahwa dia berkhitan. Dia juga bertanya tentang orang-orang Arab, lalu utusan itu berkata: Mereka orang-orang yang berkhitan. Heraklius berkata: Penguasa umat ini telah muncul. Kemudian Heraklius menulis surat kepada sahabatnya yang ada di Roma—sahabatnya ini ilmunya setingkat dengannya—. Heraklius menempuh perjalanan ke Homs namun dia belum sampai Homs sampai surat dari sahabatnya datang. Sahabatnya sependapat dengan pendapat Heraklius tentang munculnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahwa beliau adalah seorang Nabi. Heraklius lalu mengundang kepada para pembesar Romawi di istananya di Homs, kemudian beliau memerintahkan agar pintu-pintunya dikunci. Kemudian beliau mulai berbicara: Wahai sekalian orang-orang Romawi, apakah kalian ingin berada di dalam keberuntungan dan kelurusan, serta kalian ingin kerajaan kalian tetap tegak? Jika ingin, maka berbaiatlah kepada nabi ini. Mereka pun kabur seperti larinya zebra menuju ke pintu-pintu, namun mereka mendapatinya terkunci. Ketika Heraklius melihat mereka kabur dan tidak ada harapan untuk beriman, dia berkata: Kembalikan mereka kepadaku. Lalu dia berkata: Sesungguhnya yang aku katakan tadi adalah untuk menguji keteguhan kalian di atas agama kalian. Sekarang aku telah melihatnya. Lalu mereka pun sujud kepadanya dan rida kepadanya. Dan itu adalah akhir cerita keadaan Heraklius.
رَوَاهُ صَالِحُ بۡنُ كَيۡسَانَ، وَيُونُسُ، وَمَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ.
[الحديث ٧ – أطرافه في: ٥١، ٢٦٨١، ٢٨٠٤، ٢٩٤١، ٢٩٧٨، ٣١٧٤، ٤٥٥٣، ٥٩٨٠، ٦٢٦٠، ٧١٩٦، ٧٥٤١].
Diriwayatkan oleh Shalih bin Kaisan, Yunus, dan Ma’mar dari Az-Zuhri.

Shahih Muslim hadits nomor 64

٢٨ - بَابُ بَيَانِ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (سِبَابُ الۡمُسۡلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفۡرٌ)
28. Bab keterangan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran”

١١٦ - (٦٤) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَكَّارِ بۡنِ الرَّيَّانِ، وَعَوۡنُ بۡنُ سَلَّامٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ طَلۡحَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: كُلُّهُمۡ عَنۡ زُبَيۡدٍ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (سِبَابُ الۡمُسۡلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفۡرٌ).
قَالَ زُبَيۡدٌ: فَقُلۡتُ لِأَبِي وَائِلٍ: أَنۡتَ سَمِعۡتَهُ مِنۡ عَبۡدِ اللهِ يَرۡوِيهِ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ؟ قَالَ: نَعَمۡ.
وَلَيۡسَ فِي حَدِيثِ شُعۡبَةَ قَوۡلُ زُبَيۡدٍ لِأَبِي وَائِلٍ.
[البخاري: كتاب الإيمان، باب خوف المؤمن من أن يحبط عمله وهو لا يشعر، رقم: ٤٨].
116. (64). Muhammad bin Bakkar bin Ar-Rayyan dan ‘Aun bin Sallam telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Muhammad bin Thalhah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: Mereka semua dari Zubaid, dari Abu Wa`il, dari ‘Abdullah bin Mas’ud. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.”
Zubaid berkata: Aku bertanya kepada Abu Wa`il: Apakah engkau mendengar ini dari ‘Abdullah yang beliau meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Abu Wa`il menjawab: Iya.
Di dalam hadis Syu’bah tidak ada pertanyaan Zubaid kepada Abu Wa`il.
١١٧ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَابۡنُ الۡمُثَنَّى، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ جَعۡفَرٍ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ مَنۡصُورٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، كِلَاهُمَا عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، بِمِثۡلِهِ.
[البخاري: كتاب الأدب، باب ما ينهى عن السباب واللعن، رقم: ٦٠٤٤].
117. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Manshur. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: ‘Affan menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy. Masing-masing keduanya dari Abu Wa`il, dari ‘Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5

٤ – بَابٌ
4. Bab

٥ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ أَبِي عَائِشَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، فِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ﴾ [القيامة: ١٦]، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُعَالِجُ مِنَ التَّنۡزِيلِ شِدَّةً، وَكَانَ مِمَّا يُحَرِّكُ شَفَتَيۡهِ، فَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: فَأَنَا أُحَرِّكُهُمَا لَكُمۡ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُحَرِّكُهُمَا، وَقَالَ سَعِيدٌ: أَنَا أُحَرِّكُهُمَا كَمَا رَأَيۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ يُحَرِّكُهُمَا، فَحَرَّكَ شَفَتَيۡهِ فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ﴾ [القيامة: ١٦، ١٧]، قَالَ: جَمۡعُهُ لَهُ فِي صَدۡرِكَ، وَتَقۡرَأَهُ، ﴿فَإِذَا قَرَأۡنَـٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ﴾ [القيامة: ١٨]، قَالَ: فَاسۡتَمِعۡ لَهُ وَأَنۡصِتۡ: ﴿ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ﴾ [القيامة: ١٩]، ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا أَنۡ تَقۡرَأَهُ، فَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بَعۡدَ ذٰلِكَ إِذَا أَتَاهُ جِبۡرِيلُ اسۡتَمَعَ، فَإِذَا انۡطَلَقَ جِبۡرِيلُ قَرَأَهُ النَّبِيُّ ﷺ كَمَا قَرَأَهُ. [الحديث ٥ – أطرافه في: ٤٩٢٧، ٤٩٢٨، ٤٩٢٩، ٥٠٤٤، ٧٥٢٤].
5. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Musa bin Abu ‘Aisyah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Sa’id bin Jubair menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah taala (yang artinya), “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.” (QS. Al-Qiyamah: 16). Ibnu ‘Abbas mengatakan: Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering menerima wahyu dalam keadaan berat sehingga beliau sering menggerakkan kedua bibir beliau (supaya tidak lupa). Ibnu ‘Abbas mengatakan: Aku menggerakkan kedua bibir untuk kalian sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggerakkan kedua bibirnya. Sa’id berkata: Aku akan menggerakkan kedua bibir sebagaimana aku melihat Ibnu ‘Abbas menggerakkan kedua bibirnya. Beliau menggerakkan kedua bibir beliau. Lalu Allah taala menurunkan ayat (yang artinya), “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (QS. Al-Qiyamah: 16-17). Ibnu ‘Abbas mengatakan: mengumpulkannya di dadamu; dan kemudian kamu membacanya. “Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” Ibnu ‘Abbas mengatakan: Simak dan diamlah. “Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 19). Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kami, engkau akan dapat membacanya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah itu, jika Jibril mendatangi beliau, maka beliau menyimak. Ketika Jibril telah pergi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya sebagaimana Jibril membacanya.

Kitab At-Tauhid - Memakai Gelang atau Sejenisnya untuk Menolak Bala termasuk Kesyirikan

٦ - بَابٌ مِنَ الشِّرۡكِ لِبۡسُ الۡحَلۡقَةِ وَالۡخَيۡطِ وَنَحۡوِهِمَا لِرَفۡعِ الۡبَلَاءِ أَوۡ دَفۡعِهِ
6. Bab termasuk syirik adalah memakai gelang, benang, atau sejenisnya untuk menghilangkan atau menolak bala

وَقَوۡلُ اللهِ تَعَالَى: ﴿قُلۡ أَفَرَءَيۡتُم مَّا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَنِىَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ هَلۡ هُنَّ كَـٰشِفَـٰتُ ضُرِّهِۦٓ أَوۡ أَرَادَنِى بِرَحۡمَةٍ هَلۡ هُنَّ مُمۡسِكَـٰتُ رَحۡمَتِهِۦ ۚ قُلۡ حَسۡبِىَ ٱللَّهُ ۖ عَلَيۡهِ يَتَوَكَّلُ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ ۝٣٨﴾ [الزمر: ٣٨].
Dan firman Allah taala, “Katakanlah: Apa pendapat kalian tentang yang kalian seru selain Allah? Jika Allah menghendaki kemudaratan kepadaku, apakah mereka dapat menyingkap kemudaratan itu? Atau jika Allah menghendaki rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya? Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang bertawakal.” (QS. Az-Zumar: 38).
عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حَلۡقَةٌ مِنۡ صُفۡرٍ، فَقَالَ: (مَا هَٰذِهِ؟) قَالَ: مِنَ الۡوَاهِنَةِ. فَقَالَ: (انۡزِعۡهَا، فَإِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهۡنًا؛ فَإِنَّكَ لَوۡ مِتَّ وَهِيَ عَلَيۡكَ مَا أَفۡلَحۡتَ أَبَدًا) رَوَاهُ أَحۡمَدُ بِسَنَدٍ لَا بَأۡسَ بِهِ.
Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang yang di tangannya ada sebuah gelang dari kuningan, lantas beliau bertanya, “Apa ini?” Orang itu menjawab, “(Aku memakainya) karena wahinah (penyakit yang menyerang bahu sehingga sulit menggerakkan lengan).” Nabi bersabda, “Lepaskan ini karena ia hanya menambah kelemahan. Sungguh, kalau engkau mati dalam keadaan barang ini ada padamu, niscaya engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.” Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang tidak bermasalah.
وَلَهُ عَنۡ عُقۡبَةَ بۡنِ عَامِرٍ مَرۡفُوعًا. (مَنۡ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللهُ لَهُ. وَمَنۡ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ اللهُ لَهُ) وَفِي رِوَايَةٍ: (مَنۡ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدۡ أَشۡرَكَ).
Riwayat Ahmad pula dari ‘Uqbah bin ‘Amir secara marfuk, “Siapa saja yang menggantungkan tamimah, maka Allah tidak akan menyempurnakannya. Dan siapa saja yang menggantungkan wada’ah (batu dari laut yang digantungkan untuk menolak ‘ain/penyakit karena pandangan mata hasad), maka Allah tidak akan biarkan dia tenang.” Di dalam riwayat lain, “Siapa saja yang menggantungkan tamimah, maka dia telah berbuat syirik.”
وَلِابۡنِ أَبِي حَاتِمٍ عَنۡ حُذَيۡفَةَ: أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ خَيۡطٌ مِنَ الۡحُمَّى فَقَطَعَهُ وَتَلَا قَوۡلَهُ: ﴿وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ﴾ [يوسف: ١٠٦].
Dan riwayat Ibnu Abu Hatim dari Hudzaifah: Bahwa beliau melihat ada tali benang di tangan seseorang karena demam. Lalu Hudzaifah memotong tali itu dan membaca firman Allah (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka juga melakukan kesyirikan.” (QS. Yusuf: 106).
فِيهِ مَسَائِلُ:
الۡأُولَى: التَّغۡلِيظُ فِي لُبۡسِ الۡحَلۡقَةِ وَالۡخَيۡطِ وَنَحۡوِهِمَا لِمِثۡلِ ذٰلِكَ.
الثَّانِيَةُ: أَنَّ الصَّحَابِيَّ لَوۡ مَاتَ وَهُوَ عَلَيۡهِ مَا أَفۡلَحَ. فِيهِ شَاهِدٌ لِكَلَامِ الصَّحَابَةِ: أَنَّ الشِّرۡكَ الۡأَصۡغَرَ أَكۡبَرُ مِنَ الۡكَبَائِرِ.
الثَّالِثَةُ: أَنَّهُ لَمۡ يُعۡذَرۡ بِالۡجَهَالَةِ.
Dalam keterangan yang telah disebutkan ada beberapa permasalahan:
1. Ancaman keras memakai gelang, tali benang, dan sejenisnya untuk tujuan semacam itu.
2. Bahwa sahabat tersebut jika mati dalam keadaan masih memakainya, niscaya tidak akan beruntung. Dalam sabda Nabi ini ada argumen yang mendukung ucapan sahabat: Bahwa syirik kecil lebih besar daripada dosa besar.
3. Bahwa syirik kecil tidak diberi uzur dengan sebab kebodohan.
الرَّابِعَةُ: أَنَّهَا لَا تَنۡفَعُ فِي الۡعَاجِلَةِ، بَلۡ تَضُرُّ لِقَوۡلِهِ: (لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهۡنًا).
الۡخَامِسَةُ: الۡإِنۡكَارُ بِالتَّغۡلِيظِ عَلَى مَنۡ فَعَلَ مِثۡلَ ذٰلِكَ.
السَّادِسَةُ: التَّصۡرِيحُ بِأَنَّ مَنۡ تَعَلَّقَ شَيۡئًا؛ وُكِلَ إِلَيۡهِ.
4. Bahwa gelang itu tidak dapat memberi manfaat dalam jangka pendek, bahkan hal itu akan memberi mudarat berdasarkan sabda beliau, “Gelang itu hanyalah menambah kelemahan kepadamu.”
5. Pengingkaran dengan ancaman keras terhadap siapa saja yang melakukan semisal itu.
6. Penjelasan bahwa siapa saja yang menggantungkan sesuatu, maka akan diserahkan kepadanya.
السَّابِعَةُ: التَّصۡرِيحُ بِأَنَّ مَنۡ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً؛ فَقَدۡ أَشۡرَكَ.
الثَّامِنَةُ: أَنَّ تَعۡلِيقَ الۡخَيۡطِ مِنَ الۡحُمَّى مِنۡ ذٰلِكَ.
التَّاسِعَةُ: تِلَاوَةُ حُذَيۡفَةَ الۡآيَةَ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ يَسۡتَدِلُّونَ بِالۡآيَاتِ الَّتِي فِي الشِّرۡكِ الۡأَكۡبَرِ عَلَى الۡأَصۡغَرِ، كَمَا ذَكَرَ ابۡنُ عَبَّاسٍ فِي آيَةِ الۡبَقَرَةِ.
7. Penjelasan bahwa siapa saja yang menggantung tamimah, maka telah berbuat syirik.
8. Bahwa menggantungkan tali benang karena penyakit demam termasuk syirik.
9. Bacaan ayat yang dilakukan oleh Hudzaifah adalah dalil yang menunjukkan bahwa sahabat menjadikan dalil tentang syirik besar untuk syirik kecil. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas tentang ayat dalam surah Al-Baqarah.
الۡعَاشِرَةُ: أَنَّ تَعۡلِيقَ الۡوَدَعِ مِنَ الۡعَيۡنِ مِنۡ ذٰلِكَ.
الۡحَادِيَةَ عَشۡرَةَ: الدُّعَاءُ عَلَى مَنۡ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً أَنَّ اللهَ لَا يُتِمُّ لَهُ، وَمَنۡ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ اللهُ لَهُ؛ أَيۡ: تَرَكَ اللهُ لَهُ.
10. Bahwa menggantungkan wada’ (batu dari laut yang digantungkan untuk menolak ‘ain) karena ‘ain termasuk syirik.
11. Doa kepada orang yang menggantungkan tamimah bahwa Allah tidak akan menyempurnakan (urusan)nya dan siapa saja yang menggantungkan wada’ah maka Allah tidak akan membiarkannya tenang, yakni Allah akan meninggalkannya.